B. Hasil Analisis Data
3. Analisis Regresi Linier Sederhana
Berdasarkan analisis dengan program SPSS 16 for Windows diperoleh
Tabel 12. Persamaan regresi linier sederhana. Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 10.884 10.863 1.002 .320 K_Pedagogik 0.766 .123 .588 6.217 .000
a. Dependent Variable: Hasil_belajar
Berdasarkan tabel di atas diperoleh persamaan regresi sederhana sebagai
berikut: Y = 10,884+0,766X. Persamaan regresi tersebut mempunyai makna
sebagai berikut:
a. Konstanta = 10,884
Jika variabel persepsi siswa tentang kompetensi Pedagogik dianggap sama dengan nol, maka variabel hasil belajar sebesar 10,884.
b. Koefisien X = 0,766
Jika variabel perspsi siswa tentang kompetensi kedagogik mengalami kenaikan sebesar satu poin maka akan menyebabkan kenaikan variabel tingkat hasil belajar sebesar 0,766.
4. Pengujian Hipotesis
a. Pengujian keberartian pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.
Uji t dilakukan untuk mengetahui apakah secara individu (parsial) variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan atau tidak.
Tabel 13. Uji Hipotesis. Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 10.884 10.863 1.002 .320 K_Pedagogik .766 .123 .588 6.217 .000
a. Dependent Variable: Hasil_belajar
Hipotesis :
Ho : Variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. Ha : Variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Kriteria pengambilan keputusan:
Dengan tingkat kepercayaan = 95% atau ( ) = 0.05. Derajat kebebasan (df) = n-k-1 = 75-1-1 = 73, diperoleh ttabel= 1.99
Ho diterima apabila – ttabel≤ thitung≤ ttabelatau sig ≥ 5%
Ho ditolak apabila (thitung< – ttabel atau thitung> ttabel) dan sig < 5%.
Hasil pengujian statistik dengan SPSS pada variabel X (Tingkat persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik) diperoleh nilai thitung =6.217 >1.99= ttabel, dan sig =0.000< 5%, jadi Ho ditolak. Ini berarti variabel persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik secara statistik berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen hasil belajar Siswa.
Dari tabel koefisien diperoleh persamaan regresi: Y = 10,884+0,766 X
Dimana:
Y = tingkat hasil belajar
X = tingkat persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik .
b. Koefisien Determinasi (R2)
Untuk mengetahui berapa persen pengaruh variabel tingkat persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik terhadap tingkat hasil belajar siswa responden dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 14. Uji determinasi.
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .588a .346 .337 6.54882
a. Predictors: (Constant), K_Pedagogik
Pada tabel diatas diperoleh nilai Adjusted R2 = 0,346= 34,6% ini berarti variabel bebas Tingkat persepsi siswa tentang kompetensi Pedagogik mempengaruhi variabel dependen hasil belajar siswa sebesar 34,6% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak masuk dalam penelitian ini.
C. Pembahasan.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru dan kemandirian belajar terhadap hasil belajar IPS sejarah siswa kelas X. SMP N 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan semester ganjil tahun ajaran 2012/2013. Berdasarkan data penelitian yang
dianalisis maka dilakukan pembahasan tentang hasil penelitian sebagai berikut.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang berarti. Berdasarkan hasil deskriptif persentasi dan uji t tentang Pengaruh tingkat persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik terhadap hasil belajar siswa SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan semester ganjil tahun ajaran 2012/2013 diperoleh keterangan bahwa tingkat kompetensi pedagogik berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan semester ganjil 2012/2013. Besarnya pengaruh tingkat persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik terhadap hasil belajar siswa adalah 34,6% Dengan demikian tingkat persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik merupakan faktor yang cukup mempengaruhi hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Sejarah. Berdasarkan uji F diperoleh nilai Fhitung = 33,327>4,023 = Ftabel. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara variabel persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru terhadap variabel hasil belajar, dengan sumbangan sebesar 24,5%. Hal ini mendukung pernyataan Sardiman (2007: 49) yang mengungkapkan bahwa proses belajar akan menghasilkan hasil belajar. Bagi pengukuran proses
pengajaran, memang syarat utama adalah “hasilnya”. Tetapi harus diingat
bahwa dalam menilai atau menerjemahkan hasil itu pun harus cermat dan
tepat, yaitu dengan memerhatikan bagaimana “prosesnya”. Dari penyataan
Sardiman jelas bahwa gurulah yang menjadi faktor utama dalam proses belajar mengajar, karena guru yang kompeten mampu membuat proses pembelajaran menjadi optimal sehingga sasaran yang dicapai akan menjadi
maksimal. Pembuktian apakah variable persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru (X) berpengaruh positif terhadap hasil belajar (Y), juga dipertegas oleh pendapat Usman dalam Suryosubroto (2002: 20), yang mengatakan bahwa guru yang kompeten akan lebih mampu mengelola proses belajar mengajar, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Pendapat serupa dipaparkan oleh Hamalik (2004: 36), yang mengatakan bahwa proses belajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah, pola, struktur, dan isi kurikulumnya, akan tetapi sebagai besar ditentukan oleh kompetensi guru mengajar dan bimbingan mereka. oleh sebab itu kompetensi pedagogik yang dimiliki guru akan mendorong terciptanya kegiatan dan hasil belajar yang optimal, karena guru yang memiliki kompetensi pedagogik yang baik senantiasa menyesuaikan kompetensinya dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik dan mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, kreatif, efektif, inovatif serta menyenangkan sehingga mampu mengembangkan potensi seluruh peserta didik.
Pemahaman peserta didik merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru. Dengan sedikitnya beberapa hal yang harus dipahami guru dari peserta didiknya, yaitu kemampuan mengelola pelajaran peserta didik yang meliputi: pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, Pemanfaatan Teknologi pembelajaran dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
Proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi pedagogik perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal tersebut menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik atau setidak-tidaknya sebagian besar terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosial dalam proses pembelajaran. Untuk memenuhi tuntutan di atas, perlu dikembangkan pengalaman belajar yang kondusif dalam membentuk manusia yang berkualitas tinggi, baik spiritual, mental, sosial, moral maupun fisik. Hal ini berarti kalau tujuannya bersifat efektif psikomotorik, tidak cukup hanya diajarkan dengan sumber yang mengandung nilai kognitif, namun perlu penghayatan yang disertakan pengalaman nilai-nilai kognitif, afektif yang dimanifestasikan dalam perilaku sehari-hari.
Seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam mengelola pembelajaran (kompetensi pedagogik) sebab kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran sangatlah penting dalam hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar dan hasil belajar siswa. Proses ini tidak hanya diperoleh siswa dan tidak hanya ditentukan oleh sekolah tetapi juga ditentuakan oleh kemampuan guru dalam mengajar dan bimbingan siswanya. Guru yang mampu, akan menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan menyenangkan serta akan lebih mampu mengelola dan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan serta akan lebih mampu mengelolah kelas sehingga hasil belajar (prestasi) siswa berada pada tingkat yang optimal.
Pelajaran IPS materi sejarah ini sangat berhubungan dengan hafalan. Sehingga merupakan kewajaran apabila ilmu IPS sejarah menjadi pelajaran yang menjenuhkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil prestasi belajar siswa yang kurang memuaskan. Metode yang digunakan oleh pengajar saat ini kebanyakan masih menggunakan metode ceramah, sehingga semakin membuat mata pelajaran IPS sejarah kurang diminati oleh siswa. Meskipun metode ceramah tersebut sedikit banyak bisa membawa hasil, namun tidak jarang metode tersebut membuat siswa semakin malas dan bosan. Padahal IPS sejarah merupakan ilmu yang sangat penting dipelajari karena berhubungan dengan kemaslahatan hidup dalam bernegara. Berdasarkan pemikiran di atas kemampuan Pedagogik seorang guru sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Guru tidak hanya terfokus kepada siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, sehingga diantara siswa tidak merasa ada kesenjangan yang berdampak tidak tertariknya mereka untuk mengikuti jam palajaran. guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga proses belajar mengajar tidak bersifat monoton dan sangat membosankan hal ini berdampak kepada kurang ketertarikkan siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Dengan demikian hasil belajar siswa diharapkan dapat meningkat.
66
PENUTUP
Bedasarkan hasil penelitin dan pembahasan diperoleh simpulan dan saran sebagai berikut:
A. Simpulan.
Simpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Kompetensi pedagogik guru IPS Sejarah di SMP Negeri 3 Tegowanu
Kabupaten Grobogan semester ganjil 2012/2013.hal ini dapat dilihat dari persentase secara klasikal kompetensi pedagogik gurusebesar 73.33%. 2. Hasil belajar IPS Sejarah siswa di SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten
Grobogan semester ganjil 2012/2013. Hal ini diilihat dari hasil belajar peserta didik sebanyak 81,33% siswa telah mencapai ketuntasan
3. Ada pengaruh kompetensi pedagogik guru terhadap hasil belajar IPS Sejarah siswa SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan semester ganjil 2012/2013
B. Saran.
Saran dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Hasil penelitian menunjukan bahwa kompetensi pedagogik guru IPS
Sejarah terhadap hasil belajar siswa terhitung baik, sehingga disarankan kepada guru IPS Sejarah untuk mempertahankan kompetensi mengajarnya.
2. Pihak sekolah perlu mengupayakan menambah jumlah sarana
Diharapkan dengan sarana yang mendukung, pembelajaran akan berlangsung dengan menarik dan efektif.
68
Algifari. 2005. Analisis regresi. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Balitbang, Diknas. Peningkatan kemampuan professional dan kesejahteraan guru,
departemen pendidikan nasional, (Online). http//www.diknas.go.id.
Catharina, Tri Anna dkk. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: UNNES Press.
Hamalik, oemar. 2002. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hamalik, oemar. 2006,Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.
Jakarta, PT. Bumi Aksara.
---. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Himpunan Perundang-undangan RI tentang Guru dan
Dosen.2006.Bandung:Aulia.
Mulyasa. 2009. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Nurdin, Yayah Pujasari. 2009. “Pengaruh Kompetensi Professional Guru terhadap Keberhasilan Belajar Siswa”. Jurnal pendidikan.
http://www.google.co.id/.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
Sardiman. 2004, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, PT. Raja
Grafindo Persada.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sudjana, nana. 2005. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
Baru Algensindo.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suryosubroto. 2002,Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta, PT. Rineka
Suryosubroto, B. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Trianto. 2007. Sertifikasi Guru dan Upaya Peningkatan Kualifikasi, Kompetensi dan Kesejahteraan. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Uno,Hamzah B. 2011. Profesi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Usman, Moh user. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda
Karya.
Walgito, Bimo. 2010. Pengantar Pesikologi Umum. Yogyakarta: CV. ANDI.