• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Ruang dan Aktivitas Wisata Potensial

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Aspek Wisata

4.6.2 Analisis Potensi Daya Tarik Objek dan Atraksi Wisata

4.6.4.2 Analisis Ruang dan Aktivitas Wisata Potensial

  Tabel 12 Sampel galeri

No Nama Galeri Batik No Nama Galeri Batik No Nama Galeri Batik

Keterangan : yang bertanda * adalah galeri yang banyak dikunjungi

4.6.4.2 Analisis Ruang dan Aktivitas Wisata Potensial

Analisis ruang dan aktivitas wisata potensial ditentukan berdasarkan rencana pemerintah dan beberapa fasilitas lain yang berpotensi sebagai ruang dan aktivitas wisata (Gambar 57). Rencana pemerintah adalah membuat pasar batik di Desa Weru Lor yang lahannya masih dimiliki oleh pemerintah. Pasar Batik ini dibuat untuk menyetarakan galeri-galeri yang ada di sepanjang Jalan Trusmi agar galeri yang berada menjorok dalam desa tersebut dapat dikunjungi oleh pengunjung dan mempunyai persaingan yang sama dengan galeri yang berada di depan.

Fasilitas lain yang berpotensi adalah jalur jalan yang dapat digunakan untuk melihat aktivitas penduduk Desa Trusmi yang sedang melakukan proses pembatikan dan mempelajari berbagai hal tentang Batik Trusmi. Selain itu, terdapat beberapa galeri yang belum dikembangkan sehingga pengunjung kurang mengetahui keberadaannya.

Desa Trusmi Kulon dan Trusmi Wetan memiliki ruang wisata potensial 3-4 ruang. Desa Panembahan, Weru Kidul, dan Weru Lor memiliki ruang potensial 1-2 ruang. Desa Trusmi Kulon dan Desa Panembahan terdapat 1 jenis aktivitas wisata yaitu wisata belanja sedangkan Desa Trusmi Wetan terdapat lebih dari sama dengan dua jenis aktivitas wisata yaitu wisata belanja dan wisata budaya.

  Desa Weru Lor, Weru Kidul, dan Panembahan tidak memiliki aktivitas wisata.

Desa Trusmi Kulon, Trusmi Wetan, dan Panembahan merupakan desa yang banyak dikunjungi wisatawan. Desa Weru Lor dan Weru Kidul sedikit didapat kunjungan wisatawan karena di desa ini hanya terdapat atraksi wisata yaitu arak-arakkan welit dan pasar malam dengan waktu tertentu. Hasil analisis dari analisis ruang dan aktivitas wisata eksisting dan potensial menghasilkan ruang dan aktivitas wisata tinggi, rendah, dan sedang. Ruang dan aktivitas wisata tinggi berada di Desa Trusmi Wetan dan di Desa Trusmi Kulon, sedang pada Desa Panembahan, dan rendah di Desa Weru Lor dan Desa Weru Kidul. Gambar 58 merupakan hasil analisis dari analisis ruang dan aktivitas wisata.

Hasil analisis yang diperoleh dalam bentuk peta spasial dan deskriptif.

Hasil analisis peta spasial merupakan hasil overlay dari analisis-analisis spasial tersebut dan menghasilkan peta potensi wisata yang terdiri dari potensi tinggi, sedang, dan rendah. Berdasarkan hasil analisis, potensi tinggi berada di Desa Trusmi Kulon dan Desa Trusmi Wetan. Potensi sedang yaitu Desa Panembahan.

Potensi rendah yaitu Desa Weru Lor dan Desa Weru Kidul. Peta potensi kawasan Batik Trusmi dapat dilihat pada Gambar 59. Sedangkan untuk hasil analisis deskriptif disajikan pada Tabel 14.

92  

 

92

 

   

                               

93

 

   

                                   

  94

  Tabel 13 Analisis dan Sintesis

No Data Analisis Sintesis

Potensi Kendala Pemanfaatan Potensi dan Pemecahan Kendala 1 Aspek Sejarah

a. Sejarah Kawasan Memiliki toponimi yang jelas Belum ada bukti yang Meskipun memiliki banyak versi namun otentik sehingga banyak versi mengerucut pada satu kesamaan dan

mempertahankan karakter desa sesuai dengan toponiminya

b. Sejarah Batik di kawasan Mempunyai alur sejarah yang jelas Masih ada yang belum Memberikan informasi pengunjung tentang

Trusmi mengetahui tentang sejarah batik asal-usul batik di kawasan ini

di kawasan ini

c. Sejarah Perkembangan Batik Mempunyai alur sejarah yang jelas Tidak ada bukti otentik Memberikan infromasi pengunjung tentang di kawasan Trusmi perkembangan batik dari masa perkembangan batik di kawasan ini dan

ke masa menggali batik dari masa ke masa sebagai daya tarik

d. Elemen Sejarah Kawasan Situs masih terawat dengan baik Di dalam kawasan banyak Situs dijadikan sebagai daya tarik pengunjung masyarakat sekitar yang meminta-

minta uang receh kepada

pengunjung

2 Aspek Fisik-Biofisik

a. Aksesibilitas dan Akses menuju kawasan mudah Sirkulasi jalan yang sempit dengan Mempertahankan akses menuju tapak dan Jalur Sirkulasi dengan angkutan dan kendaraan yang banyak mengembangkan jalur sirkulasi pada tapak agar

kendaraan pribadi pengunjung merasa nyaman di dalam tapak

b. Jenis Tanah dan Topografi Kawasan yang relatif datar Pengunjung dapat berjalan kaki mengelilingi kawasan

c. Tata Guna Lahan Masih terdapat lahan terbuka dan Mengembangkan lahan terbuka sebagai area

kosong interpretasi dan welcome area menuju kawasan

d. Iklim Memiliki iklim yang nyaman Akibat kurangnya peneduh Diperlukan vegetasi peneduh menjadi panas

d. Kualitas Visual Borrowed landscape Gunung Tertutup oleh pasar dan Dikembangkan dengan axis untuk melihat Ciremai kurangnya karakter desa batik gunung tersebut dan ditambah desain sesuatu

pada kawasan yang berhubungan dengan batik

95

 

 

No Data Analisis Sintesis

Potensi Kendala Pemanfaatan Potensi dan Pemecahan Kendala e. Elemen Fisik/Struktur Masih terdapat bangunan dengan Menjadi daya tarik pengunjung

Bangunan dan Arsitektur arsitektur yang unik dan terawat

f. Fasilitas Kurangnya fasilitas wisata Perlu ditambahkan fasilitas wisata

g. Vegetasi Memiliki vegetasi yang dianggap Pada jalan kawasan Batik Trusmi Mempertahankan vegetasi keramat dan keramat oleh masyarakat setempat vegetasinya sedikit memiliki penguat identitas serta perlu adanya vegetasi dan memiliki vegetasi penguat vegetasi sebagai fungsi estetika sebagai fungsi estetika dalam penataan

identitas vegetasi pada tapak

h. Hidrologi Sebagai pengairan Sungai yang sudah menjadi Membersihkan sungai agar lebih baik

pembuangan sampah

3 Aspek Sosial, Budaya, dan Ekonomi

a. Keadaan Penduduk Banyak jumlah penduduk produktif Pendidikan yang rendah Memberikan pengetahuan untuk berpartisipasi

dan Ekonomi langsung dalam kegiatan wisata

b. Aktivitas Budaya Banyak aktivitas budaya yang Kurang ruang untuk menikmati Membuat ruang untuk menikmati masih dijalankan dan sudah jarang dimainkan

c. Keinginan Masyarakat Kawasan harus dilestarikan dengan Fasilitas wisata yang masih kurang Adanya tindakan pelestarian dan daya dukung

dan Pengunjung budaya yang masih dijaga kawasan agar dapat menampung pengunjung

dan kegiatan wisata bisa efektif

4 Aspek Wisata

a. Jumlah dan Karakter Pengunjung berasal dari luar dan Memberikan informasi tentang sejarah dan

Pengunjung dalam negeri budaya yang berada di kawasan kepada

masyarakat setempat dan mancanegara

b. Aktivitas Pengunjung Selain berbelanja batik, pengunjung Kegiatan yang sama pada tempat Mengembangkan lahan kosong sebagai tempat melakukan ziarah pada waktu yang sama sehingga terjadi atraksi wisata dan mempertahankan aktivitas tertentu, dan melakukan ritual tradisi penumpukkan pengunjung budaya

desa tersebut

c. Jenis dan Kondisi Objek Beberapa galeri sudah memiliki Beberapa galeri belum memiliki Membuat fasilitas wisata yang memadai untuk Wisata fasililtas wisata yang memadai fasililtas wisata yang memadai kawasan ini

5 Aspek Pengelolaan Lanskap Sudah ada dukungan dan tindakan Kurangnya kerjasama pengelola Adanya realisasi dalam mengembangkan pemerintah untuk mengurangi dengan masyarakat sekitar untuk kawasan dan memberdayakan masyarakat asli

terjadinya kesenjangan mengembangkan kawasan dalam pengelolaan kawasan

  Tabel 14 Lanjutan

  No

96

  4.7 Sintesis

Dari hasil peta komposit, diperlukan adanya ruang-ruang yang dapat memberikan kenyamanan bagi pengunjung untuk mengeksplorasi dirinya menjelajahi kawasan Trusmi. Berdasarkan hasil analisis, maka kawasan perencanaan terbagi menjadi dua zona wisata, yaitu zona pengembangan wisata, zona budaya tinggi. Zona pengembangan wisata meliputi Desa Weru Lor, Desa Weru Kidul, dan Desa Panembahan. Desa Weru Lor dan Weru Kidul termasuk dalam ruang potensi rendah namun, desa ini memiliki fasilitas pendukung wisata yang tinggi. Desa Weru Lor terdapat lahan yang dapat digunakan untuk lahan parkir yang memadai agar pengunjung nyaman memarkirkan kendaraannya dan welcome area dengan gerbang utama menuju kawasan Batik Trusmi. Selain itu, merupakan lahan yang direncanakan pemerintah Kabupaten Cirebon. Area ini dapat dikembangkan sebagai ruang pelayanan. Desa Weru Kidul dan Panembahan dapat dijadikan jalur alternatif keluar masuk dari kawasan Batik Trusmi. Zona pengembangan wisata dapat dikembangkan dengan konsep yang menunjang dan mendukung kawasan Batik Trusmi.

Zona budaya tinggi meliputi Desa Trusmi Kulon dan Desa Trusmi Wetan.

Desa Trusmi Kulon dan Trusmi Wetan memiliki ruang budaya dan sejarah tinggi, potensi daya tarik objek dan atraksi wisata tinggi, fasilitas pendukung wisata sedang, ruang dan aktivitas wisata tinggi sehingga dapat dikembangkan sebagai ruang wisata belanja batik dan ruang wisata sejarah serta budaya batik.

Konsep awal dari kawasan Batik Trusmi adalah wisata belanja batik di Kabupaten Cirebon. Namun, setelah melalui tahap analisis di desa inilah awal dari batik itu muncul di Kabupaten Cirebon dan merupakan desa yang masih memiliki adat dan tradisi yang masih dijalankan hingga sekarang. Oleh karena itu, diusulkan konsep dasar yaitu mengeksplorasi budaya dan eksotika Batik Trusmi yang ada sebagai daya tarik wisata dengan mempertimbangkan kenyamanan wisatawan. Mengeksplorasi budaya dengan mendapatkan pengetahuan tentang sejarah kawasan ini, sedangkan eksotika Batik Trusmi adalah mengapresiasikan setelah mengetahui budaya dan sejarahnya. Kawasan Batik Trusmi yang tidak hanya menghadirkan wisata belanja batik, namun dibalik itu ada sebuah sejarah dan budaya yang unik sehingga dapat dijadikan daya tarik wisata yang menarik.  

 

  Dari konsep dasar tersebut, untuk implementasinya dijabarkan dalam pengembangan konsep sebagai konsep ruang, aktivitas dan fasilitas wisata, sirkulasi, dan tata hijau. Berikut adalah penjabaran dari pengembangan konsep :

 

Dokumen terkait