• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Analisis dan Pembahasan

1. Analisis Potensi Penerimaan Pajak Reklame

Analisis perhitungan potensi pajak diperlukan dalam menetapkan target rasional dan akan terlihat seberapa besar penerimaan yang seharusnya diperoleh oleh daerah. Dengan potensi yang ada, maka akan dapat diperkirakan rencana dan tindakan apa yang akan dilakukan untuk menggali potensi yang terpendam untuk menentukan rencana penerimaan yang akan ditetapkan di masa yang akan datang di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Berikut ini merupakan jumlah titik reklame yang ada di provinsi DKI Jakarta berdasarkan Pergub No. 261 Tahun 2015 Tentang penetapan nama jalan pada masing-masing kelas jalan sebagai dasar penghitungan potensi pajak reklame.

69 Tabel 4.1.

Jumlah Kelas Jalan Sesuai Wilayah Kota Administrasi Provinsi DKI Jakarta

Kelas Jalan Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Kep Jakarta

Jumlah

Pusat Selatan Timur Utara Seribu Barat

Protokol A 6 10 11 - - 1 28 Protokol B 31 11 11 8 - 11 72 Protokol C 63 25 26 23 - 22 159 Ekonomi Kelas I 125 105 63 57 - 127 477 Ekonomi Kelas II 119 269 137 128 - 46 699 Ekonomi Kelas III 230 341 219 239 109 465 1603 Lingkungan - 85 53 340 - 40 518

Sumber: Pergub No. 261 Tahun 2015 (data diolah), 2016

Dari data yang ada di atas, maka didapatkan hasil perhitungan potensi pajak reklame dengan menggunakan asumsi-asumsi sebagai berikut:

a. Rata-rata luas reklame: 1. Jenis reklame LED <8 M2 2. Jenis reklame Kain 1X4 M2 3. Jenis reklame Papan 2X4 M2

b. Durasi rata-rata penayangan reklame LED 2.160 (30 detik/18 Jam/Hari)

c. Waktu penyelenggaraan Reklame 365 Hari d. Banyaknya reklame per kelas jalan:

1. Terdapat 1 buah reklame LED di setiap kelas jalan sampai kelas ekonomi II

70 3. Terdapat 8 buah reklame Papan di setiap kelas jalan

a. Potensi Penerimaan Pajak Reklame Jenis LED

Berdasarkan data di atas, maka didapatkan perhitungan Potensi Penerimaan Pajak Reklame Jenis LED (dalam lampiran 5), dengan perolehan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.2.

Potensi Penerimaan Pajak Reklame Jenis LED Provinsi DKI Jakarta

Berdasarkan tabel 4.2 di atas, dapat disimpulkan bahwa potensi penerimaan pajak reklame jenis LED paling tinggi yaitu 1.008.363.600.000 dengan kelas jalan protokol A potensi penerimaannya paling rendah dibandingkan kelas jalan lainnya yaitu hanya sebesar Rp55.188.000.000, tingginya tarif kelas jalan di protokol A tidak tidak berpengaruh terhadap potensi penerimaannya karena jumlah kelas jalan yang sangat sedikit walaupun tarif penyelenggaraan reklame di kelas jalan Protokol A lebih mahal dibandingkan seluruh kelas jalan yang ada yaitu sebesar Rp10.000

Lokasi Pemasangan

Reklame Potensi Penerimaan

Protokol A 55.188.000.000

Protokol B 113.529.600.000

Protokol C 188.033.400.000

Ekonomi Kelas I 376.066.800.000 Ekonomi Kelas II 275.545.800.000

Ekonomi Kelas III -

Lingkungan -

71 per 30 detik penayangan dengan luas reklame kurang dari 8M2. Pemasangan reklame di kelas protokol A adalah yang paling strategis, karena kelas jalan ini terletak pada jalan-jalan besar yang dilalui kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat yang lokasinya sangat strategis dan dapat dengan mudah dilihat oleh khalayak ramai. Walaupun demikian, nilai sewa reklame yang tergolong mahal di lokasi tersebut membuat para penyelenggara lebih memilih menyelenggarakan reklamenya di kelas jalan Ekonomi yang tarifnya sedikit lebih murah. Selanjutnya, potensi penerimaan pajak reklame yang paling besar terletak pada lokasi Ekonomi Kelas I yaitu sebesar Rp376.066.800.000 dengan biaya penayangan reklame LED sebesar Rp4.000 per 30 detik. Para penyelenggara reklame jenis LED lebih banyak menyelenggarakan reklamenya di kelas jalan ini dikarenakan biaya sewa yang lebih rendah dibandingkan kelas jalan protokol, selain itu juga letak lokasi yang masih tergolong ramai dan nilai sewanya berada pada titik tengah yang masih terjangkau.

Reklame jenis LED terlihat lebih efektif dalam meningkatkan penerimaan pajak reklame, hal ini dapat dilihat pada jumlah potensi penerimaan pajaknya yang melampaui jumlah target maupun realisasi pajak reklame yang ada selama tahun 2011-2015. Hal itu dapat diartikan bahwa pemungutan pajak reklame yang dilakukan oleh pemerintah belum optimal. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

72 perlu menggali lebih jauh lagi potensi reklame LED yang ada agar kedepannya reklame jenis ini dapat lebih diperbanyak mengingat potensi yang ada sangatlah besar untuk meningkatkan pajak daerah khususnya PAD Provinsi DKI Jakarta.

Dalam rangka meningkatkan penerimaan pajak reklame, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana membuat seluruh reklame di wilayah DKI Jakarta kedepannya memakai LED mengingat LED merupakan jenis reklame yang potensi penerimaannya besar walaupun dengan jumlah objek pajak yang lebih sedikit dibanding reklame kain maupun papan. Tetapi adanya kendala dalam merealisasikan rencana pemerintah tersebut karena reklame jenis ini kurang diminati oleh para penyelenggara reklame dikarenakan tarif pemasangannya yang mahal dibandingkan reklame jenis lain karena nilai sewanya dihitung menggunakan satuan durasi detik.

b. Potensi Penerimaan Pajak Reklame Jenis Kain

Dari data yang ada mengenai jumlah titik pemasangan reklame, maka didapatkan perhitungan Potensi Penerimaan Pajak Reklame Jenis Kain (dalam lampiran 5), dengan perolehan hasil sebagai berikut:

73 Tabel 4.4.

Potensi Penerimaan Pajak Reklame Jenis Kain Provinsi DKI Jakarta

Berdasarkan tabel 4.3 di atas, potensi penerimaan pajak reklame jenis kain termasuk ke dalam potensi penerimaan pajak reklame yang terendah dengan jumlah potensi keseluruhan sebesar Rp68.017.750.000 dengan potensi penerimaan tertinggi ada pada kelas jalan tipe Ekonomi. Jumlah kelas jalan protokol A lebih sedikit dibandingkan dengan kelas jalan lainnya yaitu hanya 28 kelas jalan protokol A yang ada di provinsi DKI Jakarta dengan 10 jumlah titik pemasangan reklame dengan potensi sebesar Rp2.555.000.000, hal ini menyebabkan sangat kecilnya potensi yang didapatkan dalam penerimaan pajak reklame, selain itu juga pada jalan-jalan protokol terdapat kawasan kendali yaitu kawasan yang tidak boleh diperuntukkan pemasangan reklame.

Semakin ramai jalan, maka akan semakin meningkatkan potensi reklame tersebut menarik perhatian khalayak ramai. Semakin strategis sebuah jalan dan padatnya jalan tersebut akan

Lokasi Pemasangan Reklame Total Potensi Penerimaan Protokol A 2.555.000.000 Protokol B 5.256.000.000 Protokol C 8.705.250.000 Ekonomi Kelas I 17.410.500.000 Ekonomi Kelas II 12.756.750.000 Ekonomi Kelas III 17.552.850.000

Lingkungan 3.781.400.000

74 meningkatkan juga nilai komersil reklame. Dalam hal ini, pemerintah perlu meninjau kembali kelas-kelas jalan yang perlu dinaikkan kelasnya agar dapat meningkatkan penerimaan pajak reklame, karena potensi kelas-kelas jalan yang ada dapat meningkat seiring meningkatknya kondisi perekonomian suatu daerah.

Dari perolehan potensi penerimaan pajak reklame tersebut, dapat dilihat bahwa jumlah potensi penerimaan pajak reklame jenis kain yang fluktuatif sangat dipengaruhi oleh jumlah objek pajak reklame yang ada dan pemasangan reklame di kelas-kelas jalan yang strategis dengan sewa kelas jalan yang lebih tinggi sehingga akan meningkatkan potensi penerimaannya.

Nilai kelas jalan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam penerimaan pajak reklame di DKI Jakarta. Dilihat dari situasi dan kondisi perekonomian DKI Jakarta menjadikan banyaknya jalan-jalan yang dahulunya sepi, sekarang mulai berkembang dan dapat membuat potensi penerimaan pajak reklame lebih besar karena salah satu faktor yang mempengaruhi realisasi penerimaan pajak reklame adalah berdasarkan kenaikan tarif kelas jalan.

Banyaknya reklame jenis kain yang paling banyak tersebar di provinsi DKI Jakarta tidak membuat potensi penerimaannya lebih baik dibandingkan reklame elektronik atau LED, hal ini disebabkan murahnya membuat reklame jenis kain serta masih banyaknya reklame-reklame ilegal yang luput dari pengawasan. Jika hal ini

75 dibiarkan, maka wilayah DKI Jakarta akan menjadi hutan reklame tanpa memberikan dampak yang baik untuk lingkungan maupun penerimaan pajak daerah. Solusi dari DPP Provinsi DKI Jakarta untuk mengatasi masalah reklame-reklame ilegal tersebut salah satunya dengan mendata kembali reklame-reklame yang telah habis masa berlakunya, dan dengan dibantu oleh satpol PP dalam membongkar reklame-reklame yang telah kadaluarsa maupun luput dari pengawasan dan tidak dipungut pajaknya.

c. Potensi Penerimaan Pajak Reklame Jenis Reklame Papan

Dari data yang ada mengenai jumlah titik pemasangan reklame, maka didapatkan perhitungan Potensi Penerimaan Pajak Reklame Jenis Papan (dalam lampiran 6), dengan perolehan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.4.

Potensi Penerimaan Pajak Reklame Jenis Papan Provinsi DKI Jakarta

Lokasi Pemasangan Reklame Total Potensi Penerimaan Protokol A 4.088.000.000 Protokol B 8.409.600.000 Protokol C 13.928.400.000 Ekonomi Kelas I 27.856.800.000 Ekonomi Kelas II 20.410.800.000 Ekonomi Kelas III 28.084.560.000

Lingkungan 6.050.240.000

76 Berdasarkan tabel 4.4 di atas, potensi penerimaan pajak reklame jenis Papan termasuk ke dalam potensi penerimaan pajak reklame tertinggi kedua setelah reklame LED dengan jumlah potensi keseluruhan sebesar Rp108.828.400.000 dengan potensi penerimaan tertinggi ada pada kelas jalan tipe Ekonomi. Sama halnya dengan reklame kain, karena jumlah kelas jalan protokol A lebih sedikit dibandingkan dengan kelas jalan lainnya yaitu hanya 28 kelas jalan protokol A yang ada di provinsi DKI Jakarta dengan 8 jumlah titik pemasangan reklame membuat potensi penerimaan pajak reklame di Protokol A sedikit sebesar Rp4.088.000.000, dan potensi penerimaan pajak reklame tertinggi ada pada kelas jalan Ekonomi Kelas III sebesar Rp28.084.560.000, tingginya potensi penerimaan pajak reklame di kelas jalan ini dipengruhi oleh jumlah kelas jalan yaitu sebesar 1603 yang merupakan kelas jalan terbanyak yang ada di Provinsi DKI Jakarta.

Sulitnya dan beratnya media yang digunakan dalam menyelenggarakan reklame jenis ini, membuat penyelenggara reklame lebih memilih reklame jenis lainnya ataupun mempromosikan produknya dalam bentuk media lain. Reklame jenis ini, kadangpula luput dari pengawasan petugas karena sulitnya perawatan dan diperlukan petugas yang banyak dalam memasang maupun mencopotnya dan kurangnya SDM tersebut membuat reklame jenis papan lalai dari pengawasan sehingga banyak

reklame-77 reklame yang telah habis masa tayangnya tidak diperhatikan dan hal tersebut menjadi potential lost. Seharusnya, apabila potensi titik reklame papan dimaksimalkan, akan lebih meningkatkan penerimaan pajak reklame dan memberikan kontribusi yang baik terhadap PAD DKI Jakarta

Dari perolehan potensi penerimaan pajak reklame tersebut, dapat dilihat bahwa jumlah potensi penerimaan pajak reklame jenis papan yang fluktuatif sangat dipengaruhi oleh jumlah objek pajak reklame yang ada dan pemasangan reklame di kelas-kelas jalan yang strategis dengan sewa kelas jalan yang lebih tinggi sehingga akan meningkatkan potensi penerimaannya.

Nilai kelas jalan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam penerimaan pajak reklame di DKI Jakarta. Dilihat dari situasi dan kondisi perekonomian DKI Jakarta menjadikan banyaknya jalan-jalan yang dahulunya sepi, sekarang mulai berkembang dan dapat membuat potensi penerimaan pajak reklame lebih besar karena salah satu faktor yang mempengaruhi realisasi penerimaan pajak reklame adalah berdasarkan kenaikan tarif kelas jalan..

Rata-rata potensi penerimaan pajak reklame baik dari jenis LED, Kain, maupun Papan terendah adalah pada kelas jalan tipe Lingkungan, walaupun jumlah kelas jalan yang ada lebih banyak dibandingkan jalan protokol yaitu sebesar 518 kelas jalan tipe lingkungan. Hal ini dikarenakan pada kelas jalan Lingkungan

78 letaknya tidak strategis dan letaknya banyak yang berada jalan-jalan di dalam komplek perumahan selain itu juga tarif sewa yang paling murah membuat potensi penerimaannya rendah walaupun dengan jumlah kelas jalan yang ada banyak. Peraturan yang mengatur penetapan nama jalan pada masing-masing kelas jalan sebagai dasar penghitungan pajak reklame terdapat pada Peraturan Gubernur Nomor 261 Tahun 2015. Dari Pergub tersebut pemerintah dapat melihat jalan mana saja yang perlu dinaikkan nilai sewa kelas jalannya sehingga dapat meningkatkan potensi penerimaan pajak reklame. Dari hasil potensi tersebut, jenis reklame yang dapat dimaksimalkan untuk mendukung penerimaan pajak reklame adalah jenis reklame LED karena reklame jenis ini merupakan reklame yang penerimaannya paling efektif dengan jumlah objek yang sedikit namun dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap penerimaan pajak reklame.

Dari potensi yang telah dihitung di atas, maka dapat dibandingkan penerimaan potensi yang didapat tersebut dengan realisasi penerimaan pembayaran Pajak Reklame berdasarkan kelas jalan sebagai berikut:

79 Tabel 4.5.

Realisasi Pembayaran Pajak Reklame Berdasarkan Kelas Jalan Tahun 2011-2015 (dalam milyar)

Kelas Jalan 2011 2012 2013 2014 2015 Kelas Ekonomi 1 53.802 99.673 122.829 179.100 139.421 Kelas Ekonomi 2 11.929 18.877 22.401 35.826 26.809 Kelas Ekonomi 3 4.321 6.447 7.286 11.0568 8.311 Protokol A 74.359 122.208 187.301 224.235 213.465 Protokol B 58.003 111.689 148.103 194.124 166.230 Protokol C 67.067 126.604 167.642 237.549 192.904 Lingkungan 107 168 197 353 248 Jumlah 269.592 485.670 655.763 882.246 747.391

Sumber: DPP Provinsi DKI Jakarta (data diolah), 2016

Dari tabel 4.5 di atas, dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan antara jumlah potensi yang didapatkan dengan realisasi pembayaran pajak reklame berdasarkan kelas jalan. Dari keseluruhan jumlah potensi reklame jenis LED, Kain, dan Papan didapatkan hasil melebihi realisasi, dengan total potensi keseluruhan sebesar Rp1.185.209.750.000 dengan rata-rata potensi sebesar Rp395.069.916.667 dari ketiga jenis reklame yang diteliti, yaitu dengan rincian potensi penerimaan pajak reklame LED paling besar Rp1.008.363.600.000, lalu reklame papan Rp 108.828.400.000, dan yang terendah yaitu reklame kain Rp68.017.750.000. Dilihat dari keseluruhan realisasi pembayaran pajak reklame yang ada, tidak ada realisasi dari tahun 2011-2015 yang melampaui potensi yang ada dari sisi kelas jalan manapun.

Dari hasil perbandingan tersebut, dapat dikatakan bahwa Dinas Pelayanan Pajak Provinsi DKI Jakarta belum maksimal dalam menggali

80 potensi pajak reklame yang ada, karena dari tiga jenis reklame yang ada saja hasil potensi penerimaannya dapat melampaui realisasi pembayaran reklame yang didapatkan oleh Dinas Pelayanan Pajak Provinsi DKI Jakarta. Dalam hal ini, seharusnya dinas-dinas terkait lebih meninjau kembali reklame-reklame yang ada di wilayah DKI Jakarta khususnya ketiga jenis reklame tersebut karena potensi yang besar tersebut seharusnya dimaksimalkan untuk meningkatkan penerimaan PAD. Selain itu, penyelenggaraan reklame jenis LED di Provinsi DKI Jakarta sangat berpotensi besar, maka dengan adanya rencana penyelenggaraan reklame jenis LED secara keseluruhan di Provinsi DKI Jakarta pada umumnya akan dapat meningkatkan penerimaan pajak daerah maupun Pendapatan Asli Daerah (PAD) khususnya pajak reklame sehingga pajak reklame nantinya dapat menjadi pajak unggulan.

Dokumen terkait