• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PRODUKSI PROGRAM JEJAK ISLAM

Produksi sebuah program video dan televisi selalu dimulai dari ide atau gagasan yang kemudian dituangkan kedalam sebuah script. Naskah merupakan sebuah landasan yang diperlukan untuk membuat sebuah program video dan televisi apapun bentuknya. Penulisan sebuah naskah program video dan televisi yang didasarkan pada sebuah ide biasanya mempunyai tujuan yang spesifik yaitu:

6 Memberikan informasi (to inform) 6 Memberikan inspirasi (to inspire) 6 Menghibur (to intertain)

6 Propaganda26

Dalam progaram siaran Jejak Islam di TV One Jakarta, sebelum melangkah kepelaksanaan dalam jalannya suatu program, maka dibutuhkan suatu perencanaan yang baik dan yang bertanggung jawab mengenai jalannya suatu program tersebut yang diatur oleh produser.

Peranan seorang produser di program Jejak Islam sebagai penanggung jawab jalannya program, dituntut untuk bisa membuat suatu konsep atau kemesan dengan sebaik mungkin, produser juga harus mempunyai wawasan dan kemampuan dalam merealisasikan ide-ide kreatif serta mengarahkan proses produksi. Biasanaya seorang produser dalam melaksanakan produksi ada tahapan-tahapan sebagai salah satu tanggung jawab, diantaranya dari faktor interal dan eksternal.

26

Suatu produksi program televisi yang melibatkan banyak peralatan, orang dan dengan sendirinya biaya yang besar, selain memerlukan suatu organisasi yang rapi juga perlu suatu tahap pelaksanaan produksi yang jelas dan efisien. Setiap tahap harus jelas kemajuannya dibandingkan dengan tahap sebelumnya. Tahapan produksi terdiri dari tiga bagian di televisi yang lazim disebut Standart Operation Procedure (SOP), seperti berikut:

1. Pra Prouksi

2. Produksi

3. Pasca Produksi

Demikian juga dengan produksi program Jejak Islam diTV One Jakarta, mempunyai tahapan seperti di atas.

A. Pra Produksi Program Jejak Islam

Pada tahapan ini merupakan proses awal dari seluruh kegiatan yang akan datang, atau juga disebut sebagai tahap perencanaan. Tahapan pra produksi sangat penting dalam produksi suatu acara. Sebab jika tahapan ini dilaksanakan secara rinci dan baik, maka sebagian pekerjaan dari produksi akan berjalan dengan baik.

Tahapan pra produksi atau perencanaan merupakan pengembangan dari desain program menjadi desain produksi atau semua kegiatan. Kegiatan yang termasuk kegiatan pra produksi antara lain : penuangan ide/gagasan ke dalam outline, dan lain-lain hingga pengambilan gambar atau shooting.

Perencanaan suatu program secara umum melahirkan kebijakan umum tentang bagaimana mengatur alokasi waktu dan materi siaran dalam sehari, seminggu, atau setahun. Perencanaan program televisi juga diarahkan untuk dapat memilih dan menjadwalkan penayangan suatu program yang dapat menarik sebanyak mungkin penonton.

Seorang Budhi Nova, sutradara MD Entertainment dalam wawancaranya mengatakan:

“Pra produksi atau perencanaan adalah semua kegiatan sampai dengan pelaksanaan, shooting, yang termasuk kegiatan pra produksi antara lain penuangan ide/gagasan’’.

1. Penuangan ide/gagasan

Semua siaran televisi baik dari bentuk yang sederhana hingga yang rumit sekalipun, selalu didahului oleh simpulnya sebuah ide/gagasan. Sesuai dengan teori komunikasi, ide merupakan rencana pesan yang akan disampaikan kepada khalayak/penonton, melalui medium televisi dengan maksud dan tujuan tertentu. Karena itu sewaktu akan menuangkan ide dalam sebuah naskah atau script, harus memperhatikan faktor penonton dan waktu siaran serta selera dan kebutuhan penonton, agar apa yang akan disajikan dalam bentuk acara siaran dapat mencapai sasarannya.

Gagasan dapat disebut juga sebagai asal mula lahirnya sebuah program acara. Program acara Jejak Islam lahir dari sebuah ide yang dibahas dalam tim produksi, produser, penulis naskah, sutradara ( tim penyutradaraan). Tim ini akan membahas konsep hal-hal yang dianggap menarik dari segi tayangan.

Bermula dari timbulnya sebuah gagasan atau sering disebut sebagai ide, yang menjadi tanggung jawab dari seorang produser. Namun tidak berarti bahwa ide ini datangnya harus dari produser, dapat saja datangnya dari assistant produser.27

Ide merupakan buah pikiran dari seseorang perencana acara siaran, dalam hal ini seorang produser, ide juga dapat timbul dari kerabat kerja lainnya. Tapi ide bisa saja tidak timbul dari satuan kerja produksi, tetapi dapat timbul dari pihak luar seperti dari nara sumber sendiri, event organizer, maupun production house. Dalam mencari ide sebagai landasan untuk dikembangkan seorang produser harus memperhatikan beberapa hal, antara lain:

a. Apakah ide/gagasan tersebut cukup menarik.

b. Apakah kekuatan yang tersembunyi dalam ide/gagasan tadi.

c. Apabila ide/gagasan tadi dapat dirubah menjadi program siaran, kemudian apa manfaat bagi khalayak dan bagaimana dampaknya. d. Kalau ide tadi akan diangkat menjadi program siaran, harus ada

alasan yang meyakinkan.28

Program acara jejak Islam memulai pencarian ide dalam tahapan pra produksi dan mendapatkan sebuah ide dari mana saja. Sebagian ide tersebut ada juga yang datangnya dari luar tim jejak Islam, tetapi dalam hal ini produser selaku pencetus atau penggerak program melakukan sharing dengan penulis.

27

Hasil wawancara pribadi dengan Wawan Sumarmo, Produser program JejaK Islam, (jakarta: 27 Oktober 2008).

28

Darwantro Sastro Subroto, Produksi Acara Televisi, (Yogyakarta: Duta Wacana University press, 1994), h.176

Dalam penulisan naskah, ide yang ditulis oleh penulis terkadang tidak diterima secara mentah-mentah dan dianggap lolos oleh produser, naskah yang kurang baik nantinya akan direvis oleh produser. Tetapi ada juga beberapa yang diterima dan lolos tanpa revisi.

2. Riset

Dimana telah disebutkan sebelumnya bahwa acara Jejak Islam bertujuan memberikan informasi tentang awal masuknya agama islam dan siapa tokoh-tokohnya serta peninggalan-peninggalannya. Maka dari itu diperlukan adanya riset terlebih dahulu, dimulai dari pengumpulan data, survey lokasi, kemudian menghubungi nara sumber yang akan diwawancara.

Riset sangat diperlukan setelah menemukan sebuah ide yang akan dibuat menjadi sebuah program. Riset dalam konteks ini adalah suatu upaya memepelajari dan mengumpulkan informasi yang terkait dengan naskah yang akan ditulis. Sumber informasi dapat berupa buku, koran atau bahan publikasi lain dan orang atau nara sumber yang dapat memberi informasi yang akurat tentang isi atau substansi yang akan ditulis.29

Namun dalam produksi program jejak islam tim biasanya melakukan riset melalui buku, internet, dan meninjau langsung lokasi yang berhubungan dengan program siaran Jejak Islam, seperti masjid tertua, pelabuhan pertama yang dibuat oleh kerajaan Islam atau sekelompok pedagang Islam yang datang kedaerah tersebut, bangunan kerajaan Islam yang masih ada, peninggalan-peninggalan kerajaan islama dan peninggalan-peninggalan kebudayaan Islam.

29

Blum, R.A, Television Writing From Consept to Contract, (London: Focal Press, 1984). h.29

Sama seperti apa yang telah dituliskan oleh Blum,R.A, dalam bukunya, tim jejak Islam juga melakukan riset dengan cara mengumpulkan data atau informasi yang terkait dengan naskah yang akan ditulis. Media informasi yang dipakai oleh tim jejak Islam adalah melalui buku-buku tentang sejarah Islam, situs-situs Islam diinternet, dan menuju langsung kelokasi seperti yang telah disebutkan sebelumnya, seperti pelabuhan sunda kelapa dan masjid sunda kelapa yang terletak di Jakarta, masjid lau tshe di Jakarta barat, masjid si pitung, kerajaan Islam di Cirebon, pusat pengrajin batik di Cirebon sebagai salah satu peninggalan kebudayaan kerjaain Islama di Cirebon.

3. Pematangan konsep

Setelah penuangan ide dan riset dilakukan, maka berikutnya adalah pematangan konsep, baik untuk konsep acara Jejak Islam itu senditi maupun untuk perencanaan produksinya, bila semuanya telah dilakukan tahap selanjutnya adalah memasuki tahap produksi.

Tahapan pra produksi sangat penting dalam produksi suatu acara, sebab dalam perencanaan ini terjadi proses interaksi antara kreativitas manusia dengan peralatan pendukung yang tersedia.

Baik buruknya proses produksi akan sangat ditentukan oleh perencanaan di atas kertas yang merupakan imajinasi yang dituangkan di atas kertas yang nantinya akan diproduksi di lapangan.

Pematangan konsep dalam program acara Jejak Islam dilakukan dengan mengumpulkan tim program acara jejak Islam, lalu diadakan rapat tim untuk menyukseskan program acara Jejak Islam itu sendiri, dan untuk

mengetahui apakah pra produksi program acara jejak Isalm sudah sempurna dan dapat berjalan dengan lancar.

B. Produksi Program Jejak Islam

Penyelenggaraan siaran televisi nampak lebih kompleks bila dibandingkan dengan siaran radio. Namun esensi isi programnya relatif sama dengan program acara radio hanya perbedaanya, siaran televisi menghasilkan gambar dan suara, sedangkan radio hanya bersifat auditif.

Dari segi pengoperasiannya siaran televisi lebih kompleks karena lebih banyak melibatkan orang. Untuk menayang suatu acara saja, melibatkan sedikitnya sepuluh orang yang terdiri dari produser, pengarah acara, pengarah tekhnik, pengarah studio, pemandu gambar, 2 atau 3 juru kamera, juru video, juru audio (suara), dan lain-lain, yang mereka ini disebut juga kerabat kerja televisi (crew).30

Produksi sebuah program selalu dimulai dari ide/gagasan yang kemudian dituangkan kedalam sebuah naskah/script. Naskah merupakan sebuah landasan yang diperlukan untuk membuat sebuah program televisi apapun bentuknya.

Pelaksanaan proses produksi program acara Jejak Islam lebih banyak melakukan pengambilan gambar atau shooting diluar studio yang terletak diberbagai tempat. Dalam menjalankan proses pengambilan gambar program acara jejak Islam menggunakan format multi kamera.

30

Dengan didukung formaat multi kamera program acara jejak Islam lebih memaksimalkan proses kerja dan meminimalisir hambatan, kendala pada saat pengambilan gambar.

Dalam tahapan produksi program Jejak Islam setidaknya ada beberapa hal dibawah ini:

1. Materi Produksi 2. Sarana dan Prasarana

3. Organisasi Pelaksana Produksi 1. Materi Produksi

Dalam produksi tentunya ada suatu pesan atau ide yang akan disampaikan kepada khalayak/penonton, ide itu tentunya tidak akan menarik jika tidak dikemas sebaik mungkin. Dengan format yang baik maka tentunya sebuah ide akan dapat diminati, dinikmati dan diterima penonton.

Materi produksi berasal dari sebuah ide yang akan diubah menjadi suatu karya produksi berbentuk audio visual. Dimana ide yang muncul dibuatkan konsep dan format programnya, kemudian dibuatlah script atau rundown yang merupakan rangkaian dari sebuah acara tayangan yang akan dibuat.

Dalam hal materi produksi program Jejak Islam, ide yang telah di rumuskan lalu dibuatkan rundown kemudian dilakukan breafing dengan pengisi acara, mengenai tema yang akan dibawakan agar sesuai dengan format tayangan cerita dan mencapai tujuan yang diharapkan.

Untuk mendukung dan mencapai tujuan sebuah materi produksi program jejak Islam ada beberap kriteria dalam pemilihan nara sumber atau pengisi acara, yakni:

a. Seseorang yang tentunya benar-benar mengetahui tentang sejarah penyebaran agama diddaerah tersebut.

b. Nara sumber adalah tokoh agama yang sudah dikenal oleh masyarakat.

c. Nara sumber tersebut sempat menjadi idola masyarakat (legend). 2. Sarana dan prasarana

Sarana produksi yang menjadi penunjang terwujudnya sebuah ide menjadi konkrit yaitu hasil produksi adalah peralatan yang memadai, tentu saja diperlukan kualitas alat sesuai standard broadcast yang mampu menghasilkan gambar dan suara secara bagus. Kepastian adanya peralatan itu mendorong kelancaran seluruh proses produksi. Dimana perkembangan penggunaan peralatan dan jumlahnya tergantung pada program yang akan diproduksi. Adapun saran pendukung yang digunakan dalam pelaksanaan produksi program Jejak Islam adalah:

a. Kamera (alat pengambil gambar) b. Switcher (alat pemandu gambar) c. Audio Mixer (alat pengatur suara)

d. VTR (Video Tape Recorder) alat perekam gambar dan suara e. Lighting (alat pencahayaan yang digunakan dalam produksi

program ini untuk menshooting pembawa acara) f. Character generator (alat tata aksara)

Prasarana juga merupakan penunjang dalam produksi program Jejak Islam, antara lain:

a. Ruang krontrol dengan penyejuk udara (AC)

b. Studio produksi lengkap dengan sistem lampu, suara dan kamera elektreonik serta penyejuk udara (AC)

c. Ruang visual editing/penyunting gambar d. Propety

3. Organisasi Pelaksanaan Produksi

Pelaksanaan produksi merupakan satuan kerja yang akan menangani proses produksi secara bersama-sama (kolektif) sampai hasilnya ditayangkan. Meskipun mereka bertugas di bidang yang berbeda tetapi semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menghasilkan produksi yang ditayangkan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Untuk menghasilkan produksi acara yang berkualitas baik, memerlukan pengorganisasian sumber daya manusia dan pekerja yang sistematis. Untuk memudahkan pekerjaan di lapangan dilakukan pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing. Adapun struktur organisasi pelaksana produksi program Jejak Islam sebagai berikut:

a. Eksekutif produser (Khairullah), adalah penanggung jawab dari program Jejak Islam.

b. Produser (Wawan Sumarmo), adalah orang yang mampu berfikir dan menuangkan idenya untuk suatu program dan mempunyai kemampuan untuk memimpin dan bekerja sama.

c. Sutradara (Wawan Sumarmo), adalah orang yang memimpin pelaksanaan produksi di lapangan yang berhak mengembangkan ide/gagasan untuk kemudian diaplikasikan.

d. Asisten Sutradara (Aprilia Putri Ningrum), adalah membantu dan mendampingi sutradara dalam melaksanakan tugasnya.

e. Script writer/pencatat adegan (Ratna Kumala Sari), adalah membantu dan mendampingi tim penyutradaraan dan mencatat continuity setiap scene dan time code untuk memnunjang tahapan pasca produksi.

f. Administrasi/unit manager (Mbak Nunik), adalah mengkoordinasikan semua aktivitas produksi dan penyiaran serta menyusun dan mempertanggung jawabkan administrasi dan keuangan.

g. Unit produksi (Mas Mamo), adalah mengatur kebutuhan logistic pengisi suara dan crew produksi serta membantu kelancaran proses produksi.

h. Cameraman (Dimas Prasetyo), seseorang yang akan mengoperasikan kamera dalam tahapan pengambilan gambar. i. Cameraman Assistant(Bang Fu’ad),adalah membantu kameramen

dalam melaksanakan tugasnya.

j. Lightingman (Johan), adalah mengoperasikan penataan cahaya, merencanakan pemakaian lamapu, menentukan jenis lampu dan tipe lampu, dan mengatur pencahayaan.

k. Character Generator Operator (Herbert Sitompul), adalah mempersiapkan dan mengoperasikan peralatan komputer,

mengerjakan kredit title dan sub-title, serta menampilkan gambar grafis hasil rancangan graphic designer.

l. Technical Director (Mas Yuga), adalah menentukan kelayakan teknis produksi, memeriksa kesiapan perlatan system dan instalasi produksi.

m. Property (Joko Sulistyo), adalah menyediakan seluruh kebutuhan property/perlengkapan yang mendukung suatu acara.

Meskipun mereka bekerja pada bidang tugas yang berbeda, tetapi semuanya hanya memiliki satu tujuan, yaitu menghasilkan program acara Jejak Islam yang nantinya akan digunakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Karena itu sebelum melangkah kepelaksanaan produksi, seluruh kerabat kerja atau ti program acara Jejak Islam harus mendapatkan informasi secukupnya sehingga semua kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana produksinya.

Untuk tahap ini adalah rangkaian kegiatan liputan dimulai dari pengambilan gambar di lokasi yang dilakukan oleh cameraman dan reporter sampai pada penyelesaian pembuatan naskah.

a. Pengambilan gambar di lokasi

Kegiatan liputan pada program Jejak Islam dilakukan pada peristiwa masa lalu, peninggalan-peningalannya seperti masjid, makam tokoh, yang membawa atau menyebarkan Islam di daerah tersebut, dan wawancara dengan nara sumber.

Pada tahap pengambilan gambar oleh cameraman, terutama untuk shooting program Jejak Islam, lebih banyak berdasarkan

petunjuk pihak produser atau assistant produser yang bertanggung jawab untuk hal ini. Namun demikian, cameraman pun mempunyai hak untuk memberikan masukan atau saran baik mengenai blocking camera maupun lighting/pencahayaan. Jika produser dan assistant produser tidak dapat hadir di lokasi maka peranan reporter juga bertambah sebagai produser liputan saat itu, namun tentu saja tetap memperhatikan masukan atau saran dari cameraman.

b. Pembuatan naskah/script

Proses produksi selanjutnya adalah pembuatan naskah dari hasil liputan yang telah dilakukan tadi. Tim Jejak Islam yang sudah selesai meliput, akan kembali ke kantor untuk membuat naskah mengenai hal yang diliputnya.

Untuk membuat rundown dan script acaranya dalam preview (melihat kembali hasil liputan), tim Jejak Islam (tim kreatif dan assistant produser) bertugas mencatat time code yang nantinya digunakan untuk membuat rundown dan script acaranya.

Kegiatan Produksi Program Jejak Islam dalam tabel

Tugas Tim yang bertugas

Wawancara dengan nara sumber

Reporter:

Aprilia Putriningrum

Pengambilan Gambar Cameraman:

Dimas

Membuat rundown dan script Tim Jejak Islam

Mempreview hasil liputan Tim Jejak Islam dibantu Ass.

Produser

Keterangan:

1) Melakukan wawancara dengan nara sumber dilakukan oleh reporter 2) Melakukan pengambilan gambar dilakukan oleh cameraman dibantu crew 3) Mempreview hasil liputan adalah melihat kembali hasil dari liputan dan

wawancara dalam bentuk kaset rekaman di dalam ruang preview untuk membuat rundown atau script sementara yang dilakukan oleh tim Jejak Islam dibantu oleh Assistant Produser.

Biasanya dua atau tiga hari sebelum liputan tim Jejak Islam terlebih dahulu menghubungi nara sumber untuk melakukan liputan. Jika semua sudah selesai dan sudah membuat surat izin liputan, menghubungkan cameraman yang akan ditugaskan dalam pangambilan gambar pada saat liputan, perizinan mobil yang akan digunakan, perizinan menggunaan

kamera dan kaset, baru melakukan liputan dengan pengambilan gambar yang diperlukan.

Program Jejak Islam menggunakan proses produksi rekaman atau taiping yang pengambilan gambar shootingnya dilakukan di luar studio yang dilakukan beberapa hari, bahkan beberapa minggu sebelum ditayangkan.

C. Pasca Produksi Program Jejak Islam

Pasca produksi (penyuntingan) adalah semua kegiatan setelah peliputan/shooting taiping sampai materi itu dinyatakan selesai dan siap ditayangkan atau disiarkan atau diputar kembali. Kegiatan yang termasuk pasca produksi diantara lain, editing (penyuntingan), memasukan narasi, dubbing, perekam di dalam kaset.31

Proses pasca produksi dalam program acara jejak Islam sama seperti yang dituliskan oleh J.B. Wahyudi yaitu naskah dibuat, diadakan penyuntingan yang biasanya dilakukan oleh produser ataupun assistant producer. Setelah itu, mulai membuat paket yang berarti akan mulai tahap penyuntingan/edit secara audio visual.

Tahapan post production ini merupakan suatu kerja pada tahapan terakhir dari baahaan yang telah diproduksi, dengan beberapa kamera.penyelesaiaan pekerjaannya meliputi:

1. Memasukan narasi dan dubbing.

31

JB. Wahyudi, Tehnologi Informasi dan Produksi Citra Bergerak, (Jakarat: Gramedia Pustaka Utama, 1992), h. 35.

Sebelum memasuki tahap penyuntingan gambar/editing, dilakukan terlebih dahulu memasukkan narasi dari naskah yang telah dibuat sebelumnya dengan diiringi pengisian suara(dubbing).

Setelah liputan atau pengambilan gambar selesai, script boy/girl membuat loading, yaitu mencatat kembali semua hasil liputan berdasarkan catatan shooting dan gambar didalam loading time code (nomor kode yang dibuat dan muncul dalam gambar) dan hasil pengambilan setiap liputan dicatat. Kemudian berdasarkan catatan itu produser/sutrdara akan membuat editing kasar, sesuai dengan gagasan yang ada dalam sinopsis dan treatment.

Materi hasil shooting langsung dipilih dan disambung-sambung dalam pita VHS. Sesudah editing kasar ini jadi, hasilnya dilihat dengan seksama dalam screening, setelah hasil editing off line dirasa pas dan memuaskan barulah editingscript, naskah editing ini sudah dilengkapi dengan uraian untuk narasi dan bagian-bagian yang perlu diisi dengan ilustrasi musik. Didalam naskah editing, gambar dan nomor kode waktu tertulis jelas untuk memudahkan pekerjaan editor.

Kemudian hasil shooting asli dan naskah editing diserahkan kepada editor untuk dibuat editing online. Kaset VHS hasil editing off line

Proses memasukkan narasi dari naskah dilakukan reporter dan sutradara (Mas Wawan dan Mbak April), namun biasanya dibantu atau dilakukan oleh semua tim program acara jejak Islam. Kemudian setelah selesai dilakukan pengisian suara yang dikerjakan oleh tim editing TV ONE.

2. Penyuntingan gambar

Disinilah, peranan reporter untuk menentukan gambar mana saja yang dianggap sesuai untuk dipakai. Dengan dibantu seorang editor, paket dibuat berdasarkan naskah yang sudah disunting dan disetujui oleh produser maupun assistant produser.

Proses penyuntingan adalah salah satu bagian pasca produksi yakni menyeleksi gambar-gambar mana saja yang akan disuguhkan ke pemirsa. Tentu saja dalam proses penyuntingan ini menggunakan prinsip-prinsip editing yang sudah dikenal secara baku yaitu baik dengan sistem linier yang proses editingnya melalui sarana VTR ke VTR lainnya atau yang sering disebut dengan cut to cut maupun non-linier yang proses editingnya dengan sarana hard disc/server.

Tujuan dari adanya kegiatan produksi adalah membuat acara yang akan ditayangkan menjadi tayangan yang menarik baik dari segi isi/kontent maupun dari segi pengemasan. Kalau dari segi isi sudah di design sedemikian rupa agar dapat memberikan informasi mungkin dan menghibur, maka dari segi pengemasan harus pula diusahakan semenarik mungkin. Dengan demikian pemirsa tidak hanya terpenuhi kebutuhan akan informasi yang disajikan tetapi juga menghibur dengan menampilkan sajian yang artistik dan bercita rasa seni.

Dari penjelasan mengenai tahap penyelesaian di atas, maka jelaslah bahwa jurnalistik berperan secara komplek tidak hanya terbatas pada pembuatan naskah dari hasil liputan di lapangan pada suatu peristiwa, tetapi juga terlibat secara lebih jauh yakni dari segi

manajerial maupun pengerjaan produksi hingga akhirnya menghasilkan tayangan yang layak kepada pemirsanya.

3. Perekaman ke dalam kaset

Dilihat dari proses produksi yang dilakukan oleh pihak Jejak Islam yakni,

Proses yang demikian sudah merupakan standar, namun tahapan dalam buku teori menjadi panduan ideal yang sangat baik jika bisa dipenuhi. Dalam hal ini, model komunikasi media get keeper versi Westly dan McLaen sudah sangat cocok dengan realitas sebuah stasiun televisi. Dalam model komunikasi tersebut, stasiun televisi sebagai penjaga sekaligus penyaring mengenai apa saja yang sebaiknya diberitakan kepada masyarakat.

Pada model ini juga, masyarakat diberi kesempatan melakukan umpan balik (feedback) baik kepada media massa atau kepada sumber berita. Jadi, posisi masyarakat disini tidak hanya sebagai pihak yang menerima semua yang disajikan media massa. Namun lebih diharapkan sikap kritis dari masyarakat dalam menyikapi tayangan-tayangan yang disuguhkan.

% 1 /% + : + % 1 0 % + ,,$ $ 2 % ',(1 $ % ' (

Hal yang sama juga berlaku untuk media massa yang tidak hanya selalu

Dokumen terkait