• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Perbedaan Jenis Kelamin pegawai Sarjana rentang Usia 45-56 terhadap Hasil Constructive Thinking Inventory (CTI)

Setelah diketahui terdapat perbedaan nyata berdasarkan jenis kelamin pada pegawai sarjana dengan rentang usia 21-32 khususnya skala Global Contructive

Thinking, maka didapatkan hasil yang berbeda nyata secara signifikan pada

pegawai sarjana dengan rentang usia 45-56 tahun. Namun sebelumya perlu dikaji terlebih dahulu bagaimana hasil rataan skor dan klasifikasi rentang kriteria dari pegawai tersebut.

1. Hasil Rataan Skor

Tabel 31 menunjukkan nilai rataan dan standar deviasi yang diperoleh pada perhitungan ANOVA. Hasilnya menunjukkan bahwa pada skala Global

Contructive Thinking, Behavioral Coping, Emotional Coping , dan Naive Optimism memiliki nilai rataan diatas 3, sementara pada sub skala Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking dan Esoteric Thinking memiliki

nilai rataan cenderung ke nilai 3. Hasil ini memperlihatkan bahwa pegawai laki-laki dan wanita sarjana berusia 45-56 tahun, pada sub-skala yang mengukur kemampuan dalam berpikir defensif, fleksibel dan logis lebih cenderung berada di

tengah-tengah atau berpikiran lebih netral. Sementara pada sikap yang menunjukkan antusiasme, keterbukan dan optimis, nilainya rata-rata lebih tinggi pada pegawai pria sarjana. Namun demikian hasil rataan ini belum dapat menjelaskan bagaimana sikap pegawai sarjana pria dan wanita pada rentang usia 45 – 56 tahun. Hasil rataan dan standar deviasi ANOVA disajikan pada Tabel 31 berikut:

Tabel 31 Rataan dan standar deviasi ANOVA berdasarkan Jenis Kelamin pegawai Sarjana rentang Usia 45-56 tahun

Keterangan: N = jumlah data; Mean = nilai rataan; Std.Dev = nilai simpangan

2. Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria berdasarkan skala dari Constructive Thinking Inventory (CTI)

Tabel 32 menunjukkan klasifikasi rentang nilai masing-masing skala dari

Constructive Thinking Inventory (CTI) pegawai pria dan wanita sarjana dengan

rentang usia 45-56 tahun. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada sub skala Emotional Coping, Personal Superstitious Thinking, Categorical Thinking dan Esoteric Thinking jawaban pegawai cenderung masuk klasifikasi rentang kriteria netral. Artinya kondisi cara berpikir konstruktif di Dinas Kesehatan Kota Bogor yang menunjukkan pikiran terbuka, defensif, kaku, dan percaya pada hal gaib dipersepsikan rata-rata oleh pegawai pria dan wanita sarjana pada rentang usia 45 – 56 tahun, akan tetapi berdasarkan hasil uji statistik selisih nilai sekecil berapapun merupakan perbedaan, selisish nilai sebesar 0,12 pada skala Global

Constructive Thinking lebih tinggi pada pegawai wanita sarjana usia 45 – 56 Sub-Skala Tingkat Pendidikan Sarjana usia (45-56) N Mean Std Deviation Std. Error Mean Global Constructive Thinking Pria Wanita 92 21 3,3526 3,4745 ,21624 ,38257 ,07208 ,08348

Behavoral Coping Pria Wanita 92 21 3,7539 3,3966 ,30746 ,20389 ,10249 ,04449

Emotional Coping Pria Wanita 92 21 3,2400 3,3257 ,25298 ,19931 ,08433 ,04349 Personal Superstitious Thinking Pria Wanita 92 21 2,7963 2,9444 ,29777 ,51190 ,09926 ,11170

Categorical Thinking Pria Wanita 92 21 3,0697 2,7649 ,43594 ,24914 ,14531 ,05437

Esoteric Thinking Pria Wanita 92 21 2,8611 2,8769 ,15030 ,15728 ,05010 ,03432

Naïve Optimism Pria Wanita 92 21 3,5780 3,5270 ,25602 ,38233 ,08534 ,08343

tahun, artinya pegawai wanita sarjana pada usia tersebut lebih berpikir konstruktif daripada pegawai pria sarjana. Sementara itu selisih nilai sebesar 0,36; 0,3 dan 0,05 berturut-turut pada sub-skala Behavioral Coping, Categorical Thinking dan

Naive Optimism. didapatkan hasil lebih tinggi pada pegawai pria sarjana, artinya pegawai pria sarjana tersebut lebih bersikap antusias, fleksibel dan optimis daripada pegawai wanita sarjana pada usia tersebut. Sedangkan pada sub-skala

Emosional Coping, Personal Superstitious Thinking dan Esoteric Thinking

berturut didapatkan selisih perbedaan nilai masing-masing sebesar 0,08; 0,15 dan 0,01 lebih tinggi pada pegawai wanita sarjana usia 45 – 56 tahun, artinya pegawai wanita sarjana lebih bersikap terbuka, ofensif dan berpikir logis dibandingkan pegawai pria sarjana pada usia tersebut.

Tabel 32 Hasil Klasifikasi Rentang Kriteria dari CTI pegawai pria dan wanita Sarjana rentang Usia 45-56 tahun

Skala

Rentang Nilai dan Arti

Pria Sarjana (Usia 45-56) tahun

Wanita (Usia 45-56) tahun Global Constructive Thinking (GCT) 3,35 netral 3,47 konstruktif Behavioral Coping (BC) 3,75 antusias 3,39 netral

Emotional Coping (EC) 3,24 netral 3,32 netral

Personal Superstitious Thinking (PST) 2,79 netral 2,94 netral Categorical Thinking (CaT) 3,06 netral 2,76 netral

Esoteric Thinking (ET) 2,86 netral 2,87 netral

Naïve Optimism (NaO) 3,57 optimis

unrealistis 3,52

optimis unrealis

3. Hasil Perhitungan ANOVA

Tabel 33 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata yang signifikan mengenai hasil pengukuran dari Constructive Thinking Inventory (CTI) pada pegawai laki-laki dan wanita bergelar sarjana dengan rentang usia 45-56 tahun khususnya pada sub-skala Behavioral Coping dan Categorical Thinking. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pegawai sarjana pada rentang usia 45-56 masih menunjukkan sikap berpikiran positif, antusias, enerjik dan cepat mengambil tindakan terhadap rencana yang telah dibuat (sub-skala Behavioral

Coping), sedangkan sub-skala Categorical Thinking menunjukkan cara berpikiran

rentang kriteria sehingga kondisi tersebut dapat menekan tingkat emosi yang berlebihan yang dapat memicu timbulnya stres kerja.

Pada sub-skala Behavioral Coping dan Categorical Thinking, hasil rataan skor masuk pada klasifikasi rentang kriteria secara keseluruhan bersikap netral, akan tetapi hasil uji statistik menunjukkan bahwa selisih perbedaan sekecil apapun tetap merupakan perbedaan, sehingga hasil nilai sesungguhnya pada kedua sub-skala yaitu selisih nilai sebesar 0, 36 dan 0,3 tersebut menunjukkan bahwa pegawai pria sarjana pada usia 45 – 56 tahun lebih bersikap antusias dan fleksibel daripada pegawai wanita sarjana pada rentang usia Kenyataan ini dapat mengurangi penyebab stres kerja. Individu yang berpikiran terlalu antusias dan fleksibel dapat mengontrol emosinya sehingga dapat menekan masalah pekerjaan yang dapat memicu timbulnya stres.

Hasil penelitain ini bertolak belakang dengan hasil penelitian sebelumnya, dimana Reddy dan Ramamurthy (1991) yang menganalisis pengaruh usia pada pengalaman stres seseorang menyatakan bahwa kelompok usia 41-60 tahun mengalami stres lebih tinggi dari kelompok usia dibawahnya. Sementara hasil penelitian ini menujukkan bahwa pegawai pada rentang usia 45 -56 masih bersikap antusias dan fleksibel, sehingga dapat menekan tingkat stres.

Sementara itu pada skala global dan empat sub-skala lain (Emotional

Coping, Personal Superstitious Thinking, Esoteric Thinking dan Naive Optimism),

tidak terdapat perbedaan nyata pada pegawai pria dan wanita sarjana dengan rentang usia 45 -56 tahun dalam penanggulangan stres kerja, artinya baik pegawai pria dan wanita sarjana keduanya memiliki cara yang sama. Hasil rataan skor memperlihatkan bahwa pegawai pria maupun wanita berada pada rentang kriteria yang menunjukkan hasil rata-rata lebih pada klasifikasi rentang kriteria netral. Hasil ANOVA disajikan pada Tabel 33.

Tabel 33 Hasil ANOVA perbedaan Jenis Kelamin pegawai Sarjana rentang Usia 45-56 tahun Skala Hasil Hipotesis t-value ≥ 1,96 df p

Global Constructive Thinking (GCT) -1.089 28 0.285 Terima H0

Behavioral Coping (BC) -2.558 28 0.016 Tolak H0 Emotional Coping (EC) -0.996 28 0.328 Terima H0

Personal Superstitious Thinking (PST) -0.806 28 0.427 Terima H0

Categorical Thinking (CaT) 2.436 28 0.021 Tolak H0 Esoteric Thinking (ET) -0.256 28 0.800 Terima H0

Naïve Optimism (NaO) 0.365 28 0.718 Terima H0 Keterangan: t-value = nilai uji-t; df = derajat kebebasan; p = nilai kemungkinan

C. Analisis Perbedaan Jenis Kelamin Pegawai Non Sarjana rentang usia