• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Praktis

Dalam dokumen MAKALAH BK Kel.3 (Halaman 26-36)

a. Pengertian Analisis SWOT

Analisis SWOT merupakan salah satu metode untuk menggambarkan kondisi dan mengevaluasi suatu masalah, proyek atau konsep bisnis yang berdasarkan faktor internal (dalam) dan faktor eksternal (luar) yaitu Strengths, Weakness, Opportunities dan Threats. Metode ini paling sering digunakan dalam metode evaluasi bisnis untuk mencari strategi yang akan dilakukan. Analisis SWOT hanya menggambarkan situasi yang terjadi bukan sebagai pemecah masalah.

Analisis SWOT terdiri dari empat faktor, yaitu:

1. Strengths (kekuatan)

Merupakan kondisi kekuatan yang terdapat dalam organisasi, proyek atau konsep bisnis yang ada. Kekuatan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.

2. Weakness (kelemahan)

Merupakan kondisi kelemahan yang terdapat dalam organisasi, proyek atau konsep bisnis yang ada.Kelemahan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.

3. Opportunities (peluang)

Merupakan kondisi peluang berkembang di masa datang yang terjadi. Kondisi yang terjadi merupakan peluang dari luar organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. misalnya kompetitor, kebijakan pemerintah, kondisi lingkungan sekitar.

4. Threats (ancaman)

Merupakan kondisi yang mengancam dari luar. Ancaman ini dapat mengganggu organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.

27 Setelah itu dibuat pemetaan analisis SWOT maka dibuatlah tabel matriks dan ditentukan sebagai tabel informasi SWOT. Kemudian dilakukan pembandingan antara faktor internal yang meliputi Strength dan Weakness dengan faktor luar Opportunity dan threat. Setelah itu kita bisa melakukan strategi alternatif untuk dilaksanakan. Strategi yang dipilih merupakan strategi yang paling menguntungkan dengan resiko dan ancaman yang paling kecil.

Selain pemilihan alternatif analisis Swot juga bisa digunakan untuk melakukan perbaikan dan improvisasi. dengan mengetahui kelebihan (Strength dan opportunity) dan kelemahan kita (weakness dan threat), maka kita melakukan strategi untuk melakukan perbaikan diri. Mungkin salah satu strateginya dengan meningkatkan Strength dan opportunity atau melakukan strategi yang lain yaitu mengurangi weakness dan threat.

Teknik ini dibuat oleh Albert Humphrey, yang memimpin proyek riset pada Universitas Stanford pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an dengan menggunakan data dari perusahaan-perusahaan Fortune 500.

b. Analisis SWOT dalam Pelaksanaan Program Konseling di Sekolah

Suatu lembaga pendidikan dinilai mempunyai kinerja yang baik jika lembaga tersebut menghasilkan calon pendidik yang profesional sesuai dengan bidangnya. Pencapaian upaya tersebut sudah tentu banyak faktor yang mempengaruhi di dalamnya. Faktor-faktor tersebut pada prinsipnya dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu faktor internal yang berasal dari dalam, dan faktor eksternal yang berasal dari luar. Dengan menganalisis dan mengevaluasi berbagai faktor internal dan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja bimbingan dan konseling, diharapkan konselor dapat mengetahui kapasitas kemampuannya saat ini, dan menentukan strategi untuk meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang.

Pada prinsipnya hal-hal yang termaksud ke dalam faktor internal yang mempengaruhi kinerja konselor adalah hal-hal yang berkaitan dengan kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses). Sedangkan, hal-hal yang termasuk dalam faktor eksternal adalah yang berkaitan dengan peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang dapat mempengaruhi kinerja konselor tersebut. Dengan menganalisis kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses) yang ada, serta peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang harus di hadapi, maka pihak bimbingan

28 dan konseling nantinya dapat menentukan strategi agar mampu mengembangkan dan meningkatkan kualitasnya secara optimal.

Dalam kinerja bimbingan konseling saat ini, acuan untuk melihat hal-hal yang menjadi kondisi internal didasarkan pada strategi layanan yang dipergunakan dalam proses bimbingan dan konseling oleh konselor atau guru BK. Sedangkan kondisi eksternal didasarkan pada kondisi yang ada di luar lembaga yang berupa peluang dan tantangan, termasuk tuntutan pemangku kepentingan (stackholder).

a. Layanan dasar

Kekuatan (Stength)

 Bimbingan klasikal bisa dilaksanakan untuk mengefesienkan waktu pelaksanaannya.

 Konselor dapat menyampaikan layanan kepada beberapa siswa/ kelas dalam satu kali pertemuan.

 Bimbingan kelompok dapat dilaksanakan untuk menyelesaikan permasalahan yang sifatnya homogen, interaksi siswa akan lebih terbuka karena memiliki karakteristik masalah yang serupa.

 Telah diimplementasikannya materi pengembangan diri di SMP dan SMA sehingga siswa bisa lebih kondusif dalam mengikutinya.

Kelemahan (weaknesses)

 Pelaksanaan bimbingan klasikal dengan jumlah siswa yang terlalu banyak berkesan kurang efektif, karena konselor tidak akan bisa menyelami karakteristik siswa dalam kondisi tersebut.

 Pelaksanaan bimbingan kelompok kurang mendapatkan hasil apabila konselor tidak profesional dalam mengelompokkan karakteristik masalah konseli/ siswa yang sifatnya homogeny atau serupa.

 Materi pengembangan diri menjadi perdebatan, karena banyak guru yang berkependidikan non BK mengisi kegiatan tersebut sehingga sifatnya kurang kondusif.

 Beban konselor yang dihadapkan dengan 150 siswa belum mengalami pemerataan, sehingga di beberapa sekolah seorang konselor bisa lebih dari 150 siswa yang ditanganinya.

29

Peluang (opportunities)

 Apabila pelaksanaan bimbingan bersifat klasikal dengan jumlah siswa yang cukup banyak, maka peluang siswa untuk meresapi apa yang disampaikan oleh konselor tidak akan dapat diterima dengan baik oleh semua siswa.

 Pelaksanaan bimbingan kelompok di sekolah peluangnya masih sangat minim karena jam untuk bimbingan dan konseling masih minim, apalagi di sekolah yang belum ada guru BK nya, sehingga peluang siswa untuk mendapatkan bimbingan kelompok kurang efektif.

 Di beberapa sekolah materi pengembangan diri masih dipegang oleh guru non BK, sehingga peluang konselor di ambil alih oleh guru lainnya yang sudah tentunya penyampaian layanannya tidak akan kondusif karena tidak dibidangnya.

Ancaman (Threats)

 Bimbingan klasikal akan merugikan siswa yang tidak fokus terhadap layanan yang diberikan oleh konselor.

 Siswa tidak akan mendapat bimbingan dan konseling yang optimal di sekolah karena jam untuk BK relatif kurang , sehingga tidak akan bisa mencapai perkembangan siswa yang optimal.

 Apabila lahan bimbingan dan konseling ditempati oleh guru mata pelajaran, maka apa yang disampaikan kepada siswa tidak akan dapat berjalan secara kondusif karena tidak sesuai dengan bidang dan kemampuannya untuk menyelenggarakan layanan BK.

b. Layanan Responsif

Kekuatan (Stength)

 Layanan konsultasi yang merupakan salah satu bentuk layanan baru dalam bimbingan dan konseling merupakan suatu wahana bagi siswa, maupun orang tua siswa untuk menyampaikan aspirasi atau keluhannya yang bersifat konsultasi.

 Konseling individual merupakan suatu cara yang dilakukan oleh konselor untuk menyelesaikan permasalahan seorang individu melalui tatap muka langsung yang sifatnya sangat efektif untuk menciptakan suatu keterbukaan permasalahan konseli.

 Bimbingan dan koseling sudah memberdayakan layanan referral atau alih tangan kasus apabila permasalahan konseli di luar ranah kerja konselor, sehingga konseli

30 bisa direfralkan kepada pihak yang tepat untuk memberikan penanganan, misalnya sakit medis, gangguan jiwa berat dan lain sebagainya.

 Dengan diterapkannya bimbingan teman sebaya, maka pekerjaan konselor akan menjadi lebih efesien karena bisa diteruskan oleh siswa yang berkompeten untuk menyampaikan bimbingan dan konseling yang didapatkan sebelumnya.

Kelemahan (weaknesses)

 Dalam pelaksanaan layanan responsif biasanya terbentur dengan jadwal umum yang berlaku di masing-masing sekolah, sehingga waktu untuk layanan BK tidak bisa mendapatkan waktu yang signifikan.

 Konselor yang kurang berempati kepada konseli akan membawa pemikiran konseli menjadi kesal karena pelayanannya kurang memuaskan.

 Layanan konsultasi masih kurang berjalan efektif karena siswa atau beberapa kalangan masyarakat tertentu masih menganggap konselor sebagai polisi sekolah atau sistematika pelayanannya tidak jauh berbeda dengan guru mata pelajaran.

 Pelaksanaan konseling individual terkadang berkesan kurang efektif apabila konseli tidak terbuka atas permasalahan yang dialaminya, sehingga ranah pemecahan masalahnya pun bisa menyimpang.

 Pemanfaatan alih tangan kasus terkadang membuat persepsi yang tidak baik di lapangan, karena menganggap konselor tidak bisa menangani permaslahan konseli itu sendiri.

 Pelasanaan bimbingan sebaya terkadang mengundang persepsi yang kurang baik di kalangan teman-teman sebayanya, dengan beranggapan bahwa siswa tidak mungkin bisa membimbing sesama siswa.

Peluang (opportunities)

 Siswa/konseli hendaknya diberikan lebih banyak peluang untuk mengungkapkan permasalahannya kepada konseli dan diperhatikan sesuai kebutuhannya.

 Layanan konsultasi dan konseling individual akan bisa berjalan dengan efektif apabila konselor bisa memanajemen permaslahan konseli secara akurat walaupun waktu yang disediakan di sekolah relative kurang signifikan.

 Penyelenggaraan alih tangan kasus akan memberikan peluang kepada konseli untuk menemukan pemecahan masalahnya yang sebelumnya tidak dapat ditangani oleh konselor karena di luar keahliannya.

31

Ancaman (Threats)

 Apabila konselor tidak responsif terhadap permasalahan konseli, maka kepercayaan konselor menjadi kurang baik dimata konseli karena sifatnya kurang empati terhadapnya.

 Apabila konselor tidak mengunakan strategi yang benar dalam pemberian layanan, maka konseli akan menganggap bahwa guru BK memang polisi sekolah yang hanya mencari-cari kesalahan siswa, mislanya ikut berpartisipasi dalam melakukan inspeksi mendadak (sidak) yang sebenarnya tugas tersebut dilakukan oleh staf lainnya.

 Apabila konselor mengalami kesalahan dalam mengetahui karakteristik permasalahan konseli yang akan direferalkan, maka masalah konselipun tidak akan dapat terselesaiakan dengan baik.

c. Perencanaan Individual

Kekuatan (Stength)

 Pada dasarnya konselor atau guru bimbingan konseling sudah berbekalkan kompetensi masing-masing.

 Beberapa konselor sudah berupaya meningkatkan kemampuan atau kualitas pribadi konselor dengan mengikuti pendidikan profesi konselor, atau mengikuti jenjang pendidikan tinggi yang sifatnya masih linier.

 Konselor sudah bisa menyusun instrumen (tes maupun non tes) dan bisa menggunakannya dalam mengukur potensi siswa /konseli.

Kelemahan (weaknesses)

 Walaupun konselor sudah berbekalkan kemampuan di bidangnya, tetapi yang menjadi kendala adalah bagaimana konselor memberikan layanan kepada konseli yang sifatnya profesional dan berbeda dari guru mata pelajaran.

 Tempat melanjutkan pendidikan profesi konselor, jenjang magister maupun doktor yang ada di Indonesi masih minim sehingga bagi calon konselor yang letaknya cukup jauh tidak bisa mengikuti pendidikan secara optimal dan bahkan enggan untuk mengikutinya.

 Terkadang dalam pelaksanaan tes atau pengukuran potensi siswa, berkesan kurang efektif apabila beberapa siswa sudah tahu model tes yang akan didapatkannya.

 Konselor kurang mempunyai persiapan dalam melaksanakan bimbingan dan konseling misalnya sarana pendukung audio visual.

32

Peluang (opportunities)

 Para calon konselor sudah diberikan peluang untuk meningkatkan keahliannya dengan mengikuti pendidikan lanjutan seperti : Pendidikan Profesi Konselor, jenjang Magister dan jenjang Doktor Bimbingan dan Konseling.

 Kreativitas konselor sangat diperlukan dalam penguasaan teknologi yang mendukung pelaksanaan layanan BK, misalnya mengadakan pelatihan computer dan internet, sehingga konselor akan memiliki peluang untuk menjamah perkembangan teknologi sebagai daya dorong pelaksanaan konseling yang lebih profesional.

Ancaman (Threats)

 Apabila konselor tidak menguasai kompetensi yang sudah ditentukan, maka kepercayaan di mata konseli akan menjadi berkurang karena kemungkinan layanan yang diberikan tidak prefesional.

 Apabila konselor melakukan layanan yang seadanya tanpa persiapan yang matang, maka ranah layanan tidak aka nada bedanya dengan guru mata pelajaran biasa,sehingga kondisi seperti inilah yang sering meniumbulkan persepsi yang kurang baik di kalangan siswa yang mengatakan bahwa ternyata pelayanan konselor tidak ada bedanya dengan guru mata pelajaran.

d. Dukungan Sistem

Kekuatan (Stength)

 Kepala sekolah pada dasarnya sudah mendukung pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah yang menjadi pendukung utama dalam suatu lembaga sekolah.

 Pihak bimbingan dan konseling sudah mendirikan ABKIN sebagai wadah kekuatan dan wahana aspirasi bimbingan dan konseling.

Kelemahan (weaknesses)

 Pada beberapa sekolah yang masih belum ada guru BK akan mengalami kesulitan dalam memanajeman proses bimbingan dan konseling, sehingga apa yang menjadi tujuan BK tidak akan tercapai dengan baik, apalagi pihak pimpinan tidak memiliki inisiatif yang terkait dengan BK.

 Keanggotaan ABKIN masih terlihat heterogen, yaitu beberapa guru non BK memaksakan diri untuk masuk ABKIN sehingga terkesan kurang profesional.

33

Peluang (opportunities)

 Peluang keberhasilan layanan BK akan sangat tergantung dari kerjasama antar personil sekolah, orang tua siswa dan pihak terkait.

 Konselor pada dasarnya berpeluang besar untuk dapat menyelesaikan permaslahan siswa secara profesional apabila segaal pihak yang terkait dilibatkan dengan baik.

Ancaman (Threats)

 Apabila personil lain di luar BK (Kepala Sekolah, Wali Kelas, Guru, Orang tua dan yang terkait) tidak mendukung program BK, maka program yang dijalankan tidak akan mencapai hasil yang optimal.

 Apabila beberapa konselor tidak terlibat dalam ABKIN maka sedikit tidaknya akan ketinggalan dengan informasi baru yang ada di BK.

34 BAB IV

KESIMPULAN

A. Simpulan

B. Rekomendasi

Agar pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat berjalan optimal dan terstandarkan, kami berharap adanya kesepakatan tentang Standar Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah.

35 DAFTAR PUSTAKA

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/14/fungsi-prinsip-dan-asas-bimbingan-dan-konseling/

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/08/bidang-bimbingan-dan-konseling/

http://Pengertian Bimbingan Dan Konseling Menurut Beberapa Ahli _ arisandi.com.htm (diakses: Jumat 10 Feb 2012)

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/studi-kasus-dalam-bimbingan-dan-konseling/ http://episentrum.com/search/contoh-masalah-masalah-di-sekolah.html http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/02/03/strategi-pelaksanaan-layanan-bimbingan-dan-konseling/ http://www.a741k.web44.net/BIMBINGAN%20DAN%20KONSELING.htm http://layananbimbingan.blogspot.com/2009/11/macam-macam-layanan-bimbingan.html http://vickyadz.wordpress.com/2010/06/16/macam-macam-layanan-bimbingan-konseling-di-sekolah/ http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/08/jenis-layanan-bimbingan-dan-konseling/ http://www.psychologymania.com/2011/09/bimbingan-dan-konseling-di-sekolah_04.html http://imandede.blogspot.com/2009/10/layanan-bk-di-sekolah-menengah.html http://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_SWOT

Agus Wibisono. (2010). Analisis SWOT. [online] tersedia di http://aguswibisono.com/2010/analisis-swot-strength-weakness-opportunity-threat/

Gede Tresna. (2011). Analisis SWOT dalam Pelaksanaan Program Konseling di Sekolah. [online] tersedia di http://tresnacounselor.blogspot.com/2011/03/analisis-pelaksanaan-program-bk.html

36

PELAYANAN BIMBINGAN & KONSELING DI SEKOLAH

MAKALAH

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling, dengan Dosen Pengampu : Eka Sakti Yudha, M.Pd.

disusun oleh :

AI MARTIN SOPIAH NIM 1006550 ASTRI MAULIDYA NIM 1002237 LILIS NURHALIMAH NIM 1000442 MILA KAMILATUN NIM 1001924 QORRI „AINA HANIFAH NIM 1006736 SANA SOLEHAH NIM 1006167 HERRY GUNTORO NIM 0901804

Dalam dokumen MAKALAH BK Kel.3 (Halaman 26-36)

Dokumen terkait