• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS ASPEK FINANSIAL

7.4 Analisis sensitivitas

Analisis sensitivitas dilakukan dengan menggunakan nilai pengganti (switching value) sampai memperoleh nilai NPV yang mendekati nol. Hasil

switching value pada usaha ini tergambar dari tabel 16. Rincian lebih lengkap dapat merujuk pada Lampiran 2 hingga Lampiran 10.

Tabel 16 Hasil Analisis Switching Value Usaha Serbuk Minuman Instan TAMAN SYIFA

Perubahan (%) NPV

(Rp)

Net B/C Peningkatan Produksi Jahe 370 368.420 1 Peningkatan Produksi Kunyit 800 418.481 1 Peningkatan Produksi Kencur 900 494.845 1 Peningkatan Produksi Temulawak 910 293.753 1 Peningkatan Produksi Temuputih 1550 261.510 1 Peningkatan Produksi Secang 730 511.815 1 Peningkatan Produksi serentak

untuk semua komoditas

130 3.635.952 1 Penurunan Biaya Tenaga Kerja 45 807.228 1

Dari hasil ananlisis switching value yang ada, diketahui bahwa usaha serbuk minuman instan di TAMAN SYIFA dapat menjadi layak untuk dijalankan bila TAMAN SYIFA mampu menaikkan total nilai penjualan 56 persen. Total penjualan itu dapat dinaikkan jika TAMAN SYIFA memproduksi produk lebih banyak atau meningkatkan harga per kemasan yang dijual.

Berdasarkan hasil pemikiran, peningkatan harga akan dirasakan tidak masuk akal karena dianggap terlalu tinggi untuk daya beli masyarakat. Oleh sebab itu, peningkatan penjualan bisa dilakukan dngan peningkatan jumlah produksi. Asumsi cateris paribus, maka TAMAN SYIFA harus meningkatkan produksi serbuk minuman instan jahe menjadi 370 persen; atau serbuk minuman instan kunyit 800 persen; atau serbuk minuman instan kencur 900 persen; atau serbuk minuman instan temuputih 1550 persen; atau serbuk minuman instan secang wangi 730 persen; atau meningkatkan produksi serbuk minuman instan seluruh komoditas serempak sebesar 130 persen.

Berdasarkan lampiran 1 diketahui bahwa usaha ini memiliki nilai negatif (tidak layak) karena besarnya biaya, terutama biaya tenaga kerja, tidak mampu tertutupi dengan kecilnya penjualan yang terjadi. Oleh sebab itu, saran yang dapat diberikan adalah harus ada peningkatan penjualan yang dilakukan oleh perusahaan. Perusahaan harus meningkatkan penjualan agar paling tidak titik impas diperoleh. Peningkatan penjualan yang harus dilakukan perusahaan dapat dilihat dari tabel 17.

Tabel 17 Peningkatan Penjualan yang Diperlukan untuk Mencapai Titik Impas Dibandingkan dengan Kondisi Saat Ini

Jenis Produk Penjualan kini/hari Penjualan Impas/hari Serbuk Minuman Instan

Jahe 5 20

Serbuk Minuman Instan

Kunyit 3 20

Serbuk Minuman Instan

Kencur 2 20

Serbuk Minuman Instan

Temulawak 2 20

Serbuk Minuman Instan

Temuputih 1 20

Serbuk Minuman Instan

Secang Wangi 1 10

Selain itu, usaha serbuk minuman instan di TAMAN SYIFA dapat menjadi layak untuk dijalankan bila TAMAN SYIFA mampu menurunkan biaya produksi. TAMAN SYIFA tidak mampu menurunkan biaya bahan baku dasar (tanaman obat segar) di pasar. Namun, TAMAN SYIFA dapat menurunkan biaya tenaga kerja. TAMAN SYIFA dinilai memiliki kelebihan tenaga kerja. Ada karyawan yang dirasakan tidak perlu ada apabila mengingat usaha TAMAN SYIFA yang masih dikategorikan berskala kecil. Oleh sebab itu, usaha serbuk minuman instan di TAMAN SYIFA dapat menjadi layak untuk dijalankan bila TAMAN SYIFA mampu menurunkan biaya tenaga kerja sebesar 45 persen.

Nilai tidak layak pada kriteria investasi biasanya diikuti oleh rekomendasi untuk menutup usaha. Namun, selama total penerimaan (TR) lebih besar dari biaya variabel (TVC), usaha dapat terus dilaksanakan.

Tabel 18 Perbandingan TR dan TVC pada TAMAN SYIFA

TAHUN TR (Rp) TVC (Rp) Selisih (Rp) I. Dengan Tenaga Kerja Saat Ini

a. Tahun 1-2 b. Tahun 3-10 14.832.000 19.776.000 18.921,313 25.228.417 -4.089.313 -5.452.417 II. Dengan Biaya Tenaga Kerja

Dikurangi 45% a. Tahun 1-2 b. Tahun 3-10 14.832.000 19.776.000 12.657.313 16.876.417 2.174.688 2.899.583 III. Apabila Tenaga Kerja Tidak

Diperhitungkan

Sebagai Biaya Variabel a. Tahun 1-2 b. Tahun 3-10 14.832.000 19.776.000 5.001.313 6.668.417 9.830.688 13.107.583

Melihat Tabel 18 di atas, dapat dilihat bahwa nilai total penerimaan (TR) serbuk minuman instan berbasis tanaman obat yang dijalankan TAMAN SYIFA pada saat ini lebih kecil dari nilai total biaya variabelnya. Kondisi ini memberikan isyarat pada TAMAN SYIFA untuk menutup usahanya. Ketidaklayakan usaha ini dinilai karena besarnya biaya tenaga kerja. Sedangkan seperti pada pembahasan aspek manajemen, TAMAN SYIFA mengalami kelebihan tenaga kerja. Terlebih lagi, tenaga kerja tersebut tidak terlalu dibutuhkan. Namun, apabila perusahaan mampu mengurangi biaya tenaga kerja sebesar 45 persen, maka TAMAN SYIFA dapat terus membuka usahanya. TAMAN SYIFA juga dapat terus membuka usahanya apabila biaya tenaga kerja tidak diperhitungkan sebagai biaya variabel.

12.1 Kesimpulan

1. Usaha serbuk minuman instan berbasis tanaman obat adalah usaha yang menjanjikan. Dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek sosial, aspek lingkungan, dan aspek hukum, usaha serbuk minuman instan berbasis tanaman obat yang dijalankan TAMAN SYIFA dinilai layak. Namun, dilihat dari aspek manajemen yang terjadi di internal TAMAN SYIFA sendiri membuat usaha ini tidak layak.

2. Secara finansial, usaha serbuk minuman instan berbasis tanaman obat yang dijalankan oleh TAMAN SYIFA dinilai tidak layak. Proses usaha yang akan terjadi selama kurun umur proyek akan menghasilkan kerugian. Oleh sebab itu, perlu adanya perbaikan usaha.

3. Berdasarkan hasil analisis switching value, TAMAN SYIFA harus meningkatkan penjualan dengan meningkatkan jumlah produksi atau dengan membatasi jumlah karyawan agar usahanya dapat dinilai layak untuk terus dilanjutkan.

12.2 Saran

1. Untuk pemilik TAMAN SYIFA, diharapkan mampu meningkatkan omzet dengan meningkatkan penjualan. Selain itu, perusahaan juga dapat mengurangi biaya tenaga kerja dengan membatasi jumlah karyawan. Hal ini

adalah cara perbaikan usaha agar usaha dapat dinilai layak untuk terus dijalankan.

2. Untuk masyarakat yang hendak menjalankan usaha ini harus memperhatikan betul biaya yang dikeluarkan; baik biaya investasi ataupun biaya operasional. Penerimaan harus lebih besar dari pengeluaran. Dan sebelum usaha dijalankan, lebih baik dibuat analisis kelayakan usahanya terlebih dahulu, sehingga diperoleh masukan yang matang tentang perencanaan usaha.

Alim, Achmad Syaiful. 2001. Kajian Proses dan Analisis Finansial Produksi Bubuk Jahe Pada Industri Skala Rumah Tangga. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Apriani, Widia. 2007. Analisis Strategi Pengembangan Usaha Minuman Instan Berbahan Baku Biofarmaka Pada Home Industry Lisna Agung, Kabupaten Bogor. Skripsi. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Arbianto, Diki. 2006. Analisis Kelayakan Pengembangan Usaha Tanaman Anggrek Perusahaan Rama Orchid di Taman Anggrek Ragunan. Skripsi.

Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Clive, Gray. 1992. Pengantar Evaluasi Proyek. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Ermin, Faisal. 2007. Analisis Kelayakan Investasi Pengusahaan Lobster Air tawar

CV. Vizan Farm Dan CV Sejahtera Lobster Farm. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Gittinger. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. UI-Press. Jakarta Gurusinga, Jagatnata. 2003. Kajian Agribisnis Dan Studi Kelayakan Usaha Udang

Windu Kasus Di Kec. Cimalaya, Kab Karawang. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Husnan, Suad dan Suwarsono. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Unit.Penerbit dan Pencetak AMP YKPN. Yogyakarta.

Kadariah. 2001. Evaluasi Proyek Analisis Ekonomi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

Keown, et all. 2001. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Salemba Empat. Jakarta. Kotler, Philip. 2004. Manajemen Pemasaran. Indeks. Jakarta.

Nasution, Roshayani. 2002. Kajian Pengembangan Bisnis Pengusahaan Udang

Vanname Pada PT. Indonusa Yudha Prawita, Kab. Indramayu. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Pertiwi, Shi Astuti. 2003. Kajian Pengembangan Bisnis Pembenihan Lobster Air Tawar Pada Distributor Of Live Fishes Fresh water Bogor. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Prasetiawan, Eko. 2004. Strategi Pengembangan Usaha Minuman Instan

Berbahan Baku Biofarmaka (Studi Kasus pada Sub Divisi Produk Pusat Studi Biofarmaka IPB). Skripsi. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian

Bogor.

Purnamawati, Dyah Anisa. 2007. Analisis Kelayakan Investasi Usaha Tepung Talas Safira (Safira Powder) Pada PT. Bogor Agro Lestari. Skripsi.

Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Rauf, Adrin Ramdhana. 2006. Studi Kelayakan Pembangunan Pabrik Tablet

Effervescent Jahe di Kawasan PG Jatitujuh-Majalengkan. Skripsi. Fakulas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Indriastuti, Suci. 1998. Kajian Proses dan Finansial Produksi Minuman Bubuk Coklat Jahe Pada Industri Rumah Tangga. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Syukur, Cheppy dan Hernani. 2001. Budi Daya Tanaman Obat Komersial. Jakarta:Penebar Swadaya.

Umar, Husein. 2002. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama Wasono, Rudy. 2001. Kajia Proses Pembuatan Bubuk Kunyit (Curcuma

domestica Val). Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Lampiran 1 Cashflow Usaha Serbuk Minuman Instan TAMAN SYIFA

Dokumen terkait