• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

D. MetodeAnalisis Data

2. Analisis Shift Share

Analisis shift share adalah salah satu teknik kuantitatif yang biasa digunakan untuk menganalisis perubahan struktur ekonomi daerah relatif terhadap struktur ekonomi wilayah administratif yang lebih tinggi sebagai pembanding atau referensi.

Analisis ini menggunakan 3 informasi dasar yang berhubungan satu sama lain yaitu (Widodo, 2006: 112):

a. Pertumbuhan ekonomi referensi Provinsi atau nasional (national growth effect) yang menunjukkan bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi nasional terhadap perekonomian daerah.

b. Pergeseran proporsional (proportional shift) menunjukkan perubahan relatif kinerja suatu sektor di daerah tertentu terhadap sektor yang sama di referensi Provinsi atau nasional. Pergeseran proporsional ini disebut juga pengaruh bauran industri (industry mix). Pengukuran ini memungkinkan kita untuk dapat mengetahui apakah perekonomian yang terkonsentrasi pada industri tumbuh lebih cepat ketimbang perekonomian yang dijadikan referensi.

c. Pergeseran diferensial (differential shift), yang menunjukkan tingkat kekompetitifan suatu sektor tertentu di suatu daerah dibanding tingkat Provinsi. Pergeseran diferensial ini disebut juga pengaruh keunggulan kompetitif. Formula yang digunakan untuk menggunakan analisis shift share ini adalah sebagai berikut:

commit to user

1) Dampak riil pertumbuhan ekonomi daerah atau hasil penjumlahan dari pengaruh pertumbuhan Provinsi:

Dij = Nij + Mij + Cij ………..………... (3.2) 2) Pengaruh Pertumbuhan ekonomi referensi Provinsi atau nasional

(national growth effect):

Nij = Eij x rn ……….……….. (3.3) 3) Pergeseran proporsional (proportional shift) atau pengaruh bauran

industri (industry mix):

Mij = Eij (rin - rn) ………...……… (3.4) Bila Mij mempunyai tanda (+) berarti bahwa variabel yang dianalisis mempunyai tingkat pertumbuhan lebih cepat dari tingkat pertumbuhan keseluruhan, begitu juga sebaliknya apabila mempunyai tanda negatif (-) maupun nol.

4) Pergeseran diferensial (differential shift) atau pengaruh keunggulan kompetitif:

Cij = Eij (rij - rin) …………...……… (3.5) Bila Cij bertanda positif (+) berarti bahwa sektor i mempunyai kecepatan untuk tumbuh dibandingkan dengan sektor yang sama di tingkat nasional. Sebaliknya, bila bertanda negatif (-) berarti sektor i mempunyai kecenderungan menghambat pertumbuhan dibandingkan dengan sektor yang sama di tingkat nasional.

commit to user

Keterangan :

Dij : dampak riil pertumbuhan ekonomi daerah Nij : Pengaruh pertumbuhan ekonomi Provinsi Mij: Pengaruh bauran industri

Cij : Keunggulan kompetitif

Eij : PDRB dari sektor i di wilayah Kabupaten Ngawi rij : laju pertumbuhan sektor i di Kabupaten Ngawi rin : laju pertumbuhan sektor i Provinsi Jawa Timur

rn : laju pertumbuhan ekonomi (PDRB) Provinsi Jawa Timur 3. Model Rasio Pertumbuhan (MRP)

MRP digunakan untuk melihat deskripsi kegiatan ekonomi yang potensial terutama struktur ekonomi di wilayah studi (Kabupaten Ngawi) dalam perbandingan dengan daerah referensi (Provinsi Jawa Timur). Dengan mengkombinasikan keduanya maka dapat diperoleh deskripsi kegiatan ekonomi yang potensial baik di wilayah studi maupun wilayah referensi. Pada perhitungan Model Rasio Pertumbuhan akan diperoleh nilai riil yang selanjutnya perlu dikonversi dengan nilai nominalnya baik RPs maupun RPr. Bila hasil perhitungan nilai riil > 1 maka nilai nominalnya positif, sebaliknya jika hasil perhitungan nilai riil < 1 maka nilai nominalnya negatif. Adapun rumus perhitungan selengkapnya sebagai berikut.

commit to user

a. Rasio Pertumbuhan Wilayah Referensi (RPr)

Perbandingan antara laju pertumbuhan sektor i pada wilayah referensi dengan laju pertumbuhan total kegiatan (PDRB) wilayah referensi

Dimana:

………..………. (3.6) Keterangan:

ΔEr = perubahan pendapatan di wilayah referensi (Provinsi Jawa Timur) awal tahun dan akhir tahun penelitian

ΔEir = perubahan pendapatan sektor i di wilayah referensi (Provinsi Jawa Timur) pada awal dan akhir tahun penelitian.

Er = pendapatan di wilayah referensi (Provinsi Jawa Timur) pada awal tahun penelitian

Eir = pendapatan sektor I di wilayah referensi (Provinsi Jawa Timur) pada awal tahun penelitian.

b. Rasio Pertumbuhan Wilayah Studi (RPs)

Perbandingan antara laju pertumbuhan sektor i wilayah studi dengan laju pertumbuhan sektor sejenis di wilayah referensi.

Dimana:

………...……… (3.7)

ΔEij = perubahan pendapatan sektor i di wilayah studi (Kabupaten

commit to user

Eij = pendapatan sektor i di wilayah studi (Kabupaten Ngawi) pada awal tahun penelitian.

ΔEir = perubahan pendapatan sektor I di wilayah referensi (Provinsi

Jawa Timur) pada awal dan akhir tahun penelitian.

Eir = pendapatan sektor i wilayah referensi (Provinsi Jawa Timur) pada awal tahun penelitian.

Hasil perhitungan MRP secara umum terdapat empat kategori, yaitu:

1) Jika nilai (+) dan (+) berarti kegiatan sektor tersebut pada tingkat referensi dan tingkat studi memiliki pertumbuhan yang menonjol, kegiatan ini disebut dominan pertumbuhan.

2) Jika nilai (+) dan (-) berarti kegiatan sektor tersebut pada tingkat referensi memiliki pertumbuhan yang menonjol, tetapi ditingkat studi kurang menonjol.

3) Jika nilai (-) dan (+) berarti kegiatan sektor tersebut pada tingkat referensi kurang menonjol, tetapi ditingkat studi mempunyai pertumbuhan menonjol.

4) Jika nilai (-) dan (-) berarti kegiatan sektor tersebut baik di tingkat referensi maupun studi pertumbuhan kurang menonjol.

commit to user

4. Matrik Potensi

Analisis matrik potensi sektor ekonomi merupakan penilaian kinerja sektor yang didasarkan pada 2 (dua) indikator perbandingan, yaitu:

a. Perbandingan pertumbuhan (ratio pertumbuhan) yang membandingkanpertumbuhan sektor dengan pertumbuhan total PDRB sebagai rujukan.

b. perbandingan peranan (ratio kontribusi) yaitu membandingkan nilai sektor dengan nilai rata-rata PDRB per sektor .

Kedua indikator perbandingan itu masing-masing membentuk 2 (dua) golongan dengan nilai kritis sama dengan 1, artinya pada ratio pertumbuhan ada sektor nilainya lebih dari 1 atau kurang sama dengan 1. Sedangkan pada ratio kontribusi nilai yang mungkin didapat terbagimenjadi 2 (dua) bagian yaitu lebih dari 1 atau kurang sama dengan 1 (Kirana, 1998: 29).

commit to user Tabel 3.1 Matrik Potensi

Proporsi Pertumbuhan

Berkembang Prima

Terbelakang Potensial

Keterangan:

Xi = PDRB sektor i di Kabupaten Ngawi X = Total PDRB di Kabupaten Ngawi

= Tingkat pertumbuhan

Status sektor dalam analisis ini dibedakan menjadi 4 (empat) kategori, yaitu:

1) Prima, bila rasio pertumbuhan lebih besar dari 1 dan rasio kontribusi juga lebih dari 1.

2) Potensial, bila rasio kontribusi lebih besar dari 1, sementara rasio pertumbuhan bernilai kurang dari atau sama dengan 1.

3) Berkembang, bila rasio pertumbuhan lebih besar dari 1, sementara rasio kontribusi bernilai kurang dari atau sama dengan 1.

4) Terbelakang, bila rasio pertumbuhan kurang dari atau sama dengan 1dan rasio kontribusi bernilai kurang dari atau sama dengan 1.

commit to user BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A.Gambaran Umum Daerah Penelitian 1. Keadaan Geografi Kabupaten Ngawi

Kabupaten Ngawi terletak di wilayah barat Provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Luas wilayah Kabupaten Ngawi adalah 1.298,58 km2, di mana sekitar 39 persen atau sekitar 504,8 km2 berupa lahan sawah. Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) tahun 2004 wilayah Kabupaten Ngawi terbagi ke dalam 19 kecamatan dan 217 desa, dimana 4 dari 217 desa di antaranya berbentuk kelurahan. Secara geografis Kabupaten Ngawi terletak pada posisi 7° 21’-7° 31’ Lintang Selatan dan 110° 10’-111° 40’ Bujur Timur.

Kabupaten Ngawi terletak di wilayah barat Provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Luas wilayah Kabupaten Ngawi adalah 1.298,58 km2, di mana sekitar 39 persen atau sekitar 504,8 km2 berupa lahan sawah. Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) tahun 2004 wilayah Kabupaten Ngawi terbagi ke dalam 19 kecamatan dan 217 desa, dimana 4 dari 217 desa di antaranya berbentuk kelurahan. Secara geografis Kabupaten Ngawi terletak pada posisi 7° 21’-7 o 31’ Lintang Selatan dan 110° 10’-111° 40’ Bujur Timur.

commit to user

Batas wilayah Kabupaten Ngawi adalah sebagai berikut:

a. Sebelah Utara : Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora (Provinsi Jawa Tengah) dan Kabupaten Bojonegoro.

b. Sebelah Timur : Kabupaten Madiun.

c. Sebelah Selatan : Kabupaten Madiun dan Kabupaten Magetan.

d. Sebelah Barat : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen (Provinsi Jawa Tengah).

commit to user

2. Topografi

Topografi wilayah Kabupaten Ngawi berupa dataran tinggi dan tanah datar. Tercatat 4 Kecamatan terletak pada dataran tinggi yaitu Sine, Ngrambe, Jogorogo dan Kendal yang terletak di kaki Gunung Lawu. Lima belas Kecamatan sisanya berupa tanah datar. Kecamatan Karanganyar dan Kecamatan Kedunggalar merupakan Kecamatan yang memiliki wilayah paling luas yaitu sebesar 138,29 km2 atau 10,92 persen dan 129,65 km2 atau 10,24 persen.

3. Iklim

Pada tahun 2010, Kabupaten Ngawi sepanjang tahun diguyur hujan. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari hingga Mei. Curah hujan berkisar pada 21,00-28,00 mm. Rata-rata hari hujan tiap bulannya 15-16 hari. Curah hujan terendah terjadi pada bulan Juni hingga Agustus. Curah hujan berkisar 12,00-15,00 mm. Rata-rata hari hujan tiap bulan hanya 2-7 hari.

4. Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Ngawi akhir tahun 2010 adalah 894.675 jiwa dari 19 kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Ngawi, dengan kepadatan penduduk Kab. Ngawi tahun 2010 adalah 688 jiwa/km2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tebel berikut ini:

commit to user

Tabel 4.1 Tingkat kepadatan penduduk kabupaten ngawi tahun 2010

No Kecamatan Luas Daerah (Km2) Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) (1) (2) (3) (4) (5) 01 Sine 80,22 48 933 610 02 Ngrambe 57,49 42 848 745 03 Jogorogo 65,84 41 256 627 04 Kendal 84,56 51 061 604 05 Geneng 52,52 56 023 1 067 06 Gerih 34,52 37 490 1 086 07 Kwadungan 30,30 28 743 949 08 Pangkur 29,41 28 826 980 09 Karangjati 66,67 48 107 722 10 Bringin 62,62 32 341 516 11 Padas 50,22 34 167 680 12 Kasreman 31,49 24 292 771 13 Ngawi 70,56 84 536 1 198 14 Paron 101,14 89 403 884 15 Kedunggalar 129,65 73 866 570 16 Pitu 56,01 28 284 505 17 Widodaren 92,26 70 750 767 18 Mantingan 62,21 41 843 673 19 Karanganyar 138,29 31 906 231 Jumlah 1 295,98 894 675 690

Sumber : BPS Kabupaten Ngawi 5. Ketenagakerjaan

Tenaga kerja adalah penduduk yamg berumur di dalam batas usia kerja. Batasan usia kerja berbeda-beda antara negara satu dengan yang lain. Batasan usia kerja yang dianut oleh Indonesia ialah minimum 10 tahun, tanpa batas umur maksimum. Tenaga kerja terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Mereka yang termasuk angkatan kerja ialah tenaga kerja atau penduduk dalam usia yang bekerja, atau yang mempunyai pekerjaan namun untuk sementara sedang tidak bekerja, dan yang mencari

commit to user

pekerjaan. Sedangkan yang termasuk bukan angkatan kerja adalah tenaga kerja atau penduduk dalam usia kerja yang tidak bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan sedang tidak mencari pekerjaan.

Selanjutnya, angkatan kerja dibedakan menjadi dua subsektor yaitu kelompok pekerja dan penganggur. Mereka yang dimaksud pekerja adalah orang-orang yang mempunyai pekerjaan, mencakup orang yang mempunyai pekerjaan, dan memang sedang bekerja, serta orang yang mempunyai pekerjaan namun untuk sementara waktu kebetulan sedang tidak bekerja. Adapun yang dimaksud penganggur adalah orang yang tidak mempinyai pekerjaan, lengkapnya orang yang tidak bekerja dan masih mencari pekerjaan.

Tabel 4.2 Perkembangan Ketenagakerjaan Kabupaten Ngawi Tahun 2006-2010 No Uraian 2006 2007 2008 2009 2010 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Angkatan Kerja 453.788 454.510 455.232 455.957 456.678 2 Angkatan Kerja Tertampung 426.048 426.725 427.403 428.084 428.761 3 Pencari Kerja 27.740 27.784 27.829 27.873 27. 917 4 Penduduk Usia Kerja 618.544 619.527 620.513 621.500 622.483 5 Penduduk Bukan Usia Kerja 202.473 202.796 203.117 203.439 203.761 6 Lowongan Kerja 2.683 1.769 2.582 1.809 921 7 Pencari Kerja Terdaftar 3.816 4.784 9.040 6.122 5.647 8 Penempatan Tenaga Kerja 1.892 1.153 2.105 960 1.120

commit to user

6. Pendidikan

Pendidikan merupakan prioritas utama dalam pembangunan daerah. Pendidikan merupakan satu faktor yang menentukan dalam meraih kemajuan suatu daerah di era kompetisi global ini, untuk itu diperlukan landasan yang cukup kuat di bidang pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah investasi sumberdaya manusia yang berjangka panjang. Sumberdya manusia yang cukup cakap dalam menjalani hidup baik dari aspek pengetahuan, sikap maupun ketrampilan sehingga mampu memiliki daya saing dengan wilayah lain hanya dapat diperoleh melalui pembangunan dan pengembangan di bidang pendidikan yang baik.

Pengembangan pendidikan antara lain dapat dilihat dari tingkat pendidikan penduduk. Tingkat pendidikan penduduk dapat mencerminkan kualitas sumberdaya manusia wilayah Kabupaten Ngawi berikut ini:

Tabel 4.3 Jumlah Sekolahan Dan Murid Di Kabupaten Ngawi Tahun 2010

Tingkat Pendidikan jumlah sekolahan Jumlah

Murid % (1) (2) (3) (4) TK 550 14.081 8,96 SD 664 79.219 50,42 SLTP 111 38.837 24,72 SLTA 68 24.971 15,89 Jumlah 1.395 157.108 100,00

commit to user

Berdasarkan data tabel 4.3 diatas, persentase terbesar penduduk Kabupaten Ngawi pada tahun 2010 masih berpendidikan TK 8,96%, diikuti oleh penduduk yang berpendidikan SD 50,42% dan SLTA 24,72%, serta penduduk yang berpendidikan SLTA sebesar 15,89%.

7. Keadaan Ekonomi

Struktur perekonomian menggambarkan peranan atau sumbangan dari masing-masing sektor dalam pembangunan PDRB yang dalam konteks lebih jauh akan memperhatikan bagaimana suatu perekonomian mangalokasikan sumber-sumber ekonomi di berbagai sektor. Peranan atau sumbangan di suatu daerah pasti berbeda-beda tergantung potensi daerah, peran pemerintah, dan pelaku dari masyarakat. Ketiga faktor tersebut harus berjalan secara berkesinambungan untuk mencapai tujuan pembangunan, karena ketiga faktor tersebut akan mempengaruhi besarnya nilai PDRB dan pendapatan perkapita pada perekonomian daerah tersebut.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Ngawi dalam periode lima tahun terakhir (2006-2010) mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Nilai PDRB tahun 2006 sebesar Rp 2,51 miliar dan pada tahun 2010 nilai PDRB Ngawi sebesar Rp 3,12 miliar atau terjadi peningkatan rata-rata 5,67 % per tahun. Kenaikan besaran PDRB ini didorong oleh peningkatan dari seluruh komponen sektor pendukungnya. Ini membuktikan bahwa ekonomi di Kabupaten Ngawi cukup dinamis dari tahun ke tahun.

commit to user

Tabel 4.4 Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Ngawi Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2006-2010 (Jutaan Rupiah) No Lapangan Usaha 2006 2007 2008 2009 2010 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Pertanian 941.025,88 985.007,46 1.039.356,65 1.092.374.15 1.145.589,73 2 Pertambangan dan Penggalian 14.403,57 15.442,31 16.286,80 16.983,88 17.526,39 3 Industri Pengolahan 155.405,22 162.859,61 173.860,51 184.792,71 196.280,68 4 Listrik, Gas dan Air Minum 13.730,36 14.673,00 16.013,48 17.819,46 19.108,85 5 Konstruksi 110.420,20 116.758,32 120.634,70 127.066,94 135.663,44 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 697.427,05 745.925,20 793.681,83 848.170,35 923.010,01 7 Pengangkutan dan Komunikasi 61.538,19 66.037,18 70.403,69 75.655,53 81.775,64 8 Keuangan, Persewaan

dan Jasa Perusahaan 159.935,81 167.732,93 173.209,39 180.511,25 190.048,43 9 Jasa-jasa 356.189,23 367.281,87 381.888,39 399.228,25 412.818,32 jumlah 2.510.075,52 2.639.717,89 2.785.335,43 2.942.602,51 3.121.821,49 Sumber: BPS Kabupaten Ngawi

Secara umum, peningkatan nilai PDRB tersebut mengartikan terjadi geliat ekonomi yang terus bergerak naik di Kabupaten Ngawi. Kondisi riil di masyarakat juga menunjukkan peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan. Hal ini juga dapat dilihat dari pertumbuhan perekonomian Ngawi yang mengalami peningkatan.

Pada tahun 2010 Kabupaten Ngawi mengalami pertumbuhan sebesar 6,09 % yang mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pencapaian pertumbuhan tahun 2010 merupakan yang tercepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 5,95 % pada tahun 2006, sedangkan sebesar 5,24 % tahun 2007, pada 2008 pertumbuhan ekonominya 5,43 %, dan pada tahun 2009 pertumbuhan ekonominya 5,64%

commit to user

Tabel 4.5 Pertumbuhan Ekonomi Ngawi dan Jawa Timur Tahun 2003-2010 (Persen)

Tahun Laju Pertumbuhan Jawa Timur Laju Pertumbuhan Ngawi (1) (2) (3) 2003 7.15 3.06 2004 8.31 4.05 2005 8.31 4.06 2006 5.84 5.95 2007 6.11 5.24 2008 5.94 5.44 2009 5.01 5.65 2010 6.68 6.09

Sumber: BPS Kabupaten Ngawi

Selanjutnya apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Ngawi berada dibawahnya. Perekonomian Jawa Timur yang didominasi oleh sektor industri pengolahan yang didukung sektor perdagangan, hotel dan restoran membuat pertumbuhannya lebih cepat dibanding perekonomian Kabupaten Ngawi yang didominasi sektor pertanian yang laju pertumbuhannya cenderung lebih lambat dibanding sektor-sektor tersebut.

Pengembangan ekonomi di daerah Kabupaten ngawi tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran penduduknya serta mampu menciptakan pemerataan pendapatan.

commit to user B.Hasil Analisis dan Pembahasan

1. Analisis LQ (Location Quotient)

Analisis LQ digunakan untuk mengidentifikasi potensi internal yang dimiliki suatu daerah yaitu sektor-sektor mana yang merupakan sektor basis ekonomi dan sektor non basis suatu daerah:

a. Sektor Basis ekonomi adalah sektor-sektor yang mengekspor barang barang dan jasa ke tempat di luar batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan atas masukan barang dan jasa mereka kepada masyarakat yang datang dari luar perbatasan perekonomian masyarakat yang bersangkutan.

b. Sektor bukan basis adalah sektor-sektor yang menjadikan barang barangn yang dibutuhkan oleh orang yang bertempat tinggal di dalam batas perekonomian masyarakat bersangkutan. Sektor-sektor tidak mengekspor barang-barang. Ruang lingkup mereka dan daerah pasar terutama adalah bersifat lokal.

Berdasarkan penghitungan analisis LQ dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan tahun 2000 di Kabupaten Ngawi tahun 2002-2010, diperoleh hasil sebagai berikut:

commit to user

Tabel 4.6 Hasil Analisis Location Quotient di Kabupaten Ngawi Tahun 2002-2010 No Sektor Ekonomi LQ 2002 2003 2004 2005 2006 2007 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1 Pertanian 2,01 2,02 3,52 2,19 2,24 2,30 2 Pertambangan dan Penggalian 0,35 0,33 0,51 0,28 0,28 0,28 3 Industri Pengolahan 0,22 0,22 0,36 0,71 0,23 0,23

4 Listrik, Gas dan Air Minum 0,34 0,33 0,51 0,32 0,41 0,39

5 Konstruksi 1,12 1,18 1,98 1,28 1,26 1,32

6

Perdagangan, Hotel dan

Restoran 1,04 1,04 1,56 0,94 0,97 0,97

7

Pengangkutan dan

Komunikasi 0,59 0,61 0,99 0,61 0,39 0,39

8

Keuangan, Persewaan dan

Jasa Perusahaan 1,10 1,11 1,81 1,11 0,01 1,20 9 Jasa-jasa 1,61 1,64 2,74 1,70 1,56 1,53 Lanjutan... No Sektor Ekonomi 2008 2009 2010 Rata-rata Keterangan (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 1 Pertanian 2,36 2,37 2,45 2,38 Basis 2 Pertambangan dan

Penggalian 0,27 0,26 0,25 0,31 Non Basis

3 Industri Pengolahan 0,24 0,24 0,25 0,30 Non Basis

4 Listrik, Gas dan Air Minum 0,41 0,45 0,45 0,40 Non Basis

5 Konstruksi 1,34 1,34 1,35 1,35 Basis

6

Perdagangan, Hotel dan

Restoran 0,96 0,96 0,95 1,04 Basis

7

Pengangkutan dan

Komunikasi 0,38 0,36 0,36 0,52 Non Basis

8

Keuangan, Persewaan dan

Jasa Perusahaan 1,15 1,13 1,12 1,08 Basis

9 Jasa-jasa 1,51 1,48 1,47 1,69 Basis

Sumber: BPS kabupaten Ngawi di olah

Berdasarkan hasil penghitungan rata-rata hasil analisis LQ di Kabupaten Ngawi selama tahun 2001-2010, dapat diketahui bahwa terdapat lima sektor yang teridentifikasi sebagai sektor basis adalah:

commit to user

a. Sektor pertanian b. Sektor konstruksi

c. Sektor perdagangan, hotel dan restoran

d. Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan e. Sektor Jasa-jasa

Kelima sektor (sektor pertanian, sektor konstruksi, perdagangan, hotel dan restoran, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa) merupakan sektor yang memiliki keunggulan komparatif dan lebih dominan dibandingkan pada tingkat Provinsi Jawa Timur serta dikategorikan sebagai sektor basis sehingga mampu memenuhi kebutuhan Kabupaten Ngawi bahkan mampu diekspor ke luar daerah.

Berikut ini sektor yang teridentifikasi sebagai sektor non basis adalah: a. Sektor Pertambangan dan Penggalian

b. Sektor Industri Pengolahan

c. Sektor Listrik Gas dan Air Minum d. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

Dengan diketahuinya sektor-sektor ekonomi yang menjadi sektor ekonomi basis dan sektor ekonomi non basis, maka sektor-sektor ekonomi tersebut harus dikembangkan lagi guna meningkatkan pertumbuhan dan PDRB Kabupaten Ngawi.

commit to user 2. Analisis Shift Share

Alat analisis Shift Share dalam penelitian ini digunakan untuk menggambarkan kinerja sektor-sektor ekonomi Kabupaten Ngawi dibandingkan dengan kinerja perekonomian Provinsi Jawa Timur. Sehingga dengan analisis Shift Share dapat diketahui adanya perubahan struktur ekonomi Kabupaten Ngawi terhadap struktur ekonomi wilayah administratif yang lebih tinggi yaitu Provinsi Jawa Timur sebagai referensi atau acuan.

Perubahan relatif struktur ekonomi Kabupaten Ngawi dapat disebabkan hal-hal sebagai berikut:

a. Pertumbuhan ekonomi Provinsi atau nasional (national growth effect), menunjukkan bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi nasional terhadap perekonomian Kabupaten Ngawi.

b. Pergeseran proporsional (proportional shift), menunjukkan perubahan relatif (naik/turun) kinerja suatu sektor di Kabupaten Ngawi terhadap sektor yang sama di Provinsi Jawa Timur. Pergeseran proporsional disebut juga pengaruh bauran industri (industry mix).

c. Pergeseran diferensial (differential shift), menunjukkan tingkat kekompetitifan kinerja suatu sektor di Kabupaten Ngawi dibanding Provinsi Jawa Timur. Pergeseran diferensial ini disebut juga pengaruh keunggulan kompetitif.

commit to user

Tabel 4.7 Hasil Analisis Shift Share Kabupaten Ngawi Tahun 2002-2010 (Jutaan Rupiah)

No Lapangan Usaha Nij Mij Cij Dij

(1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Pertanian 541.746,30 -337.714,42 94.947,26 298.979,10 2 Pertambangan dan Penggalian 7.923,52 7.175,70 -9.955,26 5.143,96 3 Industri Pengolahan 85.016,81 -27.450,59 5.854,96 63.421,18 4 Listrik, Gas dan Air

Minum 7.331,57 -2.536,60 41.150,01 45.944,99 5 Konstruksi 57.410,85 -22.358,43 -4.667,57 30.384,85 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 353.681,00 216.334,99 -348.276,19 221.739,80 7 Pengangkutan dan Komunikasi 45.305,03 33.953,88 -75.170,13 4.088,78 8 Keuangan, Persewaan

dan Jasa Perusahaan 70.072,82 29.272,10 -52.936,30 46.408,61 9 Jasa-jasa 189.949,00 15.325,54 -121.880,29 83.394,31 PDRB 1.358.436,90 -87.997,83 -470.933,50 799.505,58

Sumber: BPS Kabupaten Ngawi diolah

Berdasarkan Analisis Shift Share di Kabupaten Ngawi selama tahun 2002-2010 menunjukkan bahwa Kabupaten Ngawi mengalami kenaikan kinerja perekonomian daerah. Hal ini dapat dilihat dari dampak riil pertumbuhan ekonomi daerah (Dij) yang menunjukkan nilai positif dari semua sektor ekonomi. Dari semua sektor ekonomi tersebut, sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor jasa-jasa adalah sektor yang menyumbangkan nilai terbesar bagi kenaikan kinerja perekonomian daerah. Begitu juga pengaruh pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur (Nij) terhadap perekonomian Kabupaten Ngawi juga menunjukkan nilai positif pada semua sektor ekonomi. Sedangkan dampak yang dihasilkan dari pengaruh bauran industri (Mij) menunjukkan dampak negatif. Namun ada beberapa sektor ekonomi yang memiliki dampak bauran industri yang

commit to user

positif yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa. Sementara itu, komponen pengaruh keunggulan kompetitif (Cij) menunjukkan nilai yang positif dimana ada tiga sektor ekonomi yang kompetitif yaitu sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor listrik, gasdan air bersih. Ketiga sektor ekonomi di Kabupaten Ngawi tersebut menunjukkan tingkat kekompetitifan yang semakin tinggi dibandingkan dengan sektor yang sama di tingkat perekonomian Provinsi Jawa Timur.

Hasil analisis shift share masing-masing sektor ekonomi di Kabupaten Ngawi tahun 2002-2010 adalah sebagai berikut:

a. Sektor Pertanian

Sektor pertanian berdasarkan analisis Shift Share selama 2002-2010 dipengaruhi oleh beberapa komponen. Pengaruh komponen pertumbuhan Provinsi (Nij), sektor ini mempunyai pengaruh positif terhadap perubahan PDRB Kabupaten Ngawi sebesar Rp 541,74 miliar. Sedangkan pengaruh dari komponen bauran industri (Mij) mempunyai efek negatif sebesar Rp 337,71 miliar, hal ini berarti bahwa sektor ini tumbuh relatif lebih lambat dibandingkan pertumbuhan sektor sejenis di tingkat Provinsi Jawa Timur.

Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) sektor pertanian mempunyai efek positif sebesar Rp 94,94 miliar, sehingga sektor ini tumbuh relatif lebih cepat dibandingkan sektor sejenis di tingkat Provinsi

commit to user

Jawa Timur. Untuk jumlah keseluruhan (Dij), sektor pertanian menunjukkan jumlah yang positif sebesar Rp 298,97 miliar yang mempunyai arti bahwa sektor pertanian di Kabupaten Ngawi pertumbuhannya relatif lebih cepat dibandingkan pertumbuhan sektor sejenis di tingkat Provinsi Jawa Timur.

b. Sektor Pertambangan dan Penggalian

Sektor pertambangan dan penggalian di Kabupaten Ngawi berdasarkan analisis Shift Share selama 2002-2010 yang dipengaruhi oleh pengaruh komponen pertumbuhan Provinsi (Nij), sektor ini memberikan pengaruh positif terhadap perubahan PDRB Kabupaten Ngawi sebesar Rp 7,92 miliyar. Sedangkan pengaruh komponen bauran industri (Mij) juga memberikan pengaruh yang positif sebesar Rp 7,17 miliar, sektor ini tumbuh relatif lebih cepat dibandingkan pertumbuhan sektor sejenis di tingkat Provinsi Jawa Timur.

Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) sektor pertambangan dan penggalian memberikan pengaruh yang negatif sebesar Rp 9,95 miliar, sehingga sektor ini mempunyai pertumbuhan relatif lebih lambat dibandingkan sektor sejenis di tingkat Provinsi Jawa Timur. Untuk jumlah keseluruhan (Dij), sektor pertambangan dan penggalian menunjukkan jumlah yang positif sebesar Rp 5,14 miliar, yang berarti bahwa sektor pertambangan dan penggalian di Kabupaten Ngawi tumbuh relatif lebih cepat dibandingkan pertumbuhan sektor sejenis di tingkat Provinsi Jawa Timur.

commit to user

c. Sektor Industri Pengolahan

Sektor industri pengolahan berdasarkan analisis Shift Share selama 2002-2010 dipengaruhi oleh beberapa komponen. Pengaruh komponen pertumbuhan Provinsi (Nij), sektor industri pengolahan memberikan pengaruh positif terhadap perubahan PDRB Kabupaten Ngawi sebesar Rp 85,01 miliar. Sedangkan pengaruh dari komponen bauran industri (Mij) memberikan pengaruh yang negatif sebesar Rp 27,45 miliar, sektor ini tumbuh relatif lebih lambat dibandingkan pertumbuhan sektor sejenis di tingkat Provinsi Jawa Timur,

Dokumen terkait