IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Analisis Peta Dari-Ke ( From To Chart )
From To Chart merupakan suatu teknik yang digunakan dalam perencanaan
layout. Chart ini sangat menolong, khususnya pada problem dimana banyak item (part) yang melintasi daerah kerja. Chart ini juga sangat berguna sebagai alat untuk merencanakan hubungan yang optimum dari daerah-daerah kerja.
Sebelum melakukan analisis Peta Dari-Ke, terlebih dahulu ditentukan stasiun kerja/departemen yang ada. Berdasarkan gambar tata letak dan urutan proses produksi, maka pada CV. Massitoh Catering Services terdapat 13 stasiun kerja/departemen. Luas tiap departemen ditunjukkan pada Tabel 2. Pada Tabel 2 bisa dijelaskan bahwa total luas keseluruhan luas adalah 259,74 m2 dan luas stasiun kerja K memiliki luas terbesar yaitu 52 m2. Hal ini karena stasiun kerja tersebut merupakan pusat dari kegiatan proses produksi pada CV. Massitoh
Tabel 2. Luas Departemen
Nama Stasiun Kerja/Departemen Luas Area (m2)
A.Ruang Penerimaan 10.89
B.Gudang Kering/Sembako 13.2
C.Gudang Sayur 9
D.Gudang Beku 17
E. Gudang Buah 10.5
F. Gudang Peralatan Makan 25.75
G.Gudang Peralatan Masak 7.5
H.Tempat Pencucian Bahan Makanan 10.5
I. Tempat Pencucian Peralatan Makan 45
J. Tempat Pencucian Peralatan Masak 15
K. Area Masak 52.9
L. Area Penyimpanan Masakan Matang 10.5
M. Ruang Pengemasan 32
Total 259.74
Langkah pertama dalam penyusunan metode ini adalah menentukan kuantitas dan urutan produksi. Jumlah material yang dipindahkan adalah kebutuhan bahan dalam seharinya untuk memenuhi 1445 porsi. Bahan-bahan yang dibutuhkan merupakan bahan-bahan untuk membuat menu ayam bakar kecap, jumlah bahan merupakan jumlah rata-rata yang dibutuhkan per hari. Selain itu juga peralatan makan berupa rantang plastik serta peralatan-peralatan memasak dimasukkan kedalam aliran material karena peralatan makan dan peralatan memasak merupakan material yang berpindah pada stasiun kerja dan merupakan material pendukung.
Tabel 3. From-To Chart Bahan/Barang Jumlah Rata- rata/Hari (Kg) Urutan Proses 1. Beras 160 ABHKLM 2. Ayam 150 ADHKLM
3. Sayur (Wortel, Kentang, Buncis, Kol, Tomat, B. Merah, B. Putih, B. Bombay, D. Bawang, Seledri, Tempe, Cabai)
385 ACHKLM
4. Kerupuk 25 ABKLM
5. Buah (Semangka) 155 AEHKLM
6. P. Makan (Rantang Plastik) 362 IFM 7. P. Masak (Dandang, Panci,
Penggorengan, Saringan, Centong, Sendok Sayur, Sodet)
30 JGK
Tabel 3 menunjukan nama bahan dan barang yang dibutuhkan untuk mebuat menu ayam bakar kecap sebanyak 1445 porsi. Urutan proses dimulai dari ruang penerimaan dan berakhir di ruang pengemasan. Untuk peralatan makan dan perlengkapan masak merupakan material penunjang produksi, dan tujuannya dimasukkan kedalam metode ini adalah untuk memudahkan pengerjaan dengan
software.
Langkah berikutnya adalah menjumlahkan bahan baku yang mengalir antar stasiun kerja. Perpindahan material antar departemen merupakan jumlah dari jenis bahan baku yang mengalami proses pada satu stasiun kerja yang sama. Jumlah material yang dipindahkan antar stasiun kerja dijelaskan pada Tabel 3.
Tabel 4. Jumlah Material yang Dipindahkan Antar Stasiun Kerja. Ke Dari A B C D E F G H I J K L M A 185 385 150 155 B 160 25 C 385 D 150 E 155 F 362 G 30 H 850 I 362 J 30 K 875 L 875 M
Tabel 4. menunjukkan jumlah perpindahan bahan dan barang antar stasiun kerja setiap harinya. Misalnya, jumlah bahan yang dipindahkan dari stasiun kerja H (T. Pencucian Bahan) menuju stasiun kerja K (Area Memasak) setiap harinya sebanyak 875 Kg. Jumlah tersebut diperoleh dari total bahan yang diterima dari Tempat Pencucian Bahan berupa beras sebanyak 160 Kg, sayur-sayuran sebanyak 385 Kg, ayam sebanyak 150 Kg dan buah semangka sebanyak 155 Kg.
Selanjutnya menentukan titik pusat antar stasiun kerja untuk menentukan jarak perpindahan antar stasiun kerja atau stasiun kerja. Pengukuran jarak dilakukan dengan menggunakan pegukuran rectilinier dan pada pengukuran jarak masing-masing tidak memperhatikan adanya aisle (lintasan), sehingga pengukuran dilakukan secara langsung dari masing-masing titik tengah stasiun kerja. Berdasarkan Gambar 9 dan Gambar 10, maka jarak suatu stasiun kerja satu dengan stasiun kerja yang lain dapat ditentukan, masing-masing stasiun kerja dicari titik pusatnya yaitu (0.0) dari x dan y. Berdasarkan perhitungan tersebut maka diperoleh titik pusat masing-masing stasiun kerja sebagai berikut:
Departemen A (Xa,Ya) = (5.15, 6.95) Departemen B (Xb,Yb) = (8.8, 6.85)
Departemen C (Xc,Yc) = (7.5, 5) Departemen D (Xd,Yd) = (13, 6.9) Departemen E (Xe,Ye) = (7.3, 13.25) Departemen F (Xf,Yf) = (22.425, 14.5) Departemen G (Xg,Yg) = (10.5, 8.25) Departemen H (Xh,Yh) = (10.5, 5.25) Departemen I (Xi,Yi) = (6, 2.5) Departemen J (Xj,Yj) = (4.5, 2.5) Departemen K (Xk,Yk) = (5.049, 9.368) Departemen L (Xl,Yl) = (4.5, 6.75) Departemen M (Xm,Ym) = (13, 11.8)
Setelah titik pusat ditentukan, kemudian perhitungan jarak antar departemen bisa dilakukan dengan Metode Rectilinier. Perhitungan jarak tersebut bisa dilihat pada Lampiran 1. Berdasarkan perhitungan tersebut maka jarak antar pusat stasiun kerja dapat dilihat pada Tabel 5 yang menunjukkan jarak antar stasiun kerja, sehingga bisa dilihat total jarak yang ditempuh oleh material yang diproses untuk membuat 1445 porsi dalam sehari.
Tabel 5. Jarak Tempuh Material Antar Departemen Dari Ke Jarak (m) A B 3.75 A C 69.3* A D 7.9 A E 8.45 B H 66.268* B K 63.3* C H 3.25 D H 64.15* E H 71.2* F M 12.125 G K 6.569 H K 9.569 I F 28.425 J G 11.75 K L 3.167 L M 73.55* TOTAL 502.723
Ket (*) jarak antar stasiun kerja atau departemen berbeda bangunan dengan jarak sekitar 60m.
Dari Tabel 5 bisa dijelaskan bahwa dalam proses produksi dalam sehari, material atau bahan menempuh jarak 502,723 meter. jarak tersebut sangat besar dikarenakan lokasi bangunan terbagi menjadi dua bagian dengan jarak 60 meter. 4.4 Analisis Activity Relation Chart (ARC)
Pembuatan Activity Relation Chart (ARC) didapat dari data-data urutan aktivitas dalam proses produksi yang akan dihubungakan secara berpasangan untuk mengetahui tingkat hubungan antar aktivitas tersebut. Hubungan tersebut ditinjau dari beberapa aspek diantaranya adalah hubungan keterkaitan secara organisasi, aliran material, peralatan yang digunakan, manusia, informasi, dan keterkaitan lingkungan. Activity Relation Chart (ARC merupakan peta keterkaitan aktivitas yang berupa belah ketupat yang terdiri dari 2 bagian yaiti bagian atas yang menunjukkan simbol derajat keterkaitan antar dua departemen sedangkan bagian bawah merupakan alasan yang dipakai untuk mengukur derajat keterkaitan.
Tempat penerimaan mutlak dekat dengan gudang bahan pokok, gudang sayur, gudang beku, dan gudang buah karena proses yang berurutan (disimbolkan huruf A).
Gudang sayur, gudang buah, gudang beku mutlak dekat dengan tempat pencucian bahan makanan (disimbolkan huruf A).
Tempat pencucian bahan makanan mutlak dekat dengan area masak (disimbolkan huruf A).
Area masak mutlak dekat dengan ruang penyimpanan masakan jadi (disimbolkan huruf A).
Ruang penyimpanan masakan jadi mutlak dekat dengan ruang pengemasan (disimbolkan huruf A).
Tempat pencucian peralatan makan mutlak dekat dengan gudang peralatan makan (disimbolkan huruf A).
Tempat pencucian peralatan masak mutlak dekat dengan gudang peralatan masak (disimbolkan huruf A).
Gudang peralatan makan mutlak dekat dengan ruang pengemasan (disimbolkan huruf A).
Berdasarkan derajat hubungan antar aktivitas dan alasannya, maka peta hubungan keterkaitan aktivitas (ARC) untuk 13 stasiun kerja selengkapnya pada Gambar 11. Sedangkan alasan derajat kedekatan antar stasiun kerja dijelaskan pada Tabel 6.
Tabel 6. Alasan Hubungan Antar Departemen
Kode Alasan
1 Urutan proses
2 Kemudahan pengawasan
3 Perpindahan alat
4 Aliran informasi
5 Karyawan yang sama
Gambar 11. Diagram Keterkaitan Aktifitas
Dari Gambar 11 diatas menunjukan hubungan keterkaitan aktivitas antar departemen berdasarkan alasan yang ditunjukkan Tabel 6 misalkan ruang penerimaan harus mutlak dekat dengan gudang bahan pokok, gudang sayur, gudang buah, gudang beku karena alasan urutan proses, kemudahan pengawasan, dan aliran informasi.