• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Regresi Linear Berganda

2.5 Jumlah Penduduk

2.6.6 Analisis Regresi Linear Berganda

Regresi linear berganda adalah analisis regresi yang menjelaskan hubungan antara perubah respon (variabel dependen) dengan faktor-faktor yang mempengaruhi lebih dari satu prediktor (variabel independen). Regresi linear berganda hampir sama dengan regresi linear sederhana, hanya saja pada regresi linear berganda variabel bebasnya lebih dari satu variabel penjelas. Tujuan analisis regresi linear berganda adalah untuk mengukur pengaruh antara lebih dari satu variabel prediktor (variabel bebas) terhadap variabel terikat. Secara umum model regresi linear berganda adalah sebagai berikut: (Sugiyono, 2005:267).

Y = a + b

1

x

1

+b

2

x

2

+b

3

x

3

…+b

n

x

n

Keterangan :

Y = variabel terikat a = konstanta

b1,b2,b3 = koefisien regresi x1,x2,x3 = variabel bebas

28 Untuk mengaplikasikan model regresi linear berganda di atas perlu dilakukan uji statistik sebagai berikut:

1. Koefesien Determinasi (R2)

Koefesien determinasi adalah proposi variasi dalam variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel independen. Nilai R2 menyatakan kemampuan variabel independen dalam menjelaskan keragaman variabel dependen yang diteliti. R2 memiliki range antara 0≥R2≤1. Apabila R2 bernilai 1 maka garis regresi menjelaskan 100% variasi dalam variabel dependen.

Sedangkan jika R2 bernilai 0 maka garis regresi tidak menjelaskan variasi variabel dependen. Semakin besar nilai R2 , maka semakin baik persamaan model regresi yang diperoleh (Widarjono, 2007:71).

2. Uji F-Statistik

Uji F-Statistik dilakukan untuk melihat apakah semua variabel independen dalam model secara bersama-sama memiliki pengaruh yang nyata terhadap variabel dependen yang diteliti. Uji F statistik dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung (hasil output) dengan nilai F tabel (Widarjono, 2007:73).

3. Uji t-Statistik

Uji t-Statistik atau uji koefesien parsial bertujuan untuk melihat apakah masing-masing variabel independen yang ditentukan dalam model memiliki pengaruh nyata terhadap variabel dependen yang diteliti. Uji t statistik dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung (hasil output) dengan nilai t tabel (Widarjono, 2007:69).

29 2.7 Kerangka Pemikiran

Gambar 4 : Kerangka Pemikiran Permintaan Beras di kabupaten Klaten.

Permintaan Beras di Kabupaten Klaten

Jumlah Penduduk

Harga Beras Pendapatan

Perkapita Harga Ketela

Pohon

Time Series Analisis Regresi Linear Berganda

Uji R2 Uji -t Uji -F Uji Asumsi Klasik

Kesimpulan dan Saran

Hasil dan Pembahasan Elastisitas Permintaan

Beras

30 2.8 Penelitian Terdahulu

Keseluruhan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu dapat dijadikan dasar dan bahan pertimbangan dalam mengkaji penelitian ini.

Penelitian sebelumya dilakukan oleh Endang Wiwin 2010 (Universitas Sebelas Maret), “Analisis Pemintaan Beras di Kabupaten Pati”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel harga beras, harga tepung gandum, harga telur ayam ras, pendapatan perkapita dan jumlah penduduk terhadap permintaan beras di Kabupaten Pati dan menganalisis elastisitas permintaan beras di Kabupaten Pati. Hasil analisis data dengan menggunakan metode regresi linier berganda logaritma natural diketahui persamaan Ln Qd = 5,888 – 0,039 LnX1 + 0,044 LnX2 + 0,015 LnX3 + 0,909 LnX4 fungsi permintaan tersebut kemudian dikembalikan ke bentuk asal sehingga bentuknya menjadi Qd

= 5,888 X1-0,039. X20,044. X40,015. X50,909. e. Nilai R2 sebesar 0,944 yang berarti sebesar 94,4% permintaan beras di Kabupaten Pati dapat dijelaskan oleh variabel harga beras, harga tepung gandum, harga telur ayam ras, pendapatan perkapita dan jumlah penduduk, sedangkan sisanya sebesar 5,6% dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian. Berdasarkan uji F variabel harga beras, harga tepung gandum, harga telur ayam ras, pendapatan perkapita dan jumlah penduduk secara bersama berpengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Pati.

Berdasarkan uji t variabel harga tepung gandum dan jumlah penduduk berpengaruh nyata terhadap permintaan beras pada tingkat kepercayaan 99%.

Variabel harga beras dan pendapatan perkapita berpengaruh nyata terhadap

31 permintaan beras pada tingkat kepercayaan 95%. Sedangkan harga telur ayam ras tidak berpengaruh nyata pada permintaan beras di kabupaten Pati yang ditunjukkan oleh nilai signifikansinya yang lebih besar dari nilai a = 1%, 5%, dan 10%. Sedangkan jumlah penduduk merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap permintaan beras di kabupaten Pati pada tingkat kepercayaan 99%.

Berdasarkan elastisitas harga, permintaan beras bersifat inelastis yang berarti jumlah beras yang diminta berubah dengan persentase yang lebih kecil daripada perubahan harga. Harga tepung gandum memiliki nilai elastisitas silang positif dan merupakan barang subtitusi bagi beras. Berdasarkan elastisitas pendapatan, beras merupakan barang normal yaitu jika pendapatan perkapita naik maka permintaan beras akan meningkat.

1. Penelitian selanjutnya oleh M. Fahreza 2007 (Institut Pertanian Bogor),

“Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Permintaan Tepung Terigu di Indonesia“. Secara umum, penelitian ini ber4ujuan uNtuk mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor harga tepung terigu, harga barang substitusi tepung terigu, dan perubahan pendapatan per kapita masyaraka4 terhadap permintaan tepung terigu di Indonesia. Pene,itian ini juga bertujuan untuk mengetah5i dan menganalisi3 pengaruh krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 ter(adap permintaan tepung terigu di Indonesia. Berdasark!n hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variabel yang mempengaruhi peRmi.taan tepung terigu adalah pendapatan per kapita, harga tepung terigu, dan dummy krisis ekonomi, karena probabilipas lebih kecil dari taraf nyata 5 persen. Sedangkan variabel harga tepung beRas secara

32 statistik tidak signifikan pada taraf nyata 5 p%rsen, hal ini menjelaskan bahwa tepung beras bukan merupakan barang substitusi bagi tepung terigu.

Dari hasil estimasi OLS dapat diketahui bahwa koefisien determinasi sebesar 0.9522. Hal ini menunjukkan bahwa variasi variabel bebas (harga tepung terigu, harga tepung beras, pendapatan masyarakat per kapita dan dummy krisis) mampt dijelaskan sebesar 95.22 persen, sedangkan sisanya sebesar 4.78 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar mode,. Variabel harga tepung terigu (PT) yang signifikan pada taraf nyata 5 persen dengan nilai koefisien sebesar -0.05 menunjukkan bahwa harga tepung terigu (PT) berpengaruh negatif, sehingga sesuai hipotesis bahwa harga tepung terigu (PT) bersifat inelastis. Variabel harga tepung beras (PB) yang tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen dengan nilai koefisien sebesar -0.03 mempunyai hubungan negatif. Temuan empiris ini tidak sesuai dengan hipotesis yaitu tepung terigu dan beras di subsidi pemerintah. Hasil estimash yang diperoleh koefisien elastisitas silang menunjukkan bahwa hubungan tep5ng beras dan tepung terigu tidak bersifat substitusi. Jadi tepung beras bukan merupakan alternatif bahan substitusi tepung terigu untuk menekan l`ju im`or gandum, sehingga perlu dicari alternatif bahan substitusi lain untuk menekan laju impor gandum. Variabel Jumlah permintaan tepung terigu di Indonesia (Y) yang signifikan pada taraf nyata 5 persen dengan nilai koefisien sebesar 0.68 menunjukkan bahwa pendapatan mempunyai hubungan positif. Temuan ini sesuai dengan hipotesis bahwa tepung terigu adalah barang normal.

33 2.9 Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dalam penelitian permintaan beras di kabupaten Klaten adalah sebagai berikut.

a. Data yang digunakan adalah data time series mulai dari tahun 2000 sampai tahun 2010.

b. Permintaan yang dimaksud adalah jumlah beras yang dikonsumsi oleh penduduk (rumah tangga) di kabupaten Klaten.

c. Variabel yang mempengaruhi permintaan beras di kabupaten Klaten dibatasi pada harga beras pada tahun t, harga ketela pada tahun t, pendapatan perkapita penduduk pada tahun t, dan jumlah penduduk pada tahun t.

BAB III

Dokumen terkait