TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.2 Analisis Rasio
Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satupos laporan keuangan dengan pos-pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan misalnya antara Utang dan Modal, antara Kas dan Total Aset, antara Harga Pokok Produksi dengan Total Penjualan,dan sebagainya. (Syafri, 2013:297).
Analisis Rasio Keuangan sangat penting untuk para pemilik kepentingan yang berada didalamnya seperti Menurut Margaretha (2011:24).”Analisis Rasio Keuangan sangat penting bagi para Manajer, analis kredit dan analis sekuritas. Rasio perbandingan unsur-unsur/elemen-elemen/pos-pos dari laporan keuangan”.
Menurut Fahmi (2013:48-49), “yang dimaksud dengan “Rasio” dalam analisis keuangan adalah sebagai hasil yang diperoleh antara satu jumlah dengan jumlah lainnya. Dengan begitu Rasio Keuangan adalah suatu kajian yang melihat perbandingan antara jumlah-jumlah yang terdapat pada laporan keuangan dengan menggunakan formula-formula yang dianggap representatif untuk diterapkan. Rasio Keuangan atau financial ratiosangat penting gunanya untuk melakukan analisa terhadap kondisi keuangan perusahaan. Bagi investor jangka pendek dan menengah pada ummnya lebih banyak tertarik kepada kondisi keuangan jangka pendek dna kemampuan perusahaan membayar dividen yang memadai.informasi tersebut daat diketahui dengan cara yang lebih sederhana yaitu dengan menghitung rasio-rasio keuangan sesuai dengan keinginan.
Weston dalam Kasmir (2014 : 106) mengatakan bahwa bentuk-bentuk rasio keuangan adalah sebagai berikut: Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio), Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio), Rasio Aktivitas (Activity Ratio), Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio), Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio), Rasio Penilaian (Valuation Ratio).
2.1.2.1Rasio Likuiditas
Kasmir (2014:110) menyatakan bahwa Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewjiban jangka pendek. Fungsi lain rasio likuiditas adalah untuk menunjukkan atau mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo baik kepada pihak luar perusahaan maupun likuiditas perusahaan.
Rasio likuiditas atau serimg disebut rasio modal kerja merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya perusahaan. Caranya adalah dengan membandingkan seluruh komponen yang ada di aktiva lancar dengan komponen di passiva lancar (utang jangka pendek). Ada 2 jenis rasio likuiditas rasio lancar (current ratio) dengan membandingkan aset lancar dengan utang lancar rasio dikali dengan 100% dan sangat lancar (quick ratio atau acid test ratio) yaitu cash asset dibagi dengan total deposit dan dikalikan dengan 100% cara ini mengukur kemampuan bank untuk membayar kewajibannya kepada deposan.
2.1.2.2Leverage Ratio(Rasio Solvabilitas)
Kasmir (2014 : 157) menyebutkan bahwa debt to equity ratio (DER) merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini
dicari dengan membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain rasio ini berfungsi untuk mengetahui rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang.
Rasio Leverage Ratio(Solvabilitas) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Adapun rasio-rasio yang terdapat pada leverage ratio: debt to asset ratio (debt ratio) perbandingan total debt dengan total assets dikali 100%, debt to equity ratio perbandingan total utang dengan ekuitas dikali 100%, long term debt to equity ratio (LTDtER) perbanndingan long term debt dengan equity dikali 100%, tangible assets debt coverege, current liabilities to net worth, times intrest earned, dan fixed change covarege.
Adapun didalam Leverage Ratio (Solvabilitas) jenis rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah Debt Equity Ratio (DER).
2.1.2.2.1 Debt to Equity Ratio (DER)
Bagi Bank (kreditor), semakin besar rasio ini semakin tidak menguntungkan karena akan semakin besar risiko yang ditanggung atas kegagalan yang mungkin terjadi diperusahaan. Namun bagi perusahaan semakin besar rasio ini semakin baik karena menurut James C. Horne ddan Jhon M. Wachowich dalam Fahmi (2013:73) ‘’ Alternatively, the book value of a company’s coomon stock (at par) plus additional paid-in capital and retainerd earning’s. Dalam
persoalan debt to equity ratio ini yang perlu dipahami bahwa, tidak ada batasan seberapa batasan debt to equity ratio bagi perusahaan, namun untuk konservatif biasanya debt to equity ratio yang lewat 66% atau 2/3 sudah dianggap beresiko’’.
Rumus untuk menghitung debt to equity ratio dapat digunakan sebagai berikut: Debt to equity ratio=���������� (����)
����� (������) x100%
2.1.2.3Rasio Aktivitas
Kasmir (2014:172) menyatakan bahwa Rasio Aktivitas (activity ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Atau dapat pula dikatakan rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi (efektivitas) pemanfaatan sumber daya perusahaan. Penggunaan rasio aktivitas adalah dengan cara membandingkan antara tingkat penjualan dengan investasi dalam aktiva untuk satu periode. Artinya diharapkan adanya keseimbangan seperti yang diinginkan antara penjualan dengan aktiva seperti sediaan, piutang, dan aktiva tetap lainnya. Adapun jenis rasio yang terdapat didalam rasio aktivitas: perputaran piutang (receivable turn over) perbandingan penjualan kredit dengan rata-rata piutaang dikaali 100%, hari rata-rata penagihan piutang (days of receivable) perbandingan piutang rata-rata dikali 360 dengan penjualan kredit, perputaran sediaan (inventory turn over), hari rata-rata penagihan sediaan (days of inventory), perputaran modal kerja (working capital turn over), perputaran aktiva tetap (fixed assets turn over), dan perputaran aktiva (assets turn over).
2.1.2.4 Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
(Kasmir 2014 : 114) rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai perusahan dalam mencari keuntunganatau laba dalam suatu periode tertentu. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan yang ditunjukkan dari laba yang dihasilkan dari penjualan atau dari pendapatan investasi. Dikatakan rentabilitasnya baik apabila mampu memenuhi target laba yang telah ditetapkan dengan menggunakan aktiva atau modal yang dimilikinya. Rasio profitabilitas atau rasio rentabilitas dibagi dua yaitu: (1) rentabilitas ekonomi yaitu dengan membandingkan laba usahadengan seluruh modal (modal sendiri atau asing) (2) rentabilitas usaha (sendiri) yaitu membandingkan laba yang disediakan untuk pemilik dengan modal sendiri rentabilitas tinggi lebih penting dari keuntungan yang besar.Menurut Veithzal dkk (2013 : 480) menyatakan rentabilitas adalah hasil perolehan dari investasi (penanamaan modal) yang dikatakan dengan persentase dari besarnya investasi.Adapun jenis rasio yang terdapat didalam rasio profitabilitas: profit margin (profit margin on sales) penjualan bersih dikurang dengan harga pokok penjualan dibagi dengan sales, net profit magin perbandingan earning after interest and tax (EAIT) dengan sales dikali 100%, return on invesment (ROI) perbandingan EAIT dengan totalassets dikali 100%, ROI dengan duo point ROI sama dengan ROA= net profit margin dikali total assets turn over=EAT
�����x �����
����� ������ , jadi ROA= EAT
����� ������return on equity (ROE)
perbandingan EAIT dengan equity dikali 100%, net interest margin (NIM) perbandingan pendapatan bersih (pendapatan bunga – beban bunga) dengan
aktiva produktif dikali 100%, CIR perbandingan biaya atau beban operasional dengan pendapatan operasional dikali 100%, fee base income ratio perbandingan pendapatan operasional lagi dengan pendapatan operasional dikali 100%. Dalam rasio profitabilitas ini peneliti menggunakan Return On Asset (ROA) dan Cost to Income Ratio (CIR)
2.1.2.4.1 Return On Asset (ROA)
Menurut Wira (2014:84) Return On Asset adalah rasio yang dihitung dengan membagi laba dengan total aset perusahaan. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas perusahaan. ROA menunjukkan seberapa efisien perusahaan menggunakan asetnya untuk menghasilkan laba. Menghitung ROA dinyatakan dalam persentase sebagai berikut :
Rumus : ROA= ��������������� ℎ(��������� )
����������� (����� ������) x 100%
2.1.2.4.2 Cost to Income Ratio (CIR)
Menurut Veithzal dkk (2013 : 482) cost to Income Ratio (CIR) adalah perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional dalam mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Menurut Kasmir (2012 : 301) penilaian didasarkan pada rentabilitas suatu bank yang dilihat kemampuan suatu bank dalam menciptakan laba. Penilaian ini didasarkan dua hal yaitu 1. Rasio laba terhadap tota aset (ROA) 2. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) atau cost income ratio (CIR). Adapun rumus untuk mengukur kegiatan operasi suatu perusahaan bank melalui CIR adalah: CIR= �����(�����)�������
‘’Cost to income Ratio is important the profitability of a bank. The ratio gives a clear view of how efficiently the bank. The lower the bank ratio, the more profitable the bank.Changes in the ratio also highlight potential problems-if the ratio rises from one period to the next, it means that cost to income ratio and the bank’s profitability. Cost to income ratio of bank=���������� �������
��������� ������ x100%’’(2015,site.SPTulsian.com/invesment
adviser) 30 january 2015.
Dalam hal ini perlu diketahui bahwa usaha utama bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan selanjutnya menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit sehingga beban bunga dan hasil bunga merupakan porsi terbesar bagi bank.
2.1.2.5 Rasio Pertumbuhan
Rasio pertumbuhan (Growth Ratio) merupakan rasio yang mrnggambarkan kemanpuan perusahaan mempertahankan posisi ekonominya ditengah pertumbuhan perekonomian dan sektor usahanya. Adapun rasio yang terdapat didalam rasio pertumbuhan: pertumbuhan penjualan, pertumbuhan laba bersih, pertumbuhan pendapatan per saham, earnings per share (EPS) dan pertumbuhan dividen per saham. Dalam rasio pertumbuhan (Growth Ratio)ini peneliti menggunakanEarnings Per Share (EPS)
2.1.2.5.1 Earnings Per Share (EPS)
Menurut Kasmir (2014 : 207) Rasio per lembar saham atau yang disebut juga nilai buku merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham.
Investor biasanya lebih tertarik dengan ukuran profitabilitas dengan menggunakan dasar saham yang dimiliki. Alat analisis yang dipakai untuk melihat keuntungan dengan dasar saham adalah earning per share yang dicari
dengan laba bersih dibagi saham yang beredar. Rasio ini menggambarkan besarnya pengembalian modal untuk setiap satu lembar saham. Adapun menghitung EPS dinyatakan dalam persentase adalah sebagai berikut:
Laba Per Lembar Saham (EPS)= ������ ℎ�������
��ℎ������������������ x 100%
2.1.2.6 Rasio Non Performing Loans(NPL)
Menurut Darmawan : 2004 Non Performing Loans Merupakan rasio yang dipergunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menyanggah risiko kegagalan pengembangan kredit oleh debitur. Non performing loan mencerminkan risiko kredit, semakin kecil non performing loan semakin kecil pula resiko kredit yang ditanggung oleh pihak bank. Bank dalam memberikan kredit harus melakukan analisis terhadap kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajibannya. Setelah kredit diberikan bank wajib melakukan pemantauan terhadap penggunaan kredit serta kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajibannya. Bank melakukan peninjauan, penilaian dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil resiko kredit (Ali : 2004).
Penilaian aspek kredit bermasalah suatu bank lebih dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana atau berapa kredit yang telah salurkan kepada debitur mengalami gangguan pada pengembalian. Terdapat tiga kategori kredit bermasalah, yaitu kredit kurang lancar, kredit diragukan dan kredit macet. (Mulyono, 1990). Semakin besar non performing loan yang ditanggung bank menunjukkan bahwa kinerja bank dalam penyaluran kredit terjadi masalah, yang berdampak pada penurunan laba yang diperoleh bank (Wijaya, 2007). Adapun
untuk menghitung rasio NPL suatu perusahan bank dinyatakan dalam persentase berikut : NPL= ������������ ℎ
����������� � 100%
Sedangkan menurut surat edaran BI No. 3/33/DPNP tanggal 14 desember 2001 tentang perhitungan rasio keuangan yang dirumuskan berikut :Non performing loans=��������������� ℎ
����������� �100%
Kriteria penilaian tingkat kesehatan rasio non performing loans berikut
Rasio Predikat
NPL ≤5% sehat NPL ≥5% Tidak Sehat
Kriteria penilaian tingkatkesehatan rasio Non Performing Loans berdasarkan tabel diatas, Bank Indonesia menetapkan nilai NPL adalah sebesar 5% apabila bank melebihi batas yang diberikan maka bank tersebut dikatakan tidak sehat.