Lahan Blm Produktif (ha)
4.1 Analisis Rantai Nilai Pengembangan Komoditas Gambir
Dari hasil temuan lapangan dan review berbagai studi serta peraturan terkait, dapat dirangkum hambatan-hambatan utama dalam pengembangan rantai nilai komoditas gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai berikut:
Hambatan Identifikasi Solusi yang Memungkinkan Teknologi/Pengembangan Produk
Penciptaan akses petani ke peralatan tepat guna melalui kelompok/organisasi/asosiasi dan bekerjasama dengan
universitas/politeknik pertanian Keterbatasan akses petani utk
mendapatkanteknologi tepat guna
menyebabkan proses produksi tidak efisien dan rendahnya mutu hasil produksi gambir.
Akses Pasar Penyediaan informasi pasar eksisting dan potensial untuk produk gambir mentah dan produk turunannya, serta mempertemukan kelompok tani / asosiasi dengan para Pet ani t idak me mpu nya i aks es
t erhadap informasi pasar dan harga di tingkat pembeli menyebabkan ketergantungan terhadap
37 tauke/pedagang yang dapat memainkan harga pembeli potensial.
Manajemen Usaha dan Organisasi Pembentukan asosiasi petani gambir serta penguatan koperasi di tingkat kelompok tani.
Belum adanya lembaga yang menjadi payungorganisasi para petani (asosiasi) menyebabkan rendahnya daya tawar petani serta akses ke sumber informasi dan permodalan.
Peraturan (Kebijakan) Pemerintah Penyusunan master plan/grand design pengembangan gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota
Be lu m ad a nya p a yu ng pro gra m
da nmasterplan (grand design) pengembangan ko mo d it a s ga mb ir d i Ka b. 50 Ko t a menyebabkan dukungan SKPD dan lembaga-lembaga terkait bersifat parsial dan tiak terarah.
Keuangan/Permodalan Usaha
Penciptaan jejaring antara kelompok tani dan asosiasi dengan perbankan melalui temu usahadan kegiatan sosialisasi skema-skema pembiayaan yang efektif.
Rendahnya akses petani atas
informasisumber-sumber permodalan yang lebih mendukung menyebabkan
ketergantungan kepada pinjaman kepada tauke relatif tinggi.
Pasokan Input Pembelian secara koletif melalui koperasi di tingkat kelompok tani.
Harga bibit yang relatif tinggi serta
pasokankayu bakar untuk proses produksi yang masih d ip aso k dar i d aera h la in
me n ye ba bka n tambahan biaya yg harus dikeluarkan petani.
Infrastruktur
Pembangunan jalan produksi secara bertahap pada kecamatan-kecamatan penghasil gambir.
Jalan produksi yang belum
menjangkausebagian besar rumah kempa menyebabkan tambahan biaya transportasi
38 Pengembangan komoditas gambir kedepan diarahkan untuk penguatan kapasitas di tingkat petani, dengan target utama pada peningkatan pendapatan petani gambir dalam jangka pendek.
Dari hasil analisis kondisi eksisting dan potensi pengembangan di masa mendatang, maka strategi pengembangan komoditas gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota dilakukan melalui 3 (tiga) strategi yaitu:
Strategi 1: Penguatan Kelembagaan Petani Strategi 2: Peningkatan mutu produk gambir
Strategi 3: Pengembangan akses Informasi dan sumber pasar
39 4.2 Analisa SWOT
Analisis SWOT merupakan suatu analisa yang dilakukan untuk mengetahui kondisi internal dan eksternal yang mempengaruhi sesuatu, dalam hal ini tentunya pengembangan gambir. Kondisi internal merupakan kekuatan (strenght) dan kelemahan (weaknes) yang dimiliki, sedangkan kondisi eksternal adalah peluang (opportunity) dan ancaman (threat) yang dihadapi. Dengan analisis ini maka kekuatan perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin dan kelemahan perlu diatasi sedini mungkin, sedangkan peluang perlu diraih secepat mungkin dan ancaman perlu diantisipasi sesegera mungkin.
Berdasarkan analisis lingkungan strategis yang dilakukan terhadap pengembangan gambir Kabupaten Lima Puluh Kota, maka dirumuskan SWOT analisis sebagai berikut:
a. Kekuatan (Strenghts)
1. Daerah memiliki otoritas yang tinggi untuk mengembangkan sumberdaya ekonomi lokalnya sesuai dengan kewenangan yang dimiliki sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
2. Adanya regulasi yang mendukung pengembangan gambir seperti Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Peraturan Bupati tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, serta regulasi-regulasi lain yang mengatur pengembangan wilayah, sumberdaya ekonomi dan komoditas unggulan daerah.
3. Mempunyai lahan yang luas dan agroklimat yang sesuai untuk tanaman gambir (daerah penghasil gambir terbesar di Indonesia)
4. Tersedianya sumberdaya manusia yang cukup, baik level Aparatur Pemerintah Daerah manapun stakeholders ataupun masyarakat pelaku ekonomi gambir dan tenaga kerja untuk bertanam dan mengolah gambir.
5. Adanya kelembagaan setingkat Perusahaan Daerah ataupun kelembagaan perekonomian lainya yang terkait dan dapat dimanfaatkan dalam mendukung pengembangan gambir.
6. Telah dikuasaianya ketrampilan budidaya gambir bertahun-tahun
40 b. Kelemahan (Weaknes)
1. Masih lemahnya kemampuan sumberdaya manusia, baik aparatur maupun pelaku ekonomi gambir secara konsepsional, profesional dan teknis.
2. Tidak memadainya dana yang dimiliki oleh masyarakat dan dana yang dialokasikan oleh pemerintah dalam usaha-usaha pengembangan gambir sehingga pengelolaan manajemen, kelembagaan, permodalan gambir masih terbatas.
3. Belum efektifnya koordinasi antar institusi, terutama kelembagaan pemerintah dalam manajemen permasalahan dan pengembangan gambir ke depan. Dalam hal ini juga belum ada pembagian tugas dan peran jelas antar lembaga sehingga tangung jawab institusi belum dapat dioptimalkan.
4. Lemahnya manajemen pengelolaan pengambiran secara menyeluruh maupun pada tingkatan kelembagaan teknis di lapangan, baik kelompok tani, koperasi maupun asosiasi. Manajemen belum dilaksanakan secara transparan dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas dan manajemen belum diatur dalam satu platform yang disepakati dan diperjuangkan bersama-sama.
5. Adanya keterbatasan kemampuan dalam teknologi produksi terutama dalam mengasilkan rendemen gambir yang lebih tinggi dan mengahsilkan produk gambir lebih lanjut dengan nilai tambah yang tinggi.
6. Tidak adanya akses yang kuat antara petani pengolahan ke konsumen.
7. Masih dominannya penguasaan pedagang dalam rantai pemasaran dan penetapan harga gambir.
8. Belum disiplinnya petani dalam mempertahankan kualitas gambir (gambir sering dicampur dengan bahan-bahan lain).
c. Peluang (Opportunity)
1. Adanya dukungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi yang dapat dimanfaatkan, terutama dukungan kebijakan, program dan kegiatan sekaligus anggaran yang akan dialokasikan bagi pengembangan gambir.
2. Adanya peluang kemitraan antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Derah lain maupun investor dalam rangka pengembangan gambir, terutama dengan pemerintah
41 daerah lain yang bertetangga dengan Kabupaten Lima Puluh Kota dan investor yang bergerak di dunia kimia dan farmasi yang mebutuhkan gambir.
3. Masih besarnya peluang pasar pada daerah lain yang memanfaatkan produk gambir Kabupaten Lima Puluh Kota, terutama daerah-daerah yang memiliki industri atau kawasan industri yang membutuhkan gambir sebagai bahan baku, peluang lain tentunya adalah negara lain yang memiliki teknologi tinggi yang dapat menciptakan diversifikasi produk gambir.
4. Adanya sumberdaya ekonomi yang cukup besar yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan gambir, seperti sumberdaya pada sektor keuangan, infrastruktur dan transportasi yang sifatnya mendukung pengembangan dan pemasaran gambir kedepan.
5. Lokasi daerah yang sangat strategis bila ditinjau dari aspek geoekonomi, artinya strategis dari sisi geografis yang sangat cocok bagi pembudidayaan gambir dan strategis dalam jalur perdagangan antar daerah.
6. Semakin berkembangnya pengetahuan mengenai zat-zat yang terkadung dalam gambir dan manfaatnya.
d. Ancaman (Threats)
1. Masih kurangnya dukungan insfrastruktur, terutama ekonomi jalan yang menghubungkan sentra-sentra produksi gambir ke pasar. Selain itu juga kurangnya dukungan insfrastruktur telekomunikasi dan listrik yang akan mempermudah akses bisnis. Juga sampai saat ini masih kurangnya dukungan fasilitas lain berupa pasar lelang gambir yang representatif serta pergudangan tempat penyimpanan gambir.
2. Terbatasnya dukungan riset dan teknologi yang ada, terutama riset dan teknologi bersifat terapan yang dapat diaplikasikan langsung di lapangan.
3. Adanya produk substitusi yang dapat mengantikan peran gambir, yaitu komoditas lain dari daerah lain yang menghasilkan senyawa seperti catechin, tanin dan lain-lain dengan harga lebih bersaing. Di samping itu juga dikhawatirkan terjadinya penggantian komoditas gambir kepada komoditas lain pada lahan gambir yang sudah ada bila harga gambir tidak lagi menguntungkan.
42 4. Tertutupnya informasi pasar, sehingga pasar gambir menjadi tidak menentu dan harga tidak bisa diprediksikan dengan baik. Di samping itu kurangnya informasi pasar akan menghambat kelancaran promosi dan perluasan pasar.
5. Perubahan kebijakan pemerintah pusat dengan pemerintah propinsi. perubahan kebijakan dapat terjadi pada strategi pembangunan yang diterapkan seperti perubahan kebijakan ekspor, kenaikan harga bahan bakar minyak, pengalokasian anggaran serta pembatasan lahan garapan dan sebagainya. Di samping itu juga adanya perubahan kebijakan dalam sistem dan prosedur investasi, penggunaan pupuk dan sebagainya yang cendrung mengancam stabilitas perdangangan gambir.
6. Adanya daerah lain yang juga mengembangkan gambir seperti Kampar di Riau, Musi Banyuasin di Sumatera Selatan, Pak-pak Barat di Sumatera Utara, Karimun/Kundur di Kepulauan Riau serta beberapa kabupaten di Sumatera Barat sendiri.
7. Semakin ketatnya pengawasan penggunaan lahan yang termasuk wilayah hutan lindung dapat mengurangi lahan yang tersedia untuk pengembangan tanaman gambir.
8. Ketergantungan yang tinggi pada pasar ekspor terutama India yang menyebabkan keguncangan harga setiap ada perubahan kebijakan pada negara tersebut.
43 BAB 5 PENUTUP