DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DAFTAR LAMPIRAN
II. TINJAUAN PUSTAK A
3.5. Analisis Statistik
Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan berupa Rancangan Acak Lengkap dengan tiga ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan SPSS 11.6. Dilakukan analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95 %. Dan untuk melihat perbedaan perlakuan maka dilakukan uji lanjut dengan uji Duncan.
18
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Pertambahan biomass dari masing-masing ikan uji selama 60 hari pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 2. Biomass rata-rata awal ikan uji perlakuan V (E 10 + G0) adalah sebesar 85,94 g sedangkan pada akhir pemeliharaan menjadi 592,23 g atau terjadi penambahan biomass sekitar 6,89 kali lipat. Pada perlakuan W (E5 + G15) memiliki biomass rata-rata awal sebesar 85,94 g dan biomass rata-rata akhir 565,50 g atau terjadi peningkatan sebesar 6,58 kali lipat. Perlakuan X (E10 + G 15) memiliki biomass rata-rata awal sebesar 86,13 g dan biomass rata-rata akhir 616,28 g atau terjadi peningkatan biomass sebesar 7,15 kali lipat, sedangkan pada perlakuan Y (E15 % G15) terjadi peningkatan pertambahan biomass sekitar 7,08 kali lipat dimana biomass rata- rata awal sebesar 85,77 g dan bioamass akhir sebesar 607,63 g.
85.94 85.94 86.13 85.77 592.23 565.50 616.28 607.63 0.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00 700.00 800.00
V (E 10 & G 0) W (E 5 & G 15) X (E 10 & G 15) Y (E 15 & G 15)
P e rla kua n Bi o m a s s (g )
B iomas s rata‐rata awal B iomas s rata‐rata ak hir
Gambar 2. Grafik biomass awal dan biomass akhir ikan uji.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya kombinasi tepung elot dengan gaplek maupun tanpa tepung gaplek dalam pakan, tidak menyebabkan adanya pengaruh yang berbeda pada parameter biologi ikan nila yang meliputi nilai jumlah konsumsi pakan, laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, kecernaan total pakan, retensi protein, retensi lemak, dan tingkat kelangsungan
19
hidup. Hasil uji dari pengamatan parameter yang diukur disajikan pada Lampiran 11. Parameter yang diukur selama penelitian disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah konsumsi pakan (JKP), laju pertumbuhan harian (LPH), efisiensi pakan (EP), retensi protein (RP), retensi lemak (RL), kecernaan total pakan (KT), dan kelangsungan hidup (SR) dari ikan nila
Parameter
Pakan Uji (% Elot + % Gaplek) V E 10 + G 0 W E 5 + G 15 X E 10 + G 15 Y E15 + G 15 JKP (gram) 691,92 + 43,56 685,45 + 65,53 731,23 + 76,06 763,89 + 60,97 LPS (%) 3,36 + 0,09 3,20 + 0,30 3,41 + 0,13 3,40 + 0,18 EP (%) 73,09 + 2,18 69,57 + 6,42 72,35 + 2,20 68,22 + 4,02 RP (%) 38,33 + 2,20 40,40 + 7,01 39,41 + 1,95 37,45 + 5,00 RL (%) 92,29 + 3,58 90,72 + 12,27 86,21 + 11,31 87,07 + 4,55 KT (%) 58,29 + 1,15 55,10 + 5,59 57,24 + 0,33 56,26 + 0,80 SR (%) 93,33 + 5,77 90,00 + 10,00 93,33 + 5,77 93,33 + 11,55 Ket : Uji statistik menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata (P>0,05) untuk semua parameter..
4.2 Pembahasan
Sumber karbohidrat digunakan dalam pakan untuk mendukung kebutuhan energi yang dibutuhkan oleh ikan. Karbohidrat merupakan sumber energi yang relatif murah dapat digunakan untuk menggantikan atau menghemat penggunaan protein yang lebih mahal sebagai sumber energi (Millamena dalam SEADFEC, 2002).
Tepung elot merupakan produk sampingan dari pembuatan tapioka. Tepung ini memiliki karakter yang hampir sama dengan tepung tapioka, akan tetapi kualitasnya kurang bagus sehingga tepung ini juga sering disebut sebagai lindur atau pati yang kualitasnya kurang bagus (Anonima, 2004). Dikatakan kualitasnya kurang bagus karena tidak seperti tepung tapioka yang berwarna putih, tepung elot memiliki warna agak kekuningan yang disebabkan masih tersisanya campuran getah singkong pada tepung ini. Akan tetapi, tepung elot masih mengandung karbohidrat (pati) sebesar 80,72% yang dapat dimanfaatkan oleh ikan sebagai sumber energi. Oleh karena itu, tepung ini masih memiliki potensi yang sama untuk dapat menggantikan penggunaan jagung sebagai sumber karbohidrat dalam pakan
Hasil pengujian selama 60 hari pemeliharaan menunjukkan bahwa adanya penambahan kombinasi tepung elot dengan gaplek maupun tanpa gaplek dalam pakan tidak menyebabkan adanya pengaruh yang berbeda nyata pada nilai
20
kecernaan pakan dari masing-masing pakan yaitu berkisar antara 55,10 – 58,29%. Hal inilah yang menyebabkan laju pertumbuhan spesifik dan
efisiensi pakan pada masing-masing perlakuan menjadi tidak berbeda nyata. Laju pertumbuhan harian ikan uji berkisar antara 3.20 - 3.41%, sedangkan efisiensi pakan berkisar antara 68.22 - 73.09%. Pada awal pemeliharaan bobot rata-rata ikan sebesar 8,59 ± 0.04 g, sedangkan pada akhir pemeliharaan berkisar antara 57,45 ± 10,14 – 64,36 ± 4,85 g. Pertumbuhan ikan yang hampir sama ini disebabkan kualitas pakan uji yang relatif sama. Masing-masing pakan uji memiliki nilai nutrisi seperti protein, lemak, BETN, dan kandungan energi pakan (gross energy) yang relatif sama (Tabel 4).
Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi pada pakan yang relatif murah dibandingkan dengan protein sebagai sumber energi. Kecernaan karbohidrat terutama pati tergantung dari rasio amilosa dan amilopektin dalam bahan karbohidrat tersebut. Semakin besar rasio amilosa dan amilopektin maka kecernaannya akan semakin baik (Cruz-suarez, 1994 dalam Noegroho, 2000). Dalam formula pakan uji terdapat empat jenis bahan baku sumber karbohidrat yang memiliki rasio amilosa dan amilopektin yang berbeda. Bahan baku tersebut adalah tepung elot dengan rasio 17/83, tepung gaplek dengan rasio 22,4/77,6, jagung dengan rasio 25/75, dan kulit gandum (wheat brean)dengan rasio 20/80. Rasio amilosa dan amilopektin pada tapioka atau elot dillaporkan sebesar 17/83, dan nilai ini tergolong rendah sehingga nilai kecernaannya kurang baik (Eliasson, 2004).
Untuk meningkatkan nilai kecernaan pada bahan pakan bersumber karbohidrat, dapat dilakukan beberapa cara seperti proses pemasakan. Guillaume et. al. (2001) menyatakan bahwa proses pemasakan dapat meningkatkan kecernaan dari karbohidrat sehingga meningkatkan sumber energi pada pakan. Hal ini dikarenakan melalui proses pemanasan pati akan menghasilkan hidrolisis parsial dari molekul pati ke bentuk dextrin (Guillaume et. al. 2001) dimana dextrin memiliki kecernaan nutrisi yang lebih baik daripada pati (Furuichi and Yone, 1980 dalam Watanabe 1988). Selain itu Afrianto dan liviawaty (2005) juga mengemukakan bahwa perlakuan pemanasan dan pemasakan digunakan untuk menonaktifkan faktor antinutrisi dan meningkatkan kecernaan nutrien. Proses pemanasan yang dilakukan saat pembuatan pakan seperti proses pengadukan bahan dengan air mendidih sebanyak 30%, pelleting dan pengovenan diduga meningkatkan kecernaan
21
bahan. Sehingga baik penggunaan tepung elot hingga 15% yang dikombinasikan dengan gaplek 15% maupun penggunaan tepung elot 10% tanpa dikombinasikan dengan gaplek masih dapat diterima oleh ikan nila. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya perbedaan yang nyata pada parameter kecernaan total pakan maupun efisiensi pakan.
Retensi protein menggambarkan banyaknya jumlah protein pakan yang dapat diserap dan dimanfaatkan oleh ikan untuk membangun dan memperbaiki sel tubuh yang rusak, serta metabolisme harian (Halver, 1989). Hasil pengujian terhadap retensi protein dari keempat jenis pakan uji menunjukkan bahwa penggantian jagung dengan tepung elot hingga kadar kadar 15% yang dikombinasikan dengan tepung gaplek 15% atau tanpa tepung gaplek, tidak memberikan pengaruh terhadap retensi protein dari ikan uji. Hal ini dikarenakan nilai kecernaan dari keempat pakan perlakuan memiliki nilai yang relatif sama sehingga jumlah nutrien yang diserap pun sama.
Retensi lemak dari keempat perlakuan memiliki nilai yang tidak berbeda nyata. Hal ini dikarenakan kadar karbohidrat, protein, maupun lemak dari keempat pakan perlakuan relatif sama, sehingga jumlah energi dalam pakan pun sama. Selain itu kadar lemak dalam keempat pakan perlakuan yang berkisar antara 6,04 – 6,56% diduga telah mencukupi kebutuhan lemak ikan nila. Hal ini sesuai dengan Chou dan Shiau dalam Webster (2002) bahwa kadar lemak sebesar 5% sudah mencukupi kebutuhan ikan nila.
Biaya pakan merupakan salah satu komponen terbesar dalam proses budidaya khususnya pada usaha pembesaran. Biaya pakan dapat mencapai 70% dari total biaya produksi. Oleh karena itu berbagai bahan pakan yang relatif lebih murah namun tetap dapat dimanfaatkan oleh ikan terus dicari untuk dapat menekan biaya pakan. Berdasarkan pada nilai efisiensi pakan dan harga pakan per kg (Lampiran 12), maka pakan dengan penambahan tepung elot 10% dan gaplek 15% memiliki penambahan biaya (gain cost) yang lebih menguntungkan untuk menghasilkan tiap kg ikan nila. Pakan uji 10% elot dan 15% gaplek memiliki gain cost yang paling rendah dibandingkan dengan pakan uji lainnya yaitu sebesar Rp 9.802, sedangkan pakan perlakuan tepung elot 15% yang dikombinasikan dengan tepung gaplek 15% memiliki gain cost yang paling tinggi yaitu sebesar Rp 10.358. Dengan demikian, dilihat dari segi ekonomisnya maka pakan perlakuan tepung elot 10% dan gaplek 15% merupakan pakan yang paling menguntungkan dibandingkan pakan perlakuan lainnya.
22
V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil evaluasi biologi, penggunaan tepung elot pada pakan hingga 15% yang dikombinasikan dengan gaplek sebanyak 15% masih dapat digunakan sebagai pengganti jagung pada pakan ikan nila karena tidak mempengaruhi pertumbuhan dan efisiensi pakan pada ikan nila. Namun berdasarkan evaluasi ekonomi, penambahan tepung elot 10% dan tepung gaplek 15% dalam formulasi pakan lebih menguntungkan karena memiliki penambahan biaya yang paling rendah yaitu sebesar Rp 9.802 tiap kg daging ikan.
23