• Tidak ada hasil yang ditemukan

Non Kalimantan

6.3. Analisis Simulasi Kebijakan

Analisis simulasi kebijakan pada bagian ini dimaksudkan untuk

mendapatkan alternatif kebijakan pembangunan sektor pertambangan yang dapat

dapat memberikan manfaat yang optimal bagi kemajuan pembangunan

perekonomian Kalimantan. Adapun hasil yang diharapkan adalah adanya

transformasi ekonomi ke arah sektor pertanian dan agroindustri dan juga

terjadinya penyeberan pendapatan yang relatif lebih merata pada seluruh

kelompok rumahtangga.

6.3.1 Simulasi Kebijakan Pembangunan Sektor Pertambangan di

Kalimantan terhadap Pendapatan Sektor Produksi

Kegiatan usaha pertambangan pada hakekatnya adalah eksploitasi terhadap

sumber daya mineral, yang pada akhirnya akan terus berkurang dan akan habis

mengingat sumber daya mineral tersebut merupakan sumber daya alam yang tak

terbarukan. Dengan demikian, bila suatu ketika kegiatan pertambangan berhenti

beroperasi karena telah habisnya cadangan, tentu akan menimbulkan masalah fisik

system), seperti antara lain ketenagakerjaan dan perekonomian daerah. Di suatu

sisi pekerja perusahaan harus tetap bekerja untuk mempertahankan hidupnya, di

sisi lain perusahaan harus berhenti dan kegiatannya karena habisnya cadangan. Di

samping itu, dengan berhentinya kegiatan pertambangan kemungkinan akan

diikuti pula oleh penurunan kegiatan ekonomi daerah yang pada gilirannya akan

mempengaruhi pembangunan wilayah di daerah tersebut. Dengan demikian, maka

diperlukan suatu pemikiran tentang transformasi struktural pascapertambangan.

Transformasi struktural pascapertambangan pada garis besarnya

menyangkut suatu perubahan yang terencanakan dari kegiatan ke

pascapertambangan dalam rangka pengelolaan sumber daya mineral guna

mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Dalam proses perubahan yang

terencana tersebut, menggambarkan adanya mata rantai hubungan kegiatan dalam

pengelolaan sumber daya mineral dan lingkungan hidup serta proses keberlanjutan

kehidupan ekonomi pada pascapertambangan yang akan dapat memberikan

kontribusi yang sebesar-besarnya melalui upaya pengembangan dampak

positifnya dan menekan secara maksimal dampak negatif yang mungkin timbul

terhadap pengembangan wilayah.

Pada simulasi ini diharapkan dapat diperoleh infromasi alternatif kebijakan

pembangunan sektor pertambangan di Kalimantan untuk menuju pembangunan

Kalimantan yang berkelanjutan. Hasil yang diharapkan adalah adanya indikasi

atas pertumbuhan pendapatan di sektor pertanian dan agroindustri yang lebih

tinggi. Sebagai ilustrasi dari strategi kebijakan sektoral dapat dilihat pada Gambar

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa struktur ekonomi Kalimantan

pada kondisi awal sangat didominasi oleh sektor pertambangan, khususnya

batubara. Dengan pemikiran bahwa cadangan batubara akan habis, maka perlu

dicarikan sektor alternatif yang dapat dijadikan sebagai basis perekonomian

dimasa depan. Upaya yang dilakukan dalam perbaikan struktur ekonomi dalam

penelitian ini ditempuh melalui tahapan sebagai berikut: pertama

mengidentifikasi potensi daerah, kedua mempelajari kemungkinan pengembangan

industri hilirnya melalui analisa pohon industri, ketiga melakukan updating

koefisien teknis I-O dan SAM berdasarkan informasi dari pohon industri dan

keempat adalah melakukan simulasi dengan berbagai skenario kebijakan yang

telah ditetapkan.

Berdasarkan simulasi yang telah dilakukan melalui penerapan beberapa

skenario kebijakan telah memberikan informasi bahwa struktur ekonomi

Kalimantan tidak akan berubah secara signifikan bila tidak dilakukan perubahan

mendasar tentang keterkaitan antar sektor-sektor dalam sistem perekonomian,

dengan kata lain melalui optimaliasi keterkaitan hulu-hilir (pohon industri)

perubahan struktur ekonomi dapat berjalan jauh lebih cepat menuju struktur

ekonomi yang seimbang bila dibandingkan dengan kondisi awal (tanpa dilakukan

transformasi). Menciptakan keterkaitan ekonomi antar sektor hulu dan hilir

menjadi prasyarat agar basis industri kuat dan efisien sehingga industri yang

berkembang dapat menjadi pendorong tumbuh kembangnya kegiatan ekonomi

lokal yang pada akhirnva daerah dapat tumbuh dan berkembang secara mandiri

Gambar 20. Strategi Pendekatan Sektoral

Pemanfaatan sumberdaya alam pertanian, perkebunan, kehutanan serta

perikanan untuk pembangunan ekonomi tetap harus memperhatikan kelestarian

lingkungan guna berkelanjutan pembangunan, baik pada masa kini maupun pada

masa yang akan datang. Karena suatu pembangunan, agar dapat berkelanjutan,

memiliki suatu persyaratan minimum yaitu bahwa sediaan kapital alami (natural

capital stock) harus dipertahankan sehingga kualitas dan kuantitasnya tidak

menurun dalam suatu rentang waktu.

Sediaan kapital alami (natural capital stock) merupakan sumberdaya alam

dengan suatu keterbatasan, oleh karena itu pengalokasian sumberdaya harus

efisien yang mengarah kepada keseimbangan kompetitif. Untuk mecapai hal

tersebut diperlukan campur tangan pemerintah melalui sistem perpajakan dan

transfer (subsidi atau pinjaman); sedangkan hal-hal lain dalam ekonomi dapat

diserahkan kepada bekerjanya mekanisme pasar yang kompetitif.

Oleh karena itu dalam kaitan dengan pembangunan Kalimantan,

pemerintah dapat bertindak untuk mencapai tujuan tingkat pemerataan tertentu

yang diinginkan, dengan melakukan redistribusi alokasi sumberdaya (kapital,

Sektor Pertambangan Sektor Pertanian Sektor Agribisnis/Agroindustri Dengan Percepatan Tanpa Percepatan

saat ini waktu yang akan datang

lahan dan sumberdaya alam lainnya) secara spatial; sedangkan selebihnya yang

menyangkut efesiensi sebaiknya pemerintah membiarkan (tanpa campur tangan)

untuk dapat memungkinkan bekerjanya sistem pasar (yang bersaing), agar

keseimbangan ekonomi yang efesien, yang menyumbangkan kepada pertumbuhan

ekonomi dapat tercapai.

Gagasan ini dalam simulasi yang dilakukan diwujudkan dengan cara

menyeleksi proyek-proyek pembangunan yang mendorong kegiatan usaha swasta

yang mengarah kepada pemerataan dan sekaligus menjanjikan pertumbuhan

ekonomi dimasa depan, seperti meningkatkan pengeluaran pemerintah untuk

infrastruktur pendidikan, perluasan pasar dari komoditas pertanian dan industri

hilirnya. Sedangkan dalam upaya menjaga kelestarian lingkunagan adalah melalui

reboisasi bekas areal pertambangan dengan pohon acasia mangium.

Pembangunan infrastruktur penting menjadi pusat perhatian, seperti

transportasi, telekomunikasi, air bersih dan tenaga listrik. Diharapkan bahwa

kondisi infrastruktur yang baik akan mendukung investasi disektor pertanian dan

industri. Sedangkan peningkatan alokasi belanja pemerintah untuk sektor

pendidikan dimaksudkan agar supaya kualitas sumber daya manusia meningkat

dan mengurangi kemungkinan terjadinya berbagai masalah sosial di masa depan

seperti kemiskinan dan kesenjangan pendapatan. Oleh karena itu, sektor

pendidikan juga merupakan faktor kunci dalam keberhasilan proses transformasi

ekonomi. Hal mendasar yang perlu dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah

Kalimantan adalah menciptakan usaha produktif dengan cara memberikan

pelatihan yang peningkatan human capital, dan social capital, penyertaan kaum

irigasi, jalan dan lain-lain. Sehingga apabila gagasan ini dapat diwujudkan, maka

antara pertumbuhan dan pemerataan akan berjalan bersama, yang tidak perlu

dipertentangkan lagi. Sedangkan faktor yang dapat merangsang kaum swasta dan

organisasi kemasyarakatan untuk mengarah aktivitas industrialisasi ke wilayah

perdesaan, guna melawan arus kekuatan aglomerasi kawasan perkotaan, kemudian

dapat dirangsang dengan instrumen insentif fiscal dan pengembagangan lembaga

keuangan dan pasar keuangan di wilayah perdesaan.

Seluruh gagasan tersebut bila diimplementasikan dalam simulasi hasilnya

dapat disajikan pada Tabel 32. Berdasarkan pada tabel tersebut terlihat bahwa

penerapan skenario kebijakan 5 dampak terhadap total perekonomian Kalimantan

adalah yang paling tinggi (0.1817) bila dibandingkan dengan alternatif kebijakan

yang lainnya. Namun demikian bila diamati distribusi atau pertumbuhan antar

sektornya relatif kurang merata, beberapa sektor yang menjadi potensi di

Kalimantan pertumbuhannya tidak terlalu tinggi. Sedangkan pilihan skenario

kebijakan 6 dinilai merupakan pilihan yang paling efektif untuk diterapkan di

Kalimantan. Hal ini dikarenakan pada skenario 7 meskipun pertumbuhan ekonomi

Kalimantan hanya sebesar 0.1763 persen, namum pertumbuhan setiap sektornya

cenderung lebih merata. Pada skenario ini, sektor pertanian tumbuh sebesar

0.3526 persen dan indutri pengolahan tumbuh sebesar 0.1623 dan merupakan

pertumbuhan yang paling tinggi bila dibandingkan dengan skenario lainnya

Tabel 32. Hasil Simulasi Beberapa Kebijakan Pembangunan Sektor Pertambangan di Kalimantan terhadap Pendapatan Sektor Produksi

Sektor Kondisi Awal Hasil Simulasi Kebijakan

Simulasi 1 Simulasi 2 Simulasi 3 Simulasi 4 Simulasi 5 Simulasi 6 Simulasi 7

1. PERTANIAN 84 462 583.59 0.0042 0.0541 0.0291 0.1147 0.0550 0.4106 0.3526

Padi 11 500 032.06 0.0007 0.0000 0.0004 0.0210 0.0064 0.4190 0.3696

Tanaman Bahan Makanan Lainnya 6 548 926.12 0.0151 0.0003 0.0077 0.3558 0.0536 0.6646 0.6190

Perkebunan 25 674 135.52 0.0014 0.0001 0.0008 0.0494 0.0230 0.2736 0.2146 Peternakan 13 441 308.03 0.0090 0.0004 0.0047 0.2372 0.0479 0.4063 0.3630 Kehutanan 13 629 663.92 0.0008 0.3339 0.1673 0.0199 0.1826 0.3727 0.3800 Perikanan 13 668 517.94 0.0057 0.0003 0.0030 0.1746 0.0363 0.5813 0.4324 2. PERTAMBANGAN 231 272 278.46 (0.0186) (0.0189) (0.0189) 0.0193 0.0415 0.0202 0.0280 Migas 142 542 117.16 0.0008 0.0005 0.0005 0.0255 0.0560 0.0294 0.0390 Batubara 88 730 161.30 (0.0497) (0.0500) (0.0500) 0.0093 0.0181 0.0053 0.0104 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 413 853 207.36 0.0014 0.0006 0.0010 0.0420 0.0843 0.2459 0.1623

Industri Pengilangan Minyak Bumi 245 433 300.19 0.0006 0.0005 0.0006 0.0217 0.0614 0.0170 0.0346

Industri Kelapa Sawit 14 062 147.19 0.0057 0.0003 0.0030 0.1639 0.0313 1.0570 0.5492

Industri Pengolahan Ikan 2 991 946.06 0.0037 0.0004 0.0020 0.1295 0.0411 3.2308 1.6364

Industri Makanan dan Minuman 24 835 034.54 0.0037 0.0002 0.0019 0.1096 0.0320 0.7239 0.4293

Industri Tekstil 849 258.75 0.0059 0.0021 0.0040 0.1455 0.1077 13.4293 6.7650

Industri Pengolahan Kayu 62 330 571.48 0.0012 0.0005 0.0009 0.0263 0.1439 0.2047 0.1610

Industri Pulp dan Kertas 13 842 615.08 0.0018 0.0012 0.0015 0.0580 0.0634 0.9660 0.5126

Industri Pengolahan Karet 11 938 165.62 0.0035 0.0012 0.0023 0.0802 0.1456 0.9225 0.5241

Industri Petrokimia 29 191 771.16 0.0021 0.0004 0.0012 0.0638 0.0723 0.2067 0.1399

Industri Lainnya 8 378 397.30 0.0072 0.0025 0.0049 0.1494 0.5557 0.0587 0.2598

4. LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH 10 084 452.24 0.0179 0.0034 0.0106 0.4303 0.1317 0.2086 0.1728

5.KONSTRUKSI 61 108 809.35 0.0001 0.0057 0.0029 0.0090 1.6188 0.0212 0.6621

6. PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN 91 706 107.69 0.0033 0.0042 0.0038 0.1322 0.2025 0.2167 0.2030

7. TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI 89 361 441.05 0.0037 0.0017 0.0027 0.1119 0.1079 0.0946 0.0972

8. LEMBAGA KEUANGAN 27 385 465.73 0.0020 0.0129 0.0074 0.0703 0.3742 0.1732 0.2567

9. JASA-JASA 34 299 305.85 0.0048 (0.0006) 0.0021 0.1795 0.0510 0.0479 0.0512

TOTAL 1 043 533 651.34 (0.0022) 0.0016 (0.0003) 0.0638 0.1817 0.1717 0.1763

Keterangan:

Simulasi 1: Peningkatan pajak tidak langsung sebesar 10 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut ke rumahtannga di desa

Simulasi 2: Peningkatan pajak tidak langsung sebesar 10 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut untuk rehabilitasi bekas areal tambang

Simulasi 3: Peningkatan pajak tidak langsung sebesar 10 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut untuk rehabilitasi bekas areal 10 persen dan rumahtangga di desa 10 persen Simulasi 4: Peningkatan penerimaan royalty oleh pemerintah daerah sebesar 6.5 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut ke seluruh kelompok rumahtangga

Simulasi 5: Peningkatan penerimaan royalty oleh pemerintah saerah sebesar 6.5 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut untuk belanja infrastruktur

Simulasi 6: Peningkatan penerimaan royaltu oleh pemerintah daerah sebesar 6.5 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut sebesar 20 persen untuk pertanian dan 80 persen untuk industri

Simulasi 7: Peningkatan penerimaan royalti oleh pemerintah daerah sebesar 6.5 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut sebesar 20 persen untuk pertanian dan 40 persen untuk infrastruktur dan 40 persen untuk agroindustri

1

6.3.2. Simulasi Kebijakan Pembangunan Sektor Pertambangan terhadap Pendapatan rumahtangga

Strategi percepatan pembangunan ekonomi melalui target sektoral adalah

hal yang sangat penting untuk diketahui dan direncanakan, karena dengan

mengetahui arah dari pertumbuhan sektoral dapat diperkirakan kearah mana

struktur ekonomi di masa mendatang. Pada pembahasan sebelumnya telah

ditetapkan bahwa pemilihan skenario kebijakan 7, yaitu meningkatkan

penerimaan pemerintah daerah dari royalti sebesar 6.5 persen dan

mendistribusikan pendapatan tersebut untuk pembangunan sektor pertanian

sebesar 20 persen, belanja infrastruktur sebesar 40 persen, pembangunan sektor

agroindustri sebesar 40 persen. merupakan pilihan yang efektif dari sisis pandang

pertumbuhan sektoral.

Aspek lain yang tidak boleh dilupakan dalam perencanaan pembangunan

ekonomi adalah adanya pemerataan dari hasil-hasil pembangunan dalam hal ini

apakah kebijakan yang kita tetapkan juga dapat meningkat pendapatan mayarakat

secara merata. Berdasarkan pada Tabel 33, skenario kebijakan 7 merupakan yang

paling baik bila dibandingkan dengan alternatif kebijakan lainnya. Hal ini dapat

dilihat bahwa seluruh kelompok pendapatan rumahtangga di Kalimantan

pertumbuhan pendapatannya paling tinggi bila dibandingkan dengan kebijakan

yang lainnya.

6.3.3. Rangkuman

1. Dalam rangka memperoleh gambaran mengenai arah pembangunan ekonomi

Kalimatan maka perlu menetapkan strategi kebijakan pembangunan agar

Tabel 33. Hasil Simulasi Beberapa Kebijakan Pembangunan Sektor Pertambangan di Kalimantan terhadap Peningkatan Pendapatan Rumahtangga

Wilayah Golongan

Pendapatan Kondisi Awal

Hasil Simulasi

Simulasi 1 Simulasi 2 Simulasi 3 Simulasi 4 Simulasi 5 Simulasi 6 Simulasi 7

K al im an ta n Desa Rendah 4 933 072.15 0.0075 0.0031 0.1529 3.3882 0.1256 0.1885 0.1928 Sedang 14 508 064.73 0.0067 0.0022 0.0522 1.2714 0.1117 0.1694 0.1722 Tinggi 35 091 137.57 0.0070 0.0033 0.0210 0.5463 0.1171 0.1564 0.1601 Kota Rendah 11 522 102.02 0.0065 0.0030 0.0009 1.5642 0.1089 0.1287 0.1301 Sedang 30 189 809.42 0.0070 -0.0011 -0.0024 0.6214 0.1178 0.1001 0.1116 Tinggi 54 931 706.57 0.0076 -0.0006 -0.0022 0.4230 0.1268 0.1083 0.1209 N o n K al im an ta n Desa Rendah 264 465 538.63 0.0003 0.0000 0.0001 0.0075 0.0054 0.0045 0.0049 Sedang 609 347 062.87 0.0003 0.0000 0.0001 0.0080 0.0056 0.0047 0.0051 Tinggi 289 261 227.63 0.0004 0.0000 0.0001 0.0080 0.0063 0.0052 0.0057 Kota Rendah 102 269 420.76 0.0004 0.0000 0.0000 0.0069 0.0067 0.0051 0.0058 Sedang 740 096 180.14 0.0004 0.0000 0.0000 0.0072 0.0074 0.0056 0.0064 Tinggi 1 076 350 912.66 0.0004 0.0000 0.0000 0.0071 0.0067 0.0052 0.0059 Keterangan:

Simulasi 1: Peningkatan pajak tidak langsung sebesar 10 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut ke rumahtannga di desa

Simulasi 2: Peningkatan pajak tidak langsung sebesar 10 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut untuk rehabilitasi bekas areal tambang

Simulasi 3: Peningkatan pajak tidak langsung sebesar 10 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut untuk rehabilitasi bekas areal 10 persen dan rumahtangga di desa 10 persen

Simulasi 4: Peningkatan penerimaan royalty oleh pemerintah daerah sebesar 6.5 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut ke seluruh kelompok rumahtangga Simulasi 5: Peningkatan penerimaan royalty oleh pemerintah saerah sebesar 6.5 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut untuk belanja infrastruktur

Simulasi 6: Peningkatan penerimaan royaltu oleh pemerintah daerah sebesar 6.5 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut sebesar 20 persen untuk pertanian dan 80 persen untuk industri

Simulasi 7: Peningkatan penerimaan royalti oleh pemerintah daerah sebesar 6.5 persen dan mendistribusikan pendapatan tersebut sebesar 20 persen untuk pertanian dan 40 persen untuk infrastruktur dan 40 persen untuk agroindustri

1

2. Pilihan skenario kebijakan pembangunan ke 7 merupakan pilihan yang paling

efektif dalam rangka menuju pembangunan Kalimantan yang berkelanjutan.

Hal ini diindikasikan dengan pertumbuhan pada beberapa sektor potensial yang

ada di Kalimantan tumbuh dengan pesat, utamanya pada sektor pertanian dan

agroindustri.

3. Aspek lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah aspek

pendapatan masyarakat. Skenario ke 7 juga merupakan pilihan yang paling

baik bila dibandingkan dengan yang lainnya, terlihat bahwa pilihan skenario

kebijakan ini mampu meningkatkan pendapatan dis seluruh lapisan

Dokumen terkait