III. METODE PENELITIAN
3.5 Teknik analisis data
3.5.2 Analisis Revenue Cost Ratio (R/C)
Untuk mengetahui tingkat kelayakan usahatani kacang hijau di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto, maka digunakan teknik
Penentuan tingkat kelayakan dari usahatani kacang hijau dengan
TR : Total Penerimaan (Rp) TC: Total Biaya (Rp) Kriteria :
Jika R/C > 1, maka suatu usaha dikatakan layak untuk diusahakan karena memberi keuntungan. Jika R/C = 1, maka usaha dikatakan impas atau tidak memberikan keuntungan, dalam analisis kelayakan usaha maka kondisi ini dinyatkan tidak layak. Jika R/C < 1, maka usaha dinyatakan tidak layak karena tidak dapat memberikan keuntungan.
3.6 Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalah pahaman pembaca dalam memahami penelitian ini, maka dikemukakan konsep operasional dengan pengertian yaitu:
1. Kacang hijau adalah salah satu komoditi kacang kacangan yang mempunyai arti penting bagi masyarakat baik dilihat dari nilai ekonomisnya yang tinggi maupun dari kandungan gizinya. Kacang hijau dalam penelitian ini adalah Suatu hasil dari tanaman kacang hijau yang dihasilkan oleh petani. Di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto.
2. Responden adalah petani yang mengusahakan tanaman kacang hijau di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto
3. Populasi adalah Jumlah dari anggota sample secara keseluruhan Di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto
4. Komoditi adalah tanaman kacang hijau yang diusahakan petani di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto
5. Sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih sebagai objek pengamatan.
6. Lahan kering adalah lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto dengan menggunakan air secara terbatas dan biasanya hanya mengharapkan dari curah hujan atau menunggu hujan.
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Kondisi Geografis
4.1.1 Letak dan Luas Wilayah
Desa Bonto Ujung merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Tarowang,Kabupaten Jeneponto dengan luas wilayah ± km2. Luas ini terdiri atas lahan persawahan,perkebunan dan perikanan/kelautan.
Adapun batas-batas wilayahnya sebagai berikut : a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Bonto Nompo b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tino
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Flores d. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Balangloe
Jarak desa Bonto Ujung dari ibukota kabupaten ± 20 Km dengan jarak tempuh 30 menitdengan menggunakan angkutan umum, sedangkan jarak dari kecamatan ± 4 Km dengan jaraktempuh 10 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua (motor).Desa Bonto Ujungsecara admnistratif Desa Bonto ujung terdiri dari 5 (lima) dusun yaitu :Dusun Ujung Barat, Dusun Ujung Timur, Dusun Bungun Konci, Dusun Bontokatangka, dan Dusun Bontomanai
Jika dilihat dari topografinya, desa Bonto Ujung termasuk daerah daratan yang memilikiketinggian antara 0-3 meter dari permukaan laut. Daerah daratan yang terbagi atas lahanperkebunan dan persawahan tadah hujan hanya mengandalkan musim hujan dan sebagiandaerahnya adalah daerah pesisir.
4.1.2 Keadaan Tanah dan Kondisi Iklim
Desa Bonto Ujung memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata mencapai 450 C dan memiliki tipe musim kemarau dan musim hujan. Musim hujan biasanya terjadi pada bulan Oktober-Juni, sementara musim kemarau pada bulan Juli-September. Puncak hujan terjadi pada bulan Desember-Januari dengan curah hujan rata-rata mencapai 14,32 mm/tahun
4.1.3 Tata Kelola Air
Wilayah desa Bonto Ujung terbagi atas lahan pertanian holtikultura yang mengandalkanmusim hujan dan daerah perikanan karena sebagian dari wilayah desa Bonto Ujung adalahdaerah pesisir. Sumber air pada desa Bonto ujung berasal dari air tanah yang berasal darisumur gali sebagai sumber utama dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dalam hal penyediaan air bersih rumah tangga dan pertanian.
4.2 Kondisi demografis
4.2.1 Keadaan Penduduk Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin
Desa Bonto Ujung merupakan desa yang berjumlah penduduk padat. Hal ini terlihat dari hasil sensus penduduk yang dilakukan pada tahun 2014 lalu yang menunjukkan bahwa jumlah penduduk Desa Bonto Ujung sekitar 3.440 jiwa dengan jumlah laki-laki: 1.732 jiwa dan jumlah perempuan: 1708 jiwa.
dalam satu keluarga di Desa Bonto Ujung pada umumnya hanya terdiri dari lima jiwa.
Tabel 3 : Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin Desa Bonto Ujung Tahun 2014
No Nama Dusun Jumlah
KK Laki-laki Perempuan Total
1 Ujung Barat 202 435 398 833
2 Ujung Timur 262 507 530 1037
3 Bungung Konci 118 250 232 482
4 Bontokatangka 178 319 352 671
5 Bonto mania 113 218 199 417
Total 873 1.729 1.707 3.440
Sumber :Data Hasil Sensus Penduduk Desa Bonto Ujung Tahun 2018
4.2.2 Keadaan penduduk berdasarkan mata pencaharian atau pekerjaan
Keadaan penduduk berdasarkan mata pencaharian atau pekerjaan merupakan jenis pekerjaan utama penduduk Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Desa bonto ujung berdasarkan mata pencaharian terbagi menjadi jenis yaitu: PNS/TNI POLRI, pedagang, petani, pertukangan atau buruh, tenaga honorer, wiraswasta, dan nelayan atau perikanan.
Selengkapnya dapat dilihat pada table berikut
Tabel 4 : Jumlah Kepala Keluarga Berdasarkan Pekerjaan
No. Jenis pekerjaan Jumlah (orang)
1 PNS/TNI POLRI 37
2 Pedagang 21
3 Petani 548
4 Pertukangan / buruh 51
5 Tenaga honorer 153
6 Wiraswasta 40
7 Nelayan / perikanan 70
Jumlah 920
Sumber : Data Hasil Sensus Penduduk Desa Bonto Ujung Tahun 2018
4.2.3 Keadaan penduduk berdasarkan pendidikan
Keadaan penduduk berdasarkan pendidikan adalah untuk melihat sejauh mana tingkat pendidikan penduduk yang ada di Desa Bonto Ujung. Dalam melakukan usahatani, seperto yang berwawasan luas dan cepat mengkap informasi baru sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta tehknologi baru sangat berpengaruh terhadap tehnik usahatani yang baik dan benar. Keadaan penduduk Desa Bonto Ujung berdasarkan pendidikan terbagi atas: tidak sekolah, TK, SD, SMP, SMA/SLTA sederajat, D1, D2, D3, dan sarjana strata 1, selengkapnya dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 5. Keadaan penduduk berdasarkan pendidikan
No. Tingkat Pendidikan Jumlah (orang)
1 Tidak Sekolah 1.095
9 Sarjana strata 1 41
Jumlah 3.023
Sumber : Data Hasil Sensus Penduduk Desa Bonto Ujung Tahun 2018
4.3 Pekerjaan pokok dan sampingan
Sekitar 57 % masyarakat Desa Bonto Ujung bekerja sebagai petani jagung kuning dan palawija, 12% sebagai buruh tani, 26% petani rumput laut, sedangkan 5 % lainnya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), nelayan, tukang ojek,
sebagai pembuat kasur untuk menambah penghasilan agar mampu menutupi biaya hidup yang semakin meningkat.Terdapat pula beberapa keluarga dari kalangan keluarga miskin dan sangat miskin yangmencari sumber penghasilan tambahan di luar desa seperti menjadi buruh bangunan dan tukang becak, tukang ojek di kota Makassar, Kalimantan, Mamuju dan kota-kota lainnya. Pekerjaan ini dilakukan pada musim-musim tertentu dengan tujuan untuk menambah pendapatan ekonomi keluarga.Untuk bidang pertanian masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh para petani seperti pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola budi daya jagung dan palawija yang masih sangat kurang serta keterbatasan sarana dan alat-alat pertanian seperti pompa, Handtractor dan lain-lain.Selain itu faktor utama adalah modal dan satabilitas harga belum stabil jadi ketika muasim tanam dan pemupukan tiba masyarakat lebih banyak mengutang nanti setelah panen baru di bayarkan hal itulah yang mengakibatkan pendapatan dan perekonimian semakin terpuruk dan kurang meningkat sedangkan harga kebutuhan pertanian semakin meningkat.
4.4 Kelembagaan Desa
Keamanan dan ketertiban juga merupakan indikator keberhasilan pembangunan suatu desa. Organisasi atau kelembagaan masyarakat di desa itu sangat menunjang dalam pembangunan desa. kelembagaan masyarakat yang ada di desa Bonto Ujung yaitu Remaja Mesjid, TKA/TPA, Karang Taruna, LPD, BPD, PKK, Dasawisma, Kelompok Tani, Kelompok Arisan, Kelompok SPP, BUMDes Sipitangarri dan sebagainya. Lembaga-lembaga ini belum berfungsi maksimal oleh karena belum ada pembinaan yang maksimal dari pemerintah desa.
Selain itu, kualitas Sumber Daya Manusianya masih perlu ditingkatkan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh warga.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Petani Responden
Pertani adalah orang yang mengendalikan dan menguasai tanaman atau hewan untuk memperoleh keuntungan dari padanya. Petani merupakan salah satu dari tri tunggal usahatani, menggerakkan setiap unsur yang dapat menghasilkan suatu produksi.
Identitas Responden dapat dilihat melalui ciri-ciri yang dimilki dalam kaitannya dengan pelaksanaan usahataninya yang meliputi: umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan keluarga dan luas lahan garapan yang diusahakannya.
5.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Umur seorang petani mempengaruhi kemanpuan fisiknya dalam bekerja dan berpikir. Petani yang lebih muda mempunyai kemanpuan fisik yang lebih besar dari petani yang lebih tua. Juga cenderung menerima hal-hal baru dianjurkan untuk menambah pengalaman-pengalaman baru yang berharga dalam berusahatani.
Tabel 6. Tingkat Umur Petani Responden di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto, 2019
No. Umur (tahun) Jumlah Petani (orang) Persentase (%)
1. 25-37 4 20
2 28-50 10 50
3 51-63 6 30
Jumlah 20 100%
Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2019.
Berdasarkan tabel 6 diatas, dapat diketahui bahwa umur petani responden yang memiliki jumlah petani responden terbanyak yaitu pada kelompok umur 28 -50 tahun sebanyak 10 orang (-50%), yaitu kelompok umur yang sangat produktif untuk melakukan usahataninya. Kemudian petani responden terbanyak kedua adalah kelompok umur yang lebih besar dari sama dengan 51 - 63 tahun yaitu sebanyak 6 orang dengan presentase (30%) yang merupakan kelas umur yang sudah tidak produktif lagi untuk melakukan usahataninya. Sedangkan kategori yang paling sedikit adalah pada kelompok umur 28-50 tahun yaitu sebanyak 64orang dengan presentase (20%).
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa umur petani responden adalah masih tergolong petani yang masih produktif dan masih mampu mengelola dan menerima informasi baru yang diberikan kepadanya untuk diterapkan dalam usahataninya.
5.1.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
`Pendidikan yang dimaksud adalah tingkat pendidikan formal yang pernah diikuti oleh petani responden. Pada umumnya petani yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih cepat menerima inovasi baru dari pada yang pendidikannya rendah. Keadaan petani responden berdasarkan tingkat pendidikannya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 7 Tingkat Pendidikan Petani Reasponden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, 2019
No. Pendidikan Jumlah responden Persentase
1. SD 15 75%
2. SMP 3 15%
3. SMA 2 10%
Total 20 100%
Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2019
Berdasarkan tabel 7 dapat diketahui bahwa petani responden yang terbanyak adalah petani responden yang berada pada tingkatan pendidikan SD dengan jumlah responden sebanyak 15 orang (75%), sedangkan responden yang paling sedikit atau tidak ada adalah responden pada tingkatan pendidikan sarjana yaitu sebanyak 0 orang (0%). Dari tabel tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan petani responden desa Bonto Ujung masih sangat rendah karena selisih antara jumlah responden yang tingkat pendidikan SD dengan tingkat pendidikan SMP, SMA, dan Sarjana masih sangat jauh. Hal ini sangat mempengaruhi petani responden dalam pengambilan keputusan dan penerimaan inovasi-inovasi baru.
5.1.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tanggungan Keluarga
Tanggungan keluarga adalah semua orang yang ditanggung oleh kepala keluarga dalam hal ini adalah petani responden. Jumlah tanggungan keluarga mempunyai peranan yang penting terhadap ketersediaan tenaga kerja, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Tingkat Tanggungan Keluarga Petani Responden di Desa Bonto Ujung,
Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2019
Berdasarkan tabel 8 dapat diketahui bahwa petani responden yang memiliki tanggungan keluarga terbanyak adalah terdapat pada kelompok 3-4 yaitu dengan jumlah responden 11 orang (55%), sedangkan petani responden yang memiliki tanggungan keluarga yang paling sedikit adalah terdapat pada kelompok 1-2 yaitu sebanyak 2 orang (10%). Hal ini menunjukkan bahwa petani responden Desa Bonto Ujung lebih banyak memiliki tanggungan keluarga yang sedikit dari pada memiliki tanggungan keluarga lebih banyak.
5.1.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman berusahatani
Pengalaman berusahatani merupakan factor utama dalam menentukan kualitas sumberdaya seseorang. Semakin lama orang bekerja pada pekerjaanya dianggap berpengalaman pada bidang yang ditekuninya. Adapun tingkat pengalaman berusahatani responden dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Tingkat Pengalaman Berusahatani Responden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.
No. Pengalaman berusahatani Jumlah (orang) Persentase
1 3-4 4 20
2 5-6 12 60
Berdasarkan tabel 9 dapat diketahui bahwa petani responden yang paling banyak adalah yang memiliki pengalaman berusahatani pada kisaran 5-6 tahun yaitu sebanyak 12 orang (60%). Sedangkan petani responden yang paling sedikit adalah yang memiliki pengalaman berusahatani pada kisaran 3-4 tahun yaitu sebanyak 4 orang (20%). Hal ini menunjukkan bahwa petani responden Desa Bonto Ujung lebih banyak yang memilki pengalaman berusahatani kacang hijau selama 5 sampai 6 tahun.
5.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan
Luas garapan merupakan faktor yang sangat penting, karena semakin luas lahan yang dianggap oleh petani, memungkinkan tercapainya tingkat produksi yang semakin tinggi. Untuk mengetahui penyebaran petani responden berdasarkan luas lahan garapan seperti tertera pada tabel 10 berikut ini:
Tabel 10. Tingkat Luas Lahan Garapan Petani Responden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.
No. Luas Lahan (Ha) Jumlah (Orang) Persentase
1. 0,40-0,93 4 20
2. 0,94-1,75 15 75
3. 1,76-2,29 1 5
Total 20 100
Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2019
Berdasarkan tabel 10 dapat diketahui bahwa petani responden mempunyai luas lahan paling banyak pada kisaran 0,94-1,75 ha yaitu sebanyak 15 orang (75%), luas lahan garapan yang terbanyak kedua yaitu pada kisaran 0,40-0,93 ha sebanyak 4 orang (20%), sedangkan luas lahan garapan yang paling sedikit adalah luas lahan pada kisaran 1,76-2,29 ha sebanyak 1 orang (5%).
5.2 Pendapatan Usahatani Kacang Hijau
Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Untuk mengetahui penerimaan petani responden berdasarkan luas lahan garapan seperti tertera pada tabel 9 berikut ini:
Tabel 9. Rata-rata Total Penerimaan Petani Responden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto
.
No Uraian Jumlah Rata-rata (Rp)
1
Sumber : Data primer setelah diolah, 2019.
Tabel 9 menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan per hektar yang diperoleh petani responden di Desa Bonto Ujung sebesar Rp 4.226.880. Jumlah rata-rata produksi per hektar sebanyak 1.478,75 Kg dan Jumlah rata-rataharga/KgsebesarRp. 12.000.
5.3 Biaya pengeluran usahatani Kacang Hijau
Pengeluaran biaya usahatani kacang hijau merupakan salah satu kebutuhan utama bagi petani dalam meningkatkan produksi usahataninya. Biaya terbagi atas dua yaitu biaya tetap dan biaya variabel.
5.3.1 Total Biaya
Biaya adalah nilai dari korbanan atau input ekonomis yang diperlukan dan dapat diukur untuk menghasilkan suatu produk. Berikut ini akan dikemukakan
Tabel 10. Rata-rata Total Biaya Produksi Petani Petani Responden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.
No Jenis Biaya Nilai(Rp)
Sumber : Data primer setelah diolah, 2019.
Tabel 10 menunjukkan bahwa rata-rata biaya tetap per hektar terdiri dari pajak sebesar Rp. 5.650 dan Rata-rata Biaya Peneyusutan sebesar Rp. 679.146.
Sehinga rata-rata total biaya tetap sebesar Rp. 684.796. Selain itu rata-rata biaya variabel per hektar terdiri dari biaya rata Bibit sebesar Rp. 13.000, biaya rata-rata Tenaga Kerja sebesar Rp. 580.175, biaya rata-rata-rata-rata Pupuk sebesar Rp.
580.175, dan biaya rata-rata Pestisida sebesar Rp. 1.161.250. Sehinga rata-rata total biaya Veriabel sebesar Rp. 2.469.425. sehingga jumlah rata-rata total biaya produksi per hektar sebesar Rp. 3.154.221. Hal ini dapat di simpulkan bahwa total biaya variabel lebih banyak dibanding total biaya tetap.
5.4 Pendapatan Usahatani Kacang Hijau
Pendapatan usahatani kacang hijau dalam satu kali panen diperoleh dari pengurangan total penerimaan dengan total biaya. Biaya terbagi atas dua yaitu biaya variabel dan biaya tetap. Analisis biaya produksi dan pendapatan dalam satu kali panen dapat dilihat dalam Tabel 10.
Tabel 11. Rata-rata Pendapatan Petani Petani Responden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.
No Uraian Jumlah Rata-rata (Rp)
1
Sumber : Data primer setelah diolah 2019.
Tabel 11 dapat dilihat bahwa rata-rata penerimaan per hektar yang diperoleh petani responden di Kelurahan Tolo Barat sebesar Rp 13.431.00. Jumlah rata-rata produksi per hektar sebanyak 1.478,75Kg dan Jumlah rata-rata harga/ Kg sebesar Rp. 12.000. Rata-rata total biaya yang dikeluarkan petani responden dalam luasan per hektar sebesar Rp 3.154.221, rata-rata total biaya diperoleh dari rata-rata total biaya variabel sebesar Rp 2.469.425 ditambah dengan rata-rata total biaya tetap sebesar Rp 684.796. Rata-rata total pendapatan yang diperoleh petani responden dalam satu kali panen sebesar Rp 10.276.779 pendapatan diperoleh dari jumlah rata-rata penerimaan sebesar Rp 13.431.00 dikurang dengan rata-rata total biaya sebesar Rp 3.154.221 hal ini dapat simpulkan bahwa pendapatan petani di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto. cukup
5.3 Analisis Kelayakan ( R/C Ratio) Usahatani Kacang Hijau
Menurut Darsono (2008) dalam Sari (2011), R/C rasio merupakan metode analisis untuk mengukur kelayakan usaha dengan menggunakan rasio penerimaan (revenue) dan biaya (cost). Analisis kelayakan usaha digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian usaha dalam menerapkan suatu teknologi. Kelayakan adalah penelitian yang menyangkut berbagai aspek baik itu dari aspek hukum, sosial ekonomi, dan budaya, aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi sampai dengan aspek manajemen dan keuangannya, dimana itu semua digunakan untuk dasar penelitian untuk menganalisis kelayakan dan hasilnya digunakan untuk pengambilan keputusan apakah suatu usahatani atau bisnis layak diusahakan atau ditunda dan atau bahkan tidak bias diusahakan.
Analisis kelayakan (R/C Ratio ) adalah perbandingan antara penerimaan atau revenue dan biaya atau total cost, (soekartiwi (1995)). Analisis kelayakan usahatani kacang hijau petani responden pada lahan kering di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto 2019. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 11. Analisis Kelayakan (R/C Ratio) Usahatani Kacang Hijau Petani Responden Pada Lahan Kering di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto.
1. Produksi 29.575 12.000 354.900.000 1.478,75
Penerimaan
III. Total Biaya produksi (A+B) 3.070.971
IV. PENDAPATAN (I-III) 10.360.029
V. R/C Ratio (I/III) 4,37
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019
Ket. Harga : Benih Kacang Hijau :13000/Kg , NPK Ponska 12.000/Kg, Pupuk Sempurna B Rp. 4.500/saset, Pupuk Sempurna D Rp. 4.500/saset
Berdasarkan tabel 11 dapat diketahui bahwa besarnya jumlah produksi yang didapatkan petani responden dari usahatani kacang hijau pada lahan kering di
dengan memproduksi kacang hijau sebesar 1.478,75/ha, dalam satu kali musim tanam sedangkan besarnya penerimaan usahatani sebesar 13.431.000/ha, dengan pengeluaran biaya dalam usahatani kacang hijau dilahan kering sebesar 3.070.971/ha
Berdasarkan tabel tersebut maka dapat dilihat bahwa besarnya jumlah pendapatan yang diterima petani responden dari usahatani kacang hijau sebesar 11.059.245,75/hadalam 1 kali musim tanam. Sedangkan indeks R/C Ratio Kacang hijau menunjukkan angka 4,37/ha. Hal ini menunjukkan adanya sumber pendapatan dan keuntungan bagi petani kacang hijau pada lahan kering di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto yang memberikan manfaat secara ekonomis terhadap petani responden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto. Hal ini juga dapat diartikan bahwa jika petani mengeluarkan biasa sebesar Rp 1 maka petani responden akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 4,37 dalam satu kali musim tanam. Dengan demikian usaha ini layak dilakukan.
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa, besarnya jumlah produksi yang didapatkan petani responden dari usahatani kacang hijau pada lahan kering di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto cukup besar yaitu dengan memproduksi kacang hijau sebesar 1.478,75 Kg/ha, dalam satu kali musim tanam sedangkan besarnya penerimaan usahatani sebesar 13.431.000/ha, dengan pengeluaran biaya dalam usahatani kacang hijau dilahan kering sebesar 3.070.971/ha. Besarnya jumlah pendapatan yang diterima petani responden dari usahatani kacang hijau sebesar 11.059.245,75/hadalam 1 kali musim tanam. Sedangkan indeks R/C Ratio Kacang hijau menunjukkan angka 4,37 /ha. Hal ini juga dapat diartikan bahwa jika petani mengeluarkan biasa sebesar Rp 1 maka petani responden akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 4,37 dalam satu kali musim tanam. Dengan demikian usaha ini layak dilakukan.
6.2 Saran
Sebaiknya usahatani kacang hijau dilahan kering di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, lebih dikembangkan lagi terutama pada tehnik budidayanya, serta memperluas lagi lahannya dalam penanaman kacang hijau karena usahatani kacang hijau dapat memberikan banyak keuntungan kepada petani yang membudidayakan kacang hijau dengan baik. Hal ini dikarenakan dalam penanaman kacang hijau tidak memiliki banyak biaya .
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, R. dan Retno, D. Hastuti. 2007. Pengantar, Teori dan Kasus Ekonomika Pertanian. Penebar Swadaya : Jakarta Analisis finansial usahatani jeruk nipis (Citru Aurantifolia).
Adhawati, S.S. 1997. Analisis Ekonomi Pemanfaatan Lahan Pertanian Dataran Tinggi di Desa Parigi (Hulu DAS Malino) Kabupaten Goa. Thesis Program Pasca Sarjana Universitas Hasanudin. Makasar.
Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Aris, S. Andri Setiawan. 2017. Analisis Pendapatan Petani Buah Naga di Desa Sambirejo Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwang. Jurnal IlmuEkonomi Vol 1 Jilid 2/2017 Hal. 153 – 162
Arsyad, L. 2004. Ekonomi Pembangunan. Edisi Keempat. Yogyakarta: STIE YKPN.
Angraeni, Pengaruh Penggunaan Polisakaridan Selama Germinasi Biji Kacang Hijau (Phaseolus Radiatus L.), Skripsi (Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor,2003).
Assauri.,1998. Manajemen Produksi. LP FE-UI, Jakarta.
Benyamin, L. 2005. Solusi Teknologi Untuk Peningkatan Produksi Pertanian.
Dalam : Makalah utama pada Seminar Memacu Pembangunan Pertanian di Era Pasar Global, Magelang
Cahyono B. 2007. Tehnik Budi Daya Dan Analisis Usaha Tani Kacang Hijau.Aneka Ilmu.Semarang.
Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Rekomendasi Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Padi Dan Palawija Di Indonesia (Jakarta: Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan, Departemen Pertanian RI, 1989).
Djoyohardikusumo,1992. Perkembangan Pemikiran Ekonomi Dasar : Teori Ekonomi
Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. LP3ES, Jakarta.
Daniel, M.S Moehar. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: Bumi Aksara.
Hermanto,1991. Tingkat Decision Making Petani Dan Kesempatan Ekonomi Serta
Hubungan Dengan Komersial Usaha Tani. Jakarta
Ibrahim, Yacob. 2009. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Kasmir, dan Jakfar. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Predana Media Gruo.
Kusuma, Pungky Puja. 2006. Skripsi Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Bunga dan Hubungannya dengan Pendapatan. Fakultas Pertanian USU. Medan.
Kusuma, Pungky Puja. 2006. Skripsi Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Bunga dan Hubungannya dengan Pendapatan. Fakultas Pertanian USU. Medan.