• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Porter’s Five Forces Industri Perbankan

Struktur Hoding

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.4 Analisis Industri Perbankan Indonesia

5.1.4.3 Analisis Porter’s Five Forces Industri Perbankan

Untuk menentukan kemampuan perusahan dalam suatu jenis industri untuk dapat tetap tumbuh secara berkelanjutan dan menghasilkan laba, salah satunya dapat dilakukan dengan pendekatan metode Porter’s Five Forces. Disamping itu analisis ini digunakan untuk menganalisa lingkungan kompetisi dan isu-isu ekonomi.

5.1.4.3.1 Kompetisi dalam Industri (Competitive Rivalry Industries)

Persaingan antar perusahaan dapat dilakukan dengan berbagai taktik dan strategi. Persaingan dapat dilihat dari berbagai servis yang ditawarkan

masing-masing bank. Tingkat persaingan di industri perbankan terbilang cukup tinggi.

Saat ini banyak bank yang berdiri dan menawarkan pelayanan yang hampir sama dan serupa dengan Bank Mandiri dan Bank BRI untuk produk simpanan, pinjaman dan jasa lainnya seperti kartu atm, kartu kredit, e-cash, pay-pall, kredit modal kerja dan Letter of Credit. Kondisi ini menyebabkan persaingan bank di Indonesia cukup tinggi. Iklim pasar perbankan di Indonesia yang cukup stabil membuat persaingan diantara satu bank dengan bank yang lain tinggi. Segmen masyarakat Indonesia yang beragam menjadi salah satu faktor tumbuh pesatnya jumlah bank di Indonesia. Menyebabkan antar bank saling bersaing demi mendapat nasabah.

Sejalan dengan era globalisasi, penguasaan dan penerapan informasi teknologi yang cukup tinggi diantara bank, membuat banyak bank berlomba dalam bersaing meningkatkan pelayanannya melalui penggunaan teknologi.

Persaingan bank dalam memberikan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) semakin tinggi. Bank Mandiri dan Bank BRI memanfaatkan peluang kompetisi ini dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas produk – produknya.

Bank Mandiri masih kesulitan untuk menguasai segmen kelas menengah bawah, karena di bagian kelas ini terdapat salah satu rivalnya, yaitu Bank BRI yang memiliki kekuatan cukup besar pada wilayah akar rumput. Demikian juga halnya dengan Bank BRI kesulitan untuk menguasai segment kelas menengah keatas karena untuk segemen ini terdapat Bank Mandiri, BCA dan BNI yang selama ini menguasai pasar segment menengah dan korporasi.

5.1.4.3.2 Ancaman dari Pendatang Baru (Threat Of New Entry)

Diberikannya kesempatan untuk membuka kantor cabang di Indonesia bagi perbankan luar negeri merupakan salah satu ancaman pendatang baru bagi industri perbankan konvensional Indonesia saat ini.

API (Arsitektur Perbankan Indonesia) yang telah disusun oleh BI yang mengatur bahwa Bank umum yang memiliki modal yang terbatas, juga akan diberikan juga batasan-batasan dalam melakukan ekspansi bisnisnya. Regulasi ini menyimpulkan adanya keterbatasan untuk melakukan ekspansi, seperti membuka cabang bagi bank umum apabila modal nya terbatas. Sehingga cakupan konsumen yang mereka dapat juga kecil. Hal ini juga akan membuat pihak yang akan mendirikan sebuah bank memang harus memiliki modal yang tinggi jika ingin bersaing dengan bank yang telah banyak berdiri.

Pada saat ini OJK sedang membahas Master Plan Perbankan Indonesia (MP2I) untuk periode 2014-2024. MP2I ini merupakan modifikasi dari API yang telah disusun oleh BI. Salah satu pembahasan dalam MP2I ini nantinya akan membahas mengenai modal minimum untuk mendirikan sebuah Bank. Modal minimum yang dibahas akan dinaikan dari modal minium yang telah diatur sebelumnya, yang artinya modal yang dibutuhkan jika ingin mendirikan sebuah bank semakin tinggi. OJK mengatur kegiatan usaha bank berdasarkan modal intinya.

Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha yang selanjutnya disebut BUKU adalah pengelompokan Bank berdasarkan Kegiatan Usaha yang disesuaikan dengan Modal Inti yang dimiliki. Berdasarkan Modal Inti yang dimiliki, Bank dikelompokkan menjadi 4 (empat) BUKU, yaitu:

a. BUKU 1 adalah bank dengan modal inti sampai dengan kurang dari Rp1.000.000.000.000,00 (satu triliun rupiah);

b. BUKU 2 adalah bank dengan modal inti paling sedikit sebesar Rp1.000.000.000.000,00 (satu triliun rupiah) sampai dengan kurang dari Rp5.000.000.000.000,00 (lima triliun rupiah);

c. BUKU 3 adalah bank dengan modal inti paling sedikit sebesar Rp5.000.000.000.000,00 (lima triliun rupiah) sampai dengan kurang dari Rp30.000.000.000.000,00 (tiga puluh triliun rupiah); dan

d. BUKU 4 adalah bank dengan modal inti paling sedikit sebesar Rp30.000.000.000.000,00 (tiga puluh triliun rupiah).

Bagi Bank Mandiri dan Bank BRI sendiri masuk dalam kategori BUKU 4 dengan (permodalan diatas 30 Triliun) akan membatasi ancaman pendatang baru.

Adapun jumlah Bank yang berada di kategori BUKU 4 sampai dengan periode 31 Desember 2017 sebanyak 5 perbankan yaitu Bank BRI, Mandiri, BNI, Bank BCA, dan Bank CIMB Niaga.

Terhadap adanya ancaman akan pendatang baru, dengan adanya aturan ini akan memaksa bank yang tergolong dalam BUKU 3 apabila ingin bersaing dengan Bank Mandiri dan BRI serta Bank BUKU 4 lainnya harus meningkatkan modalnya minimal 30 Triliun. Namun disamping itu jika beberapa Bank melakukan merger yang otomatis akan menghasilkan bank baru dengan permodalan yang tinggi dan ini bisa menjadi ancaman juga Bank Mandiri dan Bank BRI, karena akan lahir bank baru dengan modal yang tinggi juga, sehingga ekspansi bank baru ini juga dapat semakin luas. Akan tetapi dengan adanya aturan ini juga, dapat menjadi hambatan juga bagi bank pendatang baru (dalam arti,

bukan bank yang terbentuk berdasarkan merger), dengan adanya aturan modal yang semakin tinggi untuk mendirikan bank, akan menghambat untuk mendirikan bank baru. Sehingga pada akhirnya jumlah Bank di Indonesia juga dapat dibatasi.

Potensi ancaman pendatang baru dikemudian hari dari Bank BUKU 3 yang akan masuk ke kategori BUKU 4 berasal dari Bank Danamon dan Bank BTPN. Bank Danamon melalui rencana merger maupun akuisisi dengan Mitsubishi UFK Financial Group (MUFG) dan Bank BTPN dengan rencana merger ke PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI) memungkinkan menjadi bank BUKU 4.

5.1.4.3.3 Ancaman Produk Pengganti (Threat of Substitutes Product)

Semakin berkembangnya lembaga keuangan bukan bank seperti lembaga keuangan asuransi, koperasi, pasar modal, dan Pegadaian serta bank syariah yang menjual produk dana, pinjaman dan jasa keuangan yang menyerupai produk perbankan harus disikapi serius oleh industri perbankan konvensional. Terlebih lagi ancama kedepan dengan lembaga keuangan yang menjalankan kegiatan usaha berbasis aplikasi online di smartphone untuk kemudahan transaksi seperti home credit.

Lembaga keuangan perbankan syariah, koperasi dan asuransi menawarkan produk simpanan yang serupa dengan Bank Mandiri dan Bank BRI dengan turunan maupun diversifikasi bentuk menyerupai tabungan dan simpanan berjangka seperti deposito. Satu hal yang menarik lainnya lembaga keuangan pasar modal juga berusaha menawarkan produk alternatif simpanan berupa menabung saham.

Dari segi produk ancaman produk pengganti dari sisi perkreditan cenderung rendah dan terbatas, lembaga keuangan perbankan syariah dan lembaga keuangan

non perbankan lainnya karena keterbatasan likuiditas hanya menyalurkan kredit segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ( UMKM). Namun dari kemudahan akses ancamann produk pengganti pinjaman berbasis aplikasi Online merupakan suatu ancaman.

Perbankan harus tetap mencari cara dan solusi kreatif untuk menanggulangi ancaman ini dengan memberikan pelayanan yang lebih “memanjakan” nasabah, agar kelebihan yang dimiliki lembaga keuangan lainnya dapat tetap diantisipasi.

Namun, memang konsekuensi yang akan terjadi adalah beban perusahaan bertambah dan keuntunganpun akan turun.

5.1.4.3.4 Daya Tawar dari Konsumen/Nasabah (Bargaining Power of Buyer) Sebagai bentuk industri jasa, bank harus memberikan pelayanan yang terbaik untuk nasabahnya. Pelayanan yang handal tidak hanya berupa kemudahan mendapatkan jasa yang diperlukan, tetapi menyangkut kepuasan yang diwujudkan dalam tingkat harga (bunga) yang dinikmati dan diberikan.

Pelayanan yang handal dan memuaskan jangan hanyak fokus ke nasabah korporasi dan prioritas. Perilaku nasabah ritel yang biasanya tidak terlalu sensitif dengan bunga menjadi salah satu segmen yang penting, karena di segmen ini merupakan sumber pendanaan yang murah. Di samping itu jumlah nasabah ritel merupakan jumlah yang potensial. Mengingat jumlah bank pesaing yang beroperasi sangat banyak memungkinkan nasabah memiliki pilihan yang beragam. Untuk nasabah lending (pinjaman) tawaran bank mengenai kemudahan mendapatkan pinjaman dan tingkat bunga yang bersaing memungkinkan para nasabah memiliki bargaining power yang tinggi. Hal inilah yang menuntut usaha perbankan untuk menentukan strategi yang tepat dalam memenangkan persaingan.

5.1.4.3.5 Kekuatan Tawar Pemasok (Bargaining Power of Supplier)

Jika dibandingkan pada dunia bisnis industri yang memiliki pengaruh cukup besar, pengaruh pemasok dalam dunia perbankan dapat dikatakan rendah. Jumlah pemasok relatif banyak dan pelanggan dari mereka (perbankan) terhitung sedikit, membuat tingkat permintaan akan produk mereka tidak terlalu tinggi. Ini pun akan mempengaruhi tingkat daya tawar pemasok.

Perbankan membutuhkan pemasok dalam menyokong alat – alat pelayanan nasabah seperti mesin ATM, aplikasi sistem informasi, ERP perusahaan, dll.

Pemasok ini berasal dari berbagai perusahaan pemasok yang banyak jumlahnya dan beragam jenisnya.

Dokumen terkait