• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN

C. Analisis Regresi Logistik Ganda

Setelah melakukan analisis bivariat terhadap variabel bebas (riwayat herediter, asfiksia, prematur, kejang demam, dan trauma kepala) dengan variabel terikat (epilepsi pada anak) didapatkan riwayat asfiksia dan kelahiran prematur tidak signifikan, sedangkan riwayat herediter, kejang demam

commit to user

kompleks, dan trauma kepala mendapatkan hasil yang signifikan. Kemudian dilakukan analisis regresi logistik ganda dengan memperhitungkan variabel bebas yang mendapatkan nilai signifikan pada hasil analisis uji kebebasan (Chi-Square Test) untuk mengetahui pengaruh variabel bebas tersebut terhadap variabel terikat. Untuk variabel dengan jumlah kontrol 0 pada faktor risiko positif tidak diikutsertakan dalam analisis regresi logistik karena akan mempengaruhi hasil akhir meskipun variabel tersebut memiliki nilai p yang signifikan.

Tabel 4.10 Analisis regresi logistik tentang hubungan riwayat kejang demam dengan riwayat trauma kepala pada anak

Variabel B OR CI p

Batas bawah Batas atas

Kejang demam 2,905 18,267 5,393 61,873 0,000

Trauma kepala 2,794 16,341 3,346 79,801 0,001

N observasi = 84

Dari Tabel 4.10 didapatkan pasien epilepsi dengan riwayat kejang demam kompleks dan trauma kepala memiliki hubungan dengan terjadinya epilepsi pada anak karena didapatkan nilai p-value < 0,05. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik baik riwayat kejang demam kompleks maupun riwayat trauma kepala memiliki pengaruh dalam terjadinya epilepsi pada anak, dengan kejang demam kompleks memiliki pengaruh lebih tinggi (ExpB/OR = 18,267) daripada riwayat trauma kepala (ExpB/OR = 16,341).

commit to user

62 BAB V PEMBAHASAN

Penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor Risiko Terjadinya Epilepsi pada Anak di RSUD Dr. Moewardi” telah selesai dilaksanakan pada bulan Agustus 2012 di RSUD Dr. Moewardi. Jumlah seluruh sampel yang didapat adalah 84 anak, dengan masing-masing kasus dan kontrol berjumlah 42. Setelah mendapatkan data yang diinginkan, segera dilakukan analisis data dengan menggunakan metode Chi-Square dan regresi logistik untuk mencari hubungan dan pengaruh dari masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat.

Variabel riwayat herediter : dengan menggunakan analisis bivariat didapatkan hasil yang berhubungan antara riwayat herediter epilepsi dari keluarga inti dan terjadinya epilepsi pada anak dengan p-value < 0,05 (OR = 39,261; Cl 95% 4,96 s.d. 310,835 ; p = 0,001). Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka seorang anak yang memiliki riwayat herediter epilepsi dari keluarga inti memiliki risiko untuk menderita epilepsi sebesar 39,261 kali dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki riwayat herediter epilepsi. Dari hasil wawancara terstruktur yang dilakukan oleh peneliti didapatkan anak dengan riwayat herediter epilepsi mendapatkan penyakitnya dari ayah sebanyak 10 anak, ibu sebanyak 7 anak, dan dari saudara kandung sebanyak 3 anak. Anak yang memiliki riwayat herediter epilepsi berasal dari sampel kasus, sedangkan dari sampel kontrol tidak ditemukan sama sekali anak yang memiliki riwayat herediter epilepsi.

commit to user

Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Attumalil dkk (2011), yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara riwayat herediter dengan terjadinya epilepsi pada anak dengan risiko terjadinya epilepsi sebesar 3,17 kali dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki riwayat herediter epilepsi (OR = 3,17 with 95% CI 2,12 s.d 4,73).

Variabel riwayat asfiksia : dengan menggunakan analisis bivariat didapatkan hasil yang berhubungan antara riwayat asfiksia dan terjadinya epilepsi pada anak, dalam penelitian ini didapatkan hasil yang signifikan dengan p-value > 0,05 (OR = 5,658; Cl 95% 0,633 s.d. 50,604; p = 0,121). Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka seorang anak yang memiliki riwayat asfiksia setelah proses kelahiran memiliki risiko untuk menderita epilepsi sebesar 5,658 kali dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki riwayat asfiksia. Dari hasil wawancara terstruktur yang dilakukan oleh peneliti, hanya 4 orang saja dari sampel kasus yang memiliki riwayat asfiksia sewaktu kelahirannya, sedangkan dari sampel kontrol tidak ditemukan sama sekali anak yang memiliki riwayat asfiksia sewaktu lahir.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Raharjo (2007) dalam thesisnya yang mendapatkan hasil tidak signifikan dalam penelitiannya dengan p-value untuk variabel asfiksia 0,5 (OR = 1,5 ; Cl 95% 0,4 s.d. 5,9 ; p = 0,5). Namun, hasil penelitian ini tidak sesuai dengan uji coba yang dilakukan oleh Zanelli dkk (2011) yang menyatakan bahwa terdapat kematian atau perkembangan sel yang abnormal pada pasien yang mengalami asfiksia sedang sampai berat. Salah satu akibat dari kematian atau perkembangan sel yang abnormal tersebut adalah epilepsi yaitu sebesar 30%. Menurut Utama dkk (2006)

commit to user

bayi dengan asfiksia akan mengalami kekurangan oksigen (hipoksia) dan atau menurunnya perfusi (iskemik) ke berbagai organ yang akhirnya akan menimbulkan lesi di otak terutama di daerah hipotalamus yang selanjutnya akan menjadi fokus epileptogenik.

Variabel riwayat kelahiran prematur : dengan menggunakan analisis bivariat didapatkan hasil yang tidak berhubungan antara riwayat kelahiran prematur dan terjadinya epilepsi pada anak, dalam penelitian ini didapatkan hasil yang tidak signifikan dengan p-value > 0,05 (OR = 1,636 ; Cl 95% 0,52 s.d. 5,09 ; p = 0,393). Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka seorang anak yang memiliki riwayat kelahiran prematur memiliki risiko untuk menderita epilepsi sebesar 1,636 kali dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki riwayat kelahiran prematur. Dari hasil wawancara terstruktur yang dilakukan oleh peneliti, 15 anak yang memiliki riwayat kelahiran prematur. Sejumlah 9 anak dari sampel kasus dan 6 anak dari sampel kontrol yang memiliki riwayat kelahiran prematur dalam penelitian ini.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Raharjo (2007) dalam thesisnya yang mendapatkan hasil p-value 0,1 (tidak signifikan) untuk variabel prematur (OR = 0,3 ; Cl 95% 0,06 s.d. 1,6 ; p = 0,1). Namun hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Robinson dkk (2010) yang menyatakan bahwa persalinan preterm akan menimbulkan beberapa masalah, pada kelainan jangka panjang salah satunya adalah epilepsi. Terjadinya epilepsi pada anak yang lahir prematur berkaitan

commit to user

dengan kerusakan salah satu neurotransmiter di otak, yaitu γ-aminobutyric acid (GABA).

Variabel riwayat kejang demam : dengan menggunakan analisis bivariat didapatkan hasil yang berhubungan antara riwayat kejang demam kompleks dan terjadinya epilepsi pada anak, dalam penelitian ini didapatkan hasil yang signifikan dengan p-value < 0,05 (OR = 10,625 ; Cl 95% 3,83 s.d. 29,47 ; p = 0,000). Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka seorang anak yang memiliki riwayat kejang demam kompleks memiliki risiko untuk menderita epilepsi sebesar 10,625 kali dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki riwayat kejang demam kompleks. Dari hasil wawancara terstruktur yang dilakukan oleh peneliti, 38 anak yang memiliki riwayat kejang demam kompleks. Sejumlah 30 anak dari sampel kasus dan 8 anak dari sampel kontrol yang memiliki riwayat kejang demam kompleks dalam penelitian ini. Kejang demam kompleks adalah kejang demam yang terjadi > 15 menit serta berulang dalam 24 jam.

Hasil penelitian ini didukung dengan hasil penelitian eksperimental yang dilakukan oleh Dube dkk (2009) yang menyatakan bahwa terdapat perubahan molekuler dan fungsional setelah kejang demam berkepanjangan (kejang demam kompleks). Menurut CDK 165 (2008) faktor risiko timbulnya epilepsi yang berkaitan dengan kejang demam antara lain : terdapat kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama, kejang demam kompleks, atau riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung. Masing-masing faktor risiko meningkatkan risiko terjadinya epilepsi 4-6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan terjadinya epilepsi menjadi 10–49%. Namun

commit to user

hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Raharjo (2007) dalam thesisnya yang mendapatkan hasil p-value 0,2 untuk variabel kejang demam (OR = 1,7 ; Cl 95% 0,7 s.d. 4,2 ; p = 0,2).

Variabel riwayat trauma kepala : dengan menggunakan analisis bivariat didapatkan hasil yang berhubungan antara riwayat trauma kepala dan terjadinya epilepsi pada anak, dalam penelitian ini didapatkan hasil yang signifikan dengan p-value < 0,05 (OR = 7,222 ; Cl 95% 1,90 s.d. 27,39 ; p = 0,001). Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka seorang anak yang memiliki riwayat trauma kepala memiliki risiko untuk menderita epilepsi sebesar 7,222 kali dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki riwayat trauma kepala. Dari hasil wawancara terstruktur yang dilakukan oleh peneliti, 18 anak yang memiliki riwayat trauma kepala. Jenis trauma kepala yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah setelah terjadi trauma anak mengalami pingsan ataupun kejang.

Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Posner dkk (2011) yang menyatakan bahwa terjadinya trauma kepala mengakibatkan cedera otak dapat menimbulkan posttraumatik epilepsy (PTE). Mekanisme patofisiologik timbulnya kejang setelah trauma kepala adalah iskemia akibat terganggunya aliran darah, efek mekanis dari jaringan parut, destruksi kontrol inhibitorik dendrit, gangguan sawar darah otak, dan perubahan dalam sistem penyangga ion ekstrasel (Lombardo, 2005).

Namun, hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Raharjo (2007) dalam thesisnya yang mendapatkan hasil p-value 0,7 untuk variabel trauma (OR = 10,9 ; Cl 95% 0,4 s.d. 2.0 ; p = 0,7).

commit to user

Setelah dilakukan analisis bivariat Chi-square untuk menentukan adanya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian ini. Hasil dari analisis tersebut didapatkan 2 variabel yang tidak signifikan yaitu riwayat asfiksia serta riwayat kelahiran prematur dan 3 variabel yang hasilnya signifikan yaitu riwayat herediter, riwayat kejang demam kompleks, dan riwayat trauma. Berdasarkan hasil tersebut, maka dilakukan analisis lanjutan yaitu analisis multivariat Regresi Logistik untuk menentukan pengaruh masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat. Dalam penelitian ini seharusnya 3 variabel yang hasilnya signifikan seluruhnya dimasukkan ke dalam analisis ini, namun apabila ketiga variabel ini dimasukkan ke dalam pengolahan data menggunakan SPSS didapatkan hasil CI (Convidence Interval) = 0,000. Setelah diteliti kembali ternyata pada salah satu variabel yang diteliti yaitu riwayat herediter jumlah kontrolnya 0. Dengan kata lain dalam sampel kontrol tidak ditemukan anak yang memiliki riwayat herediter epilepsi. Maka variabel tersebut tidak dimasukkan ke dalam analisis regresi logistik dalam penelitian ini.

Variabel yang dimasukkan dalam analisis regresi logistik adalah riwayat kejang demam kompleks dan trauma kepala. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik didapatkan bahwa pasien dengan riwayat kejang demam kompleks memiliki kecenderungan menderita epilepsi sebesar 18,267 lebih besar daripada pasien yang tidak memiliki riwayat kejang demam kompleks (OR = 18,267 ; Cl 95% 5,393 s.d. 61,873 ; p = 0,000). Sedangkan pasien anak dengan riwayat trauma kepala memiliki kecenderungan menderita epilepsi sebesar 16,341 lebih

commit to user

besar dibandingkan pasien yang tidak memiliki riwayat trauma kepala (OR = 16,341 ; Cl 95% 3,346 s.d. 79,801 ; p = 0,001).

Berdasarkan hasil analisis regresi logistik ini juga didapatkan bahwa kejang demam kompleks memiliki pengaruh positif bagi terjadinya penyakit

epilepsi dengan nilai koefisien β (B) sebesar 2,905. Sedangkan trauma kepala

memiliki pengaruh positif bagi terjadinya penyakit epilepsi dengan nilai koefisien

β (B) sebesar 2,794.

Pada penelitian ini memiliki keterbatasan karena pengambilan data yang dilakukan secara subjektif (wawancara terstruktur menggunakan kuesioner) sehingga hasil yang didapatkan kurang mempresentasikan faktor-faktor risiko yang berpengaruh dalam terjadinya epilepsi pada anak. Sehingga pada penelitian selanjutnya diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang untuk memastikan pengaruh tiap-tiap faktor risiko tersebut dalam terjadinya epilepsi pada anak.

commit to user commit to user

69

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait