BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
B. Analisis Statistik
2. Analisis Regresi Berganda
Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda yaitu menganalisis besarnya pengaruh variabel independen yang jumlahnya dua variabel atau lebih. Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat, penulis menggunakan bantuan program Software SPSS 15.00 for windows.
Bentuk persamaan regresi untuk 2 variabel independen yaitu: Y = a + b1X1 + b2X2 + e
a = Konstanta b1,2 = Koefisien regresi X1 = Fasilitas
X2 = Suasana e = Standar error
3) Uji Statistik F (uji secara serentak)
Dilakukan untuk menguji apakah setiap variabel bebas (Xi) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat (Yi) secara bersama-sama.
Kriteria pengujian sebagai berikut:
Ho : bi = 0, artinya tidak terdapat pengaruh Xi terhadap minat berkunjung mahasiswa.
Ho : bi 0 artinya terdapat pengaruh Xi terhadap minat berkunjung mahasiswa.
Dengan kaidah pengambilan keputusan:
Ho diterima jika F hitung < F tabel pada = 5% Hoditolak jika F hitung > F tabel pada = 5% 4) Uji statistik t (uji secara parsial)
Dilakukan untuk menguji setiap variabel bebas (Xi) apakah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat (Yi) secara parsial.
Kriteria pengujian sebagai berikut :
Ho : bi = 0, artinya tidak terdapat pengaruh variabel bebas (Xi) terhadap minat berkunjung mahasiswa
Ho : bi 0, artinya terdapat pengaruh Xi terhadap minat berkunjung mahasiswa
Dengan kriteria pengambilan keputusan :
Ho diterima jika t hitung < t tabel pada = 5% Ho ditolak jika t hitung > t tabel pada = 5% 5) Determinan (R2)
Menunjukkan kuat lemahnya pengaruh atau besarnya kontribusi variabel bebas (Xi) terhadap variabel terikat (Y), dapat dilihat dengan tingkat determinan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
D = R2
Semakin besar nilai koefisien determinasi semakin baik kemampuan variabel X menerangkan variabel Y.
A. Penelitian Terdahulu
Purba (2006) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh fasilitas dan suasana Pusat Perbelanjaan Carrefour Plaza Medan Fair terhadap keputusan pembelian” dengan permasalahan yang diambil “Apakah fasilitas dan suasana pusat perbelanjaan Carrefour Plaza Medan Fair berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel fasilitas (X1) dan suasana (X2) secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian (Y). Variabel suasana (X2) merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi keputusan pembelian (Y) pada Carrefour Plaza Medan Fair, Medan.
Saragi (2007) melakukan penelitian dengan judul “Analisis faktor-faktor penyajian produk eceran terhadap minat beli konsumen pada Macan Yaohan Iskandar Muda”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penempatan Toko (X1), Citra Toko (X2), Suasana Toko (X3) dan Acara Toko (X4) secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen pada Macan Yaohan Supermarket Iskandar Muda. Variabel Penempatan Toko dan Acara Toko mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan sedangkan Citra Toko dan Suasana Toko tidak signifikan. Faktor penyajian produk eceran yang paling dominan adalah Penempatan Toko (X1).
B. Jasa
1. Definisi Jasa
Beberapa penulis mengungkapkan definisi jasa sebagai berikut:
a. William J. Stanton dalam Alma (2003:2), jasa adalah sesuatu yang dapat diidentifikasi secara terpisah tidak berwujud ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan. Jasa dapat dihasilkan dengan menggunakan benda-benda berwujud atau tidak.
b. Valarie A. Zeithalm dan Mary Jo Bitner dalam Alma (2003:3) menyatakan jasa adalah suatu kegiatan ekonomi yang outputnya bukan produk dikonsumsi bersamaan dengan waktu produksi dan memberikan nilai tambah (seperti kenikmatan, hiburan, santai, sehat) bersifat tidak berwujud.
c. Kotler dalam Lupiyoadi (2006:6), jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksi jasa bisa berkaitan dengan produk fisik atau sebaliknya.
2. Karakteristik dan Klasifikasi Jasa
Perusahaan harus mempertimbangkan empat karakteristik jasa tertentu, ketika merancang program pemasaran (Kotler dan Armstrong, 2001:376):
a. Intangibility (ketidak-berwujudan)
Tidak berwujudnya jasa berarti bahwa jasa tidak bisa dilihat, dicicipi, dirasakan, didengar, atau dibaui sebelum dibeli.
b. Inseparibility (ketidak terpisahan)
Ketidak terpisahan jasa maksudnya adalah bahwa jasa tidak dapat dipisahkan dari penyedianya apakah penyedia tadi adalah orang atau mesin.
c. Service variability (keragaman)
Keragaman jasa berarti bahwa kualitas jasa tergantung pada siapa yang menyediakan jasa, dan waktu tempat, dan bagaimana cara mereka disediakan.
d. Perishability (Tidak tahan lama)
Tidak tahan lamanya jasa berarti jasa tidak dapat disimpan untuk penjualan atau pemakaian yang akan datang.
Griffin dalam Lupiyoadi & Hamdani (2006:6) menyebutkan karakteristik jasa sebagai berikut:
a. Intangibility (tidak berwujud).
Jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar, atau dicium sebelum jasa itu dibeli. Nilai penting dari hal ini adalah nilai tak berwujud yang dialami, konsumen dalam bentuk kenikmatan, kepuasan, atau kenyamanan.
b. Unstorability (tidak dapat disimpan).
Jasa tidak mengenal persediaan atau penyimpanan dari produk yang telah dihasilkan. Karakteristik ini disebut juga inseparability (tidak dapat disimpan), mengingat pada umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan.
c. Customization (kustomisasi).
Jasa sering kali didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Berdasarkan klasifikasi Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization-WTO), sesuai dengan GATS/WTO-Central Product Classification/ MTN. GNS/W/120 dalam Lopiyoadi dan Hamdani (2006:7), ruang lingkup klasifikasi bisnis jasa meliputi:
a. Jasa bisnis b. Jasa komunikasi
c. Jasa konstruksi dan jasa teknik d. Jasa distribusi
e. Jasa pendidikan f. Jasa lingkungan hidup g. Jasa keuangan
h. Jasa kesehatan dan jasa sosial
i. Jasa kepariwisataan dan jasa perjalanan j. Jasa rekreasi budaya, dan olah raga k. Jasa transportasi
l. Jasa lain-lain.
Klasifikasi jasa lebih rinci dikemukakan oleh Zeithaml dalam Alma (2003/16) yaitu:
a. Transportasi termasuk di dalamnya kereta api, bus, truk, transportasi air, udara, pipa.
c. Public utilities berupa listrik, gas, kebersihan.
d. Perdagangan besar termasuk agen-agen dari produsen.
e. Perdagangan eceran termasuk ke dalamnya berbagai bentuk pertokoan.
f. Finansial, asuransi, perumahan berupa simpan pinjam, bursa efek, perusahaan investasi, usaha pembangunan perumahan.
g. Jasa hotel h. Personal service i. Business service j. Jasa parkir
k. Jasa bengkel/reparasi
l. Jasa bioskop hiburan dan rekreasi m. Jasa di bidang kesehatan
n. Jasa di bidang hukum o. Jasa pendidikan p. Jasa sosial/masyarakat q. Jasa organisasi
r. Jasa yang ditawarkan oleh pemerintah, perizinan, keamanan polisi/TNI dan sebagainya.
C. Usaha Ritel
Kata ritel berasal dari bahasa Prancis (ritellier) yang berarti memotong atau memecah sesuatu. Usaha Ritel atau eceran dapat dipahami sebagai semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada
kosumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan penggunaan bisnis. Ritel juga merupakan perangkat dari aktivitas-aktivitas bisnis yang melakukan penambahan nilai terhadap produk-produk dan layanan penjualan kepada para konsumen untuk penggunaan atau konsumsi perseorangan maupun keluarga.
D. Suasana Toko (Store Atmosphere)
Sebuah retailer harus mampu membangkitkan niat atau keinginan untuk berbelanja dalam benak konsumen di dalam penciptaan atmosfer toko yang baik. Seseorang yang punya prinsip hemat pun akan lebih menyukai atmosfer toko yang dapat merangsangnya untuk berbelanja. Atmofer toko adalah keseluruhan efek emosional yang diciptakan oleh atribut fisik toko. Pada umumnya, setiap orang akan lebih tertarik pada toko yang dapat menawarkan lingkungan yang aman dan nyaman. Atmosfer toko juga harus mampu memuaskan kedua belah pihak yang terkait, yaitu retailer itu sendiri dan para konsumennya.
Sebuah retailer pasti akan berusaha mempengaruhi perasaan konsumen dengan menciptakan suatu atmosfer toko yang mendorong minat membeli. Atmosfer berbelanja yang menyenangkan adalah atmosfer dengan atribut yang dapat menarik kelima indera manusia, yaitu: penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa.
1. Penciptaan Suasana
Penciptaan suasana (atmospherics) berarti desain lingkungan melalui komunikasi visual, pencahayaan, warna, musik, dan wangi-wangian untuk merancang respon emosional dan persepsi pelanggan dan untuk
mempengaruhi pelanggan dalam membeli barang (Utami, 2006:238). Penciptaan suasana dapat dilakukan melalui komunikasi visual, pencahayaan, warna, dan wangi-wangian.
2. Komunikasi Visual
Komunikasi visual yang terdiri atas grafik, papan tanda, efek panggung, baik di toko dan di jendela toko membantu meningkatkan penjualan dengan memberikan informasi tentang produk dan menyarankan pembeli barang.
3. Pencahayaan
Pencahayaan toko bukan merupakan hal yang sederhana. Pencahayaan digunakan untuk memberikan sorotan (highlight) pada barang dagangan. Pencahayaan toko yang baik akan mempengaruhi keinginan pelanggan untuk berbelanja.
4. Warna
Penggunaan warna yang kreatif bisa meningkatkan kesan ritel dan menciptakan suasana hati. Penelitian menunjukkan bahwa warna-warna hangat (merah dan kuning) menghasilkan efek psikologis dan fisiologis yang berlawanan dari warna-warna dingin (biru dan hijau), yang berlawanan pada spektrum warna. Warna hijau dan biru adalah warna tenang, damai, dan menyenangkan. Warna-warna dingin paling efektif bagi ritel dalam menjual produk-produk dengan harga yang mahal atau jasa seperti yang ada pada ruangan dokter gigi.
5. Wangi-wangian
Banyak keputusan membeli yang didasarkan pada emosi, dan bau yang memiliki dampak yang besar pada emosi konsumen. Bau, lebih dari indera yang lainnya, adalah penentu perasaan gembira, kelaparan, jijik, dan nostalgia. Penelitian menunjukkan bahwa wangi-wangian memiliki dampak positif pada pembelian dan kepuasan pelanggan. Penelitian lain menyatakan bahwa meskipun ada tidaknya wangi-wangian mempengaruhi penilaian dan perilaku konsumen tentang toko, sifat wangi-wangian tersebut tidak menjadi hal yang penting. Toko-toko yang menggunakan wangi-wangian bisa meningkatkan pengalaman berbelanja subjektif pelanggan dengan membuat mereka merasa menghabiskan sedikit waktu untuk melihat barang atau menunggu tenaga penjualan atau antrean di kasir.
E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Cleland da Bruno dalam Simamora (2003:35) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku individu dalam pengambilan keputusan pembelian di lingkungan eceran terdiri dari fasilitas yang meliputi faktor harga, produk, dan faktor non produk.
Pemilik toko atau pramuniaga dalam menghadapi konsumen lebih bersifat mengkondisikan perilaku yang memungkinkan konsumen termotivasi untuk membeli, namun keputusan membeli sepenuhnya diserahkan kepada konsumen. Misalnya barang-barang disusun dengan berbagai bentuk yang menarik konsumen, display barang disusun teratur yang memungkinkan menjadi pusat
perhatian konsumen, produk ditampilkan dengan berbagai merek yang menarik. (Mangkunegara, 2005:54)
F. Pengertian Perpustakaan
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pengertian perpustakaan mengalami perkembangan. Sebagian besar penulis bidang perpustakaan di Indonesia mengacu tulisan Sulistya Basuki dalam Lasa HS (2005:48) yang menyatakan bahwa perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Berdasarkan pengertian ini, perpustakaan diidentikkan dengan ruangan, koleksi, penyimpanan, dan pemanfaatan. Sebagai lembaga keilmuan, perpustakaan tidak disyaratkan tenaga pengelolanya yang semestinya dikelola oleh tenaga terdidik.
Sesuai dengan perkembangan akhir-akhir ini perpustakaan perlu dipahami bukan sekadar sebagai lembaga yang mengelola buku dan terbitan lainnya, tetapi juga mengelola sumber informasi dengan memanfaatkan teknologi informasi. Oleh karena itu, diperlukan tenaga yang menguasai keahlian (skill) dan keterampilan dalam bidang tersebut.
Lasa Hs (2005:48) menyatakan bahwa perpustakaan merupakan sistem informasi yang di dalamnya terdapat aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian dan penyajian serta penyebaran informasi. Informasi meliputi produk intelektual dan artistik manusia. Pelaksanaan aktivitas tersebut
memerlukan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan formal atau nonformal di bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi.
1. Jenis Perpustakaan
Banyaknya tanggapan yang berbeda-beda terhadap berbagai faktor menyebabkan timbulnya berbagai jenis perpustakaan. Adapun jenis perpustakaan adalah sebagai berikut:
a. Perpustakaan Internasional b. Perpustakaan Nasional c. Perpustakaan Umum d. Perpustakaan Pribadi e. Perpustakaan Khusus f. Perpustakaan Sekolah
g. Perpustakaan Perguruan Tinggi 2. Perpustakaan Perguruan Tinggi
Perpustakaan perguruan tinggi merupakan unsur penunjang perguruan tinggi, yang bersama-sama dengan unsur penunjang lainnya, berperan serta dalam melaksanakan tercapainya visi dan misi perguruan tingginya (Departemen Pendidikan Nasional, 2004:3). Yang dimaksud dengan perguruan tinggi adalah universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, politeknik, dan perguruan tinggi lain yang sederajat. Adapun tugas perpustakaan perguruan tinggi adalah mengembangkan koleksi, mengolah dan merawat bahan perpustakaan, memberi layanan, serta melaksanakan administrasi perpustakaan. Kelima tugas tersebut dilaksanakan dengan sistem administrasi dan organisasi yang berlaku bagi penyelenggaraan sebuah perpustakaan di perguruan tinggi. Sebagai unsur
penunjang perguruan tinggi dalam mencapai visi dan misinya, perpustakaan memiliki berbagai fungsi sebagai berikut:
a. Fungsi Edukasi
Perpustakaan merupakan sumber belajar para sivitas akademika, oleh karena itu koleksi yang disediakan adalah koleksi yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran, pengorganisasian bahan pembelajaran setiap program studi, koleksi tentang strategi belajar megajar dan materi pendukung pelaksanaan evaluasi pembelajaran.
b. Fungsi Informasi
Perpustakaan merupakan sumber informasi yang mudah diakses oleh pencari dan pengguna informasi.
c. Fungsi Riset
Perpustakaan mempersiapkan bahan-bahan primer dan sekunder yang paling mutakhir sebagai bahan untuk melakukan penelitian dan pengkajian ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Koleksi pendukung penelitian di perpustakaan perguruan tinggi mutlak dimiliki, karena tugas perguruan tinggi adalah menghasilkan karya-karya penelitian yang dapat diaplikasikan untuk kepentingan pembangunan masyarakat dalam berbagai bidang.
d. Fungsi Rekreasi
Perpustakaan harus menyediakan koleksi rekreatif yang bermakna untuk membangun dan mengembangkan kreativitas, minat dan daya inovasi pengguna perpustakaan.
e. Fungsi Publikasi
Perpustakaan selayaknya juga membantu melakukan publikasi karya yang dihasilkan oleh warga perguruan tingginya yakni sivitas akademik dan staf non-akademik.
f. Fungsi Deposit
Perpustakaan menjadi pusat deposit untuk seluruh karya dan pengetahuan yang dihasilkan oleh warga perguruan tingginya.
g. Fungsi Interpretasi
Perpustakaan sudah seharusnya melakukan kajian dan memberikan nilai tambah terhadap sumber-sumber informasi yang dimilikinya untuk membantu pengguna dalam melakukan dharmanya.
G. Pengertian Minat Berkunjung
Menurut KBBI (2005:744), minat diartikan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, atau keinginan yang kuat. Berkunjung diartikan pergi atau datang untuk menengok sesuatu (KBBI, 2005:614). Jadi minat berkunjung itu sendiri adalah keinginan yang kuat untuk berkunjung (membeli jasa yang ada), dalam hal ini jasa perpustakaan.
A. Sejarah Singkat Perpustakaan
Perpustakaan USU didirikan pada tahun 1970. Kemudian perpustakaan ini menjadi perpustakaan sentral yang dimulai dengan bergabungnya sejumlah perpustakaan fakultas dan pindah ke gedung baru yang diresmikan pada tanggal 2 Nopember 1987 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Bila ditelusur kembali sejarah USU, perpustakaan pertama didirikan di lingkungan USU adalah Perpustakaan Fakultas Kedokteran (1952) dan kemudian disusul oleh Perpustakaan Fakultas Hukum (1954). Ketika itu USU masih merupakan sebuah Yayasan yang kemudian diserahkan kepada pemerintah serta diresmikan sebagai Perguruan Tinggi Negeri ke tujuh di Indonesia pada tanggal 20 Nopember 1957.
Perpustakaan USU menempati sebuah gedung berlantai empat dengan luas sekitar 6.090 meter persegi yang terletak di tengah-tengah kampus. Disamping itu, ada beberapa perpustakaan tingkat fakultas dan departemen yang terdapat di lokasi masing-masing. Gedung perpustakaan dikelilingi areal taman dan parkir seluas sekitar 4 Ha. Gedung perpustakaan dapat menampung sekitar 900 orang pembaca dalam waktu yang bersamaan dan pada masa kuliah (Agustus s.d. Desember dan Februari s.d. Juni). Perpustakaan biasanya sangat ramai sehingga ada kalanya dalam memperoleh layanan tertentu mahasiswa harus antrian terutama pada jam-jam sibuk.
Apabila dibandingkan dengan dua dekade sebelumnya perpustakaan mengalami perkembangan pesat sejak lima belas tahun terakhir. Sejak tahun 1991, perpustakaan mulai melakukan perubahan mendasar dalam berbagai aspek
pelayanannya dengan menerapkan manajemen baru untuk memberdayakan sivitas akademika USU. Perpustakaan benar-benar berorientasi pada kepentingan mahasiswa sebagai pelanggan utama USU. Prinsip kewirausahaan yang mengutamakan kepuasan pelanggan dijadikan sebagai filosofi penyelenggaraan pelayanan. Upaya tersebut menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan ditandai dengan meningkatnya penggunaan fasilitas perpustakaan oleh mahasiswa dengan pertumbuhan rata-rata antara 15 s.d. 25 % setiap tahun dalam kurun waktu 1991 sampai dengan 2007.
Perpustakaan sebagai fasilitas penunjang utama program Tridharma memiliki peranan yang besar dalam mendukung misi dan tujuan USU sebagai pusat pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas, pusat pendidikan yang mampu bersaing secara global dan mampu mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan lingkungan kerja, penelitian yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta sebagai pusat konsultasi dan rujukan bagi dunia usaha/industri. Berkaitan dengan itu, perpustakaan terus berupaya untuk menyelaraskan peranannya dalam mengikuti dinamika perkembangan USU.
B. Struktur Organisasi Perpustakaan Universitas Sumatera Utara
Seluruh kegiatan perpustakaan dilayani oleh 98 orang staf yang terdiri dari 45 orang dengan latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi dan 53 orang asisten perpustakaan dan staf administrasi, dengan perincian 47 orang adalah PNS dan 51 orang adalah tenaga honorer.
Sehubungan dengan perubahan status USU dari PTN menjadi PT_BHMN (PP No. 56 Tahun 2003) sejak tanggal 11 Nopember 2003, organisasi dan tata kerja perpustakaan mengalami perubahan mengikuti Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) USU. Struktur organisasi yang baru telah ditetapkan dengan SK Rektor USU No.1177/J05/SK/KP/2005 pada tanggal 12 September 2005.
Sesuai dengan struktur organisasi dan tata kerja yang baru, perpustakaan dipimpin oleh Kepala Perpustakaan dan dibantu oleh Wakil Kepala, 3 orang Kepala Sub Bidang, 12 orang Ketua Tim dan 1 orang Kepala Sub Bagian Tata Usaha. Kepala Perpustakaan juga dibantu oleh tiga orang staf ahli masing-masing untuk bidang pengembangan sistem, pelatihan perpustakaan dan pengelola American Corner. Adapun struktur organisasi perpustakaan yang baru adalah seperti berikut:
Sumber : LAKIP Perpustakaan USU, 2007
Gambar 3.1 : Struktur Organisasi Perpustakaan per 12 September 2005 Kepala Perpustakaan dan
Sistem Informasi Wakil Kepala Perpustakaan Kelompok Pustakawan Staf Ahli Kepala Sub Bagian TU
Kepala Sub Bidang Dukungan Teknis
Kepala Sub Bidang Pelayanan Pengguna
Kepala Sub Bidang Manajemen Koleksi dan
Cabang Ketua Tim Pengadaan Ketua Tim Pengatalogan dan Data Bibliografis Ketua Tim Dukungan TIK dan
E-Library Ketua Tim Pemeliharaan Koleksi Ketua Tim Sirkulasi
Ketua Tim Rujukan dan Bantuan
Pengguna
Ketua Tim Penataan Bahan Pustaka Cetak
(1)
Ketua Tim Penataan Bahan Pustaka cetak
(2) Ketua Tim Perpustakaan Cabang Ketua Tim Manajemen Koleksi Ketua Tim Koleksi khusus Ketua Tim Layanan Digital
C. Visi, Misi, dan Tujuan Perpustakaan
Cita-cita Perpustakaan USU dituangkan dalam Visi sebagai berikut: “Menjadi suatu perpustakaan pendidikan tinggi terkemuka dalam pelayanan terhadap sivitas akademikanya”. Untuk mencapai cita-cita tersebut, maka Misi yang diemban oleh perpustakaan adalah: “Menyediakan akses terhadap informasi dan layanan informasi secara tepat waktu, tepat guna dan efektif untuk mendukung fungsi Tridharma Universitas Sumatera Utara melalui pengadaan dan penyediaan bahan pustaka serta membantu mahasiswa dan dosen, sehingga menjadi terampil dalam menemukan informasi yang relevan dengan kebutuhan mereka”. Berdasarkan Visi dan Misi tersebut, Tujuan Perpustakaan ditetapkan sebagai berikut:
1. Mendukung fungsi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat USU dengan mengidentifikasi, memilih, mengadakan, mengatalog, memproses dan menjadikan bahan pustaka tersedia dengan memperhatikan faktor relevansi, kemutakhiran, keseimbangan dan pemeliharaan koleksi.
2. Menyediakan fasilitas yang memudahkan penggunaan koleksi dan pelayanan.
3. Menyediakan suatu lingkungan fisik yang tepat untuk memungkinkan staf dapat mencapai dan memelihara kinerja yang baik dan meningkatkan karir.
4. Mengupayakan agar pelayanan perpustakaan disediakan secara efektif dan efisien dengan memanfaatkan perkembangan di bidang teknologi informasi.
5. Mengoptimalkan resource sharing dan jaringan tingkat lokal, regional, nasional dan internasional.
6. Merencanakan, mempromosikan dan mengimplementasikan dan mengevaluasi kegiatan perpustakaan dalam kerangka proses penyelenggaraan pendidikan, dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat di lingkungan USU.
7. Mengupayakan manajemen dan struktur organisasi yang tepat untuk mencapai tujuan dan sasaran perpustakaan.
D. Rencana Strategis
Rencana strategis Perpustakaan USU Tahun 2007 digariskan 7 (tujuh) program pengembangan utama antara lain:
1. Pengembangan Koleksi
2. Pengembangan Pelayanan Pengguna 3. Pengembangan Gedung
4. Pengembangan Ketenagaan
5. Pengembanagn Peralatan dan Perabotan
6. Pengembangan Jaringan Sistem Informasi Perpustakaan 7. Pengembangan Manajemen
Untuk tahun 2007, ketujuh program pengembangan utama tersebut dijabarkan dalam bentuk implementasi program berupa uraian sasaran yang dapat dianalisis persentase pencapaiannya dalam kurun waktu satu tahun dengan merumuskan indikator sasaran pencapaian. Penjabaran Rencana Strategis Perpustakaan Tahun 2007 adalah seperti terlihat pada Tabel 3.1 di bawah ini.
Tabel 3.1 : Rencana Strategik Perpustakaan USU Tahun 2007
TUJUAN SASARAN CARA MENCAPAI TUJUAN
DAN SASARAN KE T. URAIAN INDIKATO R KEBIJAK AN PROGRAM 1 2 3 4 5 6 1. Mendukung fungsi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat USU dengan mengidentifikasi , memilih, mengadakan, mengatalog, memroses dan menjadikan bahan pustaka tersedia dengan memperhatikan faktor relevansi, kemutakhiran, keseimbangan dan pemeliharaan koleksi 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. 1.6. Tercapainya peningkatan jlh koleksi perpustakaan Bahan pustaka perolehan baru selesai dikatalog Tercapainya peningkatan pemeliharaan bahan pustaka Meningkatny a jumlah peminjaman buku Meningkatny a jumlah pengunjung perpustakaan Meningkatny a jumlah pengguna bahan elektronik - - - - - - Persentase peningkatan jumlah koleksi perpustakaan Persentase peningkatan pengatalogan bahan pustaka Persentase peningkatan pemeliharaan bahan pustaka Persentase peningkatan jumlah peminjaman buku Persentase peningkatan jumlah pengunjung perpustakaan Persentase penigkatan jumlah pengguna bahan elektronik -Mempersiap kan bahan pustaka yang relevan dengan kebutuhan pemakai Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pemakai untuk memanfaatk an layanan perpustakaan 1.1.1 1.1.2 1.1.3 1.1.4 1.1.5 1.1.6 Pengadaan bahan pustaka Pengatalogan dan entri data bibliografis Pemeliharaan bahan pustaka Pelayanan sirkulasi Pengunjung perpustakaan Layanan Digital 2. Menyediakan fasilitas yang memudahkan penggunaan koleksi pustakaan 2.1. Tersedianya sarana dan akomodasi pelayanan perpustakaan yang memuaskan - Perbaikan dan pemeliharaan akomodasi - Mempersiap kan sarana akomodasi yang mendukung pelayanan 2.1.1 Perbaikan kamar mandi, atap dan pemeliharaan taman 3. Menyediakan suatu lingkungan fisik yang tepat untuk memungkinkan staf dapat mencapai dan memelihara kinerja yang baik dan meningkatkan karir 3.1. Tersedianya peralatan perabotan dan bahan kerja yang mendukung - Penyediaan peralatan perabotan dan bahan kerja - Mempersiap kan peralatan, perabotan dan bahan kerja untuk mendukung pelayanan perpustakaan 3.1.1 Pengadaan komputer, peralatan pengaman koleksi, perabot dan bahan kerja (ATK)
agar pelayanan perpustakaan disediakan secara efektif dan efisien dengan memanfaatkan perkembangan di bidang teknologi informasi sistem perpustakaan