DAFTAR TABEL
II. METODOLOGI PENELITIAN
2.5 Analisis Statistik
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Parameter yang dievaluasi dengan analisis statistik ialah konsumsi pakan, laju pertumbuhan spesifik, konversi pakan, retensi protein, retensi lemak, dan survival rate (SR). Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap setiap parameter yang diuji maka digunakan analisis sidik ragam/uji F dan uji lanjutan menggunakan uji Duncan. Analisis statistik
6 keseluruhan data menggunakan program komputer S.A.S (S.A.S Institute, 2004). pada tingkat kepercayaan 95%. Parameter yang diuji adalah :
Jumlah Konsumsi Pakan
Jumlah konsumsi pakan (JKP) ikan uji diketahui dengan cara menimbang jumlah pakan yang dimakan oleh ikan uji selama penelitian.
Pertumbuhan
Spesific growth rate (SGR) atau laju pertumbuhan spesifik dihitung berdasarkan pada Steffens (1989).
Keterangan : SGR = Spesific growth rate (%)
Wt = Rata-rata bobot individu pada waktu t percobaan (g) W0 = Rata-rata bobot individu pada waktu awal percobaan (g) t = Lama waktu penelitian (hari)
Konversi Pakan (KP)
Rasio konversi pakan dihitung berdasarkan persamaan Steffens (1989).
Keterangan : Wt = Bobot total ikan pada akhir pemeliharaan (gram) W0 = Bobot total ikan pada awal pemeliharaan(gram)
Wd = Bobot total ikan yang mati selama pemeliharaan (gram) F = Jumlah pakan yang diberikan (gram)
Survival Rate (SR)
Survival rate (SR) atau tingkat kelangsungan hidup dihitung berdasarkan persamaan Steffens (1989): SGR = ln Wt– ln W0 x 100% t KP (%) = F x 100% [(Wt + Wd) – W0 SR = Nt x 100% No
Keterangan: SR = Kelangsungan hidup ikan
Nt = Jumlah individu ikan uji pada t percobaan (ekor) No = Jumlah individu ikan uji pada awal percobaan (ekor)
Retensi Protein
Retensi protein dihitung berdasarkan pada persamaan Takeuchi (1988):
Keterangan : RP = Retensi protein (%)
Pt = Bobot protein tubuh pada waktu t (g) P0 = Bobot protein tubuh awal (g)
Pp = Bobot protein pakan (g)
Retensi Lemak
Retensi lemak dihitung berdasarkan pada persamaan Takeuchi (1988), yaitu:
Keterangan : RL = Retensi lemak (%)
Lt = Bobot lemak tubuh pada waktu t (g) L0 = Bobot lemak tubuh awal (g)
Lp = Bobot lemak pakan (g)
RP (%) = (Pt - P0) x 100% Pp
RP (%) = (Lt - L0) x 100% Lp
8
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Selama penelitian, ikan uji menunjukkan peningkatan bobot untuk semua perlakuan. Pada Gambar 1 berikut ini menyajikan pertumbuhan mutlak rata-rata ikan, sedangkan biomassa setiap perlakuan disajikan pada Lampiran 5.
Gambar 1 Pertumbuhan mutlak rata-rata ikan patin yang diberi pakan perlakuan TKU dengan dosis 0% (A), 15% (B), 30% (C), 45% (D), dan 60% (E). Pada akhir penelitian terlihat bahwa ikan uji pada semua perlakuan mengalami peningkatan bobot. Peningkatan bobot rata-rata yang diberikan pakan perlakuan memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap pakan kontrol (P>0,05).
Pada Tabel 3 berikut ini menunjukkan hasil perhitungan terhadap jumlah konsumsi pakan (JKP), konversi pakan (KP), spesific growth rate (SGR), tingkat kelangsungan hidup (SR), nilai retensi protein (RP), dan nilai retensi lemak (RL).
15.2 14.2 17.3 14.8 12.3 0.0 8.0 16.0 24.0 A B C D E Perlakuan P e r tu mb u h an mu tl ak r ata -r ata i k an (gr am)
Tabel 3 Jumlah konsumsi pakan (JKP), konversi pakan (KP), spesific growth rate (SGR), tingkat kelangsungan hidup (SR), nilai retensi protein (RP), dan nilai retensi lemak (RL) ikan patin yang diberi pakan perlakuan TKU dengan dosis 0%, 15%, 30%, 45%, dan 60%
Parameter Perlakuan/kadar TKU dalam tepung ikan (%)
A(0) B (15) C (30) D (45) E (60) JKP/ikan (g) 12,66 ± 0,27a 12,08 ± 0,20a 12,60 ± 0,18a 11,98 ± 0,53a 11,86 ± 0,64a KP 1,44 ± 0,13 ab 1,64 ± 0,15 a 1,38 ± 0,03 ab 1,67 ± 0,13 a 1,76 ± 0,37 a SGR (%) 1,92 ± 0,13ab 1,73 ± 0,19ab 1,96 ± 0,08a 1,68 ± 0,35ab 1,62 ± 0,39b SR (%) 100 ± 0,00 a 96,67 ± 5,77 a 100 ± 0,00 a 98,33 ± 2,89 a 100 ± 0,00 a RP (%) 48,74 ± 5,10 a 49,69 ± 2,12 a 55,74 ± 0,32 a 50,81 ± 4,54 a 47,27 ± 6,74 a RL (%) 60,23 ± 3,06 b 60,38 ± 2,49b 70,54 ± 2,09 a 64,12 ± 3,17 ab 63,19 ±5,86 b
Keterangan : huruf superscript yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak
berbeda nyata (P>0,05).
Pakan dengan berbagai kadar komposisi TKU memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan spesifik dan retensi lemak (P<0,05) tetapi tidak memberikan pengaruh terhadap jumlah konsumsi pakan, konversi pakan, retensi protein dan kelangsungan hidup (P>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa nilai jumlah konsumsi pakan, konversi pakan, kelangsungan hidup, dan retensi protein perlakuan (dengan pergantian TKU) memberikan hasil yang sama baik terhadap pakan kontrol (tanpa pergantian TKU). Sedangkan retensi lemak dan laju pertumbuhan pada semua perlakuan menunjukkan perbedaan dengan pakan kontrol.
3.2 Pembahasan
Peningkatan bobot pada semua perlakuan menunjukkan bahwa seluruh ikan uji mengalami pertumbuhan selama penelitian sebagai akibat adanya alokasi energi yang berasal dari pakan untuk pertumbuhan setelah energi untuk pemeliharaan tubuh (maintenance) terpenuhi. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Lovell (1988) dalam Halver dan Hardy (2002) bahwa kebutuhan energi untuk maintenance harus terpenuhi dahulu sebelum terjadinya pertumbuhan.
Laju pertumbuhan tertinggi terdapat pada pakan dengan penambahan dosis TKU sebesar 30%. Laju pertumbuhan cenderung menurun pada perlakuan dengan dosis TKU lebih dari 30%. Dari hasil riset penggunaan tepung kepala udang pada beberapa komoditas ikan antara lain menurut Laining et al. (2003)
10 mengemukakan bahwa peningkatan kadar tepung kepala udang pada pakan sebesar 40% akan menyebabkan terjadinya penurunan nilai kecernaan protein pakan, jumlah pertambahan bobot, dan laju pertumbuhan ikan kerapu bebek Cromileptes altivelis dari 85,2%; 101,5%; dan 1,17% menjadi 81,2%; 27,8%; dan 0,51%. Sedangkan menurut Jatomea et al. (2002) melaporkan bahwa penambahan tepung kepala udang sebesar 15% dalam pakan dapat meningkatkan pertumbuhan ikan nila Oreochromis niloticus L. Hasil riset lain dari Ceballos et al. (2009) menyatakan bahwa penambahan tepung kepala udang sampai dosis 25% masih memberikan hasil yang signifikan terhadap pertumbuhan Litopenaeus schmitti.
Penurunan laju pertumbuhan ini diduga karena kandungan serat kasar yang semakin meningkat sejalan dengan penambahan dosis TKU pada pakan. Berdasarkan Tabel 2, kadar serat kasar dalam pakan berkisar 11-20%. Menurut SNI (2009) bahwa syarat mutu pakan ikan patin mengandung kadar serat kasar maksimum sebesar 8%. Sedangkan menurut menurut Afrianto dan Liviawaty (2005) menyatakan bahwa kandungan serat kasar dalam pakan dianjurkan tidak lebih dari 21%. Besarnya serat kasar melebihi kadar maksimum akan menyebabkan penurunan laju pertumbuhan harian ikan. Hal ini ditambahkan oleh Indriyanti (2011) menyatakan bahwa serat kasar yang tinggi akan memberikan rasa kenyang karena komposisi karbohidrat kompleks yang menghentikan nafsu makan sehingga mengakibatkan turunnya konsumsi makanan. Selain itu, serat kasar yang tinggi menyebabkan porsi eksreta lebih besar sehingga penyerapan protein yang dapat dicerna semakin berkurang. Dengan menurunnya konsumsi pakan dan penyerapan protein mengakibatkan penurunan laju pertumbuhan ikan.
Tingginya kandungan serat kasar dalam pakan berasal dari kitin yang terkandung dalam kepala udang. Shiau dan Yu (1999) dalam Jatomea et al. (2002) menjelaskan bahwa kitin mempunyai dampak yang kurang baik terhadap pertumbuhan dan rasio konversi pakan pada ikan nila. Heriarti et. al. (2000) dalam Yulianingsih dan Yohanes (2007) melaporkan bahwa pada ikan gurame (Osphronemus goramy Lac.) peningkatan kandungan kitin 16% dalam pakan menyebabkan penurunan laju konsumsi pakan dan konversi pakan.
Kitin merupakan biopolimer yang tersusun atas ikatan kitin dan mineral terutama kalsium, yang berikatan erat dalam bentuk ikatan kitin protein kalsium
karbonat merupakan kendala dalam pemanfaatan tepung kepala udang ini. Kandungan protein yang terikat dalam kitin tersebut bisa mencapai 50-95% dan kalsium karbonatnya sampai 15-30% (Foster dan Webber 1960). Adanya ikatan kitin protein kalsium karbonat yang kuat diduga akan menurunkan daya cerna protein limbah udang ini, sehingga pemanfaatannya belum optimal dibanding dengan potensi nilai gizinya. Hetramf dan Piedad-Pscual (2000) melaporkan bahwa kadar kitin dalam tepung kepala udang berbeda-beda tergantung cara pengolahannya. Tepung kepala udang yang mengalami perebusan terlebih dahulu mengandung kitin mencapai 17,6%.
Keefisienan penggunaan pakan menunjukkan nilai pakan yang dapat diubah menjadi pertambahan pada berat badan ikan. Efisiensi pakan dapat dilihat dari beberapa faktor dimana salah satunya adalah rasio konversi pakan. Rasio konversi pakan merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan berat badan yang dihasilkan. NRC (1993) menjelaskan bahwa besar kecilnya rasio konversi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor tetapi yang terpenting adalah kualitas dan kuantitas pakan, spesies, ukuran dan kualitas air. Besar kecilnya rasio konversi pakan menentukan efektivitas pakan tersebut. Nilai konversi pakan yang sama pada semua perlakuan dan kontrol menunjukkan bahwa pakan mempunyai kualitas yang sama baik untuk pertumbuhan ikan patin. Jumlah konsumsi yang sama dengan panambahan bobot yang sama akan memberikan nilai efisiensi pakan atau nilai konversi pakan yang sama pula. Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa penambahan TKU dan tanpa penambahan TKU dalam pakan tidak memberikan pengaruh terhadap nilai konversi pakan yaitu berkisar 1,44-1,76. Menurut Azwar et al. (2010) menyatakan bahwa ikan patin yang diberi pakan dengan kadar protein 30% sebanyak 3%/hari menunjukkan nilai konversi pakan sebesar 1,93-2,67. Ditambahkan oleh Jatomea et al. (2002) melaporkan bahwa penambahan tepung kepala udang sebesar 15% dalam pakan ikan nila Oreochromis niloticus menghasilkan nilai konversi pakan sebesar 1,9.
Retensi protein merupakan persentase besarnya protein yang tersimpan dalam tubuh ikan. Retensi protein dalam tubuh ikan dipengaruhi oleh kandungan protein yang terdapat dalam pakan. Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa
12 penambahan TKU dan tanpa penambahan TKU dalam pakan tidak memberikan pengaruh terhadap nilai retensi protein yaitu berkisar 47,47-55,74%. Menurut Azwar et al. (2010) menyatakan bahwa ikan patin yang diberi pakan dengan kadar protein 30% mempunyai nilai retensi protein sebesar 32,51-41,01%. Sedangkan menurut Suhenda dan Reza (2008) melaporkan bahwa kadar protein sebesar 35% dalam pakan benih ikan patin menghasilkan nilai retensi protein sebesar 36,90-42,87%. Tingkat retensi protein yang sama pada semua perlakuan didukung pula oleh kandungan protein pakan uji yang relatif sama pada masing-masing perlakuan. Kadar protein yang dihasilkan masih dalam rentang layak untuk kebutuhan ikan patin yaitu 28%. Hal ini sesuai dengan pendapat NRC (1993) yang menyatakan bahwa kadar protein yang dibutuhkan ikan patin berkisar 28-32%.
Besarnya nilai retensi protein tubuh ikan dipengaruhi oleh kandungan asam amino esensial dalam pakan tersebut. Pola asam amino esensial yang mencukupi kebutuhan ikan akan mengoptimalkan pemanfaatan pakan yang dicerna oleh tubuh ikan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Steffens (1989) menyatakan bahwa kandungan protein terkait dengan jumlah protein yang dikonsumsi melalui stimulasi pada proses sintesis protein dan efisiensi retensi protein yang telah disintesis. Semakin sesuai pola asam amino esensial suatu pakan terhadap tubuh ikan maka akan semakin banyak bagian dari asam amino yang disintesis menjadi protein.
Salah satu asam amino esensial yang penting yang dibutuhkan ikan adalah asam amino metionin dan lisin. Menurut Sholikhati (1999) dalam Hasibuan (2007) melaporkan bahwa kebutuhan ikan patin akan asam amino metionin dan lisin yaitu sebesar 2,61% dan 6,23%. Sedangkan asam amino metionin yang terkandung di dalam tepung udang dan tepung ikan masing-masing sebesar 1,4 % dan 1,6% sedangkan kandungan asam amino lisin sebesar 4,2% dan 6,3% (Hetramf dan Piedad-Pscual 2000).
Nilai retensi lemak menggambarkan persentase jumlah lemak pakan yang disimpan dalam tubuh ikan. Berdasarkan Tabel 1, nilai retensi lemak tertinggi terdapat pada perlakuan dengan dosis penambahan TKU sebesar 30%. Akan tetapi ikan patin mampu memanfaatkan lemak pakan sampai pada dosis penambahan
TKU sebesar 45%. Retensi lemak dipengaruhi oleh kadar lemak dalam pakan. Menurut Hanson et al. (1985) dalam Halver dan Hardy (2002) mengatakan bahwa kandungan lemak dalam pakan dibataasi untuk tidak melebihi 10-12%.
Kadar lemak pakan dalam penelitian berkisar 7,7-8%. Retensi lemak yang dihasilkan berkisar 60,53-70,54%. Menurut Suhenda & Reza (2008) menyatakan bahwa kadar lemak 4-6% dalam pakan ikan patin menghasilkan nilai retensi lemak yang tinggi yaitu 78,86-90,56%. Selain itu, perbedaan nilai retensi lemak diduga terjadi karena pada pakan perlakuan penambahan dosis TKU 30% dan 45% mengandung komposisi asam lemak yang sesuai dengan yang kebutuhan ikan patin. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Steffens (1989) bahwa lemak merupakan bagian yang penting dalam pakan ikan karena mengandung asam lemak esensial yang tidak dapat disintesis oleh tubuh ikan. Kebutuhan asam lemak dapat terpenuhi dari sumber bahan baku pakan.
Retensi lemak pada tubuh ikan patin lebih besar dibandingkan dengan retensi proteinnya. Hal ini disebabkan karena ikan patin lebih dapat memanfaatkan protein dibandingkan lemak sebagai sumber energi. Menurut Lovell (1989) dalam Halver dan Hardy (2002) menyatakan bahwa ikan lebih efisien menggunakan protein sebagai sumber energi. Lemak cenderung disimpan dalam tubuh dibandingkan dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan.
Penambahan TKU ke dalam pakan tidak mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup (SR) ikan uji (P>0,05). NRC (1983) menyatakan bahwa kelangsungan hidup ikan terutama dipengaruhi oleh sifat fisika kimia air media dan kualitas pakan. Wardoyo (1981) dalam Suhenda dan Reza (2008) menambahkan bahwa dukungan kualitas air untuk lingkungan budidaya merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan terhadap pertumbuhan ikan. Nilai peubah fisika kimia air media selama penelitian masih berada dalam kisaran yang baik bagi sintasan ikan dan pertumbuhan ikan. Dari hasil analisis parameter kualitas air menunjukkan bahwa suhu, pH, oksigen terlarut (DO) dan total ammonium nitrogen (TAN) cukup ideal dan masih dalam batas-batas toleransi untuk mendukung pertumbuhan secara optimum (Lampiran 4).
14
IV. KESIMPULAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dosis penggunaan tepung kepala udang sebagai bahan substitusi tepung ikan pada pakan ikan patin Pangasianodon hypophtalmus yang optimal adalah 30%. Pergantian tepung ikan oleh tepung kepala udang lebih dari 30% dalam pakan ikan patin akan menurunkan laju pertumbuhan spesifik ikan uji.