Penelitian dilakukan di kandang Nutrisi Ternak Unggas, Laboratorium Nutrisi, Fakultas Peternakan, Laboratorium Reproduksi dan Patologi dan Laboratorium Fisiologi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB.
Penelitian menggunakan 160 ekor DOC (Day Old Chicks) ayam kampung yang berasal dari PT. TRIAS FARM Bogor. Ayam dibagi kedalam 5 perlakuan dan 4 ulangan, setiap ulangan terdiri atas 8 ekor ayam.
Kandang menggunakan sistem litter beralaskan sekam padi. Kandang berukuran 1 m x 1 m sebanyak 20 petak. Pada masing-masing petak dilengkapi pemanas (brooder), tempat pakan dan tempat air minum dan lampu pijar 60 watt.
Ransum
Ayam pada umur 0-3 minggu diberi ransum komersial dari PT. Sinta Prima Feedmill. Ransum perlakuan yang diberikan adalah sebagai berikut:R0 = Ransum tanpa BBJP,R1 = Ransum + BBJP 5 % tanpa diolah,R2 = Ransum + BBJPfermentasi 5% + selulase 20.000 U/kg,R3 = Ransum + BBJPfermentasi5% + fitase 1000 FTU/kg,R4 = Ransum + BBJPfermentasi 5 % + selulase 20.000 U/kg + fitase 1000 FTU/kg.
Metode
Rancangan Percobaan
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5
perlakuan, 4 ulangan. Data yang diperoleh diolah menggunakan analisis ragam, apabila terdapat perbedaan nyata, maka nilai tengah tiap perlakuan diuji dengan uji jarak berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1995).
Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati adalah: konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, mortalitas, bobot dan persentase karkas serta persentase berat organ dalam, gambaran darah serta histopatologi hati dan ginjal.
Obat-obatan
Salah satu materi yang dilakukan untuk pencegahan terhadap penyakit adalah dengan cara vaksinasi. Vaksin yang digunakan vaksin ND (Newcastle Disease) 1 melalui tetes mata pada umur tiga hari dan vaksin ND 2 dilakukan pada umur 21 hari melalui air minum untuk mencegah penyakit tetelo. Vaksin gumboro diberikan pada umur 10 hari melalui air minum untuk mencegah penyakit gumboro.Untuk mencegah kemungkinan terjadinya stress maka
diberikan obat anti stress dengan pemberian vitastress. Obat ini dilarutkan ke dalam air minum dan diberikan pada waktu ayam baru datang, setelah penimbangan dan setelah vaksinasi. Komposisi vitastress disajikan pada Tabel 17.
Tabel 17 Komposisi Multivitamin Vitastress (dalam 1 kg)
Komponen Jumlah Vitamin A (IU) 6.000.000 Vitamin D3 (IU) 1.200.000 Vitamin E (IU) 2.500 Vitamin K (g) 3 Vitamin B1 (g) 2 Vitamin B2 (g) 3 Vitamin B6 (g) 1 Vitamin B12 (mg) 2 Vitamin C (g) 20 Nicotinic Acid (g) 15 Ca-D-Pantothenate (g) 5
Elektrolit berupa Na, K, Ca, dan Mg (g) 750
Sumber : PT. Medion, Bandung Indonesia
Prosedur Penelitian
BBJP yang digunakan pada penelitian ini adalah yang menggunakan autoclave dan kemudian difermentasi, siap digiling dan dicampur dengan bahan lain untuk membuat ransum ayam kampung.
Tabel 18 Kandungan nutrien ransum komersial yang diberikan pada ayam ((umur 0-3 minggu).
Nutrien Kadar (%)
Kadar air Max 12
Abu Max 8
Protein kasar 20-22
Serat kasar Max 4
Lemak kasar 4-8
Kalsium 0,9-1,2
Phospor 0,7-1
Pemeliharaan dan Pengambilan Sampel.
Ransum dan air minum diberikan ad libitum. Pada umur 3 minggu, ayam ditimbang untuk mendapatkan bobot awal. Setiap minggu dilakukan penimbangan bobot badan, jumlah ransum dan sisa ransum. Ketika ayam berumur 7 dan 10 minggu satu ekor ayam dari setiap kandang dipotong untuk diambil darah, organ dalam, karkas dan histopatologi hati dan ginjal. Sebelum dipotong ayam ditimbang terlebih dahulu, untuk mengetahui bobot hidup. Setelah pemotongan dilakukan proses pencabutan bulu, pemisahan bagian leher + kepala, kaki dan isi jeroan dari dalam tubuh ayam. Selanjutnya dilakukan penimbangan untuk mendapatkan bobot karkas, organ dalam, gambaran darah dan histopatologi hati dan ginjal.
Pengambilan Sampel Darah
Setiap kandang diambil sebanyak satu ekor ayam untuk dijadikan sampel. Pengambilan darah dilakukan dengan menyiapkan alat dan bahan berupa syringe, tabung reaksi, kapas, Ethylene Diamine Tetraacetic Acid (EDTA), termos es, es batu dan alkohol. Pengambilan darah dilakukan dengan cara membersihkan leher ayam dengan alkohol 70%, kemudian syringe disuntikkan pada pembuluh darah vena jugularis. Darahdiambil sebanyak 2 ml, kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang telah diberiantikoagulan berupa EDTA untuk menghindari pembekuan darah, kemudiandisimpan dalam termos es sampai dilakukan analisis (Sastradipradja et al, 1989). Pengambilan sampel darah dilakukan dua kali, yaitu pada awal minggu ketujuh dan minggu kesepuluh.
Tabel 18Komposisi dan kandungan nutrisi pakan ayam kampung selama Penelitian ( 3-10 minggu) Komposisi Ransum perlakuan R0 R1 R2 R3 R4 --- (%) --- Jagung kuning 51,23 53,21 53,21 53,21 53,21 Dedak padi 20,50 15,00 14,50 14,50 14,50
Bungkil kacang kedelai 17,00 16,50 16,50 16,50 16,50
BBJP tanpa diolah 0 5,00 0 0 0
BBJP fermentasi 0 0 5,00 5,00 5,00
Meat bone meal 7,50 7,00 7,00 7,00 7,00
Minyak sawit 3,00 2,50 3,00 3,00 3,00 Garam 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 Premiks 0,50 0,50 0,50 0,50 0,50 Dl – Metionin 0,17 0,19 0,19 0,19 0,19 Total 100 100 100 100 100 Selulase, U/kg 0 0 20.000 0 20.000 Fitase, FTU/kg 0 0 0 1000 1000
Kandungan nutrisi ransum:1
EB, kkal/kg 3901 3863 4037 4037 4037 Protein Kasar (%) 17,96 18,36 19,91 19,91 19,91 Lemak (%) 5,79 4,34 4,76 4,76 4,76 Serat kasar (%) 5,09 5,45 6,69 6,69 6,69 Ca (%) 0.91 0.91 0.91 0.91 0.91 P (%) 1,09 1,09 1,09 1,09 1,09
Hasilanalisis Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor ( 2009)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Rataan pengaruh perlakuan terhadap konsumsi ransum, bobot badan, pertambahan bobot badan dan konversi ransum ayam kampung yang diberi enzim fitase, enzim selulase dan kombinasinya selama 7 minggu penelitian disajikan pada Tabel 20.
Pemberian ransum yang mengandung BBJP fermentasi dan suplementasi enzim dan tanpa diolah tidak mempengaruhi konsumsi ransum. Komposisi nutrien ransum yang diberikan tidak berbeda, sehingga ketersediaan nutrien sama dan semua jenis perlakuan ransum mempunyai palatabilitas yang sama.Menurut Aregheore et al. (2003), keberadaan phorbolester dalam pakan mempunyai pengaruh nyata terhadap palatabilitas. Kornegayet al. (1996) melaporkan bahwa suplementasi enzim fitase tidak mempengaruhi konsumsi ransum. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian 5% BBJP fermentasi tidak menimbulkan efek negatif terhadap konsumsi pakan.
Tabel 20 Performa ayam kampung selama penelitian (umur 3 – 10 minggu)
Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 R4 Konsumsi ransum (g/ekor) 2121±174 2214±112 2285±30 2246±133 2299±265 BB Awal umur 3 mgg (g/ekor) 209±18 209±11 207±10 215±25 205 ± 18 BB Akhir (g/ekor) 834±66 743±70 764±62 778±114 789±68 PBB (g/ekor) 625±74 535±59 557±60 563±96 584±67 Konversi Ransum 3,45 ± 0,65 4,19 ± 0,64 4,14 ± 0,51 4,10 ± 0,90 3,95 ± 0,28 R0 = ransum tanpa BBJP; R1 = ransum + BBJP tanpa diolah 5%; R2 = ransum + BBJP fermentasi 5% + selulase 20.000 U/kg; R3 = ransum + BBJP fermentasi 5 % + fitase 1000 FTU/kg; R4= ransum + BBJP fermentasi 5% + selulase 20.000U/kg + fitase 1000 FTU/kg
Pemberian BBJP fermentasi yang disuplementasi dengan selulase (R2) cenderung meningkatkan PBBsebesar 2,8%, suplementasi BBJP terfementasi dengan fitase (R3) meningkatkan PBB sebesar 4,7% dan suplementasi selulase + fitase (R4) sebesar 6,1% dibandingkan dengan ransum yang mengandung BBJP tanpa diolah (R1). Suplementasi selulase + fitase dalam ransum yang mengandung BBJP fermentasi menghasilkan PBB lebih tinggi dibandingkan dengan
suplementasi enzim tunggal (R2 dan R3). Augspurger et al. (2003), melaporkan bahwa suplementasi enzim fitase komersial sebesar 1000 FTU/kg ransum meningkatkan PBB unggas.Menurut Sumiati dan Sudarman (2006), pemberian BBJP yang difermentasi dengan R. oligosporus pada ayam broiler menghasilkan performa yang lebih baik dibandingkan dengan BBJP tanpa diolah.
Perlakuan fermentasi dan suplementasi enzim dalam ransum dapat menurunkan nilai konversi ransum dibandingkan ransum R1. Hal ini mengindikasikan bahwa pemberian BBJP yang difermentasi dan suplementasi enzim dapat memperbaiki konversi pakan. Suplementasi selulase (R2) dapat meningkatkan efisiensi penggunaan ransum sebesar 1,2%, suplementasi fitase (R3) sebesar 2,2% dan suplementasi selulase + fitase (R4) sebesar 6,1% dibandingkan tanpa diolah (R1).
Pada penelitian ini tidak terdapat adanya kematian ternak ayam kampung akibat perlakuan ransum, dengan demikian suplementasi enzim kedalam ransum tidak berpengaruh negatif terhadap kematian ayam. Hal ini berarti bahwa ayam kampung mampu mentolerir antinutrisi dalam ransum yang mengandung BBJP. Tingkat toleransi ayam kampung terhadap phorbolester lebih tinggi dari broiler.
Persentase Organ Dalam
Penyerapan nutrien dalam tubuh yang normal menyebabkan pertumbuhan. Penyerapan nutrien ke dalam tubuh mempengaruhi morfologi organ dalam. Persentase bobot organ dalam ayam kampung umur 7 dan 10 minggu disajikan pada Tabel21.Pemberian BBJPfermentasi dan suplementasi enzim tidak menyebabkan
perbedaan persentase bobot organ dalam secara keseluruhan baik pada umur 7 dan
10 minggu.
Pemberian BBJP fermentasi dan suplementasi enzim tidak mempengaruhi (P>0,05) rataan bobot jantung dan bobot limfa pada umur 7 dan 10 minggu. Rataan persentase bobot jantung pada umur 7 dan 10 minggu berkisar antara 0,66-1,01% dari bobot karkas. Persentase bobot jantung perlakuan R0 tidak berbeda nyata dibandingkan perlakuan ransum yang mengandung BBJP fermentasi dan suplementasi enzim (R2, R3 dan R4) maupun tanpa diolah (R1). Hal ini mengindikasikan bahwa penambahan BBJP dan suplementasi enzim dalam
ransum tidak memberikan efek negatif terhadap bobot jantung ayam kampung yang dipelihara selama 10 minggu.
Rataan persentase bobot hati pada umur 7 sampai 10 minggu berkisar antara 2,83-5,38% dari bobot karkas. Perlakuan BBJP fermentasi dan suplementasi enzim tidak berbeda dengan kontrol baik pada umur 7 dan 10 minggu.Pemberian BBJP fermentasi dan suplementasi enzim nyata (P<0,05) menurunkan persentase bobot hati ayam dibandingkan tanpa diolah namun tidak nyata (P>0,05) dibandingkan kontrol. Hal ini mengindikasikan bahwa pemberian BBJP fermentasi dan suplementasi enzim, sangat efektif membantu kerja hati dalam mendetoksifikasi senyawa yang berbahaya yang mengakibatkan bobot hati semakin kecil dibandingkan BBJP tanpa diolah. Peningkatan persentase pada bobot hati BBJP tanpa diolah (R1) kemungkinan karena masih adanya racun dalam BBJP. Ressang (1986) melaporkan bahwa salah satu fungsi hati adalahmendetoksifikasi racun atau benda asing ang masuk ke tubuh. Hal ini menyebabkan kerja otot hati meningkat sehingga hati membesar.
Rataan persentase bobot limpa umur 7 dan 10 minggu berkisar antara 0,32-0,56% dari bobot karkas. Limpa yang berfungsi dalam membentuk limfosit dan berhubungan dengan pembentukan antibodi akan mengalami perubahan ukuran jika terdapat toksik, antinutrisi maupun penyakit (Ressang, 1986). Persentase bobot limpa perlakuan (R2, R3, R4) tidak berbeda nyata dengan perlakuan ransum kontrol (R0) maupun tanpa diolah (R1). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian BBJP fermentasi pada level 5% tidak berpengaruh negatif terhadap kerja organ limpa.
Rataan persentase bobot ginjal umur 7 dan 10 minggu berkisar antara 0,98-1,63% dari bobot karkas. Perlakuan BBJP fermentasi dan suplementasi enzim tidak berbeda dengan kontrol baik pada umur 7 dan 10 minggu. Ginjal merupakan organ tubuh yang mempunyai daya saring dan daya serap kembali (Ressang, 1986). Apabila terdapat banyak zat toksik yang masuk ke dalam tubuh, maka ginjal akan bekerja semakin berat untuk menetralisir zat toksik tersebut. Rataan persentase bobot gizzard berkisar 3,82-6,90% dari bobot karkas. Perlakuan kontrol tidak berbeda dengan perlakuan R2, R3 maupun R4 tapi berbeda dengan perlakuan R1. Peningkatan bobot gizzard pada BBJP tanpa diolah disebabkan
karena penggunaan ransum berserat, sehingga mengakibatkan beban gizzard semakin besar untuk memperkecil ukuran partikel ransum secara fisik, akibatnya urat daging gizzard akan lebih tebal. Amrullah (2004) melaporkanbahwa bobot gizzard dipengaruhi oleh modifikasi ukuran, pengaturan jenis ransum, dan fase pemberian pakan. Apabila ransum yang diberikan memiliki kandungan serat kasar yang tinggi, maka kerja gizzard akan semakin berat dan dapat memperbesar ukuran dan bobot gizzard.
Tabel 21 Rataan persentase bobot organ dalam umur 7 dan 10 minggu
Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 R4 ...% bobot karkas... Umur 7 Minggu Jantung (%) 0,93±0,19 1,01±0,22 0,88±0,20 0,96±0,28 0,80±0,07 Hati (%) 4,40a±0,46 5,38b±0,74 4,71a±1,27 4,25a±0,55 3,84a±0,81 Limpa (%) 0,45±0,07 0,52±0,12 0,49±0,23 0,51±0,11 0,36±0,19 Ginjal (%) 1,17a±0,25 1,08b±0,37 1,32a±0,22 1,42a±0,13 1,11a±0,28 Gizzard (%) 3,82a±0,52 5,70c±0,28 4,22ab±0,66 4,22bc±0,25 4,00a±0,10 Pankreas (%) 0,50ab±0,09 0,66b ±0,12 0,60a ±0,17 0,43ab±0,02 0,49ab±0,08 Umur 10 minggu Jantung (%) 0,66±0,12 0,88±0,19 0,71±0,10 0,77±0,09 0,68±0,16 Hati (%) 2,83a±0,52 3,97b±0,38 2,87a±0,20 3,23a ±0,34 2,97a ±0,78 Limpa (%) 0,46±0,15 0,55±0,17 0,32±0,09 0,38±0,09 0,56 ±0,34 Ginjal (%) 1,05a±0,29 1,63b±0,24 1,05a ±0,14 1,01a±0,36 0,98a ±0,16 Gizzard (%) 4,74a±0,85 6,90c±0,80 5,12ab±0,77 6,52bc±1,48 4,46a ±0,46 Pankreas (%) 0,45ab±0,21 0,61b ±0,04 0,37a ±0,10 0,49ab±0,08 0,44ab±0,17 Superskrip dengan huruf kecil berbeda pada baris sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
Rataan persentase bobot pankreas umur 7 dan 10 minggu berkisar antara 0,37-0,66% dari bobot karkas. BBJP fermentasi dan suplementasi enzim mempengaruhi (P<0,05) bobot pankreas. Perlakuan BBJP tanpa diolah (R1) berbeda dengan perlakuan BBJP 10% fermentasi dan suplementasi enzim (R3) tapi tidak berbeda dengan perlakuan kontrol (R0), R2 maupun R4. Peningkatan bobot pankreas pada perlakuan BBJP tanpa diolah (R1) disebabkan masih adanya antinutrisi, yaitu antitripsin. Ologhobo et al. (1993) melaporkan bahwaadanya
antitripsin dalam ransum dapat meningkatkan persentase berat pankreas pada unggas.
Bobot Hidup, Karkas dan Persetase Karkas
Bobot hidup, karkas dan persentase karkas dapat dilihat pada Tabel22. Rataan bobot hidup ayam pada umur 7 sampai 10 minggu berkisar antara 420 – 780 g/kg/ekor dengan bobot karkas berkisar antara 224 – 491 g/kg/ekor dan persentase karkas berkisar antara 53,25–63,03%. Pada umur 7 minggu perlakuan tidak mempengaruhi bobot hidup, karkas dan persentase karkas. Akan tetapi pada umur 10 minggu penambahan BBJP ke dalam ransum menurunkan bobot hidup dan bobot karkas R1. Pengaruh buruk penambahan BBJP berkurang dengan penambahan selulase dan fitase.;
Tabel 22 Rataan bobot hidup, bobot dan persentase karkas umur 7 dan 10 minggu
Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 R4 Umur 7 minggu Bobot hidup (g/ekor) 453+17 420+34 450+48 445+13 458+9,57 Bobot karkas (g/ekor) 260+23 224+25 253+43 251+14,48 262+4,03 Persentase karkas (%) 57,56+5,97 53,25+1,80 56,02+5,54 56,26+1,95 57,23+1,42 Umur 10 minggu Bobot hidup (g/ekor) 780 c+42 528a+22 650b+36 728bc+93 760c+39 Bobot karkas (g/ekor) 492 c+23 317a+17 401b+34 450bc+79 477c+32 Persentase karkas (%) 63,03+0,64 60,08+0,89 61,63+2,25 61,58+2,87 62,72+2,20 Superskrip dengan huruf kecil berbeda pada baris sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
Persentase karkas baik pada umur 7 dan 10 minggu, untuk penggunaan BBJP tanpa diolah maupun yang difermentasi tampaknya tidak mengganggu pembentukan karkas, namun secara numerik ada peningkatan bobot karkas pada ransum yang mengandung BBJP fermentasi dan suplementasi enzim dibandingkan BBJP tanpa diolah (R1). Hal ini mengindikasikan bahwa pemberian enzim tidak mampu mengubah bobot karkas secara nyata. Bobot karkas sangat dipengaruhi oleh faktor berikut bobot badan yaitu bobot darah,
kepala, kaki (shank), usus, gizzard, hati dan jantung. Persentase karkas biasanya meningkat sesuai dengan meningkatnya bobot hidup (Soeparno, 1994). Rahman et al (2005) ,melaporkan bahwa selain memperbaiki performa ayam broiler, penambahan enzim dalam ransum ayam broiler juga memperbaiki persentase karkas.
Persentase Gambaran Darah
Kondisi fisiologis ayam kampung dapat dilihat dari gambaran darah yang berperan aktif dalam menetralisir stress yang masuk. Rataan jumlah eritrosit, hematokrit, hemoglobin, leukosit, limfosit, heterofil, monosit dan eosinofil pada umur 7 dan 10 minggu dapat dilihat pada Tabel 23.
Pada umur 7 minggu penggunaan BBJP 5% dalam ransum tidak meningkatkan jumlah sel darah merah (P>0,05) , tetapi penggunaan BBJP 5% dalam ransum pada umur 10 minggu nyata (P<0,05) meningkatkan jumlah eritrosit. Jumlah eritrosit setiap perlakuan adalah normal, mengindikasikan bahwa proses metabolisme dalam tubuh berlangsung normal, hal ini berarti status nutrisi ayam telah tercukupi melalui BBJP yang dimasukkan dalam ransum. Swenson (1984) menyatakan bahwa kekebalan dan diameter eritrosit dipengaruhi oleh status nutrisi.
Hematokrit merupakan persentase volume darah yang mengandung sel darah merah (Ganong, 1998). Perlakuan BBJP tanpa diolah dan fermentasi serta suplementasi enzim menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap nilai hematokrit pada umur 7 minggu dan 10 minggu. Hal tersebut menandakan bahwa BBJP baik yang tidak diolah maupun fermentasi dan suplementasi enzim tidak mengganggu hematokrit ayam kampung.
Perlakuan BBJP tanpa diolah maupun yang fermentasi dan suplementasi enzim tidak meningkatkan kadar hemoglobin ayam kampung (P>0,05). Rataan kadar hemoglobin pada perlakuan kontrol dan ransum yang mengandung BBJP masih berada dalam kisaran normal. Jumlah eritrosit, nilai hematokrit dan kadar hemoglobin dalam darah merupakan suatu rangkaian yang saling terkait. Tingginya rataan jumlah eritrosit diikuti dengan tingginya rataan jumlah hemoglobin, begitu juga sebaliknya (Sturkie dan Griminger, 1976). Kadar hemoglobin yang normal menunjukkan kecukupan oksigen untuk diedarkan ke
seluruh jaringan tubuh. Jika jumlah eritrosit, nilai hematokrit dan kadar hemoglobin dalam keadaan normal menandakan bahwa ternak secara fisiologis dalam keadaan sehat. Hal ini berarti BBJP tidak mempengaruhi transpor oksigen.
Leukosit (sel darah putih) berperan dalam merespon kekebalan tubuh. Pemberian BBJP fermentasi dan suplementasi enzim pada umur 7 minggu tapi berbeda (P<0,05) pada 10 minggu terhadap jumlah leukosit. Rataan jumlah leukosit ayam kampung yang diberi ransum mengandung BBJP berkisar (16,10 – 30,9) x 103/mm3.
Diferensiasi Leukosit
Sel-sel darah putih normal dikelompokkan menjadi granulosit dan agranulosit. Granulosit terdiri dari heterofil, eosinofil dan basofil sedangkan agranulosit terdiri dari limfosit dan monosit (Swenson, 1984). Limfosit secara normal merupakan bagian terbesar dari sel darah putih yang terdapat pada aliran darah. Perlakuan BBJP fermentasi dan suplementasi enzim mempengaruhi terhadap persentase limfosit pada umur 7 minggu tapi tidak pada umur 10 minggu. Hasil tersebut menunjukkan bahwa persentase limfosit darah ayam kampung penelitian ini dalam kondisi fisiologis dan tidak terinfeksi oleh bakteri.
Rataan persentase heterofil pada ayam penelitian berkisar antara 21,00% - 40,5%. Pemberian BBJP tanpa diolah (R1) dan BBJP fermentasi dan suplementasi enzim(R3)pada umur 7 minggu menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh terhadap persentase heterofil. Penggunaan BBJP fermentasi dan suplementasi enzim 5% dalam ransum tidak mempengaruhi persentase heterofil pada umur 10 minggu. Penggunaan BBJP sampai taraf 5% tidak mengganggu persentase heterofil.
Rataan persentase monosit ayam berkisar antara 2,50 -8,25% dan masih dalam keadaan normal. Penggunaan BBJP fermentasi dan suplementasi enzim tidak menimbulkan pengaruh buruk terhadap kondisi ayam karena respon ayam yang diberi ransum tanpa BBJP dan penambahan BBJP tidak memberikan pengaruh yang berbeda kecuali pada umur 7 minggu. Ayam kampung pada semua perlakuan tidak mengalami infeksi. Monosit bekerja pada keadaan infeksi yang tidak terlalu akut (Frandson, 1992).
Tabel 23 Gambaran darah ayam kampung umur 7 dan 10 minggu Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 R4 Ref Umur 7 Minggu Eritrosit (106/mm3) 2,38±0,5 2,21±0,5 2,18±0,4 2,26±0,2 2,12±0,2 2,5 – 3,5* Hematokrit/PCV (%) 24,1±4,9 25,9±3,1 26,6±2,3 24,6±0,8 28,0±1,2 22 - 35* Hemoglobin (g/100ml) 7,60±1,3 7,93±0,1 7,46±0,4 7,81±0,7 8,23±0,4 7,0 – 13* Leukosit (103/mm3) 19,3±6,8 18,8±8,2 16,1±0,7 16,3±1,0 19,0±5,2 20-30** Limfosit (%) 62,3b±5,7 42,0a±10 64,5b ±13 66,0b±10 52,5ab±13 4,.0 – 70* Heterofil (%) 33,5±6,9 40,5±4,8 37,0±13,7 26,5±9,0 40,5±12 15,0 – 40* Monosit (%) 2,50a±1,7 7,25b±3,8 6,25ab±2,6 5,00ab±1,8 6,50ab±2,7 5,0 – 10* Eosinofil (%) 2,33±1,2 1,67±1,2 3,25±2,2 3,33±2,5 1,00±1,0 1,5 – 6,0* 70
Umur 10 Minggu R0 R1 R2 R3 R4 Range Penelitian Eritrosit (106/mm3) 2,18a±0,2 2,82b±0,5 2,46ab±0,1 2,09 a±0,2 2,00a±0,01 2,00 - 2,82 Hematokrit/PCV (%) 29,3±2,4 30,9±3,8 27,9 ±1,6 27,1±3,4 25,0±4,6 24 - 30,9 Hemoglobin(g/100ml) 8,23±0,7 8,65±2,2 8,28±1,1 8,04±0,8 7,45±3,2 7 – 9 Leukosit (103/mm3) 21,8a±3,7 23,9a±5,7 27,5b±3,8 22,4a±8,9 22,3a±7,4 16 - 30 Limfosit (%) 57,5±22 48,8±29 49,0±5,7 51,8±8,0 65,3±5,5 42 - 66 Heterofil (%) 33,5±13 37,0±19 37,0±4,2 40,2±2,8 27,0±4,4 26 – 65 Monosit (%) 7,00±8,5 8,25±5 2,50±2,1 4,00±3,2 2,67±2,1 2 – 8 Eosinofi (%) 2,00±0,00 1,33±0,6 5,50±5 3,67±2,1 2,67±1,2 1 – 3
Keterangan : Superskrip dengan huruf kecil berbeda pada baris sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) Ref : * Jain (1993) **Swenson (1984) 71
Pemberian BBJP fermentasi dan suplementasi enzim menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap persentase eosinofil. Persentase eosinofil pada ransum yang mengandung BBJP tidak berbeda dibandingkan dengan ransum kontrol dan ransum yang mengandung tanpa diolah. Hal ini mengindikasikan pemberian BBJP dalam ransum tidak mengganggu eosinofil ayam. Eosinofil berperan dalam mengatur peradangan yang disebabkan oleh sel-sel (Tizzard, 1982).
Histopatologi Hati dan Ginjal
Gambaran histopatologi (skor lesio) ginjal dan hati umur 10 minggu dicantumkan pada Tabel 24. Pemberian ransum yang mengandung BBJP fermentasi dan suplementasi enzim tidak mempengaruhi skor lesio pada hati dan ginjal ayam kampung (P<0,05). Histopatologi hati ayam kampung semua perlakuan R0, R1, R2, R3 danR4 menunjukkan tidak adanya kelainan baik berupa radang maupun kerusakan jaringan, sedangkan perlakuan R0 dan R1 terlihat hati mengalami (kongesti). Kongesti merupakan gambaran tertahannya aliran darah di dalam pembuluhnya dan mengakibatkan terjadinya vasodilatasi. Skor lesio yang ada pada masing - masing perlakuan berkisar antara 0,93-1,58 (Tabel 24). Beberapa faktor dapat menyebabkan kongesti diantaranya bahan toksik (racun) maupun antinutrisi.
Histopatologi ginjal ayam kampung yang memperoleh perlakuan R0, R1, R2, R3 dan R4 menunjukkan kondisi yang baik yang ditandai dengan radang maupun kerusakan jaringan yang ringan. Histopatologihati ini pada masing - masing perlakuan berkisar antara 0,70-1,73 (Tabel 24). Menurut Sumiati et al.(2011), hasil pemberian BBJP 5% sampai dengan 15% menyebabkan kerusakan jaringan hati maupun ginjal. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa hati tidak mampu mendetoksifikasi racun BBJP yang dikonsumsi oleh ayam. Semakin tinggi pemberian BBJP, kerusakan hati dan ginjal cenderung semakin parah. Selain itu terdapat nekrosis pada sel parenkim serta perlemakan yang tidak normal pada sel hepatosit dan tubuli.
Kumar et al. (2010), melaporkan bahwa phorbol ester menyebabkan lesio parah pada usus halus ikan gurame bagian anterior dan posterior. Menurut Li et
al. (2010), phorbol ester sebesar 32,40 mg/kg bobot badan sangat toksik pada mencit dan menyebabkan pendarahan hebat pada paru-paru serta glomerular sclerosis dan atrophy pada ginjal. Aregheore et al. (2003), melaporkan bahwa terjadi tingkat kematian yang tinggi dan perubahan patologi yang parah pada ayam Hisex Brown yang diberi ransum mengandung 0,5% biji J. curcas.Menurut Sumiati et al. (2007), pemberian bungkil biji jarak 5% dalam ransum menyebabkan kematian ayam broiler 100% dalam waktu 22 hari serta merusak jaringan hati dan ginjal sampai pada skor 3 (kisaran skor 0-3).
Tabel 24Skor lesio organ dalam ayam kampung umur 10 minggu
Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 R4 Hati Umur 7 minggu 1,40 ± 0,12 1,15 ± 0,41 1,20 ± 0,23 1,28 ± 0,90 0,93 ± 0,75 r Umur 10 minggu 1,50 ± 0,22 1,25 ± 0,39 1,10 ± 0,37 1,30 ± 0,35 1,58 ± 0,59 Ginjal Umur 7 minggu 1,28 ± 0,43 0,88 ± 0,50 0,70 ± 0,38 1,00 ± 0,54 1,18 ± 0,34 Umur 10 minggu 1,58 ± 0,25 1,53 ± 0,15 1,73 ± 0,26 0,90 ± 0,80 1,10 ± 0,69
R0 = ransum tanpa BBJP; R1 = ransum + BBJP tanpa diolah 5%; R2 = ransum + BBJP fermentasi 5% + selulase 20.000 U/kg; R3 = ransum + BBJP fermentasi 5 % + fitase 1000 FTU/kg; R4 = ransum + BBJP fermentasi 5% + selulase 20.000 U/kg + fitase 1000 FTU/kg.
Angka pada tabel diperoleh dari rerata hasil pengamatan ginjal dan hati pada 10 titik fokus kemudian dibuat skala dengan tingkat kerusakan sebagai berikut :Hati (0 = 0.0 - 0.59; 1 = 0.60 – 1.19; 2 = 1.20 – 1.79; 3 = 1.80 – 2.30 (0 = sel hepatosittersusun radier, normal, 1 = terjadi vaso dilatasi, pelebaran pembuluh darah, 2 = degenerasiberbutir/cloudy swelling, degenerasi lemak, 3 = nekrosa /radang). Ginjal (0= Tidak ada kongesti, oedema, 1 = Kongesti ringan, dilatasi, pendarahan, 2 = Degenerasi berbutir, Kongesti mulai meluas, oedema ringan dan dilatasi, 3 = Degenerasi berbutir dan degenerasi lemak, pendarahan meluas
R0 R1 R2
R3 R4
Gambar 6 Gambaran histopatologis hati ayam kampung umur 10 minggu (perbesaran obyektif 20x). Pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE) R0) akumulasi sel radang (tanda panah), kongesti (K), sel hepatosit normal (H), R1) akumulasi sel radang ringan (tanda panah),
kongesti (K), sel hepatosit normal (H), R2) Akumulasi sel radang (hepatitis) ringan (A) , R3) Degenerasi sel hati ringan (D), R4) hepatosit normal (H)
K
H
K
H
AD
H
74R0 R1 R2
R3 R4
Gambar 7Gambaran histopatologis ginjal ayam kampung umur 10 minggu(perbesaran obyektif 20x). Pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE). R0)Kongesti ringan(tanda panah), glomerulus (G), tubulus (T), R1) glomerulus (G), tubulus (T) normal, R2)Kongesti (K) , R3)
Degenerasi tubulus ringan (D),R4) kongesti ringan (tanda panah),glomerulus (G) dan tubulus ginjal (T) normal
G
G
T
G
T
K
T
G
T
O
O
75SIMPULAN
Bungkil biji jarak pagar fermentasi yang disuplementasi selulase dan fitase menghasilkan performa, gambaran darah dan histopatologi hati dan ginjal yang sama dengan perlakuan BBJP tanpa diolah dan kontrol.
Proses fermentasi menurunkan pengaruh negatif BBJP terhadap bobot gizzard, hati, pankreas dan ginjal.
.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mendapat dukungan pendanaan penelitian dari DIPA IPB TTahun AAnggaran 2009 dengan nomor kontrak: 22/13.24.4/SPK/BG-PD/2009 tanggal : 30 Maret 2009
DAFTAR PUSTAKA
Abu-Arab AA, Abu Salem FM. 2010. Nutritional quality of Jatropha curcas seeds and effect of some physical and chemical treatments on their anti-nutritional factors. African J. Food Sci. 43: 93-103.
Akintayo ET. 2004. Characteristics and composition of Parkia biglobbosa and Jatropha curcas oil and cakes. Bioresource Technol. 92:307-310
Amrullah IK. 2004. Nutrisi Ayam Broiler. Cetakan ke-2. Lembaga Satu Gunung budi. Bogor.
Aregheore EM, Becker K, Makkar HPS. 2003. Detoxification of a toxic variety of Jatropha curcas using heat and chemical treament, and preliminary nutritional evaluation with rats. S. Pac. J. Nat. Sci. 21:50-56.
Augspurger NR, Webel DM, Lei XG, Baker DH. 2003. Efficacy of an E. Coli phytase expressed in yeast for releasing phytate-bound phosphorus in young chick and pigs. J Anim Sci 81:474–483.
Baidoo SK, Yang QM, Walker RD. 2003. Effects of phytase on apparent digestiility of organic phosphorus and nutrients in maize-soya bean meal based diets for sows. Anim Feed Sci Technol104 (2003) 133–141.
DITJENNAK. 2011. Statistik Peternakan. Departemen Pertanian Republik Indonesia, Jakarta.
Frandson RD. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi 4. Terjemahan Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Ganong WF. 1998. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 17. Terjemahan Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta. Hlm: 487-500
Hadioetomo RS. 1993. Mikrobiologi dasar dalam praktek. Teknik dan Prosedur dasar laboratorium. Laboratorium Mikrobiologi. FMIPA, IPB, Bogor.
Hambali EA, et al. 2006. JARAK PAGAR Tanaman Penghasil Biodisel. Penerbit