HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Hasil Analisis Kuantitatif
Berikut adalah fungsi permintaan beras di kabupaten Klaten, yang merumuskan hubungan antara permintaan dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Fungsi permintaan beras di kabupaten Klaten menggunakan persamaan regresi linear berganda bentuk logaritma natural dalam pengolahannya. Untuk pembahasan permintaan beras di kabupaten Klaten dapat dilihat pada tabel 13 berikut ini.
Tabel 13 : Pembahasan Permintaan Beras di Kabupaten Klaten.
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh model fungsi permintaan beras di kabupaten Klaten adalah sebagai berikut:
Ln Qd = 5,522 - 0,002 Ln X1 + 0,002 Ln X2 + 0,003 Ln X3 + 0,920 Ln X4
Fungsi permintaan tersebut kemudian dikembalikan ke bentuk asli sehingga bentuknya menjadi :
57
Agar koefisien-koefisien regresi yang dihasilkan dengan metode OLS (Ordinary Least Square) bersifat BLUE (Best Linier Unbiassed Estimated), maka asumsi-asumsi persamaan regresi linear klasik harus dipenuhi oleh model. Uji Validasi terhadap asumsi klasik yang dilakukan meliputi uji deteksi normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi. Berikut ini adalah hasil pengujian model fungsi permintaan beras di Kabupaten Klaten terhadap asumsi klasik.
1. Pada uji normalitas, terlihat dalam grafik Normal P-P plot of regression Standardized Residual (lampiran 9). Terlihat bahwa titik-titik menyebar disekitar garis diagonal dan penyebarannya mengikuti arah garis diagonal (membentuk garis lurus). Sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal dan persamaan model regresi linear berganda bentuk logaritma natural layak dipakai untuk memprediksi permintaan beras di kabupaten Klaten.
2. Pada uji multikolinieritas, diketahui bahwa nilai VIF dari masing-masing variabel independen lebih kecil dari pada 10, yaitu nilai VIF variabel harga
58 beras 7,920; nilai VIF Harga ketela 1,355; nilai VIF variabel pendapatan perkapita 6,840 dan nilai VIF variabel jumlah penduduk 2,722. Sedangkan pada bagian Coefficient Correlations, dapat dilihat bahwa nilai korelasi di antara variabel independen dapat dikatakan mempunyai korelasi yang lemah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa di antara variabel independen tersebut tidak terjadi korelasi yang serius atau tidak terjadi Multikolinearitas pada model regresi linear berganda.
3. Pada uji heteroskedastisitas, kesalahan pengganggu yang muncul dalam fungsi regresi populasi adalah tidak seragam. Pengujian heterokedastisitas menggunakan diagram scatterplot, dapat dilihat pada lampiran 9. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui pada diagram scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pada model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas.
4. Pada uji autokorelasi, tidak ada kesalahan pengganggu pada uji tersebut.
Autokorelasi adalah suatu keadaan dimana kesalahan pengganggu dalam periode tertentu berkorelasi dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya. Dari uji Durbin Watson test diperoleh nilai sebesar 1,682 dimana hal ini menyatakan bahwa tidak terjadi autokorelasi. Hal tersebut karena nilai Durbin Watsonnya berada pada interval :
1,65 < DW < 2,35 : tidak terjadi autokorelasi 1,65 < 1,682 < 2,35 : tidak terjadi autokorelasi
59 5.2.1 Uji R2
Berdasarkan tabel 13 di atas, nilai koefisien determinasi menunjukkan seberapa besar variasi perubah variabel tidak bebas yang dapat dijelaskan oleh variasi perubah variabel bebas. Berdasarkan hasil dari analisis diperoleh nilai (R2) sebesar 0,995. Hal ini menunjukkan bahwa 99,5% permintaan beras di kabupaten Klaten dapat dijelaskan oleh variabel bebas yang digunakan dalam model yaitu harga beras, harga ketela pohon, pendapatan perkapita, dan jumlah penduduk.
Sedangkan sisanya sebesar 0,5 % dijelaskan oleh variabel lain di luar model ini.
5.2.2 Uji F
Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas yang diteliti secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten. Hasil analisis uji F dapat dilihat pada tabel 14 berikut ini.
Tabel 14 : Hasil Analisis Varians Permintaan Beras di Kabupaten Klaten
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Regression .002 4 .000 298.310 .000a
Residual .000 6 .000
Total .002 10
Berdasarkan tabel 14 di atas, dapat diketahui bahwa nilai signifikasi sebesar 0.000 dan lebih kecil dari α = 0,05. Maka H0 ditolak dan H1 diterima, yang artinya variabel-variabel bebas yang diamati dengan tingkat kepercayaan 95% yaitu harga beras, harga ketela, jumlah penduduk dan pendapatan perkapita secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten.
60 5.2.3 Uji-t
Uji-t digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas yang diteliti secara individual terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten. Hasil analisis uji - t dapat dilihat pada Tabel 15 berikut ini.
Tabel 15 : Hasil Analisis Uji -t Masing-masing Variabel Bebas
Taraf signifikasi 0,05 dan DK= -2 (11 - 2 = 9) dari ketentuan tersebut diperoleh angka t tabel 1,833.
Sumber: Santoso, 2010:130
Gambar 5 : Daerah penerimaan dan penolakan HO
Model
61 H0 : Tidak ada pengaruh antara harga beras, harga ketela pohon, pendapatan
perkapita dan jumlah penduduk terhadap permintaan beras.
H1 : Ada pengaruh antara harga beras, harga ketela pohon, pendapatan perkapita dan jumlah penduduk terhadap permintaan beras.
Dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel maka dapat disimpulkan sebagai berikut ini.
a. Variabel harga beras, yaitu -t hitung > -t tabel atau –0,455 < -1,833 maka Ho ditolak dan H1 diterima, artinya harga beras mempunyai pengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten pada taraf kepercayaan 30%.
b. Variabel harga ketela pohon, yaitu t hitung < t tabel atau 1,560 < 1,833 maka Ho diterima dan H1 ditolak, artinya harga ketela pohon tidak mempunyai pengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten pada taraf kepercayaan 80%.
c. Variabel pendapatan perkapita, yaitu t hitung < t tabel atau 0,906 < 1,833 maka Ho diterima dan H1 ditolak, artinya pendapatan perkapita tidak mempunyai pengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten pada taraf kepercayaan 60%.
d. Variabel jumlah penduduk, yaitu t hitung < t tabel atau 19,995 < 1,833 maka Ho ditolak dan H1 diterima, artinya jumlah penduduk mempunyai pengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten pada taraf kepercayaan 99%.
62 5.3 Elastisitas Permintaan Beras di Kabupaten Klaten
Elastisitas permintaan mengukur perubahan relatif jumlah unit barang yang dibeli akibat adanya perubahan salah satu faktor yang mempengaruhinya.
Untuk mengetahui nilai elastisitas dari masing-masing variabel yang mempengaruhi permintaan beras di kabupaten Klaten dapat diketahui dari nilai koefisien regresi masing-masing variabel penduganya. Karena salah satu ciri dari model regresi logaritma berganda adalah nilai koefisien regresi dapat menunjukkan nilai elastisitasnya. Berikut ini adalah penjelasan elastisitas permintaan beras di kabupaten Klaten yang diadopsi dari tabel 13, dapat dilihat sebagai berikut ini.
Tabel 16 : Nilai Elastisitas Permintaan Beras di Kabupaten Klaten.
Variabel Nilai elastisitas
Harga Silang Pendapatan Penduduk Harga Beras (X1) -0,002
Harga Ketela (X2) 0,002
Pendapatan (X3) 0,003
Jumlah Penduduk (X4) 0,920
Hasil analisis elastisitas harga (e) diketahui besarnya elastisitas harga beras sebesar -0,002. Jika harga beras naik 1% maka permintaan beras akan turun sebesar 0,002%. Permintaan beras bersifat inelastis karena nilai koefisien elastisitasnya 0<e<1, yang artinya perubahan harga beras, tidak berpengaruh besar terhadap perubahan permintaan beras di kabupaten Klaten. Walaupun harga beras naik, penduduk tetap membeli dan mengkonsumsi beras seperti biasa.
63 Hasil analisis elastisitas silang (es) diketahui bahwa besarnya elastisitas silang dari harga ketela pohon adalah 0,002. Jika harga ketela pohon naik 1%
maka permintaan beras akan naik sebesar 0,002%. Tanda positif pada nilai elastisitas harga ketela pohon menunjukkan bahwa ketela pohon merupakan barang substitusi dari beras yang menggadung karbohidrat sama dengan beras.
Hasil analisis elastisitas pendapatan (e) diketahui besarnya elastisitas pendapatan adalah 0,003. Jika terjadi kenaikan pendapatan sebesar 1% maka akan mengakibatkan bertambahnya permintaan beras sebesar 0,003%. Angka elastisitas pendapatan (e > 0) menunjukkan bahwa beras termasuk barang normal, artinya jumlah beras yang diminta meningkat apabila pendapatan naik. Akan tetapi karena permintaan beras bersifat inelastis maka apabila terjadi peningkatan pendapatan maka jumlah beras yang diminta berubah dengan proporsi yang lebih kecil dari proporsi kenaikan pendapatan.
Hasil analisis elastisitas jumlah penduduk (e) diketahui besarnya elastisitas jumlah penduduk adalah 0,920. Jika terjadi kenaikan jumlah penduduk 1% maka akan mengakibatkan bertambahnya permintaan beras sebesar 0,920%. Nilai elastisitas jumlah penduduk (0,920<1) menunjukkan bahwa elastisitas jumlah penduduk terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten bersifat inelastis.
Kenaikan jumlah penduduk di kabupaten Klaten tidak berpengaruh besar terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten.
64 5.4 Pembahasan
Beras merupakan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia, dimana lebih dari 95 persen penduduk Indonesia mengkonsumsi beras setiap harinya. Sementara itu beras merupakan komoditi unggulan di kabupaten Klaten.
Permintaan beras di kabupaten Klaten dari tahun 2000-2010 rata-rata meningkat 0,35%. Rata-rata permintaan beras di kabupaten Klaten sebesar 107.902.262,09 kg/tahun. Peningkatan permintaan beras diakibatkan dari meningkatnya pertumbuhan penduduk di kabupaten Klaten.
Hasil analisis uji F, dapat diketahui bahwa nilai signifikasi sebesar 0.000 dan lebih kecil dari α = 0,05. Maka H0 ditolak dan H1 diterima, yang artinya variabel-variabel bebas yang diamati dengan tingkat kepercayaan 95% yaitu harga beras, harga ketela pohon, pendapatan perkapita dan jumlah penduduk secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten.
Hasil analisis uji-t, diketahui bahwa variabel harga beras dan jumlah penduduk berpengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten pada tingkat kepercayaan 30% dan 99%. Sedangkan variabel harga ketela pohon dan pendapatan perkapita penduduk tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten pada tingkat kepercayaan 80% dan 60%. Dari hasil analisis penelitian masing-masing variabel dapat dijelaskan sebagai berikut ini.
65 1. Harga Beras
Hasil analisis uji-t adalah ( -t hitung > -t tabel atau -0,455 > -1,833) harga beras berpengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten pada tingkat kepercayaan 30%. Nilai elastisitas harga beras -0,02 menunjukkan bahwa permintaan beras bersifat inelastis, yang artinya perubahan harga beras, tidak berpengaruh besar terhadap perubahan permintaan beras di kabupaten Klaten.
Beras merupakan kebutuhan pokok sehingga perubahan harga beras tidak begitu berpengaruh terhadap permintaannya. Berapapun meningkatnya harga beras, penduduk tetap akan mengkonsumsi beras. Meskipun dapat dihemat penggunaannya, namun cenderung tidak akan sebesar kenaikan harga beras yang terjadi.
Beras yang merupakan kebutuhan pokok ini memiliki sedikit barang pengganti. Tedy Herlambang, dkk. (2002:103), mengatakan bahwa semakin sedikit produk pengganti suatu produk, maka akan semakin inelastis permintaannya. Hal ini karena konsumen tidak memiliki banyak alternatif barang pengganti. Sehingga walaupun terjadi kenaikan harga yang cukup besar maka jumlah permintaan produk tersebut tidak akan berkurang banyak. Dalam penelitian ini barang substitusi beras hanya ketela pohon, oleh karena itu permintaan beras bersifat inelastis.
Koefisien regresi dari harga beras (-0,002) menunjukkan bahwa, jika harga beras naik 1% maka permintaan beras akan turun sebesar 0,002%. Hal tersebut sesuai dengan hukum permintaan yang menyatakan bahwa semakin
66 meningkat harga suatu komoditi maka jumlah yang akan diminta untuk komoditi tersebut akan turun.
2. Harga Ketela Pohon
Hasil analisis uji-t adalah (t hitung < t tabel atau 1.560 < 1,833) harga ketela pohon tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten pada tingkat kepercayaan 80%. Hal ini dikarenakan belum banyak penduduk yang mengkonsumsi ketela sebagai pengganti beras. Penduduk dahulu banyak yang mengkonsumsi nasi tiwul sebagai pengganti beras, karena sumber karbohidrat tidak jauh berbeda dengan beras. Namun, dewasa kini makanan yang berasal dari ketela sudah jauh ditinggalkan oleh penduduk. Penduduk lebih condong untuk mengkonsumsi beras karena sudah terbiasa dan sulit untuk dirubah pola kosumsi makanan pokoknya.
Koefisien regresi dari harga ketela (0,002) menunjukkan bahwa jika harga ketela pohon naik 1% maka permintaan beras akan naik sebesar 0,002%. Tanda positif pada koefisien regresi menunjukkan ketela pohon merupakan barang substitusi dari beras.
3. Pendapatan Perkapita
Pendapatan merupakan faktor yang penting dalam menentukan variasi permintaan terhadap berbagai jenis barang. Karena besar kecilnya pendapatan dapat menggambarkan daya beli konsumen. Robert S. Pindyck dan Daniel L.
Rubinfeld (2007:124), mengatakan bahwa jika kurva kosumsi pendapatan mempunyai kemiringan positif, jumlah permintaan meningkat bersamaan dengan pendapatan. Akibatnya, elastisitas permintaan karena pendapatan adalah positif.
67 Pada bahan makanan seperti beras, jika pendapatan meningkat maka masyarakat akan meningkatkan konsumsinya terhadap bahan makanan tersebut.
Hasil analisis uji-t adalah (t hitung < t tabel atau 0,906 < 1,833) pendapatan perkapita penduduk tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten pada tingkat kepercayaan 60%. Berapapun kenaikan pendapatan perkapita, penduduk tidak akan menambah kosumsi beras yang signifikan. Dikarenakan beras merupakan kebutuhan pokok dan bersifat inelastis sehingga apabila pendapatan seseorang naik maka konsumsi berasnya tidak akan mengalami perubahan yang terlalu besar. Selain itu, pada kondisi yang terbatas, sebagian besar penduduk di kabupaten Klaten tetap mengkonsumsi beras, karena kabupaten Klaten merupakan salah satu lumbung padi di Jawa Tengah yang menghasilkan produksi beras yang cukup melimpah. Sehingga kebutuhan masyarakat terhadap permintaan beras saat ini sudah dapat tercukupi.
Koefisien regresi dari pendapatan perkapita (0,003) menunjukkan bahwa jika pendapatan perkapita naik 1% maka permintaan beras akan naik sebesar 0,003%. Dengan meningkatnya pendapatan perkapita penduduk di kabupaten Klaten maka permintaan akan beras ikut naik. Namun, kenaikan pendapatan perkapita, penduduk di kabupaten Klaten tidak akan menambah kosumsi beras yang signifikan. Karena beras merupakan kebutuhan pokok dan bersifat inelastis sehingga apabila pendapatan seseorang naik maka konsumsi berasnya tidak akan mengalami perubahan yang terlalu besar.
68 4. Jumlah Penduduk
Hasil analisis uji-t adalah (t hitung > t tabel atau 19,995 > 1,833), variabel jumlah penduduk berpengaruh nyata terhadap permintaan beras di kabupaten Klaten pada tingkat kepercayaan 99%. Hal tersebut dikarenakan terdapat keterkaitan yang erat antara jumlah penduduk dengan permintaan beras.
Keterkaitan yang erat ini sesuai dengan sifat beras yang merupakan makanan pokok yaitu bahan makanan yang setiap orang memerlukannya dengan tingkat konsumsi yang hampir sama perkapitanya. Peningkatan jumlah penduduk akan mengakibatkan meningkatnya permintaan beras, apalagi pola konsumsi dan kebiasaan makan penduduk di kabupaten Klaten masih menempatkan beras sebagai makanan utama. Koefisien regresi dari jumlah penduduk (0,920) menunjukkan bahwa jumlah penduduk naik 1%, maka permintaan beras akan naik sebesar 0,920%.
69 BAB VI