PEMBERIAN KPR ( Y )
2. Uji Heteroskedastisitas
4.3.3. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menggambarkan pengaruh antara satu variabel terikat( keputusan jumlah pemberian KPR ) dengan beberapa variabel bebas ( pendapatan, angsuran, dan agunan ). Adapun hasil analisis regresi linier berganda adalah:
Tabel 4.6 : Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
Model Koefisien Regresi
Konstanta Pendapatan Agunan Angsuran 143871270 5,047 0,221 28,790 Sumber :Lampiran 4
Persamaan regresi yang dihasilkan adalah sebagai berikut : Y = 123871270 + 5,047 X1 + 0,221 X2 + 28,790 X3
βo = nilai konstanta sebesar 143871270 menunjukkan bahwa apabila faktor Pendapatan (X1), Agunan (X2), dan Angsuran (X3) konstan maka Keputusan Kredit KPR naik sebesar 143871270 satu satuan.
β1 = 5,047 menunjukkan bahwa faktor Pendapatan (X1) berpengaruh positif, dapat di artikan apabila setiap ada kenaikan Pendapatan satu satuan maka Keputusan Kredit KPR akan mengalami peningkatan sebesar
β2 = 0,221 menunjukkan bahwa faktor Agunan (X2) berpengaruh positif, dapat diartikan apabila setiap ada kenaikan Agunan satu satuan maka Keputusan Kredit KPR akan mengalami peningkatan sebesar 0,221
dengan asumsi X1, dan X3.
β3 = 28,790 menunjukkan bahwa faktor Angsuran (X3) berpengaruh positif, dapat diartikan apabila setiap ada kenaikan Angsuran satu satuan maka Keputusan Kredit KPR akan mengalami peningkatan sebesar 28,790
dengan asumsi X1, dan X2.
4.3.4 Uji F
Uji F digunakan menguji apakah model regresi linier berganda yang digunakan adalah cocok atau tidak untuk memprediksi besarnya pengaruh pendapatan, agunan, dan angsuran terhadap keputusan jumlah pemberian kredit rumah. Berikut hasil uji F :
Tabel4.7 :Uji F
VariabelBebas Fhitung Sig
Pendapatan ( X1 ) Agunan ( X2 ) Angsuran ( X3 )
26,798 0,000
Sumber :Lampiran 4
Terlihat dari angka F 26,798 dengan Sig.0,00< 0,05: signifikan positif, berarti secara bersama – sama perubahan kedua variable Pendapatan (X1), Agunan (X2), dan Angsuran(X3). mampu menjelaskan perubahan variabel Y (Keputusan Kredit KPR). Dimana [lihat Adjusted R
Square 0,665] atau 66,5% sedang sisanya 34,5 % [100% - 66,5%] dijelaskan oleh variabel lain selain variabel X1, X2, dan X3 Hasil analisis ini menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan untuk teknik analisis ini cocok.
Tabel4.8 :Nilai R2 Variabelbebas R2 R Pendapatan ( X1 ) Agunan (X2 ) Angsuran ( X3 ) 0,691 0,831 Sumber :Lampiran 4 4.3.5. Uji t
Uji t dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh secara parsial variabel pendapatan, agunan, angsuran terhadap keputusan jumlah pemberian kredit rumah.Berikut ini hasil uji t :
Tabel4.9 :uji t
Variabelbebas Thitung Sig
Pendapatan (X1) Agunan ( X2 ) Angsuran( X3 ) 0,810 3,785 1,341 0,423 0,001 0,188 Sumber :Lampiran 4
1. Pendapatan (X1) Berpengaruh positif dan TIDAK nyata terhadap Keputusan Kredit KPR (Y), atau Tidak dapat diterima dengan tingkat [Sig. 0,423< 0,05 : tidak signifikan [positif].
2. Agunan (X2) Berpengaruh positif tetapi nyata terhadap Keputusan Kredit KPR(Y), atau dapat diterima dengan tingkat [Sig. 0,001 > 0,05] : signifikan [positif].
3. Angsuran (X3) Berpengaruh positif tetapi (tidak nyata) terhadap Keputusan Kredit KPR(Y), atau TIDAK dapat diterima dengan tingkat [Sig. 0,188 > 0,05 : Tidak signifikan [positif].
4.4. Pembahasan
Kondisi mikro ekonomi Indonesia yang terimbas oleh krisis ekonomi global membawa pengaruh signifikan terhadap kinerja perbankan Indonesia. Ketatnya likuiditas akibat arus modal asing keluar membawa dampak terhadap persaingan antar bank dalam meningkatkan dana pihak ketiga dengan menawarkan buanga tinggi. Disis lain menurunnya aktivitas bisnis dan meningkatnya persepsi perbankan terhadap kritis ekonomi yang berkepanjangan mengakibatkan perbankan semakin berhati – hati dalam menyalurkan kredit.
Penyaluran kredit perbankan setiap tahunnya mengalami peningkatan yang signifikan, namun peningkatan tersebut didominasi oleh
kredit investasi khususnya pembiayaaan proyek infrastruktur
Pemerintahan serta partumbuhan kredit konsumsi. Kondisi tersebut berdampak terhadap penyaluran kredit Bank yang fokus kepada sektor ritel dengan membiayai kebutuhan modal kerja maupun ekspansi usaha nasabah.
Salah satu fasilitas yang diberikan oleh Bank Tabungan Negara ( BTN ) adalah kredit investasi berupa Kredit Kepemilikan Rumah ( KPR ) yang memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam memperoleh ruamah atau meronavi rumah menjadi rumah idaman. Kemudahan tersebut berupa suku bunga pinjaman yang relatif lebih rendah dinbanndingkan dengan bank lain, jangka waktu pembayaran yang lebih lama.
Untuk mengetahui seberapa jauh kemungkinan calon debitur memenuhi kewajiban dana mengatur kemampuannya dalam melunasi hutang pokok dan bunga, serta sekaligus usaha memperkecil resiko yang timbul dari pemberian kredit, maka sebelumnya pihak bank akan melakukan analisis kredit dan on the spot/ visitasi ke tempat calon debitur tinggal yang menyangkut beberapa aspek keuangan yaitu pendapatan, agunan, dan angsuran.
Penelitian Nurvita Kanecha P. N ( 2010 ) menyatakan bahwa pendapatan perkapita, tingkat suku bunga, dan jumlah rumah tangga mempengaruhi penyaluran kpr di BTN Surabaya. Penelitian selanjutnya yang sependapat dengan penelitian Nurvita Kanecha P. N ( 2010 ) adalah penelitian Aryo Bayu R ( 2011 ) yang menyatakan bahwa Nilai pengajuan kredit, laba usaha, dan nilai jaminan kredit mempunyai pengaruh yang nyata terhadap keputusan pemberian kredit investasi di bank CIMB NIAGA Tbk, cabang Mojokerto. Sedangkan penelitian Deni Tri Susanto ( 2012 ) menyatakan bahwa Laba usaha, dan jaminan berpengaruh terhadap terhadap jumlah pemberian kredit investasi di BRI cabang Magetan
Penelitian ini sependapat denga ketiga penelitian terdahulu, dimana penelitian ini menyimpulkan bahwa variabel pendapatan dan angsuran
terbukti berpengaruh namun tidak nyata terhadap keputusan pemberian
KPR, sedangkan variabel agunan terbukti berpengaruh nyata terhadap keputusan pemberian KPR. Pendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan jumlah pemberian KPR yang artinya semakin besar
pendapatan yang diperoleh debitur maka semakin besar jumlah pemberian KPR. Tingginya pendapatan usaha berarti debitur memiliki kemampuan yang tinggi untuk melunasi kewajiban – kewajibannya dari kegiatan usaha yang akan dilakukan dan yang akan dibiayai dengn kredit dari bank ( Muljono, 1990 : 14 ).
Angsuran terbukti berpengaruh namun tidak nyata terhadap keputusan jumlah pemberian KPR, hal ini berarti besarnya angsuran memberikan dampak namun dampak yang ditimbulkan terhadap keputusan kredit relatif kecil. Angsuran itu sendiri adalah besarnya cicilan yang diangsur setiap bulannnya guna melunasi kredit yang diminta. Besarnya angsuran tersebut tergantung kepada besarnya pendapatan yang telah ditentukan oleh BTN yaitu sebesar 1/3 dari pendapatan debitur
Agunan terbukti berpengaruh nyata terhadap keputusan jumlah pemberian KPR, hal ini berarti besarnya angunan berpengaruh lebih tinggi terhadap keputusan pemberian jumlah KPR dibandingkan angsuran dan pendapatan. Secara umum jaminan dapat dibagi menjadi dua, yaitu jaminan fisik dan jaminan non fisik. Jaminan fisik dapat berupa barang seperti tanah, rumah, surat – surat berharga, dan lain – lain . sedangkan jaminan non fisik dapat berbentuk jaminan keyakinan tentang prospek usaha debitur di masa yang akan datang. Nilai agunan yang di tetapkan oleh BTN adalah minimal 30% dari nilai pengajuan kredit.
Pada penelitian ini jaminan/ agunan yang dimaksud adalah agunan berupa rumah, tanah atau bangunan yang diserahkan sebagai pengaman
terhadap kredit yang diterima oleh debitur. Fungsi agunan merupakan the second way out terhadap fasilitas yang diberikan artinya agunan akan di realisasi bila berbagai cara penyelesaian kredit tidak berhasil dilakukan, maka pe-realisasian aguanan merupakan jalan terakhir yang tidak bias dihindari.
Hasil penelitian ini menunjukkan Bank Tabungan Negara Cabang Surabaya lebih mengutamakan besarnya agunan dibandingkan pendapatan dan angsuran dalam memberikan keputusan jumlah pemberian Kredit Pemilikan Rumah, karena agunan merupakan komponen yang penting untuk mengukur seberapa elektibilitas calon debitur yang mengajukan permohonan kredit yang selanjutnya pihak bank akan meperbandingkannya dengan pendapatan serta angsuran yang sesuai dengan permohonan kredit yang diminta.