V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik petani responden
Pertani adalah orang yang mengendalikan dan menguasai tanaman atau hewan untuk memperoleh keuntungan dari padanya. Petani merupakan salah satu dari tri tunggal usahatani, menggerakkan setiap unsur yang dapat menghasilkan suatu produksi.
Identitas Responden dapat dilihat melalui ciri-ciri yang dimilki dalam kaitannya dengan pelaksanaan usahataninya yang meliputi: umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan keluarga dan luas lahan garapan yang diusahakannya.
5.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Umur seorang petani mempengaruhi kemanpuan fisiknya dalam bekerja dan berpikir. Petani yang lebih muda mempunyai kemanpuan fisik yang lebih besar dari petani yang lebih tua. Juga cenderung menerima hal-hal baru dianjurkan untuk menambah pengalaman-pengalaman baru yang berharga dalam berusahatani.
Tabel 6. Tingkat Umur Petani Responden di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto, 2019
No. Umur (tahun) Jumlah Petani (orang) Persentase (%)
1. 25-37 4 20
2 28-50 10 50
3 51-63 6 30
Jumlah 20 100%
Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2019.
Berdasarkan tabel 6 diatas, dapat diketahui bahwa umur petani responden yang memiliki jumlah petani responden terbanyak yaitu pada kelompok umur 28 -50 tahun sebanyak 10 orang (-50%), yaitu kelompok umur yang sangat produktif untuk melakukan usahataninya. Kemudian petani responden terbanyak kedua adalah kelompok umur yang lebih besar dari sama dengan 51 - 63 tahun yaitu sebanyak 6 orang dengan presentase (30%) yang merupakan kelas umur yang sudah tidak produktif lagi untuk melakukan usahataninya. Sedangkan kategori yang paling sedikit adalah pada kelompok umur 28-50 tahun yaitu sebanyak 64orang dengan presentase (20%).
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa umur petani responden adalah masih tergolong petani yang masih produktif dan masih mampu mengelola dan menerima informasi baru yang diberikan kepadanya untuk diterapkan dalam usahataninya.
5.1.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
`Pendidikan yang dimaksud adalah tingkat pendidikan formal yang pernah diikuti oleh petani responden. Pada umumnya petani yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih cepat menerima inovasi baru dari pada yang pendidikannya rendah. Keadaan petani responden berdasarkan tingkat pendidikannya dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 7 Tingkat Pendidikan Petani Reasponden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, 2019
No. Pendidikan Jumlah responden Persentase
1. SD 15 75%
2. SMP 3 15%
3. SMA 2 10%
Total 20 100%
Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2019
Berdasarkan tabel 7 dapat diketahui bahwa petani responden yang terbanyak adalah petani responden yang berada pada tingkatan pendidikan SD dengan jumlah responden sebanyak 15 orang (75%), sedangkan responden yang paling sedikit atau tidak ada adalah responden pada tingkatan pendidikan sarjana yaitu sebanyak 0 orang (0%). Dari tabel tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan petani responden desa Bonto Ujung masih sangat rendah karena selisih antara jumlah responden yang tingkat pendidikan SD dengan tingkat pendidikan SMP, SMA, dan Sarjana masih sangat jauh. Hal ini sangat mempengaruhi petani responden dalam pengambilan keputusan dan penerimaan inovasi-inovasi baru.
5.1.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tanggungan Keluarga
Tanggungan keluarga adalah semua orang yang ditanggung oleh kepala keluarga dalam hal ini adalah petani responden. Jumlah tanggungan keluarga mempunyai peranan yang penting terhadap ketersediaan tenaga kerja, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Tingkat Tanggungan Keluarga Petani Responden di Desa Bonto Ujung,
Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2019
Berdasarkan tabel 8 dapat diketahui bahwa petani responden yang memiliki tanggungan keluarga terbanyak adalah terdapat pada kelompok 3-4 yaitu dengan jumlah responden 11 orang (55%), sedangkan petani responden yang memiliki tanggungan keluarga yang paling sedikit adalah terdapat pada kelompok 1-2 yaitu sebanyak 2 orang (10%). Hal ini menunjukkan bahwa petani responden Desa Bonto Ujung lebih banyak memiliki tanggungan keluarga yang sedikit dari pada memiliki tanggungan keluarga lebih banyak.
5.1.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman berusahatani
Pengalaman berusahatani merupakan factor utama dalam menentukan kualitas sumberdaya seseorang. Semakin lama orang bekerja pada pekerjaanya dianggap berpengalaman pada bidang yang ditekuninya. Adapun tingkat pengalaman berusahatani responden dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Tingkat Pengalaman Berusahatani Responden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.
No. Pengalaman berusahatani Jumlah (orang) Persentase
1 3-4 4 20
2 5-6 12 60
Berdasarkan tabel 9 dapat diketahui bahwa petani responden yang paling banyak adalah yang memiliki pengalaman berusahatani pada kisaran 5-6 tahun yaitu sebanyak 12 orang (60%). Sedangkan petani responden yang paling sedikit adalah yang memiliki pengalaman berusahatani pada kisaran 3-4 tahun yaitu sebanyak 4 orang (20%). Hal ini menunjukkan bahwa petani responden Desa Bonto Ujung lebih banyak yang memilki pengalaman berusahatani kacang hijau selama 5 sampai 6 tahun.
5.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan
Luas garapan merupakan faktor yang sangat penting, karena semakin luas lahan yang dianggap oleh petani, memungkinkan tercapainya tingkat produksi yang semakin tinggi. Untuk mengetahui penyebaran petani responden berdasarkan luas lahan garapan seperti tertera pada tabel 10 berikut ini:
Tabel 10. Tingkat Luas Lahan Garapan Petani Responden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.
No. Luas Lahan (Ha) Jumlah (Orang) Persentase
1. 0,40-0,93 4 20
2. 0,94-1,75 15 75
3. 1,76-2,29 1 5
Total 20 100
Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2019
Berdasarkan tabel 10 dapat diketahui bahwa petani responden mempunyai luas lahan paling banyak pada kisaran 0,94-1,75 ha yaitu sebanyak 15 orang (75%), luas lahan garapan yang terbanyak kedua yaitu pada kisaran 0,40-0,93 ha sebanyak 4 orang (20%), sedangkan luas lahan garapan yang paling sedikit adalah luas lahan pada kisaran 1,76-2,29 ha sebanyak 1 orang (5%).
5.2 Pendapatan Usahatani Kacang Hijau
Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Untuk mengetahui penerimaan petani responden berdasarkan luas lahan garapan seperti tertera pada tabel 9 berikut ini:
Tabel 9. Rata-rata Total Penerimaan Petani Responden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto
.
No Uraian Jumlah Rata-rata (Rp)
1
Sumber : Data primer setelah diolah, 2019.
Tabel 9 menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan per hektar yang diperoleh petani responden di Desa Bonto Ujung sebesar Rp 4.226.880. Jumlah rata-rata produksi per hektar sebanyak 1.478,75 Kg dan Jumlah rata-rataharga/KgsebesarRp. 12.000.
5.3 Biaya pengeluran usahatani Kacang Hijau
Pengeluaran biaya usahatani kacang hijau merupakan salah satu kebutuhan utama bagi petani dalam meningkatkan produksi usahataninya. Biaya terbagi atas dua yaitu biaya tetap dan biaya variabel.
5.3.1 Total Biaya
Biaya adalah nilai dari korbanan atau input ekonomis yang diperlukan dan dapat diukur untuk menghasilkan suatu produk. Berikut ini akan dikemukakan
Tabel 10. Rata-rata Total Biaya Produksi Petani Petani Responden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.
No Jenis Biaya Nilai(Rp)
Sumber : Data primer setelah diolah, 2019.
Tabel 10 menunjukkan bahwa rata-rata biaya tetap per hektar terdiri dari pajak sebesar Rp. 5.650 dan Rata-rata Biaya Peneyusutan sebesar Rp. 679.146.
Sehinga rata-rata total biaya tetap sebesar Rp. 684.796. Selain itu rata-rata biaya variabel per hektar terdiri dari biaya rata Bibit sebesar Rp. 13.000, biaya rata-rata Tenaga Kerja sebesar Rp. 580.175, biaya rata-rata-rata-rata Pupuk sebesar Rp.
580.175, dan biaya rata-rata Pestisida sebesar Rp. 1.161.250. Sehinga rata-rata total biaya Veriabel sebesar Rp. 2.469.425. sehingga jumlah rata-rata total biaya produksi per hektar sebesar Rp. 3.154.221. Hal ini dapat di simpulkan bahwa total biaya variabel lebih banyak dibanding total biaya tetap.
5.4 Pendapatan Usahatani Kacang Hijau
Pendapatan usahatani kacang hijau dalam satu kali panen diperoleh dari pengurangan total penerimaan dengan total biaya. Biaya terbagi atas dua yaitu biaya variabel dan biaya tetap. Analisis biaya produksi dan pendapatan dalam satu kali panen dapat dilihat dalam Tabel 10.
Tabel 11. Rata-rata Pendapatan Petani Petani Responden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.
No Uraian Jumlah Rata-rata (Rp)
1
Sumber : Data primer setelah diolah 2019.
Tabel 11 dapat dilihat bahwa rata-rata penerimaan per hektar yang diperoleh petani responden di Kelurahan Tolo Barat sebesar Rp 13.431.00. Jumlah rata-rata produksi per hektar sebanyak 1.478,75Kg dan Jumlah rata-rata harga/ Kg sebesar Rp. 12.000. Rata-rata total biaya yang dikeluarkan petani responden dalam luasan per hektar sebesar Rp 3.154.221, rata-rata total biaya diperoleh dari rata-rata total biaya variabel sebesar Rp 2.469.425 ditambah dengan rata-rata total biaya tetap sebesar Rp 684.796. Rata-rata total pendapatan yang diperoleh petani responden dalam satu kali panen sebesar Rp 10.276.779 pendapatan diperoleh dari jumlah rata-rata penerimaan sebesar Rp 13.431.00 dikurang dengan rata-rata total biaya sebesar Rp 3.154.221 hal ini dapat simpulkan bahwa pendapatan petani di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto. cukup
5.3 Analisis Kelayakan ( R/C Ratio) Usahatani Kacang Hijau
Menurut Darsono (2008) dalam Sari (2011), R/C rasio merupakan metode analisis untuk mengukur kelayakan usaha dengan menggunakan rasio penerimaan (revenue) dan biaya (cost). Analisis kelayakan usaha digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian usaha dalam menerapkan suatu teknologi. Kelayakan adalah penelitian yang menyangkut berbagai aspek baik itu dari aspek hukum, sosial ekonomi, dan budaya, aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi sampai dengan aspek manajemen dan keuangannya, dimana itu semua digunakan untuk dasar penelitian untuk menganalisis kelayakan dan hasilnya digunakan untuk pengambilan keputusan apakah suatu usahatani atau bisnis layak diusahakan atau ditunda dan atau bahkan tidak bias diusahakan.
Analisis kelayakan (R/C Ratio ) adalah perbandingan antara penerimaan atau revenue dan biaya atau total cost, (soekartiwi (1995)). Analisis kelayakan usahatani kacang hijau petani responden pada lahan kering di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto 2019. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 11. Analisis Kelayakan (R/C Ratio) Usahatani Kacang Hijau Petani Responden Pada Lahan Kering di Desa Bonto Ujung Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto.
1. Produksi 29.575 12.000 354.900.000 1.478,75
Penerimaan
III. Total Biaya produksi (A+B) 3.070.971
IV. PENDAPATAN (I-III) 10.360.029
V. R/C Ratio (I/III) 4,37
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019
Ket. Harga : Benih Kacang Hijau :13000/Kg , NPK Ponska 12.000/Kg, Pupuk Sempurna B Rp. 4.500/saset, Pupuk Sempurna D Rp. 4.500/saset
Berdasarkan tabel 11 dapat diketahui bahwa besarnya jumlah produksi yang didapatkan petani responden dari usahatani kacang hijau pada lahan kering di
dengan memproduksi kacang hijau sebesar 1.478,75/ha, dalam satu kali musim tanam sedangkan besarnya penerimaan usahatani sebesar 13.431.000/ha, dengan pengeluaran biaya dalam usahatani kacang hijau dilahan kering sebesar 3.070.971/ha
Berdasarkan tabel tersebut maka dapat dilihat bahwa besarnya jumlah pendapatan yang diterima petani responden dari usahatani kacang hijau sebesar 11.059.245,75/hadalam 1 kali musim tanam. Sedangkan indeks R/C Ratio Kacang hijau menunjukkan angka 4,37/ha. Hal ini menunjukkan adanya sumber pendapatan dan keuntungan bagi petani kacang hijau pada lahan kering di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto yang memberikan manfaat secara ekonomis terhadap petani responden di Desa Bonto Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto. Hal ini juga dapat diartikan bahwa jika petani mengeluarkan biasa sebesar Rp 1 maka petani responden akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 4,37 dalam satu kali musim tanam. Dengan demikian usaha ini layak dilakukan.