BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1.5. Analisis Semiotik dalam Kreativitas Visual
Dalam konteks semiotik komunikasi, apabila kita memandang suatu visual art, yang kita rasakan adalah bahwa kita sedang berada dalam suatu komunikasi. Visual art dapat dilihat sebagai suatu kegiatan komunikasi antara ‘seniman’ denagn audiensnya. Visual art dikemas sedemikian rupa oleh kreatornya untuk menyampaikan pesan-pesan yang ingin disampaikan. Pesan yang ditampilkan teks visual art merupakan sekumpulan tanda-tanda yang mempunyai makna dan maksud-maksud tertentu, denagn demikian visual art sebagai sebuah teks meruapakan system tanda yang terorganisir menurut kode-kode yang mereflesikan nilai-nilai tertentu, sikap dan juga keyakinan tertentu (Rocky Gerung, Diskusi
sastra, http://www.kompas.com/kompascetak/0612/21/humaniora/3190894.htm,
30
dinyatakan secara eksplisit di permukaan dan makna yang dikemukakan secara implicit dibalik permukaan tampilan visual art.
Semiotik berusaha menggali hakikat system tanda yang beranjak keluar kaidah tata bahasa dan sintaksis dan yang mengatur arti teks yang rumit, tersembunyi, dan bergantung pada kebudayaan. Hal ini kemudian menimbulkan perhatian pada makna tambahan (Connotative) dan arti penunjuk (denotative), kaitan dan kesan yang ditimbulkan dan diungkapkan melalui penggunaan dan kombinasi tanda. Pelaksanaan hal itu dilakukan dengan mengakui adanya mitos, yang telah ada dan sekumpulan gagasan yang bernilai yang berasal dari kebudayaan dan disampaikan melalui komunikasi (John Fiske, 1990:90). Dengan demikian pesan-pesan yang tersembunyi dalam visual art memang dapat diuraikan dengan menggunakan pendekatan semiotik. Sekalipun pesan dalam visual art tersebut tidak hanya berada pada level denotative namun juga konotatif.
Jika dilihat dari segi desain grafis, semiotik merupakan ilmu komunikasi yang berkenaan dengan pengertian tanda-tanda / simbol/ isyarat serta penerapannya. Suatu studi tentang semiotik menyangkut aspek-aspek budaya, adat istiadat, atau kebiasaan di mayarakat. Dalam hal ini semiotic dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Semantic
2. Pragmatic
3. Sintatig
Dalam penelitian ini, semantik akan lebih dijelaskan secara mendalam. Semantic berasal dari kata semanien dalam bahasa Yunani yang bermakna berarti,
31
bermaksud, dan meneliti (Adi Kusrianto, 59). Bila dikaitkan dengan penelitian ini, maka semantic mempunyai arti meneliti dan menganalisis makna dalam visual tertentu. Visualisasi dari suatu image merupakan symbol dari suatu makna.
Pada semiotic, juga dikenal semiotic simbolik, yaitu simbolisasi yang memiliki/mengandung suatu makna atau pesan. Sebagai contoh, tulisan heirogliph pada jaman Mesir Kuno, yang biasanya tulisan-tulisan seperti itu menyangkut persepsi atau interpretasi makna pesan visual yang berbeda dari khalayak yang mengapresiasi.
Disini pihak penyampai maupun pihak penerima pesan memliki dua kemungkinan cara untuk mempersepsikan dan menginterpretasi makna dalam suatu visual, yaitu :
a. Denotatif
Bersifat langsung, jelas dan tersurat. Memiliki arti pasti, dan terhindar dari arti. Sebagai contoh, kata Berawan berarti denotative cuaca mendung.
b. Konotatif
Bersifat tidak langsung, maya, abstrak, dan tersirat. Terdapat makna tambahan disamping makna sebenarnya. Sebagai contoh kata Berawan bermakna konotatif sedih, duka.
c. Asosiasi
Merupakan perubahan makna yang terjadi karena persamaan sifat. Sebagai contoh, dalam suatu visual digambarkan bahwa multivitamin disamakan dengan fungsi baterai, jika orang merasa lemas berarti baterainya habis.
32
d. Sinestesia
Merupakan perubahan makna akibat pertukaran antara dua inder yang berlainan. Sebagai contoh, ungkapkan “Suaranya sedap didengar”.
Dari beberapa cara memaknai pesan yang disampaikan oleh suatu visual maka semakin banyak makna-makna dalam suatu visual yang perlu digali lebih dalam lagi pesannya.
Pesan yang ditampilkan dalam teks dapat berupa tanda-tanda maupun penggunaan bahasa. Pada dasarnya, semiotik sebagai metode kajian ke dalam berbagai cabang keilmuan ilmu ini, dimungkinkan karena ada kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai fenomena bahasa (John Fiske,op.cit:57). Dengan kata lain, bahasa dijadikan bahan dalam berbagai wacana sosial. Berdasarkan pandangan semiotik, bila seluruh praktik sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda-tanda. Hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri (Alex Sobur, 2004:127).
Dengan mengamati tanda-tanda, yang terdapat dalam sebuah teks, maka dapat mengetahi ekspresi emosi dan kognisi pembuat teks atau pembuat pesan, baik secara denotative, konotatif, bahkan mitologis (Alex Sobur, 2004:56). Metode semiotik tidak dipusatkan pada transmisi pesan, melainkan pada pertukaran makna. Penekanan disini bukan pada tahapan proses, melainkan teks dan interaksinya dalam memproduksi dan menerima suatu kultur / budaya ; difokuskan pada pesan komunikasi dalam memantapkan dan memelihara nilai-
33
nilai dan bagaimana nilai-nilai tersebut memungkinkan komunikasi memiliki makna.
Komunikasi sendiri dalam bahasa Inggris dikenal dengan Communication, berasal dari kata lain Communicatio, dan bersumber dari kata Communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna (Deddy Mulyana, 2002:124). Unsur-unsur dalam proses komunikasi adalah sumber (komunikator), pesan (message), saluran (channel), dan penerima (komunikan) serta efek yang ditimbulkannya. Dalam sebuah proses komunikasi terjadi penyusunan dan penguraian sandi, sebagaimana Kincaid dan Schramm menjelaskan lebih lanjut : “Apa yang sedang terjadi”merupakan hal yang nyata ; mula-mula satu pihak mengatakan sesuatu dan kemudian pihak lain mengatakan sesuatu pula (Alex Sobur : 2004:16). Istilah yang biasa digunakan untuk mengutarakan piran adalah “menyusun sandi”. Jadi suatu sumber informasi yang menurut pendapatnya akan dikenal pihak penerima. Kemudian pihak akan menguraikan sandi tersebut (mengamati dan menafsirkannnya). Tujuan komunikasi yang utama adalah untuk menyampaikan perasaan atau pikiran seseorang kepada orang lain dengan menggunakan tanda-tanda berupa simbul sebagai perantaranya. Hal ini yang dikenal sebagai semiotik.
Semiotik berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Dalam pandangan piliang, penjelajahan semiotika sebagai metode kajian ke dalam berbagai cabang keilmuan ini dimungkinkan karena ada kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai fenomena bahasa. Dengan kata lain, bahasa dijadikan model dalam berbagai wacana sosial. Berdasarkan pandangan
34
semiotika, bila seluruh praktik sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda. Hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri (Piliang, 1998:262 ).
Salah satu definisi semiotik yang diungkapkan oleh Littlejohn adalah : “tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi “ (Little John, 1996:64). Model dasar 34emiotic dikembangkan Charles sanders pierce (1839-1914) dan Ferdinand de Saussure (1857-1913). Pierce menyebut ilmu yang dibangunnya semiotika (semiotic). Bagi Pierce yang ahli filsafat dan logika, penalaran manusia senantiasa dilakukan lewat tanda. Artinya, manusia hanya dapat bernalar lewat tanda. Dalam pikirannya, logika sama dengan semiotika dan semiotika dapat diterapkan pada segala macam tanda. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah semiotika lebih popular daripada semiologi.
Terdapat dua aliran utama dalam semiotika, yaitu yang berafiliasi pada Ferdinand de Saussure, yang lebih mengarah pada konsep linguistic dan aliran C.S Pierce yang lebih mengacu pada logika. Ferdinand de Saussure dapat dianggap sebagai peletak dasar ilmu bahasa. Bahasa sebagai gejala dapat dijadikan sebagai obyek studi, dan Saussure bahkan memulai dengan studi ini. Itulah awal ilmu bahasa. Salah satu titik tolak Saussure adalah bahwa bahasa harus dipelajari sebagai suatu system tanda; tetapi ia pun menegaskan bahwa tanda bahasa bukanlah satu-satunya tanda. Atas dasar itulah kemudian muncul pemikirannya, bahwa ilmu bahasa yang dianggap sebagai studi mengenai jenis tanda tertentu, semestinya dapat tempat dalam ilmu tanda (John Fiske, 1990:90). Ia menggunakan istilah ‘semiologi’. Kata semiologi disamping kata ‘semiotik’
35
sampai sekarang masih dipakai. Kedua istilah tersebut biasanya menunjukkan pemikiran pemakainya. Mereka yang bergabung dengan Pierce menggunakan kata-kata semiotika dan mereka yang bergabung dengan Saussure menggunakan kata-kata Semiologi.
Pemikiran Saussure yang paling penting dalam konteks semiotic adalah pandangannya mengenai tanda. Saussure meletakkan tanda dalam konteks komunikasi manusia dengan melakukan pemilahan antara apa yang disebut signifier (penanda) dan signified (petanda). Signifier merupakan bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek material), yakni apa yang dikatakan dan apa yang ditulis atau dibaca. Sedangkan sifnified merupakan gambaran mental, yakni pikiran atau konsep aspek mental dari bahasa (Alex Sobur, 2004:125).