• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Spasial Tataruang Wilayah Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Lebak dengan Wilayah Kelola TNGHS

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 33-43)

Analisis spasial tata ruang wilayah tiga kabupaten di sekitar TNGHS diuraikan berikut ini. Zonasi TNGHS disajikan pada Gambar 21 dan Tabel 21 Hasil perhitungan luas Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak yaitu 113.357 Hektar.

Tabel 21. Luas Zona Taman Nasional Gunung Halimun Salak Menurut TNGHS

NO ZONASI TNGHS Luas Total (ha)

1 Budaya 6,6 2 Enclave 6.840,9 3 Khusus 16.076,2 4 Pemanfaatan 833,6 5 Rehabilitasi 32.025,0 6 Zona Inti 30.015,3 7 Zona Rimba 27.559,4 Total 113.357,0

Berdasarkan Perda Kabupaten Bogor No. 19/2008 tentang Rencana Tataruang Wilayah Kabupaten Bogor Tahun 2005-2025, Kabupaten Bogor dibagi menjadi 18 zona tataruang yaitu sebagai berikut:

1. Hutan Konservasi 2. Hutan Lindung 3. Hutan Produksi

4. Hutan Produksi Terbatas 5. Kawasan Industri 6. Kawasan Lindung 7. Zona Industri 8. Lahan Basah 9. Lahan Kering 10. Tanaman Tahunan 11. Perkebunan 12. Permukiman Perdesaan 1 13. Permukiman Perdesaan 2 14. Permukiman Perkotaan 1 15. Permukiman Perkotaan 2

16. Permukiman Perkotaan 3 17. Danau/Setu

18. Waduk

Hasil overlay GIS peta RTRW Kabupaten Bogor dengan peta Kawasan TNGHS dihasilkan sebanyak 3 (tiga) zona tataruang yang terdapat dalam kawasan Taman Nasional seluas 35.209,9 Hektar dengan rincian diuraikan dalam Tabel 22 berikut ini.

Tabel 22. Luas Zona Tataruang Wilayah Kabupaten Bogor di dalam Kawasan TNGHS

NO RTRW DALAM LINGKUP KAWASAN TNGHS Luas Total (Ha)

1 Hutan Konservasi 33.814,5

2 Hutan Lindung 1.322,5

3 Tanaman Tahunan 72,9

Total 35.209,9

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sukabumi Tahun 2007-2017, Kabupaten Sukabumi dibagi menjadi 12 zona tataruang yaitu sebagai berikut:

1. Hutan Konservasi 2. Hutan Lindung

3. KB-Hutan Produksi Terbatas 4. KB-Hutan Produksi

5. KB-Hutan Cadangan 6. KB-Enclave

7. KB-Kaw Peruntukan Pertanian Lahan Kering 8. KB-Kaw. Permukiman Perdesaan

9. KB-Kaw. Peruntukan Perkebunan

10. KB-Kaw. Peruntukan Pertanian Lahan Basah 11. KB-Permukiman Perkotaan

12. KB-Tubuh Air

Hasil overlay GIS peta RTRW Kabupaten Sukabumi dengan peta Kawasan TNGHS dihasilkan sebanyak 9 (sembilan) zona tataruang yang terdapat dalam kawasan Taman Nasional seluas 29.193,3 Hektar dengan rincian diuraikan dalam Tabel 23.

Tabel 23. Luas Zona Tataruang Wilayah Kabupaten Sukabumi di dalam Kawasan TNGHS

NO RTRW DALAM LINGKUP KAWASAN TNGHS Luas Total (Ha)

1 Hutan Lindung 558,7

2 Enclave 784,3

3 Hutan Konservasi 26.171,6

4 Hutan Produksi 49,5

5 Hutan Produksi Terbatas 1.292,1

6 Permukiman Perdesaan 18,6

7 Peruntukan Perkebunan 115,9

8 Peruntukan Pertanian Lahan Basah 151,7

9 Peruntukan Pertanian Lahan Kering 50,9

Total 29.193,3

Berdasarkan Rencana Tataruang Wilayah Kabupaten Lebak, Kabupaten Lebak dibagi menjadi 13 zona tataruang yaitu sebagai berikut:

1. Taman Nasional 2. Hutan Lindung

3. Daerah Rawan Bencana 4. Daerah Resapan Air

5. Pertanian Lahan Kering dan Peternakan 6. Pertanian Lahan Basah

7. Kawasan Baduy 8. Kawasan Industri 9. Kawasan Pemerintahan

10. Kawasan Pengembangan Perkotaan 11. Kawasan Tambang

12. Kawasan Zona Khusus Militer 13. Waduk/DAM

Hasil overlay GIS peta RTRW Kabupaten Lebak dengan peta Kawasan TNGHS dihasilkan sebanyak 5 (lima) zona tata ruang yang terdapat dalam kawasan Taman Nasional seluas 48.953,8 Hektar dengan rincian diuraikan dalam Tabel 24.

Tabel 24. Luas Zona Tataruang Wilayah Kabupaten Lebak di dalam Kawasan TNGHS

NO RTRW DALAM LINGKUP KAWASAN TNGHS Luas Total (Ha)

1 Daerah Resapan Air 13.331,6

2 Hutan Lindung 26.249,4

3 Kawasan Tambang 6.445,8

4 Pertanian Lahan Kering dan Peternakan 423,5

5 Taman Nasional 2.503,6

Total 48.953,8

Berdasarkan uraian di atas, luasan ketidaksesuaian antara zonasi tataruang 3 (tiga) wilayah kabupaten dengan zonasi Kawasan TNGHS dapat digambarkan seperti yang disajikan pada Gambar 23. Wilayah administratif Kabupaten Lebak merupakan wilayah yang terluas yang termasuk dalam lingkup kawasan TNGHS, namun juga merupakan wilayah yang terluas terdapat ketidaksesuaian zonasi antara zonasi tataruang wilayah dengan zonasi Kawasan TNGHS. Luas ketidaksesuaian zonasi di wilayah administratif Kabupaten Lebak adalah seluas 46.450,2 ha atau sekitar 43,30% dari luas Kawasan TNGHS di wilayah administratif Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Lebak. Luas ketidaksesuaian zonasi di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor masing-masing seluas 1.395,3 ha (1,2%) dan 3.023,7 ha (2,7%).

Gambar 23. Grafik Luas Tingkat Kesesuaian Tataruang Wilayah Tiga Kabupaten dengan Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Tingkat kesesuaian sistem pengelolaan rencana tataruang di Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Lebak dengan sistem pengelolaan Kawasan TNGHS menunjukkan seluas 62.489,7 ha termasuk dalam kategori sesuai dan 50.869,3 ha termasuk dalam kategori tidak sesuai. Lahan yang termasuk ke dalam kategori tidak sesuai yang merupakan sumber konflik tersebar di Kabupaten Bogor seluas 1.395,3 ha, di Kabupaten Sukabumi seluas 3.023,7 Ha, dan di Kabupaten Lebak seluas 46.450,2 ha. Tingkat Kesesuaian Sistem Pengelolaan Rencana Tataruang tiga Wilayah Kabupaten dengan Pengelolaan Kawasan TNGHS selengkapnya disajikan pada Tabel 25.

Permasalahan penting yang harus segera diatasi adalah rendahnya aksetabilitas (pengakuan) terhadap eksistensi tata ruang kawasan hutan. Akibatnya perubahan fungsi dan status kawasan hutan menjadi tidak terkendali tumpang tindih pemanfaatan lahan di kawasan hutan, dan terjadi ketidakpastian dalam pengelolaan hutan. Rendahnya pengakuan terhadap eksistensi tata ruang kawasan hutan juga menyebabkan secara faktual kawasan hutan menjadi kurang diakui dan memicu terjadinya akses terbuka (open access) kawasan hutan yang pada gilirannya menyebabkan terjadi bencana alam (banjir, longsor, kekeringan, kebakaran). Kurang kuatnya eksistensi tata ruang kawasan hutan juga mengakibatkan tidak adanya kepastian usaha dan lebih dari itu, juga rawan terhadap konflik antar sektor. Pada akhirnya rendahnya pengakuan terhadap eksistensi tata ruang kawasan hutan dapat mengancam kelestarian sumberdaya hutan secara keseluruhan.

Bogor, Sukabumi, dan Lebak dalam Wilayah Kelola TNGHS Berdasarkan Aspek Legal (Kebijakan Pola Ruang)

No Kabupaten Zonasi RTRW

Tingkat Kesesuaian ZonasiLuas Total (Ha) Sesuai

(Ha) Tidak Sesuai(Ha)

1 Lebak Daerah Resapan Air 13.331,6 13.331,6

Hutan Lindung 26.249,4 26.249,4

Kawasan Tambang 6.445,8 6.445,8

Pertanian Lahan Kering dan Peternakan 423,5 423,5

Taman Nasional 2.503,6 2.503,6

Subtotal 2.503,6 46.450,2 48.953,8

2 Bogor Hutan Konservasi 33.814,5 33.814,5

Hutan Lindung 1.322,5 1.322,5

Perkebunan dan Tanaman Tahunan 72,9 72,9

Subtotal 33.814,5 1.395,3 35.209,9

3 Sukabumi Hutan Lindung 558,7 558,7

Enclave 784,3 784,3

Hutan Konservasi 26.171,6 26.171,6

Hutan Produksi 49,5 49,5

Hutan Produksi Terbatas 1.292,1 1.292,1

Permukiman Perdesaan 18,6 18,6

Peruntukan Perkebunan 115,9 115,9

Peruntukan Pertanian Lahan Basah 151,7 151,7 Peruntukan Pertanian Lahan Kering 50,9 50,9

Subtotal 26.171,6 3.023,7 29.193,3

Total 62.489,7 50.869,3 113.357,0

Zona Kawasan Lindung pada RTRW Kabupaten Bogor seluas 1.322,5 ha tidak sesuai dengan zonasi TNGHS. Wilayah yang diperuntukkan sebagai zona perkebunan atau tanaman tahunan seluas 72,9 ha termasuk kategori tidak sesuai dengan zonasi Kawasan TNGHS. Zona yang diperuntukan sebagai Kawasan Budidaya (KB) Hutan Produksi Terbatas merupakan zona terluas pada RTRW Kabupaten Sukabumi yang tidak sesuai dengan zonasi TNGHS, yaitu seluas 1.292,1 ha. Begitu juga dengan wilayah yang telah ditetapkan sebagai Hutan Lindung pada RTRW Kabupaten Sukabumi seluas 558,7 ha tidak sesuai dengan zonasi TNGHS. Zona-zona RTRW Kabupaten Sukabumi yang lainnya yang tidak sesuai dengan TNGHS seluruhnya mencapai luas 386,6 ha di luar luas lahan enclave.

Bila dilihat dari aspek fungsinya, maka yang sesuai dalam wilayah administratif Kabupaten Lebak seluas 42.084,6 ha (86%), Kabupaten Bogor seluas 35.137 ha (99,8%), dan Kabupaten Sukabumi seluas 26.730,3 ha (91,6%). Sehingga kondisi ideal berdasarkan fungsi adalah bahwa seluruh wilayah taman

kawasan pelestarian alam (KPA).

Kategori kesesuaian zonasi pengelolaan Kawasan TNGHS dengan Rencana Tataruang Wilayah Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Lebak menurut kecamatan disajikan pada Tabel 26.

Tabel 26. Kategori Kesesuaian Zonasi Pengelolaan Kawasan TNGHS dengan Rencana Tataruang Wilayah Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Lebak Menurut Kecamatan

No Kabupaten Kecamatan Tingkat Kesesuaian Zonasi (Ha) Luas Total (Ha)

Sesuai (Ha) Tidak Sesuai (Ha)

1 Lebak Bayah 31,4 31,4 Cibeber 634,1 26.321,9 26.956,0 Cijaku 1.125,6 1.125,6 Cipanas 1.831,4 7.724,0 9.555,5 Muncang 38,1 8.463,1 8.501,2 Panggarangan 2.717,5 2.717,5 Sajira 66,6 66,6 2.503,6 46.450,2 48.953,8 2 Bogor Cigombong 319,3 72,9 392,2 Cigudeg 278,2 278,2 Cijeruk 884,8 884,8 Jasinga 1.297,2 1.297,2 Leuwiliang 3.218,8 3.218,8 Nanggung 9.154,9 981,7 10.136,6 Pamijahan 6.354,3 6.354,3 Sukajaya 10.029,3 340,7 10.370,0 Tamansari 1.091,2 1.091,2 Tenjolaya 1.186,7 1.184,7 33.814,5 1.395,3 35.209,9 3 Sukabumi Cicurug 761,4 761,4 Cidahu 1.111,6 113,6 1.225,2 Cikidang 2.980,1 1.245,9 4.226,0 Cisolok 10.505,1 1.403,2 11.908,3 Kabandungan 8.681,4 8.681,4 Kalapanunggal 900,8 900,8 Parakansalak 1.231,3 1.231,3 Pelabuhanratu 261,0 261,0 26.171,6 3.023,7 29.193,3 Total 62.489,7 50.869,3 113.357,0

Kecamatan Cibeber menunjukkan ketidaksesuaian antara zonasi kawasan TNGHS dengan zona tataruang wilayah Kabupaten Lebak yang terluas, yaitu 26.321,9 ha atau sebesar 97,48% dari luasan total zonasi kawasan TNGHS yang masuk dalam wilayah Kecamatan Cibeber, sementara itu ketidaksesuaian zonasi yang terendah berada di Kecamatan Bayah. Wilayah kecamatan di Kabupaten Bogor ketidaksesuaian zonasi terluas ditunjukkan pada wilayah Kecamatan

kawasan TNGHS yang masuk dalam wilayah Kecamatan Nanggung. Sedangkan Wilayah kecamatan di Kabupaten Sukabumi ketidaksesuaian zonasi terluas ditunjukkan pada wilayah Kecamatan Cisolok dengan luas 1.403,2,7 ha atau sebesar 11,78% dari luasan total zonasi kawasan TNGHS yang masuk dalam wilayah Kecamatan Cisolok.

Kawasan Budidaya (KB) Hutan Produksi Terbatas, Enclave, KB-Kawasan Peruntukan Pertanian Lahan Basah, KB-KB-Kawasan Peruntukan Pertanian Lahan Kering, KB-Kawasan Peruntukan Perkebunan, KB-Hutan Produksi, dan KB-Kawasan Permukiman Perdesaan merupakan zona tataruang wilayah Kabupaten Sukabumi yang mengalami ketidaksesuaian dengan zonasi Kawasan TNGH. Ketidaksesuaian antara Zonasi Kawasan TNGHS dengan Zona Tataruang Wilayah Kabupaten Sukabumi selengkapnya disajikan pada Tabel 27.

Tabel 27. Rincian Zonasi Kawasan TNGHS pada Kategori Tidak Sesuai Zona Tataruang Wilayah Kabupaten Sukabumi Berdasarkan Aspek Legal (Kebijakan Pola Ruang)

NO Kategori ZONASI RTRW ZONASI

TNGHS

Luas (ha)

A SESUAI 26.169,6

B TIDAK

SESUAI Hutan Lindung Zona RimbaRehabilitasi 386,8171,9 558,7

Enclave Zona Rimba 59,2

Khusus 618,8

Rehabilitasi 1,0

Enclave 107,3 786,3

Hutan Produksi Zona Rimba 27,6

Rehabilitasi 21,9 49,5 Hutan Produksi Terbatas Zona Rimba 1.017,6 Rehabilitasi 272,5 1.292,1 Permukiman Perdesaan Rehabilitasi 18,6 18,6

Peruntukan Perkebunan Khusus 24,2

Rehabilitasi 91,7 115,9 Peruntukan Pertanian Lahan Basah Khusus 6,3 Rehabilitasi 145,4 151,7 Peruntukan Pertanian Lahan Kering Rehabilitasi 50,9

3.023,7

TNGHS dengan Zona Kawasan Budidaya Hutan Produksi Terbatas pada zona tata ruang wilayah Kabupaten Sukabumi, yaitu seluas 1.017,6 ha.

Zonasi Kawasan TNGHS pada kategori tidak sesuai zona tataruang wilayah Kabupaten Lebak selengkapnya disajikan pada Tabel 28.

Tabel 28. Rincian Zonasi Kawasan TNGHS pada Kategori Tidak Sesuai Zona Tataruang Wilayah Kabupaten Lebak Berdasarkan Aspek Legal (Kebijakan Pola Ruang)

NO Kategori ZONASI RTRW ZONASI TNGHS Luas (ha)

A SESUAI 2.503,6

B TIDAK SESUAI

Daerah Resapan Air Zona Inti 251,0

Zona Rimba 1.835,1 Khusus 4.341,3 Rehabilitasi 3.567,9 Budaya 1,9 Enclave 3.334,4 13.331,6

Hutan Lindung Zona Inti 7.998,1

Zona Rimba 8.648,7 Khusus 4.339,4 Rehabilitasi 5.015,4 Budaya 0,3 Enclave 247,5 26.249,4

Kawasan Tambang Zona Rimba 727,0

Khusus 1.641,2

Rehabilitasi 4.069,5

Enclave 8,1

6.445,8

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 33-43)

Dokumen terkait