BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.7 MODEL PERANCANGAN DARI PENELITIAN
Blok transmitter terdiri dari konfigurasi daya, frequency, pengkodean sebuah kanal, serta bit rate yang akan digunakan. Pada penelitian ini blok transmitter kanal yang akan digunakan yaitu sebanyak 10 wavelenght pada channel space 40 GHz dan juga 10 wavelenght pada frequency 80 GHz. Rincian nya dapat dilihat pada table 3.3 untuk rincian 10 wavelenght dengan frequency 40 GHz serta pada tabel 3.4 untuk rincian 10 wavelenght 80 GHz.
Gambar 3.4 Blok Transmitter 40 GHz
Gambar 3.5 Blok Transmitter 80 GHz
30
Dapat dilihat pada gambar diatas merupakan simulasi blok transmitter dari masing-masing frequency pada gambar 3.4 merupakan blok transmitter dengan frequency 40 GHz sedangankan gambar 3.5 blok transmitter dengan channel space 80 GHz, blok transmisi channel space 40 GHz dan 80 GHz sebenarnya sistem dan simulasinya sama saja yang membedakan disini hanya pada CW laser yang inputannya berbeda sesuai dengan frequency masing-masing sesuai dengan yang telah ditentukan.
Proses simulasi pada blok transmitter terdiri dari beberapa perangkat yaitu CW laser, NRZ (Non Return To Zero), Mach-Zehnder Modulator, dan Pseudo Random Bit Sequence. Pada blok transmitter ini CW laser memiliki fungsi sebagai perangkat yang mentransmisikan sinyal kedalam sebuah fiber optik, NRZ (Non Return To Zero) memiliki fungsi sebagai encoding pada proses simulasi, Mach-Zehnder Modulator sebagai perangkat yang memodulasi sebuah sinyal optik yang belum ditransmisikan pada sebuah serat optik, dan Pseudo Random Bit Sequence berfungsi sebagai pembangkit sebuah sinyal informasi yang berupa sinyal digital.
3.7.2 Blok Transmisi
Gambar 3.6 Blok Transmisi 40 GHz
31
Gambar 3.7 Blok Transmisi 80 GHz
Pada gambar 3.6 dan 3.7 merupakan simulasi dari blok transmisi untuk channel space 40 GHz terdapat pada gambar 3.6 sedangkan blok transmisi channel space 80 GHz terdapat pada gambar 3.7 pada kedua blok transmisi channel space 40 GHz dan 80 GHz simulasi blok transmisinya sama saja. Blok transmisi terdiri dari beberapa perangkat yaitu SMF (Single Mode Fiber), penguat EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier), DCF (Dispersion Compensating Fiber), dan Loop Control. Pada blok transmisi ini SMF (Single Mode Fiber) berperan sebagai media transmisi, penguat EDFA (Embrium Doped Fiber Amplifier) yang berfungsi sebagai penguat sinyal pada sebuah fiber optik pada simulasi, jika pada proses simulasi didapatkan hasilkan nilai (-) yang di sebabkan oleh SMF maka nilai tersebut akan dilakukan dispersi oleh DCF (Dispersion Compensating Fiber) maka dalam proses melewati DFC nilainya berubah menjadi 0, kemudian Loop Control berfungsi untuk proses perulangan pada sistem blok transmisi dengan menggunakan parameter-parameter yang telah ditentukan. Pada blok transmisi ini terdapat 3 jenis konfigurasi penguat baik pada blok transmisi channel space 40 GHz atau 80 GHz jenis konfigurasi penguatnya yaitu less, repeater-ed, dan cascade. Pada gambar 3.6 dan 3.7 merupakan blok transmisi menggunakan konfigurasi penguat repeater-less.
32 3.7.2.1 Konfigurasi Penguat
Gambar 3.8 Konfigurasi Penguat Repeater-less
Gambar 3.9 Konfigurasi Penguat Repeater-ed
Gambar 3.10 Konfigurasi Penguat Cascade
33
Konfigurasi penguat ini dibedakan melalui posisi penguat EDFA di tempatkan, pada gambar 3.8 merupakan konfigurasi repeater-less dimana dari penempatan penguatnya hanya sebagai booster dan pre-amplifier konfigurasi ini digunakan untuk jaringan yang dekat, karena jarak maksimum dari konfigurasi repeater-less ini sejauh 400 km. Konfigurasi repeater-ed dapat dilihat pada gambar 3.8 dimana penempatan penguatnya sebagai booster, in-line amplifier, serta pre-amplifier pada konfigurasi konfigurasi ini digunakan untuk jaringan jarak jauh, karena memiliki jarak 1000 km – 2500 km. Konfigurasi cascade dapat dilihat pada gambar 3.10 dimana penempatan penguatnya di tempatkan secara berurutan atau secara seri dan posisinya dapat sebagai booster, in-line, serta pre-amplifier pada konfigurasi ini di tempatkan sebagai booster konfigurasi cascade ini dapat digunakan untuk jaringan jarak jauh, karena dapat meningkatkan nilai keofisien penguat sehingga kerataan yang dihasilkan akan semakin meningkat. Pada kedua blok transmisi channel space 40 GHz dan 80 GHz sama-sama dilakukan 3 konfigurasi penguat/amplifier.
3.7.3 Blok Diagram Branching Unit
Blok diagram branching unit menggunakan konfigurasi OADM (Optical Add/drop Multiplexing) konfigurasi ini digunakan untuk melepas atau menambahkan sebuah wavelength yang akan dilewatkan melalui serat optik atau fiber optik yang telah dipakai.
Gambar 3.11 Blok Diagram Branching Unit 40 GHz
34
Gambar 3.12 Blok Diagram Branching Unit 80 GHz
Dapat dilihat pada gambar 3.11 blok diagram branching unit untuk channel space 40 GHz dan pada gambar 3.12 blok diagram branching unit untuk channel space 80 GHz, pada blok diagram brancing unit ini menggunakan perangkat WDM sebanyak 10 sesuai dengan kanal yang digunakan sejumlah 10 kanal.
3.7.7 Blok Receiver
Gambar 3.13 Blok Receiver 40 GHz
35
Gambar 3.14 Blok Receiver 80 GHz
Gambar 3.13 menunjukan sumulasi blok receiver 40 GHz dan pada gambar 3.14 menunjukan simulasi blok receiver 80 GHz. Pada blok receiver ini terdiri dari beberapa perangkat yaitu WDM Demultiplexer, Butterworth Optical Filter, Optical receiver, BER (Bit Error Rate) Analyzer, Optical Power Meter. Butterworth Optical Filter berfungsi untuk meloloskan sinyal pada frequency tertentu dan dapat memblokir sinyal pada frequency yang lainnya, Optical receiver berfungsi sebagai penerima dari jaringan pada sisi RX detektor yang digunakan oleh APD (Avalance Photo Diode) sisi tersebut memiliki daya sensitivitas yang tinggi dan responsivitas cahaya dari sebuah laser yang tinggi. BER (Bit Error Rate) Analyzer berfungsi menganalisis sebuah nilai dari BER, Q-Fcator, Optical Power Mater berfungsi untuk mengukur daya pada Loss.
36
BAB IV
ANALISIS HASIL SIMULASI
4.1 ANALISIS KINERJA SISTEM MENGGUNAKAN KONFIGURASI REPEATER-LESS
Hasil analisis dari simulasi pemodelan sistem menggunakan software optisystem versi 7.0 pada link Jawa (Rungkut) – Bali (Kaliasem) yang memiliki jarak 442.02 km dengan konfigurasi Repeater-less serta penguat EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier). Parameter atau nilai yang telah diukur yaitu nilai BER (Bit Error Rate), Q-Factor, Power Receiver, dan SNR (Signal to Noise Ratio) dengan hasilnya sebagai berikut :
4.1.1 Parameter Bit Error Rate (BER)
Tabel 4.1 Hasil Bit Error Rate (BER) 40 GHz (Repeater-less)
Nilai BER 40 GHz Repater-less
No Kanal Daya (dBm)
Hasil simulasi pada tabel 4.1 adalah nilai BER menggunakan konfigurasi Repeater-less menggunakan channel space 40 GHz dengan menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 serta menggunakan 10 kanal. Pada hasil diatas yang terdapat pada tabel 4.1 seluruh kanal nilai BER memenuhi standar yang telah di tetapkan yaitu 10-9. Pada nilai BER yang memiliki kinerja yang terbaik pada daya 0 yaitu pada kanal 195,74 THz, daya 2 pada kanal 195,74 THz, daya 4 pada kanal 195,74 THz, daya 6 pada kanal 195,38 THz, dan pada daya 8 pada kanal 195,38 THz. Hasil perbandingan
37
nilai BER pada tiap daya digunakan proses simulasi menggunakan konfigurasi repeater-less, hasil nilai BER tertinggi terdapat pada daya 4 dBm pada kanal 195,74 THz dengan nilai yang didapatkan yaitu 4,47 x 10-79. Untuk nilai terendah terdapat pada daya 8 dBm di kanal 195,70 THz yang bernilai 1,66 x 10-53. Pada setiap variasi daya hasil dari simulasi menghasilkan nilai BER yang berbeda-beda, nilai daya berpengaruh pada hasil nilai BER yang dihasilkan dari proses simulasi dengan konfigurasi repeater-less.
Tabel 4.2 Hasil Bit Error Rate (BER) 80 GHz (Repeater-less)
Nilai BER 80 GHz Repeater-less
Hasil simulasi pada tabel 4.2 adalah nilai BER menggunakan konfigurasi Repeater-less menggunakan channel space 80 GHz dengan menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 serta menggunakan 10 kanal. Pada hasil diatas yang terdapat pada tabel 4.2 seluruh kanal nilai BER memenuhi standar yang telah di tetapkan yaitu 10-9. Pada nilai BER yang memiliki kinerja yang terbaik pada daya 0 yaitu pada kanal 195,94 THz, daya 2 pada kanal 195,94 THz, daya 4 pada kanal 195,94 THz, daya 6 pada kanal 195,54 THz, dan pada daya 8 pada kanal 195,54 THz. Hasil perbandingan nilai BER pada tiap daya digunakan proses simulasi menggunakan konfigurasi repeater-less, hasil nilai BER tertinggi terdapat pada daya 4 dBm pada kanal 195,94 THz dengan nilai yang didapatkan yaitu 3,96 x 10-100. Hasil nilai BER ter rendah pada konfigurasi repeater-less yaitu pada daya 6 di kanal 196,02 THz yang bernilai 1,11 x 10-80.
38
Gambar 4.1 Perbandingan Nilai Daya BER Repeater-less
Pada hasil perbandingan kinerja rata-rata parameter BER (Bit Error Rate) yang menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 pada konfigurasi Repeater-less dengan channel space 40 GHz dan 80 GHz, maka dapat dilihat pada gambar 4.1 channel space 80 GHz yang menghasilkan kinerja paling baik atau memperoleh nilai yang maksimal.
Hasil kinerja rata-rata mendapatkan hasil paling maksimal pada daya 4 dBm dengan channel space 80 GHz.
4.1.2 Parameter Q-Factor
Tabel 4.3 Hasil Q-Factor 40 GHz (Repeater-less)
Nilai Q-Factor 40 GHz Repeater-less
No Kanal Daya (dBm)
0 2 4 6 8
1 195,38 THz 18,408 18,492 18,544 17,753 17,750
2 193,42 THz 16,094 16,142 16,164 15,487 15,511
3 195,46 THz 17,060 17,172 17,239 16,349 16,411
4 195,50 THz 17,144 17,154 17,141 16,344 16,350
5 195,54 THz 16,252 16,318 16,353 16,042 16,109
6 195,58 THz 17,072 17,032 16,973 15,715 15,770
7 195,62 THz 17,196 17,268 17,299 15,827 15,863
8 195,66 THz 16,880 16,993 17,064 16,149 16,176
9 195,70 THz 16,460 16,515 16,533 15,275 15,327
10 195,74 THz 18,634 18,720 18,774 17,533 17,574
Rata-rata 17,120 17,181 17,208 16,247 16,284
39
Hasil simulasi pada tabel 4.3 adalah nilai dari Q-Factor menggunakan konfigurasi Repeater-less menggunakan channel space 40 GHz dengan menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 serta menggunakan 10 kanal, pada hasil diatas yang terdapat pada tabel 4.3 seluruh kanal nilai Q-Factor memenuhi standar yang telah di tetapkan yaitu 6. Pada nilai Q-Factor yang memiliki kinerja yang terbaik untuk daya 0 dBm yaitu pada kanal 195,74 THz, daya 2 dBm pada kanal 195,74 THz, daya 4 dBm pada kanal 195,74 THz, daya 6 dBm pada kanal 195,38 THz, dan daya 8 dBm pada kanal 195,38 THz. Perubahan daya mempengaruhi hasil dari nilai Q-factor semakin besar daya maka hasil dari nilai Q-factor semakin meningkat atau baik.
Pada tiap daya digunakan proses simulasi menggunakan konfigurasi repeater-less, hasil nilai q-factor tertinggi terdapat pada daya 4 dBm pada kanal 195,74 THz dengan nilai yang didapatkan yaitu 18,774. Untuk nilai terendah terdapat pada daya 6 dBm pada kanal 195,70 THz, dengan nilai yang didapatkan yaitu 15,275.
Tabel 4.4 Hasil Q-Factor 80 GHz (Repeater-less)
Nilai Q-Factor 80 GHz Repeater-less Repeater-less menggunakan channel space 80 GHz dengan menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 serta menggunakan 10 kanal, pada hasil diatas yang terdapat pada tabel 4.4 seluruh kanal nilai Q-Factor memenuhi standar yang telah di tetapkan yaitu 6. Pada nilai q-factor yang memiliki kinerja yang terbaik untuk daya 0 dBm yaitu pada kanal 195,94 THz, daya 2 dBm pada kanal 195,94 THz, daya 4 dBm pada kanal
40
195,94 THz, daya 6 dBm pada kanal 195,54 THz, dan daya 8 dBm pada kanal 195,54 THz. Perubahan daya mempengaruhi hasil dari nilai Q-factor semakin besar daya maka hasil dari nilai Q-factor semakin meningkat atau baik.
Hasil perbandingan nilai Q-factor pada tiap daya digunakan proses simulasi menggunakan konfigurasi repeater-less, hasil nilai Q-factor tertinggi terdapat pada daya 2 dBm pada kanal 195,94 THz dengan nilai yang didapatkan yaitu 21,236. Untuk nilai terendah terdapat pada daya 6 dBm pada kanal 196,02 THz, dengan nilai yang didapatkan yaitu 18,961.
Gambar 4.2 Perbandingan Nilai Daya Q-Factor Repeater-less
Pada hasil perbandingan kinerja rata-rata parameter Q-Factor yang menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 pada konfigurasi Repeater-less dengan channel space 40 GHz dan 80 GHz, maka dapat dilihat pada gambar 4.2 channel space 80 GHz yang menghasilkan kinerja paling baik atau memperoleh nilai yang maksimal.
Hasil kinerja rata-rata mendapatkan hasil paling maksimal pada daya 4 dBm dengan channel space 80 GHz.
41 4.1.3 Parameter Power Receiver
Tabel 4.5 Hasil Power Receiver 40 GHz (Repeater-less)
Nilai Power Receiver 40 GHz Repeater-less
No Kanal Daya (dBm) konfigurasi Repeater-less menggunakan channel space 40 GHz dengan menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 serta menggunakan 10 kanal, pada hasil diatas yang terdapat pada tabel 4.5 seluruh kanal nilai Power Receiver memenuhi standar yang telah di tetapkan yaitu minimal -40 dBm dan maksimal 2 dBm batas. Pada nilai power receiver yang memiliki kinerja yang terbaik untuk daya 0 dBm yaitu pada kanal 195,38 THz, daya 2 dBm pada kanal 195,38 THz, daya 4 dBm pada kanal 195,38 THz, daya 6 dBm pada kanal 195,38 THz, dan daya 8 dBm pada kanal 195,38 THz . Perubahan daya mempengaruhi hasil dari nilai power receiver.
Hasil perbandingan nilai power receiver pada tiap daya digunakan proses simulasi menggunakan konfigurasi repeater-less, hasil nilai power receiver terbaik terdapat pada daya 8 dBm pada kanal 195,38 THz dengan nilai yang didapatkan yaitu -4,974 Untuk nilai terburuk terdapat pada daya 0 dBm pada kanal 195,42 THz, dengan nilai yang didapatkan yaitu -9,722
42
Tabel 4.6 Hasil Power Receiver 80 GHz (Repeater-less)
Nilai Power Receiver 80 GHz Repeater-less
No Kanal Daya (dBm) konfigurasi Repeater-less menggunakan channel space 80 GHz dengan menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 serta menggunakan 10 kanal, pada hasil diatas yang terdapat pada tabel 4.6 seluruh kanal nilai Power Receiver memenuhi standar yang telah di tetapkan yaitu minimal -40 dBm dan maksimal 2 dBm batas. Pada nilai power receiver yang memiliki kinerja yang terbaik untuk daya 0 dBm yaitu pada kanal 195,62 THz, daya 2 dBm pada kanal 195,62 THz, daya 4 dBm pada kanal 195,62 THz, daya 6 dBm pada kanal 195,62 THz, dan daya 8 dBm pada kanal 195,62 THz. Perubahan daya mempengaruhi hasil dari nilai power receiver.
Perbandingan nilai power receiver pada tiap daya digunakan proses simulasi menggunakan konfigurasi repeater-less, hasil nilai power receiver terbaik terdapat pada daya 8 dBm pada kanal 195,62 THz dengan nilai yang didapatkan yaitu -4,326.
Untuk nilai terburuk terdapat pada daya 0 dBm pada kanal 195,46 THz dengan nilai yang didapatkan yaitu -8,796.
43
Gambar 4.3 Perbandingan Nilai Daya Power Receiver Repeater-less
Pada hasil perbandingan kinerja rata-rata parameter Power Receiver yang menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 pada konfigurasi Repeater-less dengan channel space 40 GHz dan 80 GHz, maka dapat dilihat pada gambar 4.3 channel space 80 GHz yang menghasilkan kinerja paling baik atau memperoleh nilai yang maksimal.
Hasil kinerja rata-rata mendapatkan hasil paling maksimal pada daya 8 dBm dengan channel space 80 GHz.
4.1.4 Parameter Signal to Noise Ratio (SNR)
Tabel 4.7 Hasil Signal to Noise Ratio (SNR) 40 GHz (Repeater-less)
Nilai SNR 40 GHz Repeater-less
No Kanal Daya (dBm)
0 2 4 6 8
1 195,38 THz 45,344 49,344 53,344 49,078 50,988
2 195,42 THz 45,228 47,687 50,044 47,769 49,727
3 195,46 THz 41,086 44,810 46,829 45,423 47,920
4 195,50 THz 42,834 46,834 50,834 45,823 48,646
5 195,54 THz 44,564 48,564 52,564 48,870 52,870
6 195,58 THz 44,307 48,307 52,212 45,992 48,393
7 195,62 THz 42,474 44,623 46,740 44,865 47,033
8 195,66 THz 44,144 48,144 52,144 48,475 51,212
9 195,70 THz 46,080 50,080 53,194 50,412 54,412
10 195,74 THz 42,737 44,812 46,872 43,025 45,055
Rata-rata 43,880 47,321 50,478 46,973 49,626
44
Hasil simulasi pada tabel 4.7 adalah nilai dari SNR menggunakan konfigurasi Repeater-less menggunakan channel space 40 GHz dengan menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 serta menggunakan 10 kanal, pada hasil diatas yang terdapat pada tabel 4.7 seluruh kanal nilai SNR. Pada nilai SNR memiliki kinerja yang terbaik untuk daya 0 dBm yaitu pada kanal 195,70 THz, daya 2 dBm pada kanal 195,70 THz, daya 4 dBm pada kanal 195,38 THz, daya 6 dBm pada kanal 195,70 THz, dan daya 8 dBm pada kanal 195,70 THz, perubahan daya mempengaruhi hasil dari nilai SNR.
Hasil perbandingan nilai SNR pada tiap daya digunakan proses simulasi menggunakan konfigurasi repeater-less, hasil nilai SNR terbaik terdapat pada daya 8 dBm pada kanal 195,70 THz dengan nilai yang didapatkan yaitu 54,412. Untuk nilai terburuk terdapat pada daya 0 dBm pada kanal 195,46 THz, dengan nilai yang didapatkan yaitu 41,086.
Tabel 4.8 Hasil Signal to Noise Ratio (SNR) 80 GHz (Repeater-less)
Nilai SNR 80 GHz Repeater-less
Hasil simulasi pada tabel 4.8 adalah nilai dari SNR menggunakan konfigurasi Repeater-less menggunakan channel space 80 GHz dengan menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 serta menggunakan 10 kanal, pada hasil diatas yang terdapat pada tabel 4.8 seluruh kanal nilai SNR. Pada nilai SNR memiliki kinerja yang terbaik untuk daya 0 dBm yaitu pada kanal 196,02 THz, daya 2 dBm pada kanal 196,02 THz, daya 4 dBm pada kanal 196,02 THz, daya 6 dBm pada kanal 196,02 THz, dan daya 8 dBm pada kanal 195,46 THz, perubahan daya mempengaruhi hasil dari nilai SNR.
45
Hasil perbandingan nilai SNR pada tiap daya digunakan proses simulasi menggunakan konfigurasi repeater-less, hasil nilai SNR terbaik terdapat pada daya 8 dBm pada kanal 195,46 THz dengan nilai yang didapatkan yaitu 58,243. Untuk nilai terburuk terdapat pada daya 0 dBm pada kanal 195,62 THz, dengan nilai yang didapatkan yaitu 41,587.
Gambar 4.4 Perbandingan Nilai Daya SNR Repeater-less
Pada hasil perbandingan kinerja rata-rata parameter SNR (Signal to Noise Ratio) yang menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 pada konfigurasi Repeater-less dengan channel space 40 GHz dan 80 GHz, maka dapat dilihat pada gambar 4.4 channel space 80 GHz yang menghasilkan kinerja paling baik atau memperoleh nilai yang maksimal. Hasil kinerja rata-rata mendapatkan hasil paling maksimal pada daya 8 dBm dengan channel space 80 GHz.
46
4.2 ANALISIS KINERJA SISTEM MENGGUNAKAN KONFIGURASI REPEATER-ED
Hasil analisis dari simulasi pemodelan sistem menggunakan software optisystem versi 7.0 pada link Jawa (Rungkut) – Bali (Kaliasem) yang memiliki jarak 442.02 km dengan konfigurasi Repeater-ed serta penguat EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier).
Parameter atau nilai yang telah diukur yaitu nilai BER (Bit Error Rate), Q-Factor, Power Receiver, dan SNR (Signal to Noise Ratio) dengan hasilnya sebagai berikut : 4.2.1 Parameter Bit Error Rate (BER)
Tabel 4.9 Hasil Bit Error Rate (BER) 40 GHz (Repeater-ed)
Nilai BER 40 GHz Repeater-ed
Pada tabel 4.9 merupakan nilai BER menggunakan konfigurasi Repeater-ed dengan channel space 40 GHz menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 dan menggunakan 10 kanal. Pada hasil yang terdapat pada tabel 4.9 seluruh kanal nilai BER memenuhi standar yang telah di tetapkan yaitu 10-9. Pada nilai BER yang memiliki kinerja yang terbaik pada daya 0 yaitu pada kanal 195,74 THz, daya 2 pada kanal 195,74 THz, daya 4 pada kanal 195,74 THz, daya 6 pada kanal 195,74 THz, dan pada daya 8 pada kanal 195,74 THz.
Hasil perbandingan nilai BER pada tiap daya digunakan proses simulasi menggunakan konfigurasi repeater-ed, hasil nilai BER tertinggi terdapat pada daya 2 dBm pada kanal 195,74 THz dengan nilai yang didapatkan 6,66 x 10-80. Hasil nilai BER ter rendah pada konfigurasi repeater-ed yaitu pada daya 6 di kanal 195,58 THz yang bernilai 1,11 x 10-50.
47
Tabel 4.10 Hasil Bit Error Rate (BER) 80 GHz (Repeater-ed)
Nilai BER 80 GHz Repeater-ed
Pada tabel 4.10 merupakan nilai BER menggunakan konfigurasi Repeater-ed dengan channel space 40 GHz menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 dan menggunakan 10 kanal. Pada hasil yang terdapat pada tabel 4.10 seluruh kanal nilai BER memenuhi standar yang telah di tetapkan yaitu 10-9. Pada nilai BER yang memiliki kinerja yang terbaik pada daya 0 yaitu pada kanal 195,86 THz, daya 2 pada kanal 195,86 THz, daya 4 pada kanal 195,86 THz, daya 6 pada kanal 195,70 THz, dan pada daya 8 pada kanal 195,70 THz.
Hasil perbandingan nilai BER pada tiap daya digunakan proses simulasi menggunakan konfigurasi repeater-ed, hasil nilai BER tertinggi terdapat pada daya 2 dBm pada kanal 195,86 THz dengan nilai yang didapatkan yaitu 2,37 x 10-104. Hasil nilai BER ter rendah pada konfigurasi repeater-ed yaitu pada daya 6 di kanal 196,10 THz yang bernilai 2,15 x 10-78.
48
Gambar 4.5 Perbandingan Nilai Daya BER Repeater-ed
Pada hasil perbandingan kinerja rata-rata parameter BER (Bit Error Rate) yang menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 pada konfigurasi Repeeater-ed dengan channel space 40 GHz dan 80 GHz, maka dapat dilihat pada gambar 4.5 channel space 80 GHz yang menghasilkan kinerja paling baik atau memperoleh nilai yang maksimal.
Hasil kinerja rata-rata mendapatkan hasil paling maksimal pada daya 4 dBm dengan channel space 80 GHz.
4.2.2 Parameter Q-Factor
Tabel 4.11 Hasil Q-Factor 40 GHz (Repeater-ed)
Nilai Q-Factor 40 GHz Repater-ed
No Kanal Daya (dBm)
0 2 4 6 8
1 195,38 THz 17,613 17,743 17,828 17,723 17,782
2 193,42 THz 16,581 16,654 16,696 15,815 15,751
3 195,46 THz 17,178 17,271 17,319 15,790 15,784
4 195,50 THz 16,715 16,766 16,794 16,002 15,961
5 195,54 THz 16,046 16,120 16,158 15,305 15,329
6 195,58 Thz 16,437 16,432 16,413 14,902 14,890
7 195,62 THz 18,03 18,054 18,054 15,734 15,790
8 195,66 THz 16,812 16,844 16,849 16,510 16,507
9 195,70 THz 17,421 17,298 17,323 16,063 16,129
10 195,74 THz 18,822 18,878 18,910 17,880 17,899
Rata-rata 17,069 17,206 17,234 16,172 16,182
49
Hasil simulasi pada tabel 4.11 adalah nilai dari Q-Factor menggunakan konfigurasi Repeater-ed menggunakan frequency 40 GHz dengan menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 serta menggunakan 10 kanal, pada hasil diatas yang terdapat pada tabel 4.11 seluruh kanal nilai Q-Factor memenuhi standar yang telah di tetapkan yaitu 6. Pada nilai q-factor yang memiliki kinerja yang terbaik untuk daya 0 dBm yaitu pada kanal 195,74 THz, daya 2 dBm pada kanal 195,74 THz, daya 4 dBm pada kanal 195,74 THz, daya 6 dBm pada kanal 195,74 THz, dan daya 8 dBm pada kanal 195,74 THz. Perubahan daya mempengaruhi hasil dari nilai Q-factor semakin besar daya maka hasil dari nilai Q-factor semakin meningkat atau baik.
Hasil perbandingan nilai Q-factor pada tiap daya digunakan proses simulasi menggunakan konfigurasi repeater-ed, hasil nilai Q-factor tertinggi terdapat pada daya 4 dBm pada kanal 195,74 THz dengan nilai yang didapatkan yaitu 18,910. Untuk nilai terendah terdapat pada daya 6 dBm pada kanal 195,62 THz, dengan nilai yang didapatkan yaitu 15,735.
Tabel 4.12 Hasil Q-Factor 80 GHz (Repeater-ed)
Nilai Q-Factor Repeater-ed Repeater-ed menggunakan channel space 80 GHz dengan menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 serta menggunakan 10 kanal, pada hasil diatas yang terdapat pada tabel 4.12 seluruh kanal nilai Q-Factor memenuhi standar yang telah di tetapkan yaitu 6. Pada nilai q-factor yang memiliki kinerja yang terbaik untuk daya 0 dBm yaitu pada
50
kanal 195,86 THz, daya 2 dBm pada kanal 195,86 THz, daya 4 dBm pada kanal 195,86 THz, daya 6 dBm pada kanal 195,38 THz, dan daya 8 dBm pada kanal 195,38 THz.
Perubahan daya mempengaruhi hasil dari nilai Q-factor semakin besar daya maka hasil dari nilai Q-factor semakin meningkat atau baik.
Hasil perbandingan nilai Q-factor pada tiap daya digunakan proses simulasi menggunakan konfigurasi repeater-ed, hasil nilai Q-factor tertinggi terdapat pada daya 4 dBm pada kanal 195,86 THz dengan nilai yang didapatkan yaitu 21,685. Untuk nilai terendah terdapat pada daya 6 dBm pada kanal 196,10 THz, dengan nilai yang di dapatkan yaitu 18,682.
Gambar 4.6 Perbandingan Nilai Daya Q-Factor Repeater-ed
Pada hasil perbandingan kinerja rata-rata parameter Q-Factor yang menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, 8 pada konfigurasi Repeeater-ed dengan channel space 40 GHz dan 80 GHz, maka dapat dilihat pada gambar 4.6 channel space 80 GHz yang menghasilkan kinerja paling baik atau memperoleh nilai yang maksimal.
Hasil kinerja rata-rata mendapatkan hasil paling maksimal pada daya 4 dBm dengan channel space 80 GHz.
51 4.2.3 Parameter Power Receiver
Tabel 4.13 Hasil Power Receiver 40 GHz (Repeater-ed)
Nilai Power Receiver 40 GHz Repeater-ed
No Kanal Daya (dBm)
Hasil simulasi pada tabel 4.13 adalah nilai dari Power Receiver menggunakan konfigurasi Repeater-ed menggunakan channel space 40 GHz dengan menggunakan 5
Hasil simulasi pada tabel 4.13 adalah nilai dari Power Receiver menggunakan konfigurasi Repeater-ed menggunakan channel space 40 GHz dengan menggunakan 5