HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Aspek Wisata
4.4.3 Jenis dan Kondisi Objek Wisata
Tabel 9 Aktivitas pengunjung
No Hari Aktifitas Pengunjung
1 Hari Biasa, Hari Libur Berbelanja batik
2 Hari Keagamaan Mengunjungi pasar malam, berbelanja batik, (Maulid Nabi Muhammad khususnya) ziarah ke makam Ki Buyut Trusmi, menanti
malam puncak (Panggung Jimat)
4.4.3 Jenis dan Kondisi Objek Wisata
Objek wisata yang berada di kawasan Batik Trusmi hanya berupa galeri-galeri batik. Berdasarkan data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon galeri yang berada di kawasan ini sebanyak 60 galeri. Wisata yang dihadirkan di kawasan ini adalah wisata belanja batik. Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang seni budaya dan sejarah di kawasan ini. Terdapat 60 galeri batik di kawasan ini mulai dari Jalan Trusmi hingga Jalan Panembahan. Namun, di beberapa jalan pintas di kawasan Batik Trusmi Cirebon masih banyak galeri batik yang dimiliki oleh masyarakat sekitar.
Galeri batik yang didominasi oleh rumah-rumah penduduk setempat memberikan kesan nyaman bagi para pengunjung karena seperti berada di rumah sendiri2. Tidak hanya rumah-rumah sederhana yang menjadi galeri batik, rumah mewah pun menjadi galeri batik. Di dalam rumah mewah ini memakai Air Conditioner (AC) dan terdapat ruangan untuk belajar membatik. Beberapa galeri batik memajang atraksi membatik di depan galeri sebagai penarik pengunjung.
Galeri yang diambil pada penelitian ini sebanyak 41 galeri (Gambar 45).
2Wawancara dengan salah satu pengunjung
72
72
4.4.4 Keinginan Masyarakat dan Pengunjung
Kuesioner untuk masyarakat sebanyak 30 responden terdiri dari 9 laki-laki dan 21 perempuan dengan tingkatan usia mulai 15 hingga lebih dari 48 tahun.
Usia ini dianggap sudah dapat menjawab isi kuesioner. Dari 30 responden ini sebagian besar berpendidikan terakhir SMP (48%) dengan pekerjaan karyawan swasta sebanyak 33%. Terlihat bahwa masyarakat di desa ini masih kurang di bidang pendidikan. Masyarakat yang tinggal di desa ini sebanyak 70% adalah penduduk asli dan 30% adalah pendatang dari desa lain. Masyarakat di Desa Trusmi sebanyak 73% sudah tinggal selama lebih dari 5 tahun dan sisanya kurang dari 5 tahun. Alasan dari masyarakat yang tinggal di kawasan ini adalah dikarenakan keluarga mereka yang sudah dari dulu tinggal di desa ini dan merasakan nyaman tinggal di desa ini. Namun, pengetahuan masyarakat di desa ini tentang sejarah kawasannya masih kurang. Sebanyak 57% responden yang mengetahui sejarah kawasan ini. Padahal penduduk asli dari responden ini sebanyak 70%. Berarti sebanyak 13% dari responden tidak mengetahui sejarah kawasannya walaupun penduduk asli (Gambar 46). Sumber sejarah banyak diperoleh masyarakat dari keluarganya sendiri.
Gambar 46 Diagram kependudukan dan pengetahuan tentang sejarah kawasan
Menurut masyarakat sekitar objek yang paling menonjol di desa ini adalah kerajinan batiknya (67%) dan Situs Keramat Ki Buyut Trusmi (33%). Kuliner daerah Cirebon kurang ditonjolkan di desa ini. Masyarakat di desa ini sangat mendukung adanya kegiatan wisata. Kegiatan wisata yang dirasakan cocok oleh masyarakat di desa ini adalah wisata belanja (Gambar 47) yang mempunyai perbedaan tipis dalam presentasenya dengan wisata budaya. Sebanyak 63%
Pengetahuan tentang sejarah kawasan Kependudukan
masyarakat di desa ini berpartisipasi langsung dalam kegiatan wisata ini. Bentuk partisipasi mereka adalah sebagai penjual batik, terlibat aktif dalam pengelolaan kawasan Batik Trusmi, dan menjadi objek/atraksi wisata budaya (Gambar 48).
Hal ini memberikan asumsi bahwa masyarakat masih ingin menonjolkan budaya yang ada di daerahnya.
Gambar 47 Diagram bentuk wisata yang cocok
Gambar 48 Diagram bentuk partisipasi
Kuesioner untuk pengunjung sebanyak 30 responden terdiri dari 13 laki-laki dan 17 perempuan. Pengunjung yang datang ke kawasan Batik Trusmi sebanyak 53% adalah berpendudukan asli Cirebon sedangkan sisanya merupakan pendatang dari luar Cirebon. Dari 30 responden, pengunjung yang pertama kali datang ke kawasan Batik Trusmi ini adalah sebanyak 53%. Pengunjung yang datang ke kawasan Batik Trusmi yang lebih dari 5 kali dengan frekuensi kunjungan lebih dari 1 kali dalam satu bulan (Gambar 49). Mayoritas tujuan
pengunjung adalah membeli batik untuk kebutuhan pribadi dan untuk dijual kembali3. Sumber keberadaan kawasan Batik Trusmi didapatkan pengunjung dari teman pengunjung.
Gambar 49 Diagram intensitas dan frekuensi kunjungan
Aktivitas pengunjung di kawasan Batik Trusmi ini sebanyak 93% dari 30 responden yang dipilih secara acak adalah berbelanja batik dan sisanya adalah kuliner masakan khas. Mengenai kawasan Batik Trusmi pengunjung mempunyai kesan yang nyaman dengan kondisi yang bersih. Pengunjung merasakan tidak nyaman saat memasuki kawasan Batik Trusmi melalui jalur Pantura (Pantai Utara) tanpa memasuki tol. Ketidaknyamanan ini dikarenakan pasar dan lampu merah yang berada di perempatan jalan. Bagi yang pertama kali melewati jalur ini kawasan Batik Trusmi memang tidak terlalu kelihatan. Tanda penunjuk tempat (Gambar 50) masih kurang terlihat dari jalan utama.
Gambar 50 Penunjuk tempat kawasan Batik Trusmi
3 Menurut wawancara kepada salah satu pengunjung di galeri batik.
Fasilitas galeri batik yang terdapat di kawasan Batik Trusmi ini dirasa cukup lengkap. Sebanyak 57% pengunjung merasa kelengkapan fasilitas galeri batik di kawasan Batik Trusmi baik, 33% sangat baik, 7% cukup baik, dan 3 % kurang baik. Pengunjung kurang merasakan fasilitas seperti tempat makan, tempat parkir, dan kios cinderamata. Tempat makan-makanan kuliner khas Cirebon diinginkan pengunjung. Pengunjung suka merasa kebingungan saat menunggu istri atau keluarganya berbelanja atau setelah berbelanja pengunjung ingin mendapatkan tempat istirahat yang nyaman4. Pengunjung mendapatkan sarana interpretasi dari brosur/leaflet.
Pengunjung kurang mendapatkan sarana interpretasi yang berada di dalam kawasan Batik Trusmi ini. Banyak dari pengunjung yang tidak mengetahui sejarah kawasan di kawasan Batik Trusmi. Namun, setelah berkunjung pengunjung merasa pengetahuannya bertambah, pengunjung mengetahui budaya dan kesenian masyarakat, tempat pembuatan batik, tempat-tempat yang terkait dengan sejarah Batik Trusmi, dan tentang sejarah Batik Trusmi (Gambar 51).
Pengunjung mengetahui tempat-tempat yang ada kaitannya dengan Batik Trusmi tanpa melakukan ritual-ritual yang dilakukan oleh pengunjung yang sengaja datang ke kawasan ini dengan tujuan ingin melakukan berbagai macam ritual.
Pengunjung sangat mengharapkan kawasan Batik Trusmi untuk dilestarikan.
Pengunjung bersedia kembali ke kawasan ini dikarenakan pengunjung ingin berbelanja batik kembali.
Gambar 51 Diagram pengalaman pengunjung setelah berkunjung
4 Menurut wawancara kepada salah satu pengunjung di galeri batik.
4.5 Aspek Pengelolaan Lanskap
Kawasan Batik Trusmi dahulu dikelola oleh Koperasi Batik Budi Tresna yang berada di Jalan Trusmi. Koperasi Batik Trusmi memberikan modal awal dan bahan baku batik kepada masyarakat yang ingin membuka galeri batik sendiri.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu banyak investor yang membuka galeri batik di kawasan ini. Sehingga galeri di batik ini tidak lagi bergabung dalam Koperasi Budi Tresna. Hal ini menyebabkan banyaknya galeri batik yang menjamur di jalan Trusmi mendesak beberapa toko yang berada di ujung jalan ini dengan penghasilan yang tidak tinggi, karena jarang dikunjungi oleh pengunjung.
Pengunjung lebih banyak mengunjungi galeri batik yang berada di awal masuk kawasan ini.
Pemerintah Kabupaten Cirebon, khususnya Dinas Pariwisata Kabupaten Cirebon berencana mengelola kembali kawasan Batik Trusmi untuk menyeimbangkan antara penjual batik dengan pembuat batik. Tujuannya adalah :
1. Melestarikan batik
2. Mengakomodir aspirasi masyarakat Trusmi sebagai pengrajin 3. Mengaspirasi masyarakat sekitar
4. Membuka peluang usaha dengan menambah sentra batik lagi
Rencana ini sudah masuk ke dalam APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah)Provinsi yang berawal dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan -> Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kabupaten -> Bappeda Provinsi ->
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi.
4.6 Analisis