BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
B. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan
1. Analisis Regresi Berganda
Regresi berganda dalam penelitian ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah yaitu menguji apakah corporate governance berpengaruh terhadap environmental performance dan environmental disclosure perusahaan. Pengujian regresi berganda ini dilakukan dengan metode backward.
a) Pengaruh Corporate Governance terhadap Environmental Performance
Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
corporate governance yang direpresentasikan dengan proporsi komisaris
independen, jumlah rapat dewan komisaris,komite audit independen, jumlah rapat komite audit, terhadap environmental performance dengan size perusahaan,
leverage, dan profitabilitas sebagai variabel kontrol.
Berdasarkan hasil pengujian regresi berganda terkait pengaruh corporate
commit to user Tabel 4.4
Hasil Regresi Berganda Tahap I
Variabel Koefisien t Sig. (Constant) 1.853 2.492 0.170 Pro_DKI 0.611 0.967 0.340 Rpt_DK 0.014 0.468 0.741 Pro_KAI 2.496 2.193 0.023* Rpt_KA -0.023 -1.730 0.092** Size 0.046 0.435 0.721 Leverage -6.29E-05 -0.040 0.968 Profitabilitas -0.004 -0.638 0.528 R Square 0.179 Adjusted R Square 0.135 F 4.044 Sig 0.026
*Secara statistik signifikan pada tingkat 5% **Secara statistik signifikan pada tingkat 10%
Koefisien Determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh variabel independen mampu menerangkan variabel dependen. Setiap tambahan satu variabel independen, maka R2 pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Oleh karena itu, untuk jumlah variabel independen lebih dari dua, lebih baik menggunakan koefisien determinasi yang telah disesuaikan yaitu Adjusted R2( Ghozali, 2006).
Dari tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa nilai R Square (R2) sebesar 0,179 dan Adjusted R Square (Adjusted R2) sebesar 0,135. Berdasarkan nilai
Adjusted (R2) tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 13,5% variabel
dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen dan variable kontrol dan sisanya sebanyak 86,5% dijelaskan oleh faktor lain.
Dalam tabel tersebut juga menunjukkan nilai F hitung sebesar 4,044 dengan probabilitas 0,026 (p – value < 0,05). Karena nilai F lebih besar dari 4 dan
commit to user
probabilitas jauh lebih kecil dari 5% maka model regresi ini menunjukkan tingkatan yang baik (good overall model fit) sehingga model regresi dapat digunakan untuk memprediksi environmental performance atau dapat dikatakan bahwa proporsi komisaris independen, jumlah rapat dewan komisaris, komite audit independen, jumlah rapat komite audit, size perusahaan, leverage, dan profitabilitas secara bersama – sama berpengaruh terhadap environmental
performance (Ghozali, 2006).
Berdasarkan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, hasilnya menunjukkan bahwa proporsi komite audit independen berpengaruh terhadap
environmental performance sedangkan jumlah rapat komite audit proporsi dewan
komisaris independen, jumlah rapat dewan komisaris, size, leverage, dan profitabilitas tidak berpengaruh terhadap environmental performance.
Proporsi komite audit independen berpengaruh (p – value sebesar 0,023) terhadap environmental performance. Hal ini mengindikasikan bahwa peran dan tanggung jawab anggota komite audit independen telah berfungsi sebagai mana mestinya. Hasil ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan Collier (2003); Menon dan Williams (1994) bahwa keberadaan anggota komite audit yang independen berpengaruh positif terhadap kinerja lingkungan hidup perusahaan.
Di Indonesia keberadaan komite audit masih merupakan hal yang relatif baru. Perkembangan komite audit di Indonesia sangat terlambat dibandingkan dengan negara lain, hal ini antara lain disebabkan karena pemerintah baru menetapkan kebijakan tentang pemberlakuan komite audit pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tertentu pada tahun 1999. Selain itu anjuran dari Bapepam
commit to user
kepada perusahaan yang telah go – public agar memiliki komite audit baru ditetapkan pada tahun 2000. Mengingat pentingnya keberadaan komite audit dalam meningkatkan performance perusahaan, terutama dari aspek pengendalian, maka 33% dari komite audit merupakan pihak eksternal yang independen. Pihak eksternal dipilih karena memiliki pandangan segar dan tidak memiliki hubungan historis dengan perusahaan sehingga kemungkinan kolusi dengan manajemen dapat diperkecil sehingga independensinya dapat dipercaya.
Pada penelitian ini, rerata proporsi komite audit independen di Indonesia (sebesar 63,15%) sudah di atas persyaratan minimal yang ditetapkan oleh Bapepem menunjukkan bahwa penetapan komite audit independen dalam perusahaan bukan hanya sekedar untuk memenuhi ketentuan formal dari pemerintah saja. Tingginya rerata proporsi komite audit independen mengindikasikan bahwa kualitas kontrol oleh komite audit terhadap aktivitas perusahaan semakin baik sehingga semakin besar proporsi komite audit independen dalam perusahaan semakin baik pula kinerja lingkungan perusahaan.
Pada dasarnya komite audit dibentuk guna mencapai tujuan dan mewujudkan peranannya secara efektif. Kesukseskan komite audit tidak hanya ditentukan oleh independensi dan kompetensi saja, tetapi ditentukan pula oleh pola hubungan dan komunikasi. Seperti pendapat yang diungkapkan Carey (1953:680):
“There seems to be no doubt that a direct channel of communications
between the board (committee) and (external dan internal) auditors is very
commit to user
Komunikasi komite audit biasanya dapat dilakukan dalam bentuk pengamatan, analisis laporan dan rapat (diskusi). Hasil – hasil pengamatan dan analisis terhadap sistem pengendalian manajemen, auditor eksternal dan internal selanjutnya dikomunikasikan dan dibahas langsung dalam rapat komite audit. Hal itu diperlukan agar masalah – masalah penting segera menjadi perhatian bersama untuk ditindak lanjuti.
Komite audit dipandang oleh banyak pihak sebagai alat monitoring untuk menghindari kecurangan dalam pelaporan keuangan dan memonitor kinerja manajemen. Komite audit yang melakukan pertemuan secara rutin memungkinkan untuk membahas mengenai penyelesaian pekerjaan, permasalahan yang dihadapi perusahaan dan bersama – sama mencari penyelesaian terbaik untuk perusahaan serta memungkinkan untuk mengevaluasi kinerja lingkungan hidup perusahaan.
Namun, meskipun proporsi komite audit independen berpengaruh positif terhadap environmental performance, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah rapat komite audit berpengaruh secara negatif terhadap kinerja lingkungan hidup perusahaan (koefisien = -0,023, dengan p – value sebesar 0,092 signifikan pada tingkat 10%). Hal ini mengindikasikan bahwa tingginya rerata jumlah pertemuan komite audit di Indonesia sebesar 9,78 dimungkinkan hanya untuk mematuhi ketentuan Bapepam yaitu minimal 4 kali dalam setahun karena seringnya frekuensi komite audit melakukan rapat tidak mejadikan fungsi pengawasan komite audit perusahaan semakin baik dan efektif, sehingga seringnya frekuensi rapat komite audit tidak menjamin perusahaan melakukan kinerja lingkungan hidup yang baik. Kondisi ini seperti yang terjadi pada
commit to user
PT Charoen Pokhpand Indonesia, dimana dalam setahun frekuensi pertemuan komite auditnya sebanyak 47 kali tetapi memiliki kinerja lingkungan yang buruk dimana dalam PROPER perusahaan mendapat peringkat Hitam. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian yang dilakukan Zahra dan Pearce (1989); Menon dan Williams (1994); Raghunandan, Read, Rama (2001); Bradbury, et al. (2004); Kelley, Koh, Toh (2005).
Variabel yang tidak signifikan secara statistik adalah proporsi dewan komisaris independen (ρ – value = 0,340). Hal ini mengindikasikan bahwa peran dan tanggung jawab dewan komisaris independen pada perusahaan di Indonesia belum berfungsi sebagai mana mestinya.
Di Indonesia, pengangkatan atau penambahan anggota dewan komisaris yang independen pada kebanyakan perusahaan dimungkinkan hanya sekedar memenuhi ketentuan formal dari pemerintah saja dan tidak dimaksudkan untuk menegakkan corporate governance yang baik di perusahaan tersebut (Gideon, 2006). Hal menarik dapat dilihat berkaitan dengan independensi, terdapat fenomena di Indonesia yang memberikan jabatan komisaris kepada seseorang bukan berdasarkan kompetensi dan profesionalisme namun hanya sebagai penghargaan atau penghormatan (Surya dan Yustiavanda, 2006) sehingga dapat dikatakan, pemilihan komisaris di Indonesia kurang mempertimbangkan intergritas serta kompetensi. Selain itu, hasil ini mendukung survei dari Asian Development Bank yang menemukan bahwa kuatnya kendali pendiri perusahaan dan kepemilikan saham mayoritas menjadikan dewan komisaris tidak independen dan fungsi pengawasan tidak efektif karena timbulnya masalah dalam koordinasi,
commit to user
komunikasi, dan pembuatan keputusan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Conet, Marcuss dan Tehranian (2006); Gideon (2006); Feltham dan Pae (2000).
Jumlah rapat dewan komisaris (ρ – value = 0,741) tidak mempengaruhi
environmental performance. Hal ini bisa dikarenakan rapat yang dilakukan oleh
dewan komisaris belum dilakukan secara efektif dan hanya sebagai pelengkap saja. Kebanyakan perusahaan di Indonesia dimungkinkan hanya sekedar memenuhi ketentuan formal dari corporate governance guidelines (2007), dimana dewan komisaris harus memiliki skedul atau jadwal pertemuan tetap dan dapat dilakukan pertemuan tambahan sesuai dengan kebutuhan serta pada saat yang tepat, dan tidak dimaksudkan untuk menegakkan corporate governance di dalam perusahaan tersebut (Permatasari, 2009). Hasil ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Vafeas (2003); Brick dan Chidambaran (2007).
Size perusahaan memiliki ρ – value sebesar 0,721, hal ini menunjukkan bahwa size perusahaan sebagai variabel kontrol dalam penelitian ini tidak berpengaruh terhadap environmental performance. Hasil ini sejalan dengan penelitian Darmawanti, Khomsiyah, Rika (2004) yang menyatakan bahwa pengaruh ukuran perusahaan terhadap kinerja belum jelas arahnya karena perusahaan besar belum tentu memiliki kinerja lingkungan yang lebih baik dibanding perusahaan kecil dan sebaliknya perusahaan kecil tidak selalu memiliki
performance yang lebih rendah dibandingkan perusahaan yang lebih besar. Selain
commit to user
masalah keagenan yang besar pula sehingga belum bisa mengoptimalkan
performance dengan lebih baik.
Di Indonesia, ukuran perusahaan tidak memberikan pengaruh bagi kinerja lingkungan hidup perusahaan. Hal ini mungkin disebabkan adanya pandangan perusahaan yang mengangkap belum efektifnya pelaksanaan kinerja lingkungan hidup. Artinya, aktivitas pelestarian dan kepedulian terhadap lingkungan hidup ini belum dianggap sebagai kebijakan yang akan berdampak positif di masa yang akan datang. Selain itu, semakin besar ukuran perusahaan tidak menjamin perusahaan concern terhadap lingkungan karena adanya anggapan bahwa melakukan aktivitas pelestarian lingkungan hidup hanya menambah pengeluaran perusahaan sehingga dapat mengurangi kekayaan dan keuntungan perusahaan (Utama, 2007).
Leverage sebagai variabel kontrol memiliki ρ-value 0,968 pada tingkat
signifikan 5% sehingga dapat disimpulkan bahwa leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja lingkungan perusahaan. Koefisien leverage pada tabel 4.4 menunjukkan nilai yang negatif. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat leverage maka semakin rendah tingkat environmental performance perusahaan. Perusahaan dengan tingkat ketergantungan terhadap utang yang tinggi cenderung memiliki kinerja lingkungan yang rendah, hal ini dikarenakan utang perusahaan diprioritaskan untuk membiayai operasional perusahaan bukan digunakan untuk melakukan upaya pelestarian lingkungan hidup.
Dalam penelitian ini juga ditunjukkan bahwa profitabilitas (ROE) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja lingkungan hidup perusahaan. Hal
commit to user
ini ditunjukkan dengan ρ – value ROEsebesar 0, 528 dimana nilai tersebut diatas 0,05. Koefisien negatif yang ditunjukkan dalam tabel 4.4 menunjukkan hubungan yang negatif antara profitabilitas perusahaan dan kinerja lingkungan perusahaan artinya semakin tinggi profitabilitas maka semakin rendah tingkat kepedulian perusahaan terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup. Hal ini dikarenakan perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi tidak menggunakan sebagian profitnya untuk memperbaiki kinerja lingkungan hidup. Selain itu, perusahaan cenderung enggan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan upaya pelestarian lingkungan karena dapat mengurangi laba perusahaan.
b) Pengaruh Corporate Governance terhadap Environmental Disclosure
Hasil analisis regresi berganda pengaruh corporate governance terhadap
environmental disclosure bisa dilihat dalam ringkasan tabel 4.5. Dari tabel 4.5
menunjukkan bahwa nilai R Square (R2) sebesar 0,108 dan Adjusted R Square
(Adjusted R2) sebesar 0,085. Berdasarkan nilai Adjusted (R2) tersebut, dapat
disimpulkan bahwa sebanyak 8,5% environmental disclosure dapat dijelaskan oleh variabel independen dan variable kontrol dan sisanya sebanyak 91,5% dijelaskan oleh faktor lain.
Dalam tabel 4.5 juga menunjukkan nilai F hitung sebesar 4,625 dengan probabilitas 0,038 (probabilitas < 0,05). Karena nilai F lebih besar dari 4 dan probabilitas jauh lebih kecil dari 5% maka model regresi ini menunjukkan tingkatan yang baik (good overall model fit) sehingga model regresi dapat digunakan untuk memprediksi environmental disclosure atau dapat dikatakan
commit to user
bahwa bahwa variabel – variabel independen dan kontrol secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja lingkungan hidup (Ghozali, 2006).
Tabel 4.5
Hasil Regresi Berganda Tahap II
Variabel Koefisien t Sig. (Constant) 1.853 2.492 0.170 Pro_DKI 1.424 0.965 0.341 Rpt_DK 0.054 1.410 0.167 Pro_KAI -1.875 -0.648 0.521 Rpt_KA -0.015 -0.385 0.703 Size 0.217 2.151 0.038* Leverage 0.010 0.212 0.833 Profitabilitas 0.150 1.217 0.210 R Square 0.108 Adjusted R Square 0.085 F 4.625 Sig 0.038
*Secara statistik signifikan pada tingkat 5%
Secara parsial, variabel yang berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan lingkungan hidup hanya ada satu, yaitu Ukuran Perusahaan (ρ –
value = 0,038), sedangkan untuk variabel proporsi dewan komisaris independen (ρ
– value= 0,341), jumlah rapat dewan komisaris (ρ – value = 0,167), proporsi
komite audit independen (ρ – value = 0,521), jumlah rapat komite audit (ρ –
value = 0,703), leverage (ρ– value = 0,833), dan profitabilitas (ρ – value = 0,210)
tidak berpengaruh signifikan karena ρ– valu e > 0,05.
Pada variabel proporsi dewan komisaris independen, memiliki nilai ρ –
value 0,341 yang lebih besar daripada tingkat signifikansi 5% sehingga
commit to user
terhadap environmental disclosure perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa peran dan tanggungjawab dewan komisaris independen pada perusahaan di Indonesia belum berfungsi sebagaimana mestinya. Namun hasil penelitian ini dapat diterima mengingat lemahnya praktik corporate governance di Indonesia (Mintara, 2008).
Dalam kenyataannya dapat dilihat bahwa tidak ada keharusan bagi perusahaan untuk mengungkapkan tentang kondisi dan struktur corporate
governance khususnya yang berkaitan dengan tanggung jawab dan indepedensi
dewan komisaris. Hal lain yang juga mendasari adalah meskipun Bapepam telah mengatur jumlah keberadaan komisaris independen, namun dalam praktiknya belum ada mekanisme tentang bagaimana pemegang saham memilih komisaris independen ini, sehingga walaupun dewan komisaris ini telah ada namun tidak diketahui bagaimana penunjukkannya. Kondisi yang demikian masih memperluas kesempatan bagi beberapa pihak untuk melakukan praktik KKN, salah satunya dengan penunjukkan anggota komisaris independen yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan direksi perusahaan. Hal ini akan sangat melemahkan aplikasi corporate governance, karena dengan adanya transaksi dengan orang dalam (insider transaction), penyelewengan (fraud) dan sebagainya akan membawa corporate governance dalam kondisi yang semakin terpuruk dan hal ini akan membawa imbas pada pengungkapan informasi yang menjadi bagian dalam transparansi sebagai salah satu prinsip corporate governance. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Laras (2009), Robert (1992), Davey (1982), dan Ng (1985).
commit to user
Jumlah rapat dewan komisaris memiliki ρ– value 0,167, ini menunjukkan bahwa jumlah rapat dewan komisaris tidak mempengaruhi environmental
disclosure. Hal ini mengindikasikan bahwa peraturan yang ditetapkan belum
berjalan baik di Indonesia. Peraturan yang ada hanya dijalankan sebagai formalitas demi menjaga image perusahaan itu sendiri. Kebanyakan perusahaan di Indonesia dimungkinkan hanya sekedar memenuhi ketentuan formal dari
corporate governance guidelines (2007), dimana dewan komisaris harus memiliki
skedul atau jadwal pertemuan tetap dan dapat dilakukan pertemuan tambahan sesuai dengan kebutuhan serta pada saat yang tepat, dan tidak dimaksudkan untuk menegakkan corporate governance di dalam perusahaan tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian Permatasari (2009) yang menyatakan bahwa jumlah rapat dewan komisaris tidak berpengaruh positif terhadap environmental disclosure di Indonesia.
Proporsi komite audit independen dengan ρ – value 0,521 juga tidak berpengaruh terhadap pengungkapan informasi lingkungan hidup perusahaan. Hasil ini konsisten dengan penelitian Suhardjanto (2008) dan Permatasari (2009),
karena seharusnya keberadaan komite audit independen mendukung prinsip responsibilitas dalam penerapan corporate governance, yang menekan perusahaan untuk memberikan informasi lebih baik terutama keterbukaan dan penyajian yang jujur dalam laporan tahunan (FCGI, 2002).
Sommer (1991) berpandangan bahwa komite audit di banyak perusahaan masih belum melakukan tugasnya dengan baik. Menurut pendapat Sommer, banyak komite audit yang hanya sekedar melakukan tugas-tugas rutin, seperti
commit to user
review laporan dan seleksi auditor eksternal, dan tidak mempertanyakan secara kritis dan menganalisis secara mendalam kondisi pengendalian dan pelaksanaan tanggungjawab oleh manajemen. Penyebabnya diduga bukan saja karena banyak dari mereka tidak memiliki kompetensi dan independensi yang memadai, tetapi juga karena banyak yang belum memahami peran pokoknya (Manao, 1997)
Seperti halnya dewan komisaris independen, proses penunjukkan anggota komite audit independen masih belum jelas dan terbuka, sehingga independensinya masih patut diragukan (Yunita, 2008). Sehingga dimungkinkan pemilihan komite audit di Indonesia kurang mempertimbangkan intergritas serta kompetensi. Hal ini tentu saja akan memberikan dampak negatif pada aplikasi
corporate governance dan merendahkan kualitas informasi yang diberikan
perusahaan karena banyaknya kesempatan untuk memanipulasi dan mempermainkan data.
Jumlah rapat komite audit secara statistik tidak berpengaruh signifikan terhadap environmental disclosure dengan ρ– value sebesar 0,703. Sama halnya dengan rapat dewan komisaris, rapat komite audit belum berfungsi secara maksimal dikarenakan ada kecenderungan bahwa hal tersebut hanya merupakan wujud kepatuhan terhadap aturan saja sehingga rapat yang dilakukan oleh sehingga belum dilakukan secara efektif dan hanya sebagai pelengkap saja. Kebanyakan perusahaan di Indonesia dimungkinkan hanya sekedar memenuhi ketentuan formal dari corporate governance guidelines (2007), dimana komite audit harus memiliki skedul atau jadwal pertemuan minimal 4 kali dalam 1 tahun, dan tidak dimaksudkan untuk menegakkan corporate governance di dalam
commit to user
perusahaan tersebut (Permatasari, 2009). Hal ini sejalan dengan penelitian Permatasari (2009) yang menemukan bahwa tidak terdapat pengaruh positif jumlah rapat komite audit terhadap environmental disclosure.
Dalam penelitian ini juga terdapat tiga variabel kontrol yang juga turut diujikan yaitu firm size, leverage, dan profitabilitas.
Variabel kontrol yang pertama yaitu ukuran perusahaan (firm size). Size perusahaan memiliki nilai ρ– value sebesar 0,038 (ρ– value lebih kecil dari pada tingkat signifikansi) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan lingkungan perusahaan.
Di Indonesia, rerata size perusahaan yang diukur dengan total aktiva berjumlah sebesar Rp 31.464.000.000.000,00 dimana perusahaan dengan total aktiva yang besar akan memiliki cukup dana untuk berinvestasi pada teknologi dan manajemen lingkungan yang baik sehingga sistem manajemen lingkungan yang baik akan memotivasi perusahaan untuk melakukan pengungkapan demi menjaga reputasi perusahaan. Selain itu, perusahaan besar melakukan lebih banyak aktivitas dan memberikan dampak yang lebih besar. Hal ini membuat
stakeholders lebih peduli terhadap environmental disclosure yang dilakukan
perusahaan (Cowen et al. dalam Hackstone dan Milne, 1996) sehingga perusahaan besar cenderung mempunyai permintaan informasi yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil (Andrew et al, 1989; Suhardjanto, 2008). Selain itu, menurut Watt dan Zimmerman (1986); Pitts dan Walance dalam Zang et al, (2005), perusahaan besar mendapat perhatian lebih dari media, pembuat keputusan dan
commit to user
regulasi sehingga mereka akan memperluas praktek disclosure – nya daripada perusahaan yang lebih kecil.
Leverage sebagai variabel kontrol memiliki ρ – value 0,833 pada tingkat
signifikan 5% sehingga dapat disimpulkan bahwa leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan lingkungan perusahaan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Watts dan Zimmerman (1986); Jensen dan Meckling (1976); Marwata (2001); dan Laras (2009) yang menemukan bahwa perusahaan yang memiliki leverage yang tinggi akan mengurangi disclosure perusahaan yang dibuatnya untuk mengurangi sorotan bondholder. Selain itu, Kent dan Chan (1994) menyatakan bahwa kreditur bukan merupakan kelompok stakeholder yang meminta informasi lingkungan hidup. Oleh karena itu, struktur utang tidak memberi pengaruh pada pengungkapan lingkungan hidup.
Sementara itu profitabilitas memiliki ρ – value = 0,210 yang lebih besar daripada tingkat signifikasi 5% sehingga disimpulkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap environmental disclosure. Mengingat budaya yang berkembang di Indonesia yang beranggapan bahwa praktik corporate
governance hanyalah merupakan suatu bentuk kepatuhan (conformance) terhadap
peraturan atau ketentuan dan bukannya sebagai suatu sistem yang diperlukan perusahaan untuk meningkatkan kinerja (Mintara, 2008), dapat disimpulkan bahwa perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi tidak menggunakan sebagian profitnya untuk memperbaiki kualitas informasi. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Belkaoui dan Karpik (1989) dalam Anggraini (2006) yang menyatakan bahwa pengungkapan informasi perusahaan justru memberikan
commit to user
kerugian kompetitif (competitive disadvantage) karena perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengungkapkan informasi tersebut. Hasil ini konsisten dengan penemuan riset sebelumnya seperti Cowen, Ferreri Dan Parker (1987), Patten (1991); Hackston Dan Milne (1996); Suda dan Kokubu (1994); Park (1999); Yuliani (2003); Sembiring (2003); Choiriyah (2010) dan Diah (2010). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa profitabilitas yang tinggi dari suatu perusahan tidak menjamin bahwa perusahaan tersebut lebih banyak melakukan pengungkapan lingkungan hidup.
2. Uji Korelasi
Uji korelasi Pearson dan Spearman pada penelitian ini digunakan untuk menguji apakah terdapat hubungan antara environmental performance dengan environmental disclosure di Indonesia. Hasil uji korelasi Pearson dan Spearman dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.6 Hasil Uji Korelasi
Env_Perf Env_Disc
Env_Perf Pearson Correlation 1 0.349*
Sig 0.027*
Env_Disc Spearman Correlation 0.335 1
Sig 0.034*
commit to user
Dari hasil uji korelasi baik dengan uji Pearson maupun uji Spearman diperoleh hasil ρ– value 0,027 dan 0,034 yang berada di bawah tingkat signifikan 5%. Hasil ini membuktikan bahwa terdapat hubungan positif antara environmental
performance dengan environmental disclosure di Indonesia. Hal ini
mengindikasikan bahwa: (1) perusahaan yang mengungkapkan tanggungjawab lingkungannya terbukti memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang tidak mengungkapkan tanggungjawab lingkungannya (Pava dan Krausz, 1996; Lindrianasari, 2007); dan (2) perusahaan dengan kinerja lingkungan yang rendah memiliki tingkat pengungkapan lingkungan hidup yang buruk karena umumnya perusahaan tersebut memang memiliki keterbatasan item – item pengungkapan lingkungan hidup (Guthrie dan Parker, 1990).
Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Al – Tuwaijri et al. (2003) yang menyatakan bahwa kinerja lingkungan yang baik akan mendorong dilakukannya pengungkapan yang baik pula. Hal ini seperti yang dilakukan oleh PT Bukit Asam, dimana sesuai hasil PROPER tahun 2008 PT Bukit Asam memperoleh peringkat Hijau atau ”Lebih dari Taat” serta mengungkapkan 7 aspek dari 8 aspek PROPER dalam laporan tahunan perusahaan. PT Bukit Asam dalam
annual report– nya mengungkapkan,
”Perseroan merupakan perusahaan tambang batubara yang menerapkan metode penambangan terbuka, baik secara continues mining dengan menggunakan BWE system maupun secara konvensional dengan menggunakan Shovel & Truck. Untuk mengurangi dampak kegiatan pertambangan bagi lingkungan dan masyarakat, Perseroan melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Parameter indikator sasaran lingkungan yang telah ditetapkan oleh Perseroan pada tahun 2008 adalah sebagai berikut :
commit to user No Parameter Rencana 2008 2008 (Aktual) 1 Melakukan revegetasi lahan (ha) 110 181 2
Menjamin Keluaran Air dari Tambang Memenuhi Baku Mutu Lingkungan (BML) sesuai Per Gub Sumsel No. 18 Th 2005 pH 6 - 9 6.01 - 7.85 TSS <300 mg/lt 2 – 142 Fe < 7 mg/lt 0.018 - 5.76 Mn < 4 mg/lt 0.023-0.986 3
Menjamin Kualitas Udara Ambien dan Emisi Udara di Area Tambang dan
Sekitarnya Memenuhi Baku Mutu