KECAMATAN PULAU KECAMATAN PULAU
5.12 Analisis Stability
Hasil analisis stability terhadap data input (effort), nilai biomass sumberdaya perikanan dan luasan mangrove dapat dilihat pada Gambar 45, 46 dan 47. Sedangkan hasil perhitungan analisis stability dapat dilihat pada Lampiran 13.
-0.40 -0.35 -0.30 -0.25 -0.20 -0.15 -0.10 -0.05 0.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 t Xt
Gambar 45. Analisis stability data effort
Gambar 45 memperlihatkan bahwa kurva dari data input (effort) membentuk pola convergen, hal ini menunjukkan bahwa data effort bersifat stabil. Hal yang sama juga terjadi pada data biomass seperti terlihat pada Gambar 46. -0.16 -0.14 -0.12 -0.10 -0.08 -0.06 -0.04 -0.02 0.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 t Xt
-6.00 -4.00 -2.00 0.00 2.00 4.00 6.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 t Xt
Gambar 47. Analisis stability data mangrove
Hal yang berbeda ditunjukkan oleh data luasan mangrove, dari hasil analisis stability menunjukkan pola yang berbentuk exploiding oscillation. Hal ini menunjukkan bahwa data mangrove bersifat tidak stabil. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 47.
5.13 Aspek Kesejahteraan
Dengan menggunakan parameter biofisik dan ekonomi maka diperoleh nilai surplus produsen untuk setiap tahun. Selanjutnya dengan memasukkan nilai rente sumberdaya ikan maka akan didapatkan nilai total benefit. Hasil perhitungan nilai surplus produsen, rente sumberdaya ikan dan total benefit disajikan pada Tabel 23. Hasil perhitungan surplus produsen dapat dilihat pada Lampiran 14.
Tabel 23. Nilai surplus produsen, rente sumberdaya ikan dan total benefit
Tahun Surplus Produsen
(Rp Juta) Rente SD Ikan (Rp Juta) Total Benefit (Rp Juta) 1985 11 766.98 1 450.72 13 217.70 1986 10 324.82 1 441.85 11 766.67 1987 12 385.86 1 863.21 14 249.07 1988 11 798.93 1 914.63 13 713.56 1989 11 274.69 2 046.61 13 321.31 1990 10 847.29 2 160.85 13 008.13 1991 13 935.65 2 424.58 16 360.23 1992 12 214.71 2 494.39 14 709.10 1993 14 704.83 2 989.31 17 694.14 1994 12 797.99 3 096.00 15 893.99 1995 18 474.14 4 047.19 22 521.32 1996 20 568.82 4 483.87 25 052.69 1997 17 863.93 4 678.64 22 542.57 1998 34 175.21 8 738.35 42 913.56 1999 64 788.40 14 282.05 79 070.45 2000 58 023.03 13 796.34 71 819.37 2001 69 983.73 17 568.56 87 552.29 2002 59 293.42 19 629.35 78 922.77 Rata-rata 25 845.69 6 061.47 31 907.16
Tabel 24 memperlihatkan nilai total benefit yang mengindikasikan secara keseluruhan dampak kesejahteraan dari sumberdaya ikan di Kabupaten Bengkalis. Nilai total benefit sumberdaya perikanan berkisar dari Rpl 11.77-87.55 milyar dan nilai rata-rata sebesar Rpl31.9 milyar/tahun. Untuk lebih jelasnya nilai surplus produsen, rente sumberdaya ikan dan total benefit dapat dilihat pada Gambar 48.
0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 90,000 100,000 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Tahun N ila i ( R p J u ta )
Surplus Produsen Rente SD Ikan Total Benefit
Gambar 48. Nilai surplus produsen, rente sumberdaya ikan dan total benefit Surplus produsen pada dasarnya adalah surplus yang diperoleh produsen yang merupakan selisih antara harga yang diterima oleh produsen dengan biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi output. Besaran dari surplus produsen akan sangat tergantung pada perubahan harga dan biaya.
6.1 Kesimpulan
Meski saat ini tingkat ekstraksi sumberdaya ikan masih di bawah level optimal, namun terdapat kecenderungan menuju ke arah eksplotasi yang berlebih. Belajar dari kesalahan pengelolaan sumberdaya di Easter Island, kondisi ini perlu mendapat perhatian serius, untuk mencegah dan mengurangi laju degradasi dan depresiasi sumberdaya tersebut.
Hubungan antara effort dan biomass sepanjang waktu menghasilkan trajektori yang membentuk pola dump occilation. Pada awal periode, ketika tingkat effort masih rendah level biomass relatif tinggi. Ketika kemudian
effort mengalami peningkatan biomass mengalami penurunan sampai
kemudian mencapai steady state pada t > 90. Dari analisis phase plane
antara effort dan biomass memiliki keseimbangan stable focus, keseimbangan sistem akan dicapai melalui penyesuaian antara effort dan biomass. Peningkatan biomass hanya bisa dicapai jika effort dikurangi, apabila tingkat effort yang ada melebihi kapasitas optimum akan mengakibatkan keseimbangan dicapai dalam kurun waktu yang relatif lama. Dilihat dari perspektif model CD-TRAM, pengelolaan sumberdaya ikan bisa
mengikuti trajektori konvensional yakni untuk rezim pengelolaan memperlihatkan bahwa biomass tertinggi terdapat pada kondisi maximum
economic yield (MEY), dan terendah pada kondisi open acces. Kondisi
MEY menghasilkan input (effort) yang jauh lebih kecil dari solusi open
acces serta maximum sustainable yield (MSY). Solusi MEY juga
menghasilkan rente ekonomi yang paling tinggi dibandingkan dua rezim pengelolaan yang lain.
Model CD-TRAM menunjukkan bahwa ekosistem mangrove memiliki
kontribusi sebesar 44.18% terhadap produksi sumberdaya perikanan di Kabupaten Bengkalis, meski relatif kecil, kontribusi ini cukup signifikan dilihat dari kendala sumberdaya pulau-pulau kecil.
Kondisi pulau-pulau kecil yang memiliki kendala yang berbeda menghasilkan pola stabilitas yang berbeda untuk upaya dan mangrove. Dari analisis stability kurva effort dan biomass membentuk pola convergen, hal ini menunjukkan bahwa data effort bersifat stabil. Hal yang berbeda ditunjukkan oleh data luasan mangrove, menunjukkan pola yang berbentuk
exploiding oscillation menunjukkan bahwa data bersifat tidak stabil.
Nilai total benefit yang mengindikasikan secara keseluruhan dampak kesejahteraan dari sumberdaya ikan, diperoleh nilai rata-rata total benefitnya sebesar Rp 31.9 milyar/tahun.
Untuk pengelolaan sumberdaya perikanan di Kabupaten Bengkalis, beberapa upaya pengelolaan input dapat dijadikan alternatif pengelolaan, seperti penggunaan alat tangkap yang lebih selektif dan ramah lingkungan, pengaturan waktu penangkapan, ukuran ikan yang boleh ditangkap serta pengelolaan terhadap kawasan mangrove.
6.2 Saran
Mengingat kendala pulau-pulau kecil yang relatif banyak dan kompleks perlu dikaji lebih dalam kendala-kendala tersebut seperti isolation, smallness
dan vulnerability ke dalam model
Untuk mencegah terjadinya “Sindrom Easter Island” maka hasil kajian pengelolaan sumberdaya ikan yang optimal dalam studi ini perlu diimplementasikan melalui penyesuaian-penyesuaian kondisi sosial, ekonomi dan institusi yang fleksibel.
Untuk mendapatkan model integrasi antara ekosistem mangrove dan
sumberdaya perikanan yang lebih baik di masa yang akan datang diperlukan data produktivitas dari ekosistem mangrove. Hal ini penting mengingat luasan suatu kawasan mangrove memiliki tingkat produktivitas yang berbeda-beda.
Untuk mendapatkan model yang lebih baik, perlu penelitian lebih lanjut dalam pengembangan model di masa mendatang, kajian terhadap interaksi sumberdaya perikanan dengan ekosistem-ekosistem pesisir yang lain tentunya akan lebih menambah kesempurnaan model penelitian ini.
Alikodra HS. 1999. Kebijakan pengelolaan hutan mangrove dilihat dari lingkungan hidup. Prosiding Seminar Mangrove VI Ekosistem Mangrove; Pekanbaru; 15-18 September 1999. Panitia Program MAB Indonesia-LIPI. hlm 33-43.
Amman HM, Duraiappah AK. 2001. Land tenure and conflict resolution: a game theoretic approach in the Narok District in Kenya. Working Paper No. 37. International Institut for Environ. and Develop. London and Institut for Environ. Studies Amsterdam.
Anna S. 2003. Model embedded dinamik ekonomi interaksi perikanan-pencemaran [disertasi]. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Program Pasca Sarjana.
Anderson K, Ursin E. 1976. A multispecies extension to the Beverton and Holt theory of fishing, with account of phosphorous circulation and primary production. The Danish Institute of Fisheries and Marine Research. Arenas DA, Huertas JB. 1986. Hydrology and water balance of small islands :
a review of existing knowledge. Technical Documents in Hydrology. UNESCO. Paris.
[BAKOSURTANAL] Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional. 2001. Peta liputan lahan Kabupaten Bengkalis.
Bengen DG. 2001a. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut. Bogor. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB.
Bengen DG. 2001b. Pedoman Teknis Pengenalan Dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Bogor. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB. [BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Bengkalis. 2003. Bengkalis dalam
Angka 2003.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 1986. Indeks Harga Konsumen di Ibukota Propinsi Indonesia 1985-1986. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 1988. Indeks Harga Konsumen di Ibukota Propinsi Indonesia 1987-1988. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 1990. Indeks Harga Konsumen di Ibukota Propinsi Indonesia 1989-1990. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 1991. Indeks Harga Konsumen di Ibukota Propinsi Indonesia. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 1992. Indeks Harga Konsumen di Ibukota Propinsi Indonesia. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 1993. Indeks Harga Konsumen di Ibukota Propinsi Indonesia. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 1994. Indeks Harga Konsumen di Ibukota Propinsi Indonesia. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 1995. Indeks Harga Konsumen di Ibukota Propinsi Indonesia 1995. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 1996. Indeks Harga Konsumen di Ibukota Propinsi di Indonesia. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 1997. Indeks Harga Konsumen di Ibukota Propinsi Indonesia. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 1998. Indeks Harga Konsumen di Ibukota Propinsi Indonesia. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 1999. Indeks Harga Konsumen 44 Kota di Indonesia. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 2000. Indeks Harga Konsumen di 43 Kota di Indonesia. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 2001. Indeks Harga Konsumen di 43 Kota di Indonesia. Jakarta.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 2002. Indeks Harga Konsumen di 43 Kota di Indonesia. Jakarta.
[BPPT] Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 1995. Pengembangan Prototipe Wilayah Pesisir dan Marin: Laporan Akhir Pelaksanaan Proyek MREP Jawa Timur dan Lombok Tahun 1994/1995. Jakarta. Brander JA, Taylor MS. 1998. The simple economics of Easter Island: a
Ricardo-Malthus model of renewable resource use. American Econ. Rev. 88(1):119-138.
Briguglio L. 1995. Small island states and their economic vulnerabilities. World Develop. 23:1615-1632.
Brown B, Brennan J, Grosslein M,. Heyersdahl E, Hennemuth R. 1976. The effect of fishing on the marine finfish biomass in the Northwest Atlantic from the Gulf of Maine to Cope Hatteras. Int. Comm. Northwest. Atl Fish. Res. Bul. 12:49-68.
Buchary EA. 1999. Evaluating the effect of the 1980 trawl ban in the java sea, Indonesia: an Ecosystem-based approach [thesis]. Vancouver. University of British Columbia.
Casagrandi R, Rinaldi S. 2002. A theoretical approach to tourism sustainability. Austria. IASA Report IR-02-051.
Cassel RM. 1993. Tropical rainforest: subsistence values compared with logging royalties. Di dalam: Walsh AC, editor; Development That Works! Lesson from Asia-Pasific. North Parlmerston. Massey Univ. Develop. Studies Monograph. 3:C3.1-3.6.
Chansang H. 1979. Correlation between commercial shrimp yields and mangroves. Proceedings of The Third National Seminar on Mangrove Ecol. (2):744-753.
Chiang AC. 1992. Elements of Dynamic Optimization. New York. McGraw-Hill.
Clark CW. 1985. Bioeconomics Modelling and Fisheries Management. New York. J Wiley.
Clark CW. 1990. Mathematical Bioeconomic The Optimal Management of Renewable Resources. New York. J Wiley.
Clark C, Munro G. 1975. The economics of fishing and modern capital theory: a simplified approach.J. Environ. Econ. Man. 2:92-106.
Clarke RP, Yoshimoto SS, Pooley SG. 1992. A bioeconomic analysis of the North–Western Hawaiian Island lobster fishery. Mar. Res. Econ. 7(2):115-140.
Conrad JM, Clark CW. 1987. Natural Resource Economics, Notes and Problem. New York. Cambridge University Press.
Copes P. 1972. Factor rents, sole-ownership and the optimum level of fisheries exploitation. Manchester School Econ. Soc. Studies 40(2):145-163.
Cuningham S, Dunn MR, Whitmarsh D. 1985. Fisheries Economics, an Introduction. London. Mansell Publishing.
Dahuri R. 1998. Pendekatan ekonomi-ekologis pembangunan pulau-pulau kecil berkelanjutan. Di dalam: Seminar dan Lokakarya Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil di Indonesia. Kerjasama Depdagri dengan BPPT dan CRMP USAID. Jakarta. 7-10 Desember 1998.
Dahuri R, Rais J, Ginting SP, Sitepu MJ. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta. Pradnya Paramitha. Darsidi A, Liang DH. 1986. Jalur hijau hutan mangrove dalam konteks tata guna
hutan pantai. Di dalam: Diskusi Panel Daya Guna dan Batas Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove; Ciloto; 27 Februari-1 Maret 1986. Panitia Program MAB Indonesia-LIPI. hlm 79-83.
[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2000. SK Menteri Kelautan dan Perikanan No. 41 Tahun 2000. Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil yang Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Jakarta. Dinas Kependudukan dan Tenaga Kerja Kabupaten Bengkalis. 2004. Media
Informasi Data Elektronik Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bengkalis. 2002. Potensi Sumberdaya
Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bengkalis.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1986. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1985.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1987. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1986.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1988. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1987.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1989. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1988.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1990. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1989.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1991. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1990.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1992. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1991.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1993. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1992.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1994. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1993.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1995. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1994.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1996. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1995.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1997. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1996.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1998. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1997.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 1999. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1998.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 2000. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 1999.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 2001. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 2000.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 2002. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 2001.
Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Riau. 2003. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tingkat Propinsi Tahun 2002.
Djajadiningrat S. 1997. Pengantar Ekonomi Lingkungan. Jakarta. Pustaka LP3ES.
Eriyatno. 1999. Ilmu Sistem: Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen. Bogor. IPB Press.
[FAO] Food and Agricultural Organization. 1997. Technical Guidelines for Responsible Fisheries. Roma. Aquaculture Development.
Fauzi A. 1998. The management of competing multi species fisheries: a case of a small pelagic fishery on the north coast of Central Java [thesis]. Vancouver, Canada. Simon Fraser University. Departement of Economics.
Fauzi A. 2001. An overview of economic valuation techniques: a highlight on information needed for their application in developing countries. Di dalam: Feoli E, Nauen CE, editors. Proceedings of the INCO-DEV International Workshop on Information Systems for Policy and Technical Support in Fisheries and Aquaculture; Los Banos, Philippine; 5-7 June 2000; ACP-EU Fisheries Research Report No. 8. Brussels, Belgium.
Fauzi A. 2002a. Lecture Note Analisis Sistem Dinamik. Bogor. Program Pascasarjana IPB. Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan.
Fauzi A. 2002b. Valuasi ekonomi sumberdaya pulau-pulau kecil. Di dalam: Seminar Sehari Peluang Investasi Pulau-Pulau Kecil di Indonesia; Jakarta; 10 Oktober 2002.
Fauzi A. 2004. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan: Teori dan Aplikasi. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.
Fauzi A. 2005. Overfishing: apa dan mengapa. Di dalam: Fauzi A, editor. Kebijakan Perikanan dan Kelautan, Isu Sintesis dan Gagasan. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Hlm 28-33.
Fauzi A, Anna S. 2005. Pemodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.
Graham M. 1935. Modern theory of exploiting a fishery and application to the North Sea trawling. J.Cons. Int. Explor. Mer. 10:264-274.
Grant WE, Pedersen EK, Martin SL. 1997. Ecology and Natural Resource Management : System Analysis and Simulation. New York. J. Wiley. Hall CAS, Day JR JW. 1977. Systems and models: terms and basic principles.
Di dalam: Hall CAS, Day JR JW, editors. Ecosystem Modelling in Theory and Practice: An Introduction with Case Histories. New York. J Wiley. hlm 6-36.
Hanesson R. 1987. The effect of discount rate on the optimal exploitation of renewable resources. Mar. Res. Econ. 3:319-329.
Hardjowigeno S, Widiatmaka. 2001. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tataguna Tanah. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Pertanian. Hardin G. 1968. The tragedy of the commons. Science 162:1243-1248.
Hartwick J. 1990. Natural resources, national accounting, and economic depreciation. J. Public Econ. 43:291-304.
Hess AL. 1990. Overview: sustainable development and environmental management of small island. Di dalam: Beller W, d’Ayala P, Hein P, editors. Sustainable Development and Environmental Management of Small Islands. Paris. UNESCO. hlm 3-14.
Hilborn R, Walters CJ. 1992. Quatitative Fisheries Stock Assessment. Choice, Dynamics and Uncertainty. London. Chapman & Hall Inc.
Holling CS. 1973. Resilience and stability of ecological system. Ann. Rev. Ecol. Syst. 4:1-23.
Ilyas. 1987. Petunjuk teknis bagi pengoperasian usaha pembesaran udang windu. Seri Pengembangan Hasil Penelitian Perikanan. Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Imran N, Bengen DG, Nikijuluw VP. 2002. Sistem pengelolaan ekosistem mangrove di wilayah pesisir dan kepulauan. Di dalam: Konferensi Nasional III Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia; Bali; 21-24 Mei 2002.
Jaya INS. 2002. Aplikasi Sistem Informasi Geografis Untuk Kehutanan: Penuntun Praktis Menggunakan Arc Info dan Arc View. Bogor. IPB Press.
Jorgensen SE. 1988. Fundamentals of Ecological Modelling. Amsterdam. Elsevier Science.
Kapetsky JM. 1982. Mangrove, fisheries and aquaculture. Report on the Session of the Advisory Committee on Marine Resources Research. FAO Fish. Rep. 338:suppl. 18 p.
Kawaroe M, Bengen DG, Eidman M, Boer M. 2001. Kontribusi ekosistem mangrove terhadap struktur komunitas ikan di pantai utara Kabupaten Subang Jawa Barat. J. Pesisir dan Lautan 3:12-25.
Kay R, Alder J. 1999. Coastal Planning and Management. London. E & FN SPON An Imprint of Routledge.
Keputusan Presiden RI No. 32 Tahun 1990. Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
Khairuddin T. 2003. Telaah dinamika dan seleksi kawasan konservasi mangrove di Kabupaten Bengkalis [thesis]. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Program Pasca Sarjana.
Khazali M. 2002. Kajian partisipasi masyarakat dalam pengelolaan mangrove (studi kasus di Desa Karangson, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Propinsi Jawa Barat. Jurnal PKSPL-IPB 4(3):29-42.
King M. 1995. Fisheries Biology, Assessment and Management. Great Britain. Fishing News Book.
Koesoebiono. 1996. Ekologi Wilayah Pesisir. Pelatihan Perencanaan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu. Kerjasama PPLH-IPB dengan Dirjen Bangda Depdagri dan Asian Development Bank.
[KSP-UIR] Kelompok Studi Perairan Universitas Islam Riau. 2001. Kajian Penataan Kawasan Perlindungan Ikan (Fish Sanctuary) di Pulau Bengkalis Propinsi Riau. Kerjasama dengan Co-Fish Project Bengkalis Riau.
Kula E. 1984. Derivation of social time preference rates for the United States and Canada. Quaterly J. Econ. 99:873-882.
Maanema M. 2003. Model pemanfaatan pulau-pulau kecil (studi kasus di gugus Pulau PariKepulauan Seribu [disertasi]. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Program Pasca Sarjana.
Manetsch TJ, Park GL. 1977. System Analysis and Simulatioon with Aplication to Economic and Social Systems. USA. Michigan Univ.
Marimin. 2002. Teori dan Aplikasi Sistem Pakar Dalam Teknologi Manajerial. Bogor. Kerjasama IPB Press dan Program Pascasarjana IPB.
Martosubroto P, Naamin N. 1977. Relationships between tidal forest (mangroves) and commercial shrimp production in Indonesia. Marine Research in Indonesia (18):81-86.
May R, Beddington J, Clark C, Holt S, Laws R. 1979. Management of multispecies fisheries. Science 205:267-277.
Muhammadi, Amirullah E, Soesilo B. 2001. Analisis Sistem Dinamis Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen. Jakarta. UMJ Press. Naamin N. 1990. Penggunaan lahan mangrove untuk budidaya tambak:
keuntungan dan kerugiannya. Prosiding Seminar IV Ekosistem Mangrove; Bandar Lampung; 7–9 Agustus 1990. Panitia Nasional Program MAB-LIPI.
Newell R, Pizer W. 2001. Discounting the distant future: how much do uncertain rates increase valuation? Resources for the future. Washington D.C.
Odum HT. 1992. Ekologi Sistem: Suatu Pengantar. Supriharyono, Praseno K, Murwani R, penerjemah. Yogjakarta. Gadjah Mada University Press. Ongkosono OSR. 1998. Permasalahan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil. Di
dalam: Seminar dan Lokakarya Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil di Indonesia; Jakarta; 7-10 Desember 1998. Kerjasama Depdagri dengan BPPT dan CRMP USAID.
Panayatou T. 1985. Small-scale Fisheries in Asia: A Socio-Economic Analysis and Policy. Ottawa, Canada. DRC.
Pattanayak SK, Kramer RA. 1999. Worth of watersheds: a producer surplus approach for valuing drought mitigation in Eastern Indonesia. North Carolina, USA. Center for Economics Research, Research Triangle Institut, Research Triangle Park.
Pauly D. 1979. Theory and Management of Tropical Multispecies Stocks. A Review with Emphasis on the Southeast Asia Demersal Fishery. ICLARM Study Review I .
Paw JN, Chua TE. 1989. An assessment of the ecological and economis impact of mangrove conversion in Southeast Asia. Marine Pollution Bull. 20(7): 335-343.
[PKSPL-IPB] Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor. 2000. Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Daratan Propinsi Riau. Pekanbaru. Kerjasama dengan BAPPEDA Propinsi Riau.
[PKSPL-IPB] Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor. 2001. Kebijakan Pelestarian Ekosistem Mangrove sebagai Jalur Hijau Pantai (Green Belt) dalam Konteks Era Otonomi Daerah. Jakarta. Kerjasama dengan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Platt SR. 1968. Strong inference. Science 146:347-353.
Poernomo A. 1988. Pembuatan Tambak Udang di Indonesia. Maros. Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai.
Poerwowidagdo SJ. 2001. Dasar Logika. Surabaya. Hang Tuah University Press.
Pope J. 1979. Stock Assessment in Multispecies Fisheries with Special Reference to Trawl Fishery in the Gulf of Thailand. South China Sea Fish. Dev. Coop Programme. SCS/DEV/79/19.
Prahasta E. 2001. Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Bandung. Informatika.
Reksosudarmo B. 1995. The contruction of a bioeconomic model of Indonesia flying fishery. Mar. Res. Econ. 10:357-372.
Retraubun ASW. 2003. Prospek pengembangan pulau-pulau kecil. Di dalam: Semiloka Penentuan Defenisi dan Pendataan Pulau di Indonesia. Jakarta; 26 Mei 2003.
Ruitenbeek HJ. 1992. Mangrove Management: an Economic Analysis of Management Options with a Focus on Bintuni Bay, Irian Jaya. Jakarta and Halifax; Environmental Management Development in Indonesia Project (EMDI) Environ. Reports 8.
Salm RV, Clark JR. 2000. Marine and Coastal Protected Areas: A Guide For Planners and Managers. Gland, Switzerland. Inter. Union for Conser. of Nature and Natural Res.
Saralisa Konsultan. 2002. Analisis dampak lingkungan: reklamasi Pantai Andam Dewi dan pembangunan pelabuhan penumpang Bengkalis [laporan akhir]. Kerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum Pemukiman dan Prasarana Wilayah Kabupaten Bengkalis.
Schaefer M. 1954. Some aspects of dynamics of population important to the management of commercial marine fisheries. Bull. Inter-Am. Trop. Tuna. Comm. 1:27-56.
Sekretariat Negara. 1990. Keputusan Presiden No. 32 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
Smith SJ. 1993. Risk evaluation and biological reference point for fisheries management: a review. Di dalam: Kruse G, Raggers DM, Marasco RJ, Pautzke C, Quinn TJ, editors. Management Strategies for Exploited Fish Population. Alaska Sea Grant, Anchorage. hlm. 339-353.
Soemarno. 1986. Peranan jalur hijau mangrove terhadap pelestarian sumberdaya perikanan. Di dalam: Diskusi Panel Daya Guna dan Batas Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove; Ciloto; 27 Februari-1 Maret 1986. Panitia Program MAB Indonesia-LIPI.
Stark A. 1971. A computer programme to estimate fishing power by the method of fitting constants. J. du Conseil Inter. et Explor. du Mer. 33:478-482. Sugandhy A. 1998. Pendekatan ekosistem dalam perencanaan dan pengelolaan
daerah pesisir dan pantai. Di dalam: Seminar Teknik Pantai Tema “Masalah Pantai di Indonesia dan Usaha-usaha Penanganan