• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

B. Hasil Analisis Dan Pembahasan

1. Analisis Potensi Pajak

Analisis potensi pajak digunakan untuk mengetahui kekuatan atau kesanggupan untuk menghasilkan penerimaan daerah, atau kemampuan yang pantas diterima dalam keadaan 100%.

a. Potensi Pajak Hotel Potensi pajak hotel adalah kemampuan untuk menghasilkan pajak hotel dalam keadaan normal (100%).

Di bawah ini adalah rumus perhitungan potensi pajak hotel menurut (Kesit Bambang Prakosa 2005 : 142)

Tabel 4.1

Hasil Perhitungan Analisis Potensi Pajak Hotel Kota Bandung Tahun 2014-2018

Tahun Potensi Pajak Hotel

2014 Rp 250.961.097.250 2015 Rp 230.391.248.500 2016 Rp 285.549.829.500 2017 Rp 358.470.880.000 2018 Rp 318.657.483.000

Sumber : Hasil perhitungan potensi pajak hotel menggunakan microsoft excel. Jumlah Kamar x Tarif Rata-Rata Kamar

x Tingkat Hunian Hotel x Jumlah Hari x Tarif Pajak Hotel

68

Berdasarkan tabel 4.1 diatas , dapat dilihat bahwa potensi yang dimiliki pajak hotel di Kota Bandung dalam kurun 5 tahun terakhir dari tahun 2014-2018 mengalami peningkatan. Dimana dari hasil perhitungan potensi pajak hotel yang mengalami peningkatan tiap tahunnya dari tahun 2014-2017 , sedangkan pada tahun 2018 terjadi penurunan potensi sekitar 4% dikarenakan terjadi penurunan jumlah wajib pajak hotel dalam tahun 2018. Walaupum terjadi penurunan potensi pada tahun 2018 tidak mengurangi jumlah potensi yang dimiliki oleh pajak hotel Kota Bandung dan menandakan bahwa Kota Bandung telah mampu menggali sumber-sumber potensi dari dalam wilayahnya sendiri.

Meningkatnya potensi pajak hotel dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 2014-2018 ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jumlah wajib pajak yang selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya, akan tetapi pada tahun 2018 terjadi penurunan jumlah wajib pajak sehingga menurunkan tingkat hunian hotel juga. Tidak hanya itu peningkatan ini di dukung dengan tingkat hunian hotel yang juga mengalami peningkatan setiap tahunnya dari tahun 2014-2017 . Serta semakin berkembangnya dunia pariwisata yang ada di Kota Bandung sehingga menarik perhatian para wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Sehingga dengan meningkatnya jumlah hotel , tingkat hunian serta jumlah wisatawan sehingga dapat meningkatkan pula penerimaan pajak hotel atau penerimaan dari daetah Kota Bandung , dimana dalam hal ini Kota Bandung memperoleh penerimaan pajak hotel tersebut dari dalam sumber wilayahnya sendiri. Sehingga dapat dapat dikatakan bahwa potensi dari pajak hotel juga mengalami peningkatan.

69

Ini sesuai dengan penjelasan dari Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan yang diperoleh didaerah dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jadi, pendapatan daerah yang sumber-sumber pendapatannya berasal dari penggalian atau pungutan daerah, sedangkan besar kecilnya pendapatan daerah sangat ditentukan oleh potensi daerah, keintensifan aparat pemungut pajaknya. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Fernandes Simangunsong (2015) yang menjelaskan bahwa potensi pajak hotel dikabupaten Bandung jauh lebih besar daripada realisasinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa pajak hotel dikabupaten Bandung telah tergali secara optimal. Tergalinya potensi pajak hotel yang ada dikabupaten Bandung tersebut tidak terlepas dari wajib pajak yang membayar hasil penerimaan pajak hotelnya tepat waktu dan jujur sehingga memberi pemasukan bagi daerah.

Dimana menurut (Siahaan , 2005 ) Pemungutan pajak daerah saat ini menggunakan sistem pemungutan pajak dibayar sendiri oleh wajib pajak, sistem ini dilakukan dengan memberi keupercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD). Ini berlaku bagi wajib pajak di Kota Bandung yang menggunakan sistem tersebut, sehingga pemungutan pajak Kota Bandung dapat dikatakan telah optimal.

Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa potensi penerimaan pajak hotel di Kota Bandung dapat dikatakan telah tergali secara optimal dan Kota Bandung telah mampu menggali kemampuan daerahnya dalam hal ini potensi pajak.

70 b. Perhitungan Potensi Pajak Restoran

Potensi pajak restoran adalah kemampuan untuk menghasilkan pajak restoran atau kemampuan yang pantas dikenai pajak dalam keadaan normal (100%).

Dibawah ini adalah rumus menghitung potensi pajak restoran.

Tabel 4.2

Hasil Perhitungan Analisis Potensi Pajak Restoran Kota Bandung Tahun 2014-2018

Tahun Potensi Pajak Restoran 2014 Rp 207.137.500.000 2015 Rp 242.487.750.000 2016 Rp 291.379.500.000 2017 Rp 300.322.000.000 2018 Rp 371.497.000.000

Sumber : Hasil perhitungan potensi pajak restoran menggunakan microsoft excel.

Berdasarkan tabel 4.2 diatas , dapat dilihat bahwa potensi yang dimiliki pajak restoran di Kota Bandung dalam kurun 5 tahun terakhir dari tahun 2014-2018 selalu meningkat setiap tahunnya. Dimana dari hasil perhitungan potensi pajak restoran yang mengalami peningkatan tiap tahunnya dari tahun 2014-2018. Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan meningkatnya potensi penerimaan pajak restoran telah mampu menggali sumber penerimaan yang berasal dari dalam daerahnya itu sendiri.

Jumlah Pengunjung Rata-Rata X Harga Rata-Rata Makanan X Jumlah Hari X Tarif Pajak

71

Meningkatnya potensi pajak restoran dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 2014-2018 ini dipengaruhi oleh faktor jumlah wisatawan yang menjadi pengunjung restoran di Kota Bandung. Ini berdasarkan dengan UUD No.10 tahun 2009 pasal 1 menjelaskan bahwa wisata merupakan aktivitas perjalanan seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat rekreasi . Sedangkan wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan tersebut . Industri pariwisata dalam hal ini adalah sektor pajak restoran yang bergantung kepada jumlah wisatawan yang datang. Perkembangan pajak restoran ini juga dapat mempengaruhi penerimaan pajak restoran dikarenakan restoran merupakan salah satu pilihan tempat yang sering dikunjungi wisatawan.

Semakin berkembangnya dunia pariwisata yang ada di Kota Bandung sehingga menarik perhatian para wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Oleh karena itu semakin meningkatnya wisatawan yang ada di Kota Bandung maka dapat meningkatkan pula penerimaan pajak restoran atau penerimaan dari daerah Kota Bandung. Meningkatnya pajak restoran di Kota Bandung tidak terlepas dari wajib pajak restoran yang membayar hasil penerimaannya tepat waktu.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ronald Bua Toding (2016) yang menjelaskan bahwa potensi pajak restoran nilainya lebih besar dibandingkan dengan realisasi penerimaannya. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pajak restoran dikawasan wisata anyer kabupaten serang telah tergali secara optimal. Tergalinya potensi pajak restoran ini tidak terlepas dari wajib pajak .

72

Dimana menurut (Siahaan , 2005 ) Pemungutan pajak daerah saat ini menggunakan sistem pemungutan pajak dibayar sendiri oleh wajib pajak, sistem ini dilakukan dengan memberi kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD). Ini berlaku bagi wajib pajak di Kota Bandung yang menggunakan sistem tersebut, sehingga pemungutan pajak Kota Bandung dapat dikatakan telah optimal.

Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa potensi penerimaan pajak restoran di Kota Bandung dapat dikatakan telah tergali secara optimal dan Kota Bandung telah mampu menggali kemampuan daerahnya dalam hal ini potensi yang bersumber dari daerah Kota Bandung itu sendiri. Sehingga, dengan meningkatnya potensi suatu objek pajak (pajak restoran) maka akan memberikan kontribusi pajak tersebut terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung.

Dokumen terkait