• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS INDONESIA

DAFTAR LAMPIRAN

4.2. Analisis Resep dan Pembahasan

Untuk menganalisis obat laksatif yang paling sering diresepkan untuk pasien pediatri maupun dewasa, hasil rekapitulasi rincian resep yang mencantumkan obat laksatif (lampiran 2) diolah dalam gambar 4.1.

Gambar 4.1. Jumlah resep dari tiap senyawa obat laksatif yang diresepkan, baik

bagi pasien pediatri maupun pasien dewasa, selama periode bulan Maret 2014.

Keterangan :

(*) : Merk dagang produk dari zat aktif Laktulosa yang diresepkan selama periode bulan Mei 2014, ialah Lactulax®, Dulcolactol®, Duphalac®, dan Opilax®.

(**) : Merk dagang produk dari zat aktif Na-pikosulfat yang diresepkan selama periode bulan Mei 2014, ialah Laxoberon® (tetes oral) dan Laxatab® (tablet).

(***) : Merk dagang produk dari zat aktif Bisakodil yang diresepkan selama periode bulan Mei 2014, ialah Dulcolax® (tablet, sirup, suppositoria).

Dapat dilihat pada gambar 4.1 bahwa laktulosa, Na-pikosulfat, dan laksatif osmotik Microlax® merupakan obat laksatif yang paling sering diresepkan di Apotik Rini selama periode Maret 2014 pada pasien pediatri (bayi dan anak di

bawah usia 12 tahun). Berikut ini akan dibahas mengenai karakteristik masing-masing laksatif tersebut :

a. Laktulosa

Laktulosa merupakan laksatif golongan osmotik berupa disakarida semisintetik (fruktosa & galaktosa) yang tidak dicerna oleh usus karena tak adanya enzim fruktosidase, dan juga tidak diabsorbsi di usus halus. Disakarida yang tidak terserap tersebut kemudian menjadi substrat bagi proses fermentasi bakteri kolon yang akan diubah menjadi produk utama yaitu asam laktat, serta asam asetat dan asam format dalam jumlah kecil. Selain itu dihasilkan pula produk sampingan berupa hidrogen, metana, karbon dioksida, air, dan asam lemak rantai pendek. Selain sebagai agen osmotik, produk-produk ini juga menstimulasi motilitas dan sekresi intestinum. Hasil fermentasi tersebut akan meningkatkan tekanan osmotik pada kolon sehingga meningkatkan retensi air serta membuat suasana kolon sedikit asam. Akibatnya, terjadi peningkatan kandungan air pada feses sehingga feses menjadi lebih lunak. Selain itu, volume dari feses juga akan meningkat sehingga dapat merangsang motilitas usus, mengurangi waktu transit feses di kolon, dan menginduksi perenggangan rektum (Rogers, 2003)..

Yang perlu diperhatikan ialah produk sampingan fermentasi laktulosa akan mengakibatkan rasa kembung dan tidak nyaman di perut serta flatus, yang menjadi efek samping yang sering dikeluhkan oleh pasien saat menggunakan laksatif jenis ini. Efek pencahar dari laktulosa sendiri baru terlihat 2-3 hari setelah administrasi, maka kurang tepat diberikan pada pasien yang butuh segera bebas dari gejala konstipasi. Dosis pemeliharaan harian untuk mengatasi konstipasi sangatlah bervariasi, biasanya 7-10 gram dosis tunggal maupun terbagi. Kadang-kadang dibutuhkan dosis awal yang lebih besar, misalnya 20 gram, dan efek maksimum laktulosa mungkin terlihat setelah beberapa hari (Rogers, 2003; Mason, Tobias, Lutkenhoff, 2004).

Produk laktulosa yang diresepkan di Apotik Rini selama periode 2014 ialah Lactulax®, Dulcolactol®, Duphalac®, dan Opilax®. Keempat produk tersebut memiliki bentuk sediaan berupa sirup yang tiap 5 ml mengandung 3,335 gram laktulosa. Resep 1 merupakan contoh regimen dosis laktulosa yang diresepkan

pada pasien pediatri berumur 7 tahun, seharinya pasien menerima 10 ml sirup laktulosa. Bila dilihat pada tabel 4.1, regimen dosis tersebut sudah memenuhi dosis yang direkomendasikan, di mana dosis pemeliharaan harian untuk anak berusia 5-14 tahun ialah 10 ml. Akan lebih baik lagi apabila selama 3 hari pertama diberlakukan dosis awal yang lebih besar dibandingkan dosis pemeliharaan, yaitu 15 ml dalam 2 atau 3 dosis terbagi, dengan pertimbangan bahwa laktulosa yang diadministrasikan secara oral membutuhkan waktu beberapa hari agar efek pencaharnya terlihat. Dengan adanya dosis awal yang lebih tinggi (initial higher dose) dapat mempercepat waktu mencapai efek teraupetik.

Tabel 4.1. Regimen dosis dari senyawa laksatif yang sering diresepkan bagi

pasien pediatri di Apotik Rini.

Senyawa laksatif

Dosis harian yang direkomendasikan

Dosis harian yang diresepkan

Pediatri Dewasa Pediatri Dewasa

Laktulosa Dosis awal (3 hari

pertama) :  5-14 th : 15 ml  1-5 th : 5-10 ml  Bayi <1 th : 5 ml Dosis pemeliharaan :  5-14 th : 10 ml  1-5 th : 5-10 ml  Bayi <1 th : 5 ml

Dosis awal (3 hari pertama) :  Parah : 30 ml  Sedang : 15-30 ml  Ringan : 15 ml Dosis pemeliharaan :  Parah : 15-30 ml  Sedang : 10-15 ml  Ringan : 10 ml a) 7 th  1 x 2 cth (10 ml) b) 7 th  2 x 1 cth (10 ml) 3 x 1 C = 45 ml 2 x 2 C = 30 ml 1 x 1 C = 15 ml 1 x 2 cth = 10 ml

Microlax® 1 enema untuk 2x pakai 1 enema untuk 1x

pakai

2 tahun  1 enema 1 enema

Na-pikosulfat

4-10 th : 5-10 tetes < 4 th : 250 mcg/kg BB

10-20 tetes a) Bayi 1 bulan  1x 2 tetes b) Bayi < 1 th  2 x 1 tetes 1 x 15 tetes Laxadine® > 6 th : 10-15 ml 15-30 ml 10 th  1 x 1 C (15 ml) 3 x 1 C = 45 ml 2 x 1 C = 30 ml 1 x 1 C = 15 ml 1 x 2 cth = 10 ml 1 x 1 cth = 5 ml

b. Microlax®

Produk yang juga banyak diresepkan bagi pasien pediatri ialah Microlax®, yang merupakan mengandung Microlax® yang mengombinasikan laksatif pelunak feses (Natrium lauril sulfoasetat) dan laksatif osmotik (garam natrium sitrat, alkohol organik PEG, dan gula sorbitol). Komposisinya ialah sebagai berikut : Natrium lauril sulfoasetat 45 mg, Natrium sitrat 450 mg, Asam sorbat 5 mg, PEG 400 625 mg, Sorbitol 4465 mg. Sediaan Microlax® sendiri berupa enema 5 ml. Natrium lauril sulfoasetat bekerja sebagai surfaktan yang mampu menurunkan tegangan pada permukaan feses, sehingga memudahkan penetrasi air ke dalam feses agar menjadikan feses lebih lunak. Tak hanya air, surfaktan juga dapat meningkatkan dispersi serat tidak larut air dalam feses sehingga jumlah serat yang meningkat akan merangsang reaksi alamiah dari usus besar untuk membantu melunakkan feses agar lebih mudah dikeluarkan oleh tubuh (Singh & Rao, 2010). Sementara ion natrium dan senyawa alkohol organik bersifat menarik air, maka sediaan diadministrasikan secara lokal pada rektum, sehingga air tertarik ke kolon dan menghasilkan mekanisme yang kurang lebih sama dengan laktulosa. (Gordon, Naidoo, Akobeng & Thomas, 2013).

Keunggulan Microlax® dari produk lainnya ialah bentuk sediaannya yang berupa enema, yang diadministrasikan secara lokal pada rektum. Oleh sebab itu efek pencaharnya langsung terlihat 15-20 menit setelah diadministrasikan. Sementara apabila diadministrasikan secara oral, efek dari pelunak feses seperti surfaktan Natrium lauril sulfoasetat baru muncul 24-48 jam setelah administrasi secara oral, sedangkan laksatif osmotik PEG membutuhkan waktu 8-12 jam setelah admintrasi secara oral. Lebih lanjut, administrasi secara lokal membuat senyawa laksatif langsung bekerja pada organ sasaran, yaitu kolon dan rektum, serta meminimalisir absorbsi dan peredaran obat secara sistemik sehingga mengurangi efek samping (British Medical Association, 2000). Walaupun begitu, enema kurang nyaman digunakan bagi anak-anak, sementara lebih mudah diadminstrasikan pada bayi.

Pada resep 2, pasien pediatri berumur 2 tahun diberikan satu enema Microlax®. Tidak seperti laktulosa, Microlax® tidak membutuhkan dosis pemeliharaan harian, dan langsung digunakan apabila gejala konstipasi timbul.

Sayangnya, pada resep tersebut tidak disebutkan apakah satu enema tersebut digunakan untuk dua kali pemakaian sesuai dengan dosis yang direkomendasikan (tabel 4.1).

Sementara untuk resep 3, pasien geriatri berusia 79 tahun menerima sirup laktulosa dosis tinggi (45 ml per hari) dan satu enema Microlax® per hari. Berdasarkan jurnal review Leung, Riutta, Kotecha, dan Rosser (2014) mengenai pengobatan laksatif secara empirik pada pasien geriatri, kombinasi agen osmotik (laktulos pada Lactulax® serta PEG & sorbitol pada Microlax®) dan pelunak feses (Na-lauril sulfoasetat pada Microlax®) terbukti lebih efektif dibandingkan pemakaian tunggal masing-masing agen laksatif. Selain itu, mengingat kondisi pasien manula yang fungsi otot kolon dan rektumnya telah menurun, laksatif stimulant bukan menjadi lini pertama pengobatan konstipasi pada pasien getriatri karena kurang berpengaruh pada kontraksi kolon maupun perenggangan rektum. Agen osmotik berupa ion natrium yang terkandung dalam Microlax® juga berisiko menimbulkan hipernatremia pada pasien usia lanjut yang fungsi ginjalnya dikhawatirkan telah menurun, namun hal ini dapat dicegah karena Microlax® diadministrasikan secara lokal pada anus dan tidak diabsorbsi secara sistemik.

c. Na-pikosulfat

Na-pikosulfat sendiri merupakan laksatif stimulant dengan tingkat efikasi dan keamanan yang kurang lebih sama dengan bisakodil (Kienzle-Horn, et al., 2007). Efek pencaharnya baru muncul 6-12 jam setelah administrasi. Efek penggunaan jangka panjang atau berlebihan ialah kram perut, diare, dehidrasi akibat ketidakseimbangan cairan atau garam, dan dapat menurunkan level kalium dalam darah. Oleh sebab itu, pada penggunaan jangka panjang dosis harus dikurangi (National Health Service England, diakses pada 27 Mei 2014).

Produk dari Na-pikosulfat yang diresepkan di Apotik Rini ialah Laxoberon® oral drops yang bentuk sediaannya cocok diadministrasikan pada bayi. Laxoberon® oral drops mengandung 7,5 mg Na-pikosulfat per ml (1 ml setara dengan 22 tetes). Pada resep 4, pasien bayi berumur 2 bulan menerima 2 tetes Laxoberon® tiap harinya. Dalam satu tetes Laxoberon® oral drops mengandung 45 mikrogram Na-pikosulfat, maka tiap harinya pasien bayi tersebut

menerima 90 mikrogram Na-pikosulfat. Dosis tersebut memang jauh lebih rendah dibandingkan dosis harian yang direkomendasikan (250 mikrogram per kg BB, apabila diambil contoh berat badan bayi rata-rata sekitar 3 kg, maka dosis harian yang direkomendasikan ialah 750 mikrogram). Pemberian regimen dosis tersebut mungkin disebabkan Na-pikosulfat yang bekerja sebagai laksatif stimulant, yang memang kurang direkomendasikan untuk pemberian pada bayi dan anak di bawah 4 tahun. Oleh sebab itu dokter anak memberikan pengobatan empirik dengan dosis rendah, sekaligus menghindari toleransi dan habituasi dari pemakaian laksatif stimulant.

d. Laxadine®

Laxadine® memiliki komposisi sebagai berikut : liquidum parafin 1,2 gram, phenolphthalein 55 mg, gliserin 378 mg, dan jeli 9,4 mg tiap 5 ml emulsi. Sediaan berupa emulsi 30 ml, 60 ml, 110 ml. Parafin cair mampu melunakkan feses dan memudahkannya keluar dari tubuh tanpa merangsang peristaltik usus, sementara fenolftalein merupakan derivate defenilmetan yang memiliki khasiat sebagai stimulant otot kolon dan rektum yang akan merangsang motilitas kolon dan perenggangan rektum. Adanya gliserin sebagai alkohol organik juga mampu berperan sebagai pencahar osmotik.

Dibandingkan pasien pediatri, Laxadine® banyak diresepkan untuk pasien dewasa. Hal ini sesuai dengan rekomendasi pada brosur Laxadine® yang melarang pemberian Laxadine pada anak di bawah usia 6 tahun tanpa konsultasi dengan dokter anak (dosis rekomendasi dapat dilihat pada tabel 4.1). Dapat diamati pada resep 5 dan 6 bahwa pemberian dosis Laxadine® bagi pasien dewasa (10 ml per hari) lebih rendah dibandingkan pemberian dosis bagi pasien anak (10 tahun) dengan dosis 15 ml per hari. Dosis rendah bagi pasien dewasa tersebut diperkirakan bertujuan bukan untuk mengobati gejala konstipasi, namun lebih untuk mengosongkan usus besar sebelum pemeriksaan diagnostik (rontgen pada saluran pencernaan, kolonoskopi, radiologi), operasi, atau melahirkan. Selain itu regimen dosis Laxadine® bagi pasien dewasa juga disesuaikan dengan keparahan penyakit, hal ini menjelaskan variasi regimen dosis yang diresepkan (diamati pada tabel 4.1). Laxadine® sendiri memang tidak direkomendasikan untuk anak di atas

usia 6 tahun, berarti pasien anak yang berumur 10 tahun pada resep 6 dapat meminum Laxadine dengan dosis yang telah disesuaikan (dosis yang diresepkan pada pasien anak tersebut masih masuk ke dalam regimen dosis harian yang direkomendasikan).

Menurut beberapa jurnal review mengenai konstipasi pada pasien pediatri dan Clinical Practice Guideline : Evaluation and Treatment of Constipation in Infants and Children: Recommendations of the North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition, jenis laksatif yang direkomendasikan menjadi pilihan utama bagi pasien pediatri ialah golongan osmotik, seperti suspensi garam magnesium, laktulosa, PEG serta golongan pelunak feses. Kedua golongan ini telah banyak diteliti dan terbukti aman untuk penggunaan jangka panjang, karena pada umumnya pasien pediatri membutuhkan terapi farmakologi selama bulanan bahkan tahunan.

PEG sendiri merupakan lini pertama dalam pengobatan konstipasi pada pasien anak dan bayi, dengan tingkat efikasi yang lebih superior dan lebih sedikit efek samping yang dihasilkan apabila dibandingkan senyawa laksatif lainnya (Voskuijl, et al., 2004; Gordon, Naidoo, Akobeng & Thomas, 2013). PEG sebagai laksatif tersedia secara komersial pada produk Miralax®, namun produk tersebut tidak beredar di Indonesia. Selain PEG, pemberian suspensi magnesium juga direkomendasikan untuk pasien anak-anak di atas usia 2 tahun. Salah satu produk suspensi magnesium yang diindikasikan untuk gejala konstipasi ialah Laxasium® yang mengandung 400 mg magnesium hidroksida per 5 ml suspensi. Pemberian suspensi ini kadang dicampur dengan susu atau jus karena rasa suspensi magnesium kurang disukai oleh anak-anak. Namun, ternyata obat laksatif ini tidak diresepkan di Apotik Rini selama periode Maret 2014, maka tidak dibahas lebih lanjut.

Sementara itu, laksatif stimulant, seperti Na-pikosulfat, senna, dan bisakodil, tidak direkomendasikan untuk penggunaan jangka panjang karena efek sampingnya yang berbahaya bagi anak dan bayi, namun dapat dijadikan lini terapi kedua untuk jangka pendek (terapi penyelamatan). Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa pemberian laksatif laktulosa dan Microlax® tergolong aman

dan tepat untuk pasien pediatri, sedangkan pemberian Na-pikosulfat perlu diawasi dokter anak (dosis disesuaikan dengan usia dan berat badan pasien pediatri) dan dihindari untuk penggunaan jangka panjang.

Perlu diingat bahwa penyebab utama dari konstipasi pada anak umumnya disebabkan oleh pola makan yang kurang serat dan kurang minum air. Oleh sebab itu, terapi farmakologis menggunakan laksatif ini tetap berjalan seiringan dengan penerapan terapi diet tinggi serat dan gaya hidup (banyak minum air dan berolahraga), serta menghindari makanan-makan yang berisiko menyebabkan konstipasi selama dan setelah pemberian laksatif dihentikan.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

1. Total keseluruhan resep selama periode bulan Maret 2014 yang terdapat di Apotek Rini adalah sebanyak 19.280 lembar dan 58 lembar di antaranya mencantumkan obat laksatif (0,30%), dengan rincian 7 lembar diperuntukkan bagi pasien pediatri dengan usia di bawah 12 tahun, 47 lembar untuk pasien dewasa, 1 lembar untuk hewan, dan 3 lembar merupakan pesanan obat dari instalasi farmasi RS atau apotik lain.

2. Obat laksatif yang sering diresepkan untuk pasien pediatri (bayi dan anak berusia di bawah 12 tahun) selama periode bulan Maret 2014 ialah Microlax® enema (3,27%), produk komersial yang mengandung laktulosa dalam bentuk sirup oral (3,27%), serta produk komersial yang mengandung Na-pikosulfat dalam bentuk oral drops (3,27%). Sedangkan obat laksatif yang paling sering diresepkan bagi pasien dewasa ialah Laxadine® (37,70%).

3. Dosis dan cara pakai dari keempat obat laksatif pada resep-resep periode bulan Maret 2014 tergolong rasional dan sesuai dengan regimen dosis yang direkomendasikan. Selain itu, banyak penelitian yang membuktikan bahwa Microlax® dan senyawa laktulosa terbukti aman diberikan bagi pasien anak dan bayi dan aman dan menjadi lini pertama pengobatan konstipasi pada pasien pediatri. Sedangkan Na-pikosulfat dan Laxadine® kurang aman untuk dijadikan terapi farmakologi jangka panjang.

5.2. Saran

a. Sebagian besar konstipasi pada anak umumnya disebabkan oleh pola makan yang kurang serat dan kurang minum air. Oleh sebab itu, pengobatan dengan laksatif tetap perlu dikombinasikan dengan diet tinggi serat, banyak minum air, dan menghindari makanan-makan yang menyebabkan sembelit selama dan setelah pemberian laksatif dihentikan.

b. Penting sekali untuk menanamkan kesadaran bahwa tidak baik sering-sering menahan rasa buang air besar dan melatih kebiasaan buang air besar secara rutin dari sejak dini.

b. Pemberian Laxoberon® oral drops pada bayi perlu diawasi dan disesuaikan dosisnya oleh dokter anak, dan perlu dihindari untuk penggunaan jangka panjang.

DAFTAR ACUAN

Baker, S.S, Liptak, G.S., Colletti, R.B., et al. (1999). Constipation in infants and children: evaluation and treatment. J Pediatr Gastroenterol Nutr.,29, 612– 626.

Beck, D. (2008). Evaluation and Management of Constipation. Ochsner J., 8(1): 25–31.

Bellini, M., et al. (2014). Management of chronic constipation in general practice. Tech Coloproctol., 18(6), 543-9.

British Medical Association. (2000). Patients prefer enemas to laxatives for bowel preparation. British Medical Journal, 320, 1-4.

Clinical Practice Guideline. (2006). Evaluation and Treatment of Constipation in Infants and Children: Recommendations of the North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition. J Pediatr Gastroenterol Nutr, 43 (3), 981-1002.

Daniels, G. et al. (2013). Giving laxatives safely and effectively. Medsurg Nurs., 22(5), 290-6, 302.

Dunnick, J. K. & Hailey, J. R. (1996). Phenolphthalein Exposure Causes Multiple Carcinogenic Effects in Experimental Model Systems. Cancer Research, 56 (21), 4922–492.

Emmanuel, A. (2011). Current management strategies and therapeutic targets in chronic constipation. Therap Adv Gastroenterol., 4(1), 37–48.

Gordon, M., Naidoo K, Akobeng A.K., & Thomas, A.G. (2013). Cochrane Review: Osmotic and stimulant laxatives for the management of childhood constipation (Review). Evid Based Child Health., 8(1), 57-109.

Hinkel U, Schuijt C, & Erckenbrecht JF. (2008). OTC laxative use of sodium picosulfate’s results of a pharmacy-based patient survey (cohort study). Int J Clin Pharmacol Ther. , 46(2), 89-95.

Horn JR, Mantione MM, Johanson JF. (2003). OTC polyethylene glycol 3350 and pharmacists' role in managing constipation. J Am Pharm Assoc, 52(3), 372-80.

Kienzle-Horn, et al. (2007). Curr Med Res Opin. 23(4), 691-9. Comparison of bisacodyl and sodium picosulphate in the treatment of chronic constipation.

Leung, L., Riutta, T., Kotecha J., & Rosser, W. (2011). Chronic Constipation: An Evidence-Based Review. Journal of The American Board of Family Medicine, 24(4), 436-51.

Loening-Baucke, V. (1993). Constipation in early childhood: patient characteristics, treatment, and longterm follow up. Gut, 34(10),1400-4. Mason, D., Tobias, N., Lutkenhoff, M. (2004). Stoops, M., & Ferguson, D. The

APN's guide to pediatric constipation management. Nurse Pract., 29(7), 13-21.

Mayo Clinic Health. (2013). Laxatives : Making sense of choices. Mayo Clin Health Lett., 31(9), 4-5.

National Health Service England. Sodium Picosulfate (Sodium picosulfate default preparation). (diakses pada 27 Mei 2014 pukul 09.15).

Perkumpulan Gastroentrologi Indonesia (PGI). (2006). Konsensus Nasional Penatalaksanaan Konstipasi di Indonesia. Jakarta : PGI.

Rasquin, A., Lorenzo, C., Forbes, D., Guiraldes, E., Hyams, J., Staiano, A,., & Walke, L. (2006). Childhood Functional Gastrointestinal Disorders: Child/Adolescent. Gastroenterology, 130 (5), 1527-1537

Redaksi ISO Indonesia. (2013). ISO Indonesia Volume 48 Tahun 2013-2014. Jakarta : PT ISFI Penerbitan.

Rogers, J. (2003). Management of functional constipation in childhood. Br J Community Nurs., 8(12), 550-3.

Rome Foundation. (2006). Rome III Diagnostic Criteria for Functional Gastrointestinal Disorders. North Carolina : Rome Foundation, Inc. Slavin, J. (2013). Fiber and prebiotics: mechanisms and health benefits. Nutrients,

5(4), 1417-35.

Singh, S. & Rao, S.S. (2010). Pharmacologic management of chronic constipation. Gastroenterol Clin North Am., 39(3), 509-27.

Tabbers, M.M., Boluyt, N., Berger M.Y., Benninga M.A. (2011). Nonpharmacologic treatments for childhood constipation: systematic review. Pediatrics., 128(4), 753-61.

UBM Medica Asia. (2012). MIMS Indonesia & Petunjuk Konsultasi Edisi 12 Tahun 2012/2013. Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer.

Voskuijl, W., et al. (2004). PEG 3350 (Transipeg) versus lactulose in the treatment of childhood functional constipation: a double blind, randomised, controlled, multicentre trial. Gut, 53(11), 1590-4.

Lampiran 1. Rincian resep yang mencantumkan obat laksatif selama periode bulan Maret 2014. Tgl (Maret 2014) Jumlah resep No.

Resep Nama Pasien Umur Pasien Nama Obat Dosis per hari Nama dokter/RS/klinik

1 588 251 Tn. Sukanda Dewasa Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml RS Persahabatan

2 450 46 An. Ruben 7 th Dulcolactol 1 x 2 sendok teh 5 ml dr. Bara Langi T., SpA

214 Kucing Ny. Suyoko - Laxadine 12 x 1/2 sendok teh 5 ml drh. Endang Setyawan

329 Ny. Supartini Dewasa (41 th) Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Dimas R.

3 669 65 Tn. Gunawan Dewasa Lactulax 3 x 1 sendok teh 5 ml dr. Mirva Rafiana

4 724 186 Ny. Siti Rodiah Dewasa (57 th) Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Hadi Pranoto, SpB-KBD

213 Atieka - Laxadine - RS Persahabatan

217 dr. Birry Dewasa Lactulax Pemakaian diketahui dr. Birry

268 Tn. Adolf Latuhamallo Dewasa (72 th) Laxadine 2 x 1 sendok makan 15 ml dr. Dwipa R.

323 Tn. Dasril Dewasa Dulcolax supp 1 x 2 supp RS Persahabatan

5 625 - - - - - -

6 673 44 Tn. Adiferno Dewasa Laxadine 1 x 1 sendok makan 15 ml (malam) dr. Hansa Wular

253 Tn. Bedi Abdad Dewasa (54 th) Laxadine 1 x 2 sendok teh 5 ml (malam) dr. Ibrahim

393 Martinus Laxadine 1 x 1 sendok makan 15 ml RS Persahabatan

531 Ny. Urip Prihastan Dewasa Lactulax 1 x 1 sendok makan 15 ml RS Persahabatan

532 Fatimah Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml RS Persahabatan

7 591 - - - - - -

8 634 457 Ny. Dwi Firlin Dewasa Lactulax 1 x 1 sendok makan 15 ml RSIA Bunda

9 483 191 (pesanan) - Laxadine - RS Persahabatan

10 704 - - - - - -

11 743 204 An. Dinda 10 th Laxadine 1 x 1 sendok makan 15 ml RS Persahabatan

398 Ny. Nurhaya Dewasa Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Imam

Tgl (Maret 2014) Jumlah resep No.

Resep Nama Pasien Umur Pasien Nama Obat Dosis per hari Nama dokter/RS/klinik

12 655 219 By. Intan Trisila 1 bln Laxoberone 2 x 1 tetes (pagi & malam) dr. Agnes

229 Ny. Kresia Novanti Dewasa (25 th) Dulcolax syr 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Hadi Pranoto, SpB-KBD

13 679 651 Bertha Parera Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml RS Persahabatan

14 621 62 An. Ayala 2 th Microlax Pemakaian diketahui dr. Sridar Zulkifli, SpA

297 Tn. Sunardi Dewasa (51 th) Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Achmad Fahron, SpPD

468 Yohana Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Robertus

15 604 - - - - - -

16 475 401 Nn. Risyda Remaja (14 th) Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml RS Persahabatan

422 Knesia Dulcolax supp Pemakaian diserahkan pada dokter RS Persahabatan

17 689 263 Tn. Ahmad Safi Dewasa Laxadine 1 x 1 sendok makan 15 ml dr. Rudi Hansono

18 709 4 Ny. Imelda Dewasa Lactulax 2 x 2 sendok makan 15 ml dr. Mardi Santoso, SpPD

611 Tn. Machtum Dewasa (68 th) Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Luaie Melanie, SpS

Dulcolax supp Pemakaian diketahui

19 693 284 Yanti N. Dulcolax tab 2 x 1 tablet dr. Botefilia, SpOG

466 Tn. Achmad Syafi Dewasa Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml RS Persahabatan

680 An. Aydin Falah M. 7 th Lactulax 2 x 1 sendok teh 5 ml dr. Jenni K. Dahliana, SpA

20 645 38 An. Masayu 2 th Microlax 1 supp RS Persahabatan

144 (pesanan) Duphalac Apotik Triyasa

Lactulax

641 Felly Fleet

phosposoda

Pemakaian diserahkan pada dokter dr. Indah

21 635 75 Erninda Dewasa (66 th) Lactulax 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Ari Fachrialsyah, SpPD

418 Ny. Suhermawan Dewasa Microlax 1 supp RS Persahabatan

523 Tn. Popo Hardenax Dewasa Opilax 1 x 1 sendok makan 10 ml dr. Felix Prabowo S., SpPD

22 639 266 Sugimin Dulcolactol 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Liliana Taufik, SpPD

332 Dahirman Dulcolax tab 3 x 1 tablet RS Islam Jakarta

Tgl (Maret 2014) Jumlah resep No.

Resep Nama Pasien Umur Pasien Nama Obat Dosis per hari Nama dokter/RS/klinik

23 454 - - - - - -

24 732 - - - - - -

25 697 68 (pesanan) - Dulcolax - dr. Ella

536 Tn. Mustofa Khamal Dewasa (35 th) Laxoberone 1 x 15 tetes dr. Budihusodo, SpB-KBD

26 675 37 Karnadi Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Diana, SpPD

27 621 292 Sri Purwanti Dewasa (50 th) Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Seno, SpB

28 620 224 Ny. Kasriah Dewasa (79 th) Lactulax 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Wawan Kurniawan, SpPD

Microlax 1 supp

442 Ny. Sarinah Dewasa (56 th) Lactulax 3 x 1 sendok makan 15 ml dr. Kartika

29 655 11 Mugiyanti Laxadine 3 x 1 sendok makan 15 ml RS Persahabatan

291 Yani Krisyanani Lactulax 3 x 1 sendok makan 15 ml RS Fatmawati

480 Ny. Sayati Dewasa Laxadine 1 x 1 sendok makan 15 ml (malam) dr. Cut Kusumawati

657 Utjih Laxadine 1 x 1 sendok teh 5 ml RS Persahabatan

30 459 3 By. Reggie Febriyana Laxoberone 1 x 2 tetes dr. Husein Alatas, SpA

Dokumen terkait