TINJAUAN PUSTAKA
2. Hasil Survei Daging Sapi
2.4. Produksi dan Distribusi Komoditas Beras
Beras yang dikonsumsi penduduk Indonesia umumnya merupakan hasil produksi dari Pulau Jawa. Sampai sekarang Pulau Jawa masih menjadi lumbung beras nasional dengan memasok 56-60 persen dari produksi beras nasional. Produksi beras tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Barat, diikuti Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Dari tahun ke tahun produksi padi terus tumbuh. Pertumbuhan tersebut disumbang oleh perluasan lahan dan peningkatan produktivitas. Meskipun perkembangannya naik-turun, luas lahan dan produktivitas terus meningkat.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 21 Tabel 2.2. Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Padi Tahun 2006-2011
Uraian Tahun
Pelaku distribusi beras merupakan bentuk kelembagaan yang paling potensial dalam pembentukan harga ditingkat konsumen. Jalur distribusi yang kompleks (panjang) akan menjadikan harga yang terbentuk menjadi kurang efisien bilamana setiap rantai-rantai pemasarannya kurang berfungsi secara efektif. Gambar 2.9 menjelaskan distribusi pemasaran beras dari tingkat petani sampai pedagang besar dan eceran pada kategori petani pemilik lahan dan petani penggarap.
Gambar 2.9. Pemasaran Beras di Level Petani Pemilik Lahan
Petani
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 22 Pola distribusi pemasaran beras di setiap daerah atau tempat akan mempunyai karakteristik tersendiri. Salah satu pola pemasaran beras pada tingkat petani pemilik lahan sebagai berikut :
a. Memiliki rantai pemasaran yang relatif lebih pendek.
b. Petani pemilik lahan yang sekaligus sebagai petani pengumpul dan juga petani penggiling akan lebih mudah menentukan harga untuk memasarkan ke tingkat pedagang besar yang ada di pasar induk. Pemasaran beras ke pasar induk dapat dilakukan melalui pasar Induk Cipinang Jakarta atau pasar induk setempat atau pun langsung dipasarkan pedagang lainnya.
Gambar 2.10. Pemasaran Beras di Level Petani Penggarap
Distribusi pemasaran beras di tingkat petani penggarap relatif berbeda dengan pemasaran di tingkat petani pemilik lahan dengan pola sebagai berikut:
a. Pemasaran di tingkat petani penggarap dihadapkan pada beberapa jenis lembaga pemasaran karena penjualan didasarkan pada rantai yang menawarkan harga lebih tinggi.
b. Perbedaan harga gabah di tingkat petani terjadi ketika negosiasi harga dilakukan berdasarkan perbedaan tempat.
Kedua gambar di atas menunjukkan bahwa distribusi pemasaran beras relatif efisien di tingkat petani pemilik lahan dibandingkan petani penggarap. Hal ini dapat dianalisis bahwa asimetrik informasi mengenai harga akan lebih besar terjadi pada tingkat petani penggarap.
Perbedaan jalur distribusi beras dari petani sampai pedagang eceran dan tingkat petani pemilik lahan dengan petani penggarap lebih dikarenakan sistem langganan. Petani pemilik lahan sudah mempunyai langganan dalam menjual beras, sehingga rantai dari gabah ke beras tidak ada margin dimana rantai dari petani ke pengumpul ke penggilingan terintegrasi sehingga margin biaya akibat rantai pemasaran relatif kecil. Tidak demikian dengan petani penggarap, karena keterbatasan modal yang mereka miliki, sistem penjualan pun lebih bersifat bebas (harga yang lebih tinggi akan terlebih dahulu dijual), sehingga tidak ada pembeli yang bersifat langganan. Perbedaan pasar yang terjadi, tidak mempengaruhi pada harga di pasar.
Dalam penjelasan distribusi beras yang lebih kompleks, maka dapat dijelaskan dalam Gambar 2.11.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 23 Gambar 2.11. Pola Distribusi Beras Nasional
Sumber : Bulog (2010)
Seperti yang disebutkan sebelumnya, beberapa provinsi di Indonesia merupakan sentra produsen beras, bahkan mengalami surplus. Dengan adanya surplus beras tersebut berpeluang untuk terjadi distribusi tidak hanya di dalam wilayah provinsi, bahkan sampai ke provinsi lain, terutama yang kekurangan beras (wilayah defisit).
Secara nasional tampak bahwa tujuan utama pemasaran beras di Indonesia adalah DKI.
Jakarta. Hal ini karena jumlah penduduk Jakarta yang relatif besar sementara produksi berasnya paling kecil. Dengan demikian beras didatangkan terutama dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta sebagian dari Sumatera Selatan, Lampung dan Kalimantan Selatan. Karena pasar beras yang besar di DKI Jakarta menyebabkan terbentuknya pedagang-pedagang besar yang terutama bergerak di Pasar Induk Cipinang, Jakarta dan diduga pasar tersebut menjadi pasar acuan harga bagi sebagian pasar-pasar lain di Indonesia. Pedagang besar tersebut mendistribusikan beras yang masuk ke Jakarta untuk pasar-pasar yang ada di wilayah DKI Jakarta serta mendistribusikan ke daerah lain, seperti Pontianak.
Untuk distribusi beras di Pulau Sumatera terjadi antar provinsi, sebagai wilayah pemasok antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, maupun Lampung.
Sumatera Selatan dan Lampung selain mendistribusikan beras ke provinsi lain di Sumatera, juga memasok ke DKI Jakarta dan Jawa Barat. Di Pulau Jawa, selain DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah, maka Jawa Timur memiliki peranan penting dalam mensuplai beras ke berbagai daerah di Indonesia. Jawa Timur memasok beras ke DKI Jakarta, Pontianak, Samarinda, Makassar, Bali, NTB, NTT, atau Maluku.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 24 2.5. Konsep Rantai Pasok (Supply Chain)
Rantai Pasok (Supply Chain) adalah serangkaian aktivitas yang terdiri dari forecasting (perkiraan) dan planning (perencanaan), pengadaan dan purchasing (pembelian), manufacturing (produksi) dan assembly (perangkaian), warehousing and distribution, shipping and transportation, returns (kembalian), inventory management (manajemen sediaan) dan order management (manajemen instruksi pembelian). Pujawan (2005) menjelaskan bahwa rantai pasok adalah jaringan pelaku usaha yang secara bersamaan bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Pelaku-pelaku usaha tersebut biasanya termasuk supplier, pabrik, distributor, toko atau ritel serta pelaku usaha pendukung seperti perusahaan jasa logistik.
Kinerja dari suatu rantai pasok dapat diukur dengan menggunakan 5 (lima) parameter (Schroeder, 2007, p197), yaitu:
a. Pengiriman (on time-delivery)
Pengiriman adalah persentase pengiriman tepat waktu yang sesuai dengan permintaan konsumen. Pesanan yang tidak sampai secara utuh dan pengiriman yang terlambat tidak termasuk dalam on time-delivery.
b. Kualitas
Indikator pengukuran kualitas adalah tingkat kepuasan pelanggan yang dapat diukur dengan menggunakan variabel kualitatif seperti tidak setuju, setuju, agak setuju atau lain sebagainya. Pengukuran yang serupa misalnya berupa kesetiaan pelanggan yaitu berapa banyak pelanggan yang datang kembali untuk membeli produk setelah membelinya minimal satu kali.
c. Waktu
Waktu dalam hal ini adalah lamanya suatu siklus bisnis berlangsung.
d. Fleksibilitas
Fleksibilitas merupakan waktu yang diperlukan untuk mengubah volume produksi atau campuran produksi dalam persentase tertentu. Hal ini dikarenakan permintaan yang tidak selalu sama, fleksibel diperlukan agar produsen dapat mengimbangi permintaan dari konsumen.
e. Biaya
Biaya tidak hanya dalam bentuk uang, tetapi juga waktu yang harus dikeluarkan untuk memproduksi sesuatu. Terdapat dua perhitungan biaya, yaitu besarnya biaya yang diperlukan untuk memproduksi suatu barang dan mengukur efisiensi atau produktivitas.
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 25 Terdapat lima komponen dalam rantai pasok, yaitu terdiri dari produksi, persediaan, lokasi, transportasi dan informasi. Kelima komponen tersebut saling berinteraksi satu sama lain dan tidak selalu berbalikan dalam satu komponen akan berpengaruh positif terhadap komponen lainnya. Lima komponen rantai pasok tersebut dapat dijelaskan pada Gambar 2.12.
Gambar 2.12 Skema Lima Komponen Rantai Pasok
Logistik adalah bagian dari rantai pasok (supply chain) yang menangani arus barang, arus informasi dan arus uang melalui proses pengadaan (procurement), penyimpanan (warehousing), transportasi (transportation), distribusi (distribution), dan pelayanan pengantaran (delivery services) sesuai dengan jenis, kualitas, jumlah, waktu dan tempat yang dikehendaki konsumen, secara aman, efektif dan efisien, mulai dari titik asal (point of origin) sampai dengan titik tujuan (point of destination).
Kajian Pengembangan Indikator Kinerja Logistik Indonesia 26 2. BAB III
METODOLOGI