BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang dilakukan meliputi preparasi sample daun handeuleum, ekstraksi dengan metode sonikasi, uji ekstrak dengan beberapa analisis yaitu bilangan iodine, GCMS, viskositas, densitas dan pH. Pembuatan body lotion dengan mengganti isopropil palmitat dengan ekstrak daun handeuleum. Uji body lotion dengan membandingkan body lotion yang ada di pasaran.
4.1.1 Preparasi Sample Daun Handeuleum
Sample yang diuji adalah daun handeuleum atau dalam bahasa indonesia biasa disebut juga daun ungu. Daun tunggal, bertangkai pendek, letaknya berhadapan bersilang, bulat telur sampai lanset, ujung dan pangkal runcing, tapi bergelombang, pertulangan menyirip, panjang 8-20 cm, lebar 3-13 cm, permukaan atas warnanya ungu mengilap. Setelah dipetik, daun handeuleum dibersihkan dengan air agar kotoran yang menempel pada daun tidak terikut dalam proses selanjutnya. Daun yang telah dibersihkan kemudian dikeringkan pada suhu kamar dan tidak langsung terkena cahaya matahari agar daun tidak rusak dan membusuk. Tujuan pengeringan adalah untuk menghilangkan kandungan air yang terdapat di dalam sel daun. Daun dikeringkan selama 14 hari dengan keadaan terawasi. Waktu pengeringan ini dipilih karena setelah 14 hari daun dianggap telah kering atau langsung dapat dihancurkan dengan tangan, dan tidak terlalu lama sehingga daun tidak membusuk.
Daun yang telah kering kemudian akan dihancurkan menjadi serbuk daun dengan menggunakan blender, agar proses penghancurannya lebih cepat. Proses
penghancuran daun tidak boleh terlalu halus karena dikhawatirkan diameter serbuk daun yang diinginkan untuk ekstraksi dapat hilang. Diameter yang digunakan untuk proses ekstraksi adalah 0.3 mm. Hal ini dikarenakan dengan semakin kecil diameter serbuk daun, maka luas permukaan kontak antara serbuk daun dengan pelarut akan semakin besar, sehingga akan semakin banyak senyawa yang terekstrak dari daun ke dalam pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi setelah itu serbuk daun ini disimpan dalam tempat tertutup agar terlindungi dari kontaminan. Selanjutnya, serbuk daun ini digunakan untuk proses ekstraksi (Wassil, 1955).
4.1.2 Ekstraksi dengan Metode Sonikasi
Proses ekstraksi merupakan proses perpindahan senyawa aktif antioksidan dari daun handeuleum ke pelarut yang digunakan. Pelarut yang digunakan untuk proses ekstraksi adalah etanol 96% dan n-hexane karena tidak bersifat racun bila digunakan dalam proses pengolahan makanan serta mudah diperoleh.
Proses ekstraksi ini menggunakan metode sonikasi dan alat yang digunakan adalah ultrasonic cleaner atau sonikator dengan frekuensi 53 kHz. Ekstraksi dilakukan dengan memvariasikan dua variabel, yaitu komposisi campuran pelarut dan waktu ekstraksi. Variabel yang dilakukan ekstraksi pertama kali adalah komposisi campuran pelarut etanol 96%/n-hexane (100%/0% ; 75%/25% ; 50%/50% ; 25%/75% ; 0%/100%) dengan lama ekstraksi 60 menit. Waktu ekstraksi ini merupakan waktu yang paling lama dari variasi selanjutnya sehingga proses ekstraksi akan menghasilkan ekstrak yang lebih banyak bila dibandingkan dengan waktu ekstraksi lainnya karena semakin lamanya kontak antara serbuk daun dengan pelarut yang digunakan (Wassil, 1955).
Sonikator yang mengantarkan frekuensi sebesar 53 kHz menggunakan suatu cairan, yaitu air, untuk mengirimkan energi berupa gelombang ultrasonik dari daerah emisi ke beaker berisi serbuk daun yang akan diekstrak ke dalam etanol. Transfer massa senyawa aktif dari daun handeuleum ke etanol dapat terjadi karena adanya efek kavitasi. Kavitasi yaitu pembentukan, pertumbuhan, dan peledakan gelembung dalam cairan (Hielscher, 2005). Peledakan gelembung
akan menghasilkan microbubbles yang disertai dengan transfer massa senyawaan yang akan diekstrak dari padatan ke microbubbles. Di dekat permukaan padatan (serbuk daun), bentuk gelembung menjadi tak asimetris dan menghasilkan jet yang berkekuatan ~ 400 km/jam dalam waktu yang sangat cepat (skala mikro sekon). Jet ini akan memukul padatan dengan kecepatan yang luar biasa, sehingga akan menyebabkan kerusakan yang hebat pada permukaan padatan, sehingga dinding padatan menjadi rusak dan terjadi perpindahan senyawa aktif ke dalam etanol yang digunakan sebagai pelarutnya (Kenneth, 2006).
4.1.3 Pemisahan dan Penguapan
Setelah proses ekstraksi, sampel dipisahkan dari padatan (serbuk daun) dengan menggunakan kertas saring untuk diambil filtratnya. Filtrate ini adalah larutan yang mengandung pelarut (etanol) dan senyawa yang diinginkan dari hasil proses ekstraksi. Setelah melalui proses pemisahan, sampel kemudian diuapkan dengan menggunakan hot plate dengan temperature yang dijaga yaitu 40OC setelah larutan menjadi pekat kemudian sampel dipindahkan kedalam cawan petri agar proses penguapan lebih cepat karena luas permukaan pada wadah ini lebih besar. Proses evaporasi dilakukan lagi agar etanol dapat teruapkan seluruhnya sehingga hanya dihasilkan ekstrak yang berupa pasta berwarna hijau kecoklatan. Suhu pemanasan pada hot plate dijaga pada suhu 40-50°C, yaitu di bawah titik didih etanol (78.3°C), agar senyawa yang terkandung dalam filtrate tidak rusak (tidak berubah strukturnya).
Sampel yang berupa pasta ini kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitis (skala 4 digit) untuk mengetahui berat ekstrak yang dihasilkan dari proses ekstraksi dengan variasi yang telah ditentukan sebelumnya.
4.1.4 Pembuatan Body Lotion
Prinsip pembuatan body lotion adalah pencampuran beberapa bahan yang disertai pengadukan dan pemanasan yang sempurna. Bahan dipisahkan menjadi dua bagian, yaitu bahan yang larut minyak dan bahan yang larut air. Bahan-bahan yang termasuk fase minyak antara lain asam stearat, gliseril stearat, petroleum jelly, white oil, dan isopropil palmitat. Bahan-bahan yang termasuk fase air antara lain gliserin, trietanolamin, dan air.
Fase minyak dicampur sampai homogen disertai pemanasan 70-75 oC sehingga terbentuk sediaan A. Pada sediaan ini divariasikan dengan penambahan ekstrak daun handeuleum yang menggantian bahan-dahan yang berfungsi sebagai emolient seperti isopropil palmitat, paraffin cair, petrolatum dan gliseril monostearat. Fase air pun dicampur sampai homogen disertai pemanasan 70-75 oC sehingga terbentuk sediaan B. Setelah homogen, kedua sediaan tersebut dicampur pada suhu 70 °C. Pada suhu 37 °C, metil paraben dimasukkan ke dalam sediaan C, kemudian pewangi ditambahkan pada suhu 35 °C. Hal ini dilakukan karena pewangi yang digunakan adalah minyak esensial dan Minyak esensial merupakan bahan yang sensitif terhadap panas, sehingga harus ditambahkan pada temperatur yang rendah. Minyak ini biasanya digunakan dalam jumlah yang kecil sehingga tidak menyebabkan iritasi (Rieger 2000). Setelah penambahan pewangi, pengadukan terus dilakukan selama satu menit sehingga terbentuk body lotion.
4.2 Pengaruh Konsentrasi Larutan Ekstrak dan Waktu Ekstraksi Terhadap