Pengambilan keputusan merupakan tindakan memilih salah satu alternatif tindakan yang ada. Pemilihan ini biasanya menggunakan dasar ukuran tertentu yang dapat berupa alat bantu untuk menentukan profitabilitas atau penghematan biaya maupun melakukan penutupan usaha. Salah satu penyebab suatu perusahaan dapat mengambil keputusan rencana penutupan usaha adalah karena persaingan yang begitu kuat sehingga dirasakan tidak dapat melanjutkan usahanya.
Menurut Kotler (2005:266), terdapat 5 kekuatan persaingan yang merupakan ancaman bagi perusahaan yaitu:
1. Ancaman persaingan segmen yang ketat. 2. Ancaman pendatang baru.
3. Ancaman produk substitusi.
4. Ancaman peningkatan kekuatan posisi tawar pembeli. 5. Ancaman peningkatan kekuatan posisi tawar pemasok.
Dalam ancaman persaingan segmen yang ketat, segmen tertentu menjadi tidak menarik jika perusahaan telah memiliki pesaing yang banyak, kuat, atau agresif. Perusahaan bahkan menjadi lebih tidak menarik jika segmen tersebut stabil atau menurun, penambahan kapasitas pabrik dilakukan secara besar-besaran, biaya tetap tinggi, hambatan untuk keluar besar, atau pesaing memiliki kepentingan yang besar untuk tinggal di dalam segmen tersebut. Kondisi ini akan menyebabkan sering terjadinya perang harga, perang iklan, dan pengenalan produk baru, sehingga akan menjadi sangat mahal bagi perusahaan untuk bersaing.
Dalam ancaman pendatang baru, daya tarik segmen berbeda-beda menurut tingginya hambatan untuk masuk dan keluar. Segmen yang paling menarik adalah segmen yang memiliki hambatan untuk masuk yang tinggi dan hambatan yang rendah untuk keluar. Sedikit perusahaan baru yang dapat memasuki industri ini, dan perusahaan yang berkinerja buruk dapat dengan mudah keluar. Jika hambatan untuk Universitas Sumatera Utara
masuk dan hambatan untuk keluar tinggi, potensi labanya juga tinggi namun perusahaan menghadapi resiko yang lebih besar, karena perusahaan yang berkinerja buruk tinggal dan berjuang keras di sana. Jika hambatan untuk masuk dan keluar rendah, perusahaan dengan mudah dapat masuk dan keluar dari industri, serta tingkat pengembalian investasinya stabil dan rendah. Kasus terburuk adalah jika hambatan untuk masuk rendah dan hambatan untuk keluar tinggi. Di sini perusahaan-perusahaan akan masuk dalam situasi yang menguntungkan namun sulit untuk keluar dari situasi yang buruk. Akibatnya adalah terjadinya kelebihan kapasitas yang kronis dan penurunan harga dan penghasilan bagi semua pihak.
Dalam ancaman produk substitusi, segmen tertentu menjadi tidak menarik jika terdapat substitusi produk yang aktual atau potensial. Subsitusi membatasi harga dan laba. Perusahaan harus memantau secara dekat trend harga produk substitusi. Jika kemajuan teknologi atau persaingan meningkat di industri substitusi tersebut, harga dan laba dalam segmen tersebut cenderung akan menurun.
Dalam ancaman peningkatan kekuatan posisi tawar pembeli, segmen tertentu memjadi tidak menarik jika pembeli memiliki kekuatan posisi tawar (bargaining power) yang kuat atau semakin meningkat. Kekuatan posisi tawar para pembeli berkembang jika mereka menjadi lebih terkonsentrasi atau terorganisasi, produk tersebut merupakan bagian yang signifikan dari biaya pembeli, produk tersebut tidak terdiferensiasi, biaya perpindahan ke pemasok/produk lain rendah, pembeli peka terhadap harga karena laba yang rendah, atau pembeli dapat melakukan integrasi ke hulu. Untuk melindungi diri mereka, para penjual dapat memilih pembeli yang memiliki kekuatan posisi tawar yang paling rendah atau yang sulit mengganti pemasok. Pertahanan yang lebih baik adalah mengembangkan tawaran unggul yang tidak dapat ditolak oleh para pembeli yang kuat. Universitas Sumatera Utara
Dalam ancaman peningkatan kekuatan posisi tawar pemasok, segmen tertentu menjadi tidak menarik jika para pemasok perusahaan mampu menaikkan harga atau mengurangi kuantitas yang mereka pasok. Para pemasok cenderung menjadi kuat jika mereka terkonsentrasi atau terorganisasi, terdapat sedikit substitusi, produk yang dipasok merupakan input yang penting, biaya berpindah pemasok tinggi, dan pemasok dapat melakukan integrasi ke hilir. Pertahanan terbaik adalah membangun hubungan menang-menang (win-win solution) dengan para pemasok atau memakai berbagai sumber pemasok.
Salah satu alat bantu yang dapat digunakan dalam mempermudah pengambilan keputusan penutupan usaha adalah shut down point. Apabila ditinjau dari sudut biaya, pengambilan keputusan untuk menutup usaha dilakukan dengan mempertimbangkan pendapatan penjualan dengan biaya tunai (biaya yang keluar dari saku). Biaya tunai adalah biaya-biaya yang memerlukan pembayaran segera dengan uang kas.
Dalam pengambilan keputusan untuk menutup usaha, harus dibuat perbedaan antara biaya keluar dari saku dengan biaya terbenam. Biaya terbenam adalah pengeluaran biaya yang dilakukan di masa lalu, yang manfaatnya masih dinikmati sampai sekarang. Contoh biaya terbenam adalah biaya depresiasi dan amortisasi.
Suatu usaha harus dihentikan apabila pendapatan yang diperoleh tidak dapat menutupi biaya tunainya. Untuk mengetahui pada tingkat penjualan berapa suatu usaha harus dihentikan, dapat dilakukan dengan mencari posisi perpotongan antara pendapatan dengan biaya tunai.
Adapun formula shut down point sebagai berikut: Titik Penutupan Usaha Biaya Tetap
(Satuan Unit) (Marjin Kontribusi/Unit Terjual) =
Titik Penutupan Usaha Biaya Tetap
(Satuan Rupiah) (Marjin Kontribusi/Penjualan) Sumber: Mulyadi,2001:256
Untuk mempermudah pemahaman penerapan analisis shutdown point dalam keputusan rencana penutupan usaha, maka akan dibuat suatu contoh kasus. PT. X merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penjualan generator. Harga jual barang tersebut adalah Rp. 1.600.000. Data penjualan produk di bulan Januari 2008 adalah sebanyak 60 unit.
Adapun perincian data biaya tetap perusahaan seperti pada Tabel 2.4. berikut: Tabel 2.4. Data Biaya Tetap Perusahaan
Nama Biaya Jumlah
Biaya Operasional Perusahaan 7.000.000
Biaya Sewa Gedung 5.000.000
Biaya Gaji Manajer 20.000.000
Total Biaya Tetap 32.000.000
Adapun perincian data biaya variabel perusahaan seperti pada Tabel 2.5. berikut:
Tabel 2.5. Data Biaya Variabel Perusahaan
Nama Biaya Jumlah
Biaya Transportasi 125.000
Biaya Listrik 5.500.000
Biaya Gaji Karyawan 64.000.000
Biaya Air 1.125.000
Biaya Telepon 950.000
Biaya Depresiasi/Penyusutan Aktiva Tetap 625.000
Total Biaya Variabel 72.325.000
Jika dijabarkan data transaksi perusahaan, maka laba bersih yang diperoleh perusahaan pada bulan Januari 2008 sebagai berikut:
=
Penjualan 60 unit @ Rp. 1.600.000 Rp. 96.000.000 Biaya variabel 60 unit x Rp. 1.205.417
Marjin kontribusi Rp. 23.675.000
Rp. 72.325.000
Biaya tetap
Laba bersih Rp. (8.325.000)
Rp. 32.000.000
Dalam biaya variabel di atas, terdapat Rp. 1.205.417 diperoleh dari total biaya variabel dibagi dengan unit terjual. Dengan demikian Rp. 1.205.417 merupakan biaya variabel per unit. Jika dilihat data perhitungan laba bersih perusahaan, maka diketahui bahwa perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp. 8.325.000.
Untuk mengetahui volume penjualan minimum agar suatu usaha tidak mengalami kerugian, dapat dilakukan dengan analisis impas. Adapun perhitungan dengan analisis impas yaitu:
Titik impas Biaya Tetap
(Marjin Kontribusi/Unit Penjualan) Titik impas Rp. 32.000.000
(Rp. 23.675.000/60 unit) Titik impas = 81 unit
Atau
Titik impas Biaya Tetap
(Marjin Kontribusi/Total Penjualan) Titik impas Rp. 32.000.000
(Rp. 23.675.000/Rp. 96.000.000) Titik impas = Rp. 129.757.128
Dengan demikian, volume dan total penjualan minimal yang harus dicapai perusahaan agar tidak rugi adalah sebesar 81 unit atau Rp. 129.757.128.
- - = = = =
Seperti yang telah diuraikan di atas, suatu usaha dapat dihentikan apabila pendapatan yang diperoleh tidak dapat menutupi biaya tunainya. Semua biaya tetap perusahaan adalah biaya tunai, dan pada biaya variabel terdapat biaya tidak tunai/terbenam, yaitu pada biaya depresiasi/penyusutan aktiva tetap. Hal ini disebabkan karena suatu aktiva tetap dapat mengalami penyusutan/penurunan nilai perolehan dan penyusutan/penurunan nilai perolehan ini dianggap biaya, walaupun perusahaan tidak melakukan pembayaran biaya secara langsung.
Untuk melakukan perhitungan dengan analisis shutdown point, maka biaya depresiasi ini harus dikeluarkan karena bukan biaya tunai sehingga total biaya variabel menjadi Rp. 71.700.000. Adapun penerapan analisis shutdown point dalam keputusan penutupan perusahaan ini adalah:
Penjualan 60 unit @ Rp. 1.600.000 Rp. 96.000.000 Biaya variabel 60 unit x Rp. 1.195.000
Marjin kontribusi Rp. 24.300.000
Rp. 71.700.000
Biaya tetap
Laba bersih Rp. (7.700.000)
Rp. 32.000.000
Dalam biaya variabel di atas, terdapat Rp. 1.195.000 diperoleh dari total biaya variabel dibagi dengan unit terjual. Dengan demikian Rp. 1.195.000 merupakan biaya variabel per unit.
Usaha ini dapat dihentikan jika volume penjualan atau total penjualan dicapai sebesar:
Titik Penutupan Usaha Biaya Tetap (Satuan Unit) (Marjin Kontribusi/Unit Terjual) Titik Penutupan Usaha Rp. 32.000.000
(Satuan Unit) (Rp. 24.300.000/60)
-
-
=
=
Titik Penutupan Usaha = 79 unit Atau
Titik Penutupan Usaha Biaya Tetap
(Satuan Rupiah) (Marjin Kontribusi/Penjualan) Titik Penutupan Usaha Rp. 32.000.000 (Satuan Rupiah) (Rp. 24.300.000/Rp. 96.000.000) Titik Penutupan Usaha = Rp. 126.419.753
Dengan demikian, perusahaan ini dapat menutup usahanya jika volume penjualan atau total penjualan dicapai sebesar 79 unit atau Rp. 126.419.753. Jika digambarkan dengan grafik, seperti pada Gambar 2.2 berikut:
Gambar 2.2. Grafik Penutupan Usaha Sumber: Penulis
=
=