ANALISIS PUTUSAN TENTANG HUTANG SEBAGAI ALASAN PERCERAIAN
B. Analisis Terhadap Pertimbangan Hakim dalam Mengabulkan Perkara No: 2429/Pdt.G/2012/di PA TIGARAKSA
Hakim yang menyidangkan perkara No: 2429/Pdt.G/2012/di PA TIGARAKSA mengabulkan permohonan talak yang diajukan oleh suami dalam kasus istri terlilit hutang. Memang hutang bukanlah suatu alasan perceraian yang terdapat dalam perundang-undangan di Indonesia, akan tetapi akibat dari hutang yang dilakukan oleh termohon yang nilainya sampai ratusan juta rupiah menyebabkan terjadinya pertengkaran yang sangat memuncak dalam rumah tangga tersebut. Dimana, pemohon tidak tahan lagi melihat sikap termohon yang kerap kali berhutang dan tidak mau mendengarkan nasihat pemohon serta pemohon merasa tidak pernah dihormati ataupun dihargai sebagai kepala rumah tangga, sehingga terjadilah pertengkaran terus menerus antara pemohon dan termohon hingga berujung kepada perceraian. Alasan telah terjadi pertengkaran terus menerus inilah yang dijadikan hakim Pengadilan Agama Tigaraksa untuk mengabulkan permohonan cerai talak suami, bukan alasan hutang.
Alasan pertengkaran terus menerus ini menurut bahasa Al-Qur'an disebut syiqaq. Menurut definisi, syiqaq adalah perceraian yang terjadi karena percekcokan terus menerus antara suami dengan istri, sehingga memerlukan campur tangan 2 orang hakam (Juru damai) dari pihak suami maupun istri.1
1
A. Zuhdi Muhdor, Memahami Hukum Perkawinan (Nikah, Talak, Cerai dan Rujuk),
Dalam penjelasan pasal 76 ayat (1) Undang-Undang No.7 tahun 1989,
dikatakan: “Syiqaq adalah perselisihan yang tajam dan terus menerus antara suami
istri".2
Untuk mendapatkan keputusan perceraian karena alasan syiqaq harus ada saksi-saksi dari kerabat dekat suami maupun istri, yang nantinya akan diangkat pengadilan sebagai hakam.3 Dalam penjelasan pasal 76 ayat (2) Undang-Undang No.7 tahun 1989, dikatakan bahwa hakam adalah orang yang ditetapkan pengadilan dari pihak keluarga suami atau pihak keluarga istri atau pihak lain untuk mencapai upaya penyelesaian perselisihan terhadap Syiqaq".
Selain itu peran hakam amat dibutuhkan untuk bisa mendamaikan perselisihan suami istri, sehingga sedini mungkin perceraian bisa dihindarkan. Mengenai masalah syiqaq, al-Qur'an telah menjelaskan dalam surat An-Nisa, ayat (4) : 35
ْ إ ا لْهأ ْ م اً كح هلْهأ ْ م اً كح ا ثعْباف ا نْيب قاقش ْمتْخ ْ إ
هَللا ِف ي اًحالْصإ اديري
اًريبخ اً يلع اك هَللا َ إ ا نْيب
.
Artinya: Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. An-Nisa : 35).
Pada umumnya, perselisihan dan percekcokan yang sering terjadi dalam kehidupan suami istri disebabkan oleh beberapa faktor berikut:
2
UUPA (UU No. 7 Tahun 1989), h. 31. 3
56
1. Perselisihan yang menyangkut keuangan 2. Faktor hubungan seksual
3. Faktor berlainan agama atau ketidak patuhan dalam menjalankan ajaran agama maupun ibadah.
4. Faktor cara mendidik anak-anak.4
Maka dapat penulis simpulkan bahwasanya perceraian yang terjadi antara pemohon dan termohon terjadi bukan karena hutang, akan tetapi perceraian yang terjadi antara pemohon dan termohon adalah karena adanya syiqoq dalam rumah tangganya.
Kasus yang diangkat penulis adalah masalah cerai talak yang diajukan suami ke Pengadilan Agama Tigaraksa. Pengadilan Agama sebagai bagian dari sistem hukum nasional memiliki kontribusi penting dalam mempengaruhi dan membentuk praktik dan kebiasaan yang terjadi dalam hubungan hukum antara laki-laki dan perempuan. Hal ini karena hampir semua kompleksitas persoalan relasi antara laki-laki dengan perempuan sebagai sepasang suami istri adalah bagian pokok dari kompetensi peradilan agama.
Perceraian merupakan perkara yang mendominasi ruang sidang Pengadilan Agama di Indonesia. Peraturan perundang-undangan menyebutkan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan melalui Pengadilan Agama.
Pemohon mengajukan permohonan cerainya karena merasa sudah tidak mampu lagi melihat kelakuan istrinya yang kerap kali berhutang hingga ratusan juta rupiah.
4
Dalam pemeriksaan sidang pemohon dan termohon hadir dipersidangan melalui panggilan secara sah dan patut serta sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk menghadap ke persidangan. Berdasarkan keterangan saksi-saksi dari pihak pemohon yakni Erwin Baharuddin Bin Mardawi selaku teman satu kerja dari pemohon dan Suratin Binti Tusrip selaku pembantu rumah tangga pemohon di dapatkan keterangan bahwa memang konflik yang terjadi diantara keduanya karena pemohon sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan istrinya yang berhutang kepada orang lain sampai ratusan juta rupiah.
Pada dasarnya putusan dituntut untuk menciptakan suatu keadilan, dan untuk itu hakim melakukan penilaian dan pemeriksaan terhadap peristiwa dan fakta-fakta. Hal ini dapat dilakukan lewat pembuktian, mengklasifikasikan antara yang penting dan yang tidak dan menanyakan kembali kepada pihak lawan mengenai keterangan saksi dan fakta-fakta yang ada. Maka dalam putusan hakim, yang perlu diperhatikan adalah pertimbangan hukumnya, sehingga dapat dinilai apakah putusan yang dijatuhkan cukup memenuhi alasan yang objektif atau tidak.
Acuan utama dalam membuat pertimbangan hukum adalah apa yang terjadi di persidangan serta ketentuan hukum yang berlaku di lingkungan peradilan. Putusan-putusan hakim pada dasarnya tidak boleh melewati apa yang dimohon atau digugat.
Pertimbangan hukum yang dibuat oleh majelis hakim adalah karena majelis hakim melihat bahwa antara pemohon dan termohon sering terjadi percekcokan yang alasannya adalah karena pemohon sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan istrinya yang sering kali berhutang tanpa sepengetahuan pemohon. Bukti-bukti yang dijadikan
58
landasan hakim adalah keterangan-keterangan dari para saksi dari pihak pemohon yang memang menyatakan bahwa mereka memang mengetahui percekcokan antara keduanya yang disebabkan karena pemohon tidak tahan lagi dengan kelakuan istrinya yang sering kali berhutang dan ditambah pengakuan dari termohon yang membenarkan hal tersebut.
Majelis hakim kemudian mendasarkan hal tersebut kepada pasal 39 ayat (2) Undang-undang No. 1 Tahun 1974, pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 dan pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam yang menerangkan bahwa salah satu alasan diperbolehkannya mengajukan perceraian adalah pertengkaran yang terus menerus yang sulit untuk dapat dirukunkan lagi.
Majelis hakim pun menjelaskan yang dimaksud dalam kedua pasal tersebut adalah bukan semata-mata pertengkaran yang bersifat aktif saja, yaitu pertengkaran dengan suara kasar, keras antara pemohon dan termohon, tetapi juga pertengkaran pasif yang berbentuk saling diam, tidak menegur sapa antara suami istri atau perpisahan tempat tidur yang cukup lama antara keduanya.
Ditinjau dari hukum positif, putusan hakim terhadap perkara ini tidak keluar dari koridor hukum yang berlaku di Indonesia, khususnya yang menjadi rujukan hakim-hakim di Pengadilan Agama di Indonesia. Dalam hal ini majelis hakim sebelum menjatuhkan putusan telah melakukan upaya mediasi diantara kedua pasangan tersebut dengan tujuan supaya pasangan suami-istri ini dapat hidup rukun damai sesuai dengan tujuan perkawinan.
Alasan ketidak mampuan suami melihat kelakuan istrinya yang kerap kali berhutang hingga ratusan juta rupiah adalah karena suami merasa nafkah yang diberikannya kepada sang istri sudah lebih dari cukup. Akan tetapi karena sang istri terpengaruh kepada gaya hidup teman-temannya yang sangat tinggi. Akhirnya sang istri pun berhutang agar bisa mengikuti gaya hidup teman-temannya.
Akan tetapi termohon yang memang cenderung egois dan hanya mementingkan pemenuhan gaya hidupnya semata, tanpa memperhatikan dan memahami kondisi keuangan rumah tangga. Terlebih dalam kesehariannya termohon hanya memperhatikan masalah gaya hidupnya saja, sehingga diakui oleh suami selaku pemohon merasa dibohongi dan merasa bahwa si istri tidak peduli dengan keluarga.
Keharmonisan dan kenyamanan sebuah rumah tangga bukan hanya dirasakan oleh perempuan saja, tetapi laki-laki juga mempunyai hak untuk menikmatinya. Ini menunjukan bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai derajat yang sama.
Berdasarkan putusan pengadilan dengan Nomor perkara 2429 ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa perceraian ini disebabkan karena adanya hutang yang dilakukan oleh termohon dan menyebabkan percekcokan terus menerus antara pemohon dan termohon yang berujung kepada perceraian.
Hakim agama tidak hanya sekedar bertindak sebagai aparatur penegak hukum dan keadilan tetapi juga dapat menjadi agen perubahan hukum untuk mengatasi masalah-masalah yang berujung kepada perceraian.
60
Pemahaman ini perlu untuk menyempurnakan pengetahuan mereka tentang syiqoq. Selama ini para hakim memang mengenal syiqoq ini sebagai alasan terjadinya kekerasan, tetapi dalam konsep yang dipahaminya itu terkandung makna bahwa percekcokan itu sebagai kesalahan kedua belah pihak. Dengan analisis tersebut, mereka dapat menelusuri pangkal atau asal muasal percekcokan itu.
61
A. Kesimpulan
Dari penjelasan tersebut, maka perkara hutang sebagai alasan perceraian dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Dalam Perundang-undangan di Indonesia hutang tidak bisa dijadikan sebagai alasan perceraian, karena memang alasan tersebut tidak ditemukan dalam perundang-undangan di Indonesia. Diduga kuat karena adanya materi Undang-Undang yang mengatur tentang harta bersama. Akan tetapi, karena adanya hutang yang disebabkan oleh istri hingga ratusan juta rupiah memicu pertengkaran antara suami istri secara terus menerus. Alasan telah terjadi pertengkaran terus menerus inilah yang dijadikan hakim untuk mengabulkan permohonan cerai talak suami, bukan karena alasan hutang.
2. Adapun pertimbangan hakim dalam mengabulkan permohonan cerai talak yang diajukan oleh suami terhadap kasus istri karena dililit hutang adalah karena memang tidak ditemukan lagi keharmonisan dalam rumah tangga mereka sejak istri diketahui oleh suami berhutang sampai ratusan juta rupiah dan hal tersebut juga diakui oleh istri. Sehingga hal tersebut memancing terjadinya syiqoq diantara keduanya. Suami juga merasa tidak pernah dihargai dan dihormati bahkan tidak pernah diberikan dukungan moril untuk mencari nafkah guna untuk menghidupi keluarga mereka. Kalo sudah begini
62
keadaannya, di dalam rumah tangga tersebut tidak akan didapati yang namanya cinta dan kasih sayang. Jika tidak didapati kedua hal tersebut, maka berpisah (bercerai) adalah jalan yang terbaik, sebab tujuan dari sebuah pernikahan adalah membentuk keluarga sakinah mawaddah warahmah.
B. Saran-Saran
Dengan selesainya pembahasan dalam skripsi ini, penulis merasa perlu untuk memperbaikinya. Adapun beberapa saran sebagai berikut :
1. Perlu diadakannya sosialisasi tentang akhlak tasawuf baik itu melalui majelis
ta’lim, hari-hari besar Islam dan acara seminar. Karena jika masyarakatnya memiliki akhlak yang baik dan tau akan hak dan kewajiban suami istri. Maka hal ini akan dapat mengurangi jumlah perceraian di masyarakat.
2. Diharapkan kepada para suami yang istrinya mempunyai masalah dengan hutang agar tidak langsung mengajukan cerai talak. Demikian pula kepada istri diharapkan untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan suami. Bagi para suami, terimalah istri sesuai dengan kemampuannya, hak dan kewajibannya sebagai seorang istri.
3. Sebagai langkah akademis perlu diadakan latihan bagi para mahasiswa syariah dan hukum akan kemampuan menjadi mediator dalam mendamaikan para pihak yang sedang cekcok mengingat kurikulum yang ada di Fakultas lebih dominan masih bersifat teoritis, sehingga perlu diimbangi dengan kurikulum yang berbasis praktik.
65 Surabaya: CV. Amin Surabaya, 1985.
Bailey ,Carrol A., A. guide to Qualitative Field Research, Thousand Oaks, CA: Pine Forge Press, 2006.
Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Pedoman Penulisan Skripsi, Jakarta: Pusat Peningkatang dan Jaminan Mutu (PPJM) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012.
Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana, 2008.
Moleong,Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja RosdaKarya, 2000.
Krisyanto, Rahmat, Tehnik Praktis Riset Komunikasi, Jakarta: Kencana Pranada Group, 2007
Sarwono, Sarlito Wirawan, Apa dan Bagaimana Mengatasi Problema Keluarga, Jakarta, Pustaka Antara, 1996.
Shihab, M. Quraish, Wawasan Al-Qur’an, Bandung, Mizan, 1996.
Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas Indonesia, 1986.
Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan kualitatif, Kuantitatif dan R&D Bandung Alfabeta, 2006.
Undang-undang perkawinan di Indonesia: PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Peraturan UU. No.1 Tahun 1974, Jakarta: Pradnya Paramita, 1991.
Waluyo, Bambang, Penelitian Hukum dalam Praktek, Jakarta: Sinar Grafika, 2008.
Sunggono, Bambang, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Raja Grafindo, 2003. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta: Balai Pustaka, 1989
Nurudin Amiur dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2004
66
AF Hasanuddin, Perkawinan dalam Perspektif Al-Quran, Jakarta: Nusantara Damai Press, 2011
Sulaiman Abu Daud bin al-‘Asy’ Asy, Sunan Abu Daud”, Mausu’ah al-Hadis al-Syarif, Mesir: Global Islamic Sofware Company, 2000, hadis no. 1863. lihat juga, Jalal al-Din al-Syuyuthi, al-Jami’ al-¢haghir Bandung,
al-Ma’arif. Tt. Juz. I.
Thalib Suyuti, Hukum Kekeluargaan Indonesia, Cet. Ke- 5, Jakarta: UI Press, 1986
HS Salim. Pengantar Hukum Perdata Tertulis, Jakarta: Sinar Grafika, 2002 Rasyidi Lili, Hukum Perkawinan dan Perceraian di Indonesia dan Malaysia,
Bandung: Rosda Karya, 1991
Arto H. A. Mukti, Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2000, cet. Ke-3.
Suma Muhammad Amin Himpunan Undang-Undang Perdata Islam dan Peraturan Pelaksanaan Lainnya di Negara Hukum Indonesia,
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia,.
Saleh K. Wantjik, Hukum Perkawinan Indonesia Jakarta: Ghalia Indonesia, 1978, cet. ke-5
Tihami H.M.A., Fikih Munakahat, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2009, hal.240.
Manan Abdul, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006)
Nuruddin Amiur, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No. 1/1974 sampai KHI), Jakarta: Kencana, 2006
Sabiq Sayyid, Fiqh Sunnah, Bairut: Dar al-Tsaqofiyah al-Islamyah, Juz 2
Muhtar Kamal, Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Jakarta: Bulan Bintang, 1974, Cet. Ke-1
Ali Zainuddin, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta : Sinar Grafika, 2006 Hamid Andi Tahir, Peradilan Agama dan Bidangnya, Jakarta : Sinar Grafika,
Lubis Sulaikin, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama di Indonesia, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2006
Bintania Aris, Hukum Acara Peradilan Agama, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2012
Fauzed M., Pokok-pokok Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan
Mahkamah Syar’iyah di Indonesia¸Jakarta : Prenada Media, 2005 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, Jakarta: Kencana, 2012
Mudjieb M. Abdul, Kamus Istilah Fiqih, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994
Muslichuddin, M. Sistem Perbankan Dalam Islam, Jakarta: Rineka Cipta, 1990 Lathif AH. Azharudin, fiqh muamalat,Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005
Rais Isnawati, Fiqh Muamalah dan Aplikasinya pada LKS, Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011
Pasaribu Chairuman, Hukum Perjanjian Dalam Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2004
Mas’adi Ghufron A., Fiqh muamalah kontekstual, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002
Billah Mohd Ma’sum, Penerapan Manajemen Aset Islami, Jakarta: Pakusengkunyit, 2010
Salinan Putusan Perkara No : 2429/Pdt.G/2012/PA TGRS
Harahap M. Yahya, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama, (Jakarta: Pustaka Kartini)
Muhtar Kamal, Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Jakarta: Bulan Bintang, 1974, Cet. Ke-1