PEM. PUSAT
ANALISIS RESIKO PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH PADA STATUS PENGUASAAAN LAHAN DAN MUSIM TANAM BERBEDA DI PROVINSI BALI
Suharyanto
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali
e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Secara umum usahatani padi sawah yang dilakukan petani bertujuan untuk memperoleh keuntungan maksimal dan mencukupi kebutuhan pangan rumahtangganya. Untuk mencapai hal tersebut petani selalu dihadapkan pada berbagai risiko baik internal maupun eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis risiko pendapatan usahatani padi sawah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada status penguasaan lahan danmusim tanam yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada tiga sentra produksi padi sawah di Provinsi Bali, kabupaten Buleleng, Gianyar dan Tabanan. Pengumpulan data dilakukan melalui survey dengan mewawancarai 122 petani yang dipilih secara acak sederhana. Distribsi petani responden terdiri dari 40 petani di Kabupaten Buleleng, 38 petani di kabupaten Gianyar dan 44 petani di Kabupaten Tabanan. Risiko pendapatan usahatani sawah dianalisis dengan pendekatan nilai koefisien variasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi risiko pendapatan usahatani padi sawah dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Hasil analisis menunjukkan bahwa risiko pendapatan usahatani padi sawah lebih tinggi jika diusahakan pada musim hujan dengan status lahan bukan milik. Faktor-faktor yang mempengaruhi risiko pendapatan usahatani padi sawah antara lain luas lahan usahatani, harga pupuk N, harga pestisida dan upah tenaga kerja.
Kata kunci : risiko, pendapatan, usahatani, padi sawah
ABSTRACT
In general, farming of paddy farmers do arms to get profit maximum benefit and meet household food needs. To achieve this the farmers always faced with various risks both internal and external. The purpose of this research are to identify and analyze the risks of paddy farm income and the factors influencing on land ownership and different growing seasons. The research was conducted at three centers of rice production in the province of Bali, i.e. Buleleng, Gianyar and Tabanan regency. Data was collected through the survey by interviewing 122 farmers were selected randomly. Distribution farmer respondents consisted of 40 farmers in Buleleng, 38 farmers in Gianyar and 44 farmers in Tabanan. Rice farming income risk were analyzed with the approach of the coefficient of variation. The factors that influence the risk of paddy farm income was analyzed using multiple linear regression with Ordinary Least Square method (OLS). The analysis showed that the risk of paddy farm income is higher if cultivated during the dry season with the status of the land not own property. Factors that affect the risk of farm income among other paddy farming land, the price of fertilizer N, prices of pesticides and labor.
Keywords : risk, income, farming, paddy
PENDAHULUAN
Sektor pertanian memegang peranan penting dalam struktur perekonomian masyarakat di Provinsi Bali. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar kedua dalam Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) dimana pada tahun 2013
31
SEMINAS PERAN INOVASI TEKNOLOGI DAN JASA LINGKUNGAN BUDAYA SUBAK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL, DENPASAR 12 DESEMBER 2014
sumbangan sektor ini sebesar 16,82 persen, peringkat kedua terbesar setelah sektor perdagangan,hotel dan restoran sebesar 29,89 persen (BPS Prov Bali, 2014a). Sektor pertanian juga merupakan sumber mata pencaharian terbesar kedua bagi penduduk Bali setelah sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sektor pertanian menyerap sekitar 24 persen dari total angkatan kerja di Bali pada tahun 2013. dan sebanyak 28.43 persen bekerja pada usahatani padi sawah. Namun saat ini sektor pertanian sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian masyarakat Bali. Hal ini tercermin dari hasil sensus pertanian 2013 dimana terjadi penurunan jumlah rumahtangga pertanian sebesar 17,09 persen dibandingkan jumah rumahtangga pertanian pada tahun 2003 (BPS Prov Bali, 2014b).
Provinsi Bali yang memiliki luas areal usahatani padi sawah relatif lebih kecil (14,40% dari dari luas wilayah) dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, namun tingkat produktivitasnya yang relatif lebih tinggi dibandingkan produktivitas nasional (BPS Provinsi Bali, 2013). Produktivitas tersebut sesungguhnya masih dapat ditingkatkan hingga mendekati potensinya, namun berbagai permasalahan muncul seiring dengan munculnya berbagai kepentingan dan kondisi perubahan sumberdaya alam. Suryana et al., (2009) mengungkapkan bahwa beberapa permasalahan yang berkaitan dengan usahatani padi sawah antara lain : (a) kepemilikan lahan usahatani yang relatif kecil dan tersebar dan bahkan cenderung mengecil karena adanya proses fragmentasi lahan sebagai akibat dari sistem/pola warisan, (b) terjadinya alih fungsi lahan sawah untuk penggunaan lainnya sebagai akibat perkembangan perekonomian daerah baik untuk pariwisata, perumahan maupun sektor lainnya, (c) keterbatasan debit air irigasi pada beberapa wilayah, terutama pada musim kemarau yang disebabkan oleh persaingan dalam penggunaan air irigasi, (d) keterbatasan tenaga kerja terutama pada saat panen raya, sehingga kebutuhan tenaga kerja umumnya berasal dari luar Bali, (e) keterbatasan modal usahatani, sehingga produktivitas yang dicapai masih dibawah produktivitas potensialnya dan (f) tingkat serangan hama penyakit yang masih cenderung tinggi dan beragam antar wilayah dan antar musim tanam seperti wereng coklat, penggerek batang, tungro dan tikus.
Karakteristik petani dan pola produksi komoditas padi merupakan unsur yang sangat berpengaruh terhadap sistem pasar komoditas padi. Maulana dan Rachman (2011) menyatakan bahwa perpaduan antara produksi padi yang fluktuatif dan penawaran padi yang tidak elastis menyebabkan fluktuasi harga padi ditingkat petani sangat tinggi dan tidak menentu. Hal ini berarti, disamping resiko produksi, petani padi juga menghadapi risiko harga yang tinggi sehingga secara keeluruhan risiko usahatani padi sangat tinggi. Fluktuasi produksi dan harga padi juga merupakan risiko usaha bagi pedagang beras yang diinternalisasikan kedalam margin pemasaran yang lebih tinggi. Lebih lanjut Simatupang et al., (2005) menyatakan bahwa relatif rendahnya harga gabah yang diterima petani, dikhawatirkan akan dapat menurunkan insentif petani untuk menggunakan teknologi produksi, khususnya benih bermutu dan pupuk secara optimal yang akan berdampak pada luas panen, produksi dan alih fungsi lahan sawah.
Berdasarkan latar belakang dan uraian diatas, tentang pentingnya mengetahui pendapatan dan risiko pendapatan usahatani padi sebagai pertimbangan bagi petani dalam melakukan usahataninya, maka penelitian ini secara khusus bertujuan untuk (1) berapa besarnya risiko pendapatan usahatani padi berdasarkan musim tanam dan status
32
SEMINAS PERAN INOVASI TEKNOLOGI DAN JASA LINGKUNGAN BUDAYA SUBAK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL, DENPASAR 12 DESEMBER 2014
kepemilikan lahan dan (2) faktor apa yang mempengaruhi pendapatan dan risiko pendapatan usahatani padi sawah di Provinsi Bali.
METODOLOGI
Lokasi penelitian dtentukan secara purposive pada tiga kabupaten sentra produksi padi sawah di Provinsi Bali, yaitu Kabupaten Tabanan, Buleleng dan Gianyar. Pengumpulan data dilaksanakan selama dua musim tanam tahun 2012 melalui survei dengan mewawancarai petani contoh dengan panduan kuesioner yang terstruktur. Data-data yang dikumpulkan terkait dengan tulisan ini mencakup karakteristik rumah tangga petani, penguasaan lahan usahatani, pola tanam, struktur input dan output usahatani. Pengambilan sampel petani padi sawah dalam penelitian ini digunakan metode sampel acak sederhana sebanyak 122 petani padi sawah yang terdistribusi 44 petani di Desa Selanbawak, Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan, 38 petani di Desa Bona Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar dan 40 petani di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng.
Menurut Soekartawi et al. (1986), pada pertanian subsisten dan semisubsisten pendapatan kotor usahatani dihitung dalam bentuk nilai produksi baik dalam bentuk tunai maupun tidak tunai. Sehingga pendapatan kotor usahatani merupakan nilai produk total usahatani baik yang dijual maupun tidak dijual dalam jangka waktu tertentu. Selisih pendapatan kotor dengan biaya yang dikeluarkan untuk usahatani merupakan pendapatan bersih. Pendapatan bersih yang diterima petani merupakan ukuran keuntungan usahataninya. Untuk menghitung profitabilitas usahatani menggunakan formula (Soekartawi, 2002; Debertin, 1986) :
π = TR – TC atau = P.Q – (TVC + TFC) ………..(1) Keterangan : π = keuntungan TR = total penerimaan C = total biaya P = harga output Q = jumlah output BCR = π /TC Kriteria:
Bila B/C > 1 usahatani layak Bila B/C < 1 usahatani tidak layak
Analisis risiko usahatani padi sawah meliputi analisis risiko pendapatan usahatani padi sawah. Untuk mengetahui besarnya risiko pendapatan dianalisis dengan menggunakan koefisien variasi (CV). Nilai CV merupakan ukuran resiko relatif yang diperoleh dengan membagi standar deviasi dengan nilai rata-rata yang diharapkan (Pappas dan Hirschey,1995). Secara matematis risiko dirumuskan sebagai berikut :
CV = 𝜎
𝛾 ...(2) Nilai koefisien variasi yang lebih kecil menunjukkan variabilitas nilai rata-rata pada distribusi tersebut rendah. Hal ini menggambarkan risiko yang dihadapi untuk memperoleh pendapatan usahatani padi sawah rendah.
33
SEMINAS PERAN INOVASI TEKNOLOGI DAN JASA LINGKUNGAN BUDAYA SUBAK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL, DENPASAR 12 DESEMBER 2014
Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani padi sawah dianalisis menggunakan pendekatan fungsi keuntungan yang dinormalkan dengan harga output (Unit Output Price-Cobb-Douglass Profit Function) model Yotopoulus dan Lau dengan metode estimasi Ordinary Least Square (OLS). Jika diasumsikan hubungan antara input dengan output merupakan fungsi produksi Cobb-Douglas, maka fungsi keuntungan yang dinormalkan terhadap harga output dapat diformulasikan :
Ln 𝜋 * = ln A* + α1lnC1 + α2lnC2* + α3lnC3* + α4lnC4* + α5lnC5* + α6lnC6* + α7lnC7* + α8lnC8* + δ1D1 + δ1D2 + ɛ ………(3) Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi risiko pendapatan usahatani padi sawah digunakan varian dari pendapatannya, maka digunakan fungsi varian dari pendapatannya yang diformulasikan sebagai berikut :
Ln ɛ2 𝜋 * = ln A* + α1lnC1 + α2lnC2* + α3lnC3* + α4lnC4* + α5lnC5* + α6lnC6* + α7lnC7* + α8lnC8* + δ1D1 + δ1D2 + ɛ ………(4) Keterangan :
𝜋 * = keuntungan usahatani padi sawah yang dinormalkan dengan harga output (Rp)
A* = konstanta
αi = variabel input yang diduga (i = 1,2,3,4,5,6,7,8) δi = variabel dummy (i= 1,2)
C1 = luas lahan usahatani padi (Ha)
C2* = harga benih yang dinormalkan dengan harga output (Rp) C3* = harga pupuk N yang dinormalkan dengan harga output (Rp) C4* = harga pupuk P yang dinormalkan dengan harga output (Rp) C5* = harga pupuk K yang dinormalkan dengan harga output (Rp) C6* = harga pupuk organik yang dinormalkan dengan harga output (Rp) C7* = harga pestisida yang dinormalkan dengan harga output (Rp) C8* = upah tenaga kerja yang dinormalkan dengan harga output (Rp) D1 = dummy musim tanam (0=MH ; 1=MK)
D2 = dummy status lahan (0 = bukan milik ; 1=milik sendiri) ɛ = kesalahan pengganggu (error temn)
HASIL DAN PEMBAHASAN