• Tidak ada hasil yang ditemukan

2006-2010 46 11 Perkembangan rasio profitabilitas PT.Petrosea Tbk periode 2006-2010

I.5. Ruang Lingkup Penelitian.

2.3. Analisis Laporan Keuangan.

2.3.2. Analisis Rasio

Mengadakan analisa hubungan dari berbagai pos dalam suatu laporan keuangan adalah merupakan dasar untuk dapat menginterpretasikan kondisi keuangan dan hasil operasi suatu perusahaan.

Menurut Munawir (2007), rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Sedangkan menurut Riyanto (2008), pengertian rasio itu sebenarnya hanyalah alat yang dinyatakan dalam ”arithmatical terms” yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data keuangan.

Analisis ini mencakup empat kelompok analisis yang meliputi analisis likuiditas, solvabilitas, profitabilitas dan aktivitas (Riyanto,2008), yaitu:

1. Rasio Likuiditas

Likuiditas adalah kemampuan perusahan untuk memenuhi seluruh kewajiban keuangannya yang sudah jatuh tempo. Rasio likuiditas yaitu rasio yang digunakan untuk menganalisa dan menginterpretasikan posisi keuangan jangka pendek, serta membantu manajemen untuk mengecek modal kerja yang digunakan dalam perusahaan.

Suatu perusahaan dikatakan mempunyai posisi keuangan yang kuat apabila mampu memenuhi kewajiban-kewajiban yang harus dibayar tepat pada waktunya, memelihara modal kerja yang cukup untuk operasi normal, membayar bunga dan dividen yang dibutuhkan dan memelihari tingkat kredit yang menguntungkan. Analisis likuiditas pada umumnya diukur dengan menggunakan rasio berikut:

a. Current Ratio

Perbandingan antara junlah aktiva lancar dengan hutang lancar. Rasio ini merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya karena rasio ini menunjukkan seberapa jauh tuntutan atau tagihan dari para kreditur segera dapat berubah menjadi tunai dalam periode yang sama dengan jatuh tempo hutang atau tagihan tersebut.

b. Quick Ratio

Rasio yang dihitung degan menggunakan aktiva lancar tanpa memperhitungkan persediaan dibagi dengan hutang lancar. Persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang paling tidak likuid dan unsur tersebut seringkali merupakan kerugian jika terjadi likuiditas. Oleh karena itu, rasio cepat merupakan ukuran penting untuk mengetahui kemamapuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya tanpa memperhitungkan penjualan persediaan.

c. Cash Ratio

Rasio yang dihitung dari penjumlahan atas kas dan efek yang dibagi dengan hutang lanacar. Rasio menunjukan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan.

d. Working Capital to Total Assets Ratio

Rasio yang dihitung atas pegurangan aktiva lancar dengan hutang lancar yang nantinya dibagi dengan jumlah aktiva. Rasio ini untukmenghitung likuiditas dari total aktiva dan posisi moda kerja.

2. Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka panjang. Suatu perusahaan dikatakan solvabel apabila perusahaan mempunyai aktiva yang cukup untuk membayar semua hutang-hutangnya. Kondisi keuangan yang baik dalam jangka pendek tidak menjamin adanya kondisi keuangan yang baik juga dalam jangka panjang. Rasio-rasio yang umum digunakan dalam rasio solvabilitas antara:

a. Total Debt to Capital Assets

Mengukur sejauh mana kewajiban perusahaan digunakan untuk mendanai pembelian, investasi atau aktiva perusahaan. Semakin besar nilai rasio berarti semakin besar resiko yang ditanggung

perusahaan. Semakin kecil nilainya berarti semakin baik karena jumlah aktiva yang dibiayai dengan hutang semakin kecil.

b. Total Debt to Equity Ratio

Perbandingan antara jumlah seluruh hutang baik jangka pendek maupun jangka panjang dengan jumlah modal sendiri perusahaan. Bila nilai rasio lebih besar dari satu, maka kemampuan modal sendiri untuk menjamin hutang semakin rendah demikian pula sebaliknya

c. Long Term Debt to Equity Ratio

Perbandingan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri. Semakin besar nila rasio ini, maka kemampuan modal sendiri untuk menjamin hutang jangka panjang semakin rendah demikian juga sebaliknya.

d. Tangible Assets Debt Coverage

Untuk mengukur sejauh mana besarnya aktiva tetap tangible yang digunakan untuk menjamin hutang jangka panjang. Jika nilai nya semakin kecil kurang mendekati angka nol, maka semakin kecil aktiva tangible yang dapat menjamin hutang jangka panjang.

e. Time Interest Earned Ratio

Untuk mengukur besarnya jaminan keuntungan untuk membayar bunga utang jangka panjang. Semakin besar nilainya, maka semakin besar yang dijaminnya.

3. Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa besar efektivitas perusahaan dalam mengerjakan sumber-sumber dananya. Rasio aktivitas terdiri dari:

a. Total Assets Turnover Ratio

Memberikan gambaran relatif mengenai efisiensi perusahaan untuk menghasilkan penjualan. Dengan kata lain adalah kecepatan berputarnya total aktiva dalam satu periode tertentu. Semakin cepat perputarannya yang ditunjukkan dengan angka

rasio yang lebih besar adalah semakin baik karena perusahaan dapat memanfaatkan total aktivanya dengan efisiensi untuk menghasilkan penjualan.

b. Receivable Turnover Ratio

Rasio ini mengukur perbandingan penjualan perusahaan dan besarnya piutang yang belum ditagih. Perusahaan yang mempunyai kesulitan dalam penagihan, berarti perusahaan mempunyai saldo piutang yang besar dan rasio yang rendah. Sebaliknya, jika perusahaan mempunyai kebijakan kredit dan prosedur penagihan yang baik, maka saldo piutangnya rendah dan rasionya tinggi

c. Average Collection Peroid

Memberikan gambaran tentang berapa periode rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan piutang.

d. Inventory Turnover

Memberikan gambaran tentang kemampuan dana yang tertanam dalam persediaan berputar dalam suatu periode tertentu.

e. Average Day’s Inventory

Memberikan gambaran tentang berapa periode rata-rata persediaan barang berada di gudang.

f. Working Capital Turnover

Memberikan gambaran tentang kemampuan modal kerja berputar dalam suatu oeriode siklus kas dari perusahaan.

4. Rasio Profitabilitas

Rasio profabilitas menunjukkan hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan-keputusannya. Rasio profitabilitas terdiri dari:

a. Gross Profit Margin

Rasio ini mengukur ukuran persentase dari hasil sisa penjualan sesudah perusahaan membayar harga pokok penjualan. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin baik dan secara relative semakin rendah harga pokok barang yang dijual dan mengukur efisiensi pengendalian harga pokok atau biaya produksinya,

mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisiensi.

b. Net Profit Margin

Rasio ini mencerminkan kemampuan manajemen untuk menghasilkan laba setelah harga pokok penjualan, beban operasi /usaha, beban lain-lain dan pajak sehubungan dengan penjualan. Rasio ini merupakan ukuran persentase dari setiap hasil sisa penjualan sesudah dikurangi semua biaya dan pengeluaran. c. Rate of Return On Investment

Rasio ini menunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan. Rasio ini juga membandingkan laba operasional dengan total aktiva. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan kondisi perusahaan yang semakin baik.

d. Operating Profit Margin

Menggambarkan tentang laba operasi sebelum bunga dan pajak (neto operating income) yang dihasilkan oleh setiap rupiah perusahaan.

e. Operating Ratio

Menggambarkan tentang seberapa banyak biaya operasi dalam setiap rupiah penjualan.

f. Rate of Return an Total Assets

Menggambarkan tentang kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktva untuk menghasilkan keuntungan bagi semua investor (pemegang obligasi + saham). g. Rate of Retur on Net Worth (ROE)

Menggambarkan tentang kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham preferan dan saham biasa.

Dokumen terkait