Setelah melakukan analisis terhadap faktor internal dan eksternal, selanjutnya dapat diformulasikan alternatif strategi dengan menggunakan matriks SWOT, yang merupakan kombinasi dari strategi SO, WO, ST dan WT. Perumusan strategi dilakukan dengan mempertimbangkan keempat faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang telah diidentifikasi. Strategi yang dihasilkan merupakan kombinasi SO (strengths-Opportunities), ST (Strenghts-Threats), WO (Weaknesses-Opportunities) dan WT (Weaknesses- Threats) yang dirangkum dalam matriks SWOT. Perumusan strategi bisnis yang dibangun dengan menggunakan matriks SWT dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15 Matriks SWOT efektivitas pengawasan lembaga penegakan hukum di bidang perikanan
Kekuatan (Strengths)
S1. Sarana penunjang patroli; W1.Kelemahan Kurangnya (Weaknesses jumlah kapal) IFAS EFAS Peluang (Opportunities) O1. Kerjasama internasional; O2. Keterlibatan masyarakat; O3. Teknologi berkembang
pesat. Ancaman (Threats) T1. Kecepatan kapal asing; T2. Wabah penyakit yang
dibawa oleh ABK kapal asing;
T3. Modus operandi yang beragam;
T4. Tumpang tindih antar lembaga pengawasan. T5. Kebutuhan pasar
internasional
S2. Satuan pangawasan kewilayahan setiap daerah; S3. Memiliki jumlah personil
patroli pengawasan yang mendukung;
S4. Terdapat dasar hukum; S5. Terdapat kesepakatan
bersama antara lembaga penegak hukum. SO
SO1. Penguatan dan
memfasilitasi masyarakat terhadap peningkatan peran aktif kelompok masyarakat pengawas
(POKMASWAS) atau sejenisnya untuk membantu pelaksanaan pengawasan sesuai dengan kondisi di lapang (S1, S2, O2)
SO2.Peningkatan kerjasama regional dan internasional dalam menghapuskan
illegal fishing dan
destruktive fishing (S4, S5, O1)
ST
ST1. Menjamin kebutuhan ikan pada pasar nasional maupun internasional dengan cara menjalankan kesepakatan yang sudah ada (S4, S5, T5)
ST2. Meningkatkan kemampuan kapal dan personil patroli serta mengoptimalkan
patroli;
W2. Keterbatasan kemampuan personil;
W3. Keterbatasan anggaran; W4. Aturan pelaksanaan dasar
hukum belum lengkap; W5. Hambatan struktural dalam
satu lembaga.
WO
WO1. Menambah jumlah kapal patroli dan penambahan teknologi canggih (W1, O1, O3)
WO2. Membuat seluruh tata aturan dengan berbagai pihak yang diperlukan untuk mencapai
pengawasan yang optimum (W4, W5, O1) WT WT1.Menguatkan internal masing-masing lembaga agar dapat menjalankan tugasnya dengan optimal. (W1, W2, W3, W4, W5, T1, T2, T3, T4, T5)
penggunaan sarana lain yang sudah ada seperti VMS, alat komunikasi dll (S1, S3, S5, T1, T2, T3) ST3. Melakukan penjelasan
kembali mengenai tupoksi masing-masing lembaga pengawasan (S4, S5, T4) Sumber : Pengolahan data primer
Dari analisis matriks SWOT didapatkan empat macam strategi yang dijelaskan sebagai berikut:
(1) Strategi Strengths-Opportunity (SO)
Strategi SO adalah strategi menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang yang ada. Berdasarkan kekuatan dan peluang yang diperoleh, maka strategi yang sebaiknya dilakukan adalah penguatan dan memfasilitasi masyarakat terhadap meningkatan peran aktif kelompok masyarakat pengawas (POKMASWAS) atau sejenisnya untuk membantu pelaksanaan pengawasan sesuai dengan kondisi di lapang. Kepemilikan terhadap sarana penunjang patroli, serta satuan pengawasan kewilayahan setiap daerah yang mendukung merupakan kekuatan utama. Kekuatan ini diimbangi dengan keterlibatan masyarakat. Hal ini menjadi peluang utama yang bisa diambil untuk menjalankan strategi kedua.
Strategi kedua merupakan peningkatan kerjasama regional dan internasional dalam menghapuskan illegal fishing dan destruktive fishing. Strategi ini didasari oleh adanya dasar hukum dari masing-masing lembaga dan adanya kesepakatan bersama antara lembaga penegak hukum. Selain itu terdapat pula kerjasama internasional. Kombinasi antara kekuatan dan peluang yang ada ini memungkinkan lembaga dapat meminimalisir bahkan menghilangkan kegiatan tindak pidana di bidang perikanan.
(2) Strategi Weakness-Opportunity (WO)
Strategi WO adalah strategi yang meminimalkan kelemahan dengan memanfaatkan peluang yang ada. Strategi WO utama yang bisa dilakukan adalah menambahkan jumlah kapal patroli dan menambahkan teknologi canggih. Strategi ini dimaksudkan untuk memenuhi kekurangan dari kebutuhan kapal. Strategi ini juga muncul dikarenakan adanya kerjasama internasional. Dengan demikian lembaga dapat mengambil untung dengan mendapatkan pembagian seperti penambahan kapal dan teknologi canggih dari dunia internasional.
Strategi yang kedua adalah membuat seluruh tata aturan dengan berbagai pihak yang diperlukan untuk mencapai pengawasan yang optimum. Lembaga menyadari adanya aturan pelaksanaan dasar hukum yang belum lengkap hingga terdapatnya hambatan struktural dalam satu lembaga. Kedua hal ini merupakan
kelemahan dasar dari munculnya strategi yang harus di tanggulangi. Penanggulangan dapat ditempuh dengan memanfaatkan peluang adanya kerjasama internsional yang sudah ada lebih dulu.
(3) Strategi Strengths-Threats (ST)
Strategi ST merupakan strategi memanfaatkan kekuatan untuk menghindari ancaman yang datang dari luar. Strategi ST paling utama adalah menjamin kebutuhan ikan pada pasar nasional maupun internasional dengan cara menjalankan kesepakatan yang sudah ada. strategi ini ditempuh untuk memenfaatkan kekuatan betupa adanya dasar hukum dan kesepakatan bersama antara lembaga penegak hukum. Strategi juga ditempuh untuk menhindari ancaman berupa kebutuhan pasar internasional.
Strategi kedua adalah meningkatkan kemampuan kapal dan personil partoli serta mengoptimalkan penggunaan sarana lain yang sudah ada seperti VMS, alat komunikasi, dan lain-lain. Hal ini didasari oleh kepemilikan sarana penunjang patroli dan jumlah personil patroli pengawasan yang mendukung. Sehingga personil yang ada dapat ditingkatkan dari segi kemampuannya. Faktor lain adalah adanya kesepakatan bersama antara lembaga penegak hukum. Lembaga dapat memanfaatkannya untuk pengadaan fasilitas. Strategi ini lahir dari ancaman akan keunggulan cepatnya kapal asing, wabah penyakit yang dibawa oleh ABK kapal asing dan modus operandi yang beragam.
Strategi ketiga adalah melakukan penjelasan kembali mengenai tupoksi dari masing-masing lembaga pengawasan. Tugas pokok dan fungsi yang ada perlu dijelaskan atau diingatkan terus menerus. Tupoksi ini bisa didapatkan dari dasar hukum yang ada selama ini. Hal ini juga bisa dilihat dari kesepakatan bersama antara lembaga penegak hukum. Ancaman mengenai hal ini adalah dengan adanya tumpang tindih antar lembaga pengawasan.
(4) Strategi Weakness-Threats (WT)
Strategi WT merupakan strategi untuk mengurangi kelemahan dan menghindari ancaman. Strategi yang bisa dilakukan adalah dengan menguatkan internal masing-masing lembaga agar dapar menjalankan tugasnya dengan optimal. Sadarnya lembaga akan kekurangan yang ada seperti kurangnya jumlah kapal patroli, keterbatasan kemampuan personil dan anggaran, dasar hukum yang
dirasa belum lengkap, dan hambatan struktural dalam satu lembaga juga dengan acaman seperti kapal asing yang lebih unggul, wabah penyakit yang bisa menyerang personil patroli tiap saat hingga tumpang tindih antar lembaga pengawasan seharunya menjadi kesadaran tersendiri bagi lembaga. Mereka harus lebih sering melihat kekurangan dan ancaman yang ada apabila selama ini sehingga mereka akan cenderung untuk menguatkan internal kelambagaan.
Hasil dari matriks SWOT dan keempat macam strategi secara umum diatas didapatkan sembilan rekomendasi strategi alternatif sebagai berikut:
(1) Penguatan dan memfasilitasi masyarakat terhadap peningkatan peran aktif kelompok masyarakat pengawas (POKMASWAS) atau sejenisnya untuk membantu pelaksanaan pengawasan sesuai dengan kondisi di lapang; (2) Peningkatan kerjasama regional dan internasional dalam menghapuskan
illegal fishing dan destruktive fishing;
(3) Menambah jumlah kapal patroli dan penambahan teknologi canggih; (4) Membuat seluruh tata aturan dengan berbagai pihak yang diperlukan untuk
mencapai pengawasan yang optimum;
(5) Menjamin kebutuhan ikan pada pasar nasional maupun internasional dengan cara menjalankan kesepakatan yang sudah ada;
(6) Meningkatkan kemampuan kapal dan personil patroli serta mengoptimalkan penggunaan sarana lain yang sudah ada seperti VMS, alat komunikasi dll;
(7) Melakukan penjelasan kembali mengenai tupoksi masing-masing lembaga pengawasan;
(8) Menguatkan internal masing-masing lembaga agar dapat menjalankan tugasnya dengan optimal.
4.3.2 Matriks Quantitative Strategic Planning Management (QSPM)
Analisis digunakan untuk menentukan prioritas strategi alternatif yang paling baik dalam mencapai efektifitas penegakan hukum. Matriks QSPM dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16 Matriks Quantitative Strategic Planning Management (QSPM) Faktor Bobot Strategi Alternatif
I II III IV V VI VII VIII
(S) AS WS AS WS AS WS AS WS AS WS AS WS AS WS AS WS S1 0,095 4 0,38 4 0,38 4 0,38 2 0,19 4 0,38 4 0,38 1 0,095 3 0,285 S2 0,105 4 0,42 4 0,42 2 0,21 2 0,21 1 0,105 4 0,42 2 0,21 2 0,21 S3 0,105 3 0,315 4 0,42 2 0,21 2 0,21 1 0,105 3 0,315 1 0,105 1 0,105 S4 0,115 3 0,345 4 0,46 3 0,345 4 0,46 4 0,46 2 0,23 4 0,46 1 0,115 S5 0,1 2 0,2 2 0,2 4 0,4 3 0,3 4 0,4 4 0,4 4 0,4 1 0,1 (W) W1 0,958 2 1,916 4 3,832 4 3,832 2 1,916 2 1,916 1 0,958 1 0,958 4 3,832 W2 0,085 3 0,255 2 0,17 4 0,34 1 0,085 1 0,085 4 0,34 1 0,085 4 0,34 W3 0,09 3 0,27 3 0,27 4 0,36 3 0,27 3 0,27 3 0,27 1 0,09 4 0,36 W4 0,11 2 0,22 4 0,44 4 0,44 4 0,44 3 0,33 1 0,11 2 0,22 4 0,44 W5 0,098 2 0,196 1 0,098 1 0,098 4 0,392 2 0,196 1 0,098 2 0,196 4 0,392 (O) O1 0,127 1 0,127 4 0,508 4 0,508 4 0,508 4 0,508 1 0,127 1 0,127 1 0,127 O2 0,125 4 0,5 1 0,125 1 0,125 1 0,125 1 0,125 1 0,125 1 0,125 2 0,25 O3 0,129 2 0,258 4 0,516 4 0,516 1 0,129 3 0,387 3 0,387 1 0,129 1 0,129 (T) T1 0,125 1 0,125 4 0,5 2 0,25 1 0,125 1 0,125 4 0,5 1 0,125 2 0,25 T2 0,12 1 0,12 4 0,48 1 0,12 1 0,12 1 0,12 4 0,48 1 0,12 2 0,24 T3 0,124 2 0,248 3 0,372 1 0,124 3 0,372 1 0,124 4 0,496 3 0,372 2 0,248 T4 0,129 2 0,258 2 0,258 1 0,129 4 0,516 2 0,258 2 0,258 4 0,516 1 0,129 T5 0,122 2 0,244 4 0,488 3 0,366 2 0,244 5 0,61 2 0,244 1 0,122 2 0,244 Total 6,397 9,937 8,753 6,612 6,504 6,138 4,455 7,796
Prioritas VI I II IV V VII VIII III
Sumber : Pengolahan data primer
Berikut merupakan uraian singkat strategi pengembangan berdasarkan matriks QSPM beserta uraian singkat mengenai kebijakan yang dapat dilaksanakan untuk efektifitas penegakan hukum berdasarkan Tabel 16, antara lain:
1) Meningkatan kerjasama regional dan internasional dalam menghapuskan illegal fishing dan destruktive fishing.
(1) Aktif berperan serta dalam organisasi pengelolaan perikanan regional (regional fisheries management organzaition, RFMO) maupun internasional untuk fokus pada topik memberantas illegal fishing dan destruktive fishing.
(2) Meratifikasi konvensi pembentukan RFMO yang berada di wilayah perairan Indonesia dan ZEEI, seperti WCPFC (Western and Central Pacific Fisheries Commission)
2) Menambah jumlah kapal patroli dan penambahan teknologi canggih.
(1) Meningkatkan armada kapal patroli dari segi jumlah hingga dapat memberikan pengawasan pada seluruh perairan Indonesia dan ZEEI.
(2) Optimalisasi penggunaan teknologi yang sudah ada agar tepat guna di bidang pengawasan.
(3) Tetap mengembangkan penelitian mengenai teknologi agar dapat bersaing dengan perkembangan teknologi negara lain.
3) Menguatkan internal masing-masing lembaga agar dapat menjalankan tugasnya dengan optimal.
(1) Merinci jumlah personil patroli dan jumlah kapal serta kemampuannya untuk dibuat sistem pengawasan yang baik, agar seluruh wilayah Indonesia dapat diawasi.
(2) Menempatkan kapal, senjata dan personil yang mumpuni dalam menggunakannya pada titik rawan terjadi hal paling berbahaya, seperti baku tembak.
(3) Selalu memberikan motivasi kepada personil bahwa pengawasan adalah hal penting sehingga mereka melakukan kerja dengan optimal.
4) Membuat seluruh tata aturan dengan berbagai pihak yang diperlukan untuk mencapai pengawasan yang optimum.
(1) Melakukan pendataan ulang dan kajian mengenai tata aturan yang sudah ada. Apabila terdapat tumpang tindih antar satu dengan lembaga lain, maka dapat dilakukan revisi dengan segera.
(2) Membuat tata aturan yang dirasa masih kurang setelah melihat pendataan tata aturan sebelumnya.
5) Menjamin kebutuhan ikan pada pasar nasional maupun internasional dengan cara menjalankan kesepakatan yang sudah ada.
(1) Membuat pendataan mengenai kebutuhan ikan pada pasar internasional dengan data yang tepat. Pendataan yang tepat ini menjadi penting dalam usaha mencapai kebutuhan tersebut.
(2) Melakukan pendataan kesepakatan mengenai sistem yang harus ada dalam memenuhi kebutuhan ikan. Setelah itu mengingatkan pada bagian penangkapan, budidaya maupun pengolahan terhadap kesepakatan yang sudah ada agar tidak terjadi kesalahan dalam proses penanganan yang baik.
6) Penguatan dan memfasilitasi masyarakat terhadap peningkatan peran aktif kelompok masyarakat pengawas (POKMASWAS) atau sejenisnya untuk membantu pelaksanaan pengawasan sesuai dengan kondisi di lapang.
(1) Memberikan pelatihan-pelatihan mengenai pengawasan perikanan kepada POKMASWAS guna menambah kemampuan untuk membantu pengawasan.
(2) Memberikan fasilitas seperti pos berkumpul dan kapal pengawas kepada POKMASWAS agar dapat digunakan saat pengawasan.
7) Meningkatkan kemampuan kapal dan personil patroli serta mengoptimalkan penggunaan sarana lain yang sudah ada seperti VMS, alat komunikasi dll. (1) Melakukan perawatan dan meningkatkan kemampuan dari mesin kapal
yang juga disesuaikan dengan kondisi kapal agar dapat berlayar dengan maksimal.
(2) Melakukan pelatihan-pelatihan personil seperti pelatihan penggunaan senjata, dan penggunaan alat komunikasi diatas kapal oleh mentor yang kompeten secara berkesinambungan.
(3) Melakukan pendataan dan mengoptimumkan pengguanaan fasilitas yang sudah ada seperti VSM.
8) Melakukan penjelasan kembali mengenai tupoksi masing-masing lembaga pengawasan.
(1) Melakukan identifikasi kembali mengenai dasar hukum tentang tupoksi masing-masing lembaga.
(2) Melakukan evaluasi secara berkala mengenai pelaksanaan tupoksi yang ada.
5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan pada penelitian ini adalah bahwa tiga lembaga penegakan hukum yaitu Polair, TNI AL dan PSDKP memiliki tupoksi yang beririsan satu dengan yang lainnya. Polisi memiliki tumpang tindih tupoksi keamanan dengan TNI AL. Ketiga lembaga memiliki tumpang tindih tupoksi penegakan hukum. Tupoksi ketertiban hanya dimiliki oleh Polisi, begitupun dengan tupoksi pengawasan hanya dimiliki PSDKP. Lembaga TNI AL juga memiliki tuposi yang berbeda dengan yang lain, antara lain pertahanan, diplomasi, pembangunan dan pertahanan kekuatan matra laut, dan pemberdayaan wilayah pertahanan laut.
Analisis hukum menjabarkan bahwa pada variabel kewenangan memberikan kewenangan kepada ketiga lembaga penegak hukum. Analisis variabel kewilayahan secara geografis menjabarkan bahwa TNI AL dan PSDKP berwenang hingga ZEEI sedangkan Polair hanya sampai laut teritorial.
Penelitian memberikan beberapa strategi efektivitas penegakan hukum. Strategi dilihat dari faktor internal dan eksternal lembaga serta diuturkan berdasarkan prioritas. Strategi antara lain: 1) meningkatan kerjasama regional dan internasional dalam menghapuskan illegal fishing dan destruktive fishing; 2) menambah jumlah kapal patroli dan penambahan teknologi canggih; 3) menguatkan internal masing-masing lembaga agar dapat menjalankan tugasnya dengan optimal; 4) membuat seluruh tata aturan dengan berbagai pihak yang diperlukan untuk mencapai pengawasan yang optimum; 5) menjamin kebutuhan ikan pada pasar nasional maupun internasional dengan cara menjalankan kesepakatan yang sudah ada; 6) penguatan dan memfasilitasi masyarakat terhadap peningkatan peran aktif kelompok masyarakat pengawas (POKMASWAS) atau sejenisnya untuk membantu pelaksanaan pengawasan sesuai dengan kondisi di lapang; 7) meningkatkan kemampuan kapal dan personil patroli serta mengoptimalkan penggunaan sarana lain yang sudah ada seperti VMS, alat komunikasi dan lain-lain; 8) melakukan penjelasan kembali mengenai tupoksi masing-masing lembaga pengawasan.