• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PERSEPSI SISWA TENTANG KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SEJARAH SISWA SMP NEGERI 3 TEGOWANU KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH PERSEPSI SISWA TENTANG KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SEJARAH SISWA SMP NEGERI 3 TEGOWANU KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH PERSEPSI SISWA TENTANG KOMPETENSI

PEDAGOGIK GURU TERHADAP HASIL BELAJAR IPS

SEJARAH SISWA SMP NEGERI 3 TEGOWANU KABUPATEN

GROBOGAN

SKRIPSI

Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Sejarah

Oleh

Sholahuddin Marwan

3101408037

JURUSAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah di setujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial UNNES pada :

Hari :

Tanggal :

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Drs. Jayusman, M.Hum Romadi, S.Pd., M. Hum

NIP: 19630815 198803 1 001 NIP: 19691210 200501 1 001

Mengetahui:

Ketua Jurusan Sejarah

Arif Purnomo, S.Pd., S.S., M.Pd

(3)

iii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada :

Hari :

Tanggal :

Mengetahui:

Ketua Jurusan Sejarah

Arif Purnomo, S.Pd., S.S., M.Pd

NIP : 19730131 199903 1 002

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Drs Jayusman, M.Hum Romadi, S.Pd., M. Hum

NIP: 19630815 198803 1 001 NIP: 19691210 200501 1 001

Mengetahui

Dekan,

Dr. Subagyo, M. Pd.

(4)

iv

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam sekripsi ini benar-benar

hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian

atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat di dalam karya

tulis ini dikutip atau dirujuk berdasar kode etik ilmiah. Apabila di kemudian hari

terbukti skripsi ini adalah hasil jiplakan dari karya tulis orang lain, maka saya

bersedia menerima sanksi sesuai dengan yang berlaku.

Semarang, Maret 2013

(5)

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO :

”Besok, sekarang dan lusa adalah kehidupan terbaik yang bisa kita jalani. Karena

kehidupan tidak dapat terulang untuk kedua kalinya. Jadi hidup lah sebaik

mungkin dalam setiap nfasmu”.

“Hidup terasa lentur bergerak maju berirama, raba tekstur ciptakan gestur dalam

mencari keseimbangan”.

PERSEMBAHAN :

Dengan penuh rasa syukur kupersembahkan karya ini sebagai ungkapan

terima kasihku untuk :

Bapak dan Ibu yang tak pernah lelah mencurahkan kasih sayang serta

untaian doa, pengorbanan, nasehat dan perhatian yang selalu mengiringi

langkahku hingga aku menjadi seorang yang berhasil, serta untuk almamaterku

tercinta Universitas Negeri Semarang.

Tak lupa kubingkiskan karya kecil ini untuk:

1. Adik dan kakak-kakakku yang menjadi motivasiku untuk bisa menjadi contoh

yang baik.

2. Sahabat-sahabat terbaikku dan teman seperjuangan Jurusan Sejarah 2008

yang dengan sabar mendampingiku serta mengajarkanku arti sebuah

(6)

vi PRAKATA

Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Pemurah, atas segala

limpahan kasih dan karunia-Nya, sehingga Skripsi dengan judul “Pengaruh

Persepsi Siswa Tentang Kompetensi Pedagogik Guru terhadap Hasil Belajar IPS

Sejarah Siswa SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan” dapat di

selesaikan sesuai rencana.

Skripsi ini dapat terwujud dengan baik berkat uluran tangan dari berbagai

pihak, teristimewa pembimbing. Oleh karena itu, pada kesempatan ini

disampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang

setinggitingginya kepada:

1. Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si, Rektor Universitas Negeri

Semarang yang telah memberikan kesempatan penulis untuk belajr di

Universitas Negeri Semarang.

2. Dr. Subagyo, M.Pd Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

yang telah memberiakn ijin penelitian.

3. Arif Purnomo, S.Pd, S.S, M.Pd, Ketua Jurusan Fakultas Ilmu Sosial

Universitas Negeri Semarang yang telah memberi masukan dan arahan dalam

menyelesaikan skripsi.

4. Drs. Jayusman, M.Hum ,selaku pembimbing I yang telah sabar mengarahkan,

memberikan petunjuk dan bimbinngan dalam menyelesaikan skripsi.

5. Romadi, S.Pd., M. Hum, selaku pembimbing II yang telah sabar

mengarahkan, memberikan petunjuk dan bimbinngan dalam menyelesaikan

(7)

vii

6. Semua dosen Jurusan Sejarah yang telah memberikan ilmu selama di bangku

kuliah.

7. Markain, S.Pd, Kepala SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan yang

telah memberikan ijin dalam pelaksanaan penelitian.

8. Muh Suyuti, S.Pd, selaku Guru IPS Sejarah kelas IX SMP Negeri 3

Tegowanu Kabupaten Grobogan yang telah membantu sehingga penulis

tidak menemui kendala dalam penelitian.

9. Bapak, Ibu, kakak, adik serta seluruh keluarga besar yang telah memberikan

semangat dan do’a.

10. Teman-teman satu angkatan yang telah memberiakan semangat dalam

penulisan karya ilmiah ini hingga selesai dengan lancar.

11. Semua pihak yang membantu yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Semoga segala bantuan dan kebaikan tersebut limpahkan balasan dari

Tuhan Yang Maha Esa. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat

dan memberikan tambahan pengetahuan, wawasan yang semakin luas bagi

pembaca.

Semarang, Maret 2013

(8)

viii SARI

Marwan, Sholahuddin. 2013. Pengaruh Persepsi Siswa tentang Kompetensi Pedagogik Guru terhadap Hasil Belajar IPS Sejarah Siswa SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan. Skripsi Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I : Drs. Jayusman, M. Hum., Pembimbing II : Romadi, S. Pd., M. Hum.

Kata kunci : persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik dan hasil belajar

Kompetensi pedagogik mutlak diperlukan guru untuk keberhasilan pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan. Tanpa pedagogik, proses pembelajaran dan pendidikan hanya akan jalan di tempat, tidak ada tanda-tanda dalam peningkatan mutu kualitas pendidikan. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah : (1) bagaimana persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru IPS Sejarah di SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan semester ganjil, tahun ajaran 2012/2013, (2) bagaimana hasil belajar IPS Sejarah siswa di SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan semester ganjil, tahun ajaran 2012/2013, dan (3) bagaimana pengaruh persespsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru terhadap hasil belajar IPS Sejarah siswa SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan semester ganjil, tahun ajaran 2012/2013. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan keseluruhan siswa SMP Negeri 3 Tegowanu kelas IX (sembilan) yang berjumlah 77 siswa sebagai objek penelitiannya. Dengan catatan untuk mempermudah peneliti mengolah data diambil sempel sebanyak 75 siswa, dengan menggunakan angket untuk pengumpulan data. Variabel yang dibahas dalam penelitian ini yaitu variabel bebas (persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik) dan variabel terikat (hasil belajar siswa). Metode pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase dan regresi linier sederhana, serta uji hipotesis dengan menggunakan uji t.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, diperoleh persamaan regresi

= 10,884+0,766 X, sehingga terdapat pengaruh yang berarti. Persepsi siswa

tentang kompetensi pedagogik terhadap hasil belajar sebesar 34,6%. Hasil uji t atau secara parsial diperoleh t hitung sebesar 6.217 dengan probelitas 0.000< 5%,

maka dengan demikian Ha diterima yang berarti ada pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru terhadap hasil belajar siswa.

Simpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Kompetensi pedagogik guru IPS Sejarah di SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan semester ganjil 2012/2013. Hal ini dapat dilihat dari persentase secara klasikal kompetensi pedagogik guru sebesar 73.33%. Hasil belajar, diilihat dari hasil belajar peserta didik sebanyak 81,33% siswa telah mencapai ketuntasan. Ada pengaruh kompetensi pedagogik guru terhadap hasil belajar IPS Sejarah siswa SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan semester ganjil 2012/2013.

Oleh karena itu, hendaknya guru IPS sejarah SMP Negeri 3 Tegowanu

Kabupaten Grobogan disarankan untuk mempertahankan kompetensi

(9)

ix DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDU ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN KELULUSAN... .. iii

PERNYATAAN... .. iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN... v

PRAKATA... ... vi

SARI... .. viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL... . xii

DAFTAR GAMBAR... .. xiii

DAFTAR LAMPIRAN... .. xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masala ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian... 6

D. Manfaat penelitian ... 6

(10)

x BAB II LANDASAN TEORI

A. Penelitian terdahulu ... 13

B. Belajar, Hasil Belajar dan Definisi IPS Sejarah ... 14

C. Kompetensi Pedagogik Guru ... 23

D. Kerangka Berfikir ... 30

E. Hipotesis ... 34

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian ... 35

B. Populasi ... 35

C. Sempel ... 36

D. Variael penelitian ... 36

E. Alat Pengumpulan Data ... 37

F. Validitas Instrumen Penelitian ... 38

G. Tehnik Analisis Data ... 39

(11)

xi

DAFTAR PUSTAKA ... 68

(12)

xii DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Daftar Siswa SMP Negeri 3 Tegowanu Kab.Grobogan ... 35

Tabel 2. Kriteria Persentase ... 41

Tabel 3. Distribusi Variabel Persepsi Siswa tentang Kompetensi Pedagogik ... 44

Tabel 4. Persepsi Siswa tentang Kemampuan Guru mengelola pembelajaran dan pemahaman terhadap Siswa ... 46

Tabel 5. Persepsi Siswa tentang Perancangan pembelajaran dan Pengembangan kurikulum/silabus ... 48

Tabel 6. Persepsi Siswa tentang Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis ... 49

Tabel 7. Persepsi Siswa tentang Pemanfaatan teknologi pembelajaran ... 51

Tabel 8. Persepsi Siswa tentang Evaluasi hasil belajar ... 52

Tabel 9. Distribusi Variabel Hasil belajar ... 54

Tabel 10. Uji normalitas data ... 55

Tabel 11. Uji linieritas... 58

Tabel 12. Persamaan regresi linier sederhana ... 59

Tabel 13. Uji Hipotesis ... 60

(13)

xiii DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Keterpaduan cabang Ilmu Pengetahuan Sosial ... 23

2. Kerangka Berfikir ... 33

3. Diagram batang deskriptif persentasi persepsi tentang

kompetensi pedagogik guru ... 45

4. Diagram batang deskriptif persepsi siswa tentang kemampuan guru

mengelola pembelajaran dan pemahaman terhadap siswa ... 47

5. Diagram batang deskriptif persepsi siswa tentang perancangan

pembelajaran dan pengembangan kurikulum/ silabus ... 49

6. Diagram batang deskriptif persepsi siswa tentang pelaksanan

pembelajaran yang mendidik dan Dialogis ... 50

7. Diagram batang deskriptif persepsi siswa tentang pemanfaatan

teknologi pembelajaran ... 52

8. Diagram batang deskriptif persepsi siswa tentang evaluasi hasil belajar . 53

9. Diagram batang deskriptif hasil belajar ... 54

(14)

xiv DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Kisi-kisi angket... ... 70

2. Angket atau kuesioner penelitian... ... 71

3. Angket atau kuesioner yang sudah diisi siswa ... 77

4. Analisis deskriptif persentase per indikator persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru... ... 78

5. Uju normalitas data... ... 87

6. Uji linieritas... .. 88

7. Analisis regresi sederhana... ... 88

8. Uji t... .. 89

9. Uji R2... . 89

10. Daftar hasil belajar IPS Sejarah siswa SMP N 3 Tegowanu Kab. Grobogan... .. 90

11. Surat penelitian... . 99

(15)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Peserta didik merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan

dapat berperan dalam globalisasi ke arah yang lebih baik. Mereka

membutuhkan pembinaan dan pengembangan kemampuan sejak dini dari

orang tua maupun lembaga pendidikan untuk berkembang secara optimal, dan

dapat berperan dalam era globalisasi. Peran lembaga pendidikan khususnya

pendidikan formal (sekolah) yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sekolah sebagai suatu lembaga formal, secara sistematis merencanakan

bermacam-macam lingkungan, yakni lingkungan pendidikan yang

menyediakan berbagai kesempatan bagi peserta didik untuk melakukan

berbagai kegiatan belajar (Hamalik, 2002:3). Sekolah sebagai penyelenggara

pendidikan formal memiliki tugas menciptakan output yang berkualitas

terutama di SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan.

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal

dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Dalam PBM sebagian besar

hasil belajar peserta didik ditentukan oleh peranan guru. Guru yang kompeten

akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan

lebih mampu mengelola PBM, sehingga hasil belajar siswa berada pada

tingkat yang optimal (Suryosubroto, 2009:2).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16 Tahun 2007

(16)

satunya adalah kompetensi pedagogik. Berdasarkan Pasal 28 ayat 3 butir (a),

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta

didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan

pelaksanan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta

didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi pedagogik mutlak diperlukan guru untuk keberhasilan

pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan. Tanpa pedagogik, proses

pembelajaran dan pendidikan hanya akan jalan di tempat, tidak ada

tanda-tanda dalam peningkatan mutu kualitas pendidikan. Keberhasilan belajar

siswa merupakan bagian dari dampak kepemilikan kompetensi guru yang

memadai dalam proses belajar mengajar. Keberhasilan belajar siswa biasanya

dilihat dari kualitas atau perubahan yang ditunjukkan siswa setelah mengikuti

pembelajaran, sehingga dapat dinilai melalui sejauhmana kebutuhan belajar

siswa dapat dipenuhi secara optimal oleh guru.

Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang

memerlukan keahlian khusus sebagai guru yang tidak dapat dilakukan oleh

sembarang orang di luar bidang pendidikan (Uno, 2011:15). Guru sebagai

bagian dari tenaga kependidikan memiliki kedudukan yang sangat penting

dalam pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, guru

merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan yang harus berperan serta

secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional

sesuai dengan tuntunan masyarakat yang semakin berkembang. Tugas pokok

seorang guru adalah mendidik peserta didiknya dalam berbagai keilmuan

(17)

dan berkualitas, menjadi guru adalah pilihan prestasi yang mulia. Oleh

karenanya, merupakan kewajiban guru untuk menjaga kemuliaan profesinya

dengan cara melaksanakan pengabdiannya secara profesional dan mampu

melakukan pengelolaan pembelajaran terhadap siswa sebaik mungkin.

Kompetensi pedagogik merupakan seperangkat kemampuan yang

harus dimiliki oleh seorang guru agar dapat melaksanakan tugas mengajarnya

dengan berhasil. Guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan

waktu perjalanan, mengunakan petunjuk perjalanan, serta menilai kelancaran

perjalanan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Semua itu

dilakukan berdasarkan kerjasama yang baik dengan peserta didik, tetapi guru

memberikan pengaruh utama dalam setiap semua aspek perjalanan. Guru

memiliki berbagai hak dan tanggungjawab dalam setiap perjalanan yang

direncanakan dan dilaksanakannya (Mulyasa, 2006:29). Istilah perjalanan

merupakan suatu proses pembelajaran, baik dalam kelas maupun di luar kelas

yang mencakup semua kehidupan.

Kompetensi pedagogik guru menjadi faktor yang sangat menunjang

peningkatan kualitas sekolah. Setiap guru harus memiliki kompetensi

mengajar. Guru memiliki kompetensi mengajar, jika guru memiliki

pemahaman dan penerapan secara teknis mengenai berbagai metode belajar

mengajar serta hubungannya dengan kompetensi. Kompetensi pedagogik

guru, akan membawa guru dapat memilih cara terbaik yang dapat dilakukan

supaya kegiatan pembelajaran dapat berjalan baik dan meningkatkan potensi

siswa. Seorang guru merupakan bagian yang paling berpengaruh terhadap

(18)

sekarang belum berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari kekurangan

beberapa guru dalam persiapan kegiatan belajar mengajar, penggunaan

metode yang kurang tepat dan kurang bervariasi, kurang mampu

menggunakan media pembelajaran yang ada, kurang efektif dalam

memanfaatkan waktu pembelajaran, kurang mampu memanfaatkan

perpustakaan sebagai sumber ilmu pengetahuan, bahkan kurang menguasai

bahan pengajaran sehingga kegiatan belajar mengajar kurang berjalan dengan

maksimal dan menarik.

Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu

mata pelajaran yang diberikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mata

pelajaran IPS terdiri dari sejarah, ekonomi, sosiologi, geografi. Pendidikan di

sekolah dasar hingga sekolah menengah, pengetahuan tersebut mengandung

nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan,

membentuk sikap, watak, dan kepribadian peserta didik (Depdiknas, 2006).

Guru IPS di SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan, hanya

berlatar belakang satu bidang mata pelajaran khusus yakni Sejarah, Geografi,

Ekonomi dan Sosiologi, sehingga guru tersebut mengalami kesulitan, ketika

harus menerapkan konsep IPS terpadu. Selain itu, para guru IPS di SMP

Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan juga mengalami kesulitan dalam

menggunakan media pembelajaran, karena fasilitas media yang kurang

memadai. Guru dalam menerangkan hanya biasa menggunakan metode

ceramah. Dengan demikian, pengajaran IPS bersifat monoton, siswa merasa

jenuh dan kurang berminat dalam pelajaran IPS, sehingga hasil belajar siswa

(19)

penguasaan keterampilan dan kemampuan dalam kegiatan belajar mengajar

yang dituntut oleh jabatan seorang guru. Agar dalam pengajaran IPS menarik

sehingga dapat meningkatkan keberhasilan kegiatan belajar mengajar di kelas.

Sehingga peneliti memiliki asumsi bahwa guru yang memiliki kompetensi

pedagogik akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMP Negeri 3

Tegowanu Kabupaten Grobogan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian di SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan. Untuk itu

penulis bermaksud mengadakan penelitian yang berjudul ”Pengaruh persepsi

siswa tentang kompetensi pedagogik guru terhadap hasil belajar IPS sejarah

siswa SMP negeri 3 Tegowanu kabupaten Grobogan”.

B. Rumusan Masalah

Atas dasar latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah :

1. Bagaimana persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru IPS

Sejarah di SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan semester

ganjil, tahun ajaran 2012/2013?

2. Bagaimana hasil belajar IPS Sejarah siswa di SMP Negeri 3 Tegowanu

Kabupaten Grobogan semester ganjil, tahun ajaran 2012/2013?

3. Adakah pengaruh persespsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru

terhadap hasil belajar IPS Sejarah siswa SMP Negeri 3 Tegowanu

(20)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan judul dan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini

mempunyai tujuan sebagai berikut :

1. Mengetahui kompetensi pedagogik guru IPS Sejarah di SMP Negeri 3

Tegowanu Kabupaten Grobogan semester ganjil, tahun ajaran 2012/2013.

2. Mengetahui hasil belajar IPS Sejarah siswa di SMP Negeri 3 Tegowanu

Kabupaten Grobogan semester ganjil, tahun ajaran 2012/2013.

3. Mengetahui pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru

terhadap hasil belajar IPS Sejarah siswa SMP Negeri 3 Tegowanu

Kabupaten Grobogan semester ganjil, tahun ajaran 2012/2013.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoretis

Menambah khasanah pustaka kependidikan dan memberikan

sumbangan informasi yang selanjutnya dapat memberi motivasi

penelitian tentang masalah sejenis guna penyempurnaan penelitian ini.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi siswa

1) Memberikan hal baru bagi siswa dalam proses belajar mengajar

agar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya, khususnya di

bidang IPS Sejarah.

2) Membantu siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar mengajar

(21)

b. Bagi Guru

1) Meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh guru mata pelajaran

IPS Sejarah terutama kompetensi pedagogik di sekolah yang

peneliti lakukan.

2) Untuk dapat memperbaiki kegiatan belajar mengajar agar tingkat

keberhasilan belajar siswa juga dapat meningkat.

c. Bagi Sekolah

1) Dapat sebagai masukan dalam upaya mewujudkan keberhasilan

belajar IPS Sejarah setelah penelitian ini dilakukan.

2) Dapat memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah dalam usaha

perbaikan proses pembelajaran untuk meningkatkan keberhasilan

belajar siswa khususnya pada mata pelajaran IPS Sejarah.

d. Bagi peneliti

Memperoleh pengalaman, wawasan dan pengetahuan tentang

kompetensi guru khususnya kompetensi pedagogik, dari

kompetensi pedagogik tersebut dapat kita jadikan sebagai salah

satu tolok ukur, supaya keberhasilan belajar juga dapat meningkat.

Di harapkan peneliti sebagai calon guru sejarah siap melaksanakan

tugas sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

E. Batasan Istilah

1. Persepsi

Persepsi adalah pemahaman seseorang terhadap seseorang atau

(22)

ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan dan lingkungan sosial

secara umum. Persepsi merupakan proses yang didahului dengan

pengindraan yaitu merupakan proses yang berwujud diterimanya setimulus

oleh individu melalui alat responnya. Namun proses itu tidak berhenti

sampai di situ saja melainkan stimulus itu diteruskan ke pusat saraf yaitu

otak, dan terjadilah proses psikologis sehingga individu menyadari apa yang

ia dengar dan sebagainya (Walgito, 2002: 53).

Pengertian persepsi menurut Bimo Walgito (2002: 88) adalah

pengorganisasian, penginterprestasian terhadap stimulus yang diterima oleh

organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan

merupakan aktivitas integrated dalam diri individu. Persepsi adalah

pengamatan dan penilaian seseorang terhadap obyek, pristiwa dan relitas

kehidupan, baik itu melalui proses kognitif maupun afektif untuk

membentuk konsep tentang obyek tertentu.

Menurut Bimo Walgito (1990: 54 -55), persepsi memiliki indikator-

indikator sebagai berikut:

a. Penyerapan terhadap rangsang atau objek dari luar individu. Rangsang

atau objek tersebut diserap atau diterima oleh panca indera, baik

penglihatan, pendengaran, peraba, pencium, dan pencecap secara

sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Dari hasil penyerapan atau penerimaan

oleh alat-alat indera tersebut akan mendapatkan gambaran, tanggapan,

atau kesan di dalam otak. Gambaran tersebut dapa t tunggal maupun

jamak, tergantung objek persepsi yang diamati. Di dalam otak terkumpul

(23)

baru saja terbentuk. Jelas tidaknya gambaran tersebut tergantung dari

jelas tidaknya rangsang, normalitas alat indera dan waktu, baru saja atau

sudah lama.

b. Pengertian atau pemahaman

Setelah terjadi gambaran-gambaran atau kesan-kesan di dalam otak,

maka gambaran tersebut diorganisir, digolong –golongkan (diklasifikasi),

dibandingkan, diinterpretasi, sehingg a terbentuk pengertian atau

pemahaman. Proses terjadinya pengertian atau pemahaman tersebut

sangat unik dan cepat. Pengertian yang terbentuk. tergantung juga pada

gambaran -gambaran lama yang telah dimiliki individu sebelumnya

(disebut apersepsi).

c. Penilaian atau evaluasi

Setelah terbentuk pengertian atau pemahaman , terjadilah penilaian dari

individu. Individu membandingkan penge rtian atau pemahaman yang

baru diperoleh tersebut dengan kriteria atau norma yang dimiliki individu

secara subjektif. Penilaian individu berbeda -beda meskipun objeknya

sama. Oleh karena itu persepsi bersifat individual.

2. Kompetensi Guru

Kompetensi adalah kemampuan melakukan sesuatu yang

diperoleh melalui pendidikan. Kompetensi guru menuju pada performance

dan perbuatan rasional untuk memenuhi sepesifikasi tertentu di dalam

pelaksanaan tugas-tugas pendidikan. Dikatakan rasional karena mempunyai

(24)

tidak hanya dapat diminati, tetapi mencakup sesuatu yang tidak kasat mata

(Mulyasa, 2009:26).

Dalam penelitian ini kompetensi guru adalah kemampuan dan

wewenang guru dalam melaksanakan profesi keguruannya (Usman,

2000:14). Menurut Moh. Amin, kompetensi guru pada hakikatnya tidak bisa

dilepaskan dari konsep hakikat guru dan hakikat tugas guru. Kompetensi

mencerminkan tugas dan kewajiban guru yang harus dilakukan sehubungan

dengan arti jabatan guru yang menuntut suatu kompetensi tertentu

sebagaimana telah disebutkan.

3. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik seorang guru adalah kemampuan

mengelola pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa,

perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajr, dan

pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang

dimilikinya.

Lebih lanjut tentang RPP tentang guru dikemukakan bahwa:

kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan

pembelajaran siswa yang meliputi hal-hal sebagai berikut.

a) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan.

b) Pemahaman terhadap siswa.

c) Pengembangan kurikulum/silabus.

d) Perancangan pembelajaran.

e) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis.

(25)

g) Evaluasi hasil belajar.

h) Pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang

dimilikinya.

4. Hasil belajar

Sudjana (2005:22), mendefinisikan hasil belajar sebagai

kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman

belajarnya. Hasil belajar adalah akhir dari sebuah proses belajar yang

dilakukan oleh seorang dalam upaya mencapai suatu tujuan yang telah

ditetapkan dalam program. Jadi secara umum hasil belajar dapat diartikan

sebagai sesuatu yang telah dicapai oleh siswa setelah mengalami proses

pembelajaran.

Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kamampuan siswa dan

kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional

yang dimiliki oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang

kognitif (intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku

(psikomotorik).

Dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar siswa

dipengaruhi oleh dua faktor dari dalam individu siswa berupa kemampuan

personal (internal) dan faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan. Dengan

demikian hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa

berkat adanya usaha atau fikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam

bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam

berbagai aspek kehidupa sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan

(26)

dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri individu

(27)

13

A. Penelitian Terdahulu

Berbagai penelitian tentang pengaruh kompetensi guru sudah banyak

dilakukan. Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan adalah Pengaruh

Kompetensi Profesional Guru terhadap Keberhasilan Belajar Siswa oleh

Yayah Pujasari Nurdin (Jurnal Pendidikan, 2009). Menurut Yayah P. Nurdin

(2009), bahwa secara keseluruhan kompetensi profesional berpengaruh

terhadap hasil belajar sebesar 29,59%. Sisanya yaitu sebesar 70,41%

merupakan pengaruh yang datang dari faktor-faktor lain. Misalnya:

kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian

(Yahya, 2009: 63).

Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian

sebelumnya. Persamaan dengan penelitian sebelumnya yaitu sama-sama ingin

meneliti tentang pengaruh dari kompetensi guru. Perbedaannya adalah pada

penelitian awal kompetensi guru yang diteliti tentang pengaruh kompetensi

profesional guru, sedangkan penelitian ini meneliti tentang pengaruh persepsi

siswa tentang kompetensi pedagogik. Perbedaan lainnya dengan penelitian

sebelumnya yaitu penelitian ini lebih memfokuskan pada hasil belajar siswa

yang dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian sedangkan penelitian terdahulu

mengunakan nilai rata-rata ulangan semester, sedangkan penelitian awal lebih

memfokuskan pada keberhasilan belajar siswa. Alasan mengapa peneliti

(28)

semester, karena IPS sejarah adalah salah satu materi dalam mata pelajaran

IPS. Di sini penulis ingin mengetahui pengaruh kompetensi pedagogik

terhadap hasil belajar. Kompetensi pedagogik merupakan salah satu

kemampuan yang harus dimiliki guru untuk meningkatkan mutu

pembelajaran.

B. Belajar, Hasil Belajar dan Pembelajaran IPS Sejarah

1. Pengertian Belajar

Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia

dan ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Belajar

memang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap,

keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi persepsi manusia

(Catharina, 2006: 2). Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan

disposisi atau kemampuan yang diciptakan seseorang melalui aktivitas.

Perubahan tersebut bukan diperoleh langsung dari pertumbuhan seseorang

secara alami. Morgan menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan

perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman. Travers

menyatakan bahwa belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingkah

laku. Harlod Spears menyatakan dengan kata lain bahwa belajar adalah

mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar dan mengikuti

arah tertentu.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar mengandung

(29)

a. Belajar berkaitan dengan perubahan perilaku. Perilaku sebelumnya akan

berbeda dengan perilaku sesudah belajar, jika tidak berarti dia tidak

belajar.

b. Perubahan perilaku terjadi karena didahului proses pengalaman.

c. Perubahan perilaku karena proses belajar bersifat lebih permanen.

Seiring upaya perbaikan kualitas pembelajaran, teori konstruktivisme

kian populer di bidang pendidikan pada dekade terakhir ini. Teori ini

memandang siswa sebagai individu yang selalu memerikas informasi baru

yang berlawanan dengan prinsip yang telah ada dan merevisi

prinsip-prinsip tersebut apabila sudah dianggap tidak dapat digunakan lagi :

(Catharina, 2006: 59).

a. Pengetahuan bukanlah gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu

merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.

b. Subjek membentuk sekema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang

perlu untuk pengetahuan.

c. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsep seseorang. Struktur konsep

membentuk pengetahuan jika konsep itu berlaku dalam berhadapan dengan

pengalaman-pengalaman seseorang.

Perubahan sebagai hasil belajar menurut Sudjana (2005: 28), dapat

ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti pengetahuan, pemahaman, sikap

dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan dan kemampuan, daya reaksi,

(30)

2. Prinsip-prinsip Belajar

Peserta didik harus memiliki prinsip dalam belajar agar perubahan

tingkah laku yang dihasilkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Slameto

(2003: 27) mengemukakan, bahwa prinsip-prinsip dalam melaksanakan

kegiatan belajar meliputi:

a. Prasyarat yang diperlukan untuk belajar yaitu:

1) Setiap peserta didik harus dapat berpartisipasi aktif dan meningkatkan

minat untuk mencapai tujuan instruksional

2) Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat

pada peserta didik untuk mencapai tujuan instruksional.

3) Belajar memerlukan lingkungan yang menantang.

4) Belajar memerlukan interaksi peserta didik dengan lingkungannya.

b. Sesuai hakikat belajar

1) Belajar harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan tingkat

perkembangannya.

2) Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.

3) Belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yang satu

dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang

diharapkan.

c. Sesuai materi atau bahan yang harus dipelajari

1) Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki stuktur,

penyajian yang sederhana, sehingga peserta didik mudah menangkap

(31)

2) Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan

tujuan instruksional yang harus dicapainya.

d. Syarat keberhasilan belajar

1) Belajar memerlukan sarana yang cukup sehingga peserta didik dapat

belajar dengan tenang.

2) Proses belajar perlu adanya repetisi (pengulangan) agar

pengertian/ketrampilan/sikap tersebut mendalam pada peserta didik.

3. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar

setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku

tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pambelajaran. Oleh karena

itu apabila pembelajaran mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka

perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep

(Catharina, 2006: 5). Mendefinisikan hasil belajar sebagai

kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Jadi

secara umum hasil belajar dapat diartikan sebagai sesuatu yang telah dicapai

oleh siswa setelah mengalami proses pembelajaran (Sudjana, 2005: 22).

Hasil belajar merupakan faktor yang sangat penting dan sering

dijadikan pokok pembicaraan atau permasalahan antar pendidik, karena

prestasi belajar merupakan cerminan kemampuan siswa dalam menguasai

materi suatu pelajaran. Hasil belajar tidak hanya tercermin pada seberapa besar

nilai yang diperoleh siswa setelah mengerjakan ujian, akan tetapi penguasaan

(32)

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar

Kegiatan belajar yang terjadi pada diri peserta didik dapat diamati dari

perbedaan tingkah laku sebelum dan setelah kegiatan belajar mengajar. Di

dalam proses terdapat seperangkat faktor yang mempengaruhi proses dan hasil

belajar pada intinya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor intern dan

faktor ekstern.

Menurut Slameto (2003:54), faktor-faktor yang mempengaruhi proses

dan hasil belajar:

a) Faktor intern, meliputi:

1) Faktor jasmaniah, meliputi:

a) Faktor kesehatan

Kesehatan peserta didik berpengaruh terhadap proses

belajar mengajar. Proses belajar akan terganggu jika

kesehatannya terganggu, sebab ia akan cepat lelah, kurang

bersemangat, mudah pusing, dan mengantuk jika badanya

lemah dan kurang darah.

b) Cacat tubuh

Peserta didik yang cacat tubuhnya seperti buta, tuli,

patah kaki, patah tangan, lumpuh dan lain-lain akan

menggangu proses belajarnya.

2) Faktor Psikologis, meliputi:

a) Intelegensi

Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis

(33)

kedalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif,

mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.

Intelegensi mempunyai pengaruh yang besar terhadap

kemajuan belajar. Namun berhasil tidaknya peserta didik

dalam belajar tidak hanya dilihat dari tinggi rendahnya

intelegensi peserta didik karena belajar merupakan suatu

proses yang dipengaruhi banyak faktor.

b) Perhatian

Menurut Gazali dalam Slameto (2003:56) perhatian

adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu semata-mata

tertuju pada suatu objek atau sekumpulan objek. Agar hasil

belajarnya baik, maka peserta didik harus mempunyai

perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. Jika bahan

pelajaran tidak menjadi pusat perhatian, maka timbulah

kebosanan sehingga belajar tidak kondusif lagi.

c) Minat

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk

memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Minat

mempunyai pengaruh yang besar terhadap belajar karena bila

bahan pelajaran tidak sesuai dengan minat maka kegiatan

belajar tidak akan terlaksana dengan baik. Sebaliknya jika

bahan pelajaran menarik minat peserta didik, akan mudah

dipelajari dan diingat karena minat menambah kegiatan

(34)

d) Bakat

Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Jika bahan

pelajaran sesuai bakat peserta didik maka hasil belajarnya

akan lebih baik karena sesuai dengan bakat yang dimiliki

peserta didik.

e) Motif

Motif merupakan dorongan dalam mencapai tujuan.

Dalam proses belajar harus diperhatikan apa yang dapat

mendorong peserta didik belajar dengan baik atau

mempunyai motif untuk berfikir dan memusatkan perhatian,

merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan

atau menunjang belajar.

f) Kematangan

Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam

pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah

siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Namun hal itu

membutuhkan latihan-latihan dan pelajaran. Dengan

demikian belajar akan lebih berhasil jika peserta didik sudah

matang.

g) Kesiapan

Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau

reaksi. Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan

juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan

(35)

diperhatikan dalam proses belajar karena jika peserta didik

sudah ada kesiapan dalam mengikuti proses pembelajaran

maka hasil belajarnya cenderung akan lebih baik.

3) Faktor kelelahan

Faktor kelelahan dapat digolongkan menjadi dua macam

yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Kelelahan jasmani

dapat dilihat dari tubuh yang lemah, sedangkan kelelahan rohani

dapat dilihat dari kelesuan dan kebosanan. Kelelahan jasmani

dan rohani akan mempengaruhi hasil belajar peserta didik

karena kelelahan tersebut dapat mengganggu konsentrasi dan

ketenangan dalam belajar.

b. Faktor ekstern, meliputi:

1) Faktor keluarga

Peserta didik yang belajar akan menerima pengaruh

dari keluarga yang berupa cara orang tua mendidik, relasi

atau hubungan antar anggota keluarga, suasana rumah

tangga dan keadaan ekonomi keluarga.

2) Faktor sekolah

Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar peserta

didik meliputi metode mengajar yang digunakan guru,

kurikulum yang ditetapkan, bentuk hubungan atau relasi

anatara guru dengan peserta standar pelajaran, keadaan

gedung, pembinaan, metode belajar dari guru dan tugas

(36)

3) Faktor masyarakat

Masyarakat dapat mempengaruhi hasil belajar karena

peserta didik berada di tengah-tengah masyarakat. Faktor

masyarakat meliputi: kegiatan peserta didik dalam

masyarakat, media massa, teman bergaul dan bentuk

kehidupan masyarakat.

5. Definisi IPS Sejarah

Mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisi sosial manyarakat yang dinamis (Wardiyatmoko, 2010: iii). Kata IPS merupakan kata yang sering di dengar dari tingkat Sekolah Dasar sampai tingkat Universitas. Ilmu

pengetahuan sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang

mewujudkan suatu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang

ilmu sosial. antara lain sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi. IPS sejarah

adalah bagian dari mata pelajaran IPS. IPS sejarah merupakan pelajaran yang

menanamkan pengetahuan tentang proses perubahan dan perkembangan

masyarakat Indonesia dan dunia dari masa lampau hingga kini secara ilmiah

dan sistematis. Atas dasar pengertian itu pengajaran IPS Sejarah berfungsi

untuk menyadarkan siswa akan adanya peroses perubahan dan perkembangan

masyarakat dalam dimensi waktu dan untuk membangaun prespektif serta

kesadaran sejarah dalam menemukan, memahami, dan menjelaskan jati diri

bangsa di masa silam sekarang dan masa depan, di tengah perubahan tata

(37)

Gambar 1 : Keterpaduan cabang Ilmu Pengetahuan Sosial ( sumber: Khasanah Ilmu Pengetahuan Sosial 2, 2006:V )

C. Kompetensi Pedagogik Guru

1. Guru

a. Pengertian Guru

Menurut Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru

dan dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama

mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,

dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur

formal, pendidikan dasar, dan menengah. Menurut Hamalik (2002:

36), guru adalah jabatan profesional yang memerlukan berbagai

keahlian khusus. Sementara menurut Sardiman (2006:4), guru adalah

satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar yang ikut Ekonomi

(38)

berperan dalam usaha pembentukan sumber daya yang potensial di

bidang pembangunan.

b. Syarat Guru

Dalam Undang-Undang RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan

Dosen Bab IV pasal 8 tersebut disebutkan ada 5 syarat bagi seorang

guru , yaitu :

1. Memiliki Kualifikasi Akademik

Kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang

harus dipenuhi oleh seorang guru atau pendidik yang dibuktikan

dengan ijazah dan atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai

ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dengan kata lain

Kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang pendidikan akademik yang

harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang, dan

satuan pendidikan formal di tempat penugasan. Ijazah yang harus

dimiliki guru adalah Ijazah jenjang Sarjana S1 atau Diploma IV yang

sesuai dengan jenis,jenjang dan satuan pendidikan atau mata pelajaran

yang diampunya sesuai dengan standar nasional pendidikan.

2. Memiliki Kompetensi

Kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan,

keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai

oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Kompetensi guru menurut Undang-undang RI No 14 tahun 2005

tentang Guru dan Dosen, dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi

(39)

Mengenai Kompetensi guru akan penulis uraikan dalam sub bab

tersendiri

3. Memiliki Sertifikat Pendidik

Sertifikat Pendidik adalah sertifikat yang ditandatangani oleh

perguruan tinggi penyelenggara serifikasi sebagai bukti formal

pengakuan guru yang diberikan kepada guru sebagai tenaga

professional. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah

memenuhi standar profesi guru melalui proses sertifikasi. Guru yang

telah mendapat sertifikat pendidik berarti telah mempunyai

kualifikasi mengajar seperti yang dijelaskan di dalam sertifikasi

tersebut.

4. Sehat Jasmani dan Rohani

Yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani adalah

kondisi kesehatan fisik dan mental yang memungkinkan guru dapat

melaksanakan tugas dengan baik. Kondisi kesehatan fisik dan mental

tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat.

Seorang guru (pendidik) adalah merupakan petugas lapangan

dalam pendidikan. Faktor kesehatan jasmani adalah faktor yang

menentukan terhadap lancar dan tidaknya proses pendidikan yang ada,

dan di samping itu kesehatan jasmani dari seorang guru banyak

memberikan pengaruh terhadap anak didik terutama yang menyangkut

kebanggaan mereka apabila memiliki guru yang berbadan sehat. Guru

(40)

Disamping itu guru yang berpenyakit tidak akan bergairah dalam

mengajar, dan kerap kali absen yang tentunya merugikan anak didik.

Sedangkan yang dimaksud sehat rohani menyangkut masalah

keseluruhan bentuk rohaniah manusiawi hubungannya dengan

masalah moral yang baik, moral yang luhur, moral tinggi, dimana

seorang guru harus memiliki moral yang baik dan menjadi teladan

bagi siswanya. Apa yang hendak disampaikan kepada murid untuk

menuju tingkat martabat kemanusiaan yang luhur hendaklah lebih

dahulu guru itu sendiri memiliki martabat tersebut, sebab nantinya

menyangkut masalah kewibawaan bagi seorang guru.

Adapun sifat-sifat yang dapat digolongkan ke dalam moral

atau budi yang luhur antara lain berlaku jujur, berlaku adil terhadap

siapapun, lebih-lebih terhadap dirinya, cinta kepada kebenaran,

bertindak bijaksana, suka memaafkan, tidak pembenci, mau mengakui

kesalahan sendiri, ikhlas berkorban, tidak mementingkan diri sendiri,

menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela.

5. Memiliki Kemampuan untuk Mewujudkan Tujuan Pendidikan

Nasional

Guru harus punya kemampuan untuk mewujudkan tujuan

pendidikan nasional sebagaimana yang disebutkan dalam

Undang-undang RI No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Bab II pasal 3 : “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan

kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang

(41)

untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi

manusiayang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi

warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

2. Kompetensi Guru

Proses belajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan

oleh sekolah, pola, stuktur dan isi kurikulumnya, akan tetapi sebagian

besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing

mereka. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan

belajar yang efektif, menyenangkan dan akan lebih mampu mengelola

kelasnya, sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal (Usman,

2008: 9).

Kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam

melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.

Kompetensi guru baik secara teoritis maupun secara praktis memiliki

manfaat yang sangat penting terutama dalam rangka meningkatkan

kualitas pendidikan melalui peningkatan kualitas guru. Menurut (Hamalik,

2008: 34) kompetensi guru dapat digunakan sebagai:

a. Alat untuk menggambarkan standar kemampuan profesional guru.

b. Alat seleksi penerimaan guru.

c. Bahan acuan dalam pengembangan kurikulum.

d. Alat pembinaan guru.

(42)

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007

tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, disebutkan

bahwa guru harus mempunyai empat kompetensi yaitu: kompetensi

pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional.

a. Kompetensi pedagogik

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pelajaran

peserta didik yang meliputi: pemahaman terhadap peserta didik,

perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan

pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai

potensi yang dimiliki.

b. Kompetensi kepribadian

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang

mantap, berakhlak mulia, serta menjadi teladan peserta didik.

c. Kompetensi sosial

Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi

dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik,

sesama guru orang tua atau wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

d. Kompetensi profesional

Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi

pelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan

membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang

(43)

3. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pelajaran

peserta didik yang meliputi: pemahaman terhadap peserta didik,

perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan

pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi

yang dimiliki.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.17 Tahun 2007

Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, dijelaskan

bahwa kompetensi pedagogik terdiri dari :

a. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral,

spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.

b. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang

mendidik.

c. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran

yang diampu.

d. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.

e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk

kepentingan pembelajaran.

f. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk

mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

g. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta

didik.

(44)

i. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan

pembelajaran.

j. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas

pembelajaran.

D. Kerangka Berfikir

Persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru merupakan proses

siswa menerima dan menanggapi metode mengajar yang digunakan oleh guru

dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas agar tercipta suatu

kondisi belajar yang efektif. Siswa memiliki persepsi yang berbeda-beda satu

dengan yang lainnya, yaitu persepsi yang tinggi atau persepsi yang rendah.

Guru dituntut harus memiliki kompetensi yang memadahi agar siswa

memiliki persepsi tinggi dan tidak mengalami kejenuhan.

Proses belajar mengajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan

oleh siswa di dalam kelas untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku

yang berasal dari pengalamannya sendiri maupun interaksi dengan

lingkungannya. Perubahan yang dialami oleh siswa tersebut adalah perubahan

yang dilakukan secara sadar dan menuju ke arah yang lebih baik dari yang

sebelumnya. Perubahan yang terjadi pada siswa tidak hanya bersifat

sementara, tetapi bersifat permanen dan kontinu. Tujuan pembelajaran ini

telah direncanakan secara sistematis dan terarah oleh guru kepada peserta

didik atau siswa sebagai individu. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar di

(45)

Pencapaian tujuan belajar di kelas biasanya diukur dengan berhasil tidaknya

dalam peningkatan hasil belajar.

Hasil belajar siswa merupakan perubahan perilaku yang diperoleh

pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Perolehan aspek-aspek

perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh

pembelajar. Oleh karena itu, apabila pembelajar mempelajari pengetahuan

tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa

penguasaan konsep. Dalam pembelajaran, perubahan perilaku yang harus

dicapai oleh pembelajar setelah melaksanakan aktivitas belajar dirumuskan

dalam tujuan pembelajaran.

Setiap siswa pasti ingin mencapai hasil belajar semaksimal mungkin,

karena hasil belajar yang maksimal merupakan jalan yang tepat untuk

memudahkan proses belajar selanjutnya. Namun semua usaha yang dilakukan

tidak selalu mudah, banyak siswa yang mengalami hambatan dalam proses

belajar, sehingga mengakibatkan kegagalan dalam memperoleh prestasi.

Guru adalah salah satu faktor dominan yang mempengaruhi kualitas

pembelajaran, namun guru akan dominan ketika mempunyai kompetensi

profesional. Hal ini dapat dikuatkan oleh pernyataan Trianto (2007: 71), yaitu

yang dijadikan rujukan bagi guru untuk keberhasilan pembelajaran adalah

kualifikasi akademik dan kompetensi yang dimiliki oleh guru.

Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan

belajar yang efektif, menyenangkan dan akan lebih mampu mengelola

kelasnya, sehingga belajar siswa akan lebih optimal. Karena proses belajar

(46)

kurikulumnya, akan tetapi juga ditentukan oleh kompetensi guru yang

mengajar dan membimbing siswa.

Dalam mata pelajaran IPS sejarah, guru sangat besar peranannya

dalam memotivasi siswa agar mau belajar dengan baik, yang nantinya dapat

meningkatkan hasil belajar siswa di lembaga pendidikan. Keberhasilan dari

proses belajar dan mengajar IPS sejarah tidak hanya tergantung pada

intelegensi siswa saja, akan tetapi juga dari guru yang mengajar. Guru yang

kompeten akan mendorong siswa dalam belajar IPS sejarah yang nantinya

akan mempengaruhi hasil belajar siswa pada pelajaran IPS sejarah.

Kerangka berfikir pada penelitian ini adalah bahwa guru yang

berkompetensi, sangat diperlukan agar diperoleh pemahaman materi pelajaran

IPS yang maksimal untuk diimplementasikan dalam hasil atau prestasi

belajar. Dengan kata lain, kompetensi pedagogik guru akan berpengaruh

terhadap hasil atau prestasi belajar IPS sejarah siswa. Berikut kerangka

(47)

Variabel bebas (X)

Kompetensi Pedagogik Guru:

1. Penguasaan Materi, Struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang

mendukung mata pelajaran yang diampu.

2. Penguasaan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata

pelajaran yang diampu.

3. Pengembangan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.

4. Pemahaman terhadap siswa.

5. Evaluasi hasil belajar

6. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk

mengembangkan diri.

7. Pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang

dimilikinya.

Variabel Terikat (Y)

Hasil Belajar Dilihat dari rata-rata Nilai Ulangan Harian

(48)

E. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap

permasalahan penelitian tentang tingkah laku, fenomena sampai terbukti

melalui data yang terkumpul (Arikunto, 2010: 71). Berdasarkan uraian dalam

kerangka berfikir diatas tersebut maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai

berikut:

(Ho) : Tidak ada pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru

terhadap hasil belajar siswa.

(Ha) : Ada pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru

(49)

35

A. Pendekatan Penelitian

Setiap penelitian memerlukan metode agar proses penelitian dapat

berjalan lancar dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sesuai dengan

permasalahan yang diteliti, yaitu mengenai kejadian-kejadian dan peristiwa

yang sedang berlangsung maka metode yang sesuai untuk digunakan dalam

penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.

B. Populasi

Menurut Arikunto (2010: 130), populasi adalah keseluruhan subyek

penelitian. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas :

obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya

(Sugiyono, 2010: 215). Populasi dalam penelitian ini adalah 77 siswa, di

SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan. Yang diampu oleh guru yang

sudah bersertifikasi.

Tabel 1

Daftar Siswa SMP Negeri 3 Tegowanu Kab.Grobogan

No. Kelas Jumlah Siswa

1. IX A 26

2. IX B 26

3. IX C 25

(50)

C. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto,

2010:131). Jumlah populasi dalam penelitian ini sebanyak 77 siswa, sehingga

peneliti mengambil teknik sampel jenuh yaitu pengambilan sampel dari

keseluruhan populasi. Dengan catatan untuk mempermudah peneliti

mengolah data diambil sempel sebanyak 75 siswa.

D. Variabel Penelitian

Variabel merupakan salah satu komponen penting dalam suatu

penelitian, karena memahami dan menganalisis setiap variabel membutuhkan

kelincahan berfikir bagi peneliti. Menurut (Arikunto, 2010:118), “ Variabel

adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu

penelitian”. Variabel dalam penelitian ini adalah satu variabel bebas dan satu

variabel terikat yaitu :

1. Variabel Bebas (X)

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau apa yang

menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)

(Sugiyono, 2010:39). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah persespsi

siswa tentang kompetensi pedagogik guru (X), indikatornya:

a. Penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang

mendukung mata pelajaran yang diampu.

b. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata

pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.

(51)

d. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan

melakukan tindakan reflektif.

e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk

berkomunikasi dan mengembangkan diri.

2. Variabel terikat (Y)

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa

yang berupa nilai rata-rata ulangan harian semester ganjil mata pelajaran

IPS Sejarah siswa SMP Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan.

E. Alat Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan upaya yang harus dilakukan untuk

mendapatkan berbagai informasi dalam penelitian. Alat yang digunakan

untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :

1. Angket atau kuesioner

Kuesioner sebagai cara pengumpulan data berbentuk pengajuan

pertanyaan tertulis melalui sebuah daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan

sebelumnya. Metode ini sangat memudahkan bagi responden dalam memberi

jawaban karena alternatif jawaban sudah disediakan dan hanya membutuhkan

waktu yang lebih singkat dalam menjawab pertanyaan. Angket atau

Kuesioner ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang kompetensi

pedagogik guru terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan

jenis angket tertutup yaitu kuesioner yang disusun dengan menggunakan

pilihan jawaban, dimana setiap item soal disediakan 4 jawaban. Untuk

(52)

persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru diberikan skor

masing-Responden dapat memilih jawaban yang telah disediakan dengan

memberikan tanda (X) silang.

2. Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang

berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen, rapat, agenda

dan sebagainya (Arikunto, 2010:158). Peneliti menggunakan teknik

dokumentasi karena ingin memperoleh data-data yang relevan dengan tujuan

penelitian, sehingga dapat mempermudah dalam proses penelitian. Teknik ini

digunakan untuk memperoleh data berupa daftar nilai rata-rata harian

semester ganjil 2012/2013 dari guru mata pelajaran IPS Sejarah siswa SMP

Negeri 3 Tegowanu Kabupaten Grobogan.

F. Validitas Instrumen Penelitian

Validitas yang dimaksud adalah keadaan yang menggambarkan

tingkat instrumen yang bersangkutan mampu mengukur apa yang akan diukur

Arikunto (2010: 167), Valid berarti ketepatan antara instrumen dan

(53)

validitas empiris. Dikatakan validitas empiris karena validitas ini melalui cara

yang diperoleh berdasarkan pengalaman dengan cara diujikan.

G. Tehnik Analisis Data

Analisis data adalah cara-cara mengolah data yang telah terkumpul

kemudian dapat memberikan interpretasi. Hasil pengolahan data ini

digunakan untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan.

1. Analisis Deskriptif Persentase

Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik dari

variabel bebas yaitu variabel persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik

guru terhadap variabel terikat yaitu variabel hasil belajar siswa.

Langkah-langkah yang ditempuh dalam menggunakan teknik analisis ini adalah :

a. Membuat tabel distribusi jawaban angket.

b. Menentukan skor jawaban responden dengan ketentuan skor yang telah

ditetapkan.

c. Menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh dari setiap responden.

d. Memasukkan skor tersebut ke dalam rumus, yaitu:

, dimana:

n = nilai yang diperoleh; N = nilai total

e. Hasil yang diperoleh dikonsultasikan dengan tabel kriteria untuk

(54)

Cara menentukan kriteria adalah:

1. Menentukan angka persentase tertinggi

2. Menentukan angka persentase terendah

3. Menentukan rentang persentase

% tertinggi - % terendah

4. Menentukan kelas interval persentase

f. Analisis Deskriptif Skor

Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh

persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru terhadap hasil belajar.

Langkah-langkah yang ditempuh dalam penggunaan teknik analisis ini

adalah:

1) Membuat tabel distribusi jawaban angket.

2) Menentukan skor jawaban responden dengan ketentuan skor yang

telah ditetapkan.

3) Menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh dari tiap responden

Dalam penyajiannya, hasil analisis ini didasarkan pada distribusi

frekuensi yang memberiakan gambaran mengenai distribusi subjek

menurut kategori-kategori nilai untuk setiap alternatif jawaban yang

(55)

Untuk menentukan kategori deskriptif Skor untuk variabel X, maka

dibuat tabel kategori yang disusun dalam perhitungan sebagai berikut :

1) Skor maksimal : 4/4 x 100% = 100%

2) Skor miminal : ¼ x 100% = 25%

3) Rentang Skor : 100-25 = 75

4) Interval kelas Skor : 75 / 4 = 18,75

Dari perhitungan di atas diperoleh tabel kategori untuk variabel

persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru (X) dan hasil belajar

2. Analisis Regresi Sederhana

Regresi sederhana didasarkan pada hubungan fungsional ataupun

kausal satu variabel independen dengan satu variabel dependen ( Algifari

(56)

= a + bX + e

Keterangan:

Y : subyek dalam variabel dependen (hasil belajar).

a : konstanta.

b : angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka

peningkatan ataupun penurunan variabel independen yang didasarkan pada perubahan variabel dependen, bila (+) arah garis naik, bila (-) maka arah garis turun.

x : Persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik Guru.

See : standar error estimation.

3. Uji Hipotesis

a. Uji Parsial (t)

Uji parsial digunakan untuk menguji kemaknaan parsial dengan

menggunakan uji t. Uji parsial dalam penelitian ini menggunakan uji dua

pihak ( two tail test) berlaku dengan ketentuan bahwa harga t hitung, berada

pada daerah penerimaan Ho atau terletak diantara harga t tabel, maka Ho

diterima dan Ha ditolak. Dengan demikian bila harga t hitung lebih kecil

atau sama dengan (≤) dari harga tabel maka Ho diterima. Harga t hitung

adalah harga mutlak, jadi tidak dilihat (+) atau (-) nya (Sugiono 2010:

97).

b. Koefisien Determinasi (R²)

Koefisien determinasi merupakan ukuran yang dapat

dipergunakan untuk besarnya variabel bebas terhadap variabel tidak

bebas. Bila koefisien determinasi R² = 0, berarti variabel bebas tidak

mempunyai pengaruh sama sekali (= 0% ) terhadap variabel tidak bebas.

(57)

100% dipengaruhi oleh variabel bebas. Karena itu letak R² berada dalam

selang (interval) antara 0 dan 1. Secara aljabar dinyatakan : 0 ≤ R² ≤ 1.

Koefisien determinasi dilambangkan dengan R² Nilai R² antara 0

sampai 1. Jika nila R² mendekati 1, maka persamaan regresi tersebut

sangat baik untuk memperkirakan. Dalam menganalisis data penelitian

(58)

44

A. Deskriptif Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini dibahas mengenai deskripsi data masing-masing

variabel penelitian dan pengaruh variabel bebas persepsi siswa tentang

kompetensi pedagogik guru (X) terhadap variabel dependen hasil belajar yang

dilihat dari rata-rata nilai ulangan siswa (Y).

1. Variabel Persepsi Siswa tentang Kompetensi Pedagogik Guru

Persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru mengenai

kemampuan mengelola pembelajaran siswa yang meliputi pemahaman

terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil

belaja, dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan berbagai yang

dimilikinya.Gambaran Umuum tentang strategi belajar berdasarkan hasil

observasi adalah sebagi berikut

Tabel 3

Distribusi Variabel Persepsi Siswa tentang Kompetensi Pedagogik Guru

Interval Persen Kriteria Frekuensi Persentasi Rata-rata

klasikal

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui dari 75 responden diperoleh

Gambar

Gambar 1 : Keterpaduan cabang Ilmu Pengetahuan Sosial ( sumber: Khasanah Ilmu Pengetahuan Sosial 2, 2006:V )
Gambar 2. kerangka berfikir.
Tabel 1 Daftar Siswa SMP Negeri 3 Tegowanu Kab.Grobogan
Tabel 2. Kriteria Persentase
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini permasalahan yang diangkat adalah bagaimana persepsi guru non-Penjasorkes terhadap kompetensi guru Penjasorkes tingkat SMP Negeri Se-Kecamatan Lasem

(3) Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi profesional guru dan minat belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar Sejarah pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri

Dan hal ini ditunjukkan dengan secara keseluruhan persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru dalam kategori sangat kuat (91,57%) yang tidak sebanding jauh dengan

Persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar siswa telah dibuktikan dalam penelitian

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka penelitian mengenai hubungan persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru geografi dengan prestasi belajar

Berdasarkan data hasil angket tentang persepsi siswa kelas XI terhadap kompetensi pedagogik guru PPKn di SMA Negeri Kota Mojokerto dari lulusan PTS, menunjukkan bahwa

Tujuan penelitian ini yaitu untuk memperoleh informasi tentang Persepsi Siswa tentang Kompetensi Pedagogik Guru pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) di

Kompetensi pedagogik guru akidah akhlak Kelas XI IPS 2 dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri 2 Malang sudah memiliki kompetensi pedagogik yaitu