• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT) LPPM UNTAN

BAB II LANDASAN PENGEMBANGAN LPPM UNTAN

2.4 Analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT) LPPM UNTAN

Evaluasi diri dianalisis dengan analisis SWOT. Analisis SWOT diperlukan dalam rangka untuk penyusunan panduan pengembangan LPPM UNTAN sehingga strategi pengembangan yang digunakan sesuai posisi strategis pada saat ini dan kondisi idealnya. Srategi ini diperlukan untuk melakukan pemetaan dengan baik kebijakan maupun arah pengembangan yang akan dicapai maupun tahapan-tahapan untuk mencapai kondisi tersebut. Indikator internal sistem terdiri dari gambaran kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) sedangkan indikator eksternal sistem merupakan peluang (Opportunity) dan ancaman (Threats).

2.4.1 Evaluasi Faktor Strategis Internal

Faktor strategis internal terdiri dari dua faktor: kekuatan (Strength) dan Kelemahan (Weakness), dimana rekapitulasi evaluasi disajikan pada Tabel 2.4. Berdasarkan hasil analisis, terdapat 12 faktor strategis internal yang dapat menjadi kekuatan dan kelemahan didalam mengembangkan LPPM UNTAN.

KEKUATAN (STRENGTH)

Terdapat enam faktor kekuatan sebagai faktor strategis internal untuk pengembangan LPPM UNTAN yang disajikan sebagai berikut.

1. Visi dan Misi: Untan dan LPPM telah memiliki visi dan misi yang jelas, terukur dan menunjang

peningkatan penelitian baik pada level lokal, regional, nasional, dan internasional. Hal ini menjadi penting karena merupakan dasar agar pada peneliti dan pengelola penelitian memiliki visi yang kuat dan misi yang sama.

2. Sumber Daya Manusia: Untan telah memiliki sumber daya manusia yang memadai. Kualifikasi strata

pendidikan tenaga pendidik di Untan didominasi 57,85% (560) tenaga pendidik berpendidikan S2 dan 42,15% (408) tenaga pendidik berpendidikan S3. Disamping itu, telah banyak tenaga pendidik yang memiliki H-index di atas 3, sehingga dapat mengajukan jumlah penelitian yang lebih banyak sesuai syarat Kemenristek/BRIN.

3. Manajemen Pengelolaan Riset: Pengelolaan dana dan aktivitas riset telah ditingkatkan beberapa tahun terakhir. SIM-LPPM merupakan aplikasi internal Untan, seperti Simlitabmas, yang berfungsi mengelola seluruh jenis penelitian yang ada di Untan, baik yang berasal dari dana DIPA Untan, Kemenristek/BRIN, LPDP, Kerjasama, dana mandiri, dan lainnya. Di samping itu, LPPM memiliki 5 operator Simlitabmas yang membantu dosen dalam proses pengusulan, monitoring, sampai pada pelaporan hasil-hasil penelitian. Untan juga saat ini memiliki tiga reviewer nasional penelitian dan satu reviewer PPM untuk dana dari Kemenristek/BRIN. Para reviewer selalu membantu memberikan masukan dalam meningkatkan pengelolaan riset dibawah LPPM Untan. Untan juga sejak tahun 2017 telah masuk pada klaster Mandiri, hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan riset-riset Kemenristek/BRIN dapat dilakukan dengan sangat baik.

4. Pendanaan Riset: Setiap tenaga pendidik selalu memiliki kesempatan melakukan penelitian, karena setiap Fakultas telah menyediakan dana penelitian bersumber dari dana DIPA untuk setiap dosen melakukan penelitian. Hal ini memperlihatkan bahwa semua tenaga pendidik tetap dapat melakukan penelitian meskipun tidak mendapat/lolos hibah kompetisi dari eksternal. Disamping itu, setiap tahun, jumlah penerima dana penelitian kompetitif nasional cukup banyak, kecuali di tahun 2020, dikarenakan

- 18 -

pandemi Covid-19, dimana dana-dana penelitian baru usulan tenaga pendidik dari Untan yang lolos hibah Kemenrisktek/BRIN digeser ke tahun 2021.

5. Sarana dan Prasarana: LPPM Untan dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian didukung oleh sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Untan. Laboratorium terpadu, laboratorium-laboratorium yang terdapat pada masing-masing fakultas, kebun-kebun percobaan di beberapa wilayah, perpustakaan digital dan non-digital, pusat komputer, unit-unit bahasa yang memiliki beberapa corner untuk mempelajari bahasa dan budaya daerah beberapa negara (American corner, BCLC untuk Inggris, Kedai Perancis, Mandarin center, dan Japan corner). Hal ini dapat menunjang penelitian baik dari sisi aktivitas riset secara substansial, maupun interaksi budaya dengan peneliti asing khususnya yang berasala dari negara-negara terkait dengan corner yang ada. Disamping itu, LPPM juga memiliki aula yang selalu digunakan dalam diseminasi, monitoring dan evaluasi, serta kegiatan lain dalam rangka meningkatkan atmosfer penelitian dan meningkatkan aktivitas-aktivitas pendukung untuk mengejar luaran-luaran serta komersialisasi penelitian.

6. Unit-unit Pendukung: LPPM memiliki tiga unit utama, antara lain: Pusat Ketahanan Jurnal dan Publikasi (PKJP), Pusat Hak Kekayaan Intelektual (PHKI), dan Pusat Inkubator Bisnis dan Teknologi (PIBT). PKJP memiliki peran untuk meningkatkan publikasi para tenaga pendidik yang sekaligus berdampak langsung pada luaran-luaran penelitian yang dijanjikan, serta meningkatkan kapasitas dan level akreditasi jurnal-jurnal terbitan Untan. Disamping itu, PKJP juga memfasilitasi pembuatan buku-buku sebagai diseminasi penelitian baik sebagai referensi/monograf maupun buku-buku ajar. PHKI memiliki peran untuk meningkatkan perlindungan hak kekayaan intelektual dari hasil-hasil penelitian para tenaga pendidik, baik dalam bentuk paten, hak cipta, merk, desain industri, dan lainnya. HKI ini menjadi perlindungan awal ketika sebuah produk penelitian berpotensi untuk dapat dikomersialisasikan. Selanjutnya, PIBT memiliki peran untuk dapat mengangkat hasil-hasil inovasi dari penelitian yang berpotensi untuk komersialisasi dengan mendorong terciptanya start-up baru, yang kedepannya akan memberikan keuntungan bagi Untan, pengelola, dan inventor. Disamping itu, LPPM juga memiliki beberapa pusat studi yang mendorong terciptakan kerjasama di level lokal dan regional.

KELEMAHAN (WEAKNESS)

Terdapat lima faktor kelemahan yang termasuk ke dalam faktor strategis internal untuk pengembangan LPPM UNTAN, dimana rekapitulasinya disajikan pada pada Tabel 2.5. Adapun factor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

7. Komunikasi antar unit: Masih terdapat kelemahan dalam komunikasi antar unit, lembaga, maupun fakultas dalam menyatukan visi penelitian sebagai satu target besar intitusi Untan. Hal ini secara umum disebabkan oleh dua faktor: perbedaan ketertarikan pada fokus riset dan pengelolaan pendanaan khususnya dana penelitian DIPA yang masih dikelola secara desentralisasi (masing-masing fakultas), sehingga luaran-luaran penelitian tidak dapat dipantau dengan baik. Di samping itu, untuk beberapa kegiatan, informasi pentingnya sebuah aktifitas tidak benar-benar dapat disampaikan kepada targt peserta yang diinginkan. Hal ini dapat disebabkan informasi yang kurang lengkap tersampaikan (karena keterbatasan penjelasan maksud di dalam surat) ataupun kurangnya kesadaran peserta target akan pentingnya workshop atau kegiatan yang diselenggarakan LPPM dan unit-unitnya sebagai upaya untuk mendorong peningkatan kualitas dan kualitas riset tenaga pendidik.

- 19 -

8. Riset multi-disiplin: Telah terdapat beberapa riset multi-disiplin, namun secara persentase, masih dapat dikatakan sangat kurang jika melihat total jumlah tenaga pendidik yang ada. Umumnya, penelitian masih terbatas pada lintas konsentrasi di prodi yang sama, ataupun lintas prodi di fakultas yang sama. Hal ini masih perlu terus didorong, sehingga hasil penelitian yang bersifat multi-disiplin lebih banyak dilakukan, karena lebih berpotensi untuk dapat dihilirisasi ke masyarakat.

9. Manajemen riset kerja-sama: Kegiatan kerja sama umumnya dilakukan oleh Wakil rektor IV. Dalam pelaksanaan kerja sama riset, saat ini belum ada satu unit yang secara eksplisit menaunginya, sehingga belum terintegrasi di bawah koordinasi LPPM. Kerjasama riset dapat di level prodi, fakultas, LPPM dan universitas, dimana pada kegiatannya dapat bergerak masing-masing tanpa koordinasi. Akan lebih baik, jika LPPM berperan dalam membentuk unit manajemen riset kerja-sama di semua level dengan tentunya tetap melibatkan aktor-aktor utama di masing-masing level (prodi, fakultas, universitas, maupun unit-unit) sebagai coordinator. Dengan demikian, semua penelitian Kerjasama dapat terekam, tidak hanya riset kerja sama yang ada di bawah LPPM saat ini. Hal ini bisa meningkatkan profil dan diseminasi hasil-hasil penelitian dengan lebih baik dengan pihak luar yang ingin bekerja sama dapat dengan mudah mengetahui semua hasil-hasil riset seluruh tenaga pendidik melalui satu pintu, LPPM.

10. Lab-lab tersertifikasi dan penunjang sertifikasi: Meskipun saat ini telah diupayakan sertifikasi lab,

namun kondisi eksisting Untan belum lab-lab tersertifikasi. Di beberapa lab, terdapat lab yang melakukan sertifikasi pada mutu ataupun analisis, namun masih terbatas pada hubungan dengan konsumen dari luar kampus. Dalam riset, ada kalanya prosedur riset membutuhkan sertifikasi baik pada metoda, bahan, instrumentasi, hasil ukur dan lainnya, namun hal ini banyak dilakukan dengan mengirimkan sampel ataupun dokumen ke luar daerah. Sebagai akibat, hasil-hasil penelitian sedikit terkendala pada waktu analisis, dan kelayakan hasil.

11. Komersialisasi Riset: Komersialisasi belum benar-benar menjadi target pada tenaga pendidik di beberapa tahun terakhir. Orientasi inovasi berbasis produk yang dapat dikomersialisasikan masih belum betul-betul merata kepada peneliti. Hal ini dapat terjadi karena wawasan untuk mengkomersialisasikan produk yang masih terbatas sehingga perlu pembinaan ataupun riset yang bergerak top-down sehingga belum menjawab kebutuhan terkini dari masyarakat. LPPM masih perlu meningkatkan pembinaan dalam hal komersialisasi riset, sehingga nantinya akan memberikan keuntungan bagi Untan.

2.4.2. Evaluasi Faktor Strategis Eksternal

Berdasarkan hasil analisis diperoleh sepuluh faktor strategis eksternal utama yang dapat menjadi

peluang (Opportunity) dan ancaman (Threats) didalam mengembangkan LPPM UNTAN. PELUANG

Terdapat enam peluang sebagai faktor strategis eksternal yang dimiliki dalam pengembangan LPPM UNTAN.

1. Kondisi geografis: Kondisi geografis provinsi Kalimantan Barat, merupakan peluang bagi pengembangan tema-tema riset yang menjadi fokus utama Untan. Kalimantan Barat merupakan provinsi terluas ke-4 di Indonesia dengan jumlah penduduk 5.609.127 jiwa (BPS, 2019), berbatasan dengan Serawak Malaysia, ibu kota provinsi (Pontianak) dilintasi garis Khatulistiwa, memiliki sungai terpanjang di Indonesia (Sungai Kapuas), dan merupakan salah satu kawasan paru-paru dunia. Kondisi geografis ini merupakan peluang yang sangat baik bagi pengembangan riset-riset, yang dapat

- 20 -

diadopsi secara global. Semua tenaga pendidik dari sembilan fakultas yang ada dapat terlibat dalam pengembangan riset, karena kondisi masyarakat yang heterogen dan kondisi alam yang menantang untuk diteliti, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan. 2. Telah adanya inisiasi kerjasama (MoU) dengan mitra lokal, regional, nasional dan internasional:

Untan telah memiliki banyak kerjasama dengan dokumen MoU baik dengan mitra lokal, nasional, dan internasional. Implementasi dari MoU tersebut dalam rangka peningkatan riset kolaborasi perlu ditingkatkan,

3. Tersedianya Pendanaan riset skala nasional dan internasional secara rutin: Saat ini telah tersedia pendanaan riset kompetitif skala nasional dan internasional dimana banyak tenaga pendidik Untan yang telah berpengalaman menerima hibah-hibah penelitian.

4. Hubungan yang baik Untan dengan stakeholders: Untan saat ini memiliki hubungan baik dengan stakeholder khususnya di Kalimantan Barat maupun di level nasional.

5. Untan anggota konsorsium riset di Kalimantan dan Borneo (Kalimantan, Malaysia, dan Brunei): Untan merupakan salah satu institus anggota Borneo Studies Network (BSN) dimana Universiti Brunei Darussalam (UBD) sebgaia koordinator dan anggota berasala dari Universitas-universitas di Kalimantan dan Malaysia (UNIMAS dan Universiti Sabah)

6. Tersedianya berbagai lokasi untuk hilirisasi hasil penelitian: Untan saat ini telah memiliki desa binaan dan lokasi-lokai tanah milik Untan (kebun) yang dapat digunakan untuk penelitian. Disamping itu, satu Science techno Park (STP) akan diresmikan awal tahun ini, sehingga dapat menunjang hilirisasi penelitian-penelitian dosen.

ANCAMAN

Terdapat empat ancaman sebagai faktor strategis eksternal utama yang dihadapi dan diantisipasi dalam pengembangan LPPM UNTAN.

7. Kemudahan untuk mendapatkan pendanaan riset dimana syarat dan persaingan semakin sulit: Syarat penelitian, khususnya yang berasal dari Kemenristek/BRIN dan Internasional semakin berat baik dari administrasi maupund dari substansi. Hal ini merupakan ancaman yang perlu diantisipasi untuk dapat bersaing dengan peneliti-peneliti lain sehingga dapat tembus mendapatkan pendanaan riset dari luar.

8. Tingkat kemampuan peneliti Untan bersaing dengan peneliti luar, terlebih saat ini peneliti asing

dapat masuk ke kawasan Kalimantan Barat dengan mudah: Peneliti Untan belum banyak yang

melakukan kerja sama luar negeri dengan kendala utama di bahasa, jejaring, dan administrasi yang berbelit-belit, sehingga banyak peneliti asing yang menggandeng pihak lain (LSM ataupun institusi lainnya) untuk dapat melakukan penelitian di kawasan Kalimantan Barat. Hal ini merupakan ancaman yang harus diantisipasi, karena akan merugikan Untan sebagai salah satu institusi besar di Kalimantan Barat.

9. Jumlah industri pendukung yang dapat memproduksi hasil-hasil penelitian dosen-dosen Untan: Saat ini, para peneliti sebagian besar harus mencari sendiri mitra industri dalam melakukan uji produksi produk penelitiannya sehingga dapat dipasarkan. Bagi sebagian peneliti lain, bahkan kesulitan untuk mendapatkan mitra industri. Hal ini merupakan ancama terhadap bisa atau tidaknya produk-produk penelitian dapat diproduksi.

- 21 -

10. Kemudahan proses administrasi penelitian: Proses administrasi penelitian masih merupakan momok bagi peneliti-peneliti Untan, disamping keterlambatan pendanaan. Hal ini mengurangi motivasi pada tenaga pendidik untuk mau mengajukan proposal riset. Hal ini merupakan ancaman serius yang perlu diantisipasi. Kemudahan proses administrasi perlu difasilitasi.

2.4.3 Penilaian Faktor Internal dan Eksternal

Penilaian pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap pengembangan LPPM UNTAN menggunakan model matriks internal factors analysis summary (IFAS) dan matriks external factors

analysis summary (EFAS).

a. Penilaian Faktor Internal

Analisis faktor internal untuk mengidentifikasi pengembangan LPPM UNTAN disusun dalam matrik yang disajikan pada Tabel 2.4. Pemberian bobot untuk menentukan tingkat kepentingan suatu faktor kritis. Pembobotan dilakukan dengan mempertimbangkan kedudukan faktor kritis terhadap arah pengembangan hilirisasi penelitian LPPM UNTAN. Skala pada nilai pembobotan berada pada interval sangat penting (nilai 3) hingga sangat tidak penting (nilai 1). Rating menunjukkan kondisi eksisting, dimana nilai terendah adalah 1 dan tertinggi adalah 5, dimana jika nilai ratingnya 3 ke atas, faktor strategis terkait dapat menjadi kekuatan (internal), namun ketika nilai rating dibawah 3 maka faktor strategis terkait menjadi kelemahan (internal). Table 2.4 memperlihatkan hal-hal yang perlu ditingkatkan secara signifikan pada lingkup internal sehingga kelemahan dapat diantisipasi dan kedepan dapat menjadi kekuatan.

Tabel 2.4. Rekapitulasi Hasil Evaluasi Faktor Strategis Internal (IFAS): Kekuatan (Strength) dan Kelemahan (Weakness)

Faktor strategis internal, kekuatan, berpengaruh dalam pengembangan LPPM UNTAN. Berdasarkan data olahan pada Tabel 2.4, maka menghasilkan nilai faktor kekuatan adalah 2,51, lebih tinggi dari nilai faktor kelemahan yaitu 0,54, dimana total skor faktor strategis internal adalah 3,06. Nilai maksimum dari faktor tersebut adalah 5. Program-program LPPM mesti dapat mendorong peningkatan skor total dari faktor strategis internal mendekati nilai 5.

- 22 -

c. Penilaian Faktor Eksternal

Analisis penilaian faktor untuk mengidentifikasi pengembangan LPPM UNTAN disusun dalam matrik yang tersaji dalam Tabel 2.5 memperlihatkan faktor strategis di luar Untan (eksternal) dimana peluang-peluang yang telah ada dapat menunjang kemajuan penelitian, sementara ancaman perlu diwaspadai dan diantisipasi sehingga kedepan dapat menjadi peluang baru ketika nilai ratingnya 3 ke atas. Skala pada nilai pembobotan berada pada interval sangat penting (nilai 3) hingga sangat tidak penting (nilai 1). Rating menunjukkan kondisi eksisting, dimana nilai terendah adalah 1 dan tertinggi adalah 5, dimana jika nilai ratingnya 3 ke atas, faktor strategis terkait dapat menjadi peluang (eksternal), namun ketika nilai rating dibawah 3 maka faktor strategis terkait menjadi ancaman (eksternal). Table 2.5 memperlihatkan hal-hal yang perlu ditingkatkan secara signifikan pada lingkup eksternal sehingga ancaman dapat diantisipasi dan kedepan dapat menjadi peluang.

Tabel 2.5. Rekapitulasi Hasil Evaluasi Faktor Strategis Eksternal (EFAS): Peluang (Opportunity) dan Ancaman (Threats)

Faktor strategis eksternal, Peluang, mendukung pengembangan LPPM UNTAN. Berdasarkan data olahan pada Tabel 2.5, maka menghasilkan nilai faktor Kekuatan adalah 2,64, lebih tinggi dari nilai faktor Ancaman yaitu 0,44, dimana total skor faktor strategis eksternal adalah 3,06. Nilai maksimum dari faktor tersebut adalah 5. Program-program LPPM mesti dapat memanfaatkan peluang yang ada dan mengantisipasi ancaman agar kedepan menjadi berkurang dan mengubahnya menjadi peluang. Demi mendorong peningkatan skor total dari faktor strategis eksternal mendekati nilai 5.

- 23 -

Gambar 2.5. Kuadran SWOT

Tabel 2.6. Fokus Strategi berdasarkan Analisis SWOT

Kuadran Posisi Titik

Luas Matrik Ranking Prioritas Strategi Hasil Strategi I (2.51, 2.63 ) 6,60 1 Agresif Expansion II (-0.51, 2.63) 1,34 2 Rasionalisasi Stability

III (-0.51, -0,44) 0,22 4 Bertahan Retrenchment

IV ( 2,51, -0,44) 1,10 3 Diversifikasi Combination

Berdasarkan perhitungan matrik IFAS dan EFAS dapat dilihat bahwa strategi pengembangan LPKKM UNTAN berada di daerah kuadran tiga (I). Hal ini menunjukkan jika dibandingkan dengan kelemahan dan ancaman, nilai kekuatan dan peluang lebih tinggi sehingga perkembangan untuk kedepan akan lebih baik. Lebih jauh lagi, akumulasi untuk IFAS dan EFAS berdasarkan lingkup internal dan eksternal diperlihatkan pada Gambar 2.6. Secara umum, nilai 3 ke atas sudah sangat baik, dimana paling ideal adalah 5. Jika untuk faktor strategis internal kelemahan yang berhasil diatasi melalui strategi yang dilakukan (rating 3 ke atas, dengan maksimum 5), maka akan berubah menjadi kekuatan, sehingga meningkatkan nilai IFAS menuju skor 5 (maksimum). Demikian juga ancaman dapat hilang atau berubah menjadi peluang, sehingga meningkatkan total EFAS menuju skor 5 (maksimum).

- 24 -

Gambar 2.6. Kurva IFAS dan EFAS LPPM Untan

Analisis Matrik SWOT untuk melihat upaya pengembangan LPKKM UNTAN disajikan pada Tabel 2.7.

Tabel 2.7 Matrik Analisis SWOT

FAKTOR INTERNAL

FAKTOR EKSTERNAL

KEKUATAN (S) KELEMAHAN (W)

S1. Visi dan Misi

S2. Sumber Daya Manusia

S3. Manajemen Pengelolaan Riset S4. Pendanaan Riset

S5. Sarana Prasarana S6. Unit-unit Pendukung

W1. Komunikasi antar unit W2. Riset Multi-Disiplin

W3. Manajemen Riset Kerjasama W4. Lab-lab Tersertifikasi dan

Penunjang Sertifikasi

W5. Hilirisasi dan Komersialisasi

Riset

PELUANG (O) STRATEGI S-O STRATEGI W-O

O1. Kondisi Geografis O2. Telah adanya inisiasi

kerjasama (MoU) dengan mitra lokal, regional, nasional dan internasional

O3. Tersedianya Pendanaan

riset skala nasional dan internasional secara rutin

O4. Hubungan yang baik Untan

dengan stakeholders

O5. Untan anggota konsorsium

riset di Kalimantan dan Borneo (Kalimantan, Malaysia, dan Brunei)

O6. Tersedianya berbagai

lokasi untuk hilirisasi hasil penelitian

1. Memprioritaskan

penelitian-penelitian yang diarahkan pada keunikan kondisi geografis yang dimiliki Kalimantan Barat (lokasi di garis equator, sungai Kapuas sebagai sungai terpanjang di Indonesia, hutan tropis, lahan basah-gambut, perkebunan sawit yang luas, kemajemukan

masyarakat, perbatasan). [S1,S2,S4,S5,S6 - O1]

2. Merevitalisasi MoU yang ada dan

implementasi kerjasama riset dengan mitra lokal, regional, nasional, dan internasional dengan membuat unit khusus yang dapat mempercepat realisasi kerja-sama riset.

[S2,S3,S4,S6 – O2]

3. Melakukan pelatihan-pelatihan

pembuatan proposal dan

pengajuan secara rutin dan lebih sering, untuk mendapatkan pendanaan-pendanan riset baik di level nasional maupun

internasional.

[S1,S2,S3,S4,S5,S6 – O3]

1. Memperkuat komunikasi antar unit (pusat-pusat studi, prodi, jurusan, fakultas, TIK), agar dapat menglimplementasikan peluang kerjasama dan mengimplementasi hasil riset baik ke mitra maupun lokasi-lokasi yang dimiliki Untan (kebun penelitian, mitra binaan, dan lainnya) agar dapat

melahirkan tema-tema riset yang dapat dihilirasi. [O2,O4,O5,O6 – W1] 2. Mendorong Peneliti untuk

melakukan penelitian yang terkait kearifan lokal dengan tim peneliti multi-disiplin dalam proposal-proposal riset yang diajukan.

[O1,O3,O5,O6 – W2]

3. Membentuk tim khusus untuk memanajemen riset-riset kerjasama agar dapat

membantu dan selaras dengan arah kebijakan dan tema penelitian strategis Untan dengan menggalakkan kembali

- 25 -

4. Meningkatkan komunikasi dengan

stakeholder, membuat event-event untuk menemukan peneliti dengan stakeholder agar muncul teman-tema penelitian sebagai solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi stakeholder,

mendesiminasikan hasil-hasil penelitian dosen-dosen Untan kepada stakeholder, serta mewujudkan kampus merdeka terkait bidang penelitian. [S2,S3,S4,S5,S6 – O4]

5. Merevitalisasi kerjama riset dengan

anggota konsorsium Borneo Studies Network (BSN) dan Kalimantan University Consortium (KUC) yang sudah terbentuk untuk menghasilkan tema-tema dan luaran riset berkaitan dengan kawasan Borneo dan Kalimantan yang memilki kondisi geografis yang hampir sama.

[S1,S2,S3,S4,S5,S6 – O5]

6. Memanfaat lokasi-lokasi yang

dimiliki Untan untuk riset dan hilirisasinya, merealisasikan Science Techno Park (STP), memperbanyak lokasi (misal: desa, kecamatan, sekolah, UMKM) binaan untuk hilirisasi hasil-hasil penelitian, serta memprioritaskan riset-riset yang menghasilkan produk-produk komersial dalam pendanaan riset internal. [S2,S3,S4,S5,S6 – O6]

kerjasama dengan mitra yang ada ataupun mitra potensial yang baru.

[O2,O3,O4,O5 – W3]

4. Melakukan kerjasama dengan mitra yang ada baik melalui resource sharing maupun pendanaan, agar dapat terwujud lab-lab yang tersertifikasi di Untan, serta mendorong adanya kemudahan peneliti untuk melakukan uji sertifikasi di tempat mitra yang ada jika instrumen uji tidak terdapat di Untan, sehingga mendukung terwujudnya luaran penelitian dosen.

[O2,O4,O5 – W4]

5. Lokasi-lokasi kebun Untan yang ada, mitra binaan- pengguna-penelitian, serta masyarakat umum didorong untuk dapat menjadi lokasi hilirisasi penelitian dosen-dosen Untan.

[O1,O4,O6 – W5]

ANCAMAN (T) STRATEGI S-T STRATEGI W-T

T1. Kemudahan untuk

mendapatkan pendanaan riset dimana syarat dan persaingan semakin sulit

T2. Tingkat kemampuan peneliti

Untan bersaing dengan peneliti luar, terlebih saat ini peneliti asing dapat masuk ke kawasan Kalimantan Barat dengan mudah

T3. Jumlah industri pendukung

yang dapat memproduksi hasil-hasil penelitian dosen-dosen Untan

T4. Kemudahan proses

administrasi penelitian

1. Dengan SDM yang kuat, LPPM dapat melakukan coaching clinic bedah proposal oleh reviewer nasional dan peneliti yang pernah berhasil mendapatkan hibah, memberikan pendanaan riset melalui DIPA Untan dengan melalui seleksi internal, sehingga semua dosen dapat melakukan riset setiap tahun.

[S2,S4 – T1]

2. Memanfaatkan sarana unit pusat bahasa dan pusat budaya asing di Untan untuk terus meningkatkan kemampuan peneliti dalam berkomunikasi dengan bahasa asing, bekerjasama dengan kedutaan, kemenrisek/BRIN, LIPI dan pihak yang terkait dengan ijin peneliti asing agar mitra asing dapat lebih mudah melakukan kerja sama riset dengan dosen-dosen dari Untan sebagai mitra. [S2,S3,S5,S6 – T2[

1. Meminimisasi kendala dalam komunikasi antar unit (lembaga, fakultas, prodi, dan pusat aktivitas) untuk meningkatkan kemudahan dalam

mendapatkan pendaaan dan melakukan administrasi riset, agar ancaman ketiadaan pendaaan dapat terhindari. [W1 – T1,T4]

2. Meminimisasi riset disiplin tunggal, dan menggalakkan riset multi-disiplin dalam program-program penelitian khususnya yang didanai internal, sehingga dapat meningkatkan kemampuan bersaing dengan peneliti luar. [W2 – T2]

3. Membentuk unit manajemen riset kerja sama, sehingga setiap kerja sama penelitian dapat dikoordinis oleh LPPM dan dapat menjadi road map

Dokumen terkait