• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KASUS KEALPAAN MELUKAI ORANG LAIN DALAM

C. Putusan Hakim

1. Analisis Sanksi Putusan Hakim Nomor:

Dalam kasus ini Irfan Nur Alam selaku terdakwa melakukan tindak pidana kealpaan yang mengakibatkan kelukaan terhadap Panji Pamungkasandi selaku korban. Irfan Nur Alam secara tidak sengaja menembak tangan kiri Panji Pamungkasandi sehingga menurut visum et repertum nomor: 357/2464/RSUD-Mjl Panji Pamungkasandi mengalami luka robek dan di jahit dengan 8 (delapan) jahitan sehingga Panji Pamungkasandi harus istirahat selama 2 (dua) minggu. Luka yang dialami Panji Pamungkasandi termasuk luka ringan, karena luka tersebut tidak menimbulkan pendarahan hebat atau tidak mengganggu jalan nafas, tidak pula dianjurkan untuk rawat inap melainkan hanya rawat jalan saja dan juga masih bisa melakukan aktivitas. Dalam hal ini, dugaan tindak pidana yang dilakukan Irfan Nur Alam yaitu kelalaian yang menyebabkan orang lain terluka tergolong dalam delik biasa sehingga untuk dapat dilakukan proses hukum tidak membutuhkan pengaduan dari pihak korban dalam hal ini, dugaan tindak pidana yang dilakukan Irfan Nur Alam yaitu kelalaian yang menyebabkan orang lain terluka tergolong dalam delik biasa sehingga untuk dapat dilakukan proses hukum tidak membutuhkan pengaduan dari pihak korbanDalam hal ini, dugaan tindak pidana yang dilakukan Irfan Nur Alam yaitu kelalaian yang menyebabkan orang lain terluka tergolong dalam delik biasa sehingga untuk dapat dilakukan proses

hukum tidak membutuhkan pengaduan dari pihak korban sehari-hari. Namun antara Irfan Nur Alam dan Panji Pamungkasandi telah melakukan perdamaian, sepakat mengakhiri perselisihan, dan saling memaafkan.

Dalam pandangan hukum pidana Islam kasus ini termasuk Jinayah. Fuqaha menggunakan kata jinayah hanya untuk perbuatan yang mengenai jiwa atau anggota badan seseorang, seperti pembunuhan, penganiayaan, pemukulan dan penguguran kandungan.95

Jinayah adalah sebuah tindakan atau perbuatan seseorang yang mengancam keselamatan fisik dan tubuh manusia serta berpotensi menimbulkan kerugian pada harga diri dan harta kekayaan manusia sehingga Tindakan atau perbuatan itu dianggap haram untuk dilakukan bahkan pelakunya harus dikenakan sanksi hukum, baik diberikan di dunia maupun di akhirat.

َ ع ت

َ ر

َ يَم لَ س َ لْاََة ع َر شلاَىَفَ َمَئا ر جلاَ ف

ََبََة

َ أَ ن

َ ه

َ ح مَا

َ و ظ

َ شَ تا ر

َ ر

ََع

َ ي

َ ة

َ

َ ز

َ ج

َ ر

َ الل

َ

َ ع

َ ن

َ ه

َا

96

.ٍَرَ يََزَ عَ تََ وَ أََ ٍدَ حََب

Artinya: “Tindak pidana diartikan sebagai perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syarak yang diancam oleh Allah SWT dengan hukuman hudud atau ta’zir”

Berdasarkan uraian di atas, karena perbuatan Irfan Nur Alam selaku terdakwa secara tidak sengaja melukai tangan Panji Pamungkasandi selaku korban. Yang mana hal ini termasuk perbuatan yang mengenai anggota badan atau penganiayaan. Perbuatan tersebut dianggap haram untuk dilakukan dan harus dikenakan sanksi hukum, baik diberikan di dunia maupun di akhirat.

Adapun jenis-jenis tindak pidana (jarimah) ditinjau dari sisi berat-ringannya sanksi hukuman serta ditegaskan atau tidaknya dalam Al-Quran

95 Abdul Qadir Audah, Ensiklopedi Hukum Pidana Islam, Bab I, h., 66.

61

dan Hadist, jarimah dapat dibagi atas jarimah hudud, jarimah qishash dan diyat, dan jarimah ta’zir.97

Bila melihat jenis jarimah, tindak pidana penganiayaan dengan tidak sengaja adalah jarimah qishash. Secara etimologis qishash berasal dari kata اًَصَ صَََق–ََ صَ قََ ي–ََ صَ ق yang berarti َ ه ع ب ت ت mengikuti, menelusuri jejak atau

langkah. Kata Qashash berasal dari bahasa Arab “Qaseha” berarti dia memutuskan, atau dia mengikuti jejak buruannya, dan karena ia bermakna sebagai hukum balas (yang adil) atau pembalas yang sama atas pembunuhan yang telah dilakukan. Adapun arti qishash secara terminologi adalah tindakan (sanksi hukum) kepada para pelaku persis seperti Tindakan yang dilakukan oleh pelaku tersebut (korban).98

Baik qishash maupun diyat adalah hukuman yang telah ditentukan batasannya, dan tidak mempunyai batas rendah atau batas tertinggi, tetapi menjadi hak perseorangan. Dalam hubungannya dengan qishash dan diyat adalah bahwa hukuman tersebut bisa dihapuskan atau dimaaafkan oleh korban atau keluarga korban. Menurut Ahmad Hanafi, jarimah Qishash ada lima macam, yaitu: pembunuhan sengaja (al-qathlu al-‘amdu), pembunuhan semi sengaja ( al-qatlu syibhu al-‘amdu), pembunuhan tidak sengaja (al-qathlu khata), penganiayaan sengaja (al-jarhu-al-‘amdu), dan penganiayaan tidak sengaja (al-jarhu khata).99

Berdasarkan perbuatan terdakwa yaitu melukai orang lain dengan tidak sengaja, perbuatan ini termasuk kategori tindak pidana atas selain jiwa dengan tidak sengaja atau kelukaan dengan tidak sengaja atau tersalah

(أطخلاَحرجلا)

.

Dalam tindak pidana menyerupai sengaja dan kekeliruan atau

97 Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islan: Penegakan Syariat dalam Wacana

dan Agenda, Cet. 1, h., 22.

98 Nurul Irfan dan Masyrofah, Fiqh Jinayah, (Jakarta: Amzah, 2014), h.,4.

kesalahan, hukuman pokoknya adalah diyat. Akan tetapi diyat juga diberlakukan untuk tindak pidana sengaja sebagai hukuman pengganti.100

Ditinjau dari segi niat pelaku. Pada kasus diatas pelaku melukai korban dengan tidak sengaja atau kealpaan. Kealpaan atau kesalahan dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah al-khata yang berarti kekeliruan atau kesalahan101, Al-khata menurut istilah adalah suatu perbuatan yang dimaafkan. Dalam hal kekeliruan niat dan pengetahuan si pelaku sedikitpun tidak dipertimbangkan (tidak adanya maksud atau kehati-hatian) dalam berbuat dan sedikitpun tidak berdosa.102 Menurut Abu Zahrah dalam karyanya yang berjudul ushul fiqih. Al-khata adalah terjadi suatu perbuatan atau perkataan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pelakunya.103

Ahmad Wardi Muslich, membagi dua bentuk perbuatan yang terjadi akibat kelalaian (culpa), yaitu:

a. Pelaku sengaja melakukan perbuatan yang akhirnya menjadi jarimah, tetapi jarimah ini sama sekali tidak diniatkan, kekeliruan atau kelalaian ini ada dua macam, yaiu:

1) Keliru dalam perbuatan,

َل عَف لاَ يَفَ أ ط خ)

, contohnya seperti orang yang menembak burung tetapi pelurunya menyimpang mengenai orang.

2) Keliru dalam dugaan,

َد ص ق لاَ يَفَ أ ط خ)

, contohnya seperti seorang tantara yang menembak seseorang yang disangkanya anggota pasukan musuh, tetapi ternyata diteliti anggota pasukannya sendiri.

b. Pelaku tidak sengaja berbuat atau melakukan jarimah dan jarimah yang terjadi tidak diniatkannya. Dalam jarimah tersebut terjadi karena kelalaiannya atau ketidakhati-hatiannya. Dalam istilah para

100 Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, cet.1, h., 185.

101 Abdullah bin Nuh dan Umar Bakry, Kamus Arab-Indonesia, cet. 4. h., 98.

102 M. Abdul Mujieb, Kamus Istilah Fiqih, cet.3, h.,155.

63

fuqaha disebut

“َ أ ط خلاَ ر ج مَ ةي َر ج”.

Seperti seseorang yang tidur di samping seorang bayi dan ia menindih bayi itu sampai mati. Dalam jarimah ini muslich membaginya menjadi dua, yaitu:

1) Jarimah sengaja jelas menunjukkan adanya kesengajaan berbuat jarimah, sedangkan dalam jarimah tidak sengaja (culpa), keinginan untuk melanggar hukum tidak ada. Oleh karenanya, hukuman untuk jarimah sengaja lebih berat dari pada jarimah tidak sengaja.

2) Jarimah sengaja hukuman tidak bisa dijatuhkan apabila unsur sengaja tidak terbukti. Sedangkan dalam jarimah tidak sengaja (culpa) hukuman dijatuhkan karena kelalaian pelaku atau ketidakhati-hatiannya.

Berdasarkan uraian di atas, pada kasus yang dilakukan Irfan Nur Alam yang tidak sengaja melukai tangan Panji Pamungkasandi. Perbuatan ini termasuk dalam keliru dalam perbuatan, (ََل عَف لاَ يَفَ أ ط خ), karena Irfan Nur

Alam menggunakan senjata dan menembakkan ke atas untuk melerai keributan. Lalu mencari Panji Pamungkasandi selaku pihak kontraktor, namun Panji Pamungkasandi yang ketakutan melihat Irfan Nur Alam membawa senjata berusaha merebut senjata darinya. Sehingga saat perebutan Irfan Nur Alam secara tidak sengaja menembak tangan Panji Pamungkasandi.

Para ahli hukum Islam membuat dua kaidah umum untuk dasar pertimbangan terhadap perbuatan kelalaian (culpa), yaitu:

a. Seseorang melakukan suatu perbuatan yang dilarang oleh syara’, atau atas keyakinan bahwa perbuatan itu tidak dilarang oleh syara’, akan tetapi dari perbuatan-perbuatan yang mubah (halal) tersebut kemudian timbul akibat-akibat yang dilarang syara’. Dalam hal ini berlaku asas culpa, yang terdiri dari:

1) Tidak adanya penelitian yang mendalam, 2) Tidak adanya kehati-hatian,

Jika pelaku masih mungkin menghindari perbuatan itu, maka si pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya. Tetapi apabila dalam perbuatan tersebut tidak perlu mengadakan penghatian dan kehati-hatian, maka pelaku tersebut bebas dari pertanggungjawaban pidana, misalnya seseorang menggali sebuah sumur, dan sumur itu sudah dipagar untuk mencegah orang lain jatuh kedalamnya, kemudian ada orang lain lompat kedalam sumur dengan bermaksud bunuh diri, maka pelaku (pembuat) sumur itu bebas dari pertanggungjawaban pidana.

b. Seseorang melakukan perbuatan yang memang perbuatannya dilarang oleh syara’ dan perbuatannya bukan karena terpaksa, tetapi sasarannya keliru, maka pelaku tersebut harus mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut, baik ada kemungkinan untuk berhati-hati maupun tidak. Contoh: A hendak membunuh B, karena salah membidik, tembakannya mengenai C sehingga C meninggal, maka A tetap dimintai pertanggungjawaban walaupun tidak melakukan perhatian yang mendalam terhadap akibat dari perbuatannya tersebut.104

Bila melihat kaidah-kaidah umum untuk dasar pertimbangan terhadap perbuatan kelalaian (culpa), pada kasus ini kaidah yang digunakan seseorang melakukan suatu perbuatan yang dilarang oleh syara’, atau atas keyakinan bahwa perbuatan itu tidak dilarang oleh syara’, akan tetapi dari perbuatan-perbuatan yang mubah (halal) tersebut kemudian timbul akibat-akibat yang dilarang syara’. Karena Irfan Nur Alam menggunakan senjata lalu menembakkan ke atas untuk melerai keributan yang mana perbuatan ini tidak dilarang atau mubah (halal). Namun Panji Pamungkasandi yang ketakutan melihat Irfan Nur Alam membawa senjata berusaha merebut senjata darinya. Sehingga saat perebutan Irfan Nur Alam secara tidak

65

sengaja menembak tangan Panji Pamungkasandi sehinga timbul akibat yang dilarang oleh syara’.

Bila melihat luka yang ditimbulkan, menurut visum et repertum nomor: 357/2464/RSUD-Mjl Panji Pamungkasandi mengalami luka robek dan di jahit dengan 8 (delapan) jahitan sehingga Panji Pamungkasandi harus istirahat selama 2 (dua) minggu. Luka yang dialami Panji Pamungkasandi termasuk luka ringan, karena luka tersebut tidak menimbulkan pendarahan hebat atau tidak mengganggu jalan nafas, tidak pula dianjurkan untuk rawat inap melainkan hanya rawat jalan saja dan juga masih bisa melakukan aktivitas. luka tersebut tersebut masuk dalam kategori jinayat bagian yang kelima. Karena luka yang ditimbulkan tidak termasuk athraf, tidak pula menghilangkan manfaatnya, juga tidak menimbulkan syajjaj, dan tidak pula jirah, menurut pendapat kebanyakan fuqaha dalam kasus ini tidak berlaku hukuman qishash.105

Hanafiyah sebenarnya hanya membagi tindak pidana seperti ini kepada empat bagian, tanpa memasukkan bagian yang kelima karena bagian yang kelima ini adalah suatu tindakan yang tidak mengakibatkan luka pada athraf (anggota badan), tidak menghilangkan manfaatnya, juga tidak menimbulkan luka syajjaj, dan tidak pula luka pada jirah. Dengan demikian akibat perbuatan tersebut sangat ringan, sehingga oleh karenanya mungkin lebih tepat dimasukkan pada ta’zir.106

Imam Malik berpendapat untuk jinayat ini tetap berlaku hukuman qishash apabila pemukulan dengan cambuk, walaupun tidak menimbulkan jirah atau syajjaj. Akan tetapi, dalam penempelengan dan pemukulan dengan tongkat tidak berlaku hukuman qishash, kecuali apabila menimbulkan luka jirah atau syajjaj.107

105 Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, cet.1, h., 217.

106 Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, cet.1, h., 183.

Menurut Syamsu Ad-Din ibn Al-Qayim Al-Jauziyah, di dalam penempelengan dan pemukulan juga berlaku hukuman qishash, berdasarkan firman Allah dalam Q.s. An-Nahl (16): ayat 126,108 yaitu:

ََهَبَ م ت بَق و عَا مََل ثَمَبَا و بَقا ع فَ م ت ب قا عَ نَإ و

ا صلَلَ ر ي خَ و ه لَ م ت ر ب صَ نَئ ل وَ

َ ن ي َرَب

Artinya: dan jika kamu memberikan balasan maka balaslah dengan balasan yang sama dengan perbuatan yang ditimpalkan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Q.s. An-Nahl (16): 126).109

Ayat di atas menjelaskan tentang kesepadanan dalam hukuman dan perbuatan. Dalam kasus ini, penempelengan dibalas dengan penempelengan dan pemukulan dengan pemukulan adalah suatu tindakan yang lebih dekat kepada kesepadanan dan keseimbangan dibandingkan dengan ta’zir yang berlainan jenis dengan perbuatan yang dilakukan oleh terhukum. Pendapat Ibn Al-Qayyim ini diperkuat dengan merujuk kepada pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal yang mengatakan bahwa untuk penempelengan dan pemukulan berlaku hukuman qishash. Demikian pula para sahabat seperti Abu Bakar, Utsman, Ali, dan Khalid ibn Walid pernah meng-qishash pelaku penempelengan.

Sebagian fuqaha dari kalangan madzhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat bahwa untuk penempelengan berlaku hukuman qishash jika tindakan tersebut menghilangkan daya penglihatan. Akan tetapi untuk penempelengannya sendriri, mereka tidak memberlakukan hukuman qishash.110

Amir syarifudin menerangkan penganiayaan yang berlaku tidak dengan sengaja dalam segala bentuknya dan dia berada dalam bentuk yang terukur yang dapat berlaku padanya qishash, maka hukuman pokoknya

108 Muhammad Syamsudin ibn Al-Qayyim Al-Jauziah, I’lam Al-Muwaqqi’in, h.,26.

109 Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya Juz 1-30, (Jakarta: Departemen Agama, 1984). h., 281.

67

adalah diyat. Di luar bentuk tersebut karena tidak dapat diberlakukan padanya diyat karena tidak terukurnya, maka hukumannya diganti dengan ta’zir yang bentuk dan caranya ditetapkan oleh imam atau negara, seperti penganiayaan dengan pukulan yang menyebabkan tulang-tulangnya patah, diancam dengan hukuman penjara beberapa tahun atau dicambuk sebanyak beberapa puluh kali.111

Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa menurut pendapat jumhur fuqaha, untuk tindak pidana atas selain jiwa yang tidak mengakibatkan luka pada athraf, syajjaj, atau jirah, hukumannya adalah ganti rugi yang tidak tertentu atau hukumah, yaitu ganti rugi yang ketentuannya diserahkan kepada kebijaksanaan dan ijtihad hakim, dan ini hampir mirip dengan ta’zir.

Hukumah merupakan bagian dari diyat yang dinisbahkan kepada diyat jiwa. Akan tetapi menurut Sebagian fuqaha Syafi’iyah, hukumah dinisbahkan kepada anggota badan yang terkena tindak pidana. Contoh sebagai berikut: seseorang dilukai pada bagian tangannya. Apabila hukumah dinisbahkan diyat jiwa, menghitungnya diperkirakan berapa nilai orang tersebut setelah terkena tindak pidana (terluka). Misalnya sebelum terluka 100 (seratus) ekor unta, lalu diperkirakan nilai setelah terluka misalnya 90 (Sembilan puluh) ekor unta, maka korban kehilangan nilai: 100-90= 10 (sepuluh) ekor unta nilai hukumah-nya. Akan tetapi apabilah hukumah dinisbahkan kepada diyat anggota badan, hukumah-nya adalah sepersepuluh dari diyat sebelah tangan, yaitu 1/10×10= 5 (lima) ekor unta. Kalau missal jarinya, yaitu 1/10×10= 1 (satu) ekor unta.

Dalam menentukan besarnya hukumah, disyaratkan pelukaan mengenai anggota badan yang diyatnya tertentu, seperti tangan atau kaki, hukumah tidak boleh mencapai jumlah tertentu. Dalam kasus semacam ini maka hakim berdasarkan ijtihadnya berhak menguranginya. Perhitungan atau perkiraan tersebut dilakukan setelah korban sembuh dari lukanya, dan

dilakukan oleh orang yang ahli yang kemudian dijadikan pegangan oleh hakim.

Para ulama telah sepakat bahwa hukumah wajib diberikan apabila yang sembuh itu mengakibatkan cacat. Apabila tidak menimbulkan cacat, atau tidak ada bekas luka seperti pada syajjaj bagian yang kelima, para ulama berbeda pendapat. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad hukumah tetap harus dilaksanakan, meskipun luka sembuh tanpa cacat. Menurut Imam Malik, hukumannya bukan hukumah, melainkan ta’zir. Menurut Imam Abu Yusuf, hukumannya adalah hukumah, karena walaupun bagaimana, luka tersebut menimbulkan rasa sakit. Sedangkan menurut Muhammad ibn Hasan, pelaku hanya dikenakan ganti rugi sebagai pengganti biaya pengobatan.112

Jika melihat kasus ini Irfan Nur Alam selaku terdakwa melakukan tindak pidana kealpaan yang mengakibatkan kelukaan terhadap Panji Pamungkasandi selaku korban. Berdasarkan visum et repertum nomor: 357/2464/RSUD-Mjl Panji Pamungkasandi mengalami luka robek dan di jahit dengan 8 (delapan) jahitan sehingga Panji Pamungkasandi harus istirahat selama 2 (dua) minggu. Luka yang di alami Panji Pamungkasandi termasuk luka ringan, karena luka tersebut tidak menimbulkan pendarahan hebat atau tidak mengganggu jalan nafas, tidak pula dianjuran untuk rawat inap melainkan hanya rawat jalan saja dan juga masih bisa melakukan aktivits sehari-hari.

`Bila ditinjau dari segi sanksi dalam tindak pidana menyerupai sengaja dan kekeliruan atau kesalahan, hukuman pokonya adalah diyat. Dalam kasus kekeliruan atau kesalahan seperti diuraikan diatas ulama fuqaha berbeda pendapat:

a. Hanafiyah bila melihat luka yang ditimbulkan, luka tersebut tidak mengakibatkan luka pada athraf (anggota badan), tidak

69

menghilangkan manfaatnya, juga tidak menimbulkan luka syajjaj, dan tidak pula luka pada jirah. Dengan demikian akibat perbuatan tersebut sangat ringan, sehingga oleh karenanya mungkin lebih tepat dimasukkan pada ta’zir. Adapun Amir syarifudin juga mengatakan ta’zir. karena tidak terukurnya tindak pidana, maka hukumannya diganti dengan ta’zir yang bentuk dan caranya ditetapkan oleh imam atau negara, seperti penganiayaan dengan pukulan yang menyebabkan tulang-tulangnya patah, diancam dengan hukuman penjara beberapa tahun atau dicambuk sebanyak beberapa puluh kali.

b. Pendapat jumhur fuqaha, untuk tindak pidana atas selain jiwa yang tidak mengakibatkan luka pada athraf, syajjaj, atau jirah, hukumannya adalah ganti rugi yang tidak tertentu atau hukumah, yaitu ganti rugi yang ketentuannya diserahkan kepada kebijaksanaan dan ijtihad hakim, dan ini hampir mirip dengan ta’zir. Hukumah merupakan bagian dari diyat yang dinisbahkan kepada diyat jiwa. Akan tetapi menurut sebagian fuqaha Syafi’iyah, hukumah dinisbahkan kepada anggota badan yang terkena tindak pidana. Adapun hukumah untuk tindak pidana kealpaan yang mengakibatkan kelukaan dalam putusan Nomor :241/Pid.B/2019/PN.Mjl bila dinisbahkan kepada diyat jiwa dan kepada anggota badan:

1) Hukumah dinisbahkan diyat jiwa nilai orang sebelum terluka 100 ekor unta, lalu diperkirakan nilai setelah terluka misalnya 90 (Sembilan puluh) ekor unta, maka korban kehilangan nilai: 100-90= 10 (sepuluh) ekor unta nilai hukumah-nya adalah sepersepuluh diyat jiwa, yaitu 10 ekor unta.

2) Hukumah dinisbahkan kepada diyat anggota badan yang terluka yaitu tangan, hukumah-nya adalah sepersepuluh diyat sebelah tangan, yaitu 1/10 × 50= 5 (lima) ekor unta.

Dalam menentukan besarnya hukumah, disyaratkan pelukaan mengenai anggota badan yang diyatnya tertentu, bila luka pada salah satu tangan, hukumah tidak boleh mencapai jumlah 50 diyat. Dalam kasus semacam ini maka hakim berdasarkan ijtihadnya berhak menguranginya. Perhitungan atau perkiraan tersebut dilakukan setelah korban sembuh dari lukanya, dan dilakukan oleh orang yang ahli yang kemudian dijadikan pegangan oleh hakim. Berdasarkan analisa diatas, menurut jumhur fuqaha kasus tindak pidana kelalaian yang menyebabkan orang lain luka dalam putusan Nomor :241/Pid.B/2019/PN.Mjl hukumannya adalah hukumah. Hukumah dinisbahkan diyat jiwa hukumah-nya adalah sepersepuluh diyat jiwa, yaitu 10 ekor unta. Hukumah dinisbahkan kepada diyat anggota badan yang terluka yaitu tangan, hukumah-nya adalah sepersepuluh diyat sebelah tangan, yaitu 1/10 × 50= 5 (lima) ekor unta. Berbeda dengan putusan hakim bahwa pelaku kasus ini dikenakan hukuman penjara 1 (satu) bulan 15 (lima belas) hari. Jika dalam hukum pidana Islam hukuman ini termasuk ta’zir. Menurut penulis jika hakim menggunakan hukumah menurut jumhur fuqaha ini lebih adil terhadap korban, karena dapat digunakan untuk biaya pengobatan dan keperluan korban selama sakit. 2. Analisis keringanan sanksi karena perdamaian putusan hakim Nomor:

241/PID.B/2019/PN,MJL menurut hukum pidana Islam.

Adapun perdamaian yang dilakukan antara terdakwa Irfan Nur Alam dengan korban Panji Pamungkasandi dalam hukum pidana Islam dapat mengugurkan qishash atau diyat. Perdamaian dalam bahasa Arab yaitu Shulh berarti perdamaian. Secara bahasa shulh adalah ََة ع زا ن م لاَ ع ط ق, yang

berarti memutuskan perselisihan. Dalam istilah syara’, seperti dikemukakan oleh Sayid Sabiq, shulh adalah sebagai berikut:

71

113

ََن ي م َصا خ ت م لاَ ن ي بَ ة م و ص خ لاَى ه ن يَ د ق ع

Artinya: Suatu akad (perjanjian) yang menyelesaikan persengketaan antara dua orang yang bersengketa (berperkara).

Apabila pengertian tersebut dikaitkan dengan qishash, sulh berarti perjanjian atau perdamaian antara pihak wali korban dengan pihak pelaku pidana untuk membebaskan hukuman qishash dengan imbalan.

Para ulama sepakat tentang dibolehkannya shulh (perdamaian) dalam qishash, sehingga qishash menjadi gugur. Shulh dalam qishash boleh meminta imbalan yang lebih besar daripada diyat, sama dengan diyat, atau lebih kecil daripada diyat. Juga boleh dengan cara tunai atau hutang (angsuran), dengan jenis diyat atau selain jenis diyat, dengan syarat disetujui oleh pelaku. Alasan dibolehkannya shulh atas qishash dengan jumlah melebihi jumlah maksimal diyat adalah karena qishash itu bukan harta, sehingga tidak dikhawatirkan terjadi riba. Adapun shulh atas diyat, tidak boleh lebih besar dari diyat, karena apabila demikian, bisa termasuk riba.114

Dasar hukum tentang dibolehkannya shulh ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

َ:َلاقَملسَوَهيلعَاللَىلصَاللَلوسرَنأَو ٍر م عَ َن بََاللَ َد ب عَنع

َ م

َ ن

َ

َ ق

َ ت

َ ل

َ

َاًنَم ؤ م

ََ م ع ت م

ًَد

َ دَ،ا

ََف

َ ع

َََإ

َ ل

َ أَى

َ و

ََلَ ي

ََءا

َ

َ لا

َ م

َ ق

َ ت

َ و

ََل

َ فَ،

ََا

َ ن

َ

َ ش

َ ءا

َ و

َ قَا

َ تَ ل

َ و

َ وَ،ا

ََإ

َ ن

َ

َ ش

َ ءا

َ و

َ أَا

َ خ

َ ذ

لاَاو

ََ د

َ ي

َ ة

َ:

َ يَه و

َ ث

َ لَ

َ ث

َ و

َ ن

َ

ََح

َ ق

ًَة

َ وَ،

َ ث

َ لَ

َ ث

َ و

َ ن

َ

َ ج

َ ز

َ ع

ًَة

َ وَ،

َ أ

َ ر

َ ب

َ و ع

َ ن

َ

َ م ه لَ و ه فََه ي ل عَا و حَل و صَا م و,ًة فَل خ

َ كَلا ذَ وَ،

) يَذ يَم رَ تلاَ ها و ر(ََل ق ع لاََد يَد ش تَل

115

Artinya: Dari Abdullah bin ‘Amr bahwasanya Rasulullah SAW, bersabda: barang siapa yang dibunuh dengan sengaja maka urusannya diserahkan kepada wali korban. Apabila ia menghendaki, ia bisa

113 Sayid Sabiq, Fiqh As-Sunnah, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1980), h., 305.

114 Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, cet.1, h., 163.

mengqishash, dan apabila ia menghendaki, ia boleh mengambil diyat: 30 hiqqah (unta betina umur 3 masuk 4 tahun), 30 jadzaah (unta umur 4 masuk 5 tahun / betina), dan 40 khalifah (unta yang sedang bunting). Apabila mereka mengadakan perdamaian (shulh), maka itu adalah hak mereka.

Shulh (perdamaian) ini statusnya sama dengan pemaafan, baik dalam hak pemilikannya, maupun dalam pengaruh atau akibat hukumnya, yaitu dapat menggugurkan qishash. Perbedaan dengan pengampunan adalah pembebasan qishash tanpa imbalan, sedangkan shulh adalah pembebasan dengan imbalan. Memang dimungkinkan pemaafan dari qishash dengan imbalan diyat, seperti dikemukakan oleh Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, namun menurut Hanafiyah dan Malikiyah, hal itu harus dengan persetujuan pelaku, dan kalau demikian, hal itu bukan pemaafan melainkan Shulh (perdamaian).116

Bila ditinjau pada perdamaian antara terdakwa Irfan Nur Alam dengan korban Panji Pamungkasandi dalam tindak pidana kealpaan yang

Dokumen terkait