BAB V: Analisis Data dan Pembahasan
C. Rasio Keuangan
2. Analisis Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan adalah metode analisa untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba rugi secara
17
individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut (Munawir, 2002:37). Rasio keuangan terdiri dari(Munawir, 2002:71):
a. Rasio Likuiditas atau Rasio Modal Kerja 1) Current Ratio
2) Acid Test Ratio
3) Perputaran Piutang 4) Perputaran Persediaan 5) Perputaran Modal kerja b. Rasio Solvabilitas/ Leverage
1) Rasio Modal Sendiri dengan Total Aktiva 2) Rasio Modal Sendiri dengan Aktiva Tetap 3) Rasio Aktiva Tetap dengan Hutang Tetap 4) Nilai Buku Saham
c. Rasio Pengukur Rentabilitas/ Profitabilitas
1) Rasio Operating Income dengan Operating Asset
2) Turnover dari Operating Assets
3) Return on Investment
4) Keuntungan dan Beban Tetap
5) Keuntungan per lembar Saham Biasa d. Rasio Lain- lain
1) Gross Margin Ratio
2) Operating Ratio
Sedangkan jenis-jenis rasio keuangan dan penggolongannya menurut Dwi Prastowo dan Rifka Yulianti (2002:78) adalah :
a. Rasio Likuiditas
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya kepada kreditor jangka pendek. Rasio ini meliputi :
1) Modal Kerja
2) Current Ratio
3) Acid-test/ Quick Ratio
4) Account Receivable Turnover (Perputaran Piutang)
5) Inventory Turnover (Perputaran Persediaan)
b. Rasio Solvabilitas
Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Rasio ini terdiri dari :
1) Debt to Equity Ratio
2) Time Interested Earned
c. Rasio Return on Investment
Rasio ini digunakan untuk mengukur hubungan antara laba yang diperoleh dan investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Rasio ini terdiri dari :
1) Return on Assets (ROA)
19
d. Rasio Pemanfaatan Aktiva (Asset Utilization Ratio)
1) Rasio Perputaran Total Aktiva (Total Aktiva Turnover)
2) Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover)
3) Rasio Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Asset Turnover)
4) Rasio Perputaran Lain-Lain (Other Asset Turnover)
e. Rasio Kinerja Operasi (Operating Performance Ratio)
1) Rasio Laba Kotor terhadap Penjualan (Gross Profit Margin)
2) Rasio laba bersih terhadap penjualan (Net Profit Margin)
3) Rasio laba usaha terhadap penjualan (Operating Income Ratio)
4) Rasio harga pokok penjualan terhadap penjualan dan biaya usaha terhadap penjualan
f. Rasio Investor
1) Earning Per Common Share (EPS)
2) Price Earning Ratio (PER)
3) Percentage of Earning Retained
4) Dividen Payout dan Dividen Yield Ratio
Berikut ini akan dijelaskan mengenai rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian yaitu :
a. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap hutang lancarnya (hutang dalam hal ini adalah kewajiban perusahaan) (Hanafi, 2005:79). Dua rasio yang sering digunakan
adalah Rasio Lancar (Current Ratio) dan Rasio Cepat (Quick Ratio)
yang akan dijelaskan sebagai berikut : 1) Current Ratio (CR)/ Rasio Lancar
Current ratio adalah rasio yang paling umum digunakan untuk
menganalisa posisi modal kerja suatu perusahaan. Rasio ini dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan kewajiban jangka panjangnya. Rasio ini menunjukkan nilai kekayaan lancar (kekayaan yang dapat segera dijadikan uang) ada dalam sekian kalinya hutang jangka pendek (Munawir, 2002:72). Current Ratio
menunjukkan tingkat keamanan (margin of safety) kreditor jangka
pendek, atau kemampuan perusahaan untuk membayar hutangnya. Tetapi perusahaan dengan Current Ratio tinggi belum tentu
menjamin akan dapat dibayarnya hutang perusahaan yang jatuh tempo. Hal tersebut dapat terjadi karena distribusi aktiva lancar yang kurang menguntungkan. Pengaruh current ratio terhadap laba
adalah semakin tinggi nilai current ratio maka laba bersih yang
dihasilkan perusahaan semakin sedikit. Hal tersebut disebabkan rasio lancar yang tinggi menunjukkkan adanya kelebihan aktiva lancar yang tidak baik terhadap profitabilitas perusahaan karena aktiva lancar menghasilkan return yang lebih rendah dibandingkan
dengan aktiva tetap (Hanafi dan Halim, 2003:30). Rumus Current
Ratio (CR) adalah: lancar kewajiban lancar aktiva CR=
21
2) Quick Ratio (QR)/ Rasio Cepat
Rasio cepat/ Quick ratio merupakan ukuran kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan, karena persediaan memerlukan waktu yang relatif lama untuk direalisir menjadi uang kas. Rasio ini juga menganggap bahwa piutang segera dapat direalisir sebagai uang kas walaupun kenyataannya mungkin persediaan lebih likuid
daripada piutang (Munawir, 2002:74). Rasio ini lebih baik dari rasio lancar karena hanya membandingkan aktiva yang sangat
likuid (mudah dicairkan) dengan hutang lancar. Jika rasio cepat
(current ratio) tinggi namun Quick ratio nya rendah menunjukkan
adanya investasi yang sangat besar dalam persediaan (Munawir, 2002:74). Rasio ini dihitung dengan membandingkan aktiva lancar dikurangi persediaan dengan hutang lancar.
lancar kewajiban persediaan lancar aktiva QR = − b. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas adalah rasio yang mengukur sejauhmana kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjangnya (Hanafi dan Halim, 2005:83). Perusahaan yang tidak solvabel adalah perusahaan yang total hutangnya lebih besar dibandingkan total aktivanya. Atau dengan kata lain semakin rendah rasio ini menunjukkan semakin rendah resiko yang harus ditanggung perusahaan, apabila resiko perusahaan rendah maka investor akan
tertarik untuk berinvestasi di perusahaan tersebut. Rasio yang termasuk ke dalam rasio ini adalah :
1) Rasio Utang ( Leverage Ratio)
Rasio ini biasanya disebut rasio total hutang terhadap total asset. Rasio ini menghitung seberapa jauh dana yang disediakan oleh kreditor. Rasio yang tinggi berarti perusahaan menggunakan
leverage keuangan yang tinggi (Hanafi dan Halim, 2005:84).
Penggunaan leverage keuangan yang tinggi akan meningkatkan
rentabilitas modal saham (Return on Equity/ ROE) dengan cepat,
tetapi sebaliknya apabila penjualan menurun rentabilitas modal saham (ROE) akan menurun cepat pula. Selanjutnya risiko perusahaan dengan financial leverage yang tinggi akan semakin
tinggi pula. aktiva total g hu total LR= tan
2) Debt to Equity Ratio (DER).
Rasio ini mengukur keseimbangan proporsi antara aktiva yang didanai oleh kreditor dan yang didanai oleh pemilik perusahaan (Prastowo dan Yulianty, 2002:84). Dengan kata lain, rasio ini memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat resiko tak tertagihnya suatu hutang. Kreditor jangka panjang umumnya lebih menyukai angka debt to equity ratio yang kecil. Makin kecil rasio ini berarti
23
semakin besar jumlah aktiva yang didanai ole pemilik perusahaan dan makin besar penyangga resiko kreditor.
ekuitas total g hu total DER= tan c. Rasio Aktifitas
Rasio aktifitas adalah rasio yang mengukur sejauhmana akfitas menggunakan aset dengan melihat tingkat efektifitas aset. Semakin tinggi rasio dalam mengidentifikasikan maka semakin efektif penggunaan aktiva tersebut. Rasio yang termasuk dalam rasio ini adalah sebagai berikut :
1) Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turnover Ratio)
Rasio perputaran persediaan digunakan untuk menunjukkan berapa kali jumlah persediaan barang dagangan diganti/ dijual dalam satu tahun (Munawir, 2002:78). Semakin cepat persedia an tersebut terjual maka semakin cepat perusahaan menciptakan piutang dagang dan menagih kasnya. Persediaan merupakan salah satu unsure modal kerja (working capital). Perputaran persediaan yang
semakin cepat akan mengakibatkan kenaikan pendapatan dan dapat meningkatkan laba bersih di masa yang akan datang (A. E. Suwarno, 2004:145). Rasio ini dihitung dengan rumus :
persediaan penjualan pokok a h IT = arg
2) Rasio Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Asset Turnover Ratio)
Rasio perputaran aktiva tetap mengukur kemampuan perusahaan untuk membuat aktiva tetap produktif dengan menghasilkan penjualan (Prastowo dan Yulianty, 2002:89). Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur efisiensi penggunaan aktiva tetap. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif penggunaan aktiva tetap tersebut (Hanafi dan Halim, 2005:83). Pada beberapa industri yang mempunyai proporsi aktiva tetap yang tinggi misalnya manufaktur, rasio ini cukup diperhatikan.
bersih tetap aktiva
penjualan
FAT =
3) Rasio perputaran total aktiva (Total Asset Turnover Ratio)
Rasio perputaran total aktiva mengukur aktivitas aktiva dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan melalui penggunaan aktiva tersebut (Prastowo dan Yulianti, 2002:89). Rasio ini juga mengukur seberapa efisien aktiva tersebut telah dimanfaatkan untuk memperoleh penghasilan sehingga rasio ini dapat digunakan untuk me mprediksi laba yang akan datang. Semakin cepat perputaran aktivanya maka laba bersih yang dihasilkan akan meningkat karena perusahaan sudah dapat memanfaatkan aktiva tersebut untuk meningkatan penjualan yang berpengaruh terhadap pendapatan. Kenaikan pendapatan dapat menaikkan laba bersih perusahaan (Hanafi dan Halim, 2003:83).
25 aktiva total penjualan TAT = d. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham yang tertentu (Hanafi dan Halim, 2005:85). Semakin tinggi rasio ini maka semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Rasio yang termasuk dalam rasio ini adalah
1) Marjin Laba Kotor atas Penjualan (Gross Profit Margin)
adalah rasio antara laba kotor yang diperoleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama. Rasio GPM ini mengukur efisiensi produksi dan penentuan harga jual. Bagi perusahaan dagang dan manufaktur, angka rasio GPM yang rendah me nandakan bahwa perusahaan tersebut rawan terhadap perubahan harga, baik harga jual maupun harga pokok (Prastowo dan Yulianty, 2002:91). Ini berarti apabila terjadi perubahan harga jual atau harga pokok, perubahan ini akan sangat berpengaruh terhadap laba perusahaan.
penjualan kotor laba
GPM =
2) Marjin Laba Bersih atas Penjualan (Net Profit Margin)
Rasio NPM mengukur rupiah laba yang dihasilkan oleh setiap satu rupiah penjualan (Prastowo dan Yulianty, 2002:91). Rasio ini
memberi gambaran tentang laba untuk para pemegang saham sebagai prosentase dari penjualan. NPM yang tinggi menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu, sebaliknya NPM yang rendah menandakan penjualan yang terlalu rendah untuk tingkat biaya tertentu atau biaya yang terlalu tinggi untuk tingkat penjualan tertentu (Hanafi dan Halim, 2005:86). Perusahaan yang sehat seharusnya memiliki NPM positif yang menandakan bahwa perusahaan tersebut menghasilkan laba bersih (Jopie Jusuf, 2000). Kemampuan NPM dalam memprediksi laba sangat dimungkinkan karena rasio ini berhubungan dengan efisiensi perusahaan dalam memproduksi, administrasi, pemasaran, pendanaan dan penentuan harga.
penjualan bersih laba
NPM =
3) Operating Profit Margin (OPM)
Rasio OPM ini memberi gambaran tentang efisiensi perusahaan pada kegiatan utama perusahaan (Prastowo dan Yulianti, 2002:92). Dengan kata lain rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba operasi pada tingkat penjualan tertentu. OPM mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan sehingga rasio yang tinggi menunjukkan keadaan yang kurang baik karena hal tersebut berarti bahwa setiap rupiah penjualan yang terserap dalam biaya juga tinggi dan yang tersedia untuk laba kecil (Munawir,
27
2002:100). Oleh karena itu nilai rasio OPM yang rendah akan mempunyai pengaruh yang baik terhadap efisiensi perusahaan. Rasio ini memiliki pengaruh yang baik terhadap laba bersih apabila nilai rasio ini rendah, jadi semakin rendah nilai Operating Profit
Margin maka semakin tinggi laba yang diperoleh perusahaan.
penjualan operasi laba
OPM =
4) Return on Equity (ROE)
ROE mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal saham/ ekuitas tertentu (Hanafi dan Halim, 2005:87). Rasio ini menunjukkan seberapa banyak rupiah yang diperoleh dari laba bersih untuk setiap rupiah yang diinvestasikan oleh pemegang saham (pemilik perusahaan). Pengaruh rasio ini terhadap laba adalah semakin tinggi nilai ROE ini maka semakin tinggi tingkat laba yang dihasilkan. Hal ini disebabkan penambahan modal kerja dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan yang akhirnya dapat menghasilkan laba (Agus E Suwarno, 2004:144).
ekiutas bersih laba
ROE =
5) Return on Investment (ROI)
ROI mengukur tingkat kembalian investasi yang telah dilakukan oleh perusahaan baik dengan menggunakan total aktiva yang dimiliki perusahaan tersebut maupun dengan menggunakan dana
yang berasal dari pemilik modal (Prastowo dan Yulianti, 2002:85). Besarnya ROI dipengaruhi oleh dua aktiva yaitu perputaran dari
operating assets (tingkat perputaran aktiva yang digunakan untuk
operasi) dan Profit margin (yaitu besarnya keuntungan operasi
yang dinyatakan dalam persentase dan jumlah penjualan bersih).
Profit margin tersebut mengukur tingkat keuntungan yang dapat
dicapai oleh perusahaan dihubungkan dengan penjualannya. Return
on Investment (ROI) sering juga disebut Return on Asset (ROA),
dan nilai ROI yang tinggi me nunjukkan efisiensi manajemen aset yang berarti efisiensi manajemen (Hanafi dan Halim, 2005:86). Rasio ini dihitung sebaga i berikut :
investasi bersih laba
ROI =
D. Laba
Beberapa pengertian laba dalam laporan laba rugi adalah (Simangunsong, 1995: 80) :
1. Laba kotor yaitu laba sebelum dikurangi dengan biaya-biaya usaha (penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan).
2. Laba bersih hasil usaha yaitu laba kotor setelah dikurangi semua biaya-biaya usaha (biaya-biaya penjualan ditambah biaya-biaya administrasi umum).
3. Laba sebelum pajak yaitu laba bersih hasil usaha setelah ditambah/ dikurangi rugi/laba dari luar usaha pokok.
29