• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : ANALISIS QIRA>’A>T DALAM KITAB FAID{ AL-

C. Analisis Qira>’a>t yang tidak Bersumber pada al-Sha>t}ibiyyah 111

111

C. Analisis Qira>’a>t Yang Tidak bersumber Pada al-Sha>t}ibiyyah 1. Kalimat

ىَلاَسُك ،ىماَتَ ي ،ىَراَكُس ،ىَراَسُأ ،ىراَصَن

Kalimat

ىَراَكُس ،ىَراَسُأ ،ىراَصَن

merupakan contoh-contoh dhawa>t al-ra>’. Dalam pembahasan kitab Faid} al-Baraka>t, dapat diketahui bahwa ima>m tujuh membacanya dengan berbeda-beda. Warsh membacanya dengan al-taqli>l, sementara Abu> ‘Amr dan al-Akhwa>n (H{amzah dan ‘Ali> al-Kisa>’i>) membacanya dengan al-ima>lah. Selain dari mereka membacanya dengan al-fath}.

Adapun

ىَلاَسُك ،ىماَتَ ي

merupakan dhawa>t al-ya>’ yang dibaca berbeda oleh para ima>m tujuh. Warsh membacanya dengan al-taqli>l dan al-fath{, Abu> ‘Amr dengan taqli>l, dan Akhwa>n dengan ima>lah. Hal ini sesuai dengan dalil al-Shat}ibiyyah-nya sebagai berikut:

َلاِّمُج ُفْلُخْلا ُهَل اَيْلا ِتاَوَذَو ْمُهَك اَرَأ يِفَو َنْيَ ب َنْيَ ب ٌشْرَو ِءاَّرلا وُذَو

42

Warsh membaca alif-nya dhawa>t al-ra>’ dengan al-taqli>l, dan khusus pada kalimat ara>kahum dan dhawa>t al-ya>’ membacanya dengan ikhtila>f (al-taqli>l dan al-fath{).

... اًمْكُح َعاَش ٍءاَر َدْعَ ب اَمَو

43

H{amzah dan ‘Ali> al-Kisa>’i> serta Abu> ‘Amr membaca al-ima>lah pada alif yang terletak sesudah ra>’ atau dhawa>t al-ra>’.

Selain perbedaan bacaan yang telah dipaparkan di atas, ditemukan adanya penyebutan riwayat qira>’a>t keluar dari al-Sha>t}ibiyyah. Sebagaimana disebutkan oleh K. Arwani, menurut riwayat tersebut, Du>ri> ‘ Ali> (salah satu perawi ‘Ali>

42 Al-Qa>sim ibn Fiyyurah ibn Khalaf ibn Ah{mad al-Sha>t{ibi>, H{irz al-Ama>ni> wa Wajh al-Taha>ni> (Saudi: Maktabah Da>r al-Huda, 2010), 26.

112

Kisa>’i>) membaca kalimat

ىَراَصَن

dengan ima>lah alif sesudah s}a>d dan diikuti pula dengan ima>lah dhawa>t al-ra>’ (nas}e>re>). Demikian juga pada empat kalimat lainnya (

ىَلاَسُك ،ىماَتَ ي ،ىَراَكُس ،ىَراَسُأ

) yang dibaca dengan ima>lah alif sesudah si>n (use>re> kuse>le>), ima>lah alif sesudah ka>f (suke>re>), dan ima>lah alif sesudah ta>’ (yate>me>). Riwayat bacaan ini juga berlaku untuk kalimat serupa yang ber-wazan fa’a>la> dan fu’a>la> . Akan tetapi tidak berlaku untuk khat}a>ya>, fura>da>, al-h}awa>ya>, dan al-aya>ma> (

ىَماَيَلأا ،اَياَوَحْلا ،ىَداَرُ ف ،اَياَطَخ

).44

Dalam bait al-Sha>t}ibiyyah bab al-fath} wa al-ima>>lah wa baina al-lafz{aini bait ke 311 dan 314 sebagaimana penulis sebutkan di atas, tidak menunjukkan riwayat al-ima>lah li al-ima>lah untuk al-Du>ri> ‘Ali>. Pada bait ke-314 hanya menjelaskan riwayat bacaan Warsh yang membaca dengan al-taqli>l pada setiap dhawa>t al-ra>’ kecuali pada kalimat ara>kahum dalam surah al-Anfa>l ayat 4345 yang mempunyai dua wajah bacaan yaitu al-fath} dan al-taqli>l. Adapun bait ke 311 menjelaskan riwayat Abu> ‘Amr, H{amzah, dan ‘Ali> al-Kisa>’i> yang membaca dengan al-ima>lah pada setiap dhawa>t al-ra>’.46

Terkait dua bait yang telah disebutkan di atas, ‘Abd al-Fatta>h} al-Qa>d}i> mengomentari bahwa bait di atas menjelaskan tentang bacaan al-ima>lah untuk Abu> ‘Amr, H{amzah, dan ‘Ali> al-Kisa>’i> ketika ada alif yang berhadapan dengan ya>’ atau

44 Muh}ammad Arwa>ni>, Faid} al-Baraka>t, jilid 1, 23.

45 Redaksi ayatnya adalah ِروُدُّصلا ِتاَذِب ٌميِل َع ُهَّنِإ َمَّلَس َهَّللا َّنِكَلَو ِرْمَْلأا ي ِف ْمُتْعَزاَنَ تَلَو ْمُتْلِشَفَل اًريِثَك ْمُهَكاَرَأ ْوَلَو

46 Ahmad Fathoni, KaidahQira>’a>t Tujuh (Jakarta: Darul Ulum Press, 2010), jilid 2, 44 dan 47; lihat

juga Abu> ‘Amr ‘Uthma>n ibn Sa’i>d al-Da>ni>, al-Taisi>r fi> al-Qira>’a>t al-Sab’ (Beirut: Da>r Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005), 45.

113

ditulis dengan rasm ya>’ sebagaimana dalam al-mas}a>h}if al-‘uthma>niyyah adalah alif yang terletak sesudah ra>’, baik berbentuk isim seperti bushra>, annasa>ra>, asra>, dan adhdhikra> ataupun fi’il seperti ishtara>, qad nara>, dan walau tara>.47

Berdasarkan dua bait al-Sha>t}ibiyyah yang telah dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa riwayat al-ima>lah li al-ima>lah yang dibaca oleh al-Du>ri> ‘Ali> bukan bersumber dari al-Sha>t}ibiyyah.

Berdasarkan pelacakan yang dilakukan, penulis menemukan riwayat ima>lah alif sesudah s}a>d atau disebut juga al-ima>lah li al-ima>lah tersebut diriwayatkan oleh al-Du>ri> ‘Ali> dari jalur Abu> ‘Uthma>n al-D{ari>r yang terkumpul dalam kitab Ittih{a>f Fud{ala>’ al-Bashar bi al-Qira>’a>t al-Arba’ata ‘Ashar karya Ah}mad ibn Muh{ammad al-Banna>.48

2. Kalimat

ىَتَم

Dalam pembahasan ilmu Qira>’a>t, kalimat

ىَتَم

merupakan dhawa>t al-ya>’ yang di antara ima>m tujuh berbeda-beda dalam membacanya. Sebagaimana disebutkan dalam Faid} al-Baraka>t, Warsh membacanya dengan al-taqli>l dengan ada khilaf (fath}), sedangkan Akhwa>n (H{amzah dan ‘Ali> Kisa>’i>) membacanya dengan al-ima>lah dan selain dari mereka membacanya dengan al-fath}. Dalil al-Sha>t}ibiyyah-nya adalah:

47 ‘Abd al-Fatta>h} al-Qa>d}i>, al-Wa>fi> fi> Sharh} al-Sha>t}ibiyyah fi> al-Qira>’a>t al-Sab’ (Madinah: Maktabah al-Suwa>di> li al-Tauzi>’, 1990), 146-148. Lihat juga Abu> al-Qa>sim ‘Ali> ibn ‘Uthma>n ibn Muh{ammad ibn Ah{mad, Sira>j al-Qa>ri’ al-Mubtadi’ wa Tidhka>r al-Muqri’ al-Muntahi> (Bat{ant{a>: Da>r al-S{ah{a>bah, 2004), 204-206.

48 Ah{mad ibn Muh{ammad al-Banna>, Ittih{a>f Fud{ala>’ al-Bashar (Beirut: ‘A>lam al-Kutub, 1987), jilid 1, 33 dan 396.

114

َلاِّمُج ُفْلُخلا ُهَل اَيلا ِتاوَذَو...

49

...Warsh membaca dhawa>t al-ya>’ dengan ikhtila>f (al-fath} dan al-taqli>l)

ىَلَ ب ْلُقَو َلَاَمَأ اًضْيَأ ىَسَعَو اًعَم *** ىَتَم يِفَو ىَّنَأ ِماَهْفِتْسلَا يِف ٍمْسا يِفَو

50

H}amzah dan ‘Ali> al-Kisa>’i> membaca al-ima>lah al-kubra> pada lafaz anna> yang dipergunakan untuk istifha>m, mata>, ‘asa>, dan bala>

Selain riwayat bacaan yang telah disebutkan di atas, disebutkan pula riwayat selain dari al-Sha>t}ibiyyah, yaitu riwayat dari al-Bas}ri> (Abu> ‘Amr) yang membaca kalimat

ىَتَم

dengan al-taqli>l sebagaimana sang muallif (K. Arwani) mendapatkannya dari sang guru (K. Munawwir).

Penulis menemukan riwayat bacaan kalimat

ىَتَم

yang dibaca oleh al-Bas}ri> (Abu> ‘Amr) dengan al-taqli>l adalah riwayat dari jalur Abu> ‘Uthma>n al-D{ari>r yang terambil dalam kitab Ittih}a>f Fud}ala>’ al-Bashar karya al-Banna>.51 Sedangkan menurut Ibnu al-Jazari> dalam al-Nashr, kalimat

ىَتَم

dibaca oleh Abu> ‘Amr al-Bas}ri> (bukan hanya al-Du>ri> saja), di samping dibaca al-taqli>l juga oleh Warsh.52

3. Kalimat

َكَلَّه ْهَيِلاَم

Pembahasan kalimat

هيلام

pada ayat di atas menjadi sorotan bagi penulis. Sebagaimana dalam penjelasan di atas, seluruh ima>m tujuh kecuali H{amzah membacanya dengan ithba>t ha>’ suku>n (

ْهيلام

) baik dalam keadaan waqaf maupun

49 Al-Sha>t}ibi>, H{irz al-Ama>ni>, ba>b al-Fath} wa al-ima>lah baina al-lafz{aini, bait ke-214, 26.

50 Ibid., bait ke-295, 24.

51 Al-Banna>, Ittih}a>f, juz 1, 436.

115

was}al. Lain halnya dengan H{amzah, ia membacanya dengan tanpa ha>’ saktah ketika was}al (

يلام

). Dalil al-Sha>t}ibiyyah-nya adalah:

53

َلاَصوُتَ ف ٍءاَه ِنْوُد ْنِم ْهَيِناَطْلُسَو *** ْلِصَف ْهَيِهاَم ْهَيِلاَم...

Apabila kalimat (

ْهيلام

) di-was}al-kan dengan kalimat (

كله

), maka sebagaimana dijelaskan bahwa seluruh ima>m tujuh kecuali H{amzah meng-idgha>m-kannya. Lebih dari itu, K. Arwani mengemukakan tata cara al-idgha>m pada dua kalimat tersebut menurut al-S{afa>qasi> dalam Ghait al-Naf’i dan Ibnu al-Jazari> dalam al-Nashr, yaitu meng-idgha>m-kannya dengan dua wajah, pertama al-idgha>m54, dan kedua al-iz{ha>r (al-sakt).55

Kedua kaifiyyah tersebut di atas merupakan salah satu t}ari>qah bacaan yang diakui dalam dunia ilmu qira>’a>t. Meskipun tidak diriwayatkan dalam al-Sha>t}ibiyyah, akan tetapi masyhur dan banyak dipraktekkan dalam pengajaran ilmu qira>’a>t. Di antara mereka yang meriwayatkannya adalah Ibnu Jazari> dalam Nashr, S{afa>qasi> dalam Ghaith Naf’i, dan ‘Abd Fatta>h} Qa>d}i> dalam al-Budu>r al-Za>hirah.56

53 Al-Sha>t}ibi>, Hirz} al-Ama>ni>, ba>b su>rah Nu>n ila> su>rah al-Qiya>mah, bait ke-1079, 86.

54Al-idgha>m adalah memasukkan huruf pertama (ha>’-nya ma>liyah) ke dalam huruf kedua (ha>’-nya halaka).

55Al-iz}ha>r yang dimaksud adalah berhenti sejenak tanpa bernafas pada lafaz ma>liyah dan berniat meneruskannya dengan lafaz halaka. Lih. Muh}ammad Arwa>ni>, Faid} al-Baraka>t, jilid 3, 881.

56 Al-S}afa>qasi>, Ghaith al-Naf’i (Saudi Arabia: Kulliyat al-Da’wah wa Us}u>l al-Di>n, 1426 H), 1225; Ibnu al-Jazari>, al-Nashr, jilid 2, 109; dan ‘Abd al-Fatta>h} al-Qa>d}i>, al-Budu>r al-Za>hirah (Kairo: Da>r al-Sala>m, 2005), 455.

116

D. Nilai Keabsahan Qira>’a>t Yang Tidak Bersumber Pada al-Sha>t}ibiyyah