• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PEMBATALAN PERKAWINAN

B. Analisis Putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi

Di dalam Hukum Perdata Indonesia di jelaskan bahwa apabila seseorang tidak mengikuti akan ketentuan-ketentuan undang-undang tentang perkawinan, maka ada dua macam akibat hukumnya, yaitu batal demi hukum atau dapat di batalkan oleh hakim.7 Kemudian mengenai sebab-sebab perkawinan dapat di batalkan yaitu di jelaskan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pada pasal 86-91.8 Selengkapnya bunyi pasal 86-91, suatu perkawinan dapat di batalkan dengan alasan-alasan sebagai berikut:9

1. Karena adanya perkawinan rangkap (poligami)

7

H.F.A. Volmar, Pengantar Studi Hukum Perdata, ( Jakarta: Rajawali, 1992 ), Cet Ke-3, h.

60.

8

Lihat, pasal 86-91 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW). 9

Kama Rusdiana dan Jaenal Aripin, Perbandingan Hukum Perdata, (Jakarta: UIN Jakarta

2. karena tidak ada persetujuan yang bebas di antara para pihak

3. karena salah satu pihak di anggap tidak cakap melakukan perbuatan hukum 4. karena salah satu pihak atau masing-masing pihak belum mencapai umur

yang di tentukan menurut Undang-Undang dan belum mendapat izin 5. karena adanya larangan perkawinan

6. karena perkawinan yang di langsungkan akibat dari suatu hubungan zina

(overspell)

7. karena tidak adanya izin dari pihak yang berkepentingan, antara lain orang tua dan wali.

Dalam perkara putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi bahwa permohonan pembatalan perkawinan karena Termohon II telah melakukan pemalsuan identitas, yang mengaku berstatus jejaka. Akan tetapi Termohon II telah mempunyai istri dan dua orang anak.

Dalam pasal 26 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata di jelaskan bahwa Undang-Undang memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan perdata. Dari pasal tersebut dapat di simpulkan bahwa perkawinan merupakan hubungan antara dua orang. Hubungan tersebut merupakan hubungan yang di atur dan di akui oleh hukum, dengan begitu perkawinan merupakan suatu perikatan.

Mengingat perkawinan merupakan suatu perikatan, maka apabila suatu perikatan tersebut dapat batal karena sebab-sebab yang dapat membatalkanya, demikian pula dalam hal perkawinan juga dapat di batalkan.

Sesuai dengan pasal 1449 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu perikatan-perikatan yang dibuat dengan paksaan, kekhilafan atau penipuan, menerbitkan suatu tuntutan untuk membatalkannya.

Dengan demikian permohonan pembatalan perkawinan pada perkara No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi, perkawinannya dapat di batalkan, karena Termohon II telah melakukan penipuan di dalam perkawinannya, sesuai pasal 1449 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

C.Analisis Putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi Menurut Kompilasi Hukum Islam

Pada putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi Hakim memutuskan batalnya perkawinan disebabkan oleh poligami tanpa izin dari pengadilan agama, yang didasarkan pada pasal 71 huruf (a) Kompilasi Hukum Islam, yang berbunyi: a. Seorang suami melakukan poligami tanpa izin Pengadilan Agama

Menurut penjelasan hakim Pengadilan Agama Bekasi yang di dapat penulis melalui wawancara, dalam kasus perkara putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi bahwa kasus yang ada adalah masalah poligami tanpa izin dari Pengadilan Agama, karena di ketahui bahwa Termohon II telah mempunyai istri dan dua orang anak. Dengan begitu, dapat diputuskan sesuai dengan pasal 71 huruf (a).10

10

Hasil wawancara dengan hakim Pengadilan Agama Bekasi (Drs. Humaidi Yusuf) pada tanggal 15 April 2011 di Pengadilan Agama Bekasi.

Sedangkan apabila dilihat dari duduk perkara pada putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi pemohon mengajukan permohonan pembatalan perkawinan dengan alasan bahwa termohon II telah melakukan pemalsuan identitas, yang dalam hal ini telah diatur dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 72 ayat 2 yang berbunyi:

1) Seorang suami atau istri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila perkawinan dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar hukum

2) Seorang suami atau istri dapat mengajukan permohonan perkawinan apabila pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi penipuan atau salah sangka salah sangka mengenai calon suami atau istri.

Sedangkan sebab kedua setelah diketahuinya Termohon II melakukan pemalsuan identitas, diketahui bahwa Termohon II telah mempunyai istri dan dua orang anak. Dengan begitu perkawinannya dapat di batalkan sesuai dengan pasal 71 huruf (a) yang berbunyi:

Perkawinan dapat dibatalkan apabila seorang suami melakukan poligami tanpa izin Pengadilan Agama.

Kompilasi Hukum Islam tampaknya telah mengantisipasi kekurangan hal yang tersebut dalam pasal 27 ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan melalui pasal 72 ayat (2). Di kemukakan bahwa perkawinan dapat di batalkan tidak hanya salah sangka mengenai diri suami atau istri tetapi juga termasuk “penipuan”. Penipuan

dilakukan oleh pihak wanita. Dari pihak pria biasanya penipuan di lakukan dalam bentuk pemalsuan identitas, misalnya pria tersebut sudah pernah kawin tetapi di katakannya masih jejaka atau perbuatan licik lainnya sehingga perkawinan tersebut dapat berlangsung. Penipuan yang di lakukan oleh pihak wanita biasanya menyembunyikan kekurangan yang ada pada dirinya, misalnya di katakan tidak ada cacat fisik, tetapi kenyataannya tidak demikian.11

Menurut analisis penulis melihat duduk perkara No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi seharusnya putusan tersebut lebih sesuai apabila diputuskan berdasarkan pasal 72 ayat 2 Kompilasi Hukum Islam yang telah di sebut di atas, karena pemohon yang mengajukan permohonan pembatalan perkawinan tersebut menjelaskan dengan tegas bahwa Termohon II telah melakukan pemalsuan identitas dengan memalsukan statusnya sebagai jejaka, yang kemudian diketahui bahwa Termohon II telah mempunyai istri dan dua orang anak. Selain itu pengajuan permohonan tersebut di ajukan oleh wali dari Termohon I yang telah mengetahui Termohon II melakukan pemalsuan identitas. Apabila kasus tersebut di ajukan oleh istri pertama, maka baru bisa di anggap sebagai poligami liar karena perkawinannya yang kedua tidak mendapatkan izin dari Pengadilan Agama. Hal tersebut juga sesuai dengan apa yang telah di jelaskan oleh Abdul Manan dalam bukunya Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia yang telah di sebutkan di atas yang dengan jelas menyatakan bahwa pembatalan perkawinan

11

Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, ( Jakarta: Kencana,

karena pemalsuan identitas yaitu sesuai dengan pasal 72 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam.

Seperti pada putusan Mahkamah Agung Nomor 05 K/AG/2005 seorang lelaki bernama Ton mengaku jejaka melangsungkan perkawinan dengan seorang wanita bernama Masti pada tanggal 21 September 1983 dicatat oleh PPN yang berwenang. Dari perkawinan tersebut belum di peroleh anak. Pada tanggal 25 April 1991 seorang wanita bernama Karti mengajukan pembatalan perkawinan Ton dengan Masti karena tidak di lengkapi izin poligami dari Pengadilan, sedangkan pada waktu mereka melangsungkan perkawinan Ton masih terikat perkawinan sah dengan Karti. Gugatan tersebut di kabulkan oleh Pengadilan Agama karena melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.12

Dalam tingkat banding putusan Pengadilan Agama tersebut di batalkan

oleh Pengadilan Tinggi dengan pertimbangan: “bahwa gugatan pembatalan

perkawinan seperti yang telah di ajukan oleh penggugat adalah merupakan hak yang di berikan oleh undang-undang kepada isteri untuk mengajukan pembatalan perkawinan yang kedua dari suami. Namun menurut kepatutan serta rasa keadilan penggunaan hak tersebut bukanlah tidak di batasi waktu berlakunya. Sebab apabila hak tersebut merupakan hak yang tidak di batasi oleh waktu maka berarti walaupun isteri menyadari telah terjadi perkawinan suami tanpa izin Pengadilan akan bisa di gunakan kapan saja walaupun perkawinan itu telah di ketahui puluhan

12

tahun yang lalu dan sudah mempunyai anak cucu dan ini berarti pula bukan akan menimbulkan manfaat bagi keluarga, akan tetapi akan menimbulkan mafsadat bagi keluarga. Oleh karena itu menurut Pengadilan Tinggi Agama Jakarta rasa keadila akan terpenuhi baik terhadap hak Penggugat maupun Tergugat I dan Tergugat II apabila terhadap gugatan pembatalan perkawinan a quo di lakukan kias (analog) dengan Pasal 27 Undang-Undang Perkawinan, demikian pula dengan Pasal 72 KHI di mana harus di ajukan paling lambat 6 bulan sejak yang bersangkutan menyadari dan atau mengetahui perkawinan di maksud.

Putusan Pengadilan Tinggi Agama tersebut di batalkan oleh Mahkamah

Agung dengan pertimbangan : “bahwa Pasal 27 Udang-Undang No.1 Tahun 1974

hanya berlaku bagi suami atau istri yang mengajukan permohonan pembatalan perkawinan dirinya sendiri dan bukan permohonan untuk pembatalan perkawinan orang lain.13

Melihat Putusan Mahkamah Agung tersebut apabila di kaitkan dengan Putusan Pengadilan Agama Bekasi maka seharusnya hakim lebih tepat memutuskan perkara pembatalan perkawinan akibat pemalsuan identitas dengan menggunakan pasal 27 Undang-Undang Perkawinan atau dengan Pasal 72 KHI.

Karena dalam Putusan No. 15/ PDT/G/2009/PA. Bekasi di ketahui bahwa yang mengajukan Permohonan Pembatalan Perkawinan adalah wali dari Termohon I dan persetujuan Termohon I, dengan begitu pembatalan perkawinan

13

Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Mengenai Hukum Perdata Islam (Studi

tersebut untuk perkawinan Termohon I dengan Termohon II bukan pembatalan perkawinan untuk Termohon II dengan isteri pertamanya atau untuk orang lain.

76

PERSPEKTIF HUKUM FIQH

A. Analisis Putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi Menurut Madzhab

Syafi’iyyah

Dalam putusan perkara No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi di ketahui sebab perkawinan dapat di batalkan yaitu:

1. Bahwa Termohon II telah melakukan Pemalsuan identitas dalam melangsungkan perkawinannya dengan Termohon I

2. Bahwa ternyata diketahui Termohon II telah mempunyai seorang istri dan dua orang anak

Menurut pendapat Madzhab Syafi’iyyah di antara perceraian yang di

sebabkan fasakh yaitu:

1. Disebabkan seorang suami berat memberikan maskawin, nafkah, tempat tinggal dan pakaian,

2. Seorang istri terdapat cacat pada kemaluannya, 3. Di sebabkan akad nikah yang fasid,1

1

Abdurrahman al-Jaziry, Kitab al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah, Juz IV ( Beirut : Dar al-Fikr ), h. 372.

4. Karena seorang suami telah tertipu dengan sifat kewanitaannya, seperti seorang wanita mengaku perawan tetapi pada kenyataannya tidak perawan, mengaku merdeka ternyata budak.2

Melihat dari duduk perkara pada putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi bahwa perkawinannya batal karena Termohon II telah melakukan pemalsuan identitas, dengan begitu apabila di analisis menurut pendapat Madzhab

Syafi’iyyah maka perkawinan tersebut dapat di batalkan karena telah tertipu dari

pada sifat salah satu dari kedua suami istri tersebut.

Apabila di qiyaskan sifat tersebut kepada pendapat Madzhab Syafi’iyyah

bahwa pernikahan dapat di batalkan apabila salah satu keduanya tertipu oleh sifat suami atau istri, seperti contoh wanita mengaku perawan akan tetapi kenyataannya tidak perawan. Begitu pula pada kasus tersebut bahwa Termohon II yang telah mengaku sebagai jejaka tetapi ternyata telah mempunyai seorang istri dan dua orang anak.

Akan tetapi Madzhab Syafi’iyyah memberi keterangan lebih lanjut bahwa

di syaratkan bagi seseorang yang ingin menikah terlebih dahulu meneliti sifat dari keduanya sebelum atau di saat dilakukannya akad. Dengan begitu apabila sesudah akad diketahui adanya penipuan terhadap sifatnya maupun tertipu karena terdapat cacat, maka pernikahannya tetap di anggap sah.

2

Wahbah Zuhaily, Al Fiqh Al Islam Wa Adilatuh, ( Beirut : Daarul Fikr, 1996 ), Juz VII, Cet

Menurut analisis penulis, melihat dari duduk perkara pada putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi bahwa perkawinannya batal disebabkan bahwa Termohon II telah memalsukan identitasnya yang mengaku sebagai jejaka ternyata di ketahui bawa Termohon II telah mempunyai seorang istri dan dua orang anak. Dengan begitu, perkawinan tersebut sebenarnya memang dapat dibatalkan karena telah melanggar aturan hukum perkawinan yang berlaku.

Apabila dikaitkan dengan pendapat Madzhab Syafi’iyyah maka

sebenarnya perkawinan tersebut tetap di anggap sah, akan tetapi di berikan pilihan perkawinannya bisa di batalkan atau perkawinannya tetap berlangsung. Karena menurut pendapat Madzhab Syafi’iyyah perkawinan dapat dibatalkan apabila

salah satu dari keduanya telah tertipu dengan sifat dari kedua suami istri.

B. Analisis Putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi Menurut Madzhab Hanafiyah

Dalam putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi diketahui sebab terjadinya pembatalan perkawinan yaitu:

1. Di ketahui bahwa Termohon II telah melakukan pemalsuan identitas yaitu mengaku sebagai jejaka

2. Bahwa Termohon II ternyata di ketahui telah mempunyai seorang istri dan dua orang anak.

Menurut pendapat Madzhab Hanafiyah di antara sebab perkawinan dapat di batalkan yaitu:

1. Salah satu dari suami atau istri meninggalkan tempat peperangan ke Negara Islam yang aman,

2. Di sebabkan akad nikah yang fasid, 3. Salah satu dari suami atau istri kafir3

Dalam hal perkawinan dapat di batalkan apabila salah satu dari kedua suami istri telah tertipu oleh sifat dari salah satu kedua suami istri tersebut seperti apa yang telah di kemukakan oleh pendapat Madzhab Syafi’iyyah, Madzhab

Hanafiyah berbeda pendapat. Menurut pendapat Madzhab Hanafiyah bahwa tidak membolehkan adanya perceraian kecuali di sebabkan cacat yang menyebabkan suami istri susah untuk bersenggama. Dalam hal perceraian di sebabkan adanya cacat maka jika perceraian qabla dukhul, bagi istri mendapat setengah maharnya,

akan tetapi jika perceraian ba’da dukhul maka bagi istri wajib ber’iddah.4

Menurut analisis penulis, melihat duduk perkara pada putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi bahwa permohonan pembatalan perkawinan di sebabkan karena Termohon II telah melakukan pemalsuan identitas, dengan begitu Termohon II telah melakukan penipuan terhadap Termohon I, maka apabila di analisis menurut pendapat Madzhab Hanafiyyah perkawinannya tidak dapat di batalkan, karena bukan dengan sebab adanya cacat melainkan karena di

3

Abdurrahman al-Jaziry, Kitab al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah, Juz IV ( Beirut : Dar al-Fikr ), h. 372.

4

Wahbah Zuhaily, Al Fiqh Al Islam Wa Adilatuh, ( Beirut : Daarul Fikr, 1996 ), Juz VII, Cet

sebabkan salah satu dari suami istri tersebut tertipu oleh sifat dari salah satu keduanya.

C. Analisis Putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi Menurut Madzhab Malikiyyah

Dalam putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi di ketahui sebab terjadinya pembatalan perkawinan yaitu:

1. Di ketahui bahwa Termohon II telah melakukan pemalsuan identitas yaitu mengaku sebagai jejaka

2. Bahwa Termohon II ternyata di ketahui telah mempunyai seorang istri dan dua orang anak

Menurut pendapat Madzhab Malikiyyah di antara perceraian yang di sebabkan fasakh yaitu:

1. Di sebabkan akad nikah yang fasid, 2. Nikah sirri

3. Menikah tanpa wali

4. Putusan hakim dengan talaq ba’in dalam perceraian ( baik di ceraikan atas

putusan hakim atau atas perintah Istri)5

Mengenai hal pembatalan perkawinan karena salah satu suami istri telah tertipu oleh sifat salah satu dari keduanya, Madzhab Malikiyyah berpendapat

5

Abdurrahman al-Jaziry, Kitab al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah, Juz IV ( Beirut : Dar al-Fikr ), h. 372.

bahwa keduanya boleh memilih antara fasakh atau tetap berlangsung, sama halnya dengan pendapat Madzhab Syafi’iyyah. Mengenai mahar menurut pendapat Madzhab Malikiyyah jika perceraian dilakukan qabla dukhul maka perempuan yang di kawini tidak mendapat apa-apa.

Menurut analisis penulis, melihat duduk perkara pada putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi bahwa pernikahannya batal karena Termohon II telah melakukan pemalsuan identitas, apabila di kaitkan dengan pendapat Madzhab Malikiyyah maka perkawinannya dapat di batalkan karena salah satu dari kedua suami istri telah melakukan penipuan terhadap sifat salah satu kedua suami istri tersebut.

D. Analisis Putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi Menurut Madzhab Hanabilah

Dalam putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi diketahui sebab terjadinya permohonan pembatalan perkawinan disebabkan karena:

1. Bahwa Termohon II diketahui telah memalsukan identitasnya dalam perkawinannya yang mengaku berstatus jejaka

2. Bahwa Termohon II telah diketahui mempunyai seorang istri dan dua orang anak

Menurut pendapat Madzhab Hanabilah di antara sebab perkawinan dapat di batalkan yaitu:

1. Seorang suami berat memberikan maskawin (sebelum di pergauli), nafkah, tempat tinggal, dan pakaian,

2. Salah satu dari suami atau istri bukan beragama Islam6

Madzhab Hanabilah juga berpendapat bahwa apabila seorang laki-laki menipu seorang wanita dengan sesuatu yang dapat merusak akad seperti perkara sekufu, perihal kemerdekaannya, keturunannya, maka bagi istri berhak memilih antara fasakh dan tetap berlangsung.7

Melihat duduk perkara pada putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi perkawinannya batal karena Termohon II telah melakukan pemalsuan identitas dalam perkawinannya dengan Termohon I, dengan begitu apabila di kaitkan dengan pendapat Madzhab Hanabilah, maka perkawinan tersebut dapat di batalkan karena salah satu dari kedua suami istri tersebut telah melakukan sesuatu yang dapat merusak akad, yaitu Termohon II telah melakukan pemalsuan identitas yang mengaku sebagai jejaka tetapi ternyata diketahui bahwa Termohon II telah mempunyai seorang istri dan dua orang anak.

Menurut analisis penulis, melihat duduk perkara pada putusan No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi apabila dikaitkan dengan pendapat Madzhab Hanabilah, perkawinannya dapat di batalkan karena dari kedua suami istri tersebut telah melakukan sesuatu yang dapat merusak akad, kemudian bila di qiyaskan dengan

6

Abdurrahman al-Jaziry, Kitab al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah, Juz IV ( Beirut : Dar al-Fikr

), h. 372.

7

Wahbah Zuhaily, Al Fiqhu Al Islam Wa Adillatuh, ( Beirut : Daarul Fikr, 1996 ), Juz VII,

contoh sesuatu yang dapat merusak akad seperti mengaku merdeka tetapi kenyataannya budak, dengan begitu bila melihat sebab putusnya perkawinan pada putusan tersebut Termohon II telah melakukan pemalsuan identitas yaitu mengaku sebagai jejaka tetapi pada kenyataannya telah mempunyai seorang istri dan dua orang anak.

84

A. Kesimpulan

Dalam bab ini akan dikemukakan kesimpulan dan saran sebagai langkah akhir setelah menganalisis dari beberapa sudut pandang dan kepustakaan untuk melengkapi dan menyempurnakan sekaligus merupakan jawaban dari pernyataan perumusan masalah yang telah di sebutkan terlebih dahulu. Maka dapat di tarik beberapa kesimpulan dan saran sebagai berikut:

1. Bahwa Undang- Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Telah mengatur hukum pembatalan perkawinan karena adanya unsur penipuan yaitu pada pasal 27 ayat 2. Begitu juga dengan Kompilasi Hukum Islam telah mengatur hukum pembatalan perkawinan karena adanya unsur penipuan dalam pasal 72 ayat 2.

2. Bahwa yang menjadi pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi dalam perkara pembatalan perkawinan karena pemalsuan identitas dalam kasus poligami yaitu dengan menggunakan pasal 24 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan serta Kompilasi Hukum Islam pasal 71 huruf (a). Mengenai Akibat hukum dari pembatalan perkawinan yaitu terhadap anak yang dilahirkan adalah tetap dianggap anak sah, mengenai harta bersama dapat di selesaikan menurut hukumnya masing-masing, baik menurut hukum agama, hukum adat maupun hukum lainnya,

kemudian di dalam fiqih di jelaskan bahwa apabila telah sempat bersenggama maka bersenggamanya tidak di anggap zina selama benar-benar tidak mengetahui bahwa perbuatan itu haram baginya.

3. Pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara No. 1513/ Pdt. G/ 2009/ PA. Bekasi dengan menggunakan pasal 24 UU Perkawinan dan KHI pasal 27 apabila di tinjau dari hukum positif maka di anggap telah berkekuatan hukum, akan tetapi apabila di tinjau dari hukum fiqih hukumnya lemah karena dalam hukum Islam masalah poligami telah di atur, tetapi apabila perkara tersebut di putus dengan menggunakan pasal 27 UU Perkawinan atau dengan pasal 72 Kompilasi Hukum Islam yang mengatur tentang pembatalan perkawinan karena adanya unsur penipuan, di tinjau dari hukum positif dan hukum fiqih putusan tersebut telah berkekuatan hukum, karena dari hukum positif maupun hukum fiqih telah mengatur pembatalan perkawinan karena adanya penipuan.

B. Saran-Saran

Mengingat betapa pentingnya masalah pernikahan bagi masyarakat dengan adanya peraturan perundang-undangan yang telah mengatur semua hal tentang perkawinan dan untuk mencegah terjadinya dampak negatif dalam perkawinan, maka penulis akan mengajukan saran-saran kepada semua pihak yang terkait antara lain:

1. Kepada hakim Pengadilan Agama Bekasi agar lebih memperhatikan semua sebab permohonan, agar semua perkara yang telah di putus memberikan rasa

keadilan bagi para pencari keadilan serta lebih tepat dalam menetapkan pertimbangan hukumnya

2. Meningkatkan bimbingan dan penyuluhan terhadap masyarakat agar selalu memperhatikan aturan yang telah di tetapkan oleh undang-undang maupun peraturan lainnya, agar tidak terjadi dampak negatif terhadap perkawinannya 3. Meningkatkan peran aktif dan fungsi KUA atau Kelurahan sebagai salah satu

wadah untuk kegiatan-kegiatan yang dapat membangkitkan semangat untuk menggali ilmu lebih tinggi, juga bimbingan keagamaan yang lebih konstruktif dan inovatif.

4. Kepada para pegawai Kantor Urusan Agama agar memperhatikan segala hal yang berkaitan dengan kedua mempelai dan lebih berhati-hati dalam menjalankan tugasnya agar tidak terjadi kekeliruan terhadap kedua mempelai tersebut dan tidak ada penyelundupan terhadap sesuatu yang dapat merusak perkawinan.

90

Al-Quran Dan Terjemahan. Departemen agama RI Bandung. Gema Risalah,

Press, 1993

Abdurrahman. Himpunan Peraturan UU Tentang Perkawinan. Jakarta :

Akademika presindo, 1986, Cet. 1

Abdurrahman SH. Ma. Kompilasi Hukum Islam. Jakarta : Akademika

Presindo, 1996

Abdullah, Abdul Gani. Pengantar Kompilasi Hukum Islam Dalam Tata hukum

Indonesia, Jakarta : Gema Insani Press, 1994

AH, Daud Muhammad. Hukum Islam dan Peradilan Agama. Jakarta : Raja

Grafindo Perkasa, 1997, Cet. 1

Al Jaziri, Abdurrahman. Al Fiqhu Ala Madzahib Al Arba 'ah. Beirut: Daarul

Dokumen terkait