VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1. Analisis Struktur Produksi PDAM DKI Jakarta
Struktur produksi PDAM DKI Jakarta terdiri atas output dan input perusahaaan. Output PDAM sendiri merupakan jumlah produksi air bersih PDAM yang dihasilkan. Sedangkan inputnya merupakan kumpulan dari komponen biaya-biaya untuk menghasilkan output. Komponen biaya-biaya PDAM DKI Jakarta dibangun atas komponen biaya ekspansi, biaya tetap dan biaya variabel yang kesemuanya terangkum dalam biaya total.
Jumlah biaya pengelolaan air PDAM DKI Jakarta berubah setiap waktu, tergantung pada jumlah air bersih yang diproduksi. Apabila perusahaan ingin meningkatkan produksi, maka total biaya yang dikeluarkan pun akan lebih banyak. Namun apabila jumlah produksi diturunkan, belum tentu total biaya akan menurun, bisa jadi tetap atau bahkan terjadi peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 8.
Data pada Tabel 8 menunjukkan bahwa sejak tahun 1992 hingga tahun 2004 jumlah air yang diproduksi PDAM DKI Jakarta cenderung mengalami fluktuasi. Misalnya, dari tahun 1992 hingga tahun 1997 produksi air bersih yang dihasilkan cenderung meningkat, lalu turun pada tahun 1998 dan kembali berfluktuasi hingga tahun 2001. Fluktuasi pada produksi air bersih ini dikarenakan adanya masa peralihan antara sebelum dengan setelah adanya konsesi yang dimulai sejak tahun 1998.
Tabel 8. Struktur Produksi PDAM DKI Jakarta Tahun 1992-2004 Produksi
Air PDAM Biaya Total Jumlah Tk. Kebocoran Tahun
(Juta m3) (milyar Rp) Pelanggan (juta m3) 1992 312,12 133,65 298.891 168,38 1993 339,18 150,99 327.433 179,24 1994 344,23 189,82 345.956 175,92 1995 347,14 231,96 362.618 180,77 1996 409,43 286,58 395.192 232,98 1997 466,40 313,30 460.641 264,83 1998 396,41 434,04 487.978 316,47 1999 406,91 745,91 511.548 268,07 2000 381,71 886,01 534.090 222,72 2001 399,75 955,76 610.806 235,61 2002 407,05 981,69 649.429 228,72 2003 416,40 1084,68 690.456 142,30 2004 432,50 1236,66 705.890 161,59 Rata2 389,17 587,00 490.841 213,66 Laju Pertmbhn 3,08% 21,50% 7,50% 1,32% Pra konsesi 8,57% 18,75% 9,11% 9,98% Pasca konsesi 1,53% 20,95% 6,41% -8,93%
Sumber: PAM Jaya, 2006 (Diolah)
Rata-rata jumlah air bersih yang diproduksi PDAM DKI Jakarta dalam kurun waktu ini adalah sebesar 389,17 juta m3 per tahun dengan laju pertumbuhan sebesar 3,08 persen per tahun. Masa sebelum adanya konsesi yaitu rentang waktu tahun 1992 hingga tahun 1997 memiliki laju pertumbuhan sebesar 8,57 persen per tahun. Nilai ini jauh sekali berbeda dengan laju pertumbuhan produksi air bersih setelah adanya konsesi yang hanya mencapai 1,53 persen per tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat peningkatan produksi air bersih PDAM DKI Jakarta setelah adanya konsesi lebih kecil atau lebih lambat dari tingkat peningkatan produksi air bersih yang dihasilkan sebelum adanya konsesi.
Biaya total pengelolaan PDAM DKI Jakarta terus mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan laju pertumbuhan sebesar 21,50 persen per tahun. Pada masa sebelum adanya konsesi laju pertumbuhan biaya total yang terjadi adalah sebesar 18,75 persen per tahun yang berarti lebih kecil daripada laju pertumbuhan biaya total setelah adanya konsesi yaitu sebesar 20,95 persen per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa setelah adanya konsesi pengeluaran total untuk pengelolaan air lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran total pada masa sebelum konsesi. Selain dari jumlah air yang diproduksi, perubahan dalam biaya total juga dipengaruhi oleh besarnya biaya ekspansi, biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan perusahaan.
Tabel 9. Struktur Biaya PDAM DKI Jakarta Tahun 1992-2004 Biaya Total Biaya
Ekspansi Biaya Tetap
Biaya Variabel Tahun
(milyar Rp) (milyar Rp) (milyar Rp) (milyar Rp) 1992 133,65 8,63 62,06 62,96 1993 150,99 7,99 69,73 73,27 1994 189,82 10,04 86,47 93,31 1995 231,96 9,46 10,45 118,03 1996 286,58 13,53 135,60 137,45 1997 313,30 15,85 143,80 153,65 1998 434,04 7,97 140,86 285,21 1999 745,91 6,15 177,94 561,82 2000 886,01 5,37 144,99 735,65 2001 955,76 9,67 133,69 812,40 2002 981,69 10,15 135,27 836,27 2003 1084,68 16,79 116,41 951,48 2004 1236,66 16,54 105,47 1114,65 Rata2 587,00 10,63 112,52 456,63 Laju Pertmbhn 21,50% 11,36% 93,99% 29,69% Pra konsesi 18,75% 14,53% 230,42% 19,69% Pasca konsesi 20,95% 18,91% -3,69% 28,70%
Biaya ekspansi besarnya bervariasi, dipengaruhi oleh jumlah air yang ditawarkan dan penambahan sambungan pipa air baru akibat adanya penambahan jumlah pelanggan baru. Laju pertumbuhan biaya ekspansi sejak tahun 1992 hingga tahun 2004 adalah sebesar 11,36 persen per tahun, dengan rata-rata pengeluaran per tahun sebesar Rp 10,63 milyar. Laju pertumbuhan biaya ekspansi selama masa sebelum konsesi adalah sebesar 14,53 persen per tahun, lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan pada masa setelah adanya konsesi yaitu sebesar 18,91 persen per tahun. Kondisi ini membuktikan bahwa dengan adanya konsesi pertumbuhan biaya ekspansi semakin besar. Artinya, biaya ekspansi yang dikeluarkan setelah adanya konsesi semakin besar.
Biaya tetap adalah biaya yang umumnya dikeluarkan secara tetap pada setiap tahun, namun kenyataan yang terjadi di PDAM DKI Jakarta tidak demikian adanya. Jumlah biaya tetap yang dikeluarkan perusahaan menunjukkan nilai yang berfluktuasi. Kondisi ini terjadi sebagai akibat adanya pengaruh faktor ekonomi di luar perusahaan seperti nilai tukar (Exchange Rate) rupiah dan tingkat inflasi yang cenderung tidak stabil pada saat terjadinya krisis ekonomi. Fluktuasi nilai tukar rupiah menyebabkan anggaran biaya tetap menjadi tidak tetap. Laju pertumbuhan biaya tetap PDAM DKI Jakarta secara keseluruhan adalah sebesar 93,99 persen per tahun dengan rata-rata pengeluaran per tahunnya adalah sebesar Rp 112,52 milyar. Laju pertumbuhan biaya tetap sebelum adanya konsesi cukup tinggi yaitu sebesar 230,42 persen per tahun dan setelah adanya konsesi mengalami penurunan sebesar 3,69 persen per tahun. Penurunan biaya tetap setelah adanya konsesi adalah sebagai akibat dari adanya perpindahan sebagian besar pegawai PDAM
DKI Jakarta bagian produksi ke Palyja dan TPJ, sehingga terjadi pengurangan beban biaya gaji pegawai.
Biaya variabel relatif meningkat setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan pada biaya variabel terdapat pengeluaran untuk pembelian input untuk pengolahan air bersih yang tidak bisa diperoleh di dalam negeri, sehingga biaya variabel itu sendiri dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah dan tingkat inflasi. Seperti telah diketahui bahwa nilai tukar rupiah terus mengalami fluktuasi dan tingkat inflasi yang cenderung terus meningkat terutama pada saat terjadinya krisis ekonomi. Biaya variabel juga memasukkan sejumlah imbalan (water charge) yang harus dibayar PDAM DKI Jakarta terhadap dua mitra asing yang mengelola air bersih untuk wilayah DKI Jakarta. Besarnya water charge cenderung meningkat setiap tahunnya, walupun jumlah air yang diproduksi tidak meningkat. Pada masa sebelum adanya konsesi laju pertumbuhan biaya variabel hanya sebesar 19,69 persen per tahun yang terus meningkat setelah adanya konsesi mencapai 28,70 persen per tahun. Artinya, tingkat peningkatan biaya variabel setelah adanya konsesi jauh lebih besar daripada sebelum adanya konsesi yang juga berarti bahwa pengeluaran setelah adanya konsesi lebih besar dibandingkan sebelum adanya konsesi. Sedangkan laju pertumbuhan biaya variabel secara keseluruhan adalah sebesar 29,69 persen per tahun dengan rata-rata pengeluaran sebesar Rp 456,63 milyar.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa selama kurun waktu 1992 hingga 2004, total biaya yang terus meningkat tanpa diiringi dengan peningkatan jumlah produksi air bersih yang dihasilkan. Setelah adanya konsesi
yaitu sejak tahun 1998 hingga tahun 2004 dapat dikatakan bahwa PAM Jaya tidak mengalami peningkatan efisiensi yang signifikan. Hal ini terlihat dari laju pertumbuhan produksi yang lebih kecil daripada laju pertumbuhan produksi sebelum adanya konsesi, laju peningkatan biaya total yang lebih besar daripada laju pertumbuhan biaya total sebelum adanya konsesi, tingkat penambahan jumlah pelanggan yang lebih rendah setelah adanya konsesi, yang artinya bahwa akses keterjangkauan masyarakat terhadap air bersih yang dikelola PAM Jaya menurun dibandingkan sebelum adanya konsesi. Dampak positif dari adanya konsesi bagi PAM Jaya hanya terlihat dari menurunnya tingkat kebocoran air bersih yang ada, dimana masih terjadi tingkat kehilangan air yang besar pada saat sebelum adanya konsesi dan terus menurun hingga mencapai nilai laju pertumbuhan yang negatif setelah adanya konsesi. Perkembangan produksi, biaya pengelolaan dan jumlah pelanggan PDAM DKI Jakarta lebih jelasnya dapat dilihat dari grafik dibawah ini.
Str uk tur Pr oduk s i PDAM DKI Jak ar ta 0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 300,00 350,00 400,00 450,00 500,00 19 92 199 4 19 96 19 98 20 00 200 2 20 04 Tahun Ju m la h ( jut a m 3)
Produksi Air PDAM Tk. Kebocoran Air PDAM Terjual
Gambar 9. Perkembangan Struktur Produksi PDAM DKI Jakarta Tahun 1992 hingga Tahun 2004
Struktur Biaya PDAM DKI Jakarta 0,00 200,00 400,00 600,00 800,00 1000,00 1200,00 1400,00 199 2 199 3 1994 199 5 1996 199 7 199 8 1999 200 0 2001 200 2 200 3 2004 Tahun B iaya ( m il yar R p ) Biaya T otal Biaya Ekspansi Biaya T etap Biaya Variabel
Gambar 10. Perkembangan Struktur Biaya PDAM DKI Jakarta Tahun 1992-2004
Perkembangan Jumlah Pelanggan PDAM DKI Jakarta -200.000 400.000 600.000 800.000 1992 199 4 199