• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4. Analisis Rasio Keuangan

Salah satu alat analisis laporan keuangan yang paling umum dan biasa digunakan dalam menilai kinerja keuangan adalah analisis rasio keuangan.

a. Pengertian Analisis Rasio Keuangan

Salah satu cara untuk melakukan analisis keuangan adalah dengan cara mempelajari hubungan antara berbagai perkiraan-perkiraan dalam laporan keuangan. Hubungan antara pos-pos tersebut dinyatakan dengan angka yang disebut dengan rasio. Rasio-rasio ini penting bagi analisis intern maupun ekstern dan menilai perusahaan dari laporan keuangan yang diumumkan perusahaan.

Analisis rasio dapat mengungkapkan hubungan penting dan menjadi dasar perbandingan dalam menemukan kondisi dan tren yang sulit untuk dideteksi dengan mempelajari masing-masing komponen yang membentuk rasio. Rasio

menggambarkan suatu hubungan atau perlambangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio yang akan menjelaskan atau menggambarkan kepada penganalisa baik atau buruknya keadaan posisi keuangan suatu perusahaan.

Dari definisi tersebut diatas, maka dapat disimpulkan analisa rasio keuangan adalah teknik atau alat untuk mengukur prestasi perusahaan dalam hal menentukan tingkat likuiditas, solvabilitas, keefektifan operasi serta derajat keuntungan perusahaan dengan menghubungkan antar pos-pos dalam neraca atau laporan rugi-laba atau kombinasi dari keduanya.

Untuk dapat menginterpretasikan hasil perhitungan rasio keuangan, maka diperlukan adanya pembanding. Menurut Syamsuddin (2000:39):

Pada pokoknya ada dua cara yang dapat dilakukan di dalam membandingkan rasio financial perusahaan, yaitu ”Cross-sectional approach” dan ”Time series analysis”.

Yang dimaksud dengan cross sectional approach adalah suatu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan ratio-ratio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya yang sejenis pada saat bersamaan.

Time series analysis dilakukan dengan jalan membandingkan ratio-ratio

finansial perusahaan dari satu periode ke periode lainnya. Pembandingan antara ratio yang dicapai saat ini dengan ratio-ratio pada masa lalu akan memperlihatkan apakah perusahaan mengalami kemajuan atau kemunduran.

Rasio keuangan akan memberikan manfaat apabila rasio tersebut dianalisis. Menurut Kiomn et al (2005:108)

Rasio keuangan dapat digunakan untuk menjawab setidaknya 4 pertanyaan: (1)Bagaimana tingkat likuiditas perusahaan? (2) Apakah manajemen efektif

dalam menghasilkan laba operasi atas aktiva yang dimiliki perusahaan? (3) Bagaimana perusahaan didanai? (4) Apakah para pemegang saham biasa mendapat tingkat pengembalian yang cukup?

Analisis dan interpretasi dari bermacam-macam rasio dapat memberikan pandangan yang lebih baik tentang kondisi keuangan dan prestasi perusahaan bagi para analis dibandingkan analisis yang hanya didasarkan atas data keuangan sendiri-sendiri yang tidak berbentuk rasio.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan rasio keuangan sebagai alat analisis. Hal-hal tersebut akan membantu analisis dalam menginterpretasikan hasil perhitungan rasio keuangan sehingga dihasilkan kesimpulan yang lebih tepat. Syamsuddin (2000:40) mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan rasio keuangan sebagai alat analisis.

1. Sebuah rasio saja tidak dapat digunakan untuk menilai keseluruhan operasi yang telah dilaksanakan. Untuk menilai keadaan perusahaan secara keseluruhan sejumlah rasio haruslah dinilai secara bersama-sama. Kalau sekiranya hanya satu aspek saja yang ingin dinilai, maka satu atau dua rasio saja sudah cukup digunakan

2. Pembandingan yang dilakukan haruslah dari perusahaan yang sejenis dan pada saat yang sama. Tidaklah tepat kita membandingkan rasio finansial perusahaan A pada tahun 19X0 dengan rasio finansial perusahaan B pada tahun 19X1.

3. Sebaiknya perhitungan rasio finansial didasarkan pada data laporan keuangan yang telah diaudit (diperiksa). Laporan keuangan yang belum diaudit masih diragukan kebenarannya, sehingga rasio-rasio yang dihitung juga kurang akurat

4. Adalah sangat penting untuk diperhatikan bahwa pelaporan atau akuntansi yang digunakan haruslah sama.

Analisis rasio keuangan memiliki beberapa keunggulan sebagai alat analisis sebagaimana yang dikemukakan oleh Harahap (2006:298).

1. rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan;

2. merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit;

3. mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain;

4. sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi (Z-score);

5. menstandarisir size perusahaan;

6. lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lainnya atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau ”time series” 7. lebih mudah melihat tren perusahaan serta melakukan prediksi di masa

yang akan datang.

Sebagai alat analisis keuangan, analisis rasio keuangan juga memiliki keterbatasan atau kelemahan antara lain :

1. Banyak perusahaan besar yang mengoperasikan beberapa divisi yang berbeda pada industri yang berbeda pula dan dalam keadaan seperti ini, sulit untuk mendapatkan rata-rata industri yang bisa digunakan sebagai pembanding yang tepat. Hal ini cenderung membuat analisis rasio lebih berguna bagi perusahaan kecil dengan biang usaha yang lebih sempit daripada perusahaan besar dengan banyak divisi yang berbeda-beda.

2. Hampir semua perusahaan ingin berprestasi di atas rata-rata walaupun pada kenyataannya lima puluh persen dari perusahaan-perusahaan tersebut akan berada pada posisi di bawah rata-rata dan selebihnya berada si atas rata-rata, sehingga pencapaian prestasi rata-rata semata belumah dapat dinyatakan baik. Bagi yang menargetkan prestasi yang tinggi, acuan yang terbaik adalah perusahaan dengan rasio keuangan yang sangat baik.

3. Inflasi menyebabkan distorsi besar pada neraca. Nilai yang tercatat di neraca sering dan sangat berbeda dengan nilai sebenarnya. Lebih jauh lagi

karena inflasi mempengaruhi baik beban penyusutan maupun biaya persediaan, maka laba juga tentu terpengaruh. Oleh karena itu, analisis rasio bagi perusahaan dari tahun ke tahun atau analisis komparatif atas perusahaan-perusahaan pada usia yang berbeda harus diinterpretasikan secara cermat dan penuh pertimbangan.

4. Perbedaan antara praktik dengan operasi dapat menyebabkan distorsi dalam perbandingan. Seperti metode penilaian persediaan dan penyusutan dapat mempengaruhi laporan keuangan dan karena itu mendistorsikan perbandingan di antara perusahaan. Jika sebagian besar aktiva perusahaan adalah aktiva lease, mungkin tidak akan disajikan di dalam daftar hutang, karena itu leasing, bisa saja memperbagus rasio perputaran dan rasio hutang.

5. Sulit untuk menetapkan secara pasti apakah suatu rasio baik atau buruk. Misalnya rasio lancar yang tinggi mungkin menunjukkan posisi likuiditas yang kuat, tetapi bisa juga menandakan adanya kas berlebih yang tentunya tidak baik bagi perusahaan karena tidak efektif dalam penggunaan kas.

b. Jenis-Jenis Rasio Keuangan

Ada banyak jenis-jenis rasio keuangan yang biasa digunakan dalam melakukan analisis keuangan. Sebagaimana yang dikemukanan oleh Wachowicz (2005:204) :

Rasio-rasio keuangan yang umumnya digunakan pada dasarnya terdiri atas dua jenis. Jenis pertama meringkas beberapa aspek dari “kondisi keuangan” perusahaan untuk suatu periode-periode dengan neraca yang telah dibuat.

Rasio-rasio ini disebut rasio neraca (balance sheet ratio), karena baik pembilang maupun penyebut dalam setiap rasio berasal langsung dari neraca. Jenis kedua dari rasio meringkas beberapa aspek kinerja perusahaan selama periode waktu tertentu, biasanya dalam setahun. Rasio-rasio ini disebut sebagai rasio laporan laba rugi (income statement ratio) atau rasio laba

rugi/neraca (income statement/balance sheet ratio).

Pada umumnya ada 4 aspek penilaian rasio keuangan menurut Abdullah (2005:44) yaitu rasio likuiditas, aktivitas, solvabilitas dan profitabilitas.

(a) Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas biasa digunakan dalam melakukan analisis kredit karena likuiditas berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Pihak-pihak yang berkepentingan dalam menilai tingkat likuiditas perusahaan adalah kreditor-kreditor jangka pendek seperti pemasok dan bankir.

Menurut Syamsuddin (2000:41) “Likuiditas tidak hanya berkenaan dengan keadaan keseluruhan keuangan perusahaan, tetapi juga berkenaan dengan kemampuannya untuk mengubah aktiva lancar tertentu menjadi uang kas”. Perusahaan harus mengubah aktiva lancar tertentu menjadi kas untuk membayar kewajiban lancarnya, misalnya perusahaan perlu menagih piutang atau menjual persediaannya sehingga perusahaan memperoleh kas.

Rasio likuiditas dapat dibagi lagi menjadi beberapa jenis. Masing-masing rasio likuiditas mencerminkan perspektif yang berbeda dalam mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Menurut Syahyunan (2004:83) “Rasio yang biasa digunakan untuk mengukur

likuiditas, yaitu Current Ratio, Quick Ratio, Cash Ratio, dan Net Working

Capital.”

1. Current Ratio

Current ratio menunjukkan hubungan antara aktiva lancar dengan

kewajiban lancar suatu perusahaan. Aktiva lancar umumnya meliputi kas, sekuritas, piutang usaha, dan persediaan. Sedangkan kewajiban lancar terdiri atas utang usaha, wesel tagih jangka pendek, utang jatuh tempo yang kurang dari satu tahun, akrual pajak, dan beban-beban akrual lainnya (terutama gaji). Semakin besarnya perbandingan antara aktiva lancar dan hutang lancar maka semakin tinggi pula kemampuan perusahaan dalam menutupi kewajiban jangka pendeknya. Artinya aktiva lancar harus lebih besar dibandingkan dengan jumlah hutang lancar. Dan persamaan untuk mencari current ratio adalah :

Current Ratio =

2. Quick Ratio atau Acid Test Ratio

Rasio ini merupakan rasio uji cepat yang menunjukkan kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan persediaan. Hal ini disebabkan persediaan memerlukan waktu yang relatif lebih lama diuangkan bila dibandingkan dengan aset aktiva lancar lainnya. Rumus untuk mencari quick ratio adalah sebagai berikut :

3. Cash Ratio

Cash ratio merupakan rasio untuk mengukur seberapa besar uang kas

yang tersedia untuk membayarkan hutang. Hal ini ditunjukkan dari tersedianya dana kas atau setara kas seperti rekening giro. Semakin besar perbandingan kas atau setara kas dengan hutang lancar akan semakin baik. Dan rumus untuk mencari cash ratio adalah :

4. Net Working Capital

Rasio ini untuk menghitung berapa kelebihan aktiva lancar di atas hutang lancarnya, dengan rumus :

(b) Rasio Leverage (Rasio Solvabilitas)

Rasio leverage (rasio utang) menurut Wachowicz (2005:209) adalah “rasio yang menunjukkan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh utang”. Rasio

leverage disebut juga rasio solvabilitas. Rasio leverage atau rasio solvabilitas

adalah rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jika perusahaan tersebut dilikuidasi.

Adapun rasio leverage yang umumnya dipakai menurut Syahyunan (2004: 83) antara lain adalah “Debt Ratio, Debt to Equity Ratio, Time Interest Earned

1. Debt Ratio

Debt to ratio atau debt to asset ratio merupakan rasio yang digunakan

untuk mengukur perbandingan antara total hutang dengan total aktiva. Artinya seberapa besar aktiva perusahaan yang dibiayai oleh hutang atau seberapa besar hutang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva dengan rumus :

2. Debt to Equity Ratio

Debt to equity ratio adalah rasio yang membandingkan utang perusahaan

dengan total ekuitas. DER merupakan financial leverage yang dipertimbangkan sebagai variabel keuangan karena secara teoritis menunjukkan resiko suatu perusahaan sehingga berdampak pada ketidakpastian harga saham. DER yang tinggi mempunyai dampak yang buruk terhadap kinerja perusahaan karena tingkat utang yang semakin tinggi berarti beban bunga akan semakin besar yang berarti mengurangi keuntungan. Sebaliknya, tingkat DER yang rendah menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena menyebabkan tingkat pengembalian yang semakin tinggi. Sehingga investor cenderung memilih saham dengan DER yang rendah.

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi beban tetapnya berupa bunga. Rumusnya adalah :

4. Fixed Charge Coverage Ratio

Rasio ini mengukur berapa besar kemampuan perusahaan untuk menutup beban tetapnya termasuk pembayaran dividen saham preferen, bunga, angsuran pinjaman dan sewa. Rumus rasio ini adalah sebagai berikut:

5. Debt Service Coverage

Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi beban tetapnya termasuk angsuran pokok pinjaman. Rumusnya adalah:

(c) Rasio Aktivitas

Activity ratio merupakan rasio yang sering juga disebut sebagai rasio

efisiensi atau rasio pemanfaatan aktiva. Rasio aktivitas (activity ratio) menurut Van Horne et al (2005 : 212) adalah “rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan berbagai aktivanya”. Rasio aktivitas yang umumnya

digunakan menurut Syahyunan (2004:83) yaitu “Average Collection Period,

Inventory Turn-over, Fixed Asset Turn-over, dan Total Asset Turn-over.”

1. Average Collection Period

Rasio ini untuk menghitung berapa kali dana yang tertanam dalam piutang perusahaan berputar dalam setahun (Syahyunan, 2004). Rumus untuk mencari

average collection period adalah :

2. Inventory Turnover Ratio

Perputaran persediaan adalah rasio antara harga pokok penjualan terhadap persediaan rata-rata menunjukkan seberapa cepat persediaan tersebut dapat dijual. Rumus untuk menghitung inventory turnover yaitu:

3. Fixed Assets Turnover Ratio

Rasio perputaran aktiva tetap (fixed assets turnover) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode. Dengan kata lain, rasio ini digunakan untuk mengukur apakah perusahaan sudah menggunakan kapasitas aktiva tetap dengan sepenuhnya atau belum. Rumus untuk menghitung fixed assets

4. Total Assets Turnover (TATO)

Total assets turnover menurut Syamsuddin (2000:73) “mengukur berapa

kali total aktiva perusahaan menghasilkan volume penjualan”. TATO juga dapat didefenisikan sebagai kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan penjualan digambarkan dalam rasio ini. Rumus untuk menghitung total asstes turnover adalah:

Rumus tersebut menunjukkan hubungan antara penjualan bersih dengan total aktiva. Sama seperti rasio perputaran aktiva tetap, untuk mengetahui apakah perusahaan cukup efektif dalam menggunakan aktivanya, hasil perhitungan harus dibandingkan dengan rata-rata industri atau hasil perhitungan tahun-tahun sebelumnya.

(d) Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas bertujuan mengukur efektifitas manajemen yang tercermin pada imbalan dan hasil dari investasi melalui kegiatan penjualan (Djarwanto, 2004:148). Rasio-rasio lain dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang digunakan untuk menilai keefektifan dari operasi sebuah perusahaan, tetapi rasio profitabilitas akan menunjukkan kombinasi dari efek likuiditas,

manajemen aktiva, dan utang pada hasil-hasil operasi. Rasio ini akan memberikan jawaban akhir tentang efektivitas manajemen perusahaan.

Rasio profitabilitas atau kinerja operasi digunakan untuk mengevaluasi margin laba dari aktivitas operasi yang dilakukan perusahaan. Menurut Sayhyunan (2004: 85), rasio profitabilitas ini terbagi atas “Gross Profit

Margin, Operating Profit Margin, Net Profit Margin, Return on Investment

dan Return on Equity”

1. Gross Profit Margin Ratio

Rasio ini mengukur efisiensi pengendalian harga pokok. Persamaan untuk rasio ini adalah :

2. Return on Investment (ROI)

ROI dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan menghitung jumlah aktiva yang digunakan dalam operasi perusahaan untuk menghasilakan laba. Rasio ini menunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan baik modal pinjaman maupun modal sendiri. Persamaan rasio ini menurut Wachowicz (2005:224) adalah :

ROI =

ROE (return on equity) merupakan rasio yang membandingkan laba bersih dengan total ekuitas. ROE digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. Rasio ini juga menunjukkan sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang dapat diperoleh oleh pemegang saham. Semakin tinggi ROE menunjukkan semakin efisien perusahaan menggunakan modal sendiri untuk menghasilkan laba bagi pemegang saham.

ROE =

4. Operating Profit Margin

Rasio ini mengukur tingkat laba operasi dibandingkan dengan volume penjulan dengan persamaan sebagai berikut:

5. Net Profit Margin

Net profit margin merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur laba

bersih sesudah pajak dibandingkan dengan volume penjulan. Dan rumus untuk mencari rasio ini adalah :

Dokumen terkait