• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Validitas dan Reliabilitas Instrumen

4.5 Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas (karakteristik personal auditor, etika audit, dan pengalaman auditor) terhadap variabel terikat (penyimpangan prilaku audit) yang dilakukan pada 110 orang auditor yang bekerja di Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan di Medan.

Analisis Regresi Linear Berganda dalam penelitian ini menggunakan bantuan aplikasi software SPSS. Bentuk perumusannya sebagai berikut:

Y= a + B1X1 + B2X2 +B3X3 + e Tabel 4.14 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 14.553 3.646 3.992 .000 Karakteristik_Personal .130 .061 .178 2.115 .037 Etika .165 .065 .205 2.540 .013 Pengalaman .612 .127 .418 4.817 .000

1. Konstanta (a) = 14,533 , ini menunjukkan tingkat konstan, dimana jika variabel kerakteristik personal (X1), etika (X2),dan pengalaman auditor (X3), adalah 0, maka penyimpangan perilaku (Y) tetap ada sebesar 14,533, dengan asumsi variabel lain tetap.

2. Koefisien X1 = 0,130, ini menunjukkan bahwa variabel karakteristik personal (X1) berpengaruh positif terhadap penyimpangan perilaku. Dengan kata lain, jika variabel karakteristik personal (X1) meningkat sebesar satu satuan perilaku akan meningkat sebesar 0,130 satuan, dengan asumsi variabel lain tetap.

3. Koefisien X2 = 0,165, ini menunjukkan bahwa variabel etika (X2) berpengaruh positif terhadap penyimpangan perilaku. Dengan kata lain, jika variabel etika (X2) meningkat sebesar satu satuan maka penyimpangan perilaku akan meningkat sebesar 0,083 satuan, dengan asumsi variabel lain tetap.

4. Koefisien X3 = 0,612, ini menunjukkan bahwa variabel pengalaman auditor(X3) berpengaruh positif terhadap penyimpangan perilaku. Dengan kata lain, jika variabel pengalaman auditor (X3) meningkat sebesar satu satuan maka penyimpangan perilakuakan meningkat sebesar 0,612 satuan, dengan asumsi variabel lain tetap.

4.5.1 Uji Serempak (Uji F)

Untuk melihat kelayakan model regresi apakah sudah benar dapat dilihat dengan dua cara yakni dengan melihat tabel F pada ANOVA dan melihat nilai

diatas terlihat nilai F hitung (20,965) >F tabel (2,69) maka model regresi dinyatakan layak. Nilai signifikan < 0.05, maka model regresi layak. Dari tabel 4.11 dibawah terlihat nilai signifikan (0,00) < 0,05 maka model regresi dinyatakan layak.

Berdasarkan tabel 4.11 telah menunjukkan nilai Fhitung>F tabel. Hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas (karakteristik personal, etika, dan penyimpanganprilaku audit) yang dilakukan pada 110 orang auditor yang bekerja di Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan di Medan.

4.5.2 Uji Parsial (Uji t)

Uji-t (uji parsial) dilakukan untuk melihat secara individu pengaruh secara signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Dengan kriteria pengambilan keputusan:

a. Ho diterima jika thitung< ttabelpada α = 5% b. Ho diterima jika thitung> ttabelpada α = 5%

Nilai ttabel dapat dilihat pada α = 5% yang dipeeroleh dari n-k n= jumlah sampel yaitu 110 orang

k= jumlah variabel yang digunakan yaitu 4

Tabel 4.15 ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 382.002 3 127.334 20.965 .000a Residual 643.816 106 6.074

Total 1025.818 109

a. Predictors: (Constant), Pengalaman, Etika, Karakteristik_Personal b. Dependent Variable: Penyimpangan_Perilaku

maka nilai ttabel 5%(106) adalah 1,65

hasil uji secara parsial dapat dilihat pada tabel 4.12

Tabel 4.16 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 14.553 3.646 3.992 .000 Karakteristik_Personal .130 .061 .178 2.115 .037 Etika .165 .065 .205 2.540 .013 Pengalaman .612 .127 .418 4.817 .000

a. Dependent Variable: Penyimpangan_Perilaku Dari tabel 4.12 dapat disimpulkan bahwa

a. Variabel karakteristik personal secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyimpangan perilaku. Hal ini terlihat dari nilai signifikan 0,037<0,05 dan nilai t hitung > nilai t tabel (2,115>1,65).

b. Variabel etika secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyimpangan perilaku. Hal ini terlihat dari nilai signifikan 0,013≤ 0,05 dan nilai t hitung > nilai t tabel (2,540>1,65).

c. Variabel pengalaman auditor secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyimpangan perilaku. Hal ini terlihat dari nilai signifikan 0,000<0,05 dan nilai t hitung > nilai t tabel (4,817>1,65).

4.5.3 Uji Koefisien Determinasi(R2)

Pengujian dengan menggunakan uji koefisien determinasi (R2), yaitu untuk melihat besarnya pengaruh varibel bebas. Uji koefisien determinasi adalah 0≤R2≥1, jika

R-square atau nilai determinan (R2) mendekati satu berarti pengaruh variabel eksogen terhadap variabel endogen kuat.

Tabel 4.17 Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .610a .372 .355 2.46449

a. Predictors: (Constant), Pengalaman, Etika, Karakteristik_Personal b. Dependent Variable: Penyimpangan_Perilaku

Nilai R adalah 0,610, yang berarti hubungan karakteristik personal, etika, dan pengalaman auditor terhadap penyimpangan perilaku sebesar 61%. Artinya hubungan antara variabel X dan Y erat. Besarnya nilai R square pada tabel 4.13 (model summary) adalah 0,372. Angka 0,380 berarti 37,2% besarnya pengaruh variabel eksogen (karakteristik personal, etika, dan pengalaman auditor) terhadap variabel endogen (penyimpangan perilaku). Dengan dengan kata lain variabel endogen pengalaman auditordapat dijelaskan oleh variabel eksogen (karakteristik personal, etika, dan pengalaman auditor) sebesar 38%. Sedangkan sisanya (1-0,372) = 0,628 dapat diterangkan oleh variabel lain diluar karakteristik personal, etika, dan pengalaman auditor.

4.6 Pembahasan

4.6.1 Karakteristik Personal Auditor Terhadap Penyimpangan Perilaku Audit

Menurut Jansen & Glinow (1985) dalam Octamy (2008), perilaku individu merupakan refleksi dari sisi personalitasnya sedangkan faktor situasional yang terjadi saat ini akan mendorong seseorang untuk membuat keputusan. Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa perilaku disfungsional audit dapat disebabkan oleh faktor karakteristik personal auditor (faktor internal) serta faktor situasional saat melakukan audit (faktor eksternal).

Berdasarkan uji t yang dilakukan dalam penelitian ini secara parsial karakteristik personal auditor berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyimpangan perilaku audit di Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan di Kota Medan. Pengaruh antara dua variabel ini dapat dilihat dari nilai Thitung

sebesar 2,115 dan nilai probabilitas sebesar 0,037.

Hal ini sesuai dengan penelitian Donnely et al. (2003) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara lokus kendali eksternal dan keinginan untuk berhenti bekerja dengan tingkat penerimaan perilaku disfungsional dalam audit serta adanya hubungan negatif antara tingkat kinerja pribadi karyawan dengan tingkat penerimaan perilaku disfungsional dalam audit. Namun hal ini berbeda dengan penelitian Irawati, dkk (2005) yang menyatakan terdapat hubungan positif antara lokus kendali eksternal dan keinginan untuk berhenti bekerja dengan penerimaan penyimpangan perilaku audit, sedangkan tingkat kinerja dan harga diri kaitannya dengan ambisi memiliki hubungan positif yang tidak signifikan terhadap penerimaan penyimpangan perilaku audit. Hasil ini juga berbeda dengan penelitian Provita Wijayanti (2009) yang menyatakan karakteristik personal auditor yang bekerja di BPKP wilayah Jawa Tengah dan DIY yaitu locus of control berhubungan positif terhadap penerimaan perilaku disfungsional audit tetapi tidak signifikan.

Pada situasi dimana individu dengan lokus kendali eksternal, mereka cenderung merasa tidak mampu untuk mendapatkan dukungan kekuatan yang dibutuhkannya untuk bertahan dalam suatu organisasi, mereka memiliki potensi

pertahanan mereka (Solar dan Bruehl, 1971 dalam Irawati, dkk, 2005). Dan perilaku ini jelas terlihat dalam situasi dimana pegawai merasakan tingkat struktur atau pengawasan control yang tinggi. Keinginan untuk berhenti bekerja dapat membuat seseorang menjadi kurang peduli terhadap apa yang ia lakukan di dalam organisasinya sehingga lebih dapat terlibat dalam penyimpangan perilaku karena menurunnya ketakukan akan kemungkinan jatuhnya sangsi apabila perilaku tersebut terdeteksi (irawati, dkk, 2005). Komitmen pada organisasi merupakan alat prediksi yang sangat baik untuk beberapa perilaku penting, diantaranya adalah perputaran pegawai, kesetiaan pegawai kepada nilai organisasi dan keinginan untuk melakukan pekerjaan ekstra (untuk melakukan pekerjaan melebihi apa yang seharusnya dikerjakan). Jadi, auditor yang memiliki kecenderungan lokus kendali eksternal, keinginan untuk berpindah kerja dan komitmen pada organisasi lebih dapat menerima penyimpangan perilaku dalam audit.

4.6.2 Etika Audit terhadap Penyimpangan Perilaku Audit

Etika (Ethics) adalah aturan mengenai prinsip-prinsip dan nilai-nilai moral yang mengatur prilaku seseorang atau kelompok mengenai apa yang benar dan apa yang salah.( Daft (2002:167)). Berdasarkan uji t yang dilakukan dalam penelitian ini secara parsial etika audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyimpangan perilaku audit di Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan di Kota Medan. Pengaruh antara dua variabel ini dapat dilihat dari nilai Thitung

Hasil ini sesuai dengan penelitian Ida Suraida (2005) yang menyatakan etika berpengaruh positif signifikan terhadap skeptisisme professional auditor. Sama halnya dengan Ponemon dan Gabhart (1990) yang menemukan bahwa profesi kognitif etika auditor akan mempengaruhi independensi auditor.

Kesadaran etis serta kepedulian pada etika profesi yang merupakan faktor pembentuk ketaatan pada etika hendaknya terus dipelihara dan diingatkan oleh setiap auditor di BPKP, sebagai bekal dalam mempertahankan kredibilitas profesi. Independensi merupakan salah satu nilai etis yang dijabatkan secara tertulis bagi seorang auditor sebagai panduan agar dapat selalu berperilaku etis.

4.6.3 Pengalaman Auditor Terhadap Penyimpangan Perilaku Audit

Pengalaman personel audit akan meningkatkan kompetensi mereka dalam menjalankan setiap penugasan. Personel audit berpengalaman memakai analisis yang lebih teliti, terinci dan runtut dalam mendeteksi gejala kekeliuran dibandingkan dengan analisi yang tidak berpengalaman.

Berdasarkan uji t yang dilakukan dalam penelitian ini secara parsial pengalaman auditor berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyimpangan perilaku audit di Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan di Kota Medan. Pengaruh antara dua variabel ini dapat dilihat dari nilai Thitung sebesar 4,817 dan nilai probabilitas sebesar 0,000.

Hasil ini sesuai dengan penelitian Ida Suraida (2005) yang menyatakan pengalaman audit berpengaruh positif signifikan terhadap skeptisisme professional auditor.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait