2 TINJAUAN PUSTAKA
3.2 Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data 3.2.1 Metode pengumpulan data
3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan penelitian dengan judul “Analisis Hukum dan Kelembagaan Penegakan Hukum di Bidang Perikanan” akan dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juni 2012 di kantor lembaga penegak hukum PSDKP Gambir Jakarta Selatan, Polisi Perairan Tanjung Priuk Jakarta Utara dan Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut Cilangkap Jakarta Timur.
3.2 Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data 3.2.1 Metode pengumpulan data
Data yang akan diambil dalam penelitian ini adalah data terkait pengawasan. Data bersifat primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui pengisian kuisioner, dan wawancara dengan pihak terkait. Sedangkan data sekunder diperoleh studi pustaka terhadap kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, serta akses internet melalui situs-situs yang terkait dengan penelitian.
3.2.2 Pengolahan data
Gambar 4 Kerangka pemikiran
Identifikasi isu permasalahan dilakukan. Penelitian menggunakan dengan menggunakan tiga analisis, yaitu analisis kelembagaan atau analisis tupoksi,
analisis hukum atau analisis peraturan perundang-undangan dan analisis kebijakan atau analisis SWOT dan matriks QSPM. Setelah dianalisis akan didapatkan efektifitas kelembagaan penegakan hukum.
3.3 Metode Analisis Data 3.3.1 Analisis kelembagaan
Analisis kelembagaan yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis tupoksi. Tupoksi dari masing-masing kelembagaan penegak hukum di deskripsikan lebih jelas, dijabarkan mengenai ranah kerja dari tiap kelembagaan. Analisis digunakan untuk menjawab tujuan yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing lembaga penegak hukum.
3.3.2 Analisis hukum
Analisis hukum digunakan untuk menilai berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Analisis digunakan untuk menjabarkan tumpang tindih kewenangan antar lembaga penegak hukum di bidang perikanan berdasarkan landasan hukumnya. Ketiga lembaga penegakan hukum yaitu Polisi, TNI AL, dan PSDKP diteliti dengan menggunakan dua variabel, yaitu variabel kewenangan dan variabel kewilayahan.
1) Variabel Kewenangan
Variabel kewenangan ini bertujuan untuk melihat uraian dasar hukum dari masing-masing lembaga. Dasar hukum yang digunakan antara lain Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1983, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002, Undang- Undang Nomor 31 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009, Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004, Kesepakatan Bersama antara Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia No: 10/KB/Dep.KP/2003 atau No.Pol: B/4042/VIII/2003 tentang Penegakan Hukum di Bidang Kelautan dan Perikanan, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.11/Men/2006 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.13/MEN/2005 tentang Forum Koordinasi Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perikanan.
Tabel 5 Variabel kewenangan
Dasar Hukum Lembaga
Polisi TNI AL PSDKP Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang
ZEEI
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI
Kesepakatan Bersama antara Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia No: 10/KB/Dep.KP/2003 atau No.Pol:
B/4042/VIII/2003 tentang Penegakan Hukum di Bidang Kelautan dan Perikanan
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.11/Men/2006 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.13/MEN/2005 tentang Forum Koordinasi Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perikanan.
2) Variabel Kewilayahan
Variabel kewilayahan ini bertujuan untuk melihat uraian wilayah operasi secara geografis dari masing-masing lembaga. Wilayah operasi secara geografis tersebut terbagi atas perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, dan ZEEI. Variabel kewilayahan juga dianalisis dengan menggunakan enam dasar hukum seperti variabel kewenangan yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009, Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004, Kesepakatan Bersama antara Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia No: 10/KB/Dep.KP/2003 atau No.Pol: B/4042/VIII/2003 tentang Penegakan Hukum di Bidang Kelautan dan Perikanan, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.11/Men/2006 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.13/MEN/2005 tentang Forum Koordinasi Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perikanan.
Tabel 6 Variabel kewilayahan
Wilayah
Lembaga Perairan Perairan Laut Pedalaman Kepulauan Teritorial ZEEI Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1983 tentang ZEEI
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI
Kesepakatan Bersama antara
Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dengan
Kepolisian Negara Republik Indonesia No: 10/KB/Dep.KP/2003 atau No.Pol: B/4042/VIII/2003 tentang Penegakan Hukum di Bidang Kelautan dan Perikanan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
PER.11/Men/2006 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.13/MEN/2005 tentang Forum Koordinasi Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perikanan
3.3.3 Analisis Kebijakan
Analisis kebijakan menggunakan analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT) dan matriks Quantitative Strategic Planning Management (QSPM).
1) Analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT) Analisis digunakan untuk memberikan rekomendasi efektifitas penegakan hukum. Analisis SWOT merupakan suatu metode yang dapat membantu dalam pengambilan keputusan. Seperti diutarakan sebelumnya pada tinjauan pustaka bahwa metode ini digunakan untuk meneliti adanya kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats).
Tahap pertama adalah pembuatan tabel internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (ancaman dan peluang) masing-masing lembaga. Setelah didapatkan
dari ketiga lembaga tersebut, kemudian disatukan. Hal ini bertujuan untuk menentukan strategi bersama.Tahapan kedua yaitu pembuatan matriks Faktor Strategi Internal (IFAS) dan Faktor Strategi Eksternal (EFAS). Proses pengisian dapat dilihat pada paparan sebelumnya di tinjauan pustaka.
Nilai total yang dihasilkan akan menunjukkan bagaimana reaksi suatu organisasi atau instansi terhadap faktor internal dan eksternal yang ada. Perhitungan nilai dimulai dari skala 1 sampai dengan skala 4. Kriteria nilai adalah sebagai berikut:
1) Lembaga penegakan hukum sangat tidak dapat diandalkan untuk melakukan fungsi pengawasan karena faktor internal dan eksternal sangat tidak mendukung;
2) Lembaga penegakan hukum tidak dapat diandalkan untuk melakukan fungsi pengawasan karena masih banyak faktor yang belum mendukung;
3) Lembaga penegakan hukum dapat diandalkan untuk melakukan fungsi pengawasan karena banyaknya faktor pendukung meskipun masih ada beberapa faktor yang kurang mendukung;
4) Lembaga penegakan hukum sangat dapat diandalkan untuk melakukan fungsi pengawasan karena faktor internal dan eksternal sangat mendukung dalam pengambilan keputusan untuk menentukan kebijakan yang akan diambil.
Tahapan ketiga adalah analisis data yang dilakukan dengan pembuatan tabel strategi SWOT. Semakin tinggi nilai total (bobot x rating) yang diperoleh dalam perhitungan maka kebijakan strategi alternatif yang ditetapkan semakin tepat bagi lembaga penegakan hukum.
2) Matriks Quantitative Strategic Planning Management (QSPM)
Langkah-langkah dalam membuat matriks QSPM adalah sebagai berikut : 1) Buatlah daftar peluang/ancaman eksternal kunci dan kekuatan/kelemahan
internal kunci di kolom kiri QSPM.
2) Berilah bobot pada setiap faktor internal dan eksternal kunci.
3) Periksalah matriks-matriks pencocokan dan kenalilah strategi-strategi alternatif yang harus dipertimbangkan untuk diterapkan.
4) Tentukan nilai daya tarik (AS). Cakupan daya tarik adalah : 1 = tidak menarik; 2 = agak menarik; 3 = wajar menarik; 4 = sangat menarik.
5) Hitunglah nilai total daya tarik (WS). Total nilai daya tarik didefinisikan sebagai hasil mengalikan bobot dengan daya tarik di masing-masing baris. 6) Hitunglah jumlah total nilai daya tarik. Jumlahkan total nilai daya tarik di
masing-masing kolom strategi QSPM, jumlah total nilai daya tarik mengungkapkan strategi yang paling menarik (David, 2003).
Pada analisis QSPM umumnya sama seperti pada analisis SWOT. Semakin tinggi nilai total (bobot x rating) yang diperoleh maka prioritas kebijakan strategi alternatif yang ditetapkan semakin baik. sebaliknya apabila nilai yang diperoleh kecil, maka prioritas kebijakan strategi alternatif kurang baik.
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Kelembagaan
4.1.1 Polair
Objek analisis kelembagaan adalah tugas pokok dan fungsi (tupoksi) pada masing-masing kelembagaan penegakan hukum di bidang perikanan. Menurut Pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, tugas pokok dan fungsi Kepolisian Negara Republik Indonesia, yaitu meliputi:
1) Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; 2) Menegakan hukum; dan
3) Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Apabila melihat dari sejarah hukum Polair, Polair dibentuk berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri No.4/2/3/Um, tanggal 14 Maret 1951 tentang Penetapan Polisi Perairan sebagai Bagian dari Djawatan Kepolisian Negara terhitung mulai tanggal 1 Desember 1950. Berdasarkan kedua dasar hukum ini dapat diperjelas bahwa seluruh wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau yang tersebar di tengah hamparan laut Indonesia yang sangat luas merupakan tugas dari Polair untuk memelihara keamanan dan ketertiban serta penegakan hukum.
4.1.2 TNI AL
Tugas pokok dan fungsi TNI AL berdasarkan Pasal 9 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Tentara Nasional Indonesia, yaitu sebagai berikut: 1) Melaksanakan tugas TNI matra laut di bidang pertahanan;
2) Menegakan hukum dan menjaga keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi;
3) Melaksanakan tugas diplomasi AL dalam rangka mendukung kebijakan politik luar negeri yang ditetapkan oleh pemerintah;
4) Melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra laut; dan
5) Melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan laut.
Tugas pokok TNI secara umum dapat dilihat pada Pasal 7 ayat (1) yaitu pada intinya menegakan kedaulatan dan mempertahankan keutuhan wilayah NKRI dari ancaman dan gangguan. Pada ayat (2) dijabarkan bahwa tugas pokok dilakukan dengan operasi militer untuk perang dan selain perang. Ditambahkan pada operasi militer selain perang diantaranya adalah membantu kepolisian dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam Undang- Undang. Berdasarkan dasar hukum ini, dapat dijelaskan bahwa terdapat kalimat keamanan pada Pasal 9 ayat (2) di wilayah laut. Hal ini harus diperjelas agar tidak terjadi tumpang tindih dengan lembaga lain seperti Polair.
4.1.3 KKP
Tugas pengawas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dapat dilihat dari Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP 307/DJ-PSDKP/2011 Tentang Penetapan Pengawas pada Unit Pelaksana Teknis, Satuan Kerja dan Pos Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. Keputusan Dirjen tersebut pada urutan kedua mengatakan bahwa pengawas perikanan melaksanakan tugas pengawasan untuk kegiatan:
1) Penangkapan ikan;
2) Pembudidayaan ikan, pembenihan; 3) Pengolahan, distribusi keluar masuk ikan; 4) Distribusi keluar masuk obat ikan; 5) Konservasi;
6) Pencemaran akibat perbuatan manusia; 7) Plasma nutfah;
8) Penelitian dan pengembangan perikanan; 9) Ikan hasil rekayasa genetika;
10) Pengusahaan dan pemanfaatan pasir laut;
11) Pemanfaatan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta benda berharga asal muatan kapal tenggelam (BMKT) berkoordinasi dengan instansi terkait; dan
Kekuatan Matra Laut √
Pertahanan Laut √
Berdasarkan ketiga tupoksi lembaga penegakan hukum dapat dilihat bahwa ketiganya memiliki persamaan tupoksi namun ada juga perbedaannya. Tabel persamaan dan perbedaan tupoksi ketiga lembaga tersebut dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Tupoksi Lembaga Penegakan Hukum
No. Tupoksi Lembaga
Polisi TNI AL PSDKP
1. Keamanan √ √
2. Ketertiban √
3. Penegakan Hukum √ √ √
4. Pertahanan √
5. Diplomasi √
6. Pembangunan dan Pengembangan
7. Pemberdayaan Wilayah
8. Pengawasan Sumberdaya √
Sumber : Pengolahan data primer
Analisis tupoksi lembaga penegakan hukum juga dapat dilihat dengan menggunakan diagram venn. Penggunaan diagram venn bertujuan untuk melihat tupoksi yang beririsan satu lembaga dengan lembaga lain. Keterangan nomor pada diagran venn mengikuti nomor tupoksi pada Tabel 7. Diagram venn didapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5 Diagram Venn Tupoksi Lembaga Penegak Hukum
Berdasarkan diagram venn tersebut, dapat dilihat bahwa polisi memiliki tumpang tindih tupoksi keamanan dengan TNI AL. Ketiga lembaga memiliki tumpang tindih tupoksi penegakan hukum. Tupoksi ketertiban hanya dimiliki oleh
Polisi, begitupun dengan tupoksi pengawasan hanya dimiliki PSDKP. Lembaga TNI AL juga memiliki tuposi yang berbeda dengan yang lain, antara lain pertahanan, diplomasi, pembangunan dan pertahanan kekuatan matra laut, dan pemberdayaan wilayah pertahanan laut.
Objek penegakan hukum Polisi secara geografis adalah daratan dan lautan. Apabila dispesifikasi permasalahnnya, misalnya tindakan pencurian ikan, maka polair merupakan lembaga yang bertugas untuk memproses secara hukum. TNI AL dengan sangat jelas juga memiliki tugas dalam menegakan hukum di wilayah laut nasional. Jadi apabila ada suatu pelanggaran di laut, maka TNI AL juga merupakan lembaga yang bertugas untuk memprosesnya secara hukum. Pengawas SDKP juga memiliki tugas penegakan hukum, walau tidak disebutkan secara jelas, namun kegiatan yang disebutkan dalam Keputusan Dirjen merupakan kegiatan yang apabila dilanggar, akan terjerat hukum. Sebagai contoh kegiatan penangkapan ikan, apabila terjadi pelanggaran dalam kegiatan penangkapan ikan maka dapat dikenakan sangsi hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku yakni dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Dengan demikian jelas bahwa ketiga lembaga tersebut memiliki tugas sama yakni penegakan hukum di wilayah laut nasional.
4.2 Analisis Hukum
Analisis hukum menggunakan dua variabel, yakni variabel kewenangan dan variabel kewilayahan.
4.2.1 Variabel kewenangan
Variabel kewenangan menggunakan enam dasar hukum, antara lain Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009, Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004, Kesepakatan Bersama antara Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia No: 10/KB/Dep.KP/2003 atau No.Pol: B/4042/VIII/2003 tentang Penegakan Hukum di Bidang Kelautan dan Perikanan, dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.11/Men/2006 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.13/MEN/2005
tentang Forum Koordinasi Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perikanan. Analisis variabel kewenangan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Analisis Variabel Kewenangan
Dasar Hukum Lembaga
Polisi TNI AL PSDKP Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1983 tentang ZEEI Pasal 14 Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2002 tentang Kepolisian Negara RI Pasal 13 Pasal 41 Undang-Undang Nomor 31 Tahun
2004 junto Undang-Undang Nomor Pasal 73 Pasal 73 Pasal 73 45 Tahun 2009 tentang Perikanan
Undang-Undang Nomor 34 Tahun
2004 tentang TNI Pasal 9
Kesepakatan Bersama antara Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia No: 10/KB/Dep.KP/2003 atau No.Pol: B/4042/VIII/2003 tentang Penegakan Hukum di Bidang Kelautan dan Perikanan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
PER.11/Men/2006 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
Pasal 1 Pasal 1
Pasal 4 Pasal 4 Pasal 4 PER.13/MEN/2005 tentang Forum
Koordinasi Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perikanan. Sumber : Pengolahan data primer
Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa masing-masing undang-undang memberikan kewenangan yang sama ataupun tidak pada lembaga. Undang- undang tentang perikanan memberikan kewenangan kepada ketiga lembaga.Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 dan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 hanya memberikan kewenangan kepada TNI AL. Pasal 14 undang- undang tentang ZEEI menjelaskan bahwa aparatur penegak hukum di bidang penyidikan di ZEEI adalah perwira TNI AL yang ditunjuk oleh Panglima Angkatan Bersenjata RI. Pasal 9 ayat (2) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 juga memberikan jabaran bahwa TNI AL memiliki tugas menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan
hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi. Aparatur TNI AL dalam menjalankan tugasnya memiliki wewenang berdasarkan Pasal 13 Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1983 yaitu melakukan penangkapan terhadap kapal dan/atau orang-orang yang diduga melakukan pelanggaran di ZEEI meliputi tindakan penghentian kapal sampai dengan diserahkannya kapal dan/atau orang- orang tersebut di pelabuhan dimana perkara tersebut dapat diproses. Penyerahan ini harus dilakukan secepat mungkin dan tidak boleh melebihi jangka waktu tujuh hari, kecuali apabila terdapat keadaan force majeure. Ketentuan pidana diatur pada Pasal 16 dan 17 yaitu apabila terdapat pelanggaran terhadap kegiatan di ZEEI dipidana dengan denda setinggi-tingginya Rp. 225.000.000,-. Tindakan yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup diancam dengan pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang lingkungan hidup. Kegiatan merusak atau memusnakan barang bukti yang digunakan untuk melakukan tindak pidana, dipidana dengan pidana denda setinggi-tingginya Rp. 75.000.000,-.
Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 memberikan kewenangan kepada dua lembaga yaitu Polisi, dan TNI AL. Pasal 13 dijabarkan bahwa tugas pokok Kepolisian antara lain adalah menegakan hukum. Hal ini berarti bahwa polisi bertangggung jawab dalam penegakan hukum di seluruh wilayah Republik Indonesia termasuk wilayah laut. Pasal 41 menambahkan, dalam rangka melaksanakan tugas keamanan, Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat meminta bantuan TNI yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.11/Men/2006 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.13/MEN/2005 memberikan kewenangan kepada ketiga lembaga yakni Polisi, TNI AL, dan PSDKP. Pasal 73 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 junto Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 menjelaskan bahwa penyidikan tindak pidana di bidang perikanan dilakukan oleh PSDKP, perwira TNI AL, dan pejabat Kepolisi Negara Republik Indonesia. Penyidik dapat melakukan koordinasi dalam penanganan penyidikan yang kemudian Menteri
membentuk forum koordinasi tersebut. Wewenang penyidik disebutkan dalam Pasal 73A antara lain:
1) Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana di bidang perikanan;
2) Memanggil dan memeriksa tersangka dan/atau saksi untuk didengar keterangannya;
3) Membawa dan menghadapkan seseorang sebagai tersangka dan/atau saksi untuk didengar keterangannya;
4) Menggeledah sarana dan prasarana perikanan yang diduga dalam atau menjadi tempat melakukan tindak pidana di bidang perikanan;
5) Menghentikan, memeriksa, menangkap, dan/atau menahan kapal dan/atau orang yang disangka melakukan tindak pidana di bidang perikanan;
6) Memeriksa kelengkapan dan keabsahan dokumen usaha perikanan;
7) Memotret tersangka dan/atau barang bukti tindak pidana di bidang perikanan; 8) Mendatangkan ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan tindak
pidana di bidang perikanan;
9) Membuat dan menandatangai berita acara pemeriksaan;
10) Melakukan penyitaan terhadap barang bukti yang digunakan dan/atau hasil tindak pidana;
11) Melakukan penghentian penyidikan; dan
12) Mengadakan tindakan lain yang menurut hukum dapat dipertanggungjawabkan.
Penyidikan sesuai dengan Pasal 73B undang-undang tentang perikanan memberitahukan dimulainya penyidikan kepada penuntut umum paling lama tujuh hari sejak ditemukan adanya tindak pidana. Untuk kepentingan penyidikan, penyidik dapat menahan tersangka paling lama 20 hari. Apabila pemeriksaan belum selesai dapat diperpanjang oleh penuntut umum paling lama 10 hari. Apabila telah lewat 30 hari, maka penyidik harus mengeluarkan tersangka dari tahanan. Namun apabila kepentingan pemeriksaan sudah terpenuhi sebelum 30 hari, maka tersangka dapat segera dikeluarkan. Penyidik harus menyampaikan hasil penyidikan kepada penuntut umum paling lama 30 hari sejak pemberitahuan dimulainya penyidikan.
Pasal 2 Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.11/Men/2006 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.13/MEN/2005 tentang Forum Koordinasi Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perikanan mengatakan bahwa forum tersebut mempunyai tugas mensinkronisasikan dan mengkoordinasikan kegiatan penanganan tindak pidana di bidang perikanan yang dilaksanakan oleh masing-masing instansi terkait agar efektif, efisien, dan memenuhi rasa keadilan. Susunan anggota forum dijabarkan pada Pasal 4 dengan Ketua adalah Menteri Kelautan dan Perikanan, Wakil Ketua I adalah Kepala Kepolisian Negera RI, dan Wakil Ketua II adalah Kepala Staf TNI AL.
Keputusan Menteri merupakan kesepakatan bersama antara Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang diwakili oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dengan Kepolisian Negara yang diwakili oleh Kepala Kepolisian Negara. Kesepakatan ini didasari bahwa pihak DKP merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam pengelolaan kegiatan perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengawasan sumberdaya kelautan dan perikanan, peningkatan kapasitas kelembagaan dan pemasaran, pemberdayaan pesisir dan pulau-pulau kecil, serta riset kelautan dan perikanan. Sedangkan pihak kepolisian merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakan hukum dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat serta melindungi kepentingan nasional. Salah satu tujuan dari kesepakatan sebagaimana dituangkan dalam Pasal 1 adalah meningkatkan kooordinasi dan kerjasama dalam rangka pelaksanaan penegakan hukum terhadap tindak pidana yang terkait dengan bidang kelautan dan perikanan di wilayah perairan Indonesia.
4.2.2 Variabel kewilayahan
Variabel kewilayahan juga dilihat dari enam dasar hukum seperti pada variabel kewenangan. Kewilayahan secara geografis menggunakan empat wilayah yaitu perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, dan ZEEI. Analisis variabel kewenangan dapat dilihat pada Tabel 9.
Tahun 1983 tentang ZEEI TNI AL
Tahun 2004 tentang TNI TNI AL TNI AL TNI AL TNI AL Tabel 9 Analisis Variabel Kewilayahan
Wilayah Lembaga Perairan Pedalaman Perairan Kepulauan Laut Teritorial ZEEI Undang-Undang Nomor 5 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI
Polisi TNI AL PSDKP Polisi TNI AL PSDKP Polisi TNI AL PSDKP Undang-Undang Nomor 31
Tahun 2004 junto Undang- Undang Nomor 45 Tahun 2009 ttg Perikanan Polisi TNI AL PSDKP Polisi TNI AL PSDKP Polisi TNI AL PSDKP TNI AL PSDKP Undang-Undang Nomor 34
Kesepakatan Bersama antara Departemen Kelautan dan Perikanan Republik
Indonesia dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia No: 10/KB/Dep.KP/2003 Polisi PSDKP Polisi PSDKP Polisi PSDKP atau No.Pol: B/4042/VIII/2003 tentang Penegakan Hukum di Bidang Kelautan dan Perikanan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor