• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi, dan personel yang dirancang secara efisien untuk memperoleh, menyimpan, mang-update, memanipulasi, manganalisis dan menampilkan semua bentuk informasi yang bereferensi geografi (ESRI 1990 in Prahasta 2001). Borrough (1986), mendefinisikan Sistem Informasi Geografis sebagai seperangkat alat yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, memanggil kembali, mentransformasi dan menyajikan data spasial dari penampakan bumi untuk tujuan tertentu.

Menurut Zetka (1985) in Amarullah (2007) menyebutkan bahwa ekosistem pesisir merupakan area yang luas meliputi daratan pesisir, estuaria dan perairan pesisir, sehingga sumber data yang dibutuhkan sangat bervariasi. Melalui Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra penginderaan jauh dengan resolusi spasial dan spectral yang tinggi dapat diperoleh pemetaan wilayah pesisir. Amri (2001) menyatakan pada hakekatnya Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan guna mendapatkan gambaran situasi ruang muka bumi yang nantinya diperlukan sebagai jawaban untuk menyelesaikan suatu

masalah yang terdapat dalam ruang muka bumi tertentu. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi pengumpulan data, penataan, pengolahan, penganalisasian, penyajian data atau fakta yang terdapat dalam ruang muka bumi. Sistem ini sudah ada sebelum komputer ditemukan dan merupakan kegiatan rutin ahli geografi.

Menurut Rice 2000; Gistut 1994 in Prahasta (2001) definisi SIG adalah sistem komputer yang digunakan untuk memasukkan (caoturing), menyimpan, memeriksa, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan data-data yang berhubungan dengan posisi-posisi permukaan bumi dan merupakan sistem yang dapat mendukung pengambilan keputusan spasial serta mampu mengintegrasikan deskripsi-deskripsi lokasi dengan karakteristik- karakteristik fenomena yang ditemukan di suatu lokasi.

Dalam pengambilan keputusan mengenai dunia nyata yang kompleks, informasi yang didapatkan tidaklah begitu lengkap. Informasi yang relevan dipilih dan disimpan untuk selanjutnya dibuat suatu model konseptual melalui suatu proses seleksi. ESRI (2002) and Jayarman (2002) membagi 2 jenis data berdasarkan aplikasi SIG yaitu (1) data spasial adalah data yang mengacu pada posisi permukaan bumi (georeference). Informasi spasial ini juga bias diartikan sebagai geoinformasi yang bentuk penyajiannya berupa peta. Setiap data spasial dalam SIG mengacu pada bentuk lapisan data atau bidang data. Data spasial ini dapat dibagi menjadi dua yaitu data rester dan data vector, (2) data non spasial atau yang lebih dikenal sebagai data atribut yaitu merupakan data yang melengkapi data spasial baik dalam bentuk statistik maupun deskriptif. Data atribut ini terbagi dua yaitu data kualitatif (nama, jenis dan tipe) dan data kuantitatif (angka, bagian atau besar jumlah, tingkatan dan kelas interval) yang mempunyai hubungan dengan data spasialnya.

2.5.2 Struktur Data Rester dan Cell based modeling

Moolenaar (1998) dan ESRI (2002), menyatakan hal yang sama tentang sebuah data rester yang terdiri atas sekumpulan sel. Masing-masing sel atau piksel berupa persegi yang berukuran sama serta mempresentasikan tempat spesifik pada suatu area. Data rester tersusun dari sel yang berbentuk baris dan kolom yang dengan matriks kartesius (baris sel mewakili bidang x dan kolom sel mewakili bidang y). masing-masing sel mempunyai koordinat serta sebuah nilai

23

sebagai identitas untuk menggambarkan sebuah kelas, kategori atau grup. Dalam proses analisis spasial ukuran sel ditentukan oleh obyek apa yang akan dianalisis dengan SIG.

Cell based modeling merupakan salah satu analisis spasial dalam SIG yang dapat digunakan untuk memodelkan keadaan di alam (ESRI 2002). Secara umum suatu model dapat mempresentasikan kekompleksitasan dan interaksi di alam dengan bentuk penyederhanaan. Model tersebut akan membantu menggambarkan, memahami dan memprediksi banyak hal di alam. Terdapat dua model yang umum dikenal dalam analisis spasial (1) model yang mempresentasikan objek atau kenampakan di alam (Representation Models). Model ini akan menggambarkan kenampakan di bumi serta bangunan, taman atau hutan. Cara untuk menampilkan model tersebut dalam SIG melalui layer-layer dimana untuk analisis spasial, layer tersebut berupa rester. Layer rester akan menampilkan objek-objek kenampakan di bumi dengan bidang bujursangkar yang saling bertautan atau disebut grid, dan setiap lokasi di rester akan berupa grid cell

yang memiliki nilai tertentu; (2) model yang mensimulasikan proses di alam (Process Models), yaitu model yang menggambarkan interaksi dari objek di bumi yang terdapat di dalam Representation Models. Process Models dapat digunakan untuk menggambarkan suatu proses, tetapi lebih sering digunakan untuk memprediksi apa yang terjadi pada suatu lokasi tertentu. Salah satu dasar dari analisis spasial ini yaitu operasi penambahan dua data rester secara bersamaan, dan kemudian konsep ini dapat diterapkan untuk berbagai macam operasi aljabar pada lebih dua data rester. Berikut ini adalah tipe-tipe dari process models yaitu :

a) Suitability modeling, hampir semua analisis spasial bertujuan untuk menentukan lokasi yang optimum, seperti lokasi yang paling sesuai untuk mendirikan tempat wisata.

b) Distance modeling, analisis ini bertujuan untuk menentukan jarak yang paling efisien dari suatu lokasi ke lokasi lain.

c) Hidrologic modeling, salah satu aplikasi dari analisis ini adalah untuk menentukan arah aliran air di lokasi.

d) Surface modeling, salah satu aplikasi dari analisis ini adalah untuk mengkaji tingkat penyebaran polusi di suatu lokasi.

ESRI (2002), berpendapat bahwa keseluruhan model-model di atas akan lebih efisisen jika dilakukan pada data rester, selanjutnya analisis spasial pada data rester disebut call based modeling karena metode ini bekerja berdasarkan sel atau piksel. Lebih lanjut lagi ESRI (2002), membagi operasi sel pada call based modeling ke dalam lima kelompok yaitu :

a) Local function adalah operasi piksel yang hanya melibatkan satu sel. Nilai piksel output ditentukan oleh satu piksel input

b) Focal function adalah operasi piksel yang melibatkan beberapa sel terdekat.

c) Zonal function adalah operasi piksel yang melibatkan satu kelompok sel yang memiliki nilai atau keterangan yang sama.

d) Global function adalah operasi piksel yang melibatkan keseluruhan sel dalam data rester dan gabungan antara keempat kelompok tersebut. e) Application function adalah gabungan dari keempat operasi di atas

yang meliputi Local function, Focal function, Zonal function, Global function

Sumber data rester yang digunakan dalam pendekatan call based modeling

dapat diturunkan dari citra satelit. Pemilihan metode call based modeling

berdasarkan pada keunggulan metode ini dalam pemodelan kerentanan (ekologi. Ekonomi dan ekologi-ekonomi) yang lebih presentatif karena berdasarkan analisis spasial pada data rester.

Penelitian ini menggunakan analisis spasial pada data rester dimana pemilihan metode call based modeling dengan berbagai keunggulannya dapat diterapkan pada penelitian ini. Meaden ang Tang (1996) dan Molenaar (1998) menyatakan bahwa analisis overlay, pembuatan jarak dan pengkelasan parameter lebih mudah dilakukan secara cepat dan teratur pada setiap sel. Keunggulan lainnya dari metode ini dibandingkan analisis lainnya adalah struktur data rester

yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dalam pemodelan dan analisis, kompatibel dengan citra satelit serta memiliki variabilitas yang tinggi dalam mempresentasikan suatu kondisi di lapangan.

25

Dokumen terkait