ANALISIS KINERJA LOGISTIK ANTAR PULAU KOMODITI BERAS DAN SEMEN
4.1. Hasil Survei dan Analisis di Kota Asal
4.1.1. Analisis Rantai Pasok Antar Pulau di Kota Surabaya
4.1. Hasil Survei dan Analisis di Kota Asal
4.1.1. Analisis Rantai Pasok Antar Pulau di Kota Surabaya
Bagian ini akan menjelaskan hasil survei ke kota asal beras dan semen untuk diperdagangkan antar pulau. Dengan demikian, analisis hasil survei akan dijelaskan berturut-turut untuk kota: Surabaya dan Makassar. Analisis mengenai biaya dan waktu menggambarkan proses distribusi untuk kedua komoditi sekaligus, yaitu beras dan semen. Dengan demikian, analisis waktu, biaya dan persepsi tidak dilakukan per-komoditi yang diteliti.
a. Rantai Pasok Perdagangan Beras
Alur Rantai Pasok Beras yang Berasal Dari Surabaya
Pedagang beras di Surabaya umumnya mendapat beras yang berasal dari sentra produksi: Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jember, Lamongan, Kudus dan Kediri. Dari hasil survei didapat umumnya penggiling beras berada satu kota dengan petani di sentra produksi beras.
Secara garis besar alur rantai pasok perdagangan beras di Surabaya adalah sebagai berikut.
Gambar 4.1. Alur Rantai Pasok Perdagangan Beras di Surabaya
Sumber: Disarikan dari hasil survei
Penggilingan menerima dari petani sudah dalam bentuk beras
5Analisis mengenai indikator biaya, waktu dan persepsi menggambarkan karakteristik kedua komoditi yang diteliti secara bersama-sama, bukan terpisah berdasarkan komoditi.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 37 Dari hasil survei terhadap penggiling ditemukan bahwa lebih dari 70% dari pedagang secara aktif mencari beras dengan berhubungan langsung dengan penggiling atau ke petani langsung. Pedagang beras yang berfungsi sebagai pembeli beras antar pulau umumnya berhubungan langsung dengan perusahaan penggilingan beras di kota asal atau berhubungan dengan pedagang beras di kota asal.
Pergerakan Harga Beras di Sepanjang Rantai Pasok
Umumnya perusahaan penggilingan beras menerima pasokan beras dalam 2 (dua) bentuk, yaitu dalam bentuk gabah dan dalam bentuk pecah kulit. Beras pecah kulit adalah gabah yang telah dikeringkan dan dipecah dari kulitnya hingga bentuknya berubah menjadi beras. Setelah menjadi beras pecah kulit, umumnya beras akan diproses pemutihan, pengayakan, penyortiran hingga menjadi beras sesuai dengan kualitas yang diinginkan.
Terakhir, beras akan dikemas untuk dijual kepada pedagang. Beberapa petani melakukan proses awal hingga menghasilkan beras pecah kulit. Selanjutnya beras pecah kulit akan diproses lebih lanjut oleh perusahaan penggiling beras hingga menghasilkan beras yang siap dikonsumsi. Namun demikian, terdapat perusahaan penggiling yang melakukan semua proses mulai dari gabah, beras pecah kulit, hingga menjadi beras siap konsumsi.
Survei berusaha menangkap tahapan pergerakan harga, mulai dari harga gabah, pecah kulit, hingga harga jual beras di tingkat pedagang, sebagaimana yang dinyatakan pada tabel berikut ini.
Tabel 4.1. Harga Beras Berdasarkan Proses Produksinya Pelaku Harga Jual
per kg (Rp) Produk Keterangan
Petani 7.040 Beras
pecah kulit
Jika petani menjual dalam bentuk gabah, maka harganya berkisar antara Rp 4.200 – Rp 4.800
Penggilingan beras
7.452 Beras siap konsumsi
• Dari beras pecah kulit, umumnya beras akan melalui proses pemutihan,
pengayakan, penyortiran hingga menjadi beras sesuai dengan kualitas yang diinginkan
• Dari Perusahaan penggiling beras dapat menjual langsung kepada pedagang beras, termasuk pedagang di pulau yang berbeda
Pedagang 8.350 Beras siap konsumsi Sumber: Hasil Survei
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 38 b. Rantai Pasok Perdagangan Semen
Pergerakan Harga Semen di Sepanjang Rantai Pasok
Berdasarkan survei kepada pedagang semen di kota Surabaya, ditemui merek semen yang dijual adalah merek Holcim dan semen Gresik, masing-masing memiliki harga jual rata-rata per kg-nya adalah Rp 1.275,- dan Rp 1.325,-. Diketahui pula bahwa harga beli semen yang diterima pedagang adalah rata-rata sebesar Rp 35.625,-/sak (40 kg) atau sekitar Rp 890,-/kg.
Dengan demikian diketahui pula bahwa peritel mengambil margin keuntungan untuk masing-masing merek sekitar Rp 350,- hingga Rp 500,-/kg.
c. Biaya Distribusi
Dari hasil survei diketahui bahwa para penggiling beras memasarkan berasnya, baik di daerah Surabaya dan sekitarnya serta ke kota lain di pulau lainnya, antara lain ke Surabaya, ke kecamatan Sidoarjo, ke Gedongan, atau ke Tuban. Gambar di bawah ini menggambarkan biaya truk yang mengangkut beras dari Sidoarjo dan Surabaya ke beberapa lokasi di Surabaya dan sekitarnya.
Gambar 4.2. Biaya Truk dari Perusahaan Penggilingan Beras ke Pedagang Beras di Surabaya dan Sekitarnya
Sumber: Hasil survei
Terlihat bahwa banyaknya muatan yang diangkut jumlahnya kurang dari 8 ton, mengingat daerah tujuan pemasaran hanya berada di daerah Surabaya dan sekitarnya. Dengan demikian, biaya truk per kg hanya berkisar antara Rp 10,-/kg (Sidoarjo – Gedongan) hingga Rp 167,-/kg (di dalam kota Surabaya). Menarik untuk diperhatikan bahwa biaya angkut di dalam kota Surabaya lebih mahal dibandingkan ke kota/kabupaten lainnya, seperti Tuban atau di dalam kabupaten Sidoarjo. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya bottleneck untuk melakukan distribusi di kota Surabaya itu sendiri, seperti masalah kepadatan lalu lintas yang mendorong tingginya harga.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 39 Sementara itu distribusi beras maupun semen antara pulau dilakukan dengan menggunakan truk container dari lokasi penggilingan beras atau distributor semen di Jombang, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, Banyuwangi dan Kediri seperti yang dinyatakan pada gambar di atas. Terlihat bahwa biaya angkut per kg berkisar antara Rp 50,-/kg hingga Rp 225,-/kg, dimana tariff biaya angkut/kg sejalan dengan jaraknya. Sebagai contoh, rute Banyuwangi-pelabuhan Tanjung Perak memiliki tarif tertinggi, mengingat jarak tempuhnya juga paling jauh. Namun demikian, rute ini tidak menunjukkan adanya bottleneck yang signifikan, mengingat dari sisi biaya angkut/kg/km justru menunjukkan biaya angkut yang relatif rendah. Rute lainnya seperti Jombang, Gresik, Mojokerto, dan Pasuruan justru menunjukkan biaya angkut/kg/km yang relatif lebih tinggi.
Gambar 4.3. Biaya Trucking/kg dari Lokasi Sumber Beras/Semen ke
Pelabuhan
Gambar 4.4. Biaya Trucking/kg/km dari Lokasi Sumber Beras/Semen ke
Pelabuhan
Sumber: Hasil survei Sumber: Hasil survei
Selain biaya per kg dan per-km, dianalisis juga biaya komponen biaya distribusi dengan menggunakan truk. Biaya dikelompokkan menjadi biaya bongkar muat di pelabuhan, biaya truk dari pelabuhan ke gudang pembeli, serta biaya-biaya lainnya yang diperlukan selama proses tersebut, seperti biaya administrasi, biaya pungutan, perizinan dan biaya lainnya.
Dari hasil ini juga menarik untuk diperhatikan adalah perijinan baik ditingkat daerah atau pusat menjadi hal yang perlu diperhatikan. Gambar 4.5. menunjukkan komponen biaya pengiriman dari gudang pedagang sampai ke Pelabuhan Tanjung Perak. Walaupun biaya pengiriman dengan truk merupakan komponen biaya yang tertinggi akan tetapi biaya perijinan dan pungutan yaitu sebesar Rp 355.000,- merupakan komponen biaya yang bisa dikurangi.
Biaya perijinan dan pungutan yang dimaksud adalah perijinan dari Organda, polisi dan Pemda.
Biaya THC di Tanjung Perak sebesar Rp 1.300.000,- sedangkan biaya administrasi sebesar Rp 300.000,-.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 40 Gambar 4.5. Komposisi Waktu Distribusi dari Gudang Pedagang Hingga ke Pelabuhan
Sumber: Hasil survei
d. Waktu Distribusi
Gambar 4.6. memberikan paparan mengenai waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman beras/semen dari gudang yang terletak di berbagai daerah di luar Surabaya menuju Tanjung Perak. Menarik untuk diteliti lebih lanjut adalah waktu tunggu kapal, diluar kegiatan bongkar muat rata-rata bisa mencapai 53 jam, atau lebih dari 2 hari.
Gambar 4.6. Waktu yang dibutuhkan untuk Pengiriman dari Gudang Pedagang sampai ke Pelabuhan Tanjung Perak (Jam)
Sumber: Hasil survei
Lebih jauh, gambaran mengenai proses distribusi barang dengan menggunakan truk digambarkan pada gambar 4.7. di bawah ini. Terlihat bahwa lama perjalanan dari gudang pembeli ke pelabuhan proporsional terhadap jaraknya. Jarak tempuh yang lebih jauh membutuhkan waktu perjalanan yang juga lebih lama. Sementara itu Pelabuhan Tanjung Perak – Gresik dengan jarak sekitar 30 km membutuhkan waktu angkut sekitar 3 jam.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 41 Gambar 4.7. Waktu dan Jarak Tempuh Truk di Jalan dari Gudang Pedagang Hingga ke Pelabuhan
Sumber: Hasil survei
e. Persepsi Mengenai Hambatan Usaha
Dari hasil survei terhadap pedagang beras antar pulau, ditemukan bahwa kepadatan lalu lintas menjadi kendala utama dalam kegiatan usaha mereka, khususnya pengiriman beras. Gambar 4.8. menjelaskan hasil survei terhadap pedagang beras di sekitar Surabaya mengenai faktor-faktor hambatan usaha, khususnya pengiriman beras. Nilai yang semakin besar (skala 1 – 5) menyatakan hambatan yang besar. Sebagai contoh, kepadatan di jalan raya merupakan hambatan yang signifikan dalam pengiriman barang, bagi pedagang beras.
Gambar 4.8. Hasil Survei Persepsi Pedagang Beras di Surabaya Tentang Hambatan Usaha
Sumber: Hasil survei
Dari hasil survei yang perlu diperhatikan adalah kualitas freight forwarder dan perusahaan truk lebih baik dibandingkan dengan kualitas infrastruktur. Dari hasil ini, membuktikan bahwa peranan pihak swasta, khususnya perusahaan logistik telah berperan dengan baik. Infrastruktur baik jalanan ditingkat kota, kabupaten, provinsi menjadi kendala dalam proses pengiriman.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 42 Gambar 4.9. Hasil Survei Persepsi Pedagang Semen di Surabaya Tentang
Hambatan Usaha
Sumber: Hasil survei
Pedagang semen juga menganggap kepadatan di jalan menjadi penghambat usaha mereka, khususnya dalam distribusi barang. Yang juga dianggap sebagai penghambat adalah perijinan baik di tingkat pusat dan daerah serta kualitas infrastruktur di jalan provinsi.
Gambar 4.10. Hasil Survei Persepsi Perusahaan Ekspedisi di Surabaya Tentang Hambatan Usaha
Sumber: Hasil survei
Sementara itu, persepsi mengenai hambatan usaha bagi perusahaan ekspedisi, tidak jauh berbeda dengan para pedagang semen di Surabaya. Yang dianggap sebagai hambatan dalam kegiatan usaha mereka berturut-turut adalah: perijinan di tingkat pemerintah daerah, perijinan di tingkat daerah, kepadatan di jalan serta kualitas infrastruktur jalan provinsi.
Sebagai kesimpulan, dari ketiga kelompok responden menyatakan bahwa kepadatan di jalan serta kualitas jalan provinsi menjadi hambatan. Kedua faktor ini dapat terkait dimana kondisi infrastruktur yang kurang baik dapat menyebabkan terjadinya kepadatan di jalan.
Selanjutnya yang menjadi penghambat adalah kualitas perijinan, baik di tingkat daerah maupun pusat. Dengan demikian, faktor-faktor tersebut yang potensial untuk diperbaiki dalam menghilangkan hambatan usaha dalam melakukan proses distribusi barang.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 43 4.1.2. Analisis Rantai Pasok Antar Pulau di Kota Makassar
a. Rantai Pasok Perdagangan Beras
Alur Rantai Pasok Beras yang Berasal dari Makassar
Terdapat beberapa sentra produksi beras di Sulawesi Selatan, seperti Sidrap dan Maros.
Survei yang dilakukan pada studi ini dilakukan di Sidrap dan sekitarnya. Berdasarkan hasil survei, daerah asal beras antara lain: Wajo, Bone, Sidrap, Palopo, Barru, Pinrang, Soppeng, serta Maros. Alur rantai pasok produksi beras umumnya dimulai dari petani, dilanjutkan kepada petani pengumpul atau langsung kepada perusahaan penggilingan beras, hingga ke pedagang yang ada di kota yang sama maupun kota lain, baik di Sulawesi maupun pulau lainnya, seperti yang digambarkan pada bagan di bawah ini.
Gambar 4.11. Alur Rantai Pasok Perdagangan Beras di Makassar
Petani Pengumpul Penggilingan
Pengecer di kota lain, Sumber: Disarikan dari hasil survei
Umumnya perusahaan penggiling mencari secara aktif pasokan gabah, baik langsung ke para petani atau melalui petani pengumpul. Namun demikian, ada sebagian kecil perusahaan penggiling beras yang menerima dari petani di sekitarnya.
Pergerakan Harga Beras di Sepanjang Rantai Pasok
Berikut ini adalah harga beras yang dicatat berdasarkan hasil survei kepada perusahaan penggiling dan pedagang beras di Makassar. Proses yang dilakukan oleh perusahaan penggilingan beras pada dasarnya sama dengan yang telah dipaparkan di laporan bagian Surabaya, yaitu mulai dari gabah, pecah kulit, hingga menjadi beras siap konsumsi.
Jika perusahaan Penggiling Beras membeli gabah dari petani, maka harga rata-ratanya adalah sebesar Rp 3.525. Gabah tersebut kemudian diproses lebih lanjut sehingga menghasilkan beras yang siap dikonsumsi. Berdasarkan informasi dari responden, umumnya dari 1 kg gabah akan dihasilkan beras 1/2 kg. Beras jadi yang telah diproduksi penggiling padi ini kemudian dijual kepada pedagang beras di Makassar dan sekitarnya, dimana harga jual sudah termasuk ongkos kirim.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 44 Tabel 4.2. Harga Beras berdasarkan Proses Produksinya
Pelaku Harga Jual
per kg (Rp) Produk Keterangan
Petani 6,377 Beras pecah kulit
Jika petani menjual dalam bentuk gabah, maka harganya sekitar Rp 3.525
Perusahaan Penggiling
Beras
6,721 Beras siap konsumsi
• Dari beras pecah kulit, umumnya beras akan melalui proses pemutihan,
pengayakan, penyortiran hingga menjadi beras sesuai dengan kualitas yang diinginkan
• Dari Perusahaan penggiling beras dapat menjual langsung kepada
pedagang beras, termasuk pedagang di pulau yang berbeda
Pedagang 7,500 Beras siap konsumsi
Sumber: Hasil survei. Catatan: Jenis beras adalah kualitas menengah
b. Rantai Pasok Perdagangan Semen
Alur Rantai Pasok Semen yang Berasal Dari Makassar
Survei untuk mengetahui distribusi beras di Makassar dilakukan ke salah satu produsen semen di Makassar, yaitu semen Bosowa. Semen Bosowa memiliki daerah pemasaran di luar Makassar, antara Kalimantan Timur (Balikpapan), Jawa Timur (Surabaya), kota lainnya di Sulawesi seperti Manado, Palu, dan Kendari, NTB dan NTT, serta Papua Barat, Jayapura dan Sorong. Komposisi pemasaran hasil produksi PT. Bosowa adalah sebanyak 25% untuk konsumsi pasar di Sulawesi Selatan, sementara 75% sisanya untuk kota dan pulau lainnya.
Dari produk yang dipasarkan ke pulau lain, sekitar 25% menggunakan container. Alur rantai pasok produksi semen PT. Bosowa dinyatakan pada diagram berikut ini.
Gambar 4.12. Alur Rantai Pasok Semen di Makassar
Produsen PT.
Sumber: Disarikan dari hasil survei
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 45 Dalam memasarkan produknya di kota/pulau lain, PT. Bosowa memiliki distributor-distributor di kota-kota tujuan. Selanjutnya, distributor-distributor-distributor-distributor tersebut yang akan mengatur jasa ekspedisi dalam mengurus angkutan semen dari Makassar ke lokasi distributor. Dengan demikian, PT. Bosowa tidak mengatur teknis pelaksanaan pengangkutan distribusi semen tersebut.
Pergerakan Harga Semen di Sepanjang Rantai Pasok
Dalam penentuan harga, PT. Semen Bosowa turut menentukan harga yang beredar di pasar, khususnya harga di tingkat distributor. Harga semen per sak di tingkat pabrik di Makassar adalah Rp 36.500,-. Sementara itu harga di tingkat distributor per sak adalah sebesar Rp 39.000,-. Selanjutnya, harga di tingkat toko per sak-nya mencapai Rp 41.000,- hingga Rp 42.000,-. Harga-harga patokan ini ditentukan oleh pihak PT. Bosowa, agar tidak mencapai perbedaan harga yang terlalu tinggi di tingkat ritel. Hal ini juga mencegah pihak ritel mengambil margin keuntungan yang terlalu tinggi. Khusus untuk Sorong, harga jual tidak bisa disamakan dengan kota lainnya. Harga ritel di Sorong dapat mencapai sekitar Rp 50.000,- hingga Rp 70.000,-/sak.
c. Biaya Distribusi
Berdasarkan alur rantai pasok yang digambarkan di atas, studi ini mengidentifikasi biaya distribusi beras, dimulai dari perusahaan penggilingan beras atau distributor semen hingga ke pelabuhan untuk kemudian diangkut ke pulau lainnya. Studi tidak mempertimbangkan distribusi beras dari petani ke penggiling, mengingat jarak yang umumnya relatif pendek.
Setelah dilakukan proses produksi di perusahaan penggiling beras, yaitu dari gabah hingga menjadi beras, beras siap dikirim ke pedagang beras. Sekitar 80% perusahaan penggilingan beras memiliki truk sendiri untuk mengangkut beras hasil produksinya yang dipasarkan di kota/kecamatan lainnya di Sulawesi Selatan. Sisanya akan menggunakan jasa perusahaan trucking. Umumnya, biaya kirim sudah termasuk ke dalam harga jual beras.
Ongkos kirim berkisar antara Rp 50,-/kg – Rp 115,-/kg beras, tergantung kepada jaraknya.
Umumnya truk yang digunakan berkapasitas 5-10 ton. Namun demikian, jika jumlah muatan besar, dimungkinkan untuk menggunakan truk container. Gambar 4.13. di bawah ini menggambarkan biaya angkut truk dari perusahaan Penggiling di daerah sumber-sumber beras ke kota/kecamatan lain di Sulawesi Selatan.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 46 Gambar 4.13. Biaya truk dari Perusahaan Penggilingan Beras ke Pedagang Beras di Makassar dan sekitarnya
Sumber: Hasil survei
Dari gambar di atas terlihat bahwa rute yang cukup jauh, seperti Makassar, Sidrap-Pare-pare atau Sidrap-Tator memiliki biaya angkut yang lebih tinggi. Sementara itu, untuk jarak yang relatif dekat, seperti di dalam kecamatan Sidrap atau dari Maros ke Makassar, umumnya berat muatannya relatif lebih kecil, dimana biaya angkutnya adalah sebesar Rp 50,-/kg.
Sementara itu, distribusi beras antar pulau umumnya dimulai dari daerah kecamatan sumber beras, kemudian diangkut ke pelabuhan di kota Makassar. Truk yang digunakan umumnya adalah truk container berukuran 20 feet, yang kemudian langsung dimuat ke atas kapal laut. Gambar di bawah ini menunjukkan biaya angkut per kg serta jarak dari sumber asal beras maupun distributor semen ke pelabuhan Makassar untuk diangkut antar pulau. Mengingat jumlah muatan dengan menggunakan container lebih besar dari truk kecil, maka biaya angkut per kg relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan biaya dengan truk kecil. Dapat diperhatikan pula bahwa untuk daerah sumber komoditi di kecamatan seperti Wajo, Pankajene, Paucino, dan Joli yang relative jauh (sekitar 200-250 km) menuju pelabuhan Makassar memiliki biaya angkut per kg yang lebih tinggi dibandingkan dengan rute lainnya.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 47 Gambar 4.14. Biaya Trucking/kg dari
Lokasi Sumber Beras/Semen ke Pelabuhan
Sumber: Hasil survei
Gambar 4.15. Biaya Trucking/kg/km dariLokasi Sumber Beras/Semen ke
Pelabuhan
Sumber: Hasil survei
Yang cukup menarik dianalisis lebih lanjut adalah, rute dengan jarak terjauh tidak serta merta memiliki biaya angkut/kg/km yang paling tinggi. Sebagaimana yang digambarkan pada Gambar 4.15., terlihat bahwa biaya/kg/km yang tertinggi justru yang berasal dari Maros, yang jaraknya hanya sekitar 50 km ke pelabuhan Makassar, disusul dengan Pangkep dengan jarak yang kurang lebih sama (50 km). Biaya angkut ini sekaligus dapat menunjukkan adanya bottleneck yang mungkin terjadi pada rute tersebut, mengingat biaya per-unitnya menjadi lebih tinggi. Berdasarkan hasil wawancara dengan perusahaan ekspedisi, akses jalan dengan rute Maros – Makassar memang relatif kecil, sehingga sering terjadi kemacetan yang cukup parah.
Dalam proses distribusi mulai dari gudang pedagang atau gudang penggiling beras hingga ke pelabuhan, terdapat komponen-komponen biaya-biaya lain, selain biaya truk itu sendiri.
Rata-rata komponen biaya distribusi yang diperoleh dari hasil survei dinyatakan pada gambar berikut ini.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 48 Gambar 4.16. Komponen Rata-rata Biaya Distribusi dari Gudang Hingga ke Pelabuhan
Sumber: Hasil survei
Dari hasil survei diketahui bahwa komponen biaya distribusi terbesar adalah biaya trucking, dari gudang pedagang/penggiling ke pelabuhan. Untuk rata-rata jarak sebesar 159 km, biaya truk rata-rata adalah sebesar Rp 2.375.000,-. Komponen biaya lainnya adalah biaya di pelabuhan (THC) sebesar satu juta rupiah, disusul oleh biaya administrasi sebesar Rp 200.000,-. Yang cukup menarik, biaya perizinan dan pungutan per-proses pengiriman dianggap sangat kecil, atau hanya sebesar kurang lebih Rp 5000,- untuk setiap pengiriman. Namun demikian, perusahaan ekspedisi perlu untuk membayar biaya perizinan tahunan seperti izin lintas antar kabupaten atau izin pelabuhan seperti yang dinyatakan pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.3. Biaya perizinan operasional perusahaan ekspedisi (tahunan) Jenis Perizinan Biaya (Rp) Keterangan
Izin lintas antar kabupaten 100,000 per-tahun/per-mobil Izin Pelabuhan 85,000 per-tahun
Sumber: Hasil survei d. Waktu Distribusi
Waktu distribusi juga dapat menggambarkan kelancaran proses distribusi barang. Secara rata-rata, dibutuhkan waktu sekitar 2 hari di pelabuhan sebelum kapal dapat diberangkatkan. Ini juga terkait dengan waktu closing kapal, untuk kemudian dilakukan proses bongkar muat barang ke kapal. Proses bongkar muatnya sendiri memakan waktu sekitar 1 hari. Sementara itu, rata-rata lama perjalanan di jalan memakan waktu rata-rata 12.3 jam, yang tentunya akan tergantung kepada jarak tempuhnya.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 49 Gambar 4.17. Komposisi waktu Distribusi dari Gudang Pedagang Hingga
ke Pelabuhan (jam)
Sumber: Hasil survei
Menarik jika ditinjau lebih lanjut mengenai waktu perjalanan truk dengan menggunakan infrastruktur jalan, sebagaimana digambarkan pada gambar di bawah ini. Lokasi gudang yang berjarak terjauh, yaitu Wajo (250 km) hanya membutuhkan waktu 5 jam perjalanan. Sementara itu, Maros yang berjarak hanya sekitar 30 km membutuhkan waktu perjalanan sekitar 2 jam.
Gambaran ini juga dapat menunjukkan kemungkinan adanya hambatan dalam hal infrastruktur yang terjadi di rute-rute Pangkajene, Pacino, Toli yang memiliki waktu tempuh perjalanan yang cukup lama, atau Maros dan Pangkep yang secara jarak relatif pendek, namun membutuhkan waktu perjalanan yang lebih lama.
Gambar 4.18. Waktu dan Jarak Tempuh Truk di Jalan dari Gudang Pedagang Hingga ke Pelabuhan
Sumber: Hasil survei
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 50 e. Persepsi Mengenai Hambatan Usaha
Persepsi para responden mengenai hambatan-hambatan usaha mereka cukup sejalan dengan indikator biaya dan waktu yang telah dijelaskan di atas. Bagi ekspedisi, yang dianggap paling menjadi hambatan adalah kepadatan di jalan, disusul dengan kepadatan di pelabuhan.
Persepsi para responden mengenai hambatan-hambatan usaha mereka cukup sejalan dengan indikator biaya dan waktu yang telah dijelaskan di atas. Bagi ekspedisi, yang dianggap paling menjadi hambatan adalah kepadatan di jalan, disusul dengan kepadatan di pelabuhan.